Waspada Marak Penipuan Mengatasnamakan Bantuan Pesantren

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag menerima banyak laporan terkait modus penipuan bantuan pesantren. Dilaporkan bahwa modus penipuan itu dilakukan oleh oknum yang mengatasnamakan Kemenag dengan menjanjikan bantuan dan memungut biaya.

Direktur PD Pontren Waryono Abdul Ghafur meminta masyarakat untuk bersikap kritis dan tidak mudah percaya jika ada yang menawarkan janji untuk mendapatkan bantuan dari Kementerian Agama. “Jangan mudah percaya, laporkan saja ke pihak berwajib,” tegas Waryono di Surabaya, Senin (14/2/2022).

Menurut Waryono, pihaknya tidak pernah memungut biaya atas setiap program bantuan yang diberikan kepada pesantren atau lembaga pendidikan keagamaan lainnya. Karenanya, jika ada info bantuan yang diklaim berasal Kemenag, namun mensyaratkan biaya yang harus dikirimkan ke nomor rekening tertentu, maka dapat dipastikan bahwa informasi tersebut tidak benar alias penipuan.

“Semua layanan publik di Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren tidak mensyaratkan pembayaran atau meminta biaya apa pun, demikian halnya dengan layanan bantuan, pada tahun 2022 ini seluruh pengajuan bantuan dilakukan secara online,” jelas Waryono Abdul Ghofur.

Waryono mengimbau masyarakat untuk mencari informasi seputar program bantuan Kementerian Agama melalui saluran-saluran resmi, di laman https://ditpdpontren.kemenag.go.id/, atau melalui media sosial resmi milik Ditpdpontren.

Waryono mengaku telah bekerja sama dengan pihak berwajib dan berhasil menangkap salah satu oknum yang diduga pelaku tindak penipuan di Kalimantan Barat.

“Pelaku penipuan menggunakan modus operandi yang beragam, tetapi ujung-ujungnya selalu ada permintaan sejumlah uang. Untuk menghindari penipuan, setiap informasi yang diterima bisa dikonfirmasi dan berkoordinasi terlebih dahulu dengan Kementerian Agama di tingkat kabupaten/kota setempat,” tutupnya.

Ulama Didorong Kolaborasi Lahirkan Kebaikan

YOGYAKARTA(Jurnalislam.com)— Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Daerah Istimewa Yogyokarta (DIY) masa khidmah 2021-2026 resmi dilantik pada Sabtu, (12/2/2022).

Pelantikan ini dihadiri Tim Koordinator Wilayah (Korwil) MUI Provinsi di Jawa, Dewan Pimpinan MUI Pusat yaitu Ketua MUI Bidang Hukum dan Perundangan, Prof Noor Achmad, dan Wasekjen MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Arif Fahrudin.

Wasekjen MUI, KH Arif Fahrudin, mengatakan Dewan Pimpinan MUI merasa sangat bergembira dan bangga telah terpilih dan dikukuhkannya pengurus DP MUI DIY masa khidmat 2021-2026.

“Satu harapan dan doa kami, MUI DIY Pelantikan Dewan Pimpinan MUI DIY, Ini Pesan dan Harapan Wasekjensemakin mantap dan semakin mengukuhkan eksistensi dan khidmahnya,” kata Kiai Arif, begitu akrap disapa kepada MUIDigital, Rabu (16/2/2022).

 

Kiai Arif menambahkan, hal ini bertujuan untuk mewujudkan umat Islam di DIY menjadi mitra pemerintah (shodiqul hukumah), sekaligus juga sebagai pelayan umat (khadimul ummah).

“Dengan prinsip-prinsip untuk bertujuan tarbiyatul ummah (penguatan umat), tauhidul ummah (mempersatukan umat), agar tidak terus berada dalam friksi-friksi, namun berkolaborasi dan bersinergi untuk kebaikan (fastabiqul khairat),” sambungnya.

 

Kiai Arif menuturkan, hal ini sangat dimungkinkan karena DIY memiliki modal utama yaitu sebagai daerah yang istimewa, masyarakatnya religius, menjunjung tinggi keadaban, dan sopan santun (akhlaqul karimah).

