Din: Kasus Ini Kecil, GAR Tak Wakili Alumni dan Civitas ITB

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Mantan ketua umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan, kasus yang melibatkan dirinya bukanlah perkara besar, tapi dapat berakibat besar.

Pernyataan ini disampaikan terkait pelaporan dirinya oleh Gerakan Anti Radikalisme Institut Teknologi Bandung (GAR-ITB) ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) yang sampai saat ini masih ramai diperbincangkan publik.

“Memang saat ini kita menghadapi dinamika politik yang mengandung tantangan dan sedikit ancaman terhadap gerakan Islam yang sebenarnya sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu,” kata Din dalam acara Apel Kokam Muhammadiyah yang disiarkan di kanal Youtube Tablighmu TV, Senin (15/2).

Din mengatakan, kasus pelaporan dan pengaduan atas dirinya sebagai ASN dituduh terpapar radikalisme oleh segelintir kelompok yang menamai diri mereka kelompok gerakan antiradikalisme ITB. Tapi, segelintir alumni ITB juga banyak yang menyampaikan dukungan dan simpati mereka kepada Din.

Mantan ketua umum majelis Ulama Indonesia (MUI) itu mengatakan bahwa kasus yang melibatkan dirinya bukanlah perkara besar, namun dapat berakibat besar. Dalam sambutannya, Din menegaskan bahwa tuduhan yang dilayangkan GAR ITB tidak mewakili sikap ITB sama sekali.

“Kasus ini bagi saya kecil, tapi di belakangnya besar. Karena kelompok GAR ITB ini tidak mewakili seluruh alumni ITB dan tidak mewakili reaksi dari internal kampus, baik mahasiswa, dosen, guru besar, maupun lainnya,” jelasnya.

Dalam Apel Kokam Jawa Tengah yang digelar secara virtual itu, Din memaparkan secara perinci kronologi pelaporan dan tuduhan yang dia terima. Namun, dia meminta awak media untuk tidak mengutip atau memublikasikan kesaksiannya tersebut.

“Sebenarnya secara kronologis, kalau boleh saya berbagi kesaksian, dan ini adalah pertama kali saya jelaskan. Karena banyak sekali wartawan yang ingin mewawancarai dan mengundang, tapi saya menolak untuk sementara waktu,” kata dia.

Dalam laporan yang dilayangkan Gerakan Anti Radikalisme (GAR) Alumni ITB ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) dan Badan Kepegawaian Negara (BKN), Ketua Forum Perdamaian Dunia (WPF) ini dinilai melanggar sejumlah prinsip kepegawaian. Berdasarkan halaman pertama surat laporan GAR ITB, Din Syamsudin diduga melakukan enam pelanggaran.

Pertama, Din dinilai bersikap konfrontatif terhadap lembaga negara dan keputusannya. Kedua, Din dinilai mendiskreditkan pemerintah dan menstimulasi perlawanan terhadap pemerintah yang berisiko terjadinya proses disintegrasi negara.

Ketiga, Din dinilai melakukan framing menyesatkan pemahaman masyarakat dan mencederai kredibilitas pemerintah. Keempat, Din dinilai menjadi pimpinan dari kelompok beroposisi pemerintah. Kelima, Din dinilai menyebarkan kebohongan, melontarkan fintah. Terakhir, mengagitasi publik agar bergerak melakukan perlawanan terhadap pemerintah.

Sumber: republika.co.id

 

Kemenag- TNI Jajaki Kerjasama

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Kementerian Agama dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) saat ini tengah menjajaki peluang sinergi untuk membangun narasi bersama tentang keindonesiaan.

Rencana ini disampaikan Menag saat berbincang dengan Kepala Dinas Pembinaan Mental dan Ideologi TNI Angkatan Udara (Disbintalidau) Marsekal Pertama Bastari di Kantor Kementerian Agama, Jakarta.

“Saya sudah sempat berbicara dengan Panglima TNI. Kita ingin membangun narasi bersama antara TNI, Kementerian Agama, dan semua stakeholder tentang keindonesiaan,” ungkap Menag, Senin (15/02).

Hal ini menurut Menag amat diperlukan, karena hingga saat ini masih ada  saja pihak yang membenturkan atau memperhadapkan antara Pancasila dengan agama. “Padahal kalau kita sandingkan ajaran agama apa pun tidak ada yang bertentangan dengan Pancasila. Semua agama percaya dengan keberadaan Tuhan, itu sesuai dengan sila pertama,” kata Menag.

