Hadapi Serangan Udara Rusia dan Assad, Oposisi Suriah Desak Pasokan Senjata Anti-Pesawat

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Kelompok oposisi utama Suriah pada hari Senin (10/10/2016) menyerukan kepada sekutu asing mereka untuk memasok senjata ground-to-air dalam melawan serangan udara mematikan rezim Assad dan Rusia di Aleppo, World Bulletin melaporkan, Senin.

Pasukan rezim dan pesawat tempur Rusia telah meningkatkan serangan udara di Aleppo dalam beberapa pekan terakhir, menewaskan ratusan warga sipil dan meningkatkan kekhawatiran internasional yang luas.

Juru bicara HNC Salem al-Meslet mengatakan setelah pembicaraan bahwa oposisi saat ini bergantung pada “negara-negara sepersaudaraan dan teman-teman … untuk mengalahkan embargo senjata canggih yang dikenakan pada oposisi.”

Sekutu Arab Washington, yang dipimpin oleh Arab Saudi, telah bahwa pasukan oposisi yang bertempur melawan Assad diberikan senjata canggih seperti MANPADS – rudal anti-pesawat yang ditembakkan dari bahu.

Para ahli mengatakan pasokan senjata seperti ini mungkin dapat mengubah keseimbangan kekuasaan di medan perang dan membuat Damaskus lebih siap untuk berbicara, tetapi para pejabat AS khawatir senjata tersebut bisa jatuh ke tangan Jabhat Fath al Syam.

Riyadh berperan penting dalam formasi akhir tahun lalu HNC, yang menyatukan berbagai kelompok oposisi dan faksi politik oposisi.

Serangan Bom Truk Bunuh 10 Pasukan Turki

DIYARBAKIR (Jurnalislam.com) – Sepuluh tentara Turki dan delapan warga sipil tewas pada hari Ahad, 9 Oktober 2016 ketika tersangka militan Kurdi meledakkan lima ton bom dalam truk yang menghancurkan sebuah pos pemeriksaan dekat sebuah pos militer di tenggara negara itu, kata perdana menteri, kantor berita Reuters melaporkan, Ahad.

27 orang lainnya, termasuk 11 tentara, terluka dalam ledakan yang menghantam stasiun gendarmerie (tentara) di Durak, 20 km (12 mil) dari kota Semdinli, dalam salah satu serangan paling mematikan di wilayah baru-baru ini.

Pegunungan Provinsi Hakkari, di mana serangan itu terjadi, terletak dekat perbatasan dengan Irak dan Iran dan merupakan salah satu daerah pertempuran utama dalam konflik antara tentara Turki melawan militan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) selama 32 tahun.

Serangan itu terjadi sekitar pukul 9:45 (0645 GMT) ketika sebuah truk kecil mendekati pos pemeriksaan kendaraan dan mengabaikan perintah untuk berhenti, mendorong pasukan gendarmerie melepaskan tembakan, kata kantor gubernur Hakkari.

Bom dalam kendaraan tersebut diledakkan, yang dikatakan Perdana Menteri Binali Yildirim kepada wartawan mengandung sekitar lima ton bahan peledak.

Presiden Tayyip Erdogan bersumpah untuk mengakhiri serangan PKK sambil mengutuk pemboman itu, menuduh kelompok bertindak atas nama “kekuatan gelap yang memiliki rencana di Suriah dan Irak.”

“Bergandengan tangan dengan rakyat kami, negara bersama semua lembaga bertekad untuk membuat organisasi teror separatis tidak mampu melakukan serangan,” kata pernyataan tertulisnya.

Tentara telah “melumpuhkan” 387 militan PKK di Hakkari saja sejak 4 Agustus, Anadolu Agency yang dikelola negara mengatakan mengutip sumber militer.

Kantor gubernur mengatakan operasi luas yang didukung serangan udara sedang dilakukan oleh unit komando di daerah untuk menangkap militan PKK, yang diyakini telah melepaskan serangan tembakan untuk mengalihkan perhatian tentara di pos pemeriksaan.

