Persis: Tuntutan JPU Sakiti Hati Umat Islam

PASURUAN (Jurnalislam.com) – Anggota Dewan Hisbah PP Persatuan Islam (Persis), Ustadz Salam Rosyad menilai, tuntutan JPU terhadap Ahok menyakiti hati umat Islam dan tidak adil.

“Tuntutan jaksa tersebut sangat menyakiti hati umat Islam. Disamping itu tuntutan tersebut sangat tidak adil kalau kita melihat pada kasus-kasus penistaan agama lainnya,” katanya kepada Jurniscom, Jum’at (21/4/2017).

Untuk itu, ia menyeru umat Islam untuk tetap menuntut keadilan hingga penista agama dihukum seberat-beratnya.

“Kalau tidak, maka umat Islam harus mencari jalan untuk menghukum si penista agama Islam itu dengan hukum Islam,” ucap dia.

“Harus ada yang berani melaksanakan hukuman bagi penista Islam yang tersebut dalan Q.S.al-Maidah/5: 33,” tegasnya.

Terdakwa kasus penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) hanya dituntut 1 tahun penjara dengan masa percobaan selama tahun. Sedangkan sesuai pasal 156a yang didakwakan, hukuman penistaan agama maksimal 5 tahun penjara.

Reporter: Yan Aditya

Tuntutan Mengecewakan, Aliansi Advokat Muslim Akan Laporkan JPU ke Kejaksaan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Aliansi Advokat Muslim NKRI, Abdullah Alkatiri mengaku kecewa atas tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) kepada terdakwa kasus penistaan agama, Ahok. Pihaknya akan melaporkan JPU kepada komisi kejaksaan.

“Kita akan melakukan laporan penuntutan sambil melihat keputusan hakim. Kami akan melaporkan JPU
kepada kejaksaan. Kami heran baru kali ini tuntutan seperti pembelaan,” katanya kepada wartawan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurut Alkatiri, pidato Ahok di Kepulauan Seribu telah memenuhi unsur penodaan agama dalam pasal 156a yang seharusnya dihukum maksimal 5 tahun penjara.

“Seharusnya Ahok dihukum secara maksimal selama 5tahun 156a,” ujarnya.

Selain itu, hal lain yang mendorong Alkatiri untuk melaporkan JPU ke Komjak adalah soal penundaan pembacaan tuntutan. Dia melihat hal itu sebagai kejanggalan.

“Kalau dia komit tanggal 12 (April) kemarin dia memberhentikan, dengan penundaan ini di antaranya untuk itu. Pembacaan tuntutan Ini pembacaan kesalahan, bukan seolah-olah ini pembacaan pledoi,” ucapnya.

Alkitiri juga heran dengan tuntutan JPU yang justru meringankan terdakwa. Tuntutan JPU terkesan seperti pledoi.

“Ini pembacaan tuntutan harusnya
menyampaikan kesalahan yang memberatkan dia. Tapi, ini membaca hal menguntungkan dia yang
terkesan ini pembacaan pledoi yang isinya berupa pembelaan,” tegasnya.

Sebelumnya, Ahok dituntut hukuman 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun. Jaksa menilai Ahok terbukti menyatakan perasaan kebencian.

Reporter: M Firdaus

Open Invitation for Islamic Media Sections, Ministry of Religious Affairs Holds a Literary Standard

JAKARTA (Jurnalislam.com) – The Directorate General of Community Guidance (Bimas) of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia together with the Indonesian Scholars Council (MUI) held a Workshop on the preparation of Islamic Media Literacy Standard Online at Hotel Lumire Jakarta, from 20 to 22 April 2017.

Secretary of the Directorate General of Islamic Guidance, Muhammadiyah Amin said this event as an effort Kemenag aims to establish partnerships with Islamic media. “Islamic media has an important role to play in establising such partnerships.

“Especiall” (the Islamic media) is expected to help clear up hoax/fake news that is now scattered all across the islamic community, “said Secretary of the Directorate General of Islamic Religious Affairs Kemenag, Muhammadiyah Amin in Jakarta, Thursday (20/4/2017).

As a strategic partner of Ministry of Religious Affairs, Amin continued, Islamic media is expected to improve the quality of news that is distributed to the people. A number of Islamic media attended the event, including Jurnalilslam.com, TvMu. Muhammadiyah.or.id, Sound-islam.com, Dakta.com, Voa Islam, Gema Islam, Panjima.com, Islamedia.com, Dakwatuna.com, Forum Circumference Pen, Arrahmah.com, Mirajnews, etc.

