Siswi MAN 4 Jakarta Diterima di 6 Kampus Luar Negeri

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Mimpi siswa madrasah kini tidak lagi sebatas kuliah di perguruan tinggi dalam negeri. Banyak siswa madrasah yang kini memilih jalan untuk berkompetisi meraih kesempatan belajar di universitas luar negeri ternama.

Adalah Kamila Aisya Farisaputri, putri dari pasangan M. Farhan Lucky dan Riska Abida Pratiknya ini diterima di enam universitas di luar negeri.

Kamila tercatat sebagai peserta program Cambridge yang dikembangkan MAN 4 Jakarta. “Saya tahu program Cambridge di MAN 4 dari teman saya saat di SMP. Awalnya saya dan keluarga memang mencari yang berkurikulum Cambridge. Karena waktu di SMP, saya  juga ikut kelas Cambridge. Jadi di tingkat Aliyah, saya ingin melanjutkan program Cambridge ini,” ujarnya di Jakarta, Selasa (5/4/2022).

“Saya masuk program ini melalui rangkaian tes yang disediakan oleh MAN 4, seperti interview dan tes akademik bermateri Cambridge,” sambungnya.

Menurut Kamila, pembelajaran di kelas program Cambridge menggunakan bahasa Inggris. Program ini lebih diutamakan analisa ketimbang hafalan. Sehingga, lanjut Kamila, dirinya dan teman-teman yang lain di Program Cambridge sudah terbiasa dengan bahasa Inggris dan menganalisa.

Atas kerja kerasnya, Kamila Aisya Farisaputri kini berkesempatan untuk kuliah di enam perguruan tinggi luar negeri, yakni 1) Media Studies Program di University of Groningen, Belanda. 2) Information and Media Program di Western University, Canada, 3) Global Business and Digital Arts di University of Waterloo, Canada. 4) Media and Production Design University of Carleton, Canada, 5) International Bachelor of Communication and Media, Erasmus University of Rotterdam, Belanda, dan 6) Toronto University, Canada.

Kamila mengaku, keberhasilannya diterima di enam universitas tersebut sudah direncanakan sejak kelas 12. “Berawal dari awal kelas 12, sekitar bulan agustus saya mulai planning dan tetapkan jurusan dan universitas yang saya mau apply. Karena buka pendaftaran kuliah luar negeri rata-rata lebih cepat dari Indonesia. Jadi mau tidak mau, saya harus bisa jalan sendiri. Alhamdulillah MAN 4 Jakarta mempermudah dalam perihal dokumen atau berkas, dan orangtua juga sangat membantu dalam menemani saya mengajukan pendaftaran,” jelasnya.

Untuk melakukan pendaftaran di universitas luar negeri, Kamila menyiapkan sejumlah berkas seperti Raport, Kartu Keluarga, Akte Lahir, Passpor, dan lainnya. Dan, menurutnya yang paling lama adalah mempersiapkan menulis essay.

“Persiapan yang paling lama menurut saya adalah menulis essay. Hampir tiap universitas memerlukan essay bahasa Inggris dan tiap universitas mempunyai spesifikasi essay berbeda-beda. Jadi saya menyelesaikan semua essay tersebut kurang lebih empat bulan,” ungkap Kamila.

Selain itu, Kamila juga tetap menyiapkan kemampuan bahasa Inggrisnya dengan mengikuti ujian IELTS (International English Language Testing System). “Alhamdulillah, saya sudah ikut tes IELTS dan dapat nilai reading 8, speaking 8, listening 8, writting 6.5, dan overallnya 7.5,” kata anak kelahiran Jakarta 1 Oktober 2004.

Ketika ditanya universitas mana yang akan dipilih, Kamila masih belum menentukan karena masih ada beberapa universitas yang disasar, namun belum keluar pengumumannya. Sampai saat ini, Kamila juga sedang berburu beasiswa.

Laznas BMH Ajak Ribuan Santri dan Dhuafa Buka Puasa Serentak

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dengan program berbagi terus memanfaatkan momentum Ramadhan sebagai bulan menebar kebaikan. Di antaranya melalui program buka puasa bersama santri tahfidz dan dhuafa pedalaman.

Imam Muslim, selaku Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Timur mengungkapkan bahwa,

“Dalam momentum Ramadhan 1443 Hijriyah kali ini, Laznas BMH bisa berbagi buka puasa bareng anak-anak dhuafa & santri tahfidz yang dilakukan  menyebar dan serentak di 24 Kota Jawa Timur.”ujarnya

Dari penyelenggaraan buka puasa serentak tersebut, kata Muslim, ada lebih 1.313 anak yatim dhuafa & santri tahfidz menjadi penerima manfaat program.

Melalui program buka puasa bersama ini, diharapkan kebahagiaan di bulan Ramadhan merata dan dapat pula dinikmati oleh masyarakat pedalaman juga.

