Israel Serang 10 Rumah Sakit di Gaza dalam Sepekan, WHO: Sistem Kesehatan di Ambang Runtuh

GAZA (jurnalislam.com)– Militer Israel dilaporkan telah menyerang sedikitnya 10 rumah sakit dan pusat medis di Jalur Gaza selama sepekan terakhir sebagai bagian dari operasi militer intensif yang memperparah krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.

Investigasi surat kabar Israel Haaretz yang dipublikasikan Sabtu (24/5) mengungkapkan bahwa serangan tersebut berdampak pada penutupan sebagian atau seluruh fasilitas medis, menambah tekanan berat pada sistem kesehatan Gaza yang sudah porak poranda.

Serangan terhadap Rumah Sakit Eropa di Khan Younis, wilayah selatan Gaza, disebut sebagai awal dari perluasan operasi militer yang disetujui kabinet Israel pada 4 Mei lalu dalam operasi yang disebut “Kereta Perang Gideon”. Serangan besar-besaran ke kota terbesar kedua di Gaza itu dimulai sejak 18 Mei, memicu gelombang pengungsian massal.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat 28 serangan terhadap fasilitas kesehatan selama sepekan terakhir, termasuk serangan berulang terhadap rumah sakit yang sama. Jumlah ini mencakup sekitar empat persen dari total serangan terhadap rumah sakit sejak perang pecah pada Oktober 2023.

Kementerian Kesehatan Gaza memperkirakan sedikitnya 400.000 orang kini tidak memiliki akses terhadap layanan medis apa pun.

Militer Israel tetap mengklaim bahwa kelompok Hamas menggunakan rumah sakit sebagai pangkalan operasi militer mereka—klaim yang dibantah keras oleh pihak Hamas. Meski begitu, serangan terhadap fasilitas medis tetap berlanjut.

WHO menyatakan bahwa 94 persen rumah sakit di Gaza mengalami kerusakan atau kehancuran, dengan hanya 19 dari 36 rumah sakit yang masih bisa beroperasi sebagian. Empat rumah sakit besar dilaporkan tutup dalam sepekan terakhir karena serangan langsung, perintah evakuasi, dan situasi keamanan yang memburuk.

“Bagian utara Gaza telah kehilangan hampir seluruh layanan kesehatannya,” ujar WHO dalam pernyataan di platform X pada Kamis (22/5).

“Sementara rumah sakit yang tersisa di wilayah selatan kini kewalahan dan berada di ambang penutupan total.” sambungnya.

Israel kembali melanjutkan serangan besar-besaran ke Gaza sejak 18 Maret lalu, usai gencatan senjata dua bulan yang sempat menghasilkan pertukaran sandera dan tahanan antara Israel dan Hamas.

Hingga saat ini, wilayah Gaza secara efektif telah terbelah dua akibat operasi militer tersebut. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang tengah diburu Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza menyatakan bahwa Israel berniat untuk “sepenuhnya menaklukkan Gaza”.

Perang yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 53.900 orang dan melukai lebih dari 122.600 lainnya, sebagian besar adalah warga sipil. Ribuan orang diyakini masih terkubur di bawah reruntuhan bangunan.

Meski Israel telah melonggarkan pengepungan total selama dua bulan terakhir, bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza dinilai PBB dan organisasi kemanusiaan masih jauh dari cukup. Upaya mediasi untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata hingga kini belum menunjukkan hasil nyata. (Bahry)

Sumber: TNA

Demo Besar, Warga Israel Tuntut Netanyahu Mundur dan Desak Pembebasan Sandera

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Ribuan warga Israel turun ke jalan di berbagai kota seperti Tel Aviv, Yerusalem, Haifa, hingga Rehovot pada Sabtu (24/5/2025) dalam aksi unjuk rasa besar menandai hari ke-600 agresi militer Israel ke Jalur Gaza. Demonstrasi ini menyoroti tiga isu utama: penolakan terhadap perang di Gaza, tuntutan pengunduran diri pemerintahan Benjamin Netanyahu, serta desakan pembebasan para sandera yang masih ditahan di Gaza.