Reporter: Ibnu Fariid

Translator: Taznim

Bagir Manan: The Press As a Solution For The Islamic Umat

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Former Chairman of the Press Council, Prof. Bagir Manan, has said the Islamic press should be a solution for the people. Becaus one of the functions of ‘the press’ in Indonesia is required for citizens welfare.

“I urge the Islamic press to have real and idealistic soludtions that ensures goodness,” he said in the Workshop on Islamic Media Literacy Standards Online at Hotel Lumire, Jakarta, Friday (21/4/2017). That according to him, the Islamic media has not yet shown the true face of Islam and it is still difficult to convince people that Islam is a place of goodness. This is because, the Islamic media is still immature in understanding certain issues.

The Islamic press in addition to presenting reliable reports, it is also imperative to be able to improve the state of the ummah. “The Islamic press is an important part of improving the quality of life for Muslims,” said the former Chief Justice of the Supreme Court.

Prof. Bagir Manan attended as a speaker on the second day of standard Worshop event ‘Literasi Media Islam’ which was orginised by Bimas Kemenag.

Reporter: Ibnu Farid

Translator: Taznim

Pemuka Syiah Ekstrem Iran Akui Gunakan Houthi untuk Serang Arab

SAUDI (Jurnalislam.com) – Media Iran dan media internasional menerbitkan sebuah video klip dari seorang pemuka Syiah ekstrem Iran di mana dia mengindikasikan bahwa Iran mendukung milisi Syiah Houthi dengan tujuan menyerang Arab Saudi, Al Arabiya News Channel melaporkan, Kamis (20/4/2017).

Mehdi Taeb, kepala Markas Strategis Ammar (the Ammar Strategic Base) – sebuah organisasi yang didirikan untuk bertempur dalam “perang lunak” melawan Iran dan merupakan sebuah kelompok pelobi yang dekat dengan pemimpin tertinggi Syiah Iran Ali Khamenei – dikutip saat mengatakan bahwa “pengiriman peluru kendali Iran ke Houthi dilakukan secara bertahap oleh Garda Revolusi dengan dukungan dan bantuan angkatan laut Iran.”

Dalam sebuah pidato yang dipublikasikan di sebuah situs berita lokal, Taeb mengarahkan jari-jarinya ke Presiden Iran Hassan Rowhani dan menuduhnya menghalangi pengiriman senjata ke Houthi dengan mengatakan: “Tiba-tiba, kami menerima perintah untuk berhenti melakukan pengiriman, karena orang-orang Amerika akan menangguhkan Negosiasi mengenai nuklir jika kita terus memberikan senjata bagi Houthi.”

Taeb yang berbicara dengan anggota Ammar Foundation bersama dengan sejumlah perwira dan anggota Garda Revolusi mengklaim bahwa “perundingan nuklir antara Teheran dan enam negara besar telah tiga kali menghalangi upaya penyediaan permukaan rudal surface-to-surface dari Iran ke Houthi.”

Bagian dari rudal yang dicegat dilaporkan diluncurkan oleh milisi Houthi yang menargetkan Meccah tahun lalu. (Al Arabiya)

Yayasan Ammar (the Ammar Foundation) adalah rekan dinas intelijen Syiah, IRGC, yang dipimpin oleh Hussein Taeb, saudara laki-laki Mehdi, yang merupakan institusi paralel ke kementerian intelijen Iran dan memiliki peran penting dalam penindasan berdarah terhadap demonstrasi Gerakan Hijau (the Green Movement) di tahun 2009.

“Perjanjian nuklir Rowhani telah menghalangi jalan bantuan militer Iran ke Houthi di Yaman,” Mehdi mengatakan, menambahkan bahwa “Khamenei adalah orang yang memerintahkan penempatan angkatan laut Iran di Bab al-Mandeb untuk memfasilitasi pasokan senjata tanpa diketahui siapapun.”

Ini bukan pertama kalinya pejabat Iran mengakui telah menargetkan Arab Saudi dengan mendukung milisi Syiah Houthi.

Iran telah menyediakan sejumlah rudal jarak pendek dan jarak jauh kepada Houthi untuk menyerang sasaran di Arab Saudi. Pertahanan udara Saudi telah menggagalkan upaya mereka terhadap kerajaan, dan media resmi Iran mengakui telah memasok milisi dan pemberontak Yaman dengan rudal-rudal tersebut.

