AS Tidak akan Rilis Teks Kesepakatan Gencatan Senjata Suriah dengan Rusia

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – AS tidak akan merilis teks lengkap kesepakatan baru dengan Rusia mengenai gencatan senjata di Suriah, Departemen Luar Negeri, Kamis, lansir World Bulletin Jumat (16/09/2016).

“Kesepakatan baru berhasil dicapai setelah pengaturan bilateral AS-Russia,” menurut juru bicara Mark Toner. “Kesepakatn itu menangani isu-isu sensitif yang kami percaya, jika dipublikasikan, bisa berpotensi disalahgunakan untuk disalahartikan atau digunakan oleh… pihak yang saya tahu pernah dibicarakan oleh Sekretaris John Kerry.”

Toner menambahkan bahwa mempublikasikan teks juga dapat menempatkan kelompok oposisi beresiko, menyiratkan bahwa mungkin nama dan lokasi mereka ditentukan dalam teks.

Yang diketahui tentang kesepakatan itu adalah bahwa kelompok-kelompok oposisi Suriah moderat dan rezim Suriah akan memiliki tujuh hari kasasi pertempuran dan semua pihak di Suriah akan memungkinkan akses bantuan kemanusiaan menjangkau daerah-daerah yang terkepung.

Meskipun para pejabat AS mengatakan perjanjian telah dicapai, mereka mengakui bahwa bantuan kemanusiaan belum berhasil menjangkau daerah-daerah yang terkepung dan menyalahkan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad atas keterlambatan.

“Meskipun kita akan melihat kemajuan yang berkaitan dengan situasi keamanan di tanah di Suriah, kami belum melihat perbaikan yang sesuai dalam aliran bantuan kemanusiaan. Dan hambatan utama adalah rezim Assad,” kata juru bicara Gedung Putih Josh Earnest.

Dia menuduh Rusia gagal menggunakan pengaruhnya atas Assad untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan bergerak ke daerah-daerah yang terkepung.

“Ada ratusan ribu, jika tidak bisa disebut jutaan, warga Suriah, yang berada dalam situasi putus asa. Dan sekarang, truk yang bisa membawa mereka menyelamatkan nyawa berhenti di sisi perbatasan yang salah,” tambahnya.

Menurut pejabat AS, jika Rusia dan rezim memenuhi kewajiban mereka berdasarkan pengaturan, Washington dan Moskow akan mengadakan pembicaraan bilateral tentang kerja sama militer potensial terhadap Jabhat Fath al-Syam dan kelompok Islamic State (IS).

Toner mengatakan bahwa pemerintahan AS telah melakukan yang terbaik untuk menjawab pertanyaan mitra dan media sehubungan dengan kesepakatan.

Pejabat AS dan Kelompok Internasional Pendukung Suriah (the International Syria Support Group) akan merinci kesepakatan pekan depan di sela-sela pertemuan tahunan Sidang Umum PBB, tambahnya.

The International Syria Support Group termasuk Turki, Arab Saudi, Cina, Jerman, Prancis, Iran, serta beberapa negara Eropa dan Arab, dan Liga Arab dan Uni Eropa.

 

Taliban TTP Umumkan Komandan Baru dan Bantah Klaim Militer Pakistan Kalahkan Jihadis

PAKISTAN (Jurnalislam.com) – Gerakan Taliban di Pakistan (Tehrik-e-Taliban Pakistan atau TTP) menyoroti operasinya di Waziristan Utara, dan menampilkan komandan baru untuk institusi suku Pakistan baru-baru ini. TTP membantah klaim militer Pakistan bahwa Operasi Zarb-e-Azb telah berhasil mengalahkan jihadis dari semua wilayah di Waziristan Utara, lansir The Long War Journal, Kamis (15/09/2016).

Akhtar Muhammad Khalil, amir TTP untuk Waziristan Utara, muncul dalam sebuah video yang dirilis hari Kamis untuk menunjukkan bahwa mujahidin Taliban beroperasi secara terbuka di kantor suku yang diperebutkan. Video ini dirilis oleh Umar Media, media resmi TTP.

