Perang Arab Saudi di Yaman adalah ‘Sebuah Kegagalan Strategis’

YAMAN (Jurnalislam.com) – Intervensi militer Arab Saudi di Yaman terbukti merupakan “kegagalan strategis”, namun penarikan mundur penuh dan resmi dari negara tersebut tidak mungkin terjadi, kata para analis.

Pekan lalu, serangkaian email yang bocor mengungkapkan bahwa pangeran mahkota dan menteri pertahanan Arab Saudi, Muhammad bin Salman bin Abdulaziz Al Saud, menyatakan keinginan untuk mengakhiri perang di Yaman selama pembicaraan dengan mantan pejabat AS. Dalam email yang bocor tersebut, Muhammad bin Salman mengatakan bahwa dia ‘ingin keluar “dari perang dua tahun yang dia mulai di Yaman dan bahwa dia tidak menentang pendekatan AS terhadap Iran untuk mengakhiri konflik tersebut.

Adam Baron, seorang analis Yaman, Rabu (23/8/2017) mengatakan bahwa pengunduran diri Saudi tidak akan “lengkap” karena keamanan kerajaan sangat bergantung pada keamanan Yaman, lansir Aljazeera.

“Ya, Saudi ingin keluar dari perang – tapi hanya dengan syarat mereka sendiri,” kata Baron.

“Apa yang diperlukan secara luas adalah kesepakatan yang menjamin bahwa kepentingan Saudi dipelihara di Yaman, bahwa persenjataan berat diserahkan, sebuah akhir untuk mencegah serangan perbatasan, dan bahwa pengaruh Iran yang baru tidak diperbolehkan untuk berlangsung selamanya, apalagi diperluas,” Baron mengatakan kepada Al Jazeera.

“Kerajaan bermaksud mencegah Yaman masuk lebih jauh ke dalam jurang yang kacau.”

Konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 10.000 orang dan telah melukai lebih dari 40.000 orang sampai saat ini.

Pada hari Rabu, sebuah serangan udara di sebuah hotel dekat ibukota Yaman, Sanaa, telah menewaskan sedikitnya 35 orang, kata seorang dokter setempat.

Yaman telah lama menjadi negara terpuruk di wilayah Arab, dan sebelumnya mengandalkan bantuan AS dan bantuan dari tetangganya untuk tetap bertahan. Inflasi memburuk dan tingkat pengangguran melonjak sebelum pemberontakan 2011.

Uang dari cadangan minyak yang berkurang di negara itu hilang sia-sia atau dicuri saat menggulingkan pemerintahan 33 tahun Presiden Ali Abdullah Saleh. Sebuah laporan PBB tahun 2015 mengumpulkan akumulasi Saleh hingga $ 60 miliar dari korupsi, pemerasan dan penggelapan uang.

Setelah penggulingan Saleh, sebuah perang meletus antara pemberontak Syiah Houthi dukungan Iran dan pendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Pada bulan September 2014, milisi Syiah Houthi menguasai ibukota, Sanaa, dan mendorongnya ke kota terbesar di Yaman, Aden. Sebagai balasan atas kemajuan Syiah Houthis, sebuah koalisi negara-negara Arab pimpinan Saudi meluncurkan sebuah operasi militer pada bulan Maret 2015 untuk mengusir Houthi dari Sanaa.

Perang telah menjadikan berbagai daerah sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Yaman, rumah bagi lebih dari 27 juta orang, berada di ambang kelaparan dan di tengah wabah kolera “yang belum pernah terjadi sebelumnya”. Mengacu pada perang yang dipimpin Saudi di Yaman, PBB telah memperingatkan bahwa negara tersebut menuju “keruntuhan total”.

Saat ini, lebih dari tujuh juta orang berada di ambang kelaparan akibat blokade perbatasan dan pemiskinan akibat perang bertahun-tahun, sementara sekitar 80 persen penduduk bergantung pada beberapa bentuk bantuan kemanusiaan. Menurut PBB, krisis kemanusiaan terbesar di dunia adalah di Yaman.