Unjuk rasa terbesar terjadi di Tel Aviv, yang dipimpin oleh Forum Sandera dan Keluarga Orang Hilang, serta Gerakan untuk Pemerintahan yang Berkualitas Israel, sebuah lembaga antikorupsi yang dipimpin pengacara aktivis Eliad Shraga. Mereka juga mengecam pengangkatan Mayor Jenderal David Zini sebagai kepala baru dinas intelijen dalam negeri, Shin Bet, menggantikan Ronen Bar yang akan mengundurkan diri per 15 Juni mendatang.

Pengangkatan Zini dinilai kontroversial karena laporan media Israel, Channel 12, menyebutkan bahwa ia menentang gencatan senjata dan kesepakatan pembebasan sandera. Zini bahkan disebut menyebut konflik Gaza sebagai “perang abadi”.

Pernyataan itu menuai kecaman dari keluarga para sandera. Dalam pernyataan resminya, Forum Sandera dan Keluarga Orang Hilang mengatakan:
“Keluarga korban penculikan sangat marah dengan kata-kata Mayor Jenderal Zini. Jika ini benar, maka ini adalah kata-kata yang mengejutkan dan terkutuk dari seseorang yang akan memutuskan nasib para pria dan wanita yang diculik.”

Salah satu suara lantang dalam demonstrasi datang dari Einav Zangauker, ibu dari Matan, seorang sandera yang belum dibebaskan. Dalam pidatonya di Tel Aviv, ia menyampaikan protes langsung kepada Netanyahu,

“Katakan padaku, Tuan Perdana Menteri: Bagaimana Anda bisa tidur di malam hari dan bangun di pagi hari? Bagaimana Anda bisa bercermin saat tahu bahwa Anda menelantarkan 58 pria dan wanita yang diculik dan menyiksa keluarga mereka?”

Ia juga mengecam pengangkatan Zini, seraya menuduh Netanyahu dengan sengaja menunjuk pejabat yang menentang pembebasan anaknya.

“Ingatlah momen ini, karena momen ini akan dikenang oleh generasi mendatang. Pemerintah Israel dan pemimpinnya telah dengan sengaja memutuskan untuk menelantarkan anak-anak kami,” tegasnya.

Selain di Tel Aviv, aksi protes juga digelar di Yerusalem, termasuk pertemuan besar di Paris Square, tak jauh dari kediaman resmi Perdana Menteri, serta di kota Kiryat Bialik yang menyerukan pembebasan Matan Angrest, tentara Israel yang diculik sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Protes kali ini juga mencerminkan meningkatnya ketegangan politik internal di Israel, terutama setelah pemerintah Netanyahu mengumumkan pada Maret lalu bahwa serangan ke Gaza akan ditingkatkan pascaruntuhnya gencatan senjata dua bulan.

Kelompok sipil Gerakan untuk Pemerintahan yang Berkualitas mengumumkan akan mengajukan petisi hukum untuk memblokir pengangkatan Zini, dengan alasan pengangkatan itu bertentangan dengan sistem hukum dan prinsip supremasi hukum di Israel. (Bahry)

Sumber: TNA

Sabar Masuk Surga Tanpa Hisab

SOLO (jurnalislam.com)– Sabar masuk surga tanpa hisab disampaikan oleh pimpinan Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Solo Dwi Jatmiko.

Pernyataan itu disampaikan dalam acara Kuliah Subuh Muhammadiyah Gajahan Solo, bertempat di TK ABA yang berlamat Patang Puluhan Rt 02/4, Minggu (25/5/2025).

Mengutip firman Allah dalam Surah Al Baqarah ayat 214, ustaz Jatmiko mengatakan, “Apakah kalian mengira pasti mudah masuk surga menurut perhitungan jumlah amalan.”

