LSPBI MUI Luncurkan Buku Karya Pemenang Lomba Cerita Pendek Anak Islami

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Bertepatan pengunguman pemenang sayembara menulis skenario film pendek islami, Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSPBI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) meluncurkan buku kumpulan karya pemenang lomba cerita pendek anak Islami 2021.

Menurut Ketua LSBPI MUI, KH Habiburrahman El- Shirazy, buku tersebut ditulis oleh para pemenang dan peserta yang terpilih naskahnya oleh para juri.

“Hasil dari para pemenang dibuku kan menjadi dua buku yang bekerjasama dengan Penerbit Republika. Buku ini sangat menarik karena ceritanya sangat variatif, kemudian buku ini dihasilkan dari para penulis seluruh Indonesia dan sangat mendidik sesuai untuk bacaan anak-anak,” ujar dia di Aula Buya Hamka MUI, Jakarta, Senin (6/12/2022).

Kang Abik yang saat itu juga berperan sebagai Juri lomba, menyebut buku ini memiliki pesan moral seperti tentang kesabaran, pesan untuk mencintai keluarga dan banyak amanah-amanah yang beragam dan sangat cocok untuk dibaca anak – anak, terutama anak usia 7 – 12 tahun dan bahkan anak remaja pun cocok.

Dia menjelaskan peluncurran buku hasil pemenang cerita pendek ini dilakukan untuk menjawab permintaan dari guru-guru kepada LSPBI bahwa masih kekurangan cerita-cerita anak Islami sehingga perlu buku cerita anak Islami, karena itu LSPBI mengadakan lomba penulisan cerita pendek anak Islami.

Kang Abik juga menyampaikan tujuan lomba cerita pendek anak Islami pada 2022 di antaranya pertama, hasilnya bisa dibukukan dan menjadi sumbangsih untuk bacaan anak-anak.

Kedua, sekaligus untuk merangsang para penulis di seluruh Indonesia, yang mungkin mereka sebelumnya menulis untuk umum sehingga mereka juga berpikir bagaimana menulis untuk anak-anak.

Lebih lanjut dia mengatakan LSBPI mendapatkan amanah dari Munas pada 2020 untuk mendidik generasi muda agar menghasilkan karya-karya Islami.

“Salah satu amanahnya adalah dengan menggelar sayembara menulis skenario film pendek Islami,” kata dia.

Peluncuran buku dilakukan secara simbolis oleh Ketua LSPBI Kang Abik kepada beberapa tokoh besar yang hadir dalam acara tersebut.(mui)

 

Banyak Daerah Butuh Lembaga Pendamping Halal

RIAU(Jurnalislam.com)— Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Riau Asmuni mengatakan bahwa daerahnya masih membutuhkan lembaga pendamping proses produk halal.

Hal ini disampaikan Asmuni saat menerima kunjungan Tim Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kemenag RI dalam rangka Implementasi Aplikasi Sihalal pada Satgas Layanan Halal Daerah, Senin (5/12/2022), di ruang Kabag TU Kanwil Kemenag Riau.

Tim ini terdiri dari Perencana Ahli Madya U. Ulumuddin, Pranata Komputer Ahli Pertama Nur Fitriany Dewi, dan Staf Biro Humas, Data, dan Informasi Setjen Kemenag, M Arif Efendi.

“Kita butuh lembaga pendamping proses produk halal. Saat ini baru ada dua lembaga pendamping. Selayaknya minimal 1 Kabupaten 1 lembaga pendamping, terlebih di Riau ini,” kata Asmuni didampingi Subkor Perencanaan Data dan Informasi, Amri Fitri dan Tim JPH Riau, Khairunnas.

“Saya yakin, jika sudah ada lembaga pendamping di setiap Kabupaten/Kota, akan lebih membantu merealisasikan aplikasi Sihalal,” sambung Asmuni yang juga Ketua Satgas Layanan Jaminan Produk Halal Riau.

Asmuni mengakui keberadaan aplikasi Sihalal menjadi sarana yang mempermudah masyarakat untuk mendapatkan layanan sertifikasi halal. Namun, masyarakat di daerah masih banyak yang belum tahu terkait aplikasi Sihalal. Untuk itu, diperlukan pengenalan aplikasi Sihalal yang lebih masif.

Selain itu, lanjut Asmuni, diperlukan juga penguatan Satgas dan pendamping aplikasi Sihalal. “Kita harus terus mensosialisasikan aplikasi Sihalal di Kabupaten/Kota. Dan yang penting, jangan lambat berinovasi,” tandas Asmuni.

Perencana Ahli Madya, BPJPH, U. Ulumuddin menyampaikan terima kasih atas sambutan Ketua Satgas Layanan JPH Riau dan jajaran ASN Kanwil Kemenag di Pekanbaru.