Bantuan Iran ke Houthi tidak hanya terbatas pada rudal saja. Koalisi Arab dan pasukan internasional juga menyita ribuan senjata berat dan ringan, bahan peledak, granat dan jenis persenjataan lainnya dalam waktu dua tahun setelah dimulainya the Decisive Storm Operation.

 

Saksi Fakta Tegaskan LUIS Tak Merusak Kafe Sosial Kitchen

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Sidang lanjutan kasus Sosial Kitchen, Solo yang menjerat tokoh aktivis pemberantasan maksiat, Laskar Umat Islam Solo (LUIS) kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Kamis (20/4/2017). Agenda sidang sedianya menghadirkan saksi fakta dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang pada sebelumnya sempat tertunda.

Masing-masing saksi yang terdiri dari tujuh orang mengutarakan kesaksiannya. Namun, dari semua kesaksian dalam persidangan, para saksi tidak melihat pengurus LUIS melakukan penganiayaan maupun pengrusakan seperti yang didakwakan JPU.

“Saya melihat pak Edi, Pak Joko, Pak Endro berdiri mondar-mandir tidak melakukan apapun dan tidak bawa alat apapun,” ucap Budi Cahyono, seorang polisi yang menjadi salah satu saksi dalam persidangan.

Senada dengan saksi lainnya, Kristianto, polisi, hanya melihat Edi Lukito (ketua LUIS) sedang menelepon dan tidak tidak melihat apapun yang dilakukan oleh para pengurus LUIS. “Saya melihat saudara Edi Lukito sedang telpon,” ucapnya menguatkan.

Aris Nuriyanto, karyawan kafe Sosial Kitchen menegaskan, yang melakukan pengrusakan adalah mereka yang memakai helm dan penutup muka, bukan tokoh LUIS yang tidak mengenakkan penutup wajah apapun.

“Yang saya tahu mereka yang merusak memakai helm dan penutup muka,” ungkapnya.

LUIS didakwakan dengan pasal pengerusakan dan penganiayaan oleh Jaksa Penuntut Umum.

Kisah Masjid Al Aqsha dari Seorang Muazin

JERUSALEM (Junalislam.com) – Selama setengah abad terakhir, Sheikh Khader al-Aweiwi yang berusia 73 tahun telah mengabdikan dirinya untuk melayani ikon Yerusalem, Masjid Al-Aqsha, yang merupakan tempat tersuci ketiga di dunia bagi umat Islam setelah Mekkah dan Madinah.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency, al-Aweiwi menceritakan banyak peristiwa bersejarah yang dia saksikan saat bertugas di Al-Aqsha – sebagai penjaga, pemadam kebakaran dan muazin – dari tahun 1968 sampai 2011.

Dia pertama kali mulai bekerja di kompleks Masjid Al-Aqsha sebagai penjaga pada tahun 1968 – satu tahun setelah Israel mencaplok Tepi Barat (termasuk Yerusalem Timur), yang sebelumnya dikuasai oleh tetangga Yordania.

“Saya tidak pernah menjadi pegawai Al-Aqsha,” kata al-Aweiwi. “Bagi saya, itu bukan hanya pekerjaan – itu adalah cara hidup.”

Pada tahun 1969, al-Aweiwi menyaksikan serangan pembakaran yang terkenal di Masjid Al-Aqsha, yang dilakukan oleh ekstremis Kristen Australia.

Serangan tersebut, yang sebagian besar menghancurkan mimbar masjid berusia 1.000 tahun (mimbar), menginspiracian pembentukan Organisasi Kerjasama Islam-OKI (the Organization of Islamic Cooperation-OIC) pada tahun yang sama.

“Saya sedang berlibur saat serangan terjadi,” kenang al-Aweiwi. “Ketika saya mendengar tentang apa yang terjadi, saya mencoba mencapai kompleks masjid meskipun ada hambatan yang dibangun oleh Israel.”

“Warga [Al-Quds] terkejut dan marah,” katanya. “Polisi Israel menghentikan pemadam kebakaran untuk mencapai daerah tersebut. Sehingga warga Palestina setempat harus membawa air untuk memadamkan api.”

Al-Alweiwi juga ingat bagaimana, segera setelah kejadian tersebut, pihak berwenang Israel mencoba merekrut pemuda Palestina untuk membantu mengamankan lokasi tersebut.

