Brigade Al-Quds Luncurkan Salvo Roket ke Tel Aviv, Balas Serangan Brutal Israel

PALESTINA (jurnalislam.com)- Militer Israel pada Rabu (21/5/2025) mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udaranya telah mencegat sebuah roket yang diluncurkan dari wilayah utara Gaza menuju kota Ashkelon. Dalam pernyataan resminya, tentara Israel menyebutkan bahwa proyektil tersebut berhasil dinetralkan di wilayah selatan Tel Aviv dan tidak menyebabkan korban luka.

Brigade Al-Quds, sayap militer dari kelompok Jihad Islam Palestina, mengaku bertanggung jawab atas peluncuran salvo roket tersebut. Mereka menyatakan bahwa serangan itu merupakan balasan atas “pembantaian Zionis terhadap rakyat kami.”

Insiden ini menandai eskalasi terbaru dalam konflik yang tengah memanas antara faksi-faksi perlawanan di Gaza dan militer Israel. Sumber lokal di Gaza melaporkan bahwa lebih dari 100 warga Palestina telah gugur hanya dalam beberapa jam terakhir akibat serangan udara Israel, dengan banyak di antaranya adalah anak-anak.

Sementara itu, operasi perlawanan bersenjata di wilayah selatan Jalur Gaza dikabarkan terus berlanjut, di tengah gempuran militer Israel yang semakin intensif sejak awal pekan ini. (Bahry)

Sumber: Shafaq

Intelijen AS: Israel Siap Serang Fasilitas Nuklir Iran

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Amerika Serikat menerima laporan intelijen terbaru yang menyebut bahwa Israel tengah melakukan persiapan serius untuk menyerang fasilitas nuklir Iran. Informasi ini dilansir dari CNN pada 20 Mei 2025, mengutip sejumlah pejabat AS yang mengetahui langsung perkembangan tersebut.

Menurut laporan itu, jika serangan dilakukan, langkah tersebut akan menjadi titik balik dramatis dalam hubungan antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, serta berpotensi memicu konflik regional yang lebih luas di Timur Tengah. Hal ini menjadi perhatian besar, terutama setelah konflik Gaza pada 2023 yang menimbulkan ketegangan global.

Pejabat AS menekankan bahwa belum ada keputusan akhir dari Israel, meskipun ada perbedaan pendapat di internal pemerintahan AS mengenai kemungkinan tindakan Israel. Sumber menyebut bahwa peluang Israel menyerang fasilitas nuklir Iran meningkat drastis dalam beberapa bulan terakhir.

“Peluang serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran telah meningkat secara signifikan,” ungkap seorang sumber yang memahami intelijen AS.

Kekhawatiran itu diperkuat oleh komunikasi Israel yang disadap serta pengamatan atas aktivitas militer seperti pergerakan amunisi dan latihan udara skala besar. Namun, sejumlah analis memperingatkan bahwa langkah tersebut bisa jadi hanyalah strategi tekanan agar Iran menghentikan pengayaan uranium.

Presiden Trump sendiri disebut telah memberikan tenggat waktu 60 hari kepada Iran untuk menerima kesepakatan yang diusulkan AS. Namun, tenggat waktu tersebut telah terlewati dan pembicaraan diplomatik belum menunjukkan kemajuan signifikan. Bahkan, Trump disebut hanya akan memberi waktu beberapa minggu lagi sebelum beralih pada opsi militer.

Situasi ini menempatkan Israel dalam dilema strategis. Netanyahu berada dalam tekanan untuk mencegah terjadinya “kesepakatan buruk” antara AS dan Iran, yang menurut Israel tidak menjamin keselamatan kawasan. Di sisi lain, Netanyahu juga tidak ingin merusak hubungannya dengan sekutu strategisnya di Gedung Putih.

