Brigade Al-Qassam Lumpuhkan Pasukan Zionis dalam Dua Serangan di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, melaporkan dua operasi penyergapan terhadap pasukan pendudukan Israel di Jalur Gaza yang menyebabkan korban di pihak musuh.

Dalam pernyataan resminya pada Jumat, (16/5/2025), Brigade Al-Qassam menyatakan telah melancarkan serangan kompleks terhadap pasukan Zionis di kawasan Al-Atatra, sebelah barat Beit Lahia, Jalur Gaza bagian utara. Dalam operasi tersebut, para pejuang Qassam dilaporkan menargetkan tiga kendaraan militer Israel dengan dua alat peledak jenis “Shawaz” dan sebuah peluru “tandem”.

Setelah ledakan, terjadi bentrokan langsung dengan pasukan Israel menggunakan senjata ringan dan granat tangan. Brigade Al-Qassam mengklaim bahwa serangan ini menewaskan dan melukai sejumlah tentara Zionis. Tak lama kemudian, helikopter militer Israel mendarat di lokasi untuk melakukan evakuasi korban.

Sementara itu, dalam pernyataan terpisah yang dirilis pada Senin, 12 Mei 2025, Brigade Al-Qassam juga melaporkan bentrokan senjata di Jalan Al-Nazzaz, kawasan Al-Shuja’iyya, Kota Gaza bagian timur. Para pejuang mengklaim berhasil melukai dan membunuh dua prajurit Israel yang berlindung di sebuah rumah, setelah terlibat kontak senjata langsung menggunakan senapan mesin.

Brigade Al-Qassam menyebut kedua operasi ini sebagai bagian dari perlawanan berkelanjutan terhadap agresi Israel di Jalur Gaza, yang telah berlangsung intens sejak akhir 2023.

Informasi ini dirilis melalui kanal resmi Gerakan Hamas di Telegram.

Tanpa PBB, Bantuan Mulai Masuk Gaza di Bawah Kendali Militer Israel

GAZA (jurnalislam.com)– Setelah lebih dari tiga bulan melakukan blokade total yang memperparah krisis kemanusiaan di Jalur Gaza, pemerintah Israel pada Ahad (19/5) mengumumkan akan mengizinkan masuknya bantuan dalam jumlah terbatas ke wilayah tersebut. Langkah ini dilakukan bertepatan dengan dimulainya operasi militer baru Israel yang diberi nama Gideon’s Chariots.

Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa aliran bantuan dipulihkan “atas rekomendasi militer (IDF) dan kebutuhan operasional untuk memperluas pertempuran guna mengalahkan Hamas.” Bantuan yang dimaksud berupa kebutuhan dasar seperti makanan, dengan alasan mencegah krisis kelaparan yang dianggap dapat menghambat operasi militer.

“Israel akan mencegah Hamas mengambil alih distribusi bantuan kemanusiaan dan memastikan bahwa bantuan tidak jatuh ke tangan kelompok teroris,” tulis pernyataan kantor Netanyahu.

Namun, keputusan ini memicu kemarahan dari dalam koalisi pemerintahan sendiri. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir menolak langkah tersebut dan menyebutnya sebagai “kesalahan besar”.

“Kita seharusnya menghancurkan Hamas, bukan memberi mereka oksigen,” ujar Ben Gvir dalam pernyataan resminya.

Media Ibrani melaporkan bahwa pembukaan kembali akses bantuan bersifat sementara, sambil menunggu mekanisme distribusi bantuan yang dikembangkan bersama oleh Amerika Serikat dan Israel. Mekanisme yang disebut Gaza Humanitarian Foundation (GHF) itu dirancang untuk mengawasi distribusi bantuan secara ketat menggunakan kontraktor keamanan swasta dan teknologi pengenalan wajah.

Namun, rencana ini mendapat kecaman luas dari organisasi kemanusiaan internasional. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menolak berpartisipasi dalam program tersebut.

“Tidak ada alasan untuk menerapkan sistem yang bertentangan dengan prinsip kemanusiaan,” ujar juru bicara OCHA, Jens Laerke.