Helikopter militer menerbangkan korban yang terluka ke rumah sakit di wilayah tersebut setelah ledakan, kantor gubernur mengatakan, saat prajurit dan penduduk setempat tampak berjalan di antara bangunan yang hancur dan puing-puing, rekaman video CNN Turk menunjukkan.

Pihak berwenang sedang siaga tinggi untuk menghadapi kemungkinan serangan pada hari Ahad, 18 tahun menuju hari sejak pemimpin PKK Abdullah Ocalan melarikan diri ke Suriah sebelum ditangkap oleh pasukan khusus Turki pada bulan Februari tahun berikutnya.

Sejak itu ia berada di penjara di sebuah pulau dekat Istanbul.

Erdogan sering mengkritik bahwa Barat tidak memberikan dukungan yang memadai dalam memerangi PKK, dan Menteri Energi, Berat Albayrak pada hari Ahad menyerukan pada para sekutunya untuk menunjukkan solidaritas.

“Teror ini terus membakar negara kita, seluruh wilayah dan dunia setiap hari mengabaikannya. Kita harus menunjukkan ketulusan lebih banyak dari sebelumnya dalam proses ini,” kata Albayrak dalam pidatonya di sebuah konferensi energi di Istanbul.

Faksi Syrian Resistance Pukul Mundur IS dari Provinsi Rif Dimashq, 37 Pasukan IS Terbunuh

SURIAH (Jurnalislam.com) – Faksi Syrian Resistance saat fajar pada hari Ahad (09/10/2016) menyerang militan IS di Qalmoun timur di Rif Dimashq dan berhasil membunuh sejumlah militan, ElDorar AlShamia melaporkan Ahad (09/10/2016).

Bentrokan kemarin dimulai antara Ahrar al Syam, Jabhat Fath al Syam, Jaysh al-Islam di satu sisi dan Kelompok Islamic State di sisi lain, dan terus berlangsung sampai fajar pada hari Ahad termasuk garis depan Be’r al-Afaei dan Gunung Signal, yang membunuh 37 pasukan IS, saat faksi mendapatkan kembali salah satu markas besar “Tentara Pembebasan Levant (the Liberation Army of the Levant) dari kontrol IS.

IS telah mencoba selama lebih dari sebulan untuk maju dan menguasai gunung timur dan Gunung Signal di Timur Qalamoun, tetapi faksi mujahidin Suriah mencegah kemajuan IS di kawasan itu.

 

Koalisi Arab Selidiki Serangan di Yaman yang Tewaskan 140 Orang

YAMAN (Jurnalislam.com) – Koalisi yang dipimpin Arab yang bertempur melawan pemberontak di Yaman, pada hari Ahad (09/10/2016) mengatakan siap menyelidiki serangan udara pada upacara pemakaman di Sanaa yang menewaskan lebih dari 140 orang, bersama dengan Amerika Serikat, lansir Al Arabiya News Channel, Ahad.

Pemberontak Houthi yang didukung Republik Syiah Iran menuduh koalisi Arab melakukan penyerangan, yang merupakan salah satu serangan paling mematikan sejak meluncurkan operasi militer terhadap pemberontak Syiah pada Maret tahun lalu.

Setelah awalnya menyangkal bertanggung jawab, koalisi mengatakan siap untuk memulai penyelidikan atas serangan “yang disesalkan dan menyakitkan,” yang menurut seorang pejabat PBB juga melukai lebih dari 525 orang.

“Koalisi akan segera menyelidiki kasus ini bersama dengan Tim Gabungan Penilai Insiden (Joint Incidents Assessment Team) di Yaman dan para ahli dari Amerika Serikat yang ikut dalam penyelidikan sebelumnya,” katanya dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh Saudi Press Agency.

“Koalisi ini juga bersedia untuk memberikan tim investigasi dengan data dan informasi yang berkaitan dengan operasi militer hari ini, di lokasi kejadian dan sekitarnya,” katanya.

“Hasil penyelidikan harus diumumkan segera setelah selesai.”

Koordinator kemanusiaan PBB di Yaman, Jamie McGoldrick, mengatakan bahwa pekerja bantuan “terkejut dan marah” oleh serangan yang melanda ruang komunitas di ibukota Yaman saat pelayat sedang berkumpul.