Menurut intelijen AS, Iran kini berada dalam posisi militer terlemah dalam beberapa dekade terakhir. Hal ini dipicu oleh serangan Israel terhadap fasilitas militer Iran serta dampak berat dari sanksi ekonomi dan kehancuran proksi regionalnya.

Meski demikian, kemampuan Israel untuk menyerang dan menghancurkan seluruh fasilitas nuklir Iran secara mandiri masih diragukan. Mereka dinilai masih membutuhkan dukungan AS dalam bentuk pengisian bahan bakar udara dan bom penghancur bunker bawah tanah.

Sementara itu, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyatakan bahwa ia tidak menaruh harapan besar pada negosiasi dengan AS. Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah pada permintaan AS untuk menghentikan pengayaan uranium, yang menurutnya adalah hak berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir PBB.

Putaran pembicaraan lanjutan antara AS dan Iran direncanakan berlangsung di Eropa pekan ini, namun hingga kini belum ada titik temu. Ketidakpastian inilah yang mendorong Israel mempertimbangkan opsi militer sebagai langkah terakhir untuk menghentikan ambisi nuklir Iran. (Bahry)

Sumber: CNN

Pakar: Kerja Sama Danantara dan BlackRock Berpotensi Langgar Amanat Konstitusi

JAKARTA (jurnalislam.com)– Rencana kerja sama antara perusahaan investasi Indonesia, Danantara, dan manajer aset global asal Amerika Serikat, BlackRock, menuai kritik keras dari sejumlah kalangan. Salah satunya datang dari Direktur Eksekutif Baitul Maqdis Institute, Pizaro Gozali Idrus, yang menilai kerja sama tersebut berpotensi bertentangan dengan amanat konstitusi Indonesia yang menolak segala bentuk penjajahan.

“BlackRock adalah investor besar yang menanamkan modal di perusahaan-perusahaan pertahanan AS, termasuk yang menyuplai persenjataan untuk militer Israel. Kerja sama ini secara tidak langsung bisa berkontribusi terhadap genosida yang terjadi di Gaza,” kata Pizaro dalam keterangan tertulisnya, Selasa (20/5/2025).

BlackRock diketahui memiliki 7,4 persen saham di Lockheed Martin, produsen jet tempur F-16 dan F-35 yang digunakan Israel dalam serangan ke wilayah Gaza. Selain itu, Lockheed Martin juga memproduksi pesawat angkut C-130 Hercules yang mendukung operasi darat militer Israel.

Dalam situs resminya, Lockheed Martin bahkan secara terbuka menyatakan dukungan terhadap keamanan Israel dan mengklaim telah bermitra dengan Angkatan Udara Israel sejak 1970. Pizaro menyebut, rudal buatan perusahaan ini diduga digunakan dalam serangan terhadap wartawan di dekat RS Shifa, Gaza, pada 9 November 2024 lalu.

Selain Lockheed Martin, BlackRock juga berinvestasi di Northrop Grumman dan RTX. Northrop Grumman memasok sistem rudal dan kapal perang untuk Israel, sementara RTX memproduksi komponen sistem pertahanan udara Iron Dome.

“Di Amerika Serikat sendiri, masyarakat sipil dan akademisi sudah menggelar protes terhadap peran BlackRock dalam mendanai genosida. Namun ironisnya, Indonesia justru menyambut mereka,” kata Pizaro.

Menurutnya, Indonesia memiliki sejarah panjang menolak penjajahan, sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Ia berharap Presiden Prabowo Subianto dan CEO Danantara, Roslan Roslani, tidak melupakan amanat konstitusi dan tetap konsisten memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

“Kita sebagai bangsa punya hutang sejarah terhadap Palestina. Jangan sampai kerja sama ini mengkhianati nilai-nilai yang telah ditanamkan para pendiri bangsa,” tegas Pizaro.

Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak Danantara maupun pemerintah terkait kritik tersebut.