Tegang dengan AS, Kim Jong Un Intruksikan Tingkatkan Produksi Hulu Ledak Rudal Balistik

SEOUL (Jurnalislam.com) – Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menuntut peningkatan produksi kepala bom dan mekanisme hulu ledak rudal balistik, kata media pemerintah Pyongyang, Rabu (23/8/2017).

Seruan tersebut muncul saat ketegangan antara Korea Utara dan AS tampak mereda.

Sebagaimana yang dilansir Anadolu Agency, sebuah laporan oleh Kantor Berita Pusat Korea Utara (Korean Central News Agency-KCNA) dalam sebuah kunjungan ke sebuah lembaga kimia mengatakan bahwa Kim telah “menginstruksikan institut tersebut untuk memproduksi lebih banyak mesin roket berbahan bakar padat dan ujung hulu ledak roket”.

Namun, laporan tersebut tidak memiliki Retorika anti-AS seperti biasanya dan mengikuti ucapan Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson saat menyambut meredanya Pyongyang baru-baru ini.

Komentarnya menyusul ketegangan selama beberapa pekan, ketika Presiden AS Donald Trump menyarankan tindakan militer terhadap Korea Utara.

Surat kabar Rodong Sinmun memuat foto Kim yang tersenyum lebar saat memeriksa lembaga kimia tersebut, di mana dia mendapat pengarahan tentang pembuatan rudal tempur balistik antarbenua (intercontinental ballistic missile-ICBM) dan mesin roket, KCNA melaporkan.

Korea Utara melakukan dua tes ICBM bulan lalu, hingga mendapatkan sanksi baru, serta puluhan tes rudal lainnya dan dua uji coba nuklir sejak awal tahun 2016.

Meskipun melakukan tes ICBM, yang terakhir bahkan tampaknya mampu mencapai benua AS, analis masih terbagi mengenai apakah Pyongyang memiliki hulu ledak yang mampu menahan panas yang luar biasa akibat masuknya kembali atmosfer.

Dengan membangun lebih banyak mesin berbahan bakar padat, yang hanya memerlukan sedikit persiapan untuk diluncurkan, dapat meningkatkan kapasitas Korea Utara dalam melakukan serangan mendadak.

Aplikasi lain dari teknologi senjata yang tumbuh di Korea Utara adalah rudal balistik yang diluncurkan oleh kapal selam.

Pada hari Rabu, terdengar sirene untuk mensimulasikan serangan udara di Korea Selatan saat latihan militer tahunan AS-Korea Selatan melibatkan latihan sipil dengan menghentikan lalu lintas dan warga berlatih mencari perlindungan.

Sementara itu, Presiden Moon Jae-in mengunjungi sebuah pusat komando dan meminta komandan melakukan “kesiapan pertahanan penuh” jika terjadi provokasi Korea Utara, kata juru bicaranya.

Korea Utara menolak untuk menerima tawaran dialog Moon sejak dia menjabat pada bulan Mei, mengklaim bahwa Seoul tidak memiliki ketulusan dengan adanya tekanan untuk sanksi tambahan terhadap Pyongyang.

Puluhan Pasukan Bentukan AS Terbunuh dan Terluka, 9 APC Hancur dalam Serangan di Helmand

HELMAND (Jurnalislam.com) – Sekitar pukul 11:00 waktu setempat hari Rabu (23/8/2017), personil ANA (The Afghan National Army) dan ANP (The Afghan National Police) bentukan AS yang dikawal oleh APC mendapat serangan martir Taliban dekat dengan markas kepolisian distrik ibu kota Lashkargah.

Menurut rincian Al Emarah News, serangan tersebut dilakukan oleh seorang Mujahid pejuang martir – Nizam ul din Hanzala yang tinggal di distrik Musa Kala – dengan bantuan sebuah kendaraan yang mengandung bahan peledak.