Saudi membantah membom acara pemakaman Yaman, mengatakan serangan udara koalisi Arab tidak berperan dalam serangan di Sanaa, Sabtu, sumber-sumber di koalisi pimpinan Saudi mengatakan.

“Benar-benar tidak ada operasi militer yang menargetkan pemakaman itu,” salah satu sumber mengatakan, mengutip konfirmasi dari komando angkatan udara koalisi.

“Koalisi menyadari laporan tersebut dan yakin bahwa penyebab lain pengeboman harus dipertimbangkan. Koalisi di masa lalu menghindari menargetkan pertemuan seperti itu dan (pertempuran seperti itu) tidak pernah menjadi subyek target.

Jund al Aqsha Umumkan Baiat ke Jabhat Fath al Syam

IDLIB (Jurnalislam.com) – Faksi jihad Jund al Aqsha mengumumkan untuk berbaiat kepada Jabhat Fath al Syam (JFS), setelah tiga hari terlibat bentrokan terus menerus dan direbutnya kendali markas dan benteng mereka oleh faksi Syrian Resistance di provinsi Idlib, dan menyatakan bahwa semua isu yang beredar mengenai masalah baru-baru ini akan diteruskan ke pengadilan Syariah yang akan disepakati bersama JFS, ElDorar AlShamia melaporkan Ahad (09/10/2016).

Sumber media milik JFS juga mengkonfirmasi kepada ElDorar keaslian pernyataan yang diterbitkan oleh Jund al-Aqsha, menekankan bahwa Jabhat Fath al Syam sudah menerima al-Jund untuk bergabung dengan mereka.

Faksi terbesar dari Syrian Resistance, yang dipimpin oleh Jaysh al-Islam, Faylaq al-Sham, gerakan Nur al-Din al-Zanki, Soqour al-Sham, Fastaqem dan Jaysy al-Mujahidin telah menyatakan dukungan mereka terhadap Ahrar al-Sham dalam pertempuran melawan kelompok Jund al Aqsha dan menegaskan kesediaan mereka untuk berpartisipasi secara militer dan keamanan dalam rangka menundukkan al-Jund ke peradilan Islam atau mereka akan terus berjuang sampai al-Jund diberantas.

Koresponden juga melaporkan bahwa Jund al Aqsha Sabtu kemarin menewaskan seorang komandan terkemuka Ahrar al-Sham yang disebut “Dabbous alGHab” setelah ia ditangkap dalam penyergapan yang sudah disiapkan di selatan pedesaan Idlib.

 

Gerilyawan Muslim Serang Kantor Polisi Myanmar, 9 Tewas dan 51 Pucuk Senjata Direbut

YANGON (Jurnalislam.com) – Pihak berwenang telah memberlakukan jam malam sejak sore hingga fajar di daerah dekat dengan perbatasan Myanmar dengan Bangladesh setelah sekelompok orang bersenjata menyerbu pos-pos polisi, kata para pejabat hari Ahad (09/10/2016), lansir Anodolu Agency.

Sedikitnya sembilan polisi dan delapan gerilyawan tewas setelah penyerang bersenjatakan senapan, pisau dan bahan peledak menyerbu tiga stasiun Penjaga Perbatasan Kepolisian di kota-kota Maungdaw dan Yathay Taung di barat Negara bagian Rakhine sekitar pukul 3.00 a.m (2130GMT Sabtu).

Jam malam (07:00-06:00) diberlakukan di daerah yang sebelumnya sudah memberlakukan jam malam parsial (11:00-04:00) menyusul kekerasan komunal yang pecah di sana pada pertengahan 2012 antara Rakhine Buddha dan Muslim Rohingya.

Ahad, Menteri Informasi Phay Myint mengatakan dalam konferensi pers di ibukota politik Nay Pyi Taw bahwa situasi telah dikendalikan pada malam hari.

“Seorang polisi tetap hilang belum ditemukan,” katanya.

