Syariah Media Community Jember Gelar Temu Jurnalis dan Praktisi Dakwah

JEMBER (Jurnalislam.com) – Syariah Media Community Jember menggelar temu jurnalis dan praktisi dakwah di Masjid Adh Dhuha Yayasan Hidayatullah Jember, Sabtu (18/4/2014).

Meski diguyur hujan, namun tak mengurangi antusiasme peserta untuk menghadiri diskusi interaktif yang menghadirkan tiga pembicara ini. Mereka adalah; Fajar Firmansyah (aktifis Muslim Designer Community Jember), Gilig Pradhana (penulis antologi Nyali-Nyali Dakwah ke Penjuru Negeri dan aktifis Muhammadiyah) dan Bramantyo (reporter Jurniscom Jember)

Ustadz Gilig Pradhana yang baru saja pulang dari menyelesaikan studi di Jepang, menceritakan suka duka dakwah ke negeri atheis itu, terlebih saat ia sering didatangi misionaris Kristen.

"Tipikal mereka (misionaris-red) beragam. Dan mereka selalu memiliki persiapan yang matang sebelum mendatangi sasarannya" ungkapnya.

Beliau juga mengingatkan agar para aktifis dakwah tidak meremehkan pentingya bekal ilmu Dien serta kedekatan kepada Allah sebagai sebaik-baik bekal.

"Kedekatan kepada Allah dapat membentengi seorang muslim dari beragam gempuran musuh Allah. Tanpa ini sungguh kita sangat lemah dibandingkan kelihaian musuh-musuh Islam dari kalangan sekuler, liberal dan juga pihak barat," lanjutnya.

Pembicara kedua, Fajar dari Muslim Designer Community (MDC) mengatakan pemuda harus berkontribusi dalam dakwah sesuai potensi yang dimilikinya dan bisa memanfaatkan perkembangan teknologi informasi sebagai media dakwah.

"Dakwah poster yang kami lakukan mungkin terlihat sepele, namun menjadi bukti bahwa kami tidak berdiam diri untuk beramal sholih karena kami yakin bahwa dakwah tidak harus diatas mimbar," imbuhnya.

Sedangkan pembicara ke tiga Bramantyo menjelaskan pentingnya peran media Islam sebagai penyeimbang informasi dari media sekuler.

"Kita tahu siapa pemilik sebagian besar media adalah non muslim. Mereka banyak berperan membentuk opini dan penyesatan info bagi masyarakat. Karena hakikatnya peran media adalah seperti penyihir, bisa merubah yang haq menjadi bathil serta sebaliknya. Disinilah pentingnya kehadiran media Islam sebagai penyeimbang untuk mengokohkan dakwah ke masyarakat," paparnya.

Acara ini bertujuan untuk mengsinergikan potensi media dakwah yang berkembang dalam sebuah forum ukhuwah media islam. Sejumlah perwakilan dari Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK), Majelis Literasi, pengurus Dewan Dakwah Islam, santri dari pesantren salafiyah Al Wafa Tempurejo asuhan KH Abdul Aziz tampak antusias mengikuti acara diskusi itu.

Reporter : Budi | Editor | Ally | Jurniscom

ANNAS Dukung Agresi Militer Koalisi Teluk Terhadap Pemberontak Syiah Houthi Yaman

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Pada Senin, 13 April 2015, Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) melayangkan surat kepada Kedutaan Besar Arab Saudi yang berisi dukungan penuh dan penghargaan atas terbangunnya koalisi negara-negara teluk yang melakukan serangan militer terhadap teluk terhadap pemberontak Syiah Houthi di Yaman.
 
"Dukungan ini didasarkan pada perilaku gerakan Syi’ah di Yaman yang nyata-nyata tidak menghormati pemerintahan yang sah serta merupakan bagian dari strategi global kejahatan Syiahisasi di seluruh dunia Islam yang dipimpin dan didukung oleh Negara Syi’ah Iran," bunyi surat yang ditandatangani ketua ANNAS pusat KH Athian Ali M, Dai, MA.

Dalam surat yang diterima Jurniscom pada Rabu (22/4/2015) ini, ANNAS mengharapkan serangan tersebut dapat berpengaruh positif untuk menyadarkan dunia Islam akan bahaya gerakan politik Syiah yang didukung Iran.