“Kita terus akan lakukan inovasi-inovasi, terlebih program terkait aplikasi Sihalal ini,” kata Ulumuddin.

Komisi VIII DPR Apresiasi Sertifikasi Halal BPJPH

KALSEL(Jurnalislam.com) — Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama terus melakukan sosialisasi dan edukasi sertifikasi halal bagi pelaku usaha khususnya usaha mikro dan kecil (UMK) sebagai bagian dari strategi percepatan sertifikasi halal. Upaya tersebut mendapatkan apresiasi Anggota Komisi VIII DPR RI.

“Ini (Workshop Sihalal) adalah kegiatan yang sangat baik, sehingga perlu didukung bersama. Sebab pelabelan sertifikasi halal itu penting,” ungkap Anggota Komisi VIII DPR RI Syaifullah Tamliha dalam kegiatan “Workshop Sihalal bagi Pelaku Usaha, Auditor Halal, Penyelia Halal dan Masyarakat” yang dilaksanakan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Sabtu (3/12/22).

Workshop Sihalal di Kabupaten HST ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan Workshop Sihalal yang dilaksanakan BPJPH di berbagai daerah pada tahun 2022 ini. Hadir dalam kegiatan Ketua Satgas Halal Provinsi Kalsel Matnoor, Kabid Urais Kanwil Kemenag Kalsel Bukhori Muslim, Kepala Kantor Kemenag Hulu Sungai Tengah Muhammad Rofi’i, Subkoordinator Sistem Informasi dan Humas BPJPH Nurhanudin, serta Sekretaris Satgas Halal Kalsel Mubarrok.

Lebih lanjut, Syaifullah mengharapkan agar BPJPH terus melanjutkan programnya dalam mengedukasi masyarakat dan pelaku usaha untuk menyambut kewajiban sertifikasi halal. Selain sebagai pelaksanaan amanat Undang-undang, sosialisasi dan edukasi sertifikasi halal merupakan kebutuhan riil bagi pelaku usaha dan masyarakat.

“Saya berharap kegiatan ini terus menerus dibuat. Sehingga kesadaran masyarakat untuk (melaksanakan) sertifikasi halal semakin tinggi. Dan masyarakat juga memastikan yang dimakan itu halal,” ungkap Syaifullah.

 

Sertifikasi halal, lanjutnya, juga dipastikan  memberikan nilai tambah produk dengan meningkatkan kualitas dan daya saing produk dalam aktivitas perdagangan. Dengan begitu, percepatan sertifikasi halal juga memberikan implikasi positif untuk memperkuat upaya pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19.

“Relevansi sertifikasi halal ini penting sebagai penguatan bagi produk kita, sejalan dengan semangat Indonesia untuk pemulihan ekonomi pasca pandemi,” imbuhnya.

Karena itu, ia mengatakan bahwa program percepatan sertifikasi halal yang dijalankan oleh BPJPH hendaknya didukung dan disambut baik oleh semua pihak. Termasuk para pelaku usaha agar segera mengajukan sertifikasi halal ke BPJPH.

“Pelabelan sertifikat halal itu berkah bagi para penjualnya, ataupun siapapun yang memakannya,” imbuh Syaifullah.

“Jadi silahkan Bapak Ibu segera mendaftar (mengajukan sertifikasi halal) agar produknya berlabel halal,” pungkasnya.

 

 

Menag Apresiasi Peran Nasyiatul Aisyiyah Muhammadiyah

BANDUNG(Jurnalislam.com)— Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengapresiasi keluarga besar Muhammadiyah, khususnya Nasyiatul Aisyiyah, atas dedikasinya kepada negara terutama dalam menjaga keutuhan bangsa melalui pendidikan, perbaikan akhlak dan penanaman nilai-nilai keagamaan. Hal ini sebagaimana yang diwariskan oleh penggagas ide Nasyiatul Aisyiyah, Somodirdjo.

Apresiasi ini disampaikan Menag saat mewakili Presiden Joko Widodo pada pembukaan Muktamar Nasyiatul Aisyiyah ke XIV yang digelar 2-4 Desember di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.

Muktamar XIV Nasyiatul Aisyiyah mengusung tema Memajukan Perempuan Menguatkan Peradaban.

“Sejatinya, ketiga elemen tersebut tidak hanya menjadi dasar untuk menjaga keutuhan bangsa, tetapi juga dapat dijadikan dasar penguatan peradaban. Adapun pemrakarsanya, tidak hanya terbatas pada urusan gender,” kata Menag Yaqut, Sabtu (3/12/2022).

“Dengan kata lain, tidak hanya kaum laki-laki yang berkewajiban dan mampu merealisasikannya, kaum perempuan juga mampu berperan sesuai dengan kapasitasnya. Dengan tegas saya katakan, dikotomi seperti ini sudah tidak memiliki tempat di Indonesia,” sambung Gus Men panggilan akrabnya.