Program ini tentu memberikan rasa syukur para pengelola dan pengurus pesantren. Seperti diungkapkan oleh pengajar pada Ponpes Darul Hijrah,  Ustadz Azhfar. Ia  menuturkan,  santri-santri yang ada dia asuh terbiasa dengan puasa sunnah Senin dan Kamis.

“Alhamdulillah hari ini mereka berbuka dengan dengan menu istimewa. Nasi ayam plus telor goreng,” ungkapnya

Puluhan Jurnalis Khataman Quran Bersama Ustaz Bachtiar Nasir

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Puluhan jurnalis muslim dari berbagai media massa mengikuti program Khatam Quran dibimbing Ustaz Bachtiar Nasir di AQL Islamic Center Jakarta, Selasa (5/4/2022) sore.

Ustaz Bachtiar Nasir yang karib disapa UBN mengatakan, khataman Quran bersama insan media ini merupakan pemanasan menuju puncak acara Khatam Quran 17 Ramadhan yang rencananya digelar Senin, 18 April 2022 di Jakarta Utara. “Di sana kita akan bersama-sama melakukan seremoni, khataman Quran di bulan diturunkannya Alquran,” kata UBN, penggagas program Khatam Quran.

Menurut UBN, untuk mensukseskan acara ini perlu kolaborasi dengan insan media untuk mensyiarkan. Termasuk memberikan edukasi kepada umat Islam bahwa Ramadhan adalah bulan Quran.

Dikatakan UBN, selama ini predikat Ramadhan sebagai bulan puasa begitu melekat di kalangan umat Islam. Padahal Ramadhan itu bulan Quran. Sementara Ramadhan sebagai bulan puasa adalah predikat kedua.

“Kemulian bulan Ramadhan sebagai bulan suci bukan karena puasa sebetulnya. Tetapi karena unzila fīhil-qur’an (diturunkan Alquran). Puasa fungsinya sebetulnya sebagai pelengkap demi menyambut datangnya Quran yang mulia ini,” ujar UBN.

Maka, program Khatam Quran ini merupakan salah satu upaya mempopulerkan Ramadhan sebagai bulan Quran.

Shodiq Ramadhan, jurnalis Suara Islam menyambut baik program Khatam Quran. Menurut dia, khataman Quran sejatinya merupakan tradisi lama di kalangan umat Islam Indonesia.

“Kegiatan ini merupakan tradisi baik. Jika bulan ini UBN melalui AQL dan berbagai lembaganya akan menggelar Khatam Quran di malam 17 Ramadhan, patut didukung, diapresiasi, dan diikuti,” kata Shodiq.

Untuk diketahui, sejak progam Khatam Quran diluncurkan awal Ramadhan lalu, tercatat sekitar 3000 orang telah mendaftar sebagai peserta. Mereka mendaftar baik secara individu maupun kelompok.*

Ramadhan, Momen Dekatkan Keluarga

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Anwar Abbas menyampaikan pentingnya menciptakan keakraban dan kebersamaan di antara keluarga, masyarakat, umat bangsa dan negara pada bulan Ramadhan. Ramadhan bisa menjadi moment untuk menciptakan hal itu.

KH Anwar menyampaikan mejaga keluarga merupakan perintah Allah SWT yang diabadikan dalam surah At-Tahrim ayat 6.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

“Jadi kita oleh Allah SWT telah disuruh untuk menjaga dan memelihara diri serta keluarga dan masyarakat kita dari api neraka atau dari hal-hal yang akan bisa mengganggu dan mengusik keselamatan dan kebahagiaan kita baik untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat,” kata KH Anwar saat dihubungi Republika, Rabu (5/4).

KH Anwar mengatakan, agar hal itu bisa kita dapatkan, maka di antara ketentuan yang harus kita lakukan adalah mengikuti apa yang telah dikatakan Allah SWT dalam surat Ali Imran Ayat 103. Dalam surah Ali Imran itu Allah SWTtelah berfirman :

واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا

Artinya: “Dan berpegang teguhlah kalian pada tali Allah dan jangan berpecah belah.”

Ini artinya, kata KH Anwar, Allah SWT telah memerintahkan kepada kita kalau kita ingin hidupnya selamat di dunia dan di akhirat, baik dalam skala kehidupan diri sendiri dan atau dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka kita disuruh oleh Allah SWT untuk selalu berpegang teguh kepada firman-firmanya yang ada di dalam Alqura dan jangan sekali-kali kita itu berpecah belah.

“Ini artinya di dalam diri kita harus terbangun keimanan yang kuat kepadaNya dan dalam hal yang menyangkut kehidupan bermuamalah diantara kita harus ada sikap saling kenal mengenal dengan baik, agar di antara kita ada saling faham-memahami dan saling mengerti antara satu dengan lainnya,” katanya.