Informasi awal menunjukkan bahwa sebanyak 39 pasukan boneka termasuk komandan utama dan perwira rezim terbunuh, 31 lainnya terluka. 9 APC dan 3 pick-up ranger juga hancur.

Serangan ini terjadi setelah 4 pusat militer di lingkungan distrik Nawa dikuasai oleh Taliban dalam waktu semalam, menewaskan 28 pasukan boneka dan menyebabkan 8 lainnya luka-luka serta menghancurkan 4 tank APC sekaligus menyita sejumlah rampasan perang yang cukup besar.

Kembali Umumkan Serangan Militer, 3.500 Muslim Rohingya Larikan diri ke Bangladesh

BANGLADESH (Jurnalislam.com) – Ribuan Muslim Rohingya menyeberang ke Bangladesh sejak Myanmar mengumumkan sebuah serangan militer di negara bagian Rakhine yang dilanda kekerasan awal bulan ini, menurut para pemimpin masyarakat.

Pemimpin Muslim Rohingya di Bangladesh mengatakan kepada kantor berita AFP pada hari Rabu (23/8/2017) bahwa sedikitnya 3.500 orang telah tiba dalam beberapa pekan terakhir, semakin menekan kamp pengungsi yang sudah penuh sesak di area Cox’s Bazaar dekat sungai Naf yang membagi kedua negara.

Pelarian itu terlepas dari patroli bertahap oleh penjaga perbatasan dan pantai Bangladesh, yang mengatakan pekan ini mereka telah membawa kembali sebuah kapal yang membawa warga Rohingya, termasuk anak-anak.

“Di kamp Balukhali saja, sekitar 3.000 orang Rohingya tiba dari desa mereka di Rakhine,” kata Abdul Khaleq, merujuk pada kamp yang terdekat dengan sungai, tempat sebagian besar migran tinggal saat mereka tiba.

Kamal Hossain, seorang tetua Rohingya di kamp lain, mengatakan bahwa hampir 700 keluarga telah tiba di Bangladesh dalam 11 hari terakhir.

Banyak yang tidur di tempat terbuka karena tidak ada tempat lagi di kamp, ​​katanya.

Pada 12 Agustus, pihak berwenang di Myanmar mengirim ratusan tentara ke Rakhine untuk meningkatkan operasi, mendapat kritik dari pelapor khusus PBB Yanghee Lee, yang memperingatkan bahwa penempatan tentara tersebut “menjadi perhatian utama”.

Rakhine, di Myanmar utara, dicengkeram kekerasan sejak Oktober, saat sekalompok orang bersenjata menyerang pos polisi.

Aktivis Rohingya Tolak Laporan Investigasi Pemerintah Myanmar

Setelah insiden tersebut, pihak berwenang Myanmar dilaporkan telah menindak Muslim Rohingya, yang diyakini Perserikatan Bangsa-Bangsa dapat menyebabkan pembersihan etnis terhadap kelompok minoritas Muslim tersebut.

Deen Mohammad, seorang pria Rohingya lainnya yang memasuki Bangladesh pada tanggal 13 Agustus mengatakan bahwa penduduk desa Muslim di Rakhine tidak diizinkan untuk mengunjungi tetangga tanpa mendapat izin dari tentara sebelumnya.

Petani berusia 45 tahun tersebut mengatakan bahwa dia meninggalkan rumah bersama keluarganya setelah tentara membunuh anak laki-lakinya yang berusia 23 tahun karena telah melakukan perjalanan ke desa terdekat.

Rincian dugaan kekerasan lainnya tahun lalu telah dicatat oleh PBB, yang perwakilan khususnya, mantan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan, mempresentasikan laporannya pada hari Rabu kepada Presiden Htin Kyaw di ibukota Myanmar, Naypyidaw.

PBB mengatakan telah mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan, termasuk bayi dan anak-anak, pemukulan dan penghilangan brutal. Perwakilan Rohingya mengatakan sekitar 400 orang tewas dalam operasi keamanan bulan Oktober.