“Begitu juga dengan sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Ini juga merupakan ajaran semua agama,” sambungnya.

Sementara untuk sila ketiga, yakni persatuan Indonesia, ini menjadi sebuah kondisi ideal agar seluruh umat beragama dapat beribadah dengan tenang.

“Bagaimana mungkin kita dapat beribadah dengan nyaman dan baik  bila negara kita tidak bersatu. Contohnya  negara timur tengah seperti Yaman dan Irak. Bagaimana teman-teman muslim kita di sana itu tidak bisa beribadah dengan tenang, tidur dengan nyenyak, karena negaranya bergolak,” ujarnya.

Demikian juga halnya dengan sila keempat dan kelima Pancasila. Menurut Menag, semua agama pun mengajarkan nilai musyawarah sebagaimana tercantum dalam sila keempat serta sikap adil yang sejalan dengan sila kelima.

“Jadi tidak ada yang bisa dipertentangkan (antara Pancasila) dengan agama,” tandas Yaqut.

Menag pun mengapresiasi Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang kerap berada di garda terdepan untuk mengawal Pancasila dan persatuan Indonesia. “Maka sekali lagi, narasi bersama tentang keindonesiaan yang tidak mempertentangkan Pancasila dan agama sangat penting, termasuk juga di kalangan teman-teman TNI,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut,  Kadisbintalidau Bastari menyatakan kesiapannya untuk bersinergi dengan Kemenag dan stakeholder lainnya untuk membangun narasi bersama tersebut. “Kami siap. Dan kami juga membutuhkan dukungan Kementerian Agama, utamanya untuk meningkatkan program-program Bintal,” tutur Bastari.

 

Penyuluh Agama Akan Sosialisasikan Program Tanggap Bencana hingga Vaksinasi

BANDUNG(Jurnalislam.com) — Tujuh Kab/Kota di Jawa Barat dilanda banjir. Ketujuh daerah itu adalah Kab Indramayu, Bekasi, Majalengka, Karawang, Subang, Bogor, dan Kota Bekasi.

Kepala Kanwil Kemenag Jabar Adib mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pendataan fasilitas keagamaan, pendidikan dan KUA yang terdampak bencana. Kanwil Jabar juga mengerahkan penyuluh Agama, baik honorer maupun PNS, untuk ikut melakukan mitigasi penanganan bencana alam.

“Kita punya penyuluh honorer dan penyuluh PNS dengan jumlah hampir 6.000. Secara berkala, mereka diberikan muatan-muatan untuk kepenyuluhan sesuai dengan tantangan dan kondisi di lapangan seperti moderasi beragama, vaksinasi Covid 19, dan penanggulangan bencana,” jelas Adib saat mendampingi kunjungan kerja Komisi VIII DPR RI ke Jawa Barat pada masa reses III tahun Sidang 2020 – 2021, di Gedung Sate, Bandung, Senin (15/2/2021).

Adib menambahkan bahwa saat ini Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kertajati sudah dijadikan tempat pengungsian oleh warga yang terdampak banjir sehingga dapat membantu meringankan tim dalam mengevakuasi warga.

Kunjungan Komisi VIII DPR ini diterima oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Kepada para wakil rakyat, Kang Emil menyampaikan laporan atas perkembangan vaksinasi Covid-19 dan penanganan bencana alam di Jawa Barat.

Ridwan mengatakan, tingkat kedisiplinan masyarakat dalam pencegahan Covid-19 cukup baik. “PPKM akan kita evaluasi, dengan statistik yang membaik akan kita berlakukan kelonggaran, masyarakat akan tetap produktif tapi tetap dengan protokol 5M,” jelas Ridwan.

Ketua Tim Kunjungan Kerja Reses Komisi VIII DPR RI ke Jawa Barat TB. Ace  Hasan Syadzily mengatakan, tujuan kunker adalah memastikan kebijakan bidang tugas Kementerian Agama, Kementerian Sosial, Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Baznas, dan BNPB dalam proses penanganan Covid 19 dan penanganan bencana alam di Jawa Barat sudah sesuai dengan aturan perundang undangan yang berlaku.

“Tadi kita mendengar masukan bahwa penanganan bencana di Jawa Barat hendaknya melibatkan unsur madrasah dan pondok pesantren agar dapat membantu evakuasi warga di lokasi bencana,” tutur Ace.