Tampak hadir dalam pembukaan Muktamar XIV Nasyiatul Aisiyah, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah beserta jajaran, Forkopimda, Dirjen PHU, Kakanwil Kemenag Jabar dan Stafsus Menteri Agama.

Menurut Menag Muktamar XIV Nasyiatul Aisyiyah dengan tema “Memajukan Perempuan Menguatkan Peradaban” masih sangat sejalan dengan spirit yang digagas oleh pendahulu Nasyiatul Aisyiyah.

Menag mengapreaisi peran Nasyiatul Aisyiyah dalam memajukan perempuan Indonesia. Perempuan, lanjut Menag, harus berjalan beriringan dengan perkembangan zaman, tidak berhenti dan merasa cukup dengan tugas-tugas yang diidentikkan dengan perempuan, sehingga output yang dihasilkan adalah penguatan peradaban.

“Berbicara tentang perempuan dan peradaban yang menjadi kata kunci dari muktamar ini, sama halnya berbicara tentang muatan negara,” ujar Menag.

“Perempuan dan peradaban tidak dapat dipisahkan dari negara. Dengan kata lain, tidak ada negara tanpa peradaban, dan tidak ada peradaban tanpa adanya perempuan. Oleh karena itu, memajukan perempuan dari segala aspek sama halnya dengan menguatkan peradaban dalam wilayah tersebut, ” tandasnya. .

Menag pun menambahkan pada dasarnya, menguatkan atau bahkan memajukan peradaban sebuah bangsa merupakan tanggung jawab sosial dari seluruh elemen, tanpa mengenal apakah dia seorang perempuan atau pun laki-laki.

Akan tetapi, untuk menguatkan peradaban diperlukan banyak aspek yang harus disentuh, mulai dari pendidikan, sosial, budaya, pemikiran dan agama. Tujuannya tidak lain untuk melahirkan insan-insan yang beradab.

Mungkin sebagian orang berpendapat bahwa membangun bangsa melalui penguatan peradaban adalah tugas elit politik dan elit intelektual.

Padahal, sebagaimana disebutkan di muka bahwa permasalahan tersebut adalah tugas kita bersama, laki-laki ataupun perempuan.

“Saya yakin, dengan dinamika dan ketajaman dalam membaca permasalahan-permasalahan yang sedang melanda negeri ini, Nasyiatul Aisyiyah mampu merumuskan konsep yang tepat untuk memajukan perempuan dan menguatkan peradaban. Kuncinya, jangan sampai mengacuhkan spirit yang diwariskan, yaitu pendidikan, perbaikan akhlak dan penanaman nilai-nilai keagamaan, ” tandas Menag.

Pembukaan Muktamar XIV Nasyiatul Aisyiyah ditutup dengan ceramah umum yang disampaikan Menteri BUMN Erick Thohir dengan tema Kebangkitan dari Masa Pandemi dan Upaya Transformasi Kesejahteraan Perempuan dilanjutkan penyampaian ceramah umum oleh Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan dengan materi Peran Strategis Perempuan dalam Perdagangan Global.

 

MUI: Ketentuan Halal Dilakukan Ahli Agama

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, KH Asrorun Niam Sholeh menyatakan bahwa ketentuan halal dilakukan oleh para ahli agama.

Kiai Niam menjelaskan, hal itu dilakukan karena ketentuan halal merupakan urusan keagamaan.

Oleh kerena itu, jelasnya, penentuan kehalalan produk dilakukan oleh ahli agama dengan pendekatan keagamaan.

“Negara hadir untuk mengadministrasikan urusan keagamaan ini agar ada tertib hukum dan jaminan keberlakukan halal ini dalam ruang publik,” ujarnya saat sambutan pembukaan Rapat Kordinasi Nasional Komisi Fatwa se-Indonesia di Hotel Double Tree, Jakarta Pusat, Senin (5/12/2022).

Kegiatan yang berlangsung pada 5-7 Desember 2022 ini bertajuk: Fatwa Halal sebagai jaminan dan tannggung jawab keagamaan.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Nahdlah, Depok, Jawa Barat ini menyampaikan bahwa Rakornas ini juga menjadi ajang konsolidasi untuk penguatan internal Komisi Fatwa MUI.

Sebab, dikatakan Pria yang juga Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora ini, Komisi Fatwa MUI selalu menjadi palang pintu terakhir dalam sertifikasi halal di Indonesia.

Dia menilai, konsolidasi ini sangat diperlukan untuk melakukan evaluasi dan menjaga kualitas serta persiapan menghadapi tantangan ke depan.

Dalam acara ini, juga dilakukan penyerahan ketetapan halal atas produk pangan dari pelaku usaha yang pembiayaanya difasilitasi oleh Bank Indonesia (BI).