"Kami Aliansi Nasional Anti Syi’ah (ANNAS) di Indonesia sebagai kekuatan umat Islam Indonesia strategis yang berfahamkan Sunni sedang berupaya pula untuk menyadarkan umat dan masyarakat akan bahaya gerakan sesat Syi’ah, serta  berjuang keras untuk menahan laju eskalasi perkembangannya baik di bidang keagamaan, ekonomi, politik, maupun militer di Indonesia," tegas KH Athian Ali dalam suratnya.

ANNAS menilai kerjasama antar berbagai kekuatan di negara-negara Muslim untuk mewaspadai dan menghancurkan gerakan sesat Syi’ah sangat diperlukan.

Dalam akhir suratnya, ANNAS mendoakan koalisi teluk agar mendapat keberhasilan atas serangan tersebut.

"Semoga Koalisi Negara-Negara Teluk untuk melumpuhkan dan menghancurkan pemberontakan Syi’ah Houthi di Yaman mendapat kesuksesan dan keberhasilan. Nashrun minallah wa fathun qariib."

Selain Kedubes Arab Saudi, ANNAS juga melayangkan surat dukungan tersebut negara-negara yang tergabung dalam koalisi teluk.

Ally | Jurniscom

Astaghfirullah, Bendera Yahudi Israel Dikibarkan di Atas Masjid Al Ibrahim

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Pemukim zionis Yahudi mengibarkan bendera Israel di dinding dan di atas atap masjid Al Ibrahim pada hari Selasa (21/04/2015) di Hebron, Masjid Al Ibrahim dikenal sebagai situs para leluhur, dengan sebutan lain yaitu Masjid Salahudin Al Ayyubi (583 H / 1187 M).

Komite rekonstruksi di Hebron dalam keterangan persnya mengecam tindakan ini dan menganggap hal itu sebagai kelanjutan upaya penjajah  Israel yang sedang berlangsung saat ini untuk mengubah karakter masjid dan memasukkannya ke daftar situs warisan Yahudi.

Komite mengecam aksi penjajah  Israel, ini sebagai tindakan provokatif dan serangan terhadap umat Islam pada umumnya dan Palestina pada khususnya.

Komite juga meminta semua lembaga hak asasi manusia yang relevan dan organisasi kemanusiaan agar mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi masjid.

Masjid Al-Ibrahimi terletak di kota tua Hebron, beberapa ratus meter dari bagian kota yang diduduki secara ilegal oleh sekitar 400 pemukim ekstrimis, yang dijaga oleh sekitar 1.500 tentara penjajah Israel.

Sejak tahun 1967, Masjid Al-Ibrahimi, seperti semua situs suci umat Islam lainnya di Palestina, selalu menjadi target pasukan penjajah Israel dan pemukim Zionis, lapor Komite Rehabilitasi Hebron.

Pada tahun 1994, Israel membagi Masjid al-Ibrahimi untuk Muslim dan Yahudi, setelah seorang pemukim Israel menembak mati 30 warga Palestina saat melaksanakan sholat subuh.

Baruch Goldstein, seorang pemukim ekstrimis zionis Yahudi dari pemukiman ilegal 'Kiryat Arba', yang memiliki kewarganegaraan AS dan Israel, melepaskan tembakan senapan mesin ke arah jamaah Muslim yang sedang sholat. Dia membunuh 29 orang dan melukai 135 lainnya. Pada hari yang sama di luar Masjid, tentara zionis Yahudi (Israel) melepaskan tembakan ke arah jamaah yang ketakutan dan panik dan membunuh sedikitnya sepuluh warga sipil.

Menyusul insiden itu, Masjid Al-Ibrahimi diubah menjadi pos militer zionis dan kemudian dibagi menjadi dua bagian, satu untuk umat Islam dan satu lagi untuk orang-orang  zionis Yahudi. Sehingga Masjid menjadi titik konflik dan ketegangan terus menerus yang merusak kesuciannya.