Jalan masuk surga pasti dicari semua muslim, Selain iman dan amal, ada satu kunci yaitu sabar. Sabar bukanlah warisan biologis dari orang tua kepada anaknya. Sabar bukanlah suatu prestasi akademis yang dapat kita raih di bangku sekolah. Sabar bukanlah sesuatu yang dapat kita beli dengan harta.

“Sabar bukanlah suatu tempat yang dapat kita masuki dan menikmatinya, bahkan sabar bukanlah anugerah semata dari Allah Azza wa Jalla, tanpa melalui proses meraih kesabaran itu sendiri,” ujar anggota Korps Mubalig Solo itu.

Selain itu, karena bobot iman kita kurang kwalitas menjalani ibadah, maka Allah memberi pilihan jalan lainnya untuk mudah masuk ke surga, yakni dengan cara menuntut iman kita harus penuh kualitas menjalani musibah. Musibah seperti halnya yang dialami orang-orang yang telah berlalu dari sebelum kalian.

“Mari berprasangka baik kepada Allah, ketika kita dijadwalkan menjalani musibah berupa kesusahan, ke-sengsaraan, dan diguncangkan. Semua itu semata-mata untuk mendapatkan surga dari Allah, yang tak bisa kita dapatkan dari amalan salat, puasa, haji, bacaan quran,” ajak Guru Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah Ketelan Solo ini.

Namun, lanjutnya sebab, rasa sabar kita menjalani ibadah salat, puasa, haji, baca quran mungkin masih kurang dibanding rasa sabar menjalani musibah. Karena itulah Allah menghendaki kita kepada jalan yang termudah untuk menuju surgaNya sesuai dengan kesanggupan sabarnya kita. Secara ‘aqidah, modalnya masuk surga adalah sabar menjalani hidup dengan iman. Secara syari’at modalnya masuk surga adalah sabar menjalani ibadah.

“Secara akhlaq, modalnya masuk surga adalah sabar menjalani musibah. Sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan dalam Surat Thaha ayat 132 yang artinya, Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya,” tutur Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia Pusat.

Remaja Mujahidin Ajak Peserta Pahami Cinta Lewat Ibrah Kisah Ibrahim dan Ismail

PONTIANAK (jurnalislam.com)– Remaja Mujahidin Kalimantan Barat menggelar Kajian Islam Spesial di Plaza Masjid Raya Mujahidin pada Jumat, (23/5/2025). Kegiatan ini menyasar anak-anak muda di wilayah Pontianak dan Kubu Raya, dengan harapan mampu menjadi wadah edukatif sekaligus spiritual bagi generasi penerus.

Mengusung tema “Cinta Tak Selalu Memiliki, Belajar Ikhlas dari Ibrahim dan Ismail,” kajian ini mengajak peserta memahami cinta dalam perspektif ketauhidan. Melalui kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, peserta diajak merenungkan makna cinta yang tidak selalu harus dimiliki, namun justru dimuliakan lewat keikhlasan dan pengorbanan.

Hadir sebagai pemateri, Bang M. Adia Nugraha, yang dikenal sebagai pencerita inspiratif dari komunitas teman cerita antibaper.ofc. Gaya penyampaiannya yang khas dan relevan dengan dunia anak muda menjadikan kajian ini terasa ringan, menyentuh, dan mudah diterima oleh berbagai kalangan peserta.

Peserta yang hadir berasal dari latar belakang beragam, seperti remaja masjid, pelajar, mahasiswa, anggota Rohis, hingga masyarakat umum. Mereka mendaftar terlebih dahulu melalui Google Form yang disediakan oleh panitia. Berdasarkan data yang dihimpun, lebih dari 100 peserta hadir dalam kegiatan ini.

Ketua Umum Remaja Mujahidin Kalbar, Ridho Ramadhan, menyampaikan bahwa tujuan utama dari kajian ini adalah untuk mengajak anak muda mengenal dan mencintai Sang Pemilik Hati, yakni Allah.

“Kami ingin anak muda tahu bahwa cinta sejati adalah kepada Allah, bukan sekadar cinta yang dibisikkan oleh manusia,” ungkap Ridho.