Hal ini, kata kiai Arif, diperkuat juga oleh modal sosial sebagai kota budaya dan pendidikan. Ia menilai bahwa hal ini semakin membawa arah perkhidmatan MUI DIY kearah yang sesuai dengan tuntunan agama dan juga tujuan-tujuan pembangunan dari negara.

Kiai Arif berpesan agar para pengurus MUI DIY bisa terus bekerja keras untuk berkhidmat pada unat dan bangsa.

Ia juga mengutip pernyataan Imam Syafii yang menyebut bahwa para ulama adalah yang senantiasa terus berpegang teguh pada nilai-nilai religius. Serta senantiasa mengetahui dan memahami denyut nadi gerak kondisi umat di bawahnya.

 

“Selamat berkhidmah MUI DIY. Semoga Allah SWT senantiasa mengaruniai kekuatan, kesehatan, dan keberkahan,” ujar dia.

 

 

Sultanate Institute dan BRIN Arkeologi Sumut Lanjutkan Ekskavasi Situs Bongal Sumut

Tapanuli Tengah(Jurnalislam.com) — Sultanate Institute dan BRIN Kantor Arkeologi Sumatera Utara melanjutkan kembali riset dan ekskavasi Situs Bongal.

Situs Bongal adalah kawasan cagar budaya yang berlokasi di Desa Jago Jago, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah. Situs ini diyakini merupakan pelabuhan bahkan “entreport” pelabuhan pelayaran internasional yang eksis pada abad 7-10 Masehi. Kesimpulan ini diperkuat dengan beraneka ragam temuan pada ekskavasi tahun 2021 lalu dan sejumlah temuan masyarakat.

Temuan tersebut diantaranya berupa fragmen kayu kapal lengkap dengan tali ijuk yang mengikatnya, koin emas era Umayyah dan Abbasiyah, keramik Dinasti Tang, tembikar berglasir dari Nisaphur, botol-botol kaca Islam, Wadah kalam (alat tulis Islam), peralatan medis, sisir tenun, dan sejumlah temuan lainnya.

Situs ini dinamakan Situs Bongal karena berada di kawasan Bukit Bongal Desa Jago-jago, Kecamatan Badiri, Tapanuli Tengah.

Situs ini sekaligus membuktikan bahwa Islam telah masuk pada abad 1 Hijriyah atau abad 7 Masehi, sehingga situs ini sangat penting bagi ilmu pengetahuan termasuk penyusunan historiografi Islam di Indonesia.

Ekskavasi lanjutan di Situs Bongal akan dimulai tanggal 14-28 Februari. Kegiatan Ekskavasi ini melibatkan para peneliti dari Sultanate Institute, Kurator Museum Abad 1 Hijriyah, Mapesa, para peneliti BRIN Kantor Arkeologi Sumatera Utara dan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Arkeometri BRIN, dan peneliti kehutanan dari BPSI Kuok KLHK. Kegiatan ini dapat terselenggara berkat dukungan PT. Media Literasi Nesia serta Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah.

“Dari temuan temuan yang ada kita juga bisa mengetahui betapa majunya peradaban Islam pada masa itu sangat maju. Maka penyelamatan situs ini sangat penting, terutama untuk kepentingan edukasi masyarakat,” ujar Direktur PT Media Literasi Nesia, Abu Bakar Bamuzaham.

Direktur Sultanate Institute, Tori Nuariza mengungkapkan, selama ini pihaknya berupaya membantu riset Situs Bongal dengan menelusuri catatan penjelajah muslim dalam kitab-kitab Islam klasik.  Menurutnya, cukup banyak catatan penjelajah muslim yang menyinggung pelayaran ke Samudera Hindia lengkap dengan nama kawasan serta komoditas unggulannya.

JAS Jatim: Dzikir Hasbunallah wa Ni’malwakil Bukan Untuk Perang

MALANG(Jurnalislam.com) – Amir Jamaah Ansharu Syariah (JAS) Jawa Timur, Fuad Ibrahim menanggapi pernyataan kontroversi mantan Kapolres Purworejo AKBP Rizal Marito dalam sebuah cuplikan dialog dengan wartawan TV One. Saat itu Rizal menuduh Dzikir ‘Hasbunallah wa ni’mal wakil’ sebagai persiapan perang yang dilakukan oleh warga desa Wadas.