Kiai Niam berpendapat, urusan halal harus menjadi perhatian bagi seluruh pihak dalam rangka penjaminan halal bagi umat Islam.

“Dan BI telah secara nyata memberikan pendukungan biaya bagi UMKM yang mengajukan sertifikasi halal,” pungkasnya.

 

 

SD Al Amin Cemani Sukaharjo Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Cianjur

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)- Sekolah Dasar (SD) Al Amin Cemani, Grogol, Sukoharjo salurkan bantuan senilai 9.100.000 untuk korban bencana Gempa Bumi Cianjur.

Bantuan tersebut, langsung diserahkan kepada ketua umum Ikatan Alumni Ponpes Islam Al Mukmin (IKAPPIM) Ngruki, Sukoharjo Ustadz Anas Kamaluddin di Gedung Dakwah IKAPPIM Center pada Jum’at, (2/12/2022).

Rencananya, hari ini IKAPPIM akan berangkat ke Cianjur, Jawa Barat untuk memberikan bantuan kepada korban bencana gempa bumi.

Menurut salah satu guru SD Al Amin, Cemani Dina Nurhayati, bantuan tersebut sebagai bentuk kepedulian untuk korban bencana Gempa Cianjur, Jawa Barat.

“Ini sebagai bentuk kepedulian kita terhadap saudara kita yang saat ini sedang mengalami musibah, apalagi sebagai sesama muslim kita harus saling tolong menolong,” katanya.

Lebih lanjut, Dina mengatakan, bantuan tersebut merupakan donasi dari guru dan murid SD Al Amin, Cemani, Sukoharjo.

“Alhamdulillah, murid-murid kita bisa saling berbagi dan peduli terhadap saudaranya yang sedang kesulitan,” ungkapnya.

“Hal ini juga untuk melatih kepedulian sosial untuk murid-murid kami, semoga apa yang diberikan ini bisa sedikit membantu korban bencana Gempa Bumi di Cianjur, Jawa Barat,” pungkasnya.

Kiprah dan Pesan Aah Acep, Pemuda Alim Kampung Pasir Angin yang Wafat Tertimpa Reruntuhan

CIANJUR (Jurnalislam.com) – Warga kampung Pasir Angin Desa Gasol Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur nampak belum mampu menyudahi kesedihannya setelah kehilangan sosok Aah Acep Tutun (40) yang wafat dalam musibah gempa bumi M 5,6 ada Senin (21/11/2022).

Ayah 2 anak itu adalah satu-satunya warga Kampung Pasir Angin yang menjadi korban meninggal dunia. Saat itu, ia tak sempat menyelamatkan karena sedang tidur siang di rumahnya.

Tak ada yang menyangka, hari itu adalah hari terakhir warga Kampung Pasir Angin melihat Aah Acep. Aah adalah panggilan hormat kepada seseorang pemuda alim yang sudah dianggap guru atau dituakan.

Muhammad Acep Tutun adalah warga asli Kampung Pasir Angin. Anak dari tokoh yang sangat dihormati oleh warga kampung, bernama Apih Ejem, begitu warga setempat memanggilnya. Apih adalah panggilan hormat kepada seorang alim yang sudah berumur.

Tiga tahun lalu Apih Ejem meninggal dunia, kampung Pasir Angin nyaris tak punya sesepuh. Sebelum akhirnya Aah Acep diminta pulang oleh pondoknya untuk melanjutkan sang ayah satu tahun setelah ayahnya wafat.

Acep dimasukan ke pesantren sejak lulus Sekolah Dasar (SD). Ia tak mengenyam pendidikan formal lainnya setelah itu. Acep mondok di Ponpes Darul Arma’i Cikadu Desa Gasol yang berada tak jauh dari kampungnya. Sejak saat itu Acep tak berhenti menimba ilmu agama dari pondok ke pondok.

“Ke Sempur, Gentur, udah kemana-kamana. Aah juga pernah mondok di Madiun selama 2 tahun,” kata Imam, warga Pasir Angin yang juga murid Acep Tutun.

“Kata Bapak Aki (Pimpinan Ponpes Darul Arma’i, almarhum) Aah Acep mondok selama 25 tahun,” sambung Imam.

Setelah menikah, Acep kemudian menetap di Kampung Pasir Angin. Rumahnya berdampingan dengan masjid tua beralas papan peninggalan Sang Ayah. Rumah sederhana Acep dihimpit oleh rumah-rumah permanen yang menjulang melebihi atap rumahnya.

Ia dikarunia 1 anak laki-laki dan 1 perempuan yang masih kecil-kecil. Anak pertama laki-laki umur 5 tahun, anak kedua baru 8 bulan. Bersama istrinya, Acep tinggal di rumah sederhana berukuran 8 x 6 meter.