Sebagai informasi, Danantara atau Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara adalah lembaga pengelola investasi milik negara yang baru dibentuk pada awal 2025. Lembaga ini bertugas mengelola dan mengonsolidasikan aset negara untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, serta berperan sebagai mitra strategis dalam menarik investasi asing, termasuk di sektor energi dan infrastruktur.

Susul AS, Uni Eropa Cabut Sanksi Ekonomi Terhadap Suriah

BRUSSELS (jurnalislam.com)– Uni Eropa secara resmi mengumumkan pencabutan seluruh sanksi ekonomi terhadap Suriah pada Selasa (20/5), hanya beberapa hari setelah langkah serupa diambil oleh Amerika Serikat. Kebijakan ini diambil untuk memfasilitasi pemulihan ekonomi negara tersebut setelah lebih dari satu dekade dilanda konflik bersenjata.

Keputusan ini akan memungkinkan Suriah untuk kembali mengakses sistem keuangan global serta mencairkan aset bank sentralnya yang sebelumnya dibekukan. Namun demikian, Uni Eropa tetap mempertahankan sejumlah pembatasan inti, seperti embargo senjata dan larangan terhadap ekspor peralatan yang berpotensi digunakan untuk kepentingan militer dan keamanan.

“Tujuannya adalah untuk meredakan tekanan pada rakyat Suriah, bukan untuk mendukung pemerintah Damaskus,” ujar seorang pejabat senior Uni Eropa kepada media.

Ia menambahkan bahwa langkah pelonggaran ini bersifat sementara dan dapat dicabut kembali apabila pemerintah Suriah gagal menunjukkan komitmen terhadap hak-hak minoritas dan reformasi demokrasi yang dijanjikan.

Uni Eropa juga mengumumkan sanksi baru yang ditargetkan secara spesifik kepada pejabat Suriah yang dituduh menghasut kekerasan bernuansa etnis. Langkah ini diambil sebagai respons atas serangan terbaru terhadap komunitas minoritas Alawi di Suriah.

Menteri Luar Negeri Suriah, Assad al-Shibani, menyambut baik keputusan tersebut. Dalam pernyataan melalui platform X (sebelumnya Twitter), ia menyebut kebijakan itu sebagai “pencapaian bersejarah” dan menyatakan keyakinannya bahwa hal ini akan menjadi awal dari stabilitas, keamanan, dan pertumbuhan ekonomi Suriah.

Perang saudara yang berlangsung lebih dari 13 tahun di Suriah telah menewaskan lebih dari 350.000 orang dan menyebabkan jutaan lainnya mengungsi ke luar negeri maupun dalam negeri. Pemerintah Suriah kini tengah berupaya menarik kembali investasi asing dan membangun kembali infrastruktur yang hancur akibat konflik. (Bahry)

Sumber: Shafaq

Hamas Tuding Netanyahu Sengaja Gagalkan Negosiasi dan Perpanjang Agresi di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)- Gerakan Perlawanan Islam – Hamas menuding Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan manipulasi terhadap opini publik internasional melalui keberadaan delegasi Zionis di Doha, Qatar. Dalam siaran pers yang dirilis pada Selasa (20/5), Hamas menyebut kehadiran delegasi tersebut hanyalah “pura-pura berpartisipasi” dalam proses negosiasi, padahal tidak ada kewenangan maupun niat untuk mencapai kesepakatan damai.

Menurut Hamas, sejak Sabtu lalu tidak ada perundingan nyata yang dilakukan, sementara Netanyahu terus memperpanjang masa tinggal timnya di Doha.

“Ini adalah bentuk penyesatan opini dunia. Netanyahu berupaya mencitrakan diri terlibat dalam diplomasi, padahal sebenarnya menolak solusi apa pun,” tegas pernyataan tersebut.

Hamas juga membantah klaim Netanyahu bahwa bantuan kemanusiaan telah memasuki Jalur Gaza.