Pemerintah Myanmar Terlibat dalam Pembantaian Muslim Rohingya

Myanmar yang mayoritas beragama Buddha telah lama mendapat kritik karena perlakuannya terhadap lebih dari satu juta muslim Rohingya yang tinggal di Rakhine, yang mereka pandang sebagai orang asing dari Bangladesh, dan ditolak kewarganegaraannya dan ditutup aksesnya terhadap hak-hak dasar.

Bangladesh memperkirakan bahwa hampir 400.000 pengungsi Rohingya tinggal di kamp-kamp pengungsi yang kumuh dan permukiman darurat di Cox’s Bazar.

Mereka termasuk lebih dari 70.000 orang yang tiba setelah krisis di bulan Oktober, banyak yang membawa cerita tentang pemerkosaan, pembunuhan, penyiksaan dan pembakaran sistematis di tangan tentara Myanmar.

Pertempuran di Kamp Pengungsi Pelestina di Lebanon, 5 Tewas dan 35 Terluka

LEBANON (Jurnalislam.com) – Sedikitnya lima orang terbunuh dan 35 lainnya cedera dalam hampir sepekan pertempuran di kamp Palestina terbesar di Lebanon.

Dua anggota kelompok Palestina Fatah tewas pada hari Rabu (23/8/2017) dalam bentrokan dengan kelompok bersenjata lainnya di kamp pengungsi Ain al-Hilweh, menurut sumber medis.

Pertempuran tersebut dimulai Kamis lalu setelah pemimpin faksi bersenjata yang bersimpati kepada kelompok Bilal Badr menembaki markas pasukan keamanan gabungan di kamp tersebut.

Sejak saat itu, pejuang bentrok dengan pasukan keamanan gabungan yang terdiri dari faksi utama Palestina, termasuk Fatah, yang bertanggung jawab atas keamanan kamp tersebut.

Kelompok Bilal Badr digambarkan oleh pemerintah Lebanon sebagai “kelompok perlawanan”, dengan sejumlah faksi mendukung pemimpin yang mereka iinginkan.

Pertempuran tersebut meningkat pada hari Rabu, ketika tembakan senjata melukai tiga orang, termasuk dua petugas keamanan Lebanon, di luar kamp, ​​menurut sebuah sumber keamanan.

Reporter Al Jazeera Imtiaz Tyab, yang melaporkan dari Beirut, mengatakan bahwa “intinya, apa yang kita lihat di sini [Ain al-Hilweh] adalah perang besar”.

“Ada sekelompok orang yang mencoba merebut jalur dan jalan yang sangat sempit di kamp pengungsian ini, yang menampung sekitar 50.000 pengungsi Palestina.”

Kedua belah pihak sepakat untuk melakukan kesepakatan gencatan senjata pada hari Rabu, namun Tyab mengatakan bahwa kesepakatan semacam itu “seringkali gagal”.

Seorang saksi mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa jeda perang terjadi di kamp pada hari Rabu, dimana bagian-bagian daerah tersebut mengalami kerusakan parah.

Rumah-rumah dibakar dan jaringan air dan listrik kamp rusak, kata saksi lainnya.

Tyab dari Al Jazeera mengatakan bahwa kamp tersebut “adalah tempat yang sangat padat penduduk dan miskin yang telah mengalami kekerasan secara konsisten selama bertahun-tahun sekarang”.

Warga Palestina di Lebanon tidak diizinkan memiliki tanah dan dilarang melakukan banyak profesi, menyebabkan “perpaduan antara ketidakpastian, kerusuhan dan kemiskinan”, kata Tyab.

Pada bulan April, tujuh orang tewas dan puluhan lainnya cedera dalam pertempuran serupa antara dua kelompok yang sama.

Kamp-kamp Palestina Lebanon, yang berasal dari perang 1948 antara Israel dan tetangganya di Arab, sebagian besar berada di luar yurisdiksi dinas keamanan Lebanon.