Menurut Fuad dzikir itu justru menjadikan warga Wadas yang terkepung menjadi lebih tentram dan tenang,

“Tidak benar jika dzikir digunakan untuk berperang. Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk berdzikir agar hati menjadi tentram sebagaimana dalam Al Qur’an Ar Ra’d ayat 28”, terangnya kepada jurniscom pada Selasa sore (15/02/2022).

Lebih lanjut menurutnya, dzikir ‘Hasbunallah wa ni’mal wakil’ justru digunakan untuk berserah diri dan memohon kepada sang pencipta untuk dimintai perlindungan,

“Melihat kejadian di desa Wadas sudah barang tentu masyarakat disana hatinya menjadi gusar, kebingungan bahkan ketakutan karena desa mereka dikepung ratusan aparat, sehingga melakukan dzikir hasbunallah wa ni’malwakil agar hati mereka menjadi tentram kembali,” katanya.

“Itulah salah satu diantara keutamaan dzikir. Dan memang semestinya semua hal didunia ini dikembalikan kepada Allah dan memohon pertolongan kepada Allah. Karena sebaik-baik tempat kembali,” pungkasnya.

Kontributor: Bahri

JSIT Surakarta Umumkan Pemenang Lomba Siswa, Sekolah dan Pengajar Terbaik

SOLO (Jurnalislam.com)- Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Kota Surakarta menggelar Pengumuman Hasil Lomba Siswa, Guru, dan Kepala Sekolah dalam rangka Musyawarah Wilayah V JSIT Jawa Tengah. Kegiatan dilaksanakan secara virtual melalui platform zoommeeting diikuti oleh peserta, dewan juri, segenap Panitia Lomba, dan guru-guru Sekolah Islam Terpadu (SIT) yang tergabung dalam JSIT Kota Surakarta, Selasa (15/02/2022).

 

Ketua JSIT Kota Surakarta, Wahyudi, M.Pd menyampaikan bahwa lomba ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam menyemarakkan dan menyukseskan gelaran Musyawarah Wilayah V JSIT Jawa Tengah, yang puncaknya akan digelar di Magelang, 15-16 Maret 2022.

 

“Tentunya lomba ini dilaksanakan secara berjenjang. Mulai dari seleksi lomba tingkat kabupaten/kota terlebih dahulu. Selanjutnya pemenang (juara 1) di tingkat kabupaten/kota untuk masing-masing kategori, akan maju di tingkat provinsi. Selamat kepada para pemenang, persiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk maju di tingkat dan membawa nama baik Kota Solo di tingkat provinsi Jawa Tengah,” pesannya.

 

Kepala Seksi Manajemen dan Peningkatan Mutu Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Priyono, M.Pd., yang sekaligus menjadi salah satu juri dalam lomba tersebut menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan lomba tersebut.

 

“Secara pribadi dan mewakili Dinas Pendidikan Kota Surakarta, kami mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih atas terlaksananya lomba di tingkat Kota Surakarta dalam rangka Musyawarah Wilayah V JSIT Kota Surakarta. Tentu menjadi pengalaman tersendiri bagi peserta dan pemenang lomba. Memunculkan kreativitas, daya inovasi, semangat berjuang, tentu juga menumbuhkan mental pemenang. Tentunya terus meningkatkan kualitas pendidikan utamanya di lingkungan JSIT Indonesia,” harapnya.

 

Lomba Guru PAUD Simulasi Pembelajaran Merdeka Bermain dengan Pendekatan Terpadu, Juara 1 Irma Yuliana (KBIT Insan Cendekia), Juara 2 Nurul Izzah (RA Alif Smart), Juara 3 Arifah Septiana Utami (PAUD IT Nur Hidayah).

 

Lomba Guru PAUD Membuat Buku Cerita Bermuatan STEAM dengan Karakteristik Sekolah Islam Terpadu, Juara 1 Istiqomah (PAUD IT Nur Hidayah), Juara 2 Ema Rika Mariana (KBIT-RA Alif Smart), Juara 3 Armelita Bunga Wiguna (TK Alam Miftahul Jannah).

 

Lomba Siswa SD Tutorial Pembuatan Hasil Karya Pembelajaran Sesuai KD, Juara 1 Qonita Dzakya Abida Shalihah (SDIT Nur Hidayah), Juara 2 Muh Zaidan Al Barra (SDIT Insan Mulia), Juara 3 Tsalisa Hanifah (SDIT Nur Hidayah).