Organisasi Medical Aid for Palestinians menyebut rencana AS-Israel tersebut sebagai bentuk “hukuman kolektif” dan “persenjataan bantuan” yang menguatkan kontrol Israel atas Gaza.

“Ini adalah alat penindasan baru dalam kampanye genosida terhadap warga Palestina,” kata CEO MAP, Stephen Cutts.

Di tengah pemberian bantuan terbatas ini, Israel terus menggencarkan serangan di seluruh Gaza. Ratusan warga Palestina dilaporkan tewas dalam tiga hari terakhir. Serangan udara juga menargetkan gudang pasokan medis di Kompleks Medis Nasser di Khan Yunis.

Sementara itu, seorang pejabat Hamas menyebut bahwa pembebasan tawanan berdarah AS-Israel, Edan Alexander, dilakukan berdasarkan janji Washington untuk mencabut blokade. Namun, Israel membantah adanya kaitan antara pembebasan tersebut dan kebijakan bantuan.

Dengan blokade yang belum sepenuhnya dicabut dan operasi militer yang terus meluas, krisis kemanusiaan di Gaza diperkirakan akan terus memburuk. PBB memperingatkan bahwa mekanisme bantuan yang dipaksakan justru dapat memicu pengungsian lebih besar dan memperparah penderitaan warga sipil Palestina. (Bahry)

Sumber: Cradle

Pasukan Israel Serang Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Pasien dan Tenaga Medis Jadi Korban

GAZA (jurnalislam.com)– Pasukan pendudukan Israel kembali melancarkan serangan terhadap fasilitas medis di Jalur Gaza. Kali ini, sasaran serangan adalah Rumah Sakit Indonesia, pada Ahad (18/5/2025) yang merupakan satu-satunya rumah sakit umum yang tersisa di wilayah Gaza Utara.

Munir al-Bursh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan dilakukan oleh pesawat tempur Israel yang langsung menargetkan seorang pasien di dalam rumah sakit tanpa memberikan peringatan sebelumnya. Tak hanya itu, militer Israel juga dikabarkan menembaki Unit Perawatan Intensif (ICU) di rumah sakit tersebut.

Sebelumnya, Direktur Rumah Sakit Indonesia mengonfirmasi bahwa fasilitas medis tersebut telah dikepung oleh militer Israel dan dipaksa untuk menghentikan seluruh operasionalnya. Penutupan ini menjadi pukulan berat bagi warga sipil di Gaza Utara, mengingat rumah sakit-rumah sakit lain seperti Kamal Adwan dan Beit Hanoon juga telah dihancurkan oleh Israel dalam beberapa pekan terakhir.

Dalam perkembangan terbaru, koresponden Al Jazeera Arabic melaporkan bahwa pasukan Israel menyerang gerbang dan merobohkan tembok utara Rumah Sakit Indonesia menggunakan buldozer. Suara tembakan dan penembakan senjata dilaporkan terus terdengar di sekitar area rumah sakit.

Sedikitnya 55 orang dilaporkan masih terjebak di dalam rumah sakit, termasuk empat dokter dan delapan perawat yang terus berjuang merawat pasien-pasien yang tidak bisa dievakuasi.

Sementara itu, sejumlah pasien dari Rumah Sakit Indonesia yang berhasil dipindahkan telah tiba di Rumah Sakit Kamal Adwan pada Ahad, 18 Mei.

Kementerian Kesehatan Palestina menyebut serangan terhadap fasilitas medis ini sebagai kejahatan perang dan meminta komunitas internasional untuk segera turun tangan guna menghentikan agresi brutal Israel terhadap warga sipil dan fasilitas kemanusiaan di Gaza.

Sumber: Al Jazeera

Tujuh Kunci Sukses Sekolah Berkemajuan

SOLO (jurnalislam.com)– Tujuh kunci sukses sekolah berkemajuan. Hal itu disampaikan Sri Sayekti dalam menerima studi tiru Dabin Kasembadan Kangkaesti Kecamatan Karangdowo Klaten Jawa Tengah dengan moderator Wakasek bidang Humas Dwi Jatmiko, Senin (19/5/2025).