Empat menit pertama video menayangkan para pejuang TTP menembakkan mortir, roket, senapan recoilless, dan senapan mesin ke arah tentara Pakistan di daerah pegunungan terpencil. Selain itu, tiga petugas keamanan Pakistan yang ditangkap juga diperlihatkan.

Dua-pertiga bagian terakhir dari video tersebut ditujukan untuk pidato Idul Adha yang diberikan oleh Akhtar Muhammad Khalil, yang duduk di atas tanah dan diapit oleh dua komandannya. Selain itu, dua orang bertopeng dan pejuang bersenjata berat berdiri di belakang Khalil saat ia berbicara.

Akhtar Muhammad Khalil ditunjuk untuk memimpin pasukan TTP di Waziristan Utara musim semi lalu. Pada tanggal 16 Mei 2016, faksi jihad ini merilis pernyataan resmi di Umar Media mencatat bahwa Akhtar Muhammad Khalil berjanji setia kepada amir TTP Mullah Fazlullah, dan mengatakan bahwa TTP menerima sumpahnya dan menunjuk dia menjadi komandan pasukan di wilayah yang bergolak.

Sebagai amir untuk Waziristan Utara, Akhtar Muhammad Khalil bertugas menghadang Operasi Zarb-e-Azb, serangan militer Pakistan di daerah suku Waziristan Utara yang dimulai pada bulan Juni 2014.

“Mengingat medan yang kasar di Waziristan Utara, melaksanakan operasi di daerah itu adalah tugas yang menantang, angkatan bersenjata membersihkan semua tempat persembunyian, gua-gua dan terowongan,” klaim Bajwa, di Express Tribune.

Selain itu, ia juga mengklaim bahwa Shawal Valley, yang merupakan surga bagi berbagai kelompok mujahidin, termasuk TTP, al Qaeda, dan faksi Taliban Pakistan independen seperti Kelompok Hafiz Gul Bahadar dan Jaringan Haqqani, “telah berubah menjadi Swiss (netral – red).”

Bajwa dan militer Pakistan mengklaim bahwa di bawah operasi Zarb-e-Azb, mereka telah menargetkan semua kelompok jihad di Waziristan Utara, termasuk Jaringan Haqqani dan Kelompok Hafiz Gul Bahadar.

Namun, militer Pakistan telah terang-terangan mengabaikan kelompok Haqqani dan Bahadar, yang dianggap sebagai “good Taliban (Taliban yang baik)” seperti yang didukung oleh militer dan intelijen. Selama operasi Zarb-e-Azb, militer hanya menargetkan TTP, Gerakan Islam Uzbekistan, dan al Qaeda, atau “bad Taliban (Taliban yang buruk),” karena kelompok-kelompok ini mendukung penggulingan pemerintah Pakistan.

Good Taliban” adalah darah kehidupan bagi “bad Taliban.” Mereka menyediakan tempat tinggal, tempat yang aman, logistik, tenaga kerja, keuangan, dan berbagai fasilitas kunci lainnya yang memungkinkan jaringan untuk bertahan hidup selama serangan militer seperti Zarb-e-Azb. Faksi-faksi seperti TTP bisa membaur ke masyarakat sementara barisan belakang TTP mengalahkan pasukan Pakistan, dan menetapkan atau memperkuat operasi militer di daerah lain Pakistan.

Pembakar Masjid di Florida pada Malam Idul Adha Tertangkap

FLORIDA (Jurnalislam.com) – Seorang tersangka ditangkap hari Rabu atas tuduhan terkait pembakaran sebuah Masjid di kompleks Muslim Florida pada malam Idul Adha, kata para pejabat, lansir World Bulletin Kamis (15/09/2016).

Joseph Michael Schreiber, 32, menghadapi sedikitnya 30 tahun penjara sebagai penjahat kambuhan dan “akhirnya bisa dihukum” penjara seumur hidup karena membakar Fort Pierce Islamic Center, David Thompson dari Kantor Sheriff St Lucie County mengatakan kepada wartawan.

Para pejabat mengatakan mereka mencari orang yang membantu Schreiber.