Kegiatan ini dikemas secara menarik dan tidak monoton. Selain suasana yang santai dan hangat, kajian ini juga disiarkan langsung melalui kanal YouTube Remaja Mujahidin Kalbar agar menjangkau audiens yang lebih luas. Hal ini sekaligus menjadi langkah inovatif dalam berdakwah kepada generasi digital saat ini.

Antusiasme peserta terlihat jelas selama acara berlangsung. Banyak yang merasa tersentuh oleh materi yang disampaikan. Salah satu peserta, Fahad, mengungkapkan kesannya.

“Rasanya greget bisa mengetahui artinya mengikhlaskan orang lain dan kita bisa meridhoi meskipun itu bukan yang kita harapkan,” ungkapnya.

Melihat tingginya minat dan respon positif dari peserta, Remaja Mujahidin berencana menjadikan Kajian Islam Spesial ini sebagai program berkelanjutan. Harapannya, kegiatan ini bisa menjadi ruang aman dan penuh makna bagi anak muda untuk terus belajar mencintai Allah dan memperkuat nilai keislaman dalam kehidupan mereka.

Kontributor: Samsul

Hamas: Penggunaan Warga Sipil sebagai Tameng oleh Israel Adalah Kejahatan Perang

GAZA (jurnalislam.com)– Gerakan Perlawanan Islam Hamas mengecam keras praktik militer Israel yang menggunakan warga Palestina sebagai tameng manusia dalam operasi di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Pernyataan ini disampaikan Hamas merespons laporan investigasi Associated Press (AP) yang dirilis Sabtu, (24/05/2025), yang memuat pengakuan sejumlah prajurit dan perwira Israel mengenai praktik tersebut.

“Penggunaan warga Palestina sebagai perisai manusia oleh tentara pendudukan, sebagaimana diakui oleh para prajuritnya, merupakan kejahatan perang yang menyingkap keruntuhan moral musuh,” bunyi pernyataan resmi Hamas yang dirilis melalui kanal resmi gerakan tersebut.

Dalam laporan AP, terungkap bahwa praktik itu dilakukan dengan perintah eksplisit dari petinggi militer Israel. Warga sipil dipaksa untuk masuk ke rumah-rumah, menyusuri terowongan, dan berdiri di depan pasukan serta kendaraan militer saat operasi berlangsung. Hamas menilai pengakuan tersebut sebagai bukti keterlibatan militer Israel dalam pelanggaran sistematis terhadap hukum internasional.

Hamas juga menyebut bahwa tindakan semacam ini bukanlah insiden terisolasi, melainkan bagian dari kebijakan sistematis yang mencerminkan keruntuhan moral dalam tubuh militer Israel.

“Pengakuan para prajurit itu sendiri, bersama dengan pernyataan organisasi Breaking the Silence, yang menyatakan bahwa praktik-praktik ini tersebar luas, menunjukkan bahwa tentara pendudukan terlibat dalam eksploitasi kriminal paling kejam terhadap tahanan dan warga sipil,” lanjut pernyataan tersebut.

Lebih lanjut, Hamas menyerukan kepada komunitas internasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan lembaga-lembaga terkait untuk menghentikan praktik keji tersebut, meminta pertanggungjawaban para pelaku, dan membawa mereka ke pengadilan internasional.

“Diamnya dunia internasional adalah kedok yang memungkinkan pendudukan terus melanjutkan kejahatannya,” tutup pernyataan itu.

Kontributor: Bahry

Sersan Israel Akui Gunakan Anak-anak Palestina Sebagai Tameng Hidup

GAZA (jurnalislam.com)– Associated Press (AP), dalam laporan yang dirilis pada Sabtu, 24 Mei 2025, mengungkap kesaksian warga Palestina yang mengaku dipaksa oleh tentara Israel menjadi tameng hidup dalam operasi militer di Gaza maupun Tepi Barat.