“Belum satu pun truk bantuan yang benar-benar masuk ke wilayah Gaza, termasuk yang berada di persimpangan Kerem Shalom. Tak ada penerimaan resmi dari lembaga internasional mana pun,” kata Hamas.

Peningkatan serangan militer Israel yang menargetkan infrastruktur sipil, termasuk pembantaian terhadap anak-anak dan perempuan, bertepatan dengan pembebasan tahanan Edan Alexander, disebut Hamas sebagai bukti bahwa Netanyahu menolak jalur damai. Hamas menilai agresi ini menandakan komitmen Netanyahu terhadap perang total dan kehancuran, bukan penyelesaian konflik.

“Kami menganggap pemerintah pendudukan Israel sepenuhnya bertanggung jawab atas kegagalan perundingan,” tulis Hamas dalam siaran resminya, mengacu pada pernyataan para pejabat Israel yang secara terbuka mengungkapkan niat untuk terus menggempur Gaza dan mengusir penduduknya.

Lebih lanjut, Hamas menyoroti meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel, termasuk kecaman dari negara-negara Eropa, sebagai tanda tumbuhnya dukungan global terhadap rakyat Palestina dan penolakan terhadap kebijakan agresif Israel.

Di akhir pernyataan, Hamas menyampaikan apresiasi kepada para mediator yang terus mendorong perdamaian. Mereka juga menegaskan komitmen untuk tetap terlibat secara positif dan bertanggung jawab dalam inisiatif-inisiatif yang bertujuan menghentikan agresi, mencabut blokade, memperlancar bantuan kemanusiaan, serta memulai rekonstruksi Gaza.

Kontributor: Bahry

PBB: 14.000 Bayi di Gaza Terancam Meninggal dalam 48 Jam Jika Bantuan Tidak Segera Masuk

GAZA (jurnalislam.com)– Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan keras bahwa hingga 14.000 bayi di Jalur Gaza terancam meninggal dalam waktu 48 jam ke depan jika bantuan kemanusiaan yang menyelamatkan nyawa tidak segera dikirimkan ke wilayah yang terkepung tersebut.

Peringatan tersebut disampaikan oleh Koordinator Kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, dalam wawancaranya dengan program Today di BBC pada Selasa (20/5/2025). Ia mengatakan bahwa PBB baru-baru ini mendapatkan otorisasi untuk mengirimkan sekitar 100 truk bantuan ke Gaza, merupakan izin pertama dalam 11 minggu terakhir. Namun kenyataannya, hanya lima truk yang diizinkan masuk oleh militer Israel.

“Saya ingin menyelamatkan sebanyak mungkin dari 14.000 bayi ini dalam 48 jam ke depan,” ujar Fletcher. Ia menekankan urgensi untuk segera “membanjiri Jalur Gaza dengan bantuan kemanusiaan.”

Pernyataan Fletcher disampaikan tak lama setelah Inggris, Prancis, dan Kanada mengeluarkan ancaman akan mengambil “tindakan konkret” apabila Israel tidak mengubah pendekatan militernya dan mencabut pembatasan atas masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza. Fletcher menyambut baik pernyataan tegas tersebut, namun menekankan bahwa “ujian sesungguhnya” adalah apakah PBB benar-benar dapat meningkatkan jumlah bantuan yang menjangkau warga sipil di lapangan.

Situasi kemanusiaan di Gaza terus memburuk akibat agresi militer Israel yang masih berlangsung. Laporan dari berbagai lembaga kemanusiaan menyebutkan adanya kekurangan akut terhadap makanan, obat-obatan, dan bahan bakar, terutama berdampak pada bayi baru lahir dan anak-anak.

Krisis ini semakin dalam sejak Israel memberlakukan blokade hampir total atas Gaza pada 2 Maret 2025. Sejak saat itu, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 57 anak telah meninggal dunia akibat kekurangan gizi.