Sehari-hari Acep menghabiskan sebagian besar waktunya dengan aktifitas positif. Mengkaji kitab, mengajar ngaji anak-anak, hingga pengajian rutin warga setiap hari Selasa dan Sabtu. Setiap hari sebelum adzan, Acep sudah berada di Masjid Jami Arrahman.

“Selepas shalat subuh jamah, beliau selalu melanjutkan tawasulan di rumahnya. Setelah itu, beliau ke sawah dan sebelum dzuhur beliau sudah di rumah lagi untuk persiapan shalat,” kata tetangga dekatnya, Bapak Dadang (65).

“Malam harinya Acep mengajar ngaji anak-anak sampai Isya,” sambung Dadang.

Selain mengajar ngaji, setiap hari Acep juga mengurus sawah dan tambak lumut.Sawah yang digarap Acep adalah sawah peninggalan Sang Ayah untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarganya. Sebagian sawahnya ia buatkan tambak lumut yang biasa dijual ke toko pancing.

Meninggal Tertimpa Reruntuhan

Senin itu (21/11/2022), Acep menjalani harinya seperti biasa. Selepas Dzuhur, Acep beristirahat di kamarnya. Ia tak sempat  melepas peci dan sarungnya. Beralaskan karpet, berbantal lengan, Acep pun terlelap.

Pukul 13.20 WIB tetiba bumi bergoncang keras sekali. Seketika rumah-rumah hancur berantakan.

“Tehel teh siga anu diangkat kitu, terus dibabetkeun deui (Lantai itu seperti diangkat lalu dijatuhkan lagi dengan keras), dugg…gitu,” ujar Muhaimain (52) salah seorang warga Pasir Angin yang rumahnya tak jauh dari rumah Acep.

Gempa berkekuatan 5,6 magnitudo yang berlangsung selama beberapa detik itu mengguncang Kabupaten Cianjur dan dirasakan hingga beberapa kota lainnya di Jawa Barat. Cianjur luluh lantak khususnya di Kecamatan Cugenang dan Warungkondang.

Ribuan rumah hancur, termasuk 110 rumah di Kampung Pasir Angin Desa  Gasol Kecamatan Cugenang. Rumah sederhana Acep menjadi salah satu rumah yang hancur karena tertimpa reruntuhan dua bangunan rumah tetangganya. Dinding itu tepat jatuh di kamar tempat Acep tertidur. Nahasnya, Acep tak sempat menyelamatkan diri. Ia pun meninggal di tempat dengan luka berat di bagian kepala.

Reruntuhan Rumah Aah Acep

“Pas ningali oge abi mah tos nyangka Jang Acep tos teu aya, karena mastakana katinggang ku dua tembok (Pas pertama lihat itu saya sudah kira Aah sudah meninggal karena melihat kepalanya tertimpa dua tembok dinding),” kata Dadang (65), tetangga Acep yang rumahnya berdampingan.

Istri Acep bersama anak sulungnya yang sudah berada di luar rumah sempat berteriak meminta tolong sampai akhirnya tetangga datang. Proses evakuasi jenazah Acep berlangsung selama 1 jam lebih karena sulitnya akses menuju rumah yang terhalang reruntuhan. Belum lagi untuk mengangkat dua dinding besar yang menimpa kamar Acep.

“Teu aya jalan a soalna gang ka bumi Jang Acep kahalangan ku urugan bangunan sejen (Tidak ada jalan, karena gang menuju rumah Acep  terhalang reruntuhan,” ujar Dadang.

Peci Acep yang tertinggal di reruntuhan rumahnya

Meskipun sudah tertimbun pasir dan debu, anak kedua Acep ditemukan selamat di samping posisi Acep terbaring.

“Ari panyateh boneka, ku abi teh didudut we da posisina ieu di caket mayit (Saya kira boneka, terus saya tarik saja karena posisinya ada di samping Acep),” kata Dadang.

Dadang menunjukkan posisi jenazah Acep

“Alhamdulillah eta budak salamet, awakna tos bodas pinuh ku keusik(Alhamdulillah anaknya selamat meskipun badannya sudah memutih karena tertimbun debu dan pasir),” ujar Muhaimin  yang juga ikut membantu proses evakuasi.

Jenazah Acep akhirnya digotong warga ke lapangan untuk dibersihkan. Tangis warga pecah mengetahui kabar sang sesepuh telah tiada.

 
Dadang menunjukkan posisi jenazah Acep

 

“Nanggis kang sadaya oge, anjeuna memang ngora keneh tebih pisan sareng abimah, tapi tos dijantenkeun sesepuh ku warga (Semuanya nangis, beliau memang masih muda, jauh sekali usianya dengan saya tapi sudah diangkat sesepuh oleh warga),” kata Dadang.