Dalam kegiatan yang dilaksanakan secara tatap muka di aula sekolah sehat. Kepala SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta Jawa Tengah ini menyampaikan sekolah tidak akan menjadi unggul apabila guru atau staf yang memilik fixed mindset dalam bekerja.

“Sekolah yang di tolak siswa atau customer. Building Image yang kurang menarik. Maka, ada tujuh kunci sukses sekolah berkemajuan,” ujarnya.

Sayekti mengungkapkan perlu adanya bagaimana memanajemen Sumber Daya Manusia. Manajemen Loyalitas. Manajemen Pelayanan. Manajemen Kurikulum. Manajemen Pengembangan Inovasi dan Teknologi Feature. Manajemen Marketing dan Promotion. Manajemen Doa.

“Recharging mindset karakter dan kulaitas sumberdaya manusia terutama guru dan karyawan. Kesuksesan adalah 95% mindset, 5% strategi. Kesalahannya banyak orang menjadikan 5% mindset, 95% strategi. Proyeksi sekolah berkemajuan bisa diawali dengan mimpi sekolah sukses, PPDB 100%, sekolah budget, dan sekolah sesuai dengan kondisi masing-masing,” jelasnya.

Dia menjelaskan ubah perilaku agar laku. “Jangan-jangan gak laku, karena jeleksnya perilaku. Terlalu kaku, terlalu aku. Semua yang kita kerjakan akan dimintai pertanggungjawaban. Di setiap kesulitan ada kemudahan. Allah tidak akan membebani manusia melebihi kemampuannya,” jelasnya, sambil tersenyum.

Oleh karena itu, sambungnya, kita harus manajemen loyalitas. Tidak akan pernah menggigit lengan orang yang pernah membantunya. Tidak akan melubangi kapalnya sendiri.

“Tidak akan meludahi piring tempat ia makan, sumur tempat dia minum. Loyalitas tanpa batas. Loyalitas sama dengan royalitas yang artinya kesejahteraan,” sambung anggota tim Diksuspala Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah.

Sementara itu, Ketua Dabin Aulia GS menyampaikan, “Kami, segenap rombongan dengan jumlah anggota 45 yang terdiri dari 1 Kordinator wilayah, 11 Kepala Sekolah, 11 Guru Fase A, 11 Guru Fase B, dan 11 Guru Fase C, mengucapkan terima kasih atas sambutannya. Dan semangat untuk mempraktikan pada prinsip Amati, Tiru, Modifikasi (ATM) dari pada hasil studi tiru,” ucap Aulia, penuh semangat.

MDI Banten Gelar Kajian Tazkiyatun Nafs: Meraih Hati yang Bersih, Jalan Menuju Ridho Allah

SERANG (jurnalislam.com)- Suasana penuh kekhusyukan terasa sejak pagi hari di lingkungan Masjid Daarul Ayman Citraland, Ciracas, Serang pada Ahad, (18/5/2025).

Ratusan jamaah dari berbagai kalangan hadir mengikuti kajian bertema “Meraih Hati yang Bersih, Jalan Menuju Ridho Allah” yang merupakan bagian dari rangkaian program Tazkiyatun Nafs.

Kajian ini menghadirkan narasumber utama yakni Ustadz Aden Nova, seorang praktisi ruqyah syar’iyyah yang telah dikenal luas karena kontribusinya dalam menyebarkan ilmu syar’i seputar terapi Qur’ani dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).

Dengan gaya penyampaian yang lugas dan menyentuh, Ustadz Aden mengajak jamaah untuk mulai memperhatikan kondisi hati sebagai kunci utama meraih keberkahan hidup.

“Jika hati bersih, maka seluruh anggota tubuh akan mengikuti dalam kebaikan. Tapi jika hati rusak, maka rusaklah semuanya. Inilah pentingnya kita terus membersihkan hati dari penyakit batin,” ungkapnya.

Tema tazkiyatun nafs diangkat karena relevansi yang sangat kuat dengan kondisi umat hari ini, dimana banyak individu merasa kosong secara spiritual meski hidup di tengah kemajuan teknologi. Melalui kajian ini, peserta diajak untuk kembali kepada nilai-nilai keikhlasan, tawadhu, sabar, serta muhasabah diri sebagai bentuk penyucian jiwa.