UNICEF melaporkan bahwa jika situasi tidak membaik, sekitar 71.000 anak di bawah usia lima tahun diperkirakan akan mengalami kekurangan gizi akut dalam waktu 11 bulan ke depan. Sementara itu, data dari Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) terbaru menunjukkan bahwa 470.000 orang kini berada dalam kategori kelaparan tingkat paling parah (IPC Fase 5), dan seluruh penduduk Gaza mengalami ketidakamanan pangan ekstrem.

Selain itu, lebih dari 17.000 ibu diperkirakan membutuhkan perawatan segera akibat kekurangan gizi akut, di tengah kondisi kesehatan dan fasilitas yang terus memburuk.

PBB dan berbagai lembaga kemanusiaan terus mendesak dunia internasional untuk segera bertindak dan menekan Israel agar membuka akses bantuan kemanusiaan demi mencegah bencana kemanusiaan yang lebih besar di Gaza. (Bahry)

Sumber: Shafaq

Inggris, Prancis, dan Kanada Ancam Sanksi Israel

LONDON (jurnalislam.com)– Inggris, Prancis, dan Kanada mengecam keras eskalasi militer Israel di Jalur Gaza yang menewaskan puluhan warga sipil. Ketiga negara Barat tersebut bahkan mengancam akan mengambil “tindakan konkret”, termasuk sanksi, jika Israel tidak segera menghentikan serangannya dan mencabut pembatasan terhadap bantuan kemanusiaan.

“Kami ngeri dengan eskalasi yang dilakukan Israel. Kami kembali menegaskan tuntutan kami untuk gencatan senjata,” ujar Perdana Menteri Inggris Keir Starmer di hadapan parlemen pada Selasa (20/5/2025), menyusul laporan bahwa setidaknya 87 warga Gaza tewas dalam 24 jam terakhir akibat serangan terbaru Israel.

Sehari sebelumnya, Starmer bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengeluarkan pernyataan bersama yang menyebut aksi militer Israel di Gaza sebagai “tidak proporsional secara ekstrem.”

“Kami sangat menentang perluasan operasi militer Israel di Gaza. Tingkat penderitaan manusia di sana benar-benar tidak dapat diterima,” tegas ketiga pemimpin, seraya mengecam pula kebijakan Israel di Tepi Barat, termasuk pembangunan permukiman ilegal.

Dalam pernyataan bersama tersebut, Inggris, Prancis, dan Kanada juga menyatakan tidak akan ragu untuk memberlakukan sanksi yang ditargetkan terhadap Israel jika kekerasan terus berlanjut. Mereka juga mengecam keras pernyataan para pejabat Israel, seperti Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, yang menyerukan pengusiran massal warga Palestina dari Gaza.

“Pernyataan menjijikkan tentang pengusiran paksa warga Gaza adalah pelanggaran hukum internasional,” tegas mereka.

Netanyahu diketahui hanya mengizinkan beberapa truk bantuan masuk ke Gaza pada Senin (19/5) setelah hampir tiga bulan blokade total. Namun, ketiga negara menilai langkah tersebut “jauh dari cukup” dan menilai Israel tengah melanggar hukum humaniter internasional.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot bahkan menyebut kondisi Gaza saat ini sebagai “perangkap maut” akibat kekerasan brutal dan pemblokiran bantuan kemanusiaan oleh Israel.

*Desakan Embargo Senjata dan Pengadilan Internasional*

Duta Besar Palestina untuk Inggris, Husam Zumlot, mendesak negara-negara Barat untuk mengambil tindakan nyata dengan memberlakukan embargo senjata total terhadap Israel.

“Menangguhkan sebagian ekspor senjata saja tidak cukup. Itu harus dihentikan sepenuhnya,” tegasnya, seraya mendorong dukungan penuh terhadap proses hukum internasional di Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan Mahkamah Internasional (ICJ).

Sementara itu, Pelapor Khusus PBB untuk wilayah pendudukan Palestina, Francesca Albanese, mempertanyakan efektivitas sanksi yang hanya ditujukan pada individu.