Lebih lanjut, Ace mengharapkan bahwa penyuluh agama dapat melakukan mitigasi bencana, sehingga masyarakat yang terdampak dapat lebih waspada. Warga juga bisa mendapatkan  siraman rohani sebagai “nutrisi” jiwa pada saat mengalami bencana.

Tampak hadir dalam acara Kunker DPR RI di Jawa Barat Plt Sesditjen Pendis Rahmat Mulyana, Direktur Penais Bimas Islam Ahmad Juraidi dan Badan Pelaksana Dewan Kemaslahatan BPKH Rahmat Hidayat.

 

Survei: 1 dari 4 Orang Eropa Tak Suka Islam

LONDON(Jurnalislam.com) – Pandangan negatif terhadap Muslim dan warga imigran terjadi secara luas di seluruh daratan Eropa. Hal ini diketahui berdasarkan survei yang dilakukan di delapan negara Eropa.

Survei terhadap 12 ribu orang dari Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Hongaria, Polandia, Belanda, dan Italia ini juga menemukan ketidakpercayaan yang meluas terhadap otoritas dan kekecewaan atas politik tingkat tinggi.

Dilansir di Vice, Selasa (16/2), penelitian ini dilakukan sebagai bagian dari kelanjutan laporan tentang penyebaran pandangan antiminoritas dan ekstremisme sayap kanan selama pandemi.

Para peneliti menemukan berbagai tingkat dukungan untuk sebuah konspirasi yang lantas dibantah secara luas yang disebut “Great Replacement Theory”. Teori konspirasi ini menyebut, para elite mendorong adanya imigrasi untuk melemahkan Eropa.

Menurut survei, hanya 16 persen warga di Inggris yang menyatakan mendukung teori konspirasi ini, sedangkan di Italia 39 persen menyetujui teori itu bahkan menganggap itu benar. Di Hongaria, 40 persen dari mereka yang disurvei mengatakan, konspirasi itu pasti atau mungkin benar terjadi.

“Ketika pandemi Covid-19 telah melanda seluruh Eropa, kami melihat beberapa kelompok radikal dan sayap kanan menjadi lebih makmur dan beberapa lainnya menjadi kacau,” kata CEO Hope not Hate, Nick Lowles.

Di Eropa, dia menyebut, teori konspirasi banyak yang berakar dari antisemit dan akan makin populer. Nasionalisme rasial yang meningkat seakan menyertai peningkatan teror sayap kanan. “Ideologi kebencian diinternasionalkan tidak seperti sebelumnya, sehingga perlawanan harus selalu dilakukan,” kata dia.

Hongaria secara konsisten memegang posisi negara dengan pandangan paling bermusuhan terhadap minoritas dari negara-negara yang disurvei. Laporan tersebut menemukan, 60 persen warganya memiliki pandangan yang sangat atau cukup negatif terhadap imigran.

Sumber: republika.co.id

 

Legislator Minta Pemerintah Kaji Saran MUI soal Revisi SKB Seragam

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta agar Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri yang mengatur seragam sekolah direvisi. Wakil Ketua Komisi X Abdul Fikri Faqih mempersilakan pemerintah untuk mengkaji desakan tersebut.

“Direvisi atau dicabut hampir sama, tinggal prosentasenya berapa. Kalau lebih dari 50 persen namanya dicabut, kalau kurang namanya direvisi. Silahkan dikaji,” kata Faqih, Ahad (14/2).

Kendati demikian, ia menilai yang lebih penting adalah pelibatan semua pemangku kepentingan dalam menerbitkan kebijakan agar tidak terus bikin ketidakstabilan dunia pendidikan. Selain itu, ia melihat banyak penolakan terhadap SKB Tiga Menteri tersebut lantaran semangat inklusif yang tidak sesuai dengan faktanya.

“Faktanya SKB ini malah membatasi dan bernuansa melarang larang. Bahkan pendekatan yang dilakukan bukan persuasif tapi malah pendekatan represif pelarangan dan pencabutan budaya dan kesepakatan lokal yang sudah ada,” kata politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut.

Ia juga melihat ada semangat sentralistik dalam SKB tersebut. Padahal, Faqih menambahkan, pendidikan mestinya adalah urusan yang sudah desentralisasikan secara konkuren.