Seorang sersan Israel yang tidak bersedia disebutkan namanya karena alasan keamanan mengungkapkan bahwa pasukannya sempat mencoba menolak perintah menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia pada pertengahan 2024. Namun, ia mengatakan bahwa mereka tidak diberi pilihan. Bahkan, seorang perwira senior menyatakan bahwa pasukan tak perlu khawatir tentang hukum humaniter internasional.

Pasukan itu, kata sang sersan, sempat menggunakan seorang remaja 16 tahun dan pria dewasa berusia 30 tahun sebagai tameng selama beberapa hari.

“Anak laki-laki itu terus-menerus gemetar,” ujarnya. Keduanya terus mengulang kata “Rafah, Rafah” merujuk pada kota paling selatan di Gaza, tempat lebih dari satu juta warga Palestina mengungsi.

“Mereka tampak memohon untuk dibebaskan,” tambah sang sersan. “Salah satu dari mereka berkata, ‘Saya punya anak.’”

Masoud Abu Saeed (36) juga menjadi korban. Ia mengatakan kepada Associated Press bahwa dirinya dipaksa oleh tentara Israel menjadi tameng manusia selama dua pekan pada Maret 2024 di Khan Younis, Gaza selatan.

“Ini sangat berbahaya,” katanya mengingat peristiwa tersebut. “Saya punya anak dan ingin bersatu kembali dengan mereka.”

Abu Saeed mengaku disuruh masuk ke rumah-rumah, gedung-gedung, dan bahkan rumah sakit untuk menggali terowongan yang dicurigai sebagai tempat operasi militan. Ia dipakaikan rompi penanggap pertama, dibekali palu, pemotong rantai, dan sebuah ponsel. Dalam salah satu operasi, ia bertemu saudaranya sendiri yang juga sedang dijadikan tameng oleh unit militer Israel lainnya.

“Kami berpelukan. Saya pikir tentara Israel telah mengeksekusinya,” katanya.

Praktik serupa juga terjadi di Tepi Barat. Hazar Estity, warga kamp pengungsi Jenin, menceritakan bahwa pada November 2023, tentara Israel membawanya kembali ke rumahnya. Ia dipaksa merekam bagian dalam beberapa apartemen dan membersihkannya sebelum pasukan masuk.

“Saya sangat takut mereka akan membunuh saya,” ujarnya.
“Dan saya tidak akan melihat putra saya lagi.” Estity mengatakan ia sempat memohon untuk kembali kepada anaknya yang masih berusia 21 bulan, namun permintaannya diabaikan.

Michael Schmitt, profesor hukum internasional dari Akademi Militer AS di West Point, mengatakan bahwa sangat sulit bagi seorang komandan untuk meyakinkan pasukannya agar tetap patuh pada hukum.

“Sungguh berat rasanya melihat tentara Anda sendiri dan berkata: Anda harus patuh,” kata Schmitt. (Bahry)

Sumber: TNA

Tentara Israel Bocorkan ‘Protokol Nyamuk’, Perintah Gunakan Warga Sipil sebagai Tameng Hidup

GAZA (jurnalislam.com)– Praktik penggunaan warga Palestina sebagai tameng manusia oleh tentara Israel kembali menjadi sorotan tajam. Meski Mahkamah Agung Israel telah melarang praktik ini sejak 2005, laporan-laporan terbaru menunjukkan bahwa kebijakan kejam ini justru kembali marak digunakan selama agresi Israel di Gaza sejak Oktober 2023.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia mencatat, praktik ini telah berlangsung selama beberapa dekade, baik di Gaza maupun di Tepi Barat. Namun, menurut para ahli, perang kali ini menjadi yang paling luas dalam penerapan metode keji tersebut.

Associated Press melaporkan pada 24 Mei 2025, dua tentara Israel dan satu mantan tentara yang memberikan kesaksian kepada kelompok Breaking the Silence mengaku bahwa praktik tameng manusia sudah diketahui secara luas oleh para komandan. Bahkan, mereka mengatakan beberapa komandan secara langsung memberi perintah untuk melakukannya.