Hal ini kata KH Anwar penting kita wujudkan dalam hidup dan kehidupan, agar di antara kita terbangun tali bathin dan rasa kasih sayang yang kuat, di mana kita tidak akan pernah bisa membiarkan keluarga mulai dari bapak, ibu, kakek, nenek, paman, tante, anak-anak dan atau saudara-saudara serta kemenakan kita, dan orang lain berada dalam kesulitan dan kesusahan.

“Kalau ada di antara mereka yang menghadapi masalah maka kita akan dengan cepat turun tangan untuk membantunya,” katanya.

Sehingga kelezatan dan kenikmatan hidup berkeluarga dan bermasyarakat , berbangsa serta bernegara benar-benar terasa karena masing-masing pihak merasa diperhatikan dan sama-sama bisa memberikan empati dan kepedulian kepada lainnya. Hal demikian diwujudkan dalam bentuk saling bantu membantu dan saling jamin-menjamin dalam hidup dan kehidupan yang dilalui.

” Itu tidak hanya kita lakukan dalam skala kehidupan berkeluarga saja, tapi juga dalam skala kehidupan bertetangga, bermasyarakat berbangsa dan bernegara,” katanya.

Sumber: republika.co.id

Puasa Ramadhan dan Jalan Mukmin Menuju Derajat Takwa

 

Oleh: Prof Dr KH Ma’ruf Amin, Wapres RI dan Ketua Dewan Pertimbangan MUI

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ
بسم الله الرحمن الرحيم
بِسْمِ اللهِ وَ الْحَمْدُ لِلّهِ وَ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ  وَعَلَى آلِهً وَصْحبِهِ وَمَنْ وَالَاه. سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ. اللّهُمَّ ارْزُقْنَا الْمَعَارِفَ الرَّبَّانِيَّةَ وَاللَّطَائِفِ الرَحْمَانِيّةَ وَالْعُلُوْمَ اللَّدُّنِيَّةَ وَ بَلِّغْنَا رُتْبَةَ الْإِحْسَانِ وَ وَحْدَةَ الشُّهُوْدِ وَ الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Yang terhormat, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Ketua Majelis Ulama Indonesia Bidang Dakwah, Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia, Habibana, Habib Nabiel Al-Musawa, Hadirin yang berbahagia.

Marilah bersama-sama kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala, karena atas limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya kita semua dapat bertemu, walaupun secara daring, pada acara Syiar Islam dan Tarhib Ramadhan 1443 H.

Acara Syiar Islam dan Tarhib Ramadhan 1443 H ini merupakan ajakan pimpinan MUI pusat untuk menyatakan rasa syukur dan ungkapan kebahagiaan kita bersama dalam menyambut bulan suci Ramadhan tahun 1443 H, sebagai bulan peningkatan amal ibadah vertikal kepada Allah SWT (hablun minallah) dan penguatan hubungan mu’amalah insaniyyah secara horizontal dalam kehidupan masyarakat (hablun minan naas).

MUI telah memberikan satu pesan kepada kita semua untuk menghormati dan mensyiarkan bulan Ramadhan sebagai bulan yang rahmah (penuh kasih sayang sayang) dan maghfirah (penuh ampunan). Tentu saja sangat wajar jika kita menginginkan agar kehidupan masyarakat di bulan Ramadhan bisa menampakkan suasana puasa Ramadhan di negara mayoritas Muslim ini.

 

Insya Allah kita bertemu dengan bulan Ramadhan dan diberikan kesehatan oleh Allah SWT, sehingga kita dapat menjalankan puasa dengan baik disertai ridha dan magfirah-Nya. Kita sambut bulan Ramadhan ini dengan ucapan:
مرحباً بك يا رمضان مرحباً يا شهر الصيام
Selamat datang wahai bulan Ramadhan, selamat datang wahai bulan puasa

Hadirin yang berbahagia
Sebagaimana kita ketahui, bahwa tujuan puasa adalah untuk membentuk orang-orang yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah dalam Surat  Al Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Menurut para ulama yang dimaksud dengan takwa itu adalah kepatuhan menjalankan perintah-perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan-laranganNya. Orang yang berpuasa adalah orang yang mampu mengendalikan nafsunya dari berbuat yang melanggar peraturan-peraturan Allah SWT.

Takwa dalam Islam dianggap sebagai kemuliaan (al-karam) dan bahkan Allah mengatakan dalam Surat Al Hujurat ayat 13:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Mahamengetahui, Mahateliti.”