“Mereka [Israel] menawarkan saya gaji tiga kali lipat jika saya bekerja sebagai polisi untuk mereka daripada penjaga masjid,” katanya.

“Tapi saya menolak tawaran itu,” katanya kepada Anadolu Agency. “Saya mengatakan kepada mereka, ‘Saya tidak akan mengganti lencana saya [penjaga Al-Aqsha] dengan Bintang Daud [polisi Israel]’.”

Dia menambahkan: “Saya ingin dikenang sebagai seseorang yang melayani Al-Aqsha – bukan sebagai seseorang yang membantu polisi pendudukan [Israel].”

Serangan destruktif tersebut mengilhami al-Aweiwi untuk mulai bekerja sebagai pemadam kebakaran di kompleks Al-Aqsha – sebuah pekerjaan yang dia lakukan selama tiga tahun ke depan.

“Saya mengikuti banyak kursus pemadam kebakaran, beberapa di antaranya melibatkan latihan berisiko yang membuat takut para trainee lainnya,” katanya.

Al-Aweiwi juga menggambarkan bagaimana dia melihat “banyak warga Palestina menjadi martir selama bertahun-tahun” di dalam dan sekitar kompleks Al-Aqsha.

“Dalam salah satu pembantaian Israel di tahun 1990an, saya melihat tentara penjajah zionis menyeret seorang pria – yang mengalami cedera kepala fatal – dari Gerbang Singa [Kota Tua],” kenangnya.

Dia juga menyaksikan semakin seringnya penyerangan oleh pemukim Yahudi ekstrem ke tempat keagamaan, meski ada keberatan dari para jamaah Muslim.

“Sejak Al-Quds diduduki pada tahun 1967, kami telah melihat pemukim Yahudi memaksa masuk ke kompleks tersebut dalam jumlah yang terus bertambah,” katanya.

“Kami dulu punya kekuatan untuk melawan mereka,” tambahnya. “Tapi sekarang jumlah mereka sangat banyak, dan biasanya dilindungi oleh polisi Israel.”

Namun, meski eskalasi Israel terus berlanjut, al-Aweiwi mengatakan bahwa dia tetap “berkomitmen penuh” untuk berjuang – dan membela – Masjid ikonik tersebut.

Dia juga bertugas sebagai muazin masjid, bertanggung jawab untuk menyiarkan panggilan sholat Muslim (adzan) lima kali sehari.

Al-Aweiwi ingat bagaimana, suatu saat, seorang perwira Israel memintanya untuk menunda adzan karena sebuah festival Yahudi sedang berlangsung pada saat bersamaan.

“Saya menolak,” kata al-Aweiwi. “Saya mengatakan kepada petugas dengan tegas bahwa adzan itu suci.”

Seiring dengan tugasnya sebagai muazin masjid, al-Aweiwi juga unggul di kalangan warga Palestina setempat karena membaca Al-Qur’an secara melodis.

Pada tahun 2010, ketika angkatan laut Israel menyerang sebuah armada bantuan Turki yang menuju Gaza membunuh 10 aktivis Turki di kapal, al-Aweiwi menyampaikan sebuah khotbah fajar di mana dia menghormati para martir dan mengutuk para penyerang.

“Saya segera dipanggil oleh petugas intelijen Israel yang menuduh saya menghasut kekerasan,” katanya.

Al-Aweiwi akhirnya pensiun pada 2011, tapi tidak mengakhiri tugasnya di Al-Aqsha.

“Ketika saya pensiun, saya bertanya kepada Awqaf [Kementerian Wakaf Keagamaan Yordania, yang bertanggung jawab untuk mengawasi tempat-tempat suci Muslim dan Kristen di Yerusalem] untuk mengizinkan saya menyuarakan adzan setiap kali muazin baru tidak ada,” katanya.

Permintaannya dihormati dan dia terus menyerukan adzan sesekali, terutama pada bulan puasa Ramadhan.

Majd al-Hadmi, yang sekarang bertanggung jawab untuk menyiarkan panggilan untuk sholat di Al-Aqsha, menggambarkan al-Aweiwi sebagai “lebih dari sekadar seorang muazin”.

“Dia sama terkenalnya dengan Farouk Hadrawi dari Madinah dan Ali Ahmed Mulla dari Mekah,” kata al-Hadmi kepada Anadolu Agency, merujuk pada dua muazin paling terkenal di dunia Arab.