Selain materi ceramah, peserta juga dibimbing langsung oleh Ustadz Aden dalam sesi praktik ruqyah mandiri, termasuk pembacaan dan penghafalan doa-doa ruqyah syar’iyyah. Sesi ini menjadi daya tarik tersendiri karena memberikan manfaat langsung yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menjaga diri dan keluarga dari gangguan sihir, jin, dan penyakit nonmedis.

“Kami bersyukur bisa ikut kajian ini. Selain ilmunya bermanfaat, saya juga jadi tahu bagaimana meruqyah diri sendiri dengan cara yang benar menurut syariat,” ujar salah satu peserta, ibu rumah tangga asal Serang.

Acara yang dimulai pukul 08.00 WIB dan berlangsung hingga siang hari ini diselenggarakan oleh Masjid Daarul Ayman bekerja sama dengan komunitas dakwah Imron Rosadi dan Mimbar Dakwah Indonesia (MDI). Kajian ini terbuka untuk umum dan diharapkan menjadi agenda rutin demi meningkatkan kualitas keimanan masyarakat.

Mengakhiri acara, panitia menyampaikan harapannya agar kegiatan seperti ini dapat terus dilanjutkan. Sebagai penutup, disampaikan kutipan hadits Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam.

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Netanyahu Sesumbar Akan Menang di Gaza, Abaikan Proses Gencatan Senjata

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menegaskan tekadnya untuk meraih kemenangan atas kelompok pejuang Palestina, Hamas, di Jalur Gaza. Hal ini disampaikannya melalui sebuah pernyataan video yang dirilis pada Senin (19/5/2025), saat pasukan Israel memperluas operasi militernya di tengah stagnasi negosiasi gencatan senjata di Doha, Qatar.

“Ada dua tujuan yang saling terkait untuk operasi ini, yaitu melenyapkan Hamas dan membebaskan para sandera, dan kami akan mencapai keduanya,” ujar Netanyahu, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Netanyahu tidak menyinggung soal perkembangan perundingan yang tengah berlangsung, dan justru menekankan rencana militer Israel ke depan. Ia mengatakan bahwa pemerintahnya juga akan membangun penghalang permanen di sepanjang perbatasan timur negara itu.

“Kami akan membangun penghalang di sepanjang Sungai Yordan dari Dataran Tinggi Golan yang diduduki hingga Eilat, untuk mencegah infiltrasi teroris dan sel-selnya,” tambahnya.

Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel agar menghentikan serangan brutal di Jalur Gaza, yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil Palestina sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023. Sementara itu, proses negosiasi yang dimediasi Qatar dan Mesir terus mengalami kebuntuan, terutama terkait tuntutan gencatan senjata dan pembebasan sandera. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Hamas Tawarkan Gencatan Senjata 60 Hari, Israel Lanjutkan Serangan Darat di Gaza

DOHA (jurnalislam.com)– Kelompok pejuang Palestina, Hamas, dikabarkan bersedia membebaskan antara tujuh hingga sembilan sandera Israel sebagai imbalan atas gencatan senjata selama 60 hari serta pembebasan 300 tahanan Palestina. Hal ini diungkap oleh seorang pejabat yang enggan disebutkan namanya kepada CNN pada Ahad (18/5/2025).

Menurut sumber tersebut, salah satu syarat pembebasan sandera adalah penarikan pasukan Israel ke jalan Salah al-Din, jalur utama yang membentang dari utara ke selatan Jalur Gaza.

Pernyataan ini muncul bersamaan dengan dilanjutkannya kembali perundingan antara Hamas dan Israel di Doha, ibu kota Qatar. Meski begitu, dari pihak Israel, seorang sumber mengindikasikan bahwa mereka hanya akan melanjutkan perundingan jika Hamas bersedia mengakhiri perang dengan menyerah tanpa syarat.

Sumber itu juga menyebut bahwa delegasi Israel akan berada di Doha dalam waktu terbatas, dan bahwa operasi militer akan kembali ditingkatkan jika tidak ada kemajuan berarti dalam waktu dekat.