Dalam ayat tersebut Allah SWTmenyatakan bahwa yang paling mulia disisi-Nya adalah orang yang paling bertaqwa, bukan karena keturunan, bukan karena ras atau suku bangsa, dan bukan pula karena harta dan jabatan. Sesungguhnya manusia itu, apapun ras atau suku kebangsaannya berasal dari keturunan yang sama, yaitu Adam dan Hawa. Di mata Allah SWT semua manusia itu adalah sama, dan kemuliaan itu hanya ada pada sisi ketakwaannya.

 

Peraturan-peraturan Allah tidak hanya dalam kaitan dengan hubungan kepada Allah (hablum minallah), tetapi juga hubungan dengan manusia (hablum minnas).

Semestinya puasa harus menghasilkan ketakwaan. Apabila puasanya tidak melahirkan ketakwaan, berarti puasanya sekadar puasa lahiriah semata, yang hanya mengalami lapar dan dahaga semata, seperti dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW:
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
Artinya: “Banyak orang yang berpuasa, namun ia tak mendapatkan apa pun dari puasanya selain rasa lapar saja.” (HR Imam Ahmad)

Hadirin yang berbahagia,
Secara lahiriah puasa ini dilakukan melalui pengendalian diri (imsak) seseorang di siang hari dari aktivitas makan, minum dan hubungan seksual. Namun secara hakiki seseorang tidak hanya terbatas pada pengekangan tiga hal ini saja, tetapi meliputi pengekangan ego dari semua keinginan (nafsu), sikap dan tindakan tercela atau kemaksiatan. Dalam ibadah puasa ini terkandung pula nilai kejujuran yang tinggi, karena bisa saja seseorang berpura-pura puasa di hadapan umum tetapi sebenarnya ia tidak berpuasa.

Naluri manusia memang memiliki keinginan-keinginan (nafsu), baik nafsu biologis, materi maupun kekuasaan (QS Ali ’Imran: 14). Islam pun tidak melarang keinginan-keinginan ini, tetapi mengaturnya atau membatasinya minimal dengan ketiga nilai tersebut. Munculnya sejumlah persoalan sosial, seperti korupsi, perampokan, pencurian, penipuan, perzinaan, egoisme, keserakahan, kekerasan, penyalahgunaan wewenang, narkoba, miras, dan sebagainya merupakan ekspresi keinginan yang tidak disertai dengan kepemilikan ketiga nilai tersebut. Oleh karenanya, ketiga nilai ini harus diwujudkan tidak hanya selama bulan Ramadhan, tetapi juga di hari-hari di luar Ramadhan.

 

Dengan demikian, puasa juga mengandung hikmah tidak hanya yang berdimensi spiritual dan vertikal tetapi juga sosial dan horisontal, terutama penguatan akhlak (etika-moral) dan watak (karakter) orang yang berpuasa. Puasa bahkan menjadi sarana latihan (training) yang efektif untuk penguatan akhlak dan karakter ini, terutama untuk mewujudkan manusia yang bebas dari dosa dan perbuatan tercela, manusia yang dapat mengendalikan diri dan jujur, dan sekaligus manusia yang memiliki solidaritas sosial yang tinggi.

Solidaritas sosial yang tinggi tersebut diwujudkan dalam bentuk anjuran untuk memperbanyak sedekah dan pada hari Idul Fitri nanti ia diwajibkan menunaikan zakat fitrah yang terutama diberikan kepada fakir miskin. Bahkan puasa ini memunculkan empati seseorang dengan membayangkan perasaan orang-orang fakir miskin yang mengalami kelaparan atau kekurangan makanan sebagaimana dirinya mengalami kelaparan saat berpuasa.

Oleh karena itu, orang yang melaksanakan puasa dengan pemenuhan ketiga nilai atau prinsip tersebut, yakni pengendalian diri, kejujuran dan solidaritas sosial, ia akan menjadi bersih tanpa dosa, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa kerena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah berlalu (HR Bukhari).

Sebagai penutup, saya mengharapkan bulan Ramadhan kali ini bisa menjadi momentum untuk meningkatkan ketakwaan kita, tumbuhnya solidaritas bangsa, serta kita bisa keluar dari pandemi.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan ‘inayah-Nya dan meridai setiap ikhtiar yang kita lakukan.
Wallahul Muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*Naskah pidato disampaikan dalam Tarhib Ramadhan 1443 H/ 2022 M yang digelar Komisi Dakwah MUI, Kamis 3 Maret 2022.

 

MUI Pantau Tayangan TV Selama Ramadhan

BOGOR(Jurnalislam.com)– Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi lembaga yang rutin dan konsisten melakukan pemantauan tayangan televisi di bulan Ramadhan. Program tersebut kembali diselenggarakan oleh Komisi Infokom Majelis Ulama Indonesia pada Ramadhan 1443 H,(5/4).