 

Lomba Guru SD Simulasi Pembelajaran Merdeka Bermain dengan Pendekatan TERPADU, Juara 1 Kara Ayu Pratiwi (SDIT Nur Hidayah), Juara 2 Mardiana Nurul Nurfadilah (SDIT Insan Mulia), Juara 3 Wulansari (SDIT Nur Hidayah).

 

Lomba Siswa SMP Vlog Project KD Mata Pelajaran, Juara 1 Celsea Belvana (SMPIT Nur Hidayah), Juara 2 Hasya Maykayla (SMPIT Nur Hidayah), Juara 3 Kiyosih Faheema (SMPIT Insan Mulia).

 

Lomba Guru SMP Simulasi Pembelajaran Merdeka Bermain dengan Pendekatan TERPADU, Juara 1 Widy Anggraini (SMPIT Insan Mulia), Juara 2 Luthfi Aula Niswati (SMPIT Insan Mulia), Juara 3 Afifatul Jannah (SMPIT Insan Mulia).

 

Lomba Kepala PAUD Rancangan Pembinaan SDM SIT, Juara 1 Dewi Marsiyah (PAUD IT Nur Hidayah), Juara 2 Yeyen Mariana (TKIT Alif Smart), Juara 3 Saranti Donita (RA Insan Sakeena).

 

Lomba Kepala SD Rancangan Pembinaan SDM SIT, Juara 1 Waskito (SDIT Nur Hidayah), Juara 2 Retno Hardyah Astuti (SDIT Alif Smart). Lomba Kepala SMP Rancangan Pembinaan SDM SIT, Juara 1 Wahyudi (SMPIT Insan Mulia).

Ketua Muhammadiyah Haedar Nashir Termasuk Top 100 Ilmuwan Dunia

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ketua Umum PPMuhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas rilisnya Alper-Doger (AD) Scientific Index tahun 2022 tentang ‘World Top 100 Social Sciences Scientists In Indonesia 2022’.

“Saya terdaftar di nomor 37 ilmuwan sosial di Indonesia, terima kasih, meski merasa belum menjadi ilmuwan yang top. Sebab masih banyak ilmuwan hebat di negeri ini, termasuk para guru besar dan rektor di kampus-kampus, para budayawan, dan pemikir lainnya,” tutur dia, Selasa (15/2).

Terlebih, Haedar melanjutkan, anak-anak muda Indonesia juga sudah bertumbuh menjadi ilmuwan-ilmuwan di berbagai bidang. Tentu ini penting bagi masa depan Indonesia untuk berlomba dalam kebaikan dengan bangsa lain.

“Saya juga menyampaikan terima kasih atas apresiasi banyak pihak dari dalam Muhammadiyah maupun saudara sebangsa. Ungkapan apresiasi dan terima kasih merupakan bagian dari merawat kebaikan sesama kita sebagai keluarga besar bangsa, sekaligus bagi orang beriman tentu bersyukur atas karunia Allah,” ujar dia.

Bagi Muhammadiyah dan warga bangsa, lanjut Haedar, terpilihnya 100 ilmuwan tersebut mengandung makna penghargaan sekaligus membuka ruang bagi kiprah dunia ilmu dan para ilmuwan Indonesia yang sangat penting dalam kehidupan bangsa-bangsa. Dia juga mengingatkan, ilmu dan teknologi plus moral merupakan pilar peradaban bangsa-bangsa.

“Muhammadiyah termasuk organisasi Islam yang menghargai ilmu dan para alim atau mereka yang berilmu, sebagai ciri dari pandangan Islam berkemajuan. Umat Islam bahkan harus terdepan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis imtak (iman dan takwa) dan akhlak mulia guna meraih peradaban berkemajuan,” jelasnya.

Sumber: republika.co.id

Waspada, Tingkat Keterisian RS Meningkat

JAKARTA(Jurnalisam.com) — Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, persentase keterisian tempat tidur di rumah sakit atau BOR untuk pasien Covid-19 menunjukkan tren kenaikan. Meskipun demikian, angkanya tercatat masih lebih rendah dibandingkan lonjakan kedua.

Saat ini, persentase keterisian tempat tidur nasional sebesar 32,85 persen. Sementara rekor tertinggi di masa lonjakan kedua yakni sebesar 77,32 persen.