Schreiber diinterogasi hari Rabu dan didakwa dengan pembakaran tingkat dua kemudian meningkat ke kejahatan tingkat pertama yang mencakup “tambahan kejahatan dengan alasan kebencian” di bawah hukum Florida, yang tidak memiliki ketentuan kejahatan rasial.

Michael D’Alonzo, seorang agen FBI yang bekerja sama dengan kantor sheriff, mengatakan pada konferensi pers bahwa lembaga itu melihat potensi “pelanggaran hak-hak sipil” untuk mengajukan tersangka ke tingkat federal, termasuk kejahatan rasial.

501427-joseph-michael-schreiber-reuters

Schreiber ditangkap di Fort Pierce setelah petunjuk dari masyarakat, termasuk anggota komunitas Muslim, cocok dengan rekaman pengamatan yang sebelumnya dirilis oleh kantor sheriff.

Sebuah pencarian di rumah tersangka mengungkapkan bukti yang menghubungkan dia dengan kejahatan, termasuk sepeda motor yang terlihat dinaiki tersangka dalam video.

Schreiber memposting pesan online anti-Islam yang “menguatkan kekhawatiran kita bahwa kejahatannya dilakukan dengan alasan kebencian terhadap komunitas Islam,” menurut pejabat yang tidak merinci kejahatan masa lalu yang dilakukan oleh tersangka yang memenuhi syarat dia sebagai pelaku kejahatan berulang yang memperburuk hukuman pidana baginya.

“Agar damai dan aman AS harus mempertimbangkan segala bentuk ISLAM sebagai radikal, kebenarannya adalah tidak ada ekstremisme ISLAM radikal … SEMUA ISLAM adalah RADIKAL,” menurut sebuah posting Facebook pada bulan Juli oleh Schreiber yang penuh dengan kesalahan tata bahasa.

Kantor sheriff menyebarkan video hari Senin yang menunjukkan “pelaku adalah individu tunggal yang berasal dari keturunan putih atau Hispanik” turun dari “motor model Harley Davidson” dan memasuki kompleks masjid yang terdiri dari beberapa bangunan, yang beberapa bagiannya terbuat dari kayu, tepat sebelum tengah malam.

Dia kemudian mulai membakar dekat pusat kompleks, tampaknya menggunakan cairan dalam botol yang dibawanya, menyebabkan “kerusakan besar bagi masjid – baik interior maupun eksterior,” kata Thompson.

The Islamic Center of Fort Pierce yang dibangun kembali pada hari Senin meluncurkan kampanye di situs LaunchGood.com dan sudah mengumpulkan lebih dari $ 22.000 dari total pendanaan $ 50.000 dalam dua hari.

1ef4d740720d4c319f600ae1f6ad0fb8_18

“Masjid kami dibakar pada malam Idul Adha. Bantu kami membangun kembali dan mengambil sikap melawan kefanatikan,” kata penyelenggara, yang menulis bahwa mereka “patah hati” ketika melihat Masjid dibakar dengan sengaja malam sebelum sholat Idul Adha dijadwalkan di Masjid itu.

Fort Pierce Islamic Center menarik perhatian nasional setelah Omar Mateen, yang sering datang ke Masjid, diduga membunuh 49 korban dan melukai puluhan lainnya di sebuah klub malam gay di Orlando pada bulan Juni.

Saudi Desak PBB Tindak Tegas Penyelundupan Senjata Iran Ke Milisi Houthi

RIYADH (Jurnalislam.com) – Arab Saudi menyerukan kepada Dewan Keamanan PBB untuk segera mengakhiri penyelundupan senjata Iran ke milisi pemberontak di Yaman karena merupakan pelanggaran terhadap Resolusi 2216, Al Arabiya News Channel melaporkan, Kamis (15/09/2016).

Dalam surat yang ditujukan ke Selandia Baru, yang mengambil alih kepresidenan dewan, Duta Besar Arab Saudi untuk PBB Abdallah al-Mouallimi menjelaskan sejumlah pelanggaran terhadap resolusi termasuk serangan roket lintas batas oleh pasukan Syiah Houthi dan Abdullah Saleh.