Pasukan Irak Kuasai Wilayah Al Thawra dari IS

NINEVEH (Jurnalislam.com) – Pasukan Irak telah merebut kembali wilayah Al-Thawra, Mosul, dari kelompok Islamic State (IS), sebuah sumber militer mengatakan kepada Anadolu Agency pada hari Kamis (20/4/2017).

“Pasukan khusus yang bermarkas di Angkatan Darat mengibarkan bendera nasional Irak di atas bangunan-bangunan di distrik tersebut setelah mengakibatkan kerugian jiwa dan material yang parah bagi IS,” kata Letnan Jenderal Abdul Amir Yaarallah.

Letnan Kolonel Angkatan Udara Ziad Tariq al-Babali mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa pesawat tempur koalisi pimpinan A.S. telah melakukan serangan udara di distrik Al-Rifai, Mosul, menewaskan sedikitnya 17 pasukan IS dan melukai sembilan lainnya.

Serangan udara tersebut, kata al-Babali, dilakukan berdasarkan data intelijen yang memungkinkan koalisi “menyerang sasaran yang diinginkan sambil meminimalkan korban sipil”.

Pada bulan Februari, pasukan darat Irak – yang didukung oleh kekuatan koalisi pimpinan AS – memulai operasi baru untuk mendorong IS dari Mosul barat, kubu terakhir mereka di Irak utara.

Serangan yang sedang berlangsung merupakan bagian dari operasi lebih luas yang diluncurkan Oktober lalu untuk merebut kembali seluruh kota, yang diduduki IS pada pertengahan 2014.

Koalisi Arab Gempur Kamp Khaled, 17 Milisi Syiah Houthi Tewas

YAMAN (Jurnalislam.com) – Sebanyak 17 pemberontak Syiah Houthi tewas dan 20 lainnya luka-luka menyusul target pengeboman yang diluncurkan oleh aliansi Arab di Mukha utara dan Taiz Barat.

Sebuah sumber militer mengatakan kepada Al Arabiya News Channel, Kamis (20/4/2017) bahwa 10 serangan menargetkan lokasi di Kamp Khaled dan sebelah timur Mozea, sementara kapal perang aliansi tersebut meluncurkan 20 roket yang mengarah ke lokasi tersebut.

Di sisi lain, ada sejumlah konfrontasi di sekitar Kamp Khaled saat milisi Syiah Houthi mengerahkan bala bantuan mendirikan landasan untuk meluncurkan roket Katyusha di sebelah barat Muqtada dan menargetkan posisi pasukan di dekat Kamp Khalid dan Timur Mukha.

Human Rights Watch yang berbasis di New York mengatakan dalam sebuah laporan baru yang dirilis pada hari Kamis, bahwa pemberontak Houthi bersekutu dengan kekuatan mantan presiden negara tersebut dan telah menggunakan ranjau darat di sedikitnya enam provinsi sejak Maret 2015, ketika seorang koalisi pimpinan Saudi meluncurkan operasi militer melawan mereka.

Ahmadinejad Didiskualifikasi dari Pencalonan Presiden Iran

TEHERAN (Jurnalislam.com) – Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad telah didiskualifikasi untuk mencalonkan diri dalam pemilihan presiden bulan depan, menurut media pemerintah.

Keputusan pada hari Kamis (20/4/2107) diambil oleh Dewan Pelindung, sebuah lembaga yang bertanggung jawab memeriksa calon presiden untuk pemilihan 19 Mei, lansir Aljazeera.

Secara mengejutkan, Ahmadinejad mendaftar sebagai kandidat pekan lalu, meski sebelumnya mengatakan dia tidak akan mencalonkan diri.

Pemimpin Tertinggi Syiah Iran Ayatollah Ali Khamenei sebelumnya mendesak Ahmadinejad agar tidak ikut mencalonkan diri.

Ahmadinejad meninggalkan kantor pada bulan Agustus 2013 setelah dua masa jabatan empat tahun yang bergejolak, sehingga negara tersebut terpecah di dalam negeri, terisolasi secara internasional dan berjuang dalam hal ekonomi.

Pada tahun 2009, terpilih kembalinya Ahmadinejad diikuti oleh satu demonstrasi terbesar di negara tersebut sejak Revolusi Syiah tiga dekade sebelumnya.

Dewan Wali/Pelindung mengatakan telah menyusun daftar calon terakhir pada hari Kamis dan kementerian dalam negeri Iran akan mengumumkan nama-nama mereka pada hari Ahad.