“Perguruan Tinggi di pusat, SMA/K dan pendidikan dan/atau layanan khusus di provinsi dan SMP ke bawah di Kabupaten Kota. Sesuai UU 23/2014 tentang Pemda,” jelasnya.

Sumber: republika.co.id

 

Para Ulama yang Dizalimi dan Wafat di Penjara

(Jurnalislam.com)–Menengok kepada sejarah, sebenarnya sudah tidak asing lagi mendengar perlakuan penguasa yang sangat ironi terhadap ulama-ulama, dalam hal ini ulama yang dimaksud adalah ulama-ulama yang berani menyuarakan kebenaran. Mengapa dikatakan ironi? Karena, bagi muslim meskipun ia seorang penguasa maka sepatutnyalah ia menjalankan pesan nabiyullah Muhammad SAW :

أكرموا العلماء فإنهم عند

الله كرماء مكرمون

Artinya:

“Hendaknya kamu semua memuliakan ulama, karena mereka itu orang-orang yang mulia menurut Allah dan dimuliakan.” (Kitab Lubabul Hadits)

Kritisnya ulama, teguran ulama, kemuliaan yang diberikan masyarakat pembelajar kepada ulama seolah menjadi api dalam sekam bagi penguasa, yang dengan cepat bisa menghanguskan keberlangsungan penguasa. Rupanya ini seperti sebuah ancaman besar bagi penguasa, kecuali bagi penguasa yang bijaksana, cerdas, berpikiran terbuka, lembut hatinya dan takut pada Allah yang akhirnya akan sejalan dengan ulama.

Tulisan saya yang lalu berjudul ‘Ulama-ulama Yang Diburu Penguasa’ sedikit menceritakan tentang ulama-ulama terdahulu yang ditangkap dan disiksa bahkan dibunuh oleh penguasa, berawal dari fitnah atau tuduhan yang dibuat-buat untuk memenjarakan ulama-ulama.

Seperti halnya yang terjadi pada Imam Syafi’i, beliau pernah dirantai besi dan digiring dari Yaman hingga Raqqah (Baghdad) tempat penguasa tinggal saat itu, karena fitnahan yang menuduh beliau bergabung dengan Syi’ah Rafidhah dan merencanakan perlawanan kepada penguasa.

Syukurlah penguasa saat itu adalah seorang yang bijaksana, cerdas dan lembut hatinya yaitu Harun al-Rasyid, sehingga saat segala tuduhan tidak terbukti, Imam Syafi’i pun dibebaskan. Berbeda dengan Imam Hambali, beliau menghadapi penguasa yang memperturutkan hawa nafsu, memaksa ulama-ulama untuk menyetujui pemahamannya bahwa Al-Quran adalah makhluk, tentu Imam Hambali menolak ini, alhasil Imam Hambali dipenjara dan disiksa, beliau dicambuk hingga hampir pakaiannya terlucut. Imam Hambali baru bebas dari penjara setelah berganti penguasa.

Berbeda dari Imam Syafi’i dan Imam Hambali meski keduanya pun menerima siksaan berat yang tidak patut diterima oleh seorang ulama, ada yang lebih menyayat hati yaitu ulama-ulama yang disiksa dipenjara hingga menghilangkan nyawanya, memadamkan cahaya sehingga sang ulama tak dapat lagi menyebarkan keberkahan ilmu yang hakikatnya dapat menyelamatkan manusia.

Berikut daftar ulama-ulama terdahulu yang wafat dipenjara :

  1. IMAM AL-BUWAYTHI

Imam Al-Buwaythi adalah murid andalan Imam Syafi’i. Imam Syafi’i pernah memujinya dengan mengatakan “Tidak ada seorang pun yang lebih berhak menggantikanku dalam majlisku ini dari Abu Ya’qub (Al-Buwaythiy). Dan tak ada seorang pun dari sahabatku yang lebih pandai dari dia.”

Kepandaian dan kemuliaan Imam Al-Buwaythi membuat cemburu petinggi-petinggi negara, dimana kala itu penguasa dan petinggi negara sedang digandrungi pemahaman Muktazilah yang salah satu pemahamannya adalah ‘Al-Quran merupakan makhluk’. Pemahaman Muktazilah banyak ditentang ulama-ulama dan ini kerap dimanfaatkan oleh petinggi-petinggi negara untuk kepentingan politik, salah satunya adalah menyingkirkan ulama yang dicemburuinya.