In this photo released by the Iranian semi-official Mehr News Agency, Revolutionary Guard's Zelzal missile is launched in a drill, Sunday Sept. 27, 2009, near the city of Qom, 80 miles (130 kilometers) south of Tehran, Iran. Iran said it successfully test-fired short-range missiles during military drills Sunday by the elite Revolutionary Guard, a show of force days after the U.S. warned Tehran over a newly revealed underground nuclear facility it was secretly constructing. (AP Photo/Mehr News Agency, Raouf Mohseni)

“Pada tanggal 31 Agustus 2016, milisi pemberontak Syiah Houthi dan pendukung mereka menembakkan rudal balistik jenis Zilzal-3 (Gempa-3) di kota Najran, di selatan Arab Saudi. Rocket Zilzal-3 adalah rudal balistik jarak pendek yang diproduksi di Iran,” isi surat yang diperoleh Al Arabiya News Channel.

Mouallimi juga menyebutkan bagaimana penyelundupan senjata tidak melanggar resolusi Dewan Keamanan tetapi juga mengancam stabilitas Arab Saudi, Yaman dan wilayah yang lebih luas secara keseluruhan.

“Kami lebih mendesak Dewan Keamanan untuk mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menuntut agar Iran mematuhi semua resolusi Dewan Keamanan yang relevan, menunda dan menghentikan semua tindakan ilegal di Yaman,” tambah Mouallimi.

SNHR: Dalam Dua Hari Rezim Assad Lakukan 28 Pelanggaran Gencatan Senjata

SURIAH (Jurnalislam.com) – Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (The Syrian Network for Human Rights-SNHR) mengatakan dalam sebuah laporan yang diterbitkan Kamis (15/09/2016) tentang pelanggaran yang dilakukan oleh rezim Assad dan sekutunya di Suriah.

Seperti yang dilansir ElDorar AlShamia, Kamis, SNHR mengatakan bahwa 28 pelanggaran terjadi sejak Senin malam terakhir dalam pemboman yang menargetkan beberapa kota, yaitu kota Daraa, Homs, Idlib, Damaskus, Latakia dan Quneitera.

Jaringan mencatat dalam dua hari terakhir jelas terlihat pengurangan jumlah korban sipil di Suriah, setelah penghentian pemboman, yang menegaskan bahwa rezim al-Assad adalah penyebab utama dalam penghancuran dan pembunuhan manusia.

Kelompok hak Asasi manusia tersebut menekankan dalam laporannya mengenai kebutuhan agar “masyarakat internasional mendukung gencatan senjata untuk meluncurkan proses politik menuju fase transisi yang mengarah ke pembentukan pemerintahn baru, dan itulah yang akan benar-benar mengakhiri penderitaan masyarakat Suriah.”

Sekretaris Negara Amerika Serikat dan menteri luar negeri Rusia telah tiba di Jenewa untuk kesepakatan gencatan senjata di Suriah, berdasarkan percobaan gencatan senjata, Senin malam (hari pertama Idul Adha) untuk jangka waktu 48 jam. Tujuan utama perjanjian ini termasuk untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan mencapai daerah-daerah yang dikepung, yang bahkan hingga sekarang tidak diizinkan bergerak setelah rezim menolak menyetujui masuknya truk bantuan ke Castello Road di utara Aleppo.

PBB Desak Rezim Suriah untuk Tidak Halangi Pengiriman Bantuan

JENEWA (Jurnalislam.com) – Utusan PBB untuk Suriah pada hari Kamis (15/09/2016) mendesak rezim Suriah untuk memberikan jaminan keamanan yang diperlukan dan izin untuk memungkinkan konvoi kemanusiaan melakukan perjalanan yang aman, Anadolu Agency melaporkan.

Empat puluh truk bantuan, sebagian besar membawa makanan dan tepung, terjebak di perbatasan Turki sejak Selasa karena masalah keamanan, seorang pejabat di Cilvegozu Border Gate, Kamis.

Berbicara pada konferensi pers di kantor PBB di Jenewa, Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura menyesalkan bahwa Damaskus belum memberikan izin yang diperlukan.

“Surat-surat fasilitasi, izin akhir agar PBB dapat benar-benar menjangkau daerah-daerah belum diterima. Itu adalah sebuah fakta,” katanya.