Pemerintah mengatakan bahwa polisi telah menangkap hidup-hidup dua gerilyawan, sementara 51 senjata dicuri dari gudang senjata polisi saat serangan.

Kepala polisi Zaw Win mengatakan dalam konferensi pers bahwa mereka belum mengkonfirmasi kelompok yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

“Kami tidak yakin jika para penyerang berasal dari RSO, tetapi mereka meneriakkan kata ‘Rohingya’ selama serangan,” katanya, mengacu pada Organisasi Solidaritas Rohingya (the Rohingya Solidarity Organization-RSO) – sebuah kelompok bayangan yang namanya diambil dari kaum Muslim minoritas Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai salah satu etnis dunia yang paling teraniaya.

“Kami masih menginterogasi dua orang bersenjata yang kami tangkap hidup-hidup,” tambahnya.

Meskipun sebagian besar analis percaya keberadaan RSO hanyalah mitos, pemerintah telah mengklasifikasikan RSO sebagai kelompok pejuang Islam dan pejabat menyalahkan mereka sebagai pelaku serangan baru di daerah perbatasan.

Ditengah Kecamuk Operasi Omari, Taliban Publikasi Kamp Latihan Militer Baru

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Serangan militer Imarah Islam Afghanistan (Taliban) di utara dan selatan Afghanistan, khususnya di Kunduz, Baghlan, dan provinsi Helmand, selama ini didukung oleh kampanye media yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Taliban secara teratur memberitakan operasinya yang berlangsung di seluruh Afghanistan, Taliban baru-baru ini kembali merilis sebuah video yang diproduksi dengan sangat baik yang menyoroti Abdullah bin Mubarak Jihad Training Camp milik mereka. Video yang diproduksi dalam beberapa bahasa tersebut, termasuk Inggris, berjudul “Real Men“, dan diarahkan untuk mendorong umat Islam dari semua negara untuk melakukan jihad.

Sebagaimana yang dilansir The Long War Journal Sabtu (08/10/2016) video berdurasi 19-menit itu diproduksi oleh Manba al Jihad Media divisi “Komisi Urusan Kebudayaan, Audio dan Sektor Visual Taliban.” Video itu dipublikasikan pada Twitter feed juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid.

Manba al Jihad Media adalah media milik Jaringan Haqqani, subkelompok Taliban yang bersekutu erat dengan al Qaeda. Pemimpin operasional Haqqani Network, Sirajuddin Haqqani, berfungsi sebagai salah satu dari dua wakil amir untuk Taliban serta kepala cabang militer kelompok.

Manba al Jihad Studio telah merilis produksi Jaringan Haqqani lain pada Voice of Jihad di masa lalu, termasuk video kamp pelatihan Haqqani pada tahun 2011, video lain yang merinci serangan 2012 di Forward Operating Base Salerno, konfirmasi kematian Badruddin Haqqani pada tahun 2013, dan video “Caravan of Heroes” pada tahun 2015.

Video terbaru “Real Men (Lelaki Sejati)” dari Taliban ini menjelaskan bahwa Taliban sebagai pembela Islam yang gigih dan merupakan bagian dari jihad global. Ini tidaklah mengherankan karena Taliban telah sering mengungkapkan hubungan yang dekat dengan jihad global, seperti ketika menerima janji kesetiaan dari amir Al Qaeda, Syeikh Ayman al Zawahiri di depan publik.

Pada awal video, narator Taliban menyerang AS, negara-negara Barat dan pemerintah Afghanistan yang menghapus nilai-nilai Taliban dengan mempromosikan demokrasi, pemilihan umum, hak perempuan, homoseksualitas dan amoralitas, melalui berbagai cara seperti internet, TV, radio, dan program budaya.

Narator kemudian menyatakan bahwa umat Islam di seluruh dunia telah melihat “konspirasi” ini dan berusaha melakukan jihad. Rekaman dari kamp dirancang untuk “mendorong pemuda Muslim” mengobarkan jihad.

“Banyak pemuda di antara umat Islam komunitas global setelah menyadari konspirasi musuh meninggalkan kehidupan mereka yang nyaman dan berlari menuju kamp-kamp pelatihan mujahidin untuk mendapatkan pelatihan,” kata narator.