Program pemantauan tayangan televisi di bulan ramadhan sudah diselenggarakan MUI sejak tahun 2005 lalu. Dalam hal ini, Majelis Ulama Indonesia bertugas untuk memantau tayangan televisi sesuai dengan koridor syari’ah.

“Semua program televisi yang tayang pada bulan suci Ramadhan ini harus memberikan spirit dan juga pesan moral agama yang sifatnya mencerahkan. Dari yang belum tahu menjadi tahu, yang sudah tahu menjadi semakin kuat pengetahuannya,” demikian penjelasan Mabroer selaku Ketua Komisi infokom MUI.

Menurut Mabroer, dalam kegiatan pemantauan ini menghasilkan dua hal penting, yakni terkait penayangan televisi yang memperoleh penghargaan dan juga penayangan televisi yang mendapatkan catatan.

“Tayangan program televisi yang telah mendapatkan penghargaan dari MUI karena telah memberikan tayangan spirit dan pesan moral agama selama bulan ramadhan diharapkan dapat mempertahankan prestasinya pada tahun – tahun berikutnya,” jelas beliau.

Sedangkan tayangan yang mendapat catatan peringatan dari MUI juga diharapkan mampu menjadi bahan evaluasi lembaga terkait dalam penyelenggaraan penayangan program televisi ramadhan pada tahun berikutnya.

 

Program pemantauan tayangan televisi ramadhan yang diselenggarakan oleh Komisi Infokom MUI bekerjasama dengan Komisi Dakwah MUI, Komisi Fatwa MUI dan lainnya.

Mabroer berharal program pemantauan dapat memberikan efek positif dan juga menjadi program bersama, karena televisi merupakan agen perubahan.

“Televisi merupakan agen perubahan, baik itu prilaku, pemahamamn maupun peradaban. Televisi sangat penting untuk kita awasi bersama. Jika penayangan televisi tidak dilakukan pemantauan, maka ditakutkan ke depannya peradaban akan sulit untuk dikendalikan ,” pungkasnya. (mui)

 

Industri Investasi dan Asuransi Didorong Sesuai Prinsip Syariah

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Di tengah peningkatan kinerja ekonomi dan keuangan syariah Indonesia yang saat ini menduduki peringkat empat dunia serta mencatatkan total kenaikan aset mencapai 17% pada 2021, pertumbuhan sektor industri asuransi syariah justru relatif cukup rendah. Berdasarkan data OJK, pangsa pasar industri ini sebesar 5,3% pada akhir 2021. Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan performanya, perusahaan asuransi syariah harus penuhi empat faktor kunci.

 

“Pertama, SDM yang ahli di bidang [ekonomi dan keuangan syariah] ini akan memajukan industri ini, antara lain melalui penciptaan produk yang inovatif dan perluasan pangsa pasar baru,” ungkap Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin pada Peluncuran PT Prudential Sharia Life Assurance (Prudential Syariah) melalui konferensi video di Jakarta, Selasa (05/04/2022).

 

Ketertarikan akan produk-produk jasa keuangan syariah ditunjukkan oleh konsumen terlepas dari agama dan keyakinannya, untuk itu sebagai faktor kunci selanjutnya Wapres mengingatkan untuk tetap menjaga nilai-nilai syariah dalam bisnis ini.

 

“Kedua, terus jaga nilai-nilai syariah dalam menjalankan bisnis demi menjaga kepercayaan sekaligus meningkatkan keyakinan publik akan keunggulan produk-produk jasa keuangan syariah dibandingkan konvensional,” tegasnya.

 

Selanjutnya yang ketiga, perusahan asuransi syariah diharapkan dapat dengan seksama memilih investasi yang bersifat produktif.

 

“Pemanfaatan instrumen investasi yang bersifat produktif membutuhkan kejelian untuk melihat potensi industri-industri syariah lainnya,” ujar Wapres.

 

Untuk faktor terakhir yang harus dipenuhi, Wapres menekankan pentingnya penguasaan terhadap teknologi digital untuk menjawab kebutuhan para konsumen.

 

“Pemanfaatan teknologi digital yang telah menjadi keniscayaan agar layanan sektor keuangan dan asuransi dapat lebih cepat, mudah dan murah di masa depan, nasabah asuransi, baik individu maupun bisnis, akan semakin mengharapkan layanan yang personal dan mudah disesuaikan dengan kebutuhan,” jelasnya.

 

Menutup sambutannya, Wapres berharap Prudential Syariah dapat menjawab kebutuhan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan perlindungan serta sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam mewujudkan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia.

 

Insya Allah, Prudential Syariah dapat turut menjadi bagian dari solusi kebutuhan perlindungan risiko dan memberikan nilai tambah kepada publik, sekaligus menjadi pendorong laju era baru industri asuransi syariah di Indonesia,” tutupnya.