“Hal ini terutama disesalkan karena biasanya di hari-hari seperti ini kita kehilangan waktu, ini adalah hari yang harus kita gunakan agar konvoi bergerak dengan membawa izin untuk pergi karena tidak ada pertempuran,” tambahnya, mengacu pada kesepakatan damai yang berlaku sejak Senin.

Jan Egeland, Penasehat Khusus Mistura, juga mengimbau kepada rezim Suriah agar pasokan penting untuk Aleppo Timur dan daerah lain yang membutuhkan tidak tertahan karena alasan kurangnya dokumentasi (surat izin).

Gencatan senjata yang ditengahi AS-Rusia yang dimulai Senin malam sebagian besar berlaku di seluruh Suriah dan telah diperpanjang lagi selama 48 jam.

Jubir Ahrar al Syam: Pasukan Assad Siap Lancarkan Serangan Besar di Distrik Idlib

SURIAH (Jurnalislam.com) – Milisi Assad sedang bersiap untuk meluncurkan serangan besar terhadap faksi mujahidin Suriah di wilayah Sahel, Juru bicara resmi Ahrar al Syam, Ahmed Kara Ali, menyatakan, lansir ElDorar AlShamia, Kamis (15/09/2016).

“Pergerakan milisi Assad di daerah pantai dekat kota Jisr al-Shoghour di distrik Idlib tampaknya telah siap untuk meluncurkan serangan besar pada daerah yang dibebaskan mujahidin,” Kara Ali merincinya.

Meskipun gencatan senjata telah diberlakukan, lanjut Kara Ali, bahwa Rusia dua kali melakukan pelanggaran gencatan senjata yang sangat berbahaya dari 57 pelanggaran gencatan senjata yang mereka lakukan, mencatat bahwa Rusia dan rezim Assad mengikuti kebijakan bumi hangus untuk menargetkan lokasi-lokasi strategis seperti di gencatan senjata sebelumnya.

Rezim Nushairiyah Assad terus berupaya mencegah konvoi bantuan kemanusiaan untuk mencapai kota Aleppo melalui Castello Road yang dianggap Kara Ali sebagai pelanggaran serius terhadap gencatan senjata dan bukti tidak mematuhinya rezim al-Assad terhadap kesepakatan itu.

Amerika Serikat dan Rusia pada Rabu malam mengumumkan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 48 jam tambahan, sementara Moskow menegaskan bahwa mereka akan mena

AS dan Rusia Setuju Perpanjang Gencatan Senjata selama 48 Jam di Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – AS dan Rusia mengatakan bahwa gencatan senjata di Suriah sebagian besar telah berjalan dan harus diperpanjang selama 48 jam, saat PBB mendesak semua pihak untuk menjamin keamanan konvoi bantuan, yang saat ini bersiap di sepanjang perbatasan Turki, menuju Aleppo.

“Ada kesepakatan menyeluruh, meskipun juga ada laporan kekerasan sporadis, keteraturan mulai terlihat dan kekerasan secara signifikan menurun,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri Mark Toner pada konferensi pers hari Rabu (14/09/2016), lansir Aljazeera.

“Sebagai bagian dari pembicaraan, mereka sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 48 jam.”

Toner mengatakan Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan timpalannya dari Rusia Sergei Lavrov telah berbicara sebelumnya melalui telepon dan setuju memperpanjang gencatan senjata.

Berdasarkan kesepakatan, yang ditengahi oleh AS dan Rusia pada hari Jumat, Washington dan Moskow bertujuan mengurangi kekerasan selama tujuh hari berturut-turut, sebelum mereka pindah ke tahap berikutnya, yaitu koordinasi serangan militer melawan Jabhat Fath al Syam dan kelompok Islamic State (IS), Jabhat Fath al Syam yang sebelumnya dikenal sebagai Jabhah Nusrah, berubah nama setelah memutuskan hubungan dengan al Qaeda pada bulan Juli.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (Syrian Observatory for Human Rights) yang berbasis di Inggris, yang memonitor konflik Suriah melalui kontak di lapangan, mengatakan tidak ada korban tewas akibat pertempuran yang telah dilaporkan dalam 48 jam pertama gencatan senjata.