Imam Al-Buwaythi yang dicemburui oleh Muhammad bin Abi Laits seorang qadlil qudlat (kepala kehakiman) Mesir menjadi sasaran untuk disingkirkan melalui pemahaman Muktazilah ini. Tentu, Imam Al-Buwaythi dengan tegas menolak pemahaman bahwa Al-Quran adalah makhluk, beliau pun dipenjara dengan tangan tetap diborgol.

Didalam penjara, setiap menjelang hari Jum’at Imam Al-Buwaythi mencuci bajunya, membersihkan dirinya, mandi dan memakai wewangian. Tatkala mendengar adzan berkumandang sebagai panggilan untuk sholat Jum’at maka beliau menuju ke pintu penjara.

Sipir pun bertanya, “Hendak kemana engkau?”

Imam Al-Buwaythi menjawab, “Aku hendak memenuhi panggilan Allah.”

Sang sipir pun berkata, “Kembalilah (ke selmu), semoga engkau dirahmati Allah.” Imam Al-Buwaythi kemudian menyahuti, “Ya Allah, sesungguhnya aku hendak memenuhi panggilanmu. Tapi mereka menghalangiku.”

Imam Al-Buwaythi meninggal dipenjara dalam keadaan tetap terborgol.

 

  1. IMAM ABU HANIFAH

Imam Abu Hanifah memiliki nama asli Nu’man bin Tsabit bin Zuta bin Mahan at-Taymi. Sejak kecil beliau begitu sibuk memperdalam ilmu agama sehingga keilmuan beliau pun sangat mumpuni dengan dibuktikan oleh buku-buku karyanya yang luar biasa. Imam Syafi’i pun memberi pujian pada Imam Abu Hanifah,

“Barangsiapa belum membaca buku-buku Abu Hanifah, maka ia belum memperdalam ilmu, juga belum belajar fiqih” (Imam Syafi’i)

Kecerdasan Imam Abu Hanifah atau biasa dipanggil Imam Hanafi terdengar oleh salah seorang menteri Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur yang sedang menjabat kala itu. Menteri pun mengusulkan nama Imam Hanafi saat sang khalifah sedang mencari orang untuk didudukan sebagai hakim di kekhalifannya.

Sebagai Khalifah yang sedang berkuasa, tentu Abu Ja’far Al-Mansur merasa percaya diri bahwa tidak akan ada yang menolak permintaannya. Beliau pun mengutus utusan untuk menemui Imam Hanafi agar menghadap khalifah. Namun diluar perkiraan, ternyata Imam Hanafi tidak langsung menerima panggilan khalifah, Imam Hanafi menjawab panggilan khalifah dengan jawaban “Aku akan istikharah terlebih dahulu, meminta petunjuk kepada Allah. Jika hatiku dibuka maka akan aku terima. Jika tidak, maka masih banyak ahli fiqih lain yang dapat dipilih oleh Amirul Mukminin (khalifah)”.

Waktu pun berlalu lama, namun Imam Hanafi tak kunjung juga memenuhi panggilan khalifah. Khalifah pun mengutus kembali utusan agar Imam Hanafi menghadap khalifah. Imam Hanafi pun memenuhi panggilan khalifah untuk menghadap namun rupanya untuk menyampaikan penolakannya dijadikan hakim. Khalifah tidak putus asa membujuk Imam Hanafi agar mau menjadi hakim, mereka terlibat diskusi dan debat yang cukup lama namun Imam Hanafi tetap menolak tawaran khalifah, alasannya adalah jika seorang ulama masuk kejajaran pemerintahan dibawah penguasa, maka ia akan kesulitan untuk menyampaikan kebenaran.

Atas penolakan Imam Hanafi, khalifah Abu Ja’far al-Mansur pun tersinggung sekali, ia memerintahkan pengawalnya mencambuk Imam Hanafi dengan seratus cambukkan dan menjebloskannya ke penjara.

Beberapa hari kemudian kerabat khalifah menegur khalifah atas perlakuannya terhadap Imam Hanafi. Khalifah pun memerintahkan pegawainya untuk memberi 30 dirham sebagai ‘ganti derita dan membebaskan Imam Hanafi. Namun diluar dugaan kembali, Imam Hanafi menolak ‘ganti derita’.  Hal ini menimbulkan kemarahan khalifah dan menjebloskan kembali Imam Hanafi kepenjara. Namun para menteri mengusulkan agar Imam Hanafi dijadikan tahanan rumah saja, tidak boleh bergabung dan duduk bersama masyarakat, tidak boleh pula keluar rumah.