Di sisi lain, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa tim perunding Israel tengah meninjau proposal yang lebih luas, termasuk penghentian total permusuhan, pembebasan seluruh sandera, pencopotan Hamas dari kekuasaan, serta pelucutan senjata Jalur Gaza poin-poin yang selama ini ditolak oleh Hamas.

Sementara proses negosiasi berlangsung, militer Israel justru meluncurkan serangan darat besar-besaran pada Ahad (18/5) di bagian utara dan selatan Gaza. Operasi ini diberi nama “Operasi Kereta Perang Gideon”.

Dalam pernyataannya, militer Israel menyebut bahwa serangan ini melibatkan pasukan reguler dan cadangan. Sebagai persiapan, serangan udara telah dilakukan selama sepekan terakhir dengan menargetkan lebih dari 670 lokasi yang disebut sebagai milik Hamas, termasuk jaringan terowongan, gudang senjata, dan titik peluncuran senjata anti-tank.

Seiring meningkatnya intensitas serangan, krisis kemanusiaan di Gaza terus memburuk. Data dari otoritas kesehatan Gaza mencatat setidaknya 3.193 orang tewas dan 8.993 lainnya terluka sejak serangan kembali meningkat pada Maret 2025. Sejak dimulainya perang pada 7 Oktober 2023, jumlah korban jiwa di Gaza telah mencapai 53.339 orang, dengan 121.034 orang mengalami luka-luka. (Bahry)

Sumber: Shafaq

Gaza Darurat Kemanusiaan, 68 Pusat Distribusi Bantuan Hancur Jadi Sasaran Militer Israel

GAZA (jurnalislam.com)– Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan bahwa sejak dimulainya agresi militer Israel pada Oktober 2023, sedikitnya 68 pusat distribusi bantuan telah menjadi sasaran serangan tentara Israel.

Laporan yang dirilis Sabtu (17/5/2025) menyebutkan bahwa dari total serangan tersebut, 39 menargetkan pusat distribusi makanan dan bantuan, sementara 29 lainnya adalah bank makanan yang menyediakan kebutuhan pokok harian bagi warga Gaza.

Serangan terbaru terjadi di sebuah gudang bantuan makanan di Deir al-Balah, Gaza tengah. Serangan itu menyebabkan sedikitnya lima orang tewas dan sejumlah lainnya luka-luka. Tidak disebutkan secara spesifik waktu serangan tersebut.

Insiden tragis lainnya di wilayah yang sama terjadi pada Maret tahun lalu, dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai “Pembantaian Tepung.” Saat itu, pasukan Israel menembaki ratusan warga Palestina yang sedang mengantri bantuan makanan, menyebabkan 112 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.

Dalam pernyataan resminya, Kantor Media Pemerintah Gaza menuduh Israel melakukan “kejahatan sistematis” dengan menargetkan fasilitas bantuan dan kegiatan solidaritas sosial, serta menyebut penggunaan makanan sebagai senjata perang sebagai pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional.

“Serangan terhadap pusat-pusat bantuan dan rumah perawatan telah mengakibatkan kematian ratusan warga sipil yang tengah berusaha memperoleh bantuan. Ini mencerminkan skala bencana kemanusiaan yang dialami rakyat Gaza,” tegas pernyataan tersebut.

Israel diketahui telah memberlakukan pengepungan total terhadap Gaza sejak 2 Maret, menghentikan masuknya seluruh bantuan kemanusiaan hingga kembali melanjutkan serangan brutal pada 18 Maret, yang mengakhiri gencatan senjata selama dua bulan.

Blokade yang terus berlangsung itu memperburuk kondisi kemanusiaan yang telah memburuk sejak awal perang, dengan puluhan warga termasuk anak-anak dilaporkan meninggal akibat kelaparan.

Pemerintah Gaza menyerukan kepada masyarakat internasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Dewan Keamanan PBB, serta lembaga-lembaga kemanusiaan untuk segera mengambil langkah konkret menghentikan “pembantaian brutal,” menjamin keselamatan pusat-pusat distribusi bantuan, serta membuka jalur kemanusiaan tanpa hambatan.

Sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 53.000 warga Gaza dilaporkan tewas, sebagian besar merupakan warga sipil. Ribuan lainnya masih hilang dan diyakini terkubur di bawah reruntuhan bangunan. Sebagian besar wilayah Gaza kini telah hancur, dan hampir seluruh dari 2,3 juta penduduknya terpaksa mengungsi. (Bahry)

Sumber: TNA

Balita Gaza di Antara Pisau Bedah dan Dentuman Bom

GAZA (jurnalislam.com)- Di tengah gemuruh perang yang tak kunjung padam, harapan seakan menjadi barang langka di Gaza. Namun, bagi Haitham Abu Daqa dan keluarganya, harapan itu sempat tumbuh meski hanya sekejap ketika putri mereka yang baru berusia lima bulan, Nevine, berhasil menjalani operasi jantung terbuka di Yordania.

Dengan tubuh mungil yang masih rapuh, Nevine menjadi bagian dari sekelompok anak Palestina yang dievakuasi untuk mendapatkan perawatan medis. Ibunya menyertainya, menyingkir sementara dari reruntuhan dan debu perang demi sebuah kesempatan hidup yang lebih baik bagi anaknya.

Namun, usai operasi yang berjalan sukses, secercah cahaya itu seakan dipadamkan. Ketika sang ibu memohon kepada otoritas Yordania agar diizinkan tinggal demi pemulihan sang buah hati, jawabannya tegas: mereka harus pulang.

“Bagaimana saya bisa merawat gadis itu sementara saya tinggal di tenda, dan pada saat yang sama, pengeboman tidak berhenti,” isak Daqa.

“Beraninya mereka mengirimnya kembali? Jika ada perawatan di Gaza untuk kasusnya, mengapa mereka membawanya sejak awal?”

Nevine hanyalah satu dari 17 anak Palestina yang dipulangkan setelah menerima pengobatan di Amman. Sebuah keputusan yang mengundang keprihatinan dari kelompok hak asasi manusia, karena memulangkan anak-anak ke wilayah perang disebut melanggar hukum internasional. Di tempat di mana rumah sakit menjadi sasaran, dan fasilitas kesehatan hampir lumpuh, bagaimana mungkin seorang anak bisa pulih?

Negeri-negeri Arab pun gamang. Yordania yang telah lama menampung jutaan pengungsi Palestina menolak memberikan suaka permanen. Alasan mereka bukan tanpa dasar: keseimbangan demografi yang rawan, perekonomian yang goyah, dan ketakutan akan hilangnya hak kembali para pengungsi ke tanah air mereka.

Namun, bagi keluarga Daqa, kepulangan itu bukanlah jalan kembali menuju rumah. Itu adalah perjalanan ke medan luka yang belum sembuh. Pada hari ketika istri dan putrinya menyeberang kembali ke Gaza, rumah sakit tempat mereka akan bernaung justru luluh lantak dihantam bom.

Menurut Dr. Reyad Al-Sharqawi, Nevine telah dalam kondisi sangat baik saat dipulangkan. Ia dan tiga anak lainnya kembali dengan biaya hidup yang ditanggung rumah sakit hingga kepergian mereka. Tapi bahkan perawatan terbaik pun tak bisa bertahan menghadapi deru pesawat tempur dan kelangkaan obat-obatan.

Inisiatif pengobatan ini diluncurkan oleh Raja Abdullah II, sekutu dekat Amerika Serikat. Sebuah janji kemanusiaan di tengah diplomasi yang rumit. Tapi kebijakan tak selalu sejalan dengan nurani. Seorang pejabat Yordania mengakui, “Kami tidak akan membiarkan warga Palestina mengungsi ke luar Gaza,” menegaskan bahwa misi mereka hanya memberikan perawatan, bukan perlindungan permanen.

Bagi kelompok hak asasi manusia, tindakan ini adalah sebuah ironi tragis. “Ada larangan mutlak untuk mengembalikan mereka ke tempat di mana mereka akan mengalami perlakuan yang kejam, merendahkan martabat, atau tidak manusiawi, apalagi yang membahayakan nyawa mereka,” kata Omer Shatz, pengacara hak asasi manusia dari Paris.