Saat ini, pasukan Israel mengontrol akses warga Palestina yang menuju ke masjid, mencegah banyak orang yang bermaksud sholat di sana secara teratur dan sering melarang adzan dengan dalih mengganggu para pemukim Yahudi.

Kontrol mereka tidak hanya terbatas pada sholat di Masjid, tetapi juga panggilan adzan untuk shalat melalui speaker. Pada bulan Januari 2015 saja, adzan dilarang sebanyak 51 kali.

Direktorat The Hebron Awqaf mengatakan bahwa kebijakan pelarangan adzan ditujukan untuk mengencangkan tali kekang pada Palestina dan menghentikan mereka sholat di Masjid, kemudian berlanjut mengusir mereka dari kota mereka sendiri.

 

Deddy | PNN | Jurniscom

Fase Baru dimulai : Operation Restoring Hope

RIYADH (Jurnalislam.com)  – Juru bicara koalisi Ahmed al-Asiri mengumumkan akan dimulainya Operation Restoring Hope pada hari ini Rabu  (22/04/2015) sebagai fase baru di Yaman.

"Operasi ini bertujuan untuk mengembalikan harapan bagi orang-orang Yaman," kata Asiri saat konferensi pers di ibukota Saudi Riyadh.

Asiri mengatakan operasi baru tersebut merupakan campuran upaya politik, diplomatik dan militer.

Dia menambahkan bahwa operasi baru berfokus melanjutkan proses politik Yaman.

Menurut Asiri, tujuan dari operasi baru juga akan mencegah pemberontak Houthi melakukan operasi di Yaman, melindungi warga sipil dan mendukung serta memfasilitasi misi evakuasi dan bantuan.

Dia mengatakan bahwa pemerintah Yaman akan bekerja untuk mengkonsolidasikan kehadirannya di masa mendatang.

Assiri juga  mengatakan, “tidak menutup kemungkinan serangan udara di masa depan terhadap pemberontak  Houthi sewaktu waktu dilakukan jika diperlukan dan mengatakan koalisi akan terus memberlakukan blokade laut di Yaman”.

 

Deddy | Anadolu Agency | Aljazeera | Jurniscom

 

Atas Permintaan Presiden Yaman, Koalisi Arab Hentikan Serangan Ke Syiah Houthi Yaman

RIYADH (Jurnalislam.com) – Koalisi yang dipimpin Saudi mengumumkan berakhirnya operasi militer terhadap kelompok pemberontak Syiah Houthi Yaman pada hari Selasa (21/04/2015), dan mengatakan tujuan operasi telah tercapai.

"Hari ini, kita mengakhiri Operation Decisive Storm atas permintaan Presiden Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi dan pemerintah yang sah," kata juru bicara koalisi Ahmed al-Asiri saat konferensi pers di ibukota Saudi Riyadh.

Dia mengatakan tujuan utama serangan mereka telah tercapai.

"Legitimasi telah dilindungi dan Yaman tidak lagi beresiko setelah milisi Houthi kehilangan sebagian besar kemampuan mereka," tambah al-Asiri.

Ia menegaskan bahwa militan Syiah tidak lagi menimbulkan ancaman bagi tetangga Yaman.

Asiri mengatakan kapal perang koalisi akan terus memantau pelabuhan Yaman untuk mencegah penyelundupan senjata ke Houthi.

Dia menambahkan bahwa koalisi berhak untuk melanjutkan serangannya jika diperlukan.

Pada tanggal 25 Maret, Arab Saudi dan beberapa Negara sekutu Arab melancarkan serangan militer terhadap posisi gerilyawan Houthi di Yaman.

Riyadh mengatakan serangan tersebut  menanggapi seruan Hadi untuk "menyelamatkan rakyat Yaman dari aggressor Syiah Houthi."

Yaman berada dalam kekacauan sejak September  tahun  lalu, ketika para pemberontak Syiah  Houthi menyerbu ibu kota Sanaa, lalu berusaha untuk memperluas pengaruh mereka ke bagian lain negara tersebut namun mendapatkan perlawanan  sengit dari pejuang  Al qaedah dan suku suku Sunni di negara tersebut.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Abdallah al-Muallami : Tidak ada Gencatan Senjata Kecuali Syiah Houthi Mundur

YAMAN (Jurnalislam.com) – Tidak akan ada gencatan senjata di Yaman dalam waktu dekat ini kecuali pemberontak Houthi menarik diri dari wilayah yang mereka kuasai, utusan Teluk mengatakan kepada Sekjen PBB Ban Ki-moon pada hari Senin (20/04/2015).