Dalam masa tahanan rumah, Imam Hanafi jatuh sakit yang makin lama makin parah sakitnya yang akhirnya membuat Imam Hanafi wafat dalam tahanan rumah. Dalam riwayat lain, Imam Hanafi wafat dipenjara setelah memakan makanan yang telah diracun, dan riwayat yang lain lagi Imam Hanafi wafat karena disiksa terus menerus di penjara.

Berita kematian Imam Hanafi menghadirkan duka yang dalam bagi ummat Islam kala itu, sehingga ulama Kuffah berkata “Cahaya keilmuan telah dimatikan dari kota Kufah, sungguh mereka tidak pernah melihat ulama sekaliber dia selamanya”.

Imam Hanafi dishalatkan lebih dari 50.000 orang, dalam 6 kali putaran yang ditutup oleh shalat anaknya Hammad.

 

 

  1. IBNU TAIMIYAH

Ibnu Taimiyah selama hidupnya ia berpindah dari penjara ke penjara karena tuduhan yang dibuat-buat dan kedengkian padanya.

Kemuliaan dan pujian yang diberikan kepada beliau dari ulama-ulama terkenal pada masanya membuat hati-hati yang kotor menjadi cemburu kepadanya.

Salah satu pujian itu seperti yang diungkapkan oleh Al-Hafizh Al-Mizzy “Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah … dan belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam serta lebih ittiba’ dibandingkan beliau.”

Penjara itu berawal dari seorang Nasrani bernama Assaf yang menghina Nabi Muhammad SAW dan disaksikan kaum muslimin. Mendengar kabar penghinaan itu Ibnu Taimiyah segera menemui Zainuddin Al-Fariqi seorang guru di Darul Hadits pada masanya. Mereka sepakat untuk mengangkat penghinaan itu kepada pejabat pemerintah di Damaskus, Izzuddin Ubaik.

Assaf bersama kuasa hukumnya yang sekaligus menyewa dirinya untuk menghina Nabi Muhammad SAW didatangkan dalam persidangan, namun dalam persidangan Ibnu Taimiyah dan Syaikh Zainuddin kalah dan mereka berdua yang melaporkan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW malah justru mendapatkan hukuman.

Assaf pun mengaku telah masuk Islam. namun kemudian ia dibunuh oleh keponakannya sendiri. Peristiwa ini menginspirasi Ibnu Taimiyah dan menghasilkan sebuah karya buku berjudul “Ash-Sharimul Maslul ala Syatimir Rasul (Pedang Terhunus atas Penghina Rasul SAW)” yang menjadi rujukan umat muslim dalam menghadapi penghina Nabi Muhammad SAW.

Penjara selanjutnya di Kairo. Di Kairo dari penjara Burj Ibnu Taimiyah dipindah ke penjara Qal’atul Jabal.

Setelah bebas dari penjara Kairo, Ibnu Taimiyah kembali dipenjara di Mesir. Ditahan selama dua pekan, karena Ibnu Taimiyah menulis sebuah buku tentang istighatsah yang dikenal dengan bantahan atas pemikiran para pengikut Abu Bakar Al-Arabi yang merupakan tokoh sufi.

Kemudian penjara yang terakhir adalah penjara Qal’ah Dymasiq, beliau dipenjara bersama murid setianya yaitu Ibnu Qayyim Al Jauziyah.

Selama di penjara, Ibnu Taimiyah mendapatkan waktu yang banyak untuk membaca dan menulis sejumlah buku yang kemudian dikirim ke luar penjara.

Sampai-sampai penguasa saat itu meminta agar kitab, kertas, tinta dan pena yang digunakan Ibnu Taimiyah dikeluarkan dari dalam penjara agar Ibnu Taimiyah tidak dapat menulis karya lagi.  Ibnu Taimiyah pun dilarang membaca. Namun tak putus asa, Ibnu Taimiyah tetap menulis dengan arang.

Beliau berada di penjara terakhir selama dua tahun tiga bulan, mengalami sakit dua puluh hari lebih dan wafat didalam penjara dihadapan muridnya yang setia Ibnu Qayyim Al Jauziyah.