Ada sekitar 450.000 pengungsi Palestina yang tinggal di 12 kamp di Lebanon.

Provokasi Korea Utara, AS dan Korsel Gelar Latihan Perang Bersama dengan 70.000 Tentara

KOREA SELATAN (Jurnalislam.com) – Korea Selatan dan AS memulai latihan militer tahunan besar-besaran pada hari Senin (21/8/2017), mengabaikan ancaman berulang-ulang oleh saingannya Korea Utara.

Latihan yang disebut Ulchi Freedom Guardian, akan mencakup 70.000 tentara dari AS dan Korea Selatan, World Bulletin melaporkan, Selasa (22/8/2017).

Korea Utara secara rutin mengecam kegiatan seperti itu karena tampak seperti persiapan invasi, dan baru-baru ini memperingatkan adanya “malapetaka” jika kedua Negara yang bersekutu tersebut melanjutkan latihan bulan ini.

Menurut sebuah pernyataan pers dari Kementerian Pertahanan Seoul, latihan itu adalah “latihan defensif simulasi komputer yang dirancang untuk meningkatkan kesiapan, melindungi wilayah dan menjaga stabilitas.”

Kali ini, walaupun AS mengikusertakan lebih sedikit prajurit daripada tahun lalu dan menahan aset militer yang menonjol, mereka juga mengirim tiga komandan militer senior untuk berpartisipasi dalam latihan tersebut.

Awal bulan ini, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menghentikan rencana untuk menembakkan rudal mereka balistik yang berada dekat dengan pasukan Amerika yang berbasis di pulau Guam di Pasifik.

Di tengah kekhawatiran akan kemungkinan provokasi oleh Pyongyang sebagai tanggapan atas latihan tersebut, yang akan berlangsung sampai akhir Agustus, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in menegaskan bahwa Korea Utara tidak boleh mencari “dalih untuk memperparah situasi”.

“Korea Utara harus mengerti bahwa karena provokasi mereka yang berulang membuat Korea Selatan dan AS harus melakukan latihan defensif, yang pada gilirannya membuat lingkaran setan terjadi,” Moon mengatakan pada sebuah pertemuan kabinet pada hari Senin seperti dikutip oleh Yonhap News Agency.

Korea Utara membuat sebuah titik tahun lalu, dengan menguji rudal balistik dan tiga rudal Scud yang diluncurkan kapal selam, sebelum melakukan uji coba nuklir dalam beberapa hari setelah latihan berakhir.

Cape-cape ke Arab Gelar Pertemuan Oposisi Suriah, Akhirnya Ditolak Moskow

ARAB SAUDI (Jurnalislam.com) – Pertemuan oposisi moderat Suriah berakhir di Riyadh tanpa kesepakatan pada hari Selasa (22/8/2017) karena Moskow menolak untuk menyetujui perubahan apapun terhadap rezim Nushairiyah Bashar al Assad atau mengubah konstitusi Suriah saat ini, Al Arabiya melaporkan.

Pertemuan tersebut menyaksikan sebuah kesepakatan parsial antara delegasi oposisi moderat dan pihak Kairo mengenai beberapa masalah.

Kebuntuan perwakilan Rusia menghambat upaya untuk mempertemukan perwakilan kedua kelompok tersebut dalam perundingan.

Oposisi Suriah sejauh ini telah bertemu dengan perwakilan dari Riyadh, Kairo dan Moskow selama dua hari dengan tujuan untuk membentuk sebuah delegasi yang bersatu dalam persiapan perundingan Jenewa putaran berikutnya.

50 Orang Tewas dalam Serangan Udara di Provinsi Hama

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 50 orang tewas akibat serangan udara di provinsi Hama, Suriah, kata sumber setempat pada hari Selasa (22/8/2017), lansir Anadolu Agency.

Pesawat tempur menyerang desa-desa Rueshda dan Musteriha yang dikuasai kelompok Islamic State (IS) di Hama timur dengan bom curah, menurut sumber lokal yang berbicara tanpa nama karena takut akan keamanan mereka.