Praktik tersebut bahkan punya istilah internal: “protokol nyamuk.” Warga Palestina disebut sebagai “nyamuk” istilah tidak manusiawi yang digunakan untuk menggambarkan peran mereka sebagai perisai di medan tempur.

Seorang mantan tentara Israel berusia 26 tahun mengatakan, ide ini menyebar luas di kalangan militer karena dinilai efektif.

“Begitu ide ini dicetuskan, ide itu langsung menyebar luas,” ujarnya. Ia menyebut bahwa praktik ini mempercepat operasi, menghemat amunisi, dan menyelamatkan anjing-anjing tempur dari cedera atau kematian.

Ia mengaku pertama kali menyadari penggunaan tameng manusia tidak lama setelah perang meletus pada 7 Oktober 2023, dan menyebut praktik ini meluas di pertengahan 2024.

“Perintah untuk ‘membawa nyamuk’ sering kali datang melalui radio,” katanya kode yang dimengerti oleh seluruh pasukan.

Di akhir masa tugasnya selama sembilan bulan di Gaza, ia mengatakan hampir setiap unit infanteri menggunakan warga Palestina untuk masuk dan “membersihkan” rumah-rumah sebelum pasukan utama menyusul masuk.

Ia juga mengungkap sebuah pertemuan perencanaan tahun 2024, di mana seorang komandan brigade menyajikan slide bertuliskan “tangkap nyamuk” di hadapan komandan divisi, sambil menyarankan agar “menangkap satu nyamuk di jalanan.”

Mantan perwira tersebut mengaku telah mengirim dua laporan insiden kepada komandannya terkait penggunaan tameng manusia. Salah satunya mendokumentasikan insiden tragis seorang warga Palestina yang sedang digunakan sebagai tameng tertembak oleh unit lain yang tidak mengetahui situasi. Ia bahkan menyarankan agar warga Palestina yang dijadikan tameng mengenakan seragam tentara untuk menghindari salah tembak.

Ia juga mengaku mengetahui setidaknya satu warga Palestina lainnya yang tewas saat dipaksa masuk ke dalam terowongan dan kemudian pingsan hingga meninggal.

Laporan-laporan ini memperkuat kekhawatiran komunitas internasional bahwa Israel telah secara sistemik melanggar hukum humaniter internasional dengan memperlakukan warga sipil sebagai alat tempur. (Bahry)

Sumber: TNA

Ketakutan di Medan Tempur, Tentara Israel Paksa Warga Palestina Jadi Tameng Manusia di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Sejumlah warga Palestina dan tentara Israel menyampaikan kepada kantor berita Associated Press bahwa militer Israel secara sistematis memaksa warga sipil Palestina untuk menjadi tameng manusia dalam operasi mereka di Jalur Gaza. Mereka mengklaim warga sipil dikirim ke dalam rumah dan terowongan untuk memeriksa keberadaan bahan peledak atau militan bersenjata.

Salah satu korban, Ayman Abu Hamadan (36), warga Gaza, mengatakan bahwa ia dipaksa oleh tentara Israel untuk mengenakan seragam militer dengan kamera yang dipasang di dahinya. Ia kemudian diperintahkan memasuki rumah-rumah di wilayah Gaza utara untuk memastikan lokasi tersebut bersih dari ranjau atau militan.

“Mereka memukuli saya dan mengatakan kepada saya: ‘Anda tidak punya pilihan lain; lakukan ini atau kami akan membunuhmu,'” kata Abu Hamadan dalam wawancaranya dengan Associated Press yang dirilis pada Sabtu, (24/5/2025).

Abu Hamadan mengaku ditangkap pada Agustus 2024 setelah dipisahkan dari keluarganya. Ia menyebut dirinya ditahan selama 17 hari dan selama itu pula ia dipaksa menyisir rumah-rumah dan memeriksa setiap lubang di tanah yang diduga sebagai jalur terowongan.