“Komitmen ini awalnya akan berlangsung selama 48 jam, dan untuk mempertahankannya , AS dan Rusia akan membahas ekstensi, dengan tujuan mencapai perpanjangan waktu yang tidak terbatas untuk menurunkan kekerasan,” kata Toner.

Dia menambahkan bahwa Rusia harus menggunakan pengaruhnya atas Bashar al-Assad untuk memastikan bahwa bantuan kemanusiaan sampai ke masyarakat yang dikepung sesuai perjanjian.

“Kami belum melihat akses kemanusiaan namun kita masih terus memantau, dan berbicara dengan Rusia,” Toner mengatakan. “Kami menekan mereka untuk memaksa rezim Assad.”

Perpanjangan gencatan senjata, yang dimulai saat mataharithumbs_s_c_90a14fe31cfc60cb828ab6a9abc0695a terbenam pada hari Senin, terjadi konvoi bantuan yang dimaksudkan untuk mencapai populasi yang dikepung di utara kota Aleppo tetap terhenti di sepanjang perbatasan Turki.

Dua puluh truk sarat dengan makanan dan bantuan lainnya yang sangat dibutuhkan untuk wilayah Aleppo yang dikuasai faksi-faksi jihad Suriah, yang menjadi rumah bagi sekitar 300.000 orang, masih tetap berada di perbatasan pada hari Rabu menunggu kejelasan untuk perjalanan ke kota perang itu.

“Saya sudah mendesak pemerintah Rusia untuk memastikan bahwa mereka mempunyai pengaruh terhadap rezim Suriah, dan juga sisi Amerika untuk memastikan bahwa kelompok-kelompok bersenjata Suriah juga sepenuhnya gencatan senjata,” kata Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon di depan sebuah konferensi pers pada hari Rabu.

Konvoi bantuan seharusnya sudah menuju ke arah Aleppo pada hari Rabu, tapi Ban mengatakan pengaturan keamanan masih belum berjalan.

“Mereka berada di perbatasan dengan Suriah. Mereka masih di sana,” kata Ban.

PBB memperkirakan bahwa lebih dari setengah juta orang hidup di bawah pengepungan di Suriah, di mana konflik lima tahun telah menewaskan ratusan ribu dan menelantarkan lebih dari 11 juta lainnya.

Sementara itu, pasukan pro-rezim Assad dan pejuang Suriah dilaporkan akan mulai menggelar penarikan pasukan mereka dari jalan utama Aleppo yang diharapkan dapat digunakan untuk pengiriman bantuan Kamis pagi.

Zakaria Malahifji, dari kelompok oposisi anti-assad Fastaqim yang berbasis di Aleppo, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa kelompok oposisi berniat untuk mematuhi rencana untuk mundur 500 meter dari Castello Road untuk membuatnya menjadi tempat yang netral, tetapi pasukan rezimdan sekutunya juga harus mundur.

Pada hari Rabu, Moskow dan Washington berbicara positif tentang kesepakatan gencatan senjata, yang Kremlin katakan meningkatkan harapan untuk solusi damai terhadap krisis.

Kerry juga mengatakan itu adalah “kesempatan terakhir” untuk menjaga Suriah bersama-sama, dan Washington berharap kesepakatan gencatan senjata akan menghidupkan kembali pembicaraan damai yang bertujuan mengakhiri konflik.

Namun, politisi oposisi Suriah yang menonjol, George Sabra, mengatakan banyak pelanggaran gencatan senjata sebelumnya yang telah merusak kepercayaan dalam gencatan senjata saat ini, menambahkan bahwa masih terlalu dini untuk berbicara tentang dimulainya kembali pembicaraan damai yang ditinggalkan pada bulan April.

Berbicara kepada Reuters, ia menyesalkan kurangnya mekanisme untuk menegakkan gencatan senjata dan melaporkan pemerintah rezim Nushairiyah Assad dan sekutu Syiahnya sering melakukan pelanggaran.

“Ini akan menghambat tujuan-tujuan lain dari gencatan senjata, seperti terhalangnya memberikan bantuan yang diperlukan untuk daerah terkepung,” kata Sabra.