Duta Besar Saudi untuk PBB Abdallah al-Muallami mengatakan kepada Agence France-Presse bahwa "kondisi tertentu" harus dipenuhi untuk menghentikan serangan udara “Operation Decisive Storm” yang dipimpin Saudi.

"Kita semua ingin melihat peperangan militer berakhir secepatnya, tetapi diperlukan kondisi yang kondusif untuk mengakhiri permusuhan," kata Muallami setelah pertemuan dengan Ban Ki-moon.

Utusan Saudi mengatakan kondisi gencatan senjata telah dijabarkan dalam resolusi Dewan Keamanan yang baru saja diadopsi.

Resolusi yang diadopsi pekan lalu menuntut bahwa Houthi mundur dari wilayah yang mereka kuasai, termasuk ibu kota Sanaa, serta mengakhiri aksi kekerasan mereka dan kembali ke meja perundingan damai.

Ban Ki-moon menyerukan "gencatan senjata segera" di Yaman seraya mengatakan bahwa negara itu "terbakar" dan sudah waktunya untuk " perdamaian yang nyata."

Setelah pengunduran diri diplomat Maroko Jamal Benomar sebagai utusan perdamaian Yaman, Ban Ki-moon menunjuk diplomat Mauritania Ould Cheikh Ahmed Ismail menjadi wakil barunya.

Ban Ki-moon menginformasikan kepada utusan Teluk mengenai pilihannya tapi utusan tersebut tidak menentukan apakah mereka akan menerima mediasi, yang dianggap penting mengingat jumlah korban tewas meningkat tajam.

"Kami belum mengeluarkan reaksi apa pun, semuanya sedang dipelajari di ibukota dan kami akan menyimpulkan reaksi kami secepat mungkin," kata Muallami.

Sejak 26 Maret, Arab Saudi telah memimpin aliansi negara-negara Arab dalam serangan udara terhadap kelompok pemberontak Houthi yang didukung Syiah  Iran dan milisi pemimpin terguling Ali Abdullah Saleh.

Deddy | AFP | Alarabiya | Jurniscom

Ansharusyariah : Rusaknya Moral Pelajar Indonesia Akibat Minimnya Pendidikan Aqidah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menanggapi kenakanal remaja yang semakin menjadi-jadi, juru bicara Jamaah Ansharusyariah Ustadz Abdurachim Ba'asyir mengatakan salah satu penyebabnya adalah karena minimnya pendidikan akidah.

"Itu adalah hasil dari minimnya pendidikan akidah dan keimanan dalam jiwa para pelajar kita. Minimnya keimanan kepada Allah hingga mengakibatkan mereka menjadi sosok-sosok manusia bejat yang dikendalikan oleh hawa nafsunya saja," ungkapnya kepada Jurnalislam, Selasa (21/4/2015).

Ustadz Iim, sapaan akrabnya menilai jika jika pemerintah tak memperhatikan penanaman pendidikan iman yang benar pada para pelajar, maka negeri ini akan mendapatkan generasi yang rusak dan merusak negara ini dengan korupsi dan berbagai kriminalitas.

Menurutnya, pemerintah yang cenderung memfasilitasi segala kemaksiatan melalui media massa harus bertanggungjawab atas nuansa maksiat yang memakin merajalela di negeri ini.

"Berbagai kegiatan maksiat malah di fasilitasi atas nama kebebasan, tapi menghancurkan moral yang merupakan bagian dari amanat filosofi negara ini sendiri. Maka pemerintah harus lebih peka dan berusaha untuk mengikis hal ini dan berusaha untuk memberikan pendidikan terbaik bagi generasinyam," tegasnya.

Beberapa waktu lalu sekelompok pelajar SMU di Kendal, Jawa Tengah menggelar pesat sex usai Ujian Nasional. Mereka terjaring razia Satpol PP di sebuah losmen di kawasan wisata Pantai Muara Kencan, di Desa Pidodowetan, Kecamatan Patebon Kendal, Kamis (16/4/2015). 