“Jadi kami menyajikan kepada pemirsa kami yang terhormat, kegiatan pelatihan beberapa mujahidin dari salah satu kamp pelatihan dengan harapan bahwa ini akan mendorong pemuda Muslim dalam membela agama Islam, negeri-negeri Muslim, dan kami akan melakukan beberapa tugas keagamaan kami,” dia melanjutkan.

Taliban kemudian menunjukkan rekaman puluhan pejuangnya yang berlatih di Abdullah bin Mubarak Jihad Training Camp. Lokasi kamp tidak diungkapkan. Saat rekaman ditampilkan, beberapa tokoh dan pejuang Taliban yang tidak disebutkan namanya memberikan pidato.

Seorang pejuang yang tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa Taliban melatih rekrutan untuk “membela Islam” dan mereka siap untuk menyerang di luar Afghanistan.

“Kami dilatih hari ini untuk membela Islam,” kata pejuang yang tidak disebutkan namanya itu. “Kami akan mengikuti Anda ke rumah Anda, di ibukota dan di negara-negara Anda. Kami telah menetapkan niat kami dan kami memiliki tujuan jelas bahwa Islam akan mendominasi. Hari ini kami sedang bersiap, berharap bahwa Islam akan mendominasi.”

Taliban telah mempublikasikan beberapa kamp pelatihan di Afghanistan dalam beberapa tahun terakhir. Pada Desember tahun 2014, Taliban memperlihatkan sebuah kamp pelatihan di distrik Jawzjan di Provinsi Faryab. Pada Januari 2015, Taliban menyoroti sebuah kamp pelatihan di Kunar. Juni lalu, kelompok jihad itu memperkenalkan kamp pelatihan “pasukan khusus” di suatu tempat di Afghanistan. Dua bulan kemudian, sebuah kamp pelatihan di distrik Zurmat Provinsi Paktia disebut-sebut secara online. Pada September tahun 2016, Haqqani Network, subkelompok Taliban yang kuat, merilis sebuah video dari kamp Salahadin Ayyubi di Afghanistan timur. Dan pada bulan Juli 2016, Taliban mempromosikan Omar bin Khattab Training Camp, yang diduga terletak di provinsi Kunduz.

Kelompok-kelompok jihad lainnya, termasuk al Qaeda, diketahui mengoperasikan kamp di Afghanistan. Pada 2015, AS menyerang sebuah kamp al Qaeda di distrik Bermal di Paktika, dan dua lainnya di distrik Shorabak di provinsi Kandahar. Komandan pasukan AS di Afghanistan, Jenderal John Campbell, mengatakan bahwa salah satu kamp di Shorabak adalah yang terbesar di Afghanistan sejak AS menginvasi pada tahun 2001. Kamp-kamp Al Qaeda juga telah beroperasi di Kunar dan Nuristan.

Harakat-ul-Mujahideen, kelompok jihad Pakistan yang erat bersekutu dengan al Qaeda, “mengoperasikan kamp pelatihan di Afghanistan timur,” kata pemerintah AS pada 2014. Partai Islam Turkistan, Islamic Jihad Union, dan Jamaat Imam Bukhari, kelompok jihad Uzbek yang beroperasi di Suriah dan Afghanistan, semuanya mengaku mengoperasikan kamp-kamp di Afghanistan.

Syeikh Yusuf al Qaradhawi Serukan Umat Islam untuk Dukung Muslim Aleppo

TURKI (Jurnalislam.com) – Muslim di seluruh dunia harus memberikan bantuan bagi saudara-saudara mereka di kota Aleppo Suriah yang terkepung, Syeikh Yusuf al Qaradhawi, Ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional (the International Union of Muslim Scholars) yang berbasis di Qatar mengatakan kepada Anadolu Agency dalam sebuah wawancara eksklusif, Anadolu Agency Sabtu (08/10/2016).

Al Qaradawi berbicara kepada Anadolu Agency selama kunjungannya ke kota Istanbul Turki, di mana ia berpartisipasi dalam sesi ke-26 Dewan Eropa untuk Fatwa dan Penelitian (the European Council for Fatwa and Research).