LSM Turki Bagikan 9000 Paket Daging Qurban ke Keluarga Miskin Gaza

GAZA (Jurnalislam.com) – Yayasan IHH Turki pada hari Rabu (14/09/2016) mendistribusikan bantuan daging hewan qurban Hari Raya Idul Adha bagi keluarga miskin di Jalur Gaza yang diblokade.

“Kami telah mendistribusikan paket daging qurban dari 83 sapi untuk 9.000 keluarga miskin di Gaza,” kata Direktur IHH Gaza Mehmet Kaya kepada Anadolu Agency.

“Penyediaan daging dari hewan qurban kepada orang miskin adalah bagian inti dari mandat kemanusiaan IHH ini,” tambahnya.

“Kami akan terus memberikan dukungan kepada keluarga miskin di Gaza dan di semua tempat yang kami hadiri,” Kaya menegaskan.

Sejak 2009, IHH telah mempertahankan kantor di Jalur Gaza, yang terus berada di bawah blokade Israel-Mesir hampir selama satu dekade.

Menurut data PBB, sekitar 80 persen dari hampir 2 juta penduduk Gaza sekarang bergantung pada donasi bantuan untuk kelangsungan hidup mereka.

Diblokade oleh Israel sejak tahun 2007, Jalur Gaza memiliki tujuh penyeberangan perbatasan yang menghubungkan mereka dengan dunia luar. Enam dari tujuh perbatasan ini dikendalikan oleh Israel, sementara satu perbatasan, yaitu Rafah, dikendalikan oleh Mesir, yang menutupnya dengan rapat.

Israel menutup empat penyeberangan komersial dengan Gaza pada Juni 2007 setelah gerakan perlawanan Palestina Hamas merebut kendali atas Jalur Gaza dari Otoritas Palestina.

syrie-aide-newPM Turki sampaikan ke Pemimpin Hamas akan Lanjutkan Bantuan ke Gaza

Turki akan menjaga pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza, Perdana Menteri Binali Yildirim mengatakan pada pemimpin Hamas Khaled Mashal pada hari Selasa, seorang sumber di kantor perdana menteri mengatakan.

Dalam panggilan telepon dengan pemimpin kelompok yang mengendalikan wilayah Palestina, Yildirim mengatakan Turki akan selalu berdiri bersama rakyat Palestina, kata sumber itu tanpa menyebut nama karena pembatasan.

Gaza telah berada di bawah blokade Israel sejak tahun 2007. Di bawah kesepakatan yang disetujui bersama Israel pada bulan Juni, Turki memasok bantuan ke Gaza.

 

 

Heboh, Politisi Iran Bocorkan Tujuan Intervensi Negaranya ke Suriah

TEHERAN (Jurnalislam.com) – Mehdi Khozali, seorang politikus senior Iran dan sekutu dekat presiden Iran, Hassan Rowhani, mengatakan bahwa intervensi Jenderal Qassem Soleimani, komandan Pasukan Quds di Suriah, telah menyebabkan munculnya Kelompok Islamic State (IS), lansir ElDorar AlShamia, Rabu (14/09/2016).

Pernyataan ini muncul dalam perkataan Khozali di ibukota Iran, Teheran, saat ia berkata: “Jika Bashar jatuh pada tahun 2011, kami menyingkirkan Baath Aflaqi, rezim otokratis dan diktator, dan kemudian kita bisa membangun hubungan baik dan kuat dengan pemerintah Suriah yang muncul dalam demokrasi untuk memerintah negara, kita tidak perlu melakukan intervensi militer di Suriah, juga kebijakan dan strategi Garda Revolusi, serta Soleimani telah salah dan menyebabkan kehancuran Irak dan Suriah, dan bahwa intervensi kami berlaku di Suriah berdampak juga bagi Turki.

Ini bukan pernyataan heboh pertama bagi Mahdi, putra seorang tokoh konservatif terkemuka Syiah, Ayatollah Khozali, yang sebelumnya mengatakan mantan presiden Iran, Ahmadinejad, memiliki asal-usul Yahudi.