Namun negara asal pesawat tempur masih belum jelas.

Korban serangan udara Selasa adalah wanita dan anak-anak, kata sumber yang sama

Banyak dari mereka yang terluka akibat serangan tidak dapat diobati karena kurangnya layanan medis di dua desa tersebut, mereka menambahkan.

Suriah telah dikepung perang sipil yang kejam sejak awal 2011, ketika rezim Assad menindak demonstrasi pro-demokrasi dengan keganasan yang tak terduga.

Sejak saat itu, ratusan ribu orang terbunuh dan lebih dari 10 juta orang mengungsi, menurut pejabat PBB.

Pejabat rezim Syiah Assad melaporkan jumlah korban tewas sekitar 10.000 orang.

Pasukan Irak dengan Dukungan Serangan Udara AS Klaim Kemenangan di Tal Avar

TAL AVAR (Jurnalislam.com) – Pasukan Irak yang didukung agresor AS pada hari Selasa (22/8/2017) mengatakan bahwa mereka memperoleh kemenangan dalam serangan mereka yang berlangsung terus-menerus untuk mengusir kelompok Islamic State (IS) dari kota utara Tal Afar, saat kepala Pentagon melakukan sebuah kunjungan mendadak ke Irak untuk menunjukkan dukungan.

Pasukan gabungan Irak menguasai wilayah al-Jazirah, di sisi timur Tal Afar, saat pasukan dan anggota pasukan Mobilisasi Populer Syiah mulai menuju pusat kota, sebuah sumber keamanan mengatakan kepada kantor berita DPA.

Pasukan IS, yang diperkirakan berjumlah 1.000 orang, dilaporkan membalas dengan tembakan artileri, saat pasukan pemerintah berkumpul di luar kota. Kota ini telah berada di bawah kendali IS sejak 2014.

Osama bin Javaid, reporter Al Jazeera, melaporkan dari Erbil di Irak utara, mengutip sumber militer yang mengatakan bahwa pasukan bergerak dari bagian barat dan timur laut kota tersebut, menambahkan bahwa mereka telah mengambil alih sebuah kilang minyak “dan menembus tembok kota tersebut” .

“Pergerakan mereka terjadi lebih awal, tapi sekarang pertempuran sesungguhnya dimulai,” katanya pada hari Selasa, hari ketiga sejak dimulainya serangan tersebut.

Angkatan Darat, polisi dan unit pasukan Mobilisasi Populer juga mengambil “kendali penuh” distrik al-Kifah dan al-Nur Tal Afar, juru bicara Mobilisasi Populer Syiah Ahmed al-Assadi seperti dikutip oleh kantor berita AFP.

Assadi mengatakan pasukan Irak telah mengepung kota tersebut meski pertempuran berlangsung “intens”, menambahkan bahwa serangan tersebut kemungkinan akan berlangsung selama berpekan-pekan.

Dalam konferensi pers pekanannya, Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi menggambarkan kemajuan hari Selasa tersebut sebagai “sangat baik”, menyebutnya sebagai “indikasi keruntuhan musuh”.

Tal Afar, yang terletak sekitar 70km dari barat kota Mosul yang baru saja direbut kembali, merupakan pusat utama IS dan berada di antara kota terbesar kedua Irak dan perbatasan Suriah.

Pada bulan Juli, pasukan Irak, yang didukung oleh kekuatan koalisi pimpinan AS, mengarahkan IS ke Mosul, sehingga memungkinkan mereka untuk maju ke Tal Afar pada hari Ahad. IS masih menguasai daerah lain di selatan dan barat Mosul.

Serangan terbaru telah memaksa ribuan orang untuk melarikan diri ke wilayah Kurdi, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pada hari Selasa, bin Javaid dari Al Jazeera melaporkan bahwa penduduk yang melarikan diri harus menempuh perjalanan 10 sampai 20 jam untuk menghindari pertempuran tersebut.