Sejak mengumumkan akhir dari gencatan senjata selama seminggu pada 19 September, rezim Nushairiyah Assad – dengan dukungan udara Rusia – membombardir wilayah Aleppo yang dikuasai oposisi, menyebabkan kematian dan cedera ratusan warga sipil.

Al-Qaradawi menyerukan umat Islam di seluruh dunia untuk “merapatkan barisan untuk membela Aleppo” dari “keganasan” rezim Syiah Suriah dan sekutunya.

“Umat [masyarakat Muslim di seluruh dunia] tidak dapat dipecah,” katanya. “Sebagai Muslim, kita semua berbagi nasib yang sama.”

“Aleppo, yang menderita dan akan terus menderita, adalah perkara paling penting di zaman kita,” tambah al-Qaradawi. “Aleppo menjadi target dari semua sisi oleh musuh-musuh Islam.”

Ulama itu melanjutkan untuk menegaskan, “Muslim tidak suka kekerasan dan pertumpahan darah, dan menahan diri menunjukkan permusuhan kecuali bagi mereka yang menyerang.”

Pasukan rezim Assad dan milisi sekutu Syiah mereka dengan didukung oleh kekuatan udara Rusia membombardir secara brutal hingga menyebabkan kematian penduduk dalam jumlah besar, kekurangan makanan dan peralatan medis yang parah, mengancam kehidupan penduduk sipil Aleppo.

Jawaban Putin untuk Obama: Rudal Berhulu Ledak Nuklir di Depan Pintu NATO

MOSKOW (Junalislam.com) – Rusia lagi-lagi mengerahkan rudal Iskander berhulu ledak nuklir ke pos Kaliningrad miliknya yang membatasi dua negara anggota NATO, Lithuania dan Rusia. Lithuania mengatakan hal itu pada hari Sabtu (08/10/2016), memperingatkan langkah Rusia tersebut bertujuan untuk menekan Barat dalam membuat konsesi atas Suriah dan Ukraina.

“Rusia mengadakan latihan militer di Kaliningrad, sekaligus penyebaran sistem rudal Iskander dan kemungkinan penggunaan rudal tersebut. Kami menyadari hal itu,” kata Menteri Luar Negeri Lithuania Linas Linkevicius kepada AFP.

Dia mengatakan rudal Iskander yang telah dimodifikasi memiliki jangkauan hingga 700 kilometer (440 mil) yang berarti mereka bisa mencapai ibukota Jerman, Berlin dari eksklave Rusia, yang terjepit di antara Polandia dan Lithuania.

Moskow juga mengirim Iskanders ke Kaliningrad pada tahun 2015 sebagai bagian dari serangkaian latihan militer raksasa di tengah ketegangan yang meningkat dengan Barat atas Ukraina.

Linkevicius mengatakan bahwa menurutnya kali ini Moskow menggunakan langkah tersebut untuk “mencari konsesi dari Barat.”

Kementerian pertahanan Rusia menepis kekhawatiran Barat atas perangkat keras mereka itu, mengatakan bahwa “rudal tersebut telah dipindahkan berkali-kali dan akan terus dipindahkan ke wilayah Kaliningrad sebagai bagian dari rencana pelatihan angkatan bersenjata Rusia.”

Kaliningrad “tidak terkecuali” juga menyelenggarakan latihan yang dilakukan di seluruh negeri, juru bicara Igor Konashenkov mengatakan dalam sebuah pernyataan email.

Menteri Pertahanan Polandia Antoni Macierewicz pada hari Sabtu di Warsawa menyebutnya sebagai “kegiatan Rusia yang sangat mengkhawatirkan,” tapi menolak mengatakan apakah dia mengetahui tentang pengerahan rudal Iskanders ke Kaliningrad.

Media Estonia melaporkan pada hari Jumat bahwa Rusia mengirim Iskanders pada sebuah kapal sipil di laut Baltik.

Linkevicius menolak untuk mengomentari rincian tersebut.