Sementara itu, ketakutan akan pengulangan sejarah 1948 saat ratusan ribu warga Palestina terpaksa meninggalkan rumah mereka masih menghantui. Kini, generasi keturunannya hidup tersebar di kamp-kamp pengungsi, jumlah mereka mencapai enam juta jiwa.

Perjalanan pulang dari Yordania ke Gaza bukan sekadar perjalanan geografis. Itu adalah jalan berliku yang melewati pos pemeriksaan bersenjata, tempat tentara menyita ponsel dan uang para pengungsi. Kembali ke tanah yang belum tentu menyambut mereka dengan aman.

Arafat Yousef adalah satu dari sedikit ayah yang tak punya pilihan baik. Putranya yang berusia 12 tahun kehilangan kaki akibat serangan udara. Ia harus menanti delapan bulan di Yordania untuk mendapatkan kaki palsu. Namun, enam anak lainnya menantinya di Gaza.

“Saya ingin anak saya menyelesaikan pengobatannya,” ucap Yousef. “Namun di saat yang sama, saya ingin kembali ke tanah air saya. Saya tidak ingin meninggalkan anak-anak saya sendirian di tengah pengeboman ini.”

Di antara langit yang dipenuhi suara dentuman dan tanah yang tak menjanjikan perlindungan, anak-anak Gaza terus berjuang. Mereka adalah tubuh-tubuh kecil yang dipaksa tumbuh dalam bayang-bayang kehancuran. Tapi dalam tatapan Nevine yang mungil, mungkin masih tersisa harapan harapan bahwa dunia tak akan terus memalingkan wajah. (Bahry)

Sumber: TNA

Hamas Sambut Baik Hasil KTT Liga Arab ke-34 di Baghdad

GAZA (jurnalislam.com) — Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) menyampaikan apresiasi terhadap hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab ke-34 yang digelar di Baghdad. Dalam siaran pers resminya pada Sabtu, 17 Mei 2025, Hamas menyambut baik sikap para pemimpin Arab yang menyerukan diakhirinya perang pemusnahan di Jalur Gaza, penghentian agresi secara segera, pembukaan jalur perbatasan, serta masuknya bantuan kemanusiaan.

Hamas juga menghargai kecaman tegas para pemimpin Arab terhadap agresi Israel dan dukungan terhadap hak-hak rakyat Palestina. Termasuk di antaranya adalah penolakan terhadap pemindahan paksa, penekanan pentingnya perjuangan Palestina, hak kembali, kebebasan, penentuan nasib sendiri, serta pembentukan negara Palestina merdeka dengan Yerusalem sebagai ibu kota.

“Penolakan terhadap kebijakan pendudukan seperti Yahudisasi, pembangunan permukiman ilegal, dan penggunaan kelaparan sebagai senjata perang sebagaimana tercantum dalam deklarasi akhir KTT adalah posisi yang kami hargai tinggi,” bunyi pernyataan Hamas.

Gerakan perlawanan itu juga menyerukan agar semua sikap dan komitmen dalam Deklarasi Baghdad diterjemahkan ke dalam langkah konkret. Di antaranya: penghentian segera agresi Israel, pencabutan blokade Gaza, pengaktifan rencana pemulihan Arab-Islam, pendanaan rekonstruksi Gaza, serta perawatan anak yatim dan korban luka.

Hamas turut mendesak implementasi keputusan KTT Arab-Islam di Riyadh (November 2023) yang menuntut dihentikannya pengepungan dan percepatan masuknya bantuan ke wilayah Palestina yang terkepung.

Mengakhiri pernyataannya, Hamas menyatakan kembali dukungannya terhadap seruan untuk mewujudkan persatuan nasional Palestina. Hamas menegaskan perlunya membangun proyek perjuangan komprehensif yang mencerminkan kehendak rakyat Palestina demi mencapai kemerdekaan penuh dan mendirikan negara Palestina berdaulat dengan Yerusalem sebagai ibu kota.