“Persentase ketersediaan tempat tidur menunjukan tren kenaikan meskipun angkanya masih lebih rendah dibanding lonjakan kedua,” ujar Wiku saat konferensi pers perkembangan Covid-19, Selasa (15/2).

Wiku menjelaskan, kasus positif nasional pada gelombang ketiga kali ini melonjak tajam lebih cepat dibandingkan saat gelombang kedua. Bahkan, jumlah kenaikan mingguan pada minggu lalu hampir mencapai jumlah saat puncak kedua di masa varian Delta.

Pada minggu lalu, terdapat penambahan kasus positif sebesar 291 ribu. Sementara penambahan kasus tertinggi di puncak kedua adalah 350 ribu. Wiku mengatakan, peningkatan kasus positif ini juga berdampak pada tren kematian yang saat ini juga sudah mengalami peningkatan.

Kabar baiknya, peningkatan kasus kematian di masa lonjakan ketiga ini jauh lebih rendah dibandingkan saat lonjakan kedua. Pada minggu lalu, Satgas mencatat terdapat 505 orang meninggal. Sementara di masa lonjakan Delta ada lebih dari 12 ribu orang meninggal.

Untuk menghadapi kenaikan kasus, pemerintah telah menyiapkan ketersediaan tempat tidur untuk pasien Covid-19, termasuk dengan melakukan konversi tempat tidur di beberapa provinsi. Kendati demikian, Wiku mengingatkan kapasitas kesehatan tetap memiliki batasan meskipun saat ini masih banyak ketersediaan tempat tidur yang dapat dialokasikan untuk pasien Covid-19.

“Terlebih pula, saat ini sudah banyak tenaga kesehatan yang tertular dan sakit,” tambah Wiku.

 

Sumber: republika.co.id

Penolakan Warga Wadas Disebut Sudah Sejak Tahun 2018

YOGYAKARTA(Jurnalislam.com) — Persoalan penambangan batuan andesit di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah sudah bergulir sejak 2018. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta pun sudah melakukan advokasi untuk warga Wadas yang menolak penambangan batuan andesit sejak 2018.

Kepala Divisi Advokasi LBH Yogyakarta, Julian Duwi Prasetia pun menjelaskan terkait kasus yang sudah terjadi bertahun-tahun tersebut. Berawal dari 2018, pihaknya bersama warga sudah menyampaikan berbagai bentuk penolakan penambangan ke pemerintah.

Julian menuturkan, penolakan ini awalnya disampaikan dengan audiensi ke Kantor Gubernur Pemprov Jawa Tengah. Setelah itu, juga dilakukan audiensi ke Kantor Bupati Purworejo, BBWS, BPN hingga ke kepolisian.

“Sudah banyak kita menemui dan berdialog dengan banyak pihak, tapi selama ini suara masyarakat di Desa Wadas itu tidak pernah didengar,” kata Julian, Selasa (15/2/2022).

Setelah upaya-upaya tersebut dilakukan, dilakukan sosialisasi oleh BBWS terkait penambangan yang akan dilakukan. Namun, tidak lama setelah itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menerbitkan Izin Penetapan Lokasi (IPL).

“Sejak sosialisasi, warga itu sudah walk out karena sudah tahu tanahnya mau ditambang. Tapi pada Juni 2018, Ganjar malah mengeluarkan IPL, artinya suara penolakan warga dari awal itu tidak didengarkan,” ujarnya.

Penolakan penambangan batuan andesit dilakukan warga atas beberapa alasan. Salah satunya untuk menjaga keutuhan desa, mengingat banyaknya dampak yang akan ditimbulkan seperti kerusakan lingkungan.

Dari aspek kebencanaan, Julian menyebut, Wadas memiliki risiko kebencanaan yang tinggi. Dengan adanya penambangan, maka akan semakin meningkatkan risiko bencana yang terjadi di desa tersebut.

“Wadas itu masuk wilayah yan warna kuning atau memiliki risiko yang tinggi terhadap kebencanaan. Justru, harusnya diperkuat mitigasi kebencanaannya, bukan memperlemah, malah (penambangan) justru memperkuat potensi bencananya,” jelas Julian.