Ally | Jurniscom

Seorang Mahasiswa State University Arizona Injak Dan Ludahi Al Quran, Arizona Tolak Islamophobia

ARIZONA (Jurnalislam.com) Komunitas lintas agama The Tempe bergabung selama akhir pekan dengan pusat Islam lokal di acara Open-Day dalam menunjukkan solidaritas setelah mereka menjadi target kebencian pendeta terkenal, Dean Saxton, seorang mahasiswa di Arizona State University.

Saxton – yang juga dikenal sebagai Brother Dean Samuel – selama hampir dua dekade telah memberitakan pesan kontroversial di kampus. Saxton dan beberapa pengikutnya memutuskan selama seminggu terakhir untuk berdiri di luar Tempe Community Islamic Center dan melecehkan orang-orang yang beribadah di sana. Dalam aksinya, Saxton merobek beberapa halaman Al-Qur'an lalu melemparkannya ke tanah, menginjak dan meludahi Al Quran menunjukkan protes mereka.

"Sangat menyakitkan dan benar-benar tanpa alasan," kata Imam Ahmed Shqeirat kepada ABC 15 pada Sabtu, 19 April.

"Ini adalah kebebasan berbicara, menghasut kebencian atau menyatakan cinta itu bebas dan boleh-boleh saja," Saxton mengumumkan. "Saya pikir merobek Quran adalah dialog yang sempurna."

Shqeirat menegaskan, "Kami adalah pusat perdamaian dan ibadah untuk semua."

ABC15 Arizona telah memasukkan reportase video di situs web mereka. Video demonstrasi pekan lalu juga telah diposting di YouTube.

Meskipun Saxton gagal menarik pendukung, pengkhotbah Islamophobia itu berencana untuk menargetkan masjid lainnya di Valley.

Polisi setempat bersiaga. Tidak ada yang terluka juga tidak ada penangkapan.

September lalu, Muslim Arizona memprotes sesi pelatihan bagi jaksa dan aparat penegak hukum yang menampilkan teoritis konspirasi anti-Islam John Guandolo, yang mengklaim bahwa direktur Central Intelligence Agency (CIA) adalah seorang "Muslim rahasia."

Pada April 2013, Saxton menimbulkan kemarahan setelah berkhotbah di Universitas sambil memegang spanduk yang berbunyi, "ANDA LAYAK DIPERKOSA" untuk memprotes pemutaran film dokumenter tentang korban perkosaan yang selamat.

Ini adalah perilaku khas Saxton, yang antara lain percaya, bahwa perempuan seharusnya tidak diperbolehkan untuk datang ke universitas, bahwa feminisme adalah jahat, dan bahwa perempuan berpakaian tidak sopan sama dengan meminta untuk diperkosa, Wakil melaporkan.

Pengkhotbah radikal ini juga telah ditolak oleh mahasiswa dengan memanfaatkan media sosial untuk meluncurkan petisi online dalam rangka mengusir Saxton dan berhasil memperoleh hampir 15.000 tanda tangan.

Menurut Daily Wildcat, selama bertahun-tahun kantor dekan Universitas telah menerima tumpukan keluhan tertulis, email dan banyak panggilan telepon mengenai kegiatan Saxton.

Sejak serangan 9/11, Muslim AS, diperkirakan berjumlah antara 6-8 juta orang, mengeluhkan diskriminasi dan stereotip di masyarakat karena pakaian atau identitas Islam mereka.

Selain itu, sebuah studi oleh Pew Research Center yang berjudul “Public Tetap Berkonflik Dengan Islam,” telah mengungkapkan bahwa mayoritas orang Amerika hanya tahu sedikit tentang Islam dan iman mereka.

Sebuah jajak pendapat oleh Gallup juga menemukan bahwa mayoritas Muslim AS ternyata patriotik dan setia kepada negara mereka dan optimis tentang masa depan mereka.

Jajak pendapat lain oleh Econom/YouGov menemukan bahwa 73 persen orang Amerika percaya Muslim AS adalah korban diskriminasi di tengah serangan terakhir terhadap masyarakat.