Ketegangan antara Rusia dan Barat telah meningkat ke level terburuk sejak Perang Dingin dalam beberapa tahun terakhir setelah Rusia mencaplok Krimea dari Ukraina dan meluncurkan kampanye militer di Suriah.

Sejak awal krisis Ukraina pada tahun 2014, Rusia telah meregangkan otot-otot mereka dengan serangkaian latihan perang yang melibatkan puluhan ribu pasukan di daerah perbatasan negara NATO Baltik.

NATO membalas dengan menyetujui untuk menyebarkan empat batalion di Polandia, Lithuania, Latvia dan Estonia tahun depan untuk meningkatkan sisi timurnya.

Amerika Serikat pada hari Jumat menyerukan agar Rusia dan Suriah diselidiki atas kejahatan perang karena melakukan pemboman rumah sakit di Aleppo, dan menuduh Moskow mencoba “mengganggu” pemilihan presiden Amerika dengan hacker.

500 Ulama Muslim Dunia Peringatkan Masjid Al Aqsha dalam Bahaya

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Lebih dari 500 pemimpin dan ulama dari 30 negeri-negeri Muslim bertemu di Istanbul pada hari Jumat memperingatkan bahwa Masjid Al-Aqsha, tempat suci ketiga umat Islam yang terletak di Yerusalem, berada dalam bahaya, Anadolu Agency melaporkan Sabtu (08/10/2016).

Para pemimpin agama dan politik, yang mewakili sedikitnya 50 organisasi masyarakat sipil dan partai politik di negara mereka berkumpul di Forum Opini Pemimpin Negara-Negara Islam ke-8 (the 8th Islamic Countries’ Opinion Leaders Forum), yang berjudul “Al-Aqsa dalam Bahaya” (Al-Aqsa is in Danger) di Istanbul, yang diselenggarakan oleh Pusat Hubungan Arab-Turki.

Yasin Aktay, wakil ketua Partai Partai Keadilan dan Pembangunan (AK), yang mewakili Turki saat berbicara pada pembukaan forum tersebut, mengatakan: “Jika [Masjid] Al-Aqsha dalam bahaya berarti manusia berada dalam bahaya, karena Al-Quds [Yerusalem] memberi kami sebuah contoh bagaimana orang [dari berbagai kaum] hidup berdampingan secara damai dengan cara yang ideal.”

Abderrazak Makri, ketua Gerakan Masyarakat untuk Perdamaian di Aljazair (the Movement of Society for Peace in Algeria), menegaskan: “Tidak akan ada keberhasilan di negeri Islam tanpa berjuang untuk Palestina” dan menyalahkan kekuatan asing bahwa “tidak menginginkan kita bersatu, berkembang. Itulah sebabnya kita harus bersatu berjuang untuk Masjid Al-Aqsha.”

Selama hari raya Rosh Hashanah tahun lalu, yang menandai tahun baru Yahudi, pembatasan bagi pria di bawah usia 50 tahun untuk memasuki Masjid menjadi sebab bentrokan di Jerusalem dan Tepi Barat yang diduduki.

Serangkaian hari raya sekte yahudi selama sebulan yang dimulai dengan Rosh Hashanah di masa lalu juga menyebabkan ketegangan karena banyak warga Palestina keberatan dengan meningkatnya jumlah pengunjung Yahudi yang masuk ke kompleks masjid Al-Aqsha, yang dihormati oleh Muslim,Yahudi, yang mengklaim sebagai Temple Mount.

Palestina di masa lalu melaporkan penjajah Israel mengubah status quo, berupa keseimbangan hak untuk melaksanakan sholat dan berkunjung yang menjamin hak umat Islam untuk beribadah di lokasi, melalui kebijakan bagi Al-Aqsha dan daerah sekitarnya.

Ketegangan yang disebabkan oleh pembatasan masuk ke Al-Aqsha tahun lalu diikuti oleh aksi perlawanan yang berakibat sedikitnya 235 warga Palestina gugur oleh kebrutalan pasukan zionis, sebagian besar gugur dalam bentrokan atau tuduhan melakukan serangan.