Penambangan batuan andesit di Desa Wadas sendiri dilakukan pemerintah untuk digunakan sebagai material konstruksi Proyek Bendungan Bener. Meskipun menolak penambangan, namun warga tidak menolak adanya pembangunan bendungan tersebut.

“Selama ini belum pernah (batuan andesit di Wadas) ditambang, makanya warga bersikukuh bagaimana caranya membuat (lingkungan) utuh,” tambahnya.

Sumber: republika.co.id

Ini Kunci Sukses Hadapi Gelombang Ketiga Covid

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Tidak memberi ruang penularan COVID-19 menjadi kunci pengendalian dalam menghadapi gelombang ketiga di Indonesia. Upaya ini harus dilakukan dikarenakan kasus positif nasional cukup tinggi yang disertai peningkatan angka kematian dan ketersian tempat tidur di rumah sakit (BOR).

Bahkan pada tingkatan provinsi, beberapa provinsi kasusnya sudah menembus rekor gelombang kedua. “Terlebih pula kita perlu waspadai, karena ditengah kondisi saat ini, mobilitas masih sangat tinggi, bahkan tertinggi sejak awal pandemi,” Juru Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito, Selasa (15/2/2022) yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Untuk mengetahui kondisi terkini, kasus positif nasional pada gelombang ketiga melonjak tajam dan lebih cepat dibanding gelombang kedua. Bahkan kenaikan mingguan sudah mendekati kenaikan pada puncak kedua akibat varian Delta. Perbandingannya, kasus positif minggu lalu sebesar 290.000 sementara kasus tertinggi di puncak kedua mencapai 350.000 kasus.

Dampak yang sangat ditakutkan, meningkatnya kasus positif gelombang ketiga ini berpengaruh pada tren kematian yang juga meningkat. Meskipun, peningkatannya jauh lebih rendah dibanding di masa lonjakan kedua. Kasus kematian minggu ini 505 orang meninggal, sementara dimasa lonjakan Delta melebihi 12.000 orang meninggal.

“Walaupun demikian nyawa tetaplah nyawa yang tidak tergantikan. Penambahan kasus positif penting terus ditekan utamanya demi menghindarkan kelompok rentan dari paparan virus yang saat ini banyak menyumbangkan angka kematian,” tegas Wiku.

Dampak lain yang ditimbulkan, meningkatnya tren persentase BOR. Meskipun, angkanya masih lebih rendah dibanding lonjakan kedua. Saat ini persentase nasional 32,85%. Sementara rekor tertinggi lonjakan kedua adalah 77, 32%. Untuk hal ini, Pemerintah menjamin ketersediaan tempat tidur termasuk upaya konversi bed yang telah dilakukan di beberapa provinsi. Namun, penting diingat bahwa kapasitas kesehatan memiliki batasan. Terlebih banyak tenaga kesehatan yang sudah tertular.

Karenanya, menekan penularan perlu diupayakan oleh pemerintah daerah di provinsi-provinsi Pulau Jawa – Bali sebagai penyumbang terbesar kasus nasional. Seperti di provinsi ibukota DKI Jakarta sendiri, menyumbang 28% dari kasus nasional. Bahkan angka ini lebih tinggi dibanding masa lonjakan kedua yaitu sebesar 24%. Provinsi lainnya yang juga harus diperhatikan, ialah Jawa Barat dan Banten. Karena jumlah kasus mingguan di minggu melebihi rekor masa lonjakan kedua.

Untuk itu, Pemerintah Daerah harus segera mengevaluasi kembali penerapan PPKM. Terlebih PPKM sudah berjalan sekitar seminggu dan kasus masih belum berhasil ditekan. Harus dipastikan bahwa setiap aturan dalam instruksi Menteri Dalam Negeri terlaksana dengan baik. Juga, dimohon mengaktifkan kembali pembentukan dan kinerja posko di daerahnya.

Terkait posko, data menunjukkan kinerja posko konsisten turun sangat rendah. Saat ini tercatat hanya dibawah 1 juta kegiatan. Padahal pada periode lonjakan kedua kinerja posko ada di kisaran 4 juta. Bahkan kinerja posko pernah mencapai titik tertinggi pada bulan September 2021 sebesar 5,5 juta kegiatan. Dari data saat ini dapat dikatakan pelaksanaan PPKM di tingkat mikro belum berjalan baik.