“Ini bukan tentang satu perdana menteri. Ini adalah kebijakan sistematis pemerintah. Sanksi harus dijatuhkan kepada negara,” ujarnya.

Terlepas dari tekanan internasional, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut sikap ketiga negara tersebut sebagai “hadiah besar bagi Hamas”, dan menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut hingga mencapai “kemenangan mutlak.”

Laporan dari Al Jazeera di Amman menyebut bahwa pemerintahan Netanyahu bersikukuh menganggap konflik ini sebagai “perang peradaban melawan barbarisme,” dan menilai invasi darat sebagai satu-satunya jalan menuju penyelesaian. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Houthi Yaman Umumkan Blokade Laut ke Pelabuhan Haifa Israel

SANA’A (jurnalislam.com)– Kelompok Houthi Yaman mengumumkan bahwa mereka akan memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Haifa milik Israel, sebagai bagian dari respons atas agresi militer Israel di Gaza.

Dalam pernyataan resminya dilansir dari Shafaq pada Selasa (20/5), Houthi menyatakan bahwa keputusan ini diambil sebagai bentuk dukungan terhadap rakyat Palestina, khususnya di Gaza, yang terus menjadi sasaran serangan brutal Israel. Mereka menuduh Israel melakukan “pembantaian harian” dan “kejahatan genosida yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern.”

“Pelabuhan Haifa kini telah masuk dalam daftar target kami,” tegas pernyataan tersebut.

Houthi juga memperingatkan kepada seluruh perusahaan pelayaran agar menghindari pelabuhan Haifa, karena pelabuhan tersebut mulai sekarang akan dianggap sebagai target militer yang sah.

“Semua perusahaan dengan kapal yang berada di atau menuju pelabuhan ini dengan ini diberitahukan bahwa, pada saat pengumuman ini, pelabuhan tersebut telah dimasukkan dalam daftar target,” kata juru bicara kelompok itu, Yahya Saree, dalam pidato yang disiarkan televisi.

Pengumuman ini muncul hanya beberapa hari setelah militer Yaman, yang berpihak pada gerakan Houthi (Ansarallah), mengklaim telah berhasil menghentikan aktivitas pelabuhan Eilat—yang disebut dengan nama Arabnya, Umm al-Rashrash—melalui militer gangguan udara dan laut.

Pimpinan militer Yaman menyebut bahwa semua operasi dukungan, termasuk blokade laut dan serangan udara terhadap Israel, akan terus berlanjut selama agresi di Gaza tidak dihentikan dan blokade terhadap wilayah tersebut belum dicabut.

Pada Selasa (13/5), kelompok Ansarallah juga mengonfirmasi peluncuran rudal balistik hipersonik yang menargetkan Bandara Ben Gurion di dekat Tel Aviv. Serangan itu menjadi bagian dari serangkaian serangan rudal dan drone yang diluncurkan ke wilayah Israel dalam beberapa hari terakhir.

Meski Houthi telah menandatangani kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk menghentikan serangan terhadap kapal-kapal AS di Laut Merah, serangan terhadap Israel tetap berlanjut. Mereka menegaskan bahwa kesepakatan dengan AS tidak mencakup operasi militer terhadap Israel, dan Houthi akan tetap melancarkan serangan hingga Israel menghentikan agresinya di Gaza. (Bahry)

Sumber: Shafaq

Mantan Presiden AS Joe Biden Derita Kanker Prostat Agresif

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Mantan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada masyarakat atas cinta dan dukungan yang diberikan usai dirinya didiagnosis menderita kanker prostat agresif. Pengumuman ini disampaikan Biden pada Senin (19/5) melalui akun media sosialnya, menyusul laporan dari kantornya akhir pekan lalu.

“Terima kasih telah mengangkat kami dengan cinta dan dukungan,” tulis Biden dalam unggahannya di platform X, seraya membagikan foto dirinya bersama sang istri, Jill Biden.