Warga kemudian menghubungi keluarga Acep untuk memberitahu kabar duka tersebut. Setelah dipulasara, menjelang maghrib Acep dimakamkan disamping makam ayahnya di belakang Masjid Arrahman.

“Sadaya warga jajap ka makam, teu aya anu t nangis, kaleungitan pisan (Semua warga mengatarke pemakaman, tidak ada yang tidak menangis, semua merasa kehilangan),” tutur Tini (68) paman Acep.

makam Aah Acep

Purna sudah tugas Acep mendampingi masyarakat Kampung Pasir Angin. Meskipun masih terbilang muda, namun Acep diakui warga adalah sosok yang baik.

“Bingung ayeunamah a, teu aya dei jalmi anu tiasa sapertos anjeuna. Nyaah ka warga, tara seueur gurah geureuh angin ku conto anu sae (Sekarang kami bingung, tidak ada lagi orang seperti Acep yang sayang kepada warga, tidak pernah melarang, hanya memberi contoh yang baik),” kata Dadang yang diiyakan oleh warga lainnya.

Meski sudah tiada, Aah Acep akan selalu menjadi motivasi bagi warga Pasir Angin untuk terus menjadi manusi yang lebih baik di hadapan Allah SWT. Atas jasanya berdakwah dengan ramah, bergaul dengan akhlakul karimah.

“Terakhir pendak sareng abi teh dua hari sebelum kajantenan, anjeuna nyarios kie ka abi (Terakhir bertemu dengan saya itu dua hari sebelum kejadian, dia berkata begini), “Ayeunamah gedekeun we shalawat” (Sekarang itu harus memperbanyak shalawat),” ujar Imam mengenang pesan terakhir Acep.

 

Pesan yang Sama Kepada Beberapa Warga Beberapa Hari Sebelum Wafat

Jurnis mencoba mewawancarai sejumlah warga untuk menanyakan perihal pesan-pesan terakhir Acep kepada warga Kampung Pasir Angin. Kagetnya, kami menemukan jawaban yang sama dari beberapa orang. Acep berpesan kepada warga untuk bertaubat dan bersiap-siap karena akan terjadi kekacauan.

Pesan pertama diterima oleh Muhaimin. Muhaimin mengaku sangat dekat dengan Acep. Acep sering mampir ke rumah Muhaimin yang berdampingan dengan rumahnya untuk sekedar ngopi dan berbincang ringan.

“Harita teh poe naon atuh nya da acan lami, anjeuna teh nganjang ka bumi, da caket pisan sareng abdi  mah. Terus nyarios anjeuna teh, “Duh Mang euy, asa piriweuheun alam dunya teh (Saat itu, harinya saya lupa tapi belum lama, beliau mampir ke rumah, terus beliau berkata “Duh Mang, seperti akan ada kekecauan di  dunia),” kata Dadang mengenang pesan terakhir Acep.

Pesan senada juga disampaikan Acep dalam acara pengajian Ibu-ibu di kampung sebelah. Acep berpesan kepada jamaah untuk bertaubat kepada Allah karena sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Geura tarobat ayeunamah, ieu teh waktu teh ges deukeut ngan duka iraha-irahana mah, ngan ceuk katerangan mah kitu (Segerlah bertaubat, karena sesuatu yang buruk akan terjadi dalam waktu dekat, tapi tidak tahu kapan),” ungkap Tini menceritakan kembali pesan Acep dalam pengajian yang dihadiri istri Tini.

Tidak ada satupun yang menyangka itu akan menjadi pesan terakhir Acep dan menjadi kenyataan.

Penulis: Ally M Abduh

Mudzakarah Perhajian Indonesia Rekomendasikan Penyesuaian Biaya Perjalanan Haji

SITUBONDO(Jurnalislam.com) — Mudzakarah Perhajian Indonesia tahun 2022 merekomendasikan adanya penyesuaian Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih). Penyesuaian diperlukan seiring terus membesarnya penggunaan nilai manfaat dana operasional haji.

Demikian salah satu diktum rekomendasi yang dibacakan oleh Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Situbondo KHR Ahmad Azaim Ibrahimy pada penutupan mudzakarah.

“Mengingat besarnya penggunaan nilai manfaat dana haji pada operasional haji tahun 1443 H/2022 M, untuk keberlangsungan penyelenggaraan ibadah haji ke depan dan pemenuhan syarat istitha’ah, maka perlu penyesuaian biaya perjalanan ibadah haji (Bipih),” ujar KH R Ahmad Azaim membacakan butir rekomendasi di Situbondo, Selasa (29/11/2022).