“Penting diingat peran posko dalam upaya PPKM merupakan Garda terdepan. Posko merupakan modal pengendalian kasus tidak hanya untuk saat ini namun juga di masa depan termasuk periode libur panjang yang akan datang,” tambah Wiku.

Dan hal terakhir yang menjadi perhatian, ditengah tingginya kasus nyatanya tren mobilitas meskipun fluktuatif justru mencapai level tertinggi. Bahkan tertinggi sejak awal pandemi. Terutama di pusat perbelanjaan, lokasi ritel, tempat  rekreasi dan taman. Tingkat mobilitasnya masih setara dengan periode Idul Fitri 2021 lalu yang terjadi tepat sebelum lonjakan kasus kedua.

Hal yang sama juga pada mobilitas di perkantoran dan lokasi transportasi publik lebih tinggi dibanding masa sebelum lonjakan kedua. Meskipun di minggu lalu trennya sedikit menurun, namun level mobilitas yang masih tinggi ini perlu dijadikan kewaspadaan. Terlebih pula, provinsi penyumbang kasus tertinggi di Jawa – Bali sebagian besar wilayah aglomerasi dengan mobilitas antar wilayah yang tinggi.

“Mobilitas yang tinggi ini tidak semata-mata perlu ditekan, namun perlu dikendalikan dan dipastikan bahwa mobilitas yang ada dilakukan dengan aman,” lanjutnya.

Memastikan mobilitas yang aman dapat dilakukan dengan tetap menerapkan disiplin protokol kesehatan 3M, melakukan skrining ketat baik dengan tes syarat perjalanan dan penggunaan PeduliLindungi, agar perpindahan orang positif yang dapat menulari banyak orang lainnya dapat dihindari. Sehingga dapat menjaga kasus dari daerah tinggi tidak keluar dan meluas, sama dengan menjaga wilayah lain yang kasusnya belum naik.

“Ingat yang terpenting adalah tidak memberi ruang untuk penularan terjadi,” pungkas Wiku.

Satgas: Gelombang Ketiga Covid Melonjak Lebih Cepat

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, tren kematian akibat Covid-19 mulai mengalami peningkatan. Namun, peningkatan itu masih lebih rendah dibandingkan ketika gelombang delta atau gelombang kedua pandemi Covid-19.

Wiku mengatakan, penambahan kasus positif nasional pada gelombang ketiga saat ini melonjak tajam lebih cepat dibandingkan gelombang kedua. “Peningkatan kasus positif ini juga berdampak pada tren kematian yang saat ini juga sudah mengalami peningkatan. Kabar baiknya peningkatan di masa lonjakan ketiga ini jauh lebih rendah dibanding di masa lonjakan kedua,” ujar dia dalam konferensi pers virtual diikuti dari Jakarta, Selasa (15/2/2022).

Koordinator Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19 itu menjelaskan, pada pekan lalu terdapat 505 orang meninggal dunia. Pada masa lonjakan akibat penularan varian Delta, terdapat lebih dari 12.000 orang meninggal dunia.

Jumlah kenaikan per pekan pada pekan lalu hampir mencapai jumlah saat puncak kedua pada masa penularan varian Delta. Dia mengatakan, dengan terjadi penambahan sekitar 291.000 kasus Covid-19 pada pekan lalu, saat terjadi kenaikan akibat Omicron, dibandingkan penambahan 350.000 kasus ketika puncak penularan akibat Delta terjadi tahun lalu.

Terjadi juga tren kenaikan keterisian tempat tidur rumah sakit meski masih lebih rendah jika dibandingkan puncak ketika gelombang kedua. Tingkat keterisian nasional saat ini 32,85 persen, dibandingkan 77,32 persen yang menjadi rekor tertinggi ketika penyebaran varian Delta mencapai puncaknya.

Meski memiliki jumlah kematian yang lebih rendah, Wiku tetap mengingatkan pentingnya tetap menekan penambahan kasus khususnya untuk menghindari kelompok rentan tertular Covid-19. “Mencegah agar tidak tertular adalah cara terbaik untuk menyelamatkan nyawa terutama orang di sekitar kita yang lanjut usia, penderita komorbid dan tidak atau belum dapat divaksin,” kata Wiku Adisasmito.

Sumber: republika.co.id