“Ini situasi yang sangat menyedihkan. Beberapa orang bahkan tidak berpakaian lengkap … saat mereka berusaha mencapai keselamatan,” katanya.

Sejak Jumat, lebih dari 3.000 orang telah tiba di dua lokasi darurat, dengan pakaian yang minim, menurut International Organization for Migration (IOM).

“Orang-orang yang kehilangan tempat tinggal ini membawa pakaian dalam jumlah sedikit, beberapa hanya memiliki pakaian yang mereka pakai, ada yang berpakaian sebagian,” kata IOM dalam sebuah pernyataan, menambahkan bahwa ribuan lainnya diharapkan melarikan diri dalam beberapa hari mendatang.

Sebagian besar penduduk harus berjalan berjam-jam dalam kondisi sulit sebelum mencapai daerah yang aman, kata pernyataan tersebut. Banyak pengungsi “tiba dalam kondisi kelelahan dan kesehatan yang buruk, seringkali dengan tingkat gizi buruk di kalangan anak-anak, beberapa tidak dapat bergerak.”

UNHCR, badan pengungsi PBB juga mengatakan telah menerima sekitar 9.000 orang di pusat transit Hamman al-Alil dalam sepekan terakhir, dan pihaknya bersiap untuk menampung hampir 30.000 lebih.

Rusia Klaim Bunuh 200 Pasukan IS dalam Serangan Udara di Deir Az Zor

SURIAH (Jurnalislam.com) – Jet tempur Rusia membunuh lebih dari 200 pasukan IS dalam serangan udara baru-baru ini di Suriah, kementerian pertahanan mengklaim pada hari Senin (21/8/2017), sebagai bagian dari serangan udara intensif untuk membantu pasukan rezim Nushairiyah Bashar al-Assad untuk mengeluarkan kelompok tersebut dari kubu utama Deir Az Zor.

Pesawat tersebut menghancurkan sebuah konvoi bersenjata dari sedikitnya 20 kendaraan IS yang menuju ke Deir Az Zor, kata kementerian tersebut dalam komentar oleh kantor berita negara TASS, namun tidak menentukan tanggal serangan tersebut, Aljazeera melaporkan.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, sebuah kelompok yang berbasis di Inggris yang memantau konflik Suriah melalui jaringan kontak di lapangan, memastikan bahwa sedikitnya 70 pasukan Islamic State (IS) Tewas dalam serangan udara Rusia pada sebuah konvoi di pedesaan sebelah barat Deir Az Zor pada hari Jumat.

Bulan ini saja, jet tempur Rusia telah menerbangkan 990 misi, menghancurkan 40 kendaraan lapis baja, lebih dari 100 truk dan membunuh sekitar 800 pasukan IS, kata Kolonel Jenderal Sergei Rudskoi. Korban tersebut termasuk lebih dari 200 orang tewas dalam serangan baru-baru ini terhadap konvoi IS.

Rudskoi mengatakan pasukan Suriah sementara itu maju dari tiga penjuru untuk mengepung kota Deir Az Zor.

Pasukan rezim Syiah Assad menguasai sekitar setengah kota dan sebuah pangkalan udara terdekat, keduanya dikepung oleh pasukan IS. Rudskoi mengatakan bahwa pasukan yang melarikan diri dari serangan yang didukung AS di kota Mosul, Irak dan kota Raqqa di Suriah telah bergerak ke Deir Az Zor dalam beberapa bulan terakhir.

Dia mengatakan pasukan Suriah juga telah mengepung Akerbat, sebuah kota yang dikuasai IS di Suriah tengah, dan jet tempur Rusia telah menargetkan konvoi IS yang mencoba melarikan diri dari wilayah tersebut menuju Deir Az Zor.

Rusia telah melancarkan srangan udara di Suriah sejak September 2015 untuk membantu pasukan rezim Assad dalam pertempuran di Suriah.