Selain itu, mudzakarah juga merekomendasikan larangan penggunaan dana talangan. “Tidak mentolerir penggunaan dana talangan dan segala bentuk pembiayaan haji yang bertentangan dengan pemenuhan kaidah istitha’ah dan menjadikan daftar antren haji semakin panjang,” sebut KH R Azami Ibrahimy.

Forum yang dihadiri para ulama, akademisi, pimpinan ormas Islam, serta para Kepala Kanwil Kemenag Provinsi dan Kabid Penyelenggara Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Provinsi ini meminta pemerintah untuk menyosialisasikan kebijakan penyelenggaraan haji dengan melibatkan stakeholder terkait.

Rekomendasi ini ditandatangani secara simbolis oleh tujuh perwakilan peserta. Mereka yang bertanda tangan adalah Dr KH Miftah Faqih (PBNU), Dr KH Faisol Masar (Al Irsyad), Dr KH Aay Muhammad Furqon (Persis), Dr H Masmin Afif (Kakanwil Kemenag DIY), Drs H A Rijal, MPd (Kabid PHU Kanwil Aceh), Dr H Muallif M.Pd (Kepala UPT Asrama Haji Embarkasi NTB), dan KH Agus Salim (Forum Komunikasi KBIHU). Usai penutupan, Rekomendasi ini juga ditandatangani oleh seluruh peserta mudzakarah.

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Hilman Latief menyambut baik rekomendasi Mudzakarah Perhajian Indonesia 2022 yang mengangkat tema “Bipih dan Keberlanjutan Penyelenggaraan Ibadah Haji” ini. Hilman berkomitmen untuk mengimplementasikan diktum yang telah direkomendasikan.

“Kami di Kemenag akan semakin percaya diri untuk memperjuangkan rumusan yang telah direkomendasikan agar bisa diimplementasikan dalam bentuk kebijakan yang lebih operasional,” tegasnya.

Berikut Rekomendasi Mudzakarah Perhajian Indonesia 1444 H/2022 M

Untuk dapat terselenggaranya pelaksanaan ibadah haji yang lebih baik dan berkualitas, kami seluruh peserta mudzakarah perhajian Indonesia 1444 H/2022 M merekomendasikan:

  1. Pemerintah melakukan persiapan haji 1444 H/2023 M lebih dini, baik dalam penyiapan layanan maupun pembinaan manasik kepada jamaah haji;
  2. Meningkatkan layanan kepada jamaah haji dengan inovasi program dan perbaikan kualitas pelayanan, baik pelayanan umum, bimbingan ibadah maupun kesehatan;
  3. Pemerintah melakukan perbaikan kualitas kecakapan petugas haji secara menyeluruh melalui proses seleksi berbasis kompetensi;
  4. Mendorong pemerintah untuk mengupayakan dikembalikannya kuota normal pada penyelenggaraan haji tahun 1444 H/2023 M dalam rangka mengurangi panjangnya antrean haji (waiting list);
  5. Untuk melindungi dan menjamin pelaksanaan pembayaran DAM sesuai ketentuan fikih, maka pemerintah perlu mengatur pembayaran tersebut melalui lembaga yang ditunjuk;
  6. Memberikan perhatian khusus kepada jamaah haji lansia untuk mendapatkan prioritas keberangkatan dalam rangka mengurangi risiko penarikan setoran awal BIPIH;
  7. Tidak mentolerir penggunaan dana talangan dan segala bentuk pembiayaan haji yang bertentangan dengan pemenuhan kaidah istitha’ah dan menjadikan daftar antren haji semakin panjang;
  8. Mengingat besarnya penggunaan nilai manfaat dana haji pada operasional haji tahun 1443 H/2022 M, untuk keberlangsungan penyelenggaraan ibadah haji ke depan dan pemenuhan syarat istitha’ah maka perlu penyesuaian biaya perjalanan ibadah haji (Bipih);
  9. Dalam rangka penyampaian informasi yang benar dan komprehensif terkait penyelenggaraan ibadah haji dan umrah kepada masyarakat, maka pemerintah perlu melakukan sosialisasi secara masif dengan melibatkan stakeholder terkait.

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Sumberejo Banyuputih Situbondo Jawa Timur

Selasa, 29 November 2022

 

 

 

Densus 88 Tangkap M Tanpa Proses Jelas, TASNIM Sukoharjo Dampingi Keluarga Cari Keadilan

SUKOHARJO(Jurnalislam.com)– Tim Advokasi Nahi Mungkar (TASNIM) Muhammad Aminudin, SH mendapingi keluarga untuk meminta kejelasan terkait proses penangkapan seorang tokoh agama yang dikenal baik di di komunitas masjid di Parangjoro Grogol Sukoharjo.

 

Menurut Muhammad Aminudin, terkait penangkapan M oleh Densus 88, pihak keluarga merasa belum menerima surat penangkapan dan surat penyitaan dari Densus 88. Terlebih lagi keluarga belum mengetahui tentang proses hukum yang sedang terjadi pada M.