Jenazah beliau dishalatkan di masjid Jami’Bani Umayah sesudah shalat Zhuhur. Semua penduduk Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya, termasuk para Umara’, Ulama, tentara dan sebagainya, hingga kota Dimasyq menjadi libur total hari itu. Bahkan semua penduduk Dimasyq (Damaskus) tua, muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergian beliau.

Seorang saksi mata pernah berkata: “Menurut yang aku ketahui tidak ada seorang pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya. Ketiga orang ini pergi menyembunyikan diri karena takut dikeroyok masa. “Bahkan menurut ahli sejarah, belum pernah terjadi jenazah yang dishalatkan serta dihormati oleh orang sebanyak itu melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hambal.

Dari kisah-kisah ulama terdahulu. Mungkin dapat direnungi, adakah kesamaan dengan nasib ulama-ulama kini. Dari tuduhan yang dibuat-buat, kecemburuan terhadap ulama yang diberi kemuliaan oleh masyarakat, kemudian wafatnya ulama di dalam penjara belum lama ini. Wallahu a’lam.

 

Penulis : Jumi Yanti Sutisna

 

 

 

 

PAN: Tuduhan Terhadap Din Syamsuddin Menyakitkan

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Saleh Partaonan Daulay menyayangkan tuduhan terhadap Din Syamsuddin yang disebut sebagai seorang yang radikal. Menurutnya, tuduhan Gerakan Anti Radikalisme Institut Teknologi Bandung (GAR ITB) terhadap Din Syamsuddin menyakitkan dan tidak benar.

“Karena itu, kami tentu merasa tuduhan itu menyakiti salah seorang tokoh besar Indonesia yang selama ini dikenal sebagai orang yang memberikan keteduhan, dan membangun dialog lintas agama, lintas peradaban, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia internasional,” tegas Saleh dalam keterangan tertulisnya, Ahad (14/2).

Sebetulnya, kata Saleh, makna radikal itu sendiri sebetulnya belum dipahami secara utuh oleh mereka yang melabeli itu. Istilah radikal tidak selamanya buruk.

Namun, ketika diaporkan ke KASN berarti makna radikal itu sendiri menjadi jelek dan buruk. Padahal, Din Syamsuddin itu selalu menggelar dialog interfaith, dialog antaragama, serta dialog antarperadaban.

“Dan beliau itu ikut di dalam organisasi-organisasi interfaith seperti itu bukan hanya di Indonesia, tetapi dunia internasional,” ungkapnya.

Bahkan, kata Saleh, itu pernah juga bicara di PBB, terkait dengan bagaimana Indonesia bisa membangun hubungan yang sangat harmonis, kemudian meningkatkan kohesivitas sosial yang didasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. Menurutnya, semua orang bisa mendengar ceramah beliau di PBB, itu ada di youtube.

“Saya sebagai pribadi, menganggap dekat dengan Din Syamsuddin, karena apa? Beliau itu senior saya di Muhamamdiyah, senior saya di Pemuda Muhammadiyah, dan bahkan beliau dosen saya di UIN Syarif Hidayatullah,” tutur Saleh.

sumber: republika.co.id

 

Soal Pembunuhan Laskar FPI, Polisi Minta Barang Bukti Komnas HAM Diserahkan ke Polri

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Rusdi Hartono mengatakan penyidik Bareskrim bakal melakukan koordinasi dengan Komnas HAM soal kelanjutan pengusutan penembakan enam laskar FPI (Front Pembela Islam).

Menurut Rusdi, penyidik akan meminta barang bukti investigasi kasus yang selama ini dikuasai Komnas HAM untuk kepentingan penyidikan. “Kami akan berkoordinasi dengan Komnas HAM untuk meminta mereka memberikan barang bukti yang sampai saat ini masih dikuasai oleh Komnas HAM,” ujar Rudi kepada wartawan di Mabes Polri, Kamis (11/2).

Rusdi menyebut upaya ini diperlukan karena barang bukti tersebut sangat penting bagi Polri dalam menindaklanjuti hasil investigasi Komnas HAM. “Barang bukti ini menjadi sesuatu yang sangat penting bagi Polri untuk dapat menindaklanjuti hasil investigasi Komnas HAM,” tegas jenderal bintang satu ini. Dia mengatakan bahwa Polri telah menerima dan mempelajari hasil investigasi Komnas HAM dengan tebal 60 halaman itu.