 

Sebelumnya, Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN dan Timor Leste H.E. Owen Jenkins mengatakan bahwa ekonomi dan keuangan syariah bertumbuh dengan cepat, dalam dua dekade terakhir baik di Indonesia, maupun di dunia. Oleh karena itu, Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan pertumbuhan tersebut, terutama untuk mewujudkan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah.

 

“Seperti yang kita ketahui bersama, keuangan syariah hanya merepresentasikan 1 % dari aset keuangan global dan asuransi syariah hanya bagian kecil dari porsi tersebut, meskipun umat muslim menempati lebih dari 25% penduduk dunia. Indonesia mengetahui potensi untuk menumbuhkan ekonomi syariah dan membuat Indonesia menjadi global hub Ekonomi dan Keuangan syariah,” ujarnya.

 

Sementara itu, Presiden Direktur Prudential Syariah Omar Sjawaldy Anwar menyampaikan bahwa konsep syariah yang diimplementasi ke dalam bentuk asuransi tentu mengedepankan prinsip-prinsip yang sesuai dengan aturan agama Islam di mana harta hakikatnya adalah milik Allah SWT yang diamanatkan kepada umat manusia dan di dalamnya ada hak individu dan ada hak orang lain yang membutuhkan.

 

“Dalam pelaksanaanya konsep ekonomi syariah sangat menjunjung tinggi keadilan, transparansi, etika, dan juga tentunya sesuai dengan prinsip syariah untuk memastikan harta yang dimiliki juga memiliki maslahat yang lebih luas, demikian halnya dengan asuransi syariah yang dilandasi dengan semangat tolong-menolong dan juga kepedulian antar sesama,” ujarnya.

 

Hadir dalam acara tersebut, Jajaran Pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah dan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah, sementara Wapres didampingi oleh Kepala Sekretariat Wakil Presiden Ahmad Erani Yustika, dan Staf Khusus Wapres Masduki Baidlowi dan Masykuri Abdillah, serta Sekretaris Pribadi Wapres Sholahudin Al-Aiyub

Potensi Pasar Syariah Besar, Namun Belum Tergarap Optimal

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Berdirinya asuransi syariah Takaful pada 1994 menunjukkan bahwa pertumbuhan industri asuransi syariah di Indonesia telah berjalan hampir 3 dekade. Namun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pangsa pasar industri asuransi syariah hingga kini masih relatif rendah, yakni baru mencapai 5,3% pada akhir 2021.

Mengetahui hal tersebut, Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin meminta agar pertumbuhan industri asuransi syariah terus ditingkatkan. Sebab menurutnya potensi pangsa pasar dan juga manfaat asuransi syariah di tanah air sangat besar.

“Peluang pasar bagi asuransi syariah masih sangat terbuka,” tegas Wapres saat memberikan Keynote Speech pada acara Peluncuran PT Prudential Sharia Life Assurance (Prudential Syariah) melalui konferensi video di Jakarta, Selasa (05/04/2022).

Lebih lanjut, Wapres menuturkan bahwa selain memiliki pangsa pasar yang besar, asuransi syariah juga memiliki manfaat yang sangat besar. Sehingga, asuransi syariah menjadi bagian penting dalam pengembangan industri keuangan syariah.

“Kehadirannya diharapkan mendukung terwujudnya pembangunan nasional yang berkelanjutan, penanggulangan kemiskinan, dan juga berkontribusi terhadap percepatan pemulihan manakala terjadi bencana di Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, sambung Wapres, kehadiran jasa asuransi syariah tidak hanya diperlukan oleh masyarakat, tetapi juga oleh lembaga keuangan seperti perbankan syariah.

“Dengan konsep berbagi risiko, asuransi syariah merupakan alternatif pengendali risiko yang dibutuhkan oleh para pelaku bisnis dan usaha,” ungkapnya.

Untuk itu, Wapres berharap kinerja industri asuransi syariah agar selalu dijaga kesinambungannya. Termasuk memperkuat kesiapannya dalam menghadapi risiko-risiko yang tidak dapat diprediksi, seperti bencana yang dapat memicu klaim atau penarikan dana dalam jumlah besar.

“Sebagai upaya optimalisasi performa industri asuransi syariah dan keberlanjutannya, saya kira ada beberapa faktor kunci yang harus dipenuhi,” tuturnya.

Faktor pertama, sebut Wapres, adalah peningkatan kualitas SDM. Menurutnya, SDM menjadi salah satu kunci kemajuan sektor asuransi syariah dan industri keuangan syariah secara umum.

“Tidak dapat kita mungkiri, kita masih kekurangan banyak SDM dengan kompetensi ekonomi dan keuangan, sekaligus memahami prinsip-prinsip syariah,” ujarnya.

Menurut Wapres, SDM yang ahli di bidang ekonomi dan keuangan syariah akan mampu memajukan industri asuransi syariah di tanah air.

“Antara lain melalui penciptaan produk yang inovatif dan perluasan pangsa pasar baru,” sebutnya.

Selanjutnya, kata Wapres, faktor kedua yang diperlukan dalam upaya penguatan performa industri asuransi syariah adalah dengan terus menjaga nilai-nilai syariah. Hal ini menurutnya penting untuk menjaga kepercayaan sekaligus meningkatkan keyakinan publik akan keunggulan produk jasa keuangan syariah dibandingkan produk jasa keuangan konvensional.

“Kesadaran publik akan manfaat produk-produk keuangan syariah secara global masih terbilang rendah sehingga masih banyak ruang untuk mendorong pertumbuhan sektor ini,” ungkapnya.

Lebih jauh, Wapres mengungkapkan bahwa upaya peningkatan performa industri asuransi syariah juga perlu pemanfaatan instrumen investasi yang bersifat produktif.

“Langkah ini membutuhkan kejelian untuk melihat potensi industri-industri syariah lainnya,” ujarnya.

Terakhir, Wapres menuturkan bahwa faktor keempat yang diperlukan untuk memperkuat industri asurasi syariah adalah pemanfaatan teknologi digital. Menurutnya hal ini telah menjadi keniscayaan agar layanan sektor keuangan dan asuransi dapat lebih cepat, mudah dan murah, sekaligus mampu menggaet konsumen dari generasi milenial dan generasi Z.

“Terlebih di masa depan, nasabah asuransi, baik individu maupun bisnis, akan semakin mengharapkan layanan yang personal dan mudah disesuaikan dengan kebutuhan,” pungkasnya.

Tampak hadir dalam acara ini, Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN dan Timor Leste Owen Jenkins, Presiden Direktur Prudential Indonesia Michellina Laksmi Triwardhany, Chief Executive Prudential Asia dan Afrika Nic Nacandrou, Presiden Direktur Prudential Syariah Omar Sjawaldy Anwar, Jajaran Pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah, serta Jajaran Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS).

Sementara Wapres didampingi oleh Kepala Sekretariat Wapres Ahmad Erani Yustika, Staf Khusus Wapres Masduki Baidlowi dan Masykuri Abdillah, serta Sekretaris Pribadi Wapres Sholahudin Al-Aiyub.

SDM Unggul Kunci Pengembangan Ekonomi Syariah

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin meminta kinerja perusahaan yang bergerak di bidang keuangan syariah yang sudah baik agar dijaga kesinambungannya. Termasuk perusahaan asuransi syariah, yang harus selalu diperkuat kesiapannya dalam menghadapi risiko-risiko yang tidak dapat diprediksi, seperti bencana yang dapat memicu klaim atau penarikan dana dalam jumlah besar.

“Sebagai upaya optimalisasi performa industri asuransi syariah dan keberlanjutannya, saya kira ada beberapa faktor kunci yang harus dipenuhi,” ungkap Wapres saat memberikan Keynote Speech pada acara Peluncuran PT Prudential Sharia Life Assurance (Prudential Syariah) melalui konferensi video di Jakarta, Selasa (05/04/2022).

Lebih lanjut, Wapres menyebutkan bahwa faktor pertama yang diperlukan untuk menguatkan performa industri asuransi syariah adalah peningkatan kualitas SDM. Menurutnya, SDM menjadi salah satu kunci kemajuan sektor asuransi syariah dan industri keuangan syariah secara umum.

“Tidak dapat kita mungkiri, kita masih kekurangan banyak SDM dengan kompetensi ekonomi dan keuangan, sekaligus memahami prinsip-prinsip syariah,” tuturnya.

SDM yang ahli di bidang ekonomi dan keuangan syariah, sambung Wapres, akan mampu memajukan industri asuransi syariah di tanah air.

“Antara lain melalui penciptaan produk yang inovatif dan perluasan pangsa pasar baru,” sebutnya.

Selanjurnya, Wapres menyebutkan bahwa faktor kedua yang diperlukan dalam upaya penguatan performa industri asuransi syariah adalah terus menjaga nilai-nilai syariah. Hal ini menurutnya penting untuk menjaga kepercayaan sekaligus meningkatkan keyakinan publik akan keunggulan produk jasa keuangan syariah dibandingkan produk jasa keuangan konvensional.

“Kita bersyukur karena produk-produk jasa keuangan syariah telah menarik konsumen terlepas dari agama dan keyakinannya,” ungkap Wapres.

“Namun kita belum dapat berpuas diri karena kesadaran publik akan manfaat produk-produk keuangan syariah secara global masih terbilang rendah sehingga masih banyak ruang untuk mendorong pertumbuhan sektor ini,” imbuhnya.

Lebih jauh, Wapres mengungkapkan bahwa upaya peningkatan performa industri asuransi syariah juga perlu pemanfaatan instrumen investasi yang bersifat produktif.

“Langkah ini membutuhkan kejelian untuk melihat potensi industri-industri syariah lainnya,” ujarnya.

Terakhir, Wapres menuturkan bahwa faktor keempat yang diperlukan untuk memperkuat industri asurasi syariah adalah pemanfaatan teknologi digital. Menurutnya hal ini telah menjadi keniscayaan agar layanan sektor keuangan dan asuransi dapat lebih cepat, mudah dan murah, sekaligus mampu menggaet konsumen dari generasi milenial dan generasi Z.

“Terlebih di masa depan, nasabah asuransi, baik individu maupun bisnis, akan semakin mengharapkan layanan yang personal dan mudah disesuaikan dengan kebutuhan,” pungkas Wapres.

Bank Syariah Digital Bermunculan. Seperti Apa?

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Sejak diresmikan pada tahun 2020 Layanan Syariah LinkAja telah berkembang pesat sebagai satu-satunya dompet digital berbasis syariah di Indonesia. Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin memberikan apresiasi kepada PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) yang terus bertumbuh dan berinovasi, serta mendukung rencana spin off Layanan Syariah LinkAja menjadi LinkAja Syariah yang akan berdiri sendiri sebagai bank syariah digital pertama di Indonesia.

“Saya mendorong dan setuju rencana spin off Layanan Syariah LinkAja menjadi LinkAja syariah. Saya juga mendorong berbagai unit, termasuk BPD, agar bank-bank daerah dapat menjadi bank umum,” ucap Wapres saat menerima jajaran pengurus PT Finarya melalui konferensi video, Selasa (05/04/2022).

Wapres menekankan pentingnya aspek kehati-hatian dan kesesuaian syariah dapat diterapkan oleh LinkAja, juga persiapannya dalam memenuhi segala persyaratan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Tentu eksekusi keberhasilannya bergantung pada kesiapan LinkAja di dalam memenuhi persyaratan dari OJK. Harus tetap mengutamakan aspek prudensial dan kehati-hatian, serta aspek kesesuaian syariahnya. Itu penting,” tegas Wapres.

Menurut Wapres, saat ini transaksi keuangan dapat dilakukan lebih mudah dan mobilitas masyarakat dapat terkendali melalui keberadaan fintech.

“Transaksi keuangan menjadi lebih cepat, mudah, sekaligus juga selama pandemi ini mampu mengurangi mobilitas masyarakat,” ucapnya.

Adapun Wapres mengakui perubahan gaya hidup masyarakat dalam melakukan transaksi cukup dipengaruhi dengan adanya penggunaan fintech yang meningkat semenjak pandemi Covid-19 melanda.

“Fenomena meningkatnya penggunaan fintech ini memang didorong oleh perubahan gaya hidup masyarakat dalam bertransaksi ekonomi yang diakselerasi dengan adanya pandemi,” terang Wapres.

“Saya harapkan LinkAja Syariah bisa melengkapi dan mendukung sistem digital ekonomi dan keuangan syariah,” pungkas Wapres.

Sebelumnya, Plt. Direktur Utama PT. Fintek Karya Nusantara Wibawa Prasetyawan menyampaikan akan mendukung segala upaya pemerintah di dalam memajukan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia, khususnya dalam mengakselerasi keuangan digital.

“Kami senantiasa berkomitmen untuk terus berinovasi guna mendukung upaya pemerintah dalam mengakselerasi inklusi keuangan digital berbasis bank syariah di Indonesia,” ungkap Wibawa.

Sebagai informasi, PT Fintek Karya Nusantara adalah perusahaan pembayaran digital yang telah memiliki produk layanan syariah bernama Layanan Syariah LinkAja. Layanan Syariah LinkAja merupakan perluasan layanan dari aplikasi LinkAja yang diperuntukkan bagi masyarakat yang menginginkan transaksi dengan prinsip syariah. Layanan Syariah LinkAja direncanakan akan bertransformasi menjadi LinkAja Syariah yang akan berdiri sendiri dan mandiri dalam pengelolaannya.

Turut hadir secara virtual Anggota Dewan Pengawas Syariah Zainud Tauhid Sa’adi dan Asep Supyadillah, Chief Operation OfficerWidjayanto Djaenuddin, Group Head LinkAja Syariah Donny Fernando, serta Syariah Compliance and Advisory LinkAja Syariah Sahal Muzaki.

Sementara Wapres didampingi secara langsung oleh Kepala Sekretariat Wapres Ahmad Erani Yustika, Plt. Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Ekonomi dan Peningkatan Daya Saing M. Zulkarnain, dan Staf Khusus Wapres Masduki Baidlowi, serta Staf Khusus Wapres Lukmanul Hakim yang hadir secara virtual.