 

Deddy |OnIslam | Jurniscom

Kepala Unit Anti Terorisme Bersama 23 Pasukan Komando dan Polisi Tewas Atas Serbuan Mujahidin IIA di Helmand

Helmand (Jurnalislam.com) – Laporan pejabat dari ibukota provinsi Helmand, kota Lashkargah, melaporkan bahwa serangan syahid telah sukses dilakukan terhadap pasukan musuh Ahad malam 20 April 2015.

Pada sekitar pukul 19:00 waktu setempat, 4 pejuang pencari syahid dari Mujahidin Imarah Islam dipersenjatai dengan senjata berat dan ringan, granat dan rompi peledak memasuki kantor polisi PD1 yang terletak dekat dengan Rumah Gubernur.

Para pencari syahid awalnya membunuh 4 penjaga di pintu gerbang dengan pistol berperedam suara  kemudian memasuki gedung, mengubah posisi senjata mereka dan membunuh serta melukai seluruh personil musuh yang berada dalam kantor.

Pasukan komando tiba beberapa waktu kemudian dan terlibat bentrokan berat dengan Mujahidin yang berlangsung sampai sekitar pukul 7:00 pagi. 23 pasukan komando dan polisi dilaporkan tewas dan lebih dari 30 lainnya terluka.

Diantara yang tewas adalah komandan utama polisi ketertiban sipil Helmand, Hayatullah Panjsheri, dan kepala unit anti-terorisme Helmand, Abdul Ahad. Sedangkan diantara yang terluka termasuk wakil Hayatullah Panjsheri, Ghulam Sakhi.

Para pejabat mengatakan bahwa setelah 12 jam pertempuran, 2 pencari syahid kembali dengan selamat ke markas mereka, sementara 2 lainnya, Ihsanullah Mubbashir dari Helmand dan Hazrat Wali Muhabbat dari Ghazni, memperoleh syahid (semoga Allah menerima mereka).

 

Deddy | Shahamat | Jurniscom

Kenya Rekrut 10.000 Polisi Untuk Lawan Mujahidin Al Shabaab

NAIROBI (Jurnalislam.com) – Sejumlah besar warga Kenya pada hari Senin (20/04/2015) berpartisipasi dalam perekrutan polisi yang sedang dilaksanakan di 290 daerah pemilihan di seluruh negara Afrika Timur.

The Anadolu Agency mengunjungi salah satu pusat rekrutmen di Stadion Nyayo di ibukota Nairobi di mana lebih dari 1.400 pelamar telah hadir.

"Sejauh ini jumlah pelamar sangat sesuai harapan," Rashid Mohammed, komandan polisi untuk wilayah Dagoretti, mengatakan kepada AA. "Kami telah menerima lebih dari 1.400 pelamar."

Polisi berencana merekrut 6.000 petugas baru untuk anggota polisi, bersama dengan 4.000 administrator polisi baru.

"Rekrutmen tahun ini tepat waktu," kata Mohammed. "Negara kita membutuhkan polisi untuk dapat secara efektif melawan serangan Al-Shabaab."

Setidaknya 148 orang – sebagian besar mahasiswa – tewas awal bulan ini dalam serangan yang menghancurkan Garissa University College di Kenya bagian utara.

Mujahidin  Al-Shabaab Somalia dengan cepat mengaku bertanggung jawab atas penyerangan itu.

Kelompok yang terkait  dengan Al-Qaeda itu telah bersumpah untuk melakukan serangan di Kenya selama negara Afrika Timur tersebut mempertahankan kehadiran militer di negara tetangga Somalia.

"Kami saat ini kekurangan sekitar 30.000 petugas polisi," kata Mohammed.

Setelah serangan Garissa, Presiden Uhuru Kenyatta membatalkan perintah pengadilan 2014 yang menghentikan perekrutan 10.000 petugas polisi karena tuduhan korupsi.

Inspektur Jenderal Polisi Joseph Boinett melanjutkan perekrutan polisi baru pada tahun 2015, meninggalkan proses perekrutan tahun 2014 di pengadilan. Kasus ini akan mulai disidang pada 8 Mei.

 

Deddy | World Bulletin | Jurniscom