“Jadi, ada dua yang dicermati oleh Polri dalam hal ini. Pertama adalah kejadian penyerangan terhadap anggota Polri yang sedang bertugas, dan yang kedua permasalahan unlawful killing,” ujar Rusdi. Diketahui, Komnas HAM telah menyampaikan hasil investigasi mengenai kasus kematian enam orang Laskar FPI di KM 50 Tol Jakarta-Cikampek.

sumber: jpnn.com

DMI Minta Dai Ceramah tentang Ekonomi Umat

JAKARTA(Jurnalislam.com) —  Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla berharap ceramah yang ada di masjid tidak hanya menyangkut soal akidah dan ibadah muamalah semata. JK meminta agar materi ceramah diperbanyak terkait masalah ekonomi umat.Hal ini kata JK, bagian fungsi lain masjid, selain sebagai tempat peribadatan.

“Saya selalu sebagai Ketua DMI, berpandangan memakmurkan masjid dan dimakmurkan masjid, jadi bukan hanya memakmurkan mesjid, tapi bagaiamana juga memakmurkan ekonomi jamaahnya, jadi dalam ceramah nggak hanya bicara tentang akidah, ibadah muamalah, tapi juga  kemajuan entrepreneur, perdagangan dapat maju,” ujar JK saat menghadiri Seminar Internasional “Membangun Peradaban Islam Berbasis Masjid” yang digelar Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Kamis (11/2).

JK meyakini, masjid dapat berperan dalam memajukan ekonomi dan kehidupan para jamaahnya, sebagaimana yang sudah terjadi sejak zaman Rasulullah. JK mengatakan, dalam sejarah Islam, semua kegiatan mulai dari pendidikan, strategi, bidang kedokteran, pengadilan, pengetahuan lainnya dijalankan berawal dari masjid.

Saat ini, dia menjelaskan, banyak juga masjid yang kemudian berkembang menjadi sebuah lembaga pendidikan hingga perguruan tinggi. Karena itu, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 itu berharap kemajuan Islam bisa kembali melalui masjid.”Masjid tentu sebagai tempat peribadatan, tapi juga banyak kegiatan masyarakat yang bisa dimajukan dari mesjid, maka masjid harus juga pusat kegiatan kegiatan ekonomi, mendorong jamaah lebih baik,” kata JK.

Dalam konteks pandemi Covid-19 seperti saat ini, J JK juga berharap masjid dapat berperan agar masjid sarana sosialiasi mencegah penyebaran virus Covid-19.”Yakni bagaimana mesjid mengajarkan kepada jamaah hidup bersih, hidup lebih disiplin, masjid berfungsi hubungan kita ke Allah dan manusia, nggak hanya tempat beribadah tapi juga majukan masyarakatnya, itu harapan saya,” kata dia.

Sumber: republika.co.id

 

Tokoh Syiah Jalaluddin Rakhmat dan Istrinya Meninggal Dunia Karena Covid-19

BANDUNG(Jurnalislam.com)–Politisi PDIP sekaligus Tokoh Syiah Indonesia Jalaluddin Rakhmat wafat karena COVID-19 di Rumah Sakit Santosa, Kota Bandung pada Senin (15/2/2021) sekitar pukul 15.23 WIB.

Kematiannya seolah menyusul istrinya yang lebih dulu wafat di rumah sakit yang sama pada Kamis, 11 Februari 2021.

“Istrinya juga empat hari yang lalu mendahului beliau. Iya dirawat di RS Santosa semua,” ujar Ketua PW Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) PW Jabar Sutrasno saat dihubungi, Senin (15/2/2021).

Dilansir dari laman http://www.majulah-ijabi.org/, Eusi Kartini dinikahi oleh Jalaluddin saat mengenyam pendidikan di Fakultas Publisistik, sekarang Fakultas Komunikasi, Universitas Padjadjaran. Euis merupakan salah satu santri di masjid yang jadi tempat Jalaluddin berdakwah.

Sebelumnya, Kang Jalal -sapaan Jalaluddin- telah menjalani perawatan selama 12 hari di RS Santosa. “Seminggu yang lalu dirawat, dari hari Kamis, berarti kurang lebih 12 hari yang lalu. Beliau ada sesak dan diabetes,” ujar Sutrasno.

Sementara itu Ketua Bidang Pemenangan Pemilu PDIP Bambang Wuryanto mengatakan Jalaluddin Rakhmat meninggal karena mengidap COVID-19. “(karena) COVID-19),” ujarnya.

Sumber: detik.com