Tentara-tentara Israel, menurut Abu Hamadan, akan berdiri di belakangnya dan baru masuk ke dalam bangunan setelah ia memastikan bahwa tempat tersebut aman. Setelah selesai, ia diserahkan ke unit tentara lain dan mengalami perlakuan serupa. Setiap malam ia diikat di dalam ruangan gelap sebelum keesokan harinya kembali digunakan dalam operasi.

“Satu-satunya saat saya tidak diborgol atau ditutup matanya adalah ketika saya digunakan sebagai tameng manusia,” ujarnya.

Praktik berbahaya ini disebut telah berlangsung secara meluas selama 19 bulan konflik. Seorang perwira militer Israel yang tidak bersedia disebutkan namanya mengatakan, perintah menggunakan warga sipil untuk operasi semacam itu sering berasal dari atas. Ia menyebut hampir setiap peleton pernah memaksa warga Palestina untuk membersihkan lokasi sebelum tentara masuk.

Menanggapi laporan ini, militer Israel menyatakan mereka melarang keras penggunaan warga sipil sebagai tameng manusia. Mereka juga menegaskan larangan memaksa warga sipil untuk ikut serta dalam operasi militer. Pemerintah Israel sendiri kerap menuduh Hamas menggunakan warga sipil sebagai tameng, dan menyalahkan kelompok tersebut atas tingginya korban sipil di Gaza.

Namun, pengakuan dari korban dan tentara yang bersaksi justru menunjukkan praktik sebaliknya. Direktur Eksekutif Breaking the Silence, Nadav Weiman, organisasi mantan tentara Israel yang mengungkap pelanggaran HAM, menyebut praktik itu sebagai kegagalan sistemik.

“Ini bukan kisah yang berdiri sendiri; kisah-kisah ini menunjukkan kegagalan sistemik dan keruntuhan moral yang mengerikan,” kata Weiman.

“Israel dengan tepat mengutuk Hamas karena menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia, tetapi tentara kita sendiri menggambarkan hal yang sama.”

Praktik ini sebenarnya telah dilarang oleh Mahkamah Agung Israel sejak tahun 2005, namun laporan-laporan dari lapangan menunjukkan pelanggaran terus terjadi di tengah meningkatnya intensitas konflik. (Bahry)

Sumber: TNA

Berikan Klarifikasi, Ustaz Azizul Azmi Tegaskan Dugaan Pencabulan Bukan di Ponpes Khoirul Ummah Payung

BANGKA SELATAN (jurnalislam.com)— Menanggapi pemberitaan yang ramai diperbincangkan mengenai dugaan pencabulan oleh seorang pengajar pondok pesantren di Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan.

Pimpinan Pesantren Modern Khoirul Ummah Payung, Ustaz Muhammad Azizul Azmi, S.H.I., memberikan klarifikasi tegas bahwa kejadian tersebut tidak terjadi di lingkungan Pesantren Modern Khoirul Ummah Payung pada Jum’at, (23/5/25).

Dalam pernyataannya, Ustaz Muhammad Azizul Azmi yang merupakan lulusan dari Pesantren Darussalam Gontor menegaskan bahwa lokasi kejadian berada di salah satu desa dalam wilayah Kecamatan Payung, namun bukan di Desa Payung, tempat berdirinya Pesantren Modern Khoirul Ummah Payung.

“Kami menyampaikan bahwa kejadian yang sedang diberitakan bukan terjadi di Pesantren Modern Khoirul Ummah Payung, bukan pula di Desa Payung. Peristiwa tersebut terjadi di desa lain yang masih berada dalam wilayah administratif Kecamatan Payung,” jelas Ustaz M. Azizul Azmi, S.H.I.

Ustadz Azizul juga menghimbau masyarakat untuk tidak langsung mengaitkan seluruh lembaga pesantren dengan perbuatan yang dilakukan oleh oknum tertentu.

“Kami prihatin dan mendukung penuh proses hukum yang berjalan. Namun penting kami sampaikan bahwa tidak semua pesantren patut dicurigai atau digeneralisasi atas tindakan individu yang tidak bertanggung jawab. Pesantren Modern Khