Inilah Laporan Gencatan Senjata Suriah berikut Pelanggarannya

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mendukung gencatan senjata yang saat ini berlaku di Suriah serta rencana pembicaraan damai yang akan diselenggarakan di ibukota Kazakhstan bulan depan.

Resolusi, yang disetujui Sabtu malam, menyerukan pengiriman bantuan kemanusiaan yang cepat, aman dan tanpa hambatan di seluruh Suriah.

Rusia, yang mendukung rezim Suriah Bashar al-Assad, menengahi gencatan senjata dengan Turki awal pekan ini dengan harapan membuka jalan bagi perundingan perdamaian di Kazakhstan di tahun baru.

Gencatan senjata menyerukan negosiasi solusi politik untuk mengakhiri konflik yang telah menewaskan lebih dari 400.000 orang dan memaksa jutaan orang lainnya melarikan diri.

Vitaly Churkin, Duta Besar Rusia untuk PBB, memenuhi upaya untuk mengakhiri tahun dengan perjanjian internasional untuk Suriah dan berterima kasih kepada Turki atas kontribusi substantifnya.

“Sangat penting bahwa Dewan Keamanan mendukung upaya ini dengan Rusia dan Turki,” katanya.

“Mendukung resolusi berarti bahwa jika kita semua berusaha bersama-sama mencapai tujuan tertentu daripada mencoba untuk mendapatkan keuntungan, maka kita dapat membuat keputusan penting”.

Namun, dalam sambutannya setelah pemungutan suara, beberapa delegasi menyuarakan keprihatinan mereka, mengatakan perjanjian tersebut mengandung daerah abu-abu dan bahwa pelaksanaannya bersifat rapuh.

Reporter Al Jazeera Mike Hanna, melaporkan dari markas besar PBB di New York City, Sabtu (31/12/2016), mengatakan Rusia terpaksa menerima sejumlah perubahan agar resolusi tercapai.

“Kunci di antara mereka adalah bahwa gencatan senjata yang ditengahi Rusia-Turki adalah bagian dari inisiatif PBB yang lebih luas yang bertujuan memulihkan dialog politik,” katanya.

“Rusia telah menegaskan bahwa resolusi ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan tekanan PBB untuk memulai pembicaraan di Jenewa.”

Staffan de Mistura, utusan khusus PBB untuk Suriah, mengatakan ia bermaksud untuk mempertemukan perwakilan dari pihak yang bertikai untuk menghadiri pembicaraan di Jenewa setelah 8 Februari.

Gencatan senjata sebagian besar tetap utuh pada hari Sabtu meskipun pasukan oposisi melaporkan pasukan loyalis Assad menyerang 33 lokasi di wilayahnya.

Kelompok oposisi mengancam untuk meninggalkan gencatan senjata jika pemerintah terus melakukan serangan ke wilayah yang berada di bawah kendali mereka.

Pemimpin oposisi mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pemerintah Assad mencoba mengambil keuntungan dari situasi untuk lebih memperluas wilayahnya dengan serangan-serangan.

Sedikitnya 10 serangan udara menghantam desa dan kota yang dikuasai oposisi di lembah strategis Wadi Barada di dekat Damaskus, kata aktivis.

Reporter Al Jazeera Hashem Ahelbarra, melaporkan dari Gaziantep Turki dekat perbatasan Suriah, bahwa saat ini adalah momen yang sulit untuk gencatan senjata.

“Mereka [kelompok oposisi Suriah] telah mengirim seruan mendesak kepada PBB dan Turki, yang merupakan pemain kunci dalam gencatan senjata, untuk bernegosiasi dengan Rusia dan mencoba menghentikan serangan rezim Suriah, memperingatkan bahwa jika serangan ini terus berlanjut, tidak akan ada pilihan selain melanjutkan pertempuran,” katanya.

“Persyaratan gencatan senjata bersikeras bahwa saat gencatan senjata mulai berlaku, seharusnya tidak ada operasi militer, tidak ada pihak yang mengambil keuntungan dari gencatan senjata. Dan oposisi Suriah membutuhkan jaminan bahwa senjata tidak lagi bersuara di Suriah.”

Perang Suriah dimulai saat terjadi aksi unjuk rasa menentang Assad pada Maret 2011, tapi dengan cepat berkembang menjadi konflik bersenjata penuh.

Menghitung korban tewas yang tepat adalah sulit, sebagian karena penghilangan paksa puluhan ribu warga Suriah yang nasibnya tetap tidak diketahui.

Hampir 11 juta warga Suriah – separuh penduduk sebelum perang – telah mengungsi dari rumah mereka.

Bom Kembar di Pasar Baghdad Bunuh 21 Orang

IRAK (Jurnalislam.com) – Bom kembar menewaskan sedikitnya 21 orang dan melukai puluhan lainnya di ibukota Irak, Baghdad, Sabtu (31/12/2016), menurut seorang petugas polisi setempat.

Dua pembom meledakkan diri di dekat toko-toko suku cadang di pasar Al-Sinak di Baghdad tengah, Ahmed Khalaf mengatakan kepada Anadolu Agency, Sabtu.

Dia mengatakan 22 orang terluka dalam serangan itu, memperkirakan jumlah korban tewas bertambah karena banyak korban yang cedera berada dalam kondisi serius.

Pasukan tentara Irak mengepung pasar untuk mengantisipasi serangan lebih lanjut.

Tidak ada yang mengaku bertanggung jawab atas pemboman tersebut.

Jaysh al Islam Gagalkan Serangan Rezim Assad di Rif Dimashq, 2 Kendaraan Militer Hancur

DAMASKUS (Jurnalislam.com)Jaysh al Islam pada Jumat malam mengumumkan bahwa pejuangnya menggagalkan serangan pasukan rezim Syiah Assad yang mencoba maju ke wilayah Ghouta timur di provinsi Rif Dimashq, lansir ElDorar AlShamia, Jumat (30/12/2016)

Menurut Kantor Media Jaysh al Islam, pertempuran sengit meletus di dua titik jalan raya Damaskus-Homs dan daerah Medaani, dan berlangsung selama beberapa jam, di mana pasukan Nushairiyah Assad menggunakan senjata berat, rudal dan artileri. Dua kendaraan militer akhirnya hancur dan beberapa pasukan penyerang rezim tewas.

Kantor Media menambahkan bahwa pasukan rezim Assad menargetkan garis depan “al-Karem” di jalan raya internasional dengan lebih dari 100 peluru artileri dan mortir, melanggar perjanjian gencatan senjata yang diumumkan Kamis malam secara nasional.

Rezim Bashar Assad melanggar perjanjian gencatan senjata, terutama di pedesaan Damaskus, meskipun Rusia memberikan jaminan, melanggar syarat perjanjian di desa-desa daerah Wadi Barada dan pedesaan Hama.

Menyoalkan Gencatan Senjata, JFS: Solusi Politik Seperti Itu Hanya Melahirkan Rezim Kriminal

SURIAH (Jurnalislam.com)Jabhat Fath al Syam pada hari Jumat mengeluarkan pernyataan mengenai perjanjian gencatan senjata yang diumumkan kemarin kepada seluruh oposisi di wilayah Suriah tidak termasuk Jabhat Fath al Syam (JFS) beserta koalisinya dan kelompok Islamic State (IS), ElDorar AlShamia melaporkan, Jumat (30/12/2016)

Juru bicara resmi untuk Jabhat Fath al Syam, Syeikh Hossam El-Shafei, mengatakan bahwa solusi politik, yang tercantum dalam isi perjanjian gencatan senjata akan kembali menghasilkan rezim seperti Bashar al-Assad.

“Sudah jelas bagi mereka yang hadir dan menandatangani, bahwa walaupun tidak ada kata-kata yang mengacu nasib al-Assad, tetapi yang disebut “solusi politik” dalam perjanjian ini sama dengan mereproduksi rezim kriminal,” tegas Hossam El-Shafei.

El Shafei menambahkan bahwa Jabhat Fath al Syam tidak menghadiri pertemuan untuk bernegosiasi, dan belum menandatangani perjanjian, yang salah satu penjaminnya merupakan penjajah (penghancur) Suriah.

“Solusi di Suriah hanya untuk menggulingkan rezim Bashar al-Assad secara militer, dan solusi politik seperti itu adalah pengkhianatan terhadap penumpahan darah dan sama dengan pembunuhan revolusi,” ElShafei memperingatkan.

Ulama adalah Pemimpin Umat Bukan Pelayan Penguasa

Umat Islam, yang kini telah sampai pada perjalanan yang demikian panjang jarak antara mereka dengan zaman risalah semakin jauh. Jarak antara mereka dengan zaman keemasan umat ini telah demikian panjang, sehingga kualitas mereka dengan kualitas umat yang hidup di masa keemasan itu pun demikian jauh berbeda. Kebodohan demikian merajalela, para ulama Rabbani semakin langka, dan semakin banyaknya orang bodoh yang berambisi untuk menjadi ulama. Keadaan ini merupakan peluang besar bagi pelaku kesesatan untuk menjerumuskan umat ke dalam kebinasaan.

Ulama’ yang hari ini menjadi panutan umat membimbing manusia kembali kepada jalan Allah Swt mendapatkan perlawanan dari musuh-musuh Islam, Mereka menggelar permainan cantik, saling mengoper kesesatan. Membuat opini bahwa ulama merusak Negara dan memecah persatuan bangsa. Kaum muslimin yang mayoritas kini berada dalam kondisi terlena, menjadi mangsa yang empuk buat mereka. Satu demi satu sampai akhirnya menjadi banyak yang gugur dalam kehinaan. Cinta kepada dunia dan takut akan kematian

Fungsi ulama’ sebagai pewaris nabi hilang ditengah-tengah umat yang semakin haus akan bimbingan para ulama’ yang lurus untuk kembali kepada syariat Islam, justru mendapatkan seorang ulama yang menjadi bagian dari kekuasaan untuk memaksakan kehendak para penguasa menentang berlakunya syariat Allah Azza wajalla, musuh-musuh Islam terus menggunakan cara yang sangat halus dengan melakukan pendekatan terhadap ulama demi menggapai keinginan mereka dengan mengadu domba umat Islam bahkan menjauhkan dari ajaran yang benar sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya, Allah Swt berfirman:

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَٰهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُۥٓ أَخْلَدَ إِلَى ٱلْأَرْضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ ۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلْقَوْمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا ۚ فَٱقْصُصِ ٱلْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS Al A’raf:176)

Ibnu Katsir mengatakan: Allah ingin mengangkat derajat seorang ulama’ dan memuliakanya tetapi dia lebih memilih dunia yang hina, Malik ibnu Dinar mengatakan bahwa orang itu adalah salah seorang ulama Bani Israil, terkenal sebagai orang yang mustajab doanya, mereka datang kepadanya di saat-saat kesulitan. Kemudian Nabi Musa a.s. mengutusnya ke raja negeri Madyan untuk menyerukan agar menyembah Allah. Tetapi Raja Madyan memberinya sebagian dari wilayah kekuasa¬annya dan memberinya banyak hadiah. Akhirnya ia mengikuti agama raja dan meninggalkan agama Nabi Musa a.s. dan meninggal dalam keadaan kafir. (Tafsir ibnu Katsir)

Di tengah-tengah kehidupan yang diatur dengan aturan-aturan sekuler dan bukan aturan-aturan Islam Munculah sosok ulama’ yang menjadi pelayan bagi umat (Khadimul Ummah) dan ada juga ulama yang menjadi pelayan untuk penguasa (Khadimul hukumah), popularitas mereka sebagian karena ketokohan mereka yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan tingkat ketakwaan ataupun keilmuan Islam.

Seorang ulama menurut pandangan Allah Swt adalah dia senantiasa menegakkan kewajiban dan melarang kemungkaran. Mereka tidak menyembunyikan kebenaran dan memutar balikkan syariat Islam. tidak mengkaburkan ayat-ayat Allah.

Allah Swt berfirman:

“Sesungguhnya mereka yang menyembunyikan keterangan (yang jelas) dan petunjuk yang telah Kami turunkan, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Qur’an, mereka itu dilaknat oleh Allah dan oleh semua mahluk yang dapat melaknat”. (QS Al-Baqarah : 159)

Seorang Ulama dia akan senantiasa takut kepada Allah dalam segala keadaan serta senantiasa berpegang kepada aturan dan melaksanakan syariat islam Allah Swt berfirman:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba hamba-Nya hanyalah para ulama. (QS Fathir: 28)

Antara Ulama’ dan Penguasa

“Diantara kebiasaan para ulama terdahulu adalah mengevaluasi dan menjaga penguasa untuk menerapkan hukum Allah. Mereka mengikhlaskan niat dan fatwa mereka membekas di hati umat. Sebaliknya sekarang, terdapat penguasa yang tamak, namun ulama hanya diam. Andai mereka berbicara, pernyataan yang keluar berbeda dengan perbuatannya sehingga tidak mencapai keberhasilan. Kerusakan masyarakat itu adalah akibat kerusakan penguasa dan kerusakan penguasa itu adalah akibat kerusakan ulama. Adapun kerusakan ulama adalah akibat tamak akan harta,pangkat dan juga jabatan”. (Imam al-Ghazali dalam kitab ihya’ ulumuddin)

Jika keadaan para ulama pada zaman Imam al-Ghazali demikian, tidaklah mengherankan jika dewasa ini keadaannya lebih parah, apa lagi sejak runtuhnya Khilafah Islamiyah dan umat islam hari ini dibawah penguasa yang menerapkan hukum positif hukum buatan manusia sehingga menuntut kita umat islam untuk berjuang menegakkan kepemimpinan menurut syariat kembali kepada Alquran dan Assunnah

Rasulullah Saw bersabda:

Jihad yang paling utama adalah menyatakan keadilan (menyampaikan kebenaran) di hadapan penguasa jahat. (HR. Abu Dawud dan At-Tirmizi)

Al-Imam Abul-Hasan Al-Mawardi (364-450 H.)berkata:

“Imamah (kepemimpinan) dibentuk untuk menggantikan posisi khilafah nubuwwah guna memelihara agama dan mengatur dunia. Mengangkat orang untuk melaksanakan tugas imamah di kalangan umat Islam adalah wajib menurut ijma’ ulama, meskipun AI-Asham menyeIisihi mereka. Namun mereka berbeda pendapat mengenai kewajibannya. Apakah imamah diwajibkan secara akaI atau secara syari’at? Sekelompok ulama berpendapat: lmamah wajib secara akal, karena sesuai dengan tabiat orang-orang berakaI, yang menyerahkan urusan kepada seorang pemimpin yang bisa mencegah mereka dari tindakan saling mendzaIimi.

Sudah waktunya Kepemimpinan umat hari ini idealnya dipegang oleh para ulama yang bertakwa. karena, para ulama adalah pewaris para nabi (waratsah al-anbiya’), sementara para nabi khususnya Nabi Muhammad Saw adalah pemimpin umat. Sebagai pemimpin umat, Nabi Muhammad Saw membimbing umat sekaligus mengurus mereka dengan wahyu Allah Swt. Nabi Saw bukan saja menjalankan fungsi kenabian (nubuwwah), yakni menyampaikan risalah (tabligh ar-risalah), tetapi sekaligus juga menjalankan fungsi kepemimpinan (ri’ayah), yakni mengurus umat dengan menerapkan syariah (tanfidz ar-risalah) atas mereka. Kepemimpinan atas umat setelah Nabi Muhammad wafat diteruskan oleh para khalifah. Dalam sejarah Islam yang panjang, para khalifah utamanya Khulafaur Rasyidin adalah para ulama, bahkan mereka adalah para ulama mujtahid. Umumnya para khalifah pada masa lalu bukan hanya imam (pemimpin) dalam urusan kenegaraan, tetapi sekaligus juga imam dalam urusan keagamaan

Mengapa ulama harus menjadi pemimpin karena Merekalah orang-orang yang paling banyak membaca, memahami dan menguasai Alquran. Merekalah orang-orang yang paling faqih dalam ilmu-ilmu agama. Merekalah yang diharapkan bisa mengurus negara dan umat berdasarkan Alquran dan as-Sunnah. Dengan kata lain, yang mesti menjadi pemimpin umat sejatinya adalah ulama yang melayani umat (khadimul ummah), yakni pemimpin yang alim yang mengamalkan ilmunya, bukan ulama penguasa (khadimul hukumah), yakni ulama yang biasa menjilat para penguasa bukan pula penguasa yang bukan ulama.

Wallahua’lam bisshowab

 

Ditulis oleh: Hamzah Baya S.Pd.I

 

Ancaman Allah Swt Menjadikan Orang Kafir Sebagai Pemimpin

Islam mengakui kebebasan setiap manusia untuk memilih agamanya dan mengajarkan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama, namun dengan konsekuensi bahwa kelak di akherat setiap manusia akan mempertanggung jawabkan pilihannya tersebut di hadapan Allah Swt pencipta alam semesta ini.
Tentunya seorang mukmin harus punya standar, bagaimana bersikap terhadap orang kafir

Di dalam Alqur’an dengan tegas, Allah Swt melarang kaum mukmin untuk menjadikan orang kafir sebagai wali, pemimpin ataupun orang kepercayaan, yang dikarenakan dikhawatirkan mereka akan berkhianat dan membuat kerusakan dengan berbuat dosa di muka bumi.

Allah Swt berfirman:

“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).(QS Ali Imran : 28)

Mengapa Allah mewajibkan kita memilih pemimpin seorang Muslim?

Bahwa dalam pandangan Allah Swt seorang mukmin lebih bisa dipercaya dalam mengemban amanah , karena orang Mukmin dijamin oleh Allah Swt menjadi umat pilihan, yaitu umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf (baik) dan mencegah dari yang munkar (kejahatan),

Sebagaimana Allah Swt berfirman:

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imran : 104)

Allah sangat melarang keras mengambil Pemimpin dari kalangan orang kafir.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS Al Maidah : 51).

Apabila perintah Allah untuk memilih pemimpin dari kalangan orang beriman ini tidak dilaksanakan maka akan terjadi kekacauan di muka bumi karena penghianatan seorang pemimpin terhadap suatu amanah yang tidak ditunaikan dan tidak menegakkan keadilan dikalangan kaum muslimin , tentu saja kita ikut bertanggung jawab terhadap dosa dan kekacauan yang ditimbulkan, karena pada dasarnya, apabila ada kemungkaran sedang berlangsung, maka wajib bagi setiap muslim untuk mencegahnya sesuai dengan kemampuan.

Allah Swt berfirman :

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai orang beriman) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (QS Al-Anfal :73)

Sebagai seorang muslim tentu kita hanya mengikuti arahan dari Allah dan RasulNya sebagai bentuk ketaatan kita dan harapan kelak di masukkan Allah bersama dengan Rasulullah, Para sahabat dan pengikutnya di Jannah.

Pantaskah seorang muslim mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan Allah Swt dengan mengatakan:

“kepemimpina tidak ada kaitanya dengan Agama, Dan laki laki, perempuan, sama selama bisa mimpin. Entah itu di pimpin wong kristen atau wong Hindu”.

Ibnu Katsir menjelaskan surat Al Maidah ayat 51 bahwa Allah mengancam dan memperingatkan bagi orang mu’min yang melanggar larangan ini Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim“” (Tafsir Ibni Katsir, 3/132).

Sangat jelas bahwa orang yang mengatakan seperti itu adalah masuk ke dalam golongan orang kafir yang memusuhi islam, tidak senang dengan tegaknya syariat dan mengikuti hawa nafsu saja karena menginginkan kesenangan dunia sehingga kebablasan dalam memahami toleransi dengan mengorbankan prinsip-prinsip seorang muslim dan mengorbankan aqidahnya.maka sangat Tidak pantas mengambil ilmu darinya karena akan bisa merusak pemahaman dan aqidah umat islam serta menjauhkan dari apa yang di ajarkan Allah dan Rasulnya.

Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi auliya bagimu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman” (QS. Al Maidah: 57)

As Sa’di menjelaskan: “Allah melarang hamba-Nya yang beriman untuk menjadikan ahlul kitab yaitu Yahudi dan Nasrani dan juga orang kafir lainnya sebagai auliya yang dicintai dan yang diserahkan loyalitas padanya. Juga larangan memaparkan kepada mereka rahasia-rahasia kaum mu’minin juga larangan meminta tolong pada mereka pada sebagian urusan yang bisa membahayakan kaum muslimin. Ayat ini juga menunjukkan bahwa jika pada diri seseorang itu masih ada iman, maka konsekuensinya ia wajib meninggalkan loyalitas kepada orang kafir. Dan menghasung mereka untuk memerangi orang kafir” (Tafsir As Sa’di, 236)

Wallahua’lam bisshowab

Ditulis oleh: Hamzah Baya S.Pd.I.

Sumber:
– Tafsir ibnu Katsir
– Tafsir As Sa’di

Aktivis Suriah Serukan Kesatuan Faksi-faksi Militer untuk Revolusi Total

SURIAH (jurnalislam.com) – Aktivis menyerukan unjuk rasa besok (hari Jumat, 30/12/2016) di seluruh daerah Suriah yang telah dibebaskan, membawa slogan “Revolusi Membawa Kita Bersama” demi mendesak penyatuan upaya faksi-faksi militer dan komitmen terhadap tujuan dan prinsip-prinsip revolusi Suriah.

“Ahmed Abu Azzam,” salah satu penyelenggara aksi menekankan dalam komentar untuk jaringan berita ElDorar, Kamis (29/12/2016), bahwa tujuan peluncuran slogan ini pada aksi unjuk rasa besok adalah untuk menyampaikan pesan kepada orang-orang Suriah yang bertahan, bahwa revolusioner harus terjadi di segala bidang, serta menegaskan kembali tujuan revolusi.

Unjuk rasa ini juga bertujuan untuk menyampaikan pesan kepada para pemimpin faksi bahwa revolusi lebih besar daripada faksi dan anggota faksi yang muncul sebagai hasil revolusi rakyat, sehingga para pengunjuk rasa besok (jumat) berencana untuk menyampaikan pesan kepada orang-orang terhormat di dunia, bahwa rakyat Suriah berada dalam revolusi hak melawan tirani rezim Assad, dan pesan lain disampaikan kepada agresor (pendukung rezim Suriah dan sekutunya) bahwa tindakan kriminal mereka akan meningkatkan desakan rakyat.

Revolusi Suriah dimulai sejak diluncurkan dengan partisipasi dari sejumlah besar orang dalam aksi unjuk rasa, selama tahun pertama, dimana beberapa peserta aksi hari Jumat mencapai hingga dua juta orang, dengan momentum paling besar terjadi di kota Hama dan provinsi Idlib, Rif Dimashq dan Daraa.

Hadang Pergerakan Pasukan Assad, Faksi Suriah Selatan Bentuk Aliansi Pertahanan Bersama

DAMASKUS (Jurnalislam.com) – Aliansi Pertahanan Bersama (Joint Defense Alliance) yang baru terbentuk di Suriah selatan mengumumkan akan memulai serangan pertama untuk mencegah pasukan rezim Assad dan kejahatan milisinya yang terbaru yaitu memotong sumber daya air untuk kota Damaskus dan mengancam akan menggempur daerah Wadi Barada.

Koresponden Eldorar Alshamia, Kamis (29/12/2016), mengatakan bahwa pasukan revolusioner dan faksi militer di Qalamon timur yang merupakan komponen aliansi akan menargetkan kabel koaksial dan optik, jalur gas, energi dan telekomunikasi milik rezim Assad yang memasok ke bandara militer.

Pasukan mengkonfirmasi dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis akan menghentikan semua bentuk negosiasi dan komunikasi dengan rezim Syiah Nushairiyah Assad dan bersumpah untuk mengejutkan rezim Assad.

Beberapa kota di Pedesaan Damaskus beberapa hari lalu mengumumkan pembentukan komando militer terpadu, dengan nama Aliansi Pertahanan Bersama (Joint Defense Alliance), demi mencapai beberapa tujuan penting untuk menghentikan pemindahan paksa (pengusiran) dan berjaga-jaga di sekitar desa Wadi Barada yang terkena ancaman dan pemboman oleh rezim Assad.

Serangan Mortir Hantam Kedutaan Rusia di Damaskus

MOSKOW (Jurnalislam.com) – Sebuah mortir menghantam kompleks kedutaan Rusia di ibukota Damaskus Suriah pada hari Kamis (29/12/2016).

“Tidak ada yang terluka setelah bom mortir menghantam kedutaan Rusia di Damaskus pada Kamis sore,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova, lansir World Bulletin, Kamis.

Zakharova mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mortir mendarat di dekat pintu masuk bagian konsuler.

“Ledakan itu menyebabkan kerusakan material tapi tidak ada yang terluka,” katanya.

Zakharova mengatakan serangan lain terhadap misi diplomatik Rusia “tidak bisa diterima” dan pantas mendapatkan kutukan “kuat”.

“Upaya tersebut untuk mengganggu upaya yang bertujuan memastikan gencatan senjata di Suriah, harus dicegah,” tambahnya.

Kedutaan di Damaskus ditargetkan dua kali pada hari Rabu. Ini bukan pertama kalinya kedutaan diserang. Pada tanggal 28 Oktober, dua mortir juga telah menhantam kompleks kedutaan.

Diketahui Rusia adalah partner bagi rezim Bashar Assad dalam serangan udara brutal dibanyak lokasi di Suriah, khusunya di Aleppo, hingga mengakibatkan ribuan warga sipil tewas dan hancurnya infrastruktur dalam jumlah besar.

 

Turki: AS Terbukti Berkali-kali Kirim Senjata ke Kelompok Teroris di Suriah

TURKI (Jurnalislam.com) – Amerika Serikat telah mengirimkan pasokan senjata ke milisi Partai Uni Demokrat (PYD), afiliasi kelompok teror PKK di Suriah, berkali-kali di tahun 2016. Tapi hanya beberapa dari pengiriman senjata ini yang bisa dipastikan kebenarannya, World Bulletin melaporkan, Kamis (29/12/2016)..

Pada tanggal 7 April, militer AS telah mengirim pasokan pertama untuk kelompok teror ini di pangkalan udara Rumeylan di kota Ayn al-Arab timur laut Suriah, menurut seorang koresponden Anadolu Agency di provinsi Al-Hasakah.

Sejumlah besar amunisi dibawa ke pangkalan dengan pesawat kargo AS dari kota Erbil Irak utara.

Sumber-sumber lokal melaporkan bahwa Pentagon terus mengirimkan pasokan senjata ke pangkalan udara tersebut, yang didirikan oleh tentara AS di Oktober 2015.

Selama operasi musim panas untuk merebut kota lain di utara Suriah, Manbij, AS telah mempercepat pengiriman senjata di pantai barat Sungai Efrat.

Bahkan sebelum operasi yang sedang berlangsung di Raqqa, yang diluncurkan beberapa hari sebelum pemilihan presiden 8 November di AS, kelompok teror PYD menerima sejumlah besar senjata termasuk senjata berat.

Dalam dua pekan terakhir, pesawat kargo AS telah tiga kali mengirimkan senjata di pangkalan udara Rumeylan: yaitu pada 13, 23 dan 27 Desember.

Pasokan terakhir adalah yang terbesar.

Sementara itu, puluhan truk sarat senjata berat telah memasuki Suriah dari kota Erbil Irak melalui perbatasan Simarka.

Meskipun terbukti semua mobilitas tersebut di darat, pejabat AS terus menolak tuduhan dukungan senjata Pentagon bagi teroris PYD / PKK.

Duta besar AS untuk Turki John R. Bass mengatakan dalam sebuah wawancara pada 23 Desember bahwa negaranya tidak mendukung mereka secara langsung.

“Kami tidak secara langsung membantu PYD, tidak dengan senjata atau amunisi,” tegasnya.

Tapi hanya beberapa jam setelah pernyataannya, militer AS melakukan lagi pengiriman baru untuk kelompok teror tersebut.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Causoglu pada hari Kamis mengecam duta besar AS dan mengatakan bahwa AS “jelas diketahui” telah memasok senjata bagi cabang PKK Suriah tersebut.

“Sampai hari ini, AS telah memberikan senjata kepada YPG. Titik,” katanya dalam sebuah reaksi terhadap pernyataan Bass.

“AS telah memasok senjata bagi PYD maupun YPG. Itu sangat jelas. Baik mereka [AS] maupun kami tahu dengan baik bahwa senjata dipasok dengan alasan memerangi IS,” kata Cavusoglu.

YPG adalah sayap bersenjata dari – yaitu cabang Suriah dari milisi komunis bersenjata PKK, yang ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Turki dan Uni Eropa.

Menurut Turki, YPG dan PYD adalah organisasi teroris juga, karena mereka adalah afiliasi dari PKK.

Namun, AS menganggap YPG / PYD sebagai sebuah “partner terpercaya” di medan tempur Suriah dan terus mendukung mereka di lapangan.

Kelompok teroris komunis tersebut saat ini beroperasi di Suriah utara dan mengontrol sebagian besar wilayah dekat perbatasan Turki.