 

Karenanya, TASNIM mendesak Densus 88 untuk menyerahkan surat penangkapan dan penyitaan barang kepada keluarga serta menjelaskan kepada masyarakat terkait proses hukum yang sedang menimpa M warga Parangjoro Grogol Sukoharjo

 

“Meminta kepada Komnas HAM dan Kadiv Propam Mabes Polri untuk mengawal proses penyelidikan atau penyidikan yang dilakukan Densus 88 untuk menghindari pelanggaran HAM maupun pelanggaran hukum lainnya,” tambah Muhammad Aminudin dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com, (Jumat, 2/12/2022).

 

Ia juga meminta kepada Densus 88 untuk memberikan kebebasan memilih penasihat hukum dalam perkara terorisme.

MUI Ajak Umat Islam Rawat Bangsa dan Negara Indonesia

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Wakil Ketua Umum MUI, KH Marsudi Syuhud, mengajak segenap elemen masyarakat terutama umat Muslim untuk Kita harus merawat negara dan bangsa ini.

“Kita harus merawat negara dan bangsa ini. Apa yang kurang baik perlu diperbaiki dan yang sudah baik perlu ditingkatkan lagi,” kata dia saat menyampaikan pidato kunci dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) ke-IV Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman Majelis Ulama Indonesia (LPBKI-MUI) di Jakarta, Rabu (30/11/2022).

Kiai Marsudi menyebutkan banyak negara Islam yang mengalami perang. Indonesia bisa menjadi contoh perdamaian. Banyak negara yang iri dengan Indonesia.

“Indonesia punya budaya kumpul-kumpul dan itu tidak dimiliki mereka. Mereka ingin belajar kepada Indonesia,” kata dia.

Dia mengakui, meski suasana mulai memanas jelang Pemilu 2024, namun kita punya bekal yang baik sehingga kita bisa melewatinya dengan baik. Dia pun mengajak agar umat Muslim berada di posisi tengah.

Menurut dia, Allah SWT menciptakan Muslim sebagai umat yang wasatha (tengah, adil, seimbang). Umat wasatha mencakup semua nilai kehidupan, termasuk politik kebangsaan.
Ulama-ulama dulu sebelum kemerdekaan berdiskusi tentang bentuk negeri ini. Mereka sepakat, urusan negara dan kepemimpinan dilakukan dengan cara musyawarah dan ridha.

“Ada satu pertanyaan yang harus dijawab, yaitu ‘Apakah saya berbangsa dan bernegara di NKRI yang menjadikan UUD 1945 dan Pancasila sudah sesuai dengan ajaran agama saya?’ Pertanyaan itu akan muncul terus di generasi kita dan selanjutnya,” ujar Kiai Marsudi.

Dia menyatakan, ada banyak konsep dan model berbangsa dan bernegara. Ada yang ekstrem kanan (sosialis) dan ada ekstrem kiri (kapitalis).

Sementara, kata Kiai Marsudi, ulama dan para pendiri bangsa zaman dulu telah memilih titik tengah. Mereka menyatukan nilai-nilai yang tetap dan yang berubah dengan al-tathawwur (perkembangan) sehingga menjadi sebuah negara bangsa.

Menurut dia, para ulama dan para pendiri bangsa sepakat negara Indonesia berdasarkan syura dan ridha. Maka dibentuklah DPR, MPR, DPD, dan lainnya.

Ketua LPBKI-MUI, Endang Soetari, mengatakan Silatnas yang mengangkat tema “Sinergi Pengembangan Literasi Islam Wasathiyah” in menjadi forum diskusi antara LPBKI dan pemangku kepentingan.

“Kita menjalin MoU dengan kampus, pegiat Islamic fashion (IRD dan UIK). Islamic fashion menjadi bagian penting dalam pengembangan Islam wasathiyah,” kata dia di arena Silatnas Hotel Redtop Jakarta, Rabu (30/11/2022).

Dia menjelaskan di antara tugas LPBKI-MUI adalah pentashihah dan penerbitan buku dan konten keislaman, serta perwakafan Alquran dan buku-buku.

Di samping itu, kata dia, pihaknya juga melakukan pengelolaan perpustakaan, sosialisasi, pelatihan, dan bimbingan. Selain itu, LPBKI juga melakukan tashih alat peraga pendidikan dan fashion Islam.

Endang menambahkan, LPBKI-MUI telah melakukan sejumlah kegiatan literasi antara lain diskusi dengan KH Said Aqil Husain Al-Munawwar, workshop literasi Islam di Pesantren Al-Wathoniyah Jakarta, dan lainnya. “Berbagai kegiatan ini akan kita galakkan dan kita akan merancang program-program ke depannya,” ujar dia.