“Kanker menyentuh kita semua. Seperti banyak dari Anda, Jill dan saya telah belajar bahwa kita menjadi lebih kuat di tempat-tempat yang hancur,” tambahnya, mengenang kembali perjuangan keluarganya saat kehilangan putra mereka, Beau Biden, akibat kanker pada tahun 2015.

Menurut pernyataan resmi, Biden didiagnosis pada Jumat (16/5) setelah mengalami gejala pada saluran kemih. Pemeriksaan lebih lanjut menemukan adanya nodul di prostat. Dokter menyatakan bahwa meskipun jenis kanker ini tergolong agresif dan telah menyebar ke tulang, sel kanker tersebut masih merespons terhadap terapi hormon, sehingga pengobatan tetap bisa dijalankan secara efektif.

Presiden AS saat ini, Donald Trump, yang kerap mengkritik Biden dalam pernyataan politiknya, turut menyampaikan simpati.

“Kami menyampaikan harapan terbaik dan terhangat kami kepada Jill dan keluarga, dan kami mendoakan Joe agar cepat pulih dan sukses,” tulis Trump, 78 tahun, di platform Truth Social.

Kanker prostat merupakan jenis kanker paling umum di kalangan pria. Data dari American Cancer Society menunjukkan bahwa satu dari delapan pria di Amerika Serikat akan didiagnosis kanker prostat sepanjang hidup mereka. Meski bisa diobati jika terdeteksi dini, kanker ini merupakan penyebab kematian akibat kanker nomor dua terbanyak pada pria di AS.

Pengobatan umum untuk kanker prostat meliputi terapi hormon yang bertujuan mengecilkan tumor dan memperlambat penyebaran sel kanker. Namun, terapi ini bukanlah metode penyembuhan total. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Arab Saudi Kecam Keras Eskalasi Militer Israel di Gaza

RIYADH (jurnalislam.com)- Kerajaan Arab Saudi melalui Kementerian Luar Negeri mengeluarkan pernyataan tegas yang mengecam keras eskalasi militer yang dilakukan oleh pendudukan Israel di Jalur Gaza, khususnya di wilayah utara dan selatan. Pernyataan resmi tersebut diunggah melalui akun X (Twitter) resmi Kementerian Luar Negeri Arab Saudi pada Selasa, (20/5/2025).

Dalam pernyataan itu, Arab Saudi menilai tindakan Israel sebagai pelanggaran serius terhadap hukum hak asasi manusia, piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta kehendak masyarakat internasional yang mendambakan perdamaian dan stabilitas di kawasan Timur Tengah.

“Kerajaan Arab Saudi mengutuk keras eskalasi militer pendudukan Israel di wilayah utara dan selatan Jalur Gaza, serta perluasan pendudukan wilayah yang luas di wilayah tersebut,” bunyi pernyataan tersebut.

Lebih lanjut, Arab Saudi juga menegaskan kembali penolakannya terhadap semua operasi darat yang dilakukan oleh Israel, karena dianggap mengancam nyawa warga sipil Palestina dan memperburuk krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza.

“Kerajaan memperingatkan konsekuensi serius dari pelanggaran yang terang-terangan dan tidak dapat dibenarkan ini, yang merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan hak-hak rakyat Palestina,” lanjut pernyataan itu.

Sejalan dengan pernyataan tersebut, militer Israel mengumumkan pada hari Ahad bahwa mereka telah memulai “operasi darat yang ekstensif” di Gaza utara dan selatan, yang menandai peningkatan besar dalam serangan terhadap wilayah kantong tersebut.

Akibat dari operasi militer ini, wilayah Gaza mengalami kehancuran parah. Hampir seluruh dari 2,3 juta penduduknya terpaksa mengungsi dari rumah mereka, dan lebih dari 53.000 orang dilaporkan tewas, menurut data otoritas kesehatan Gaza.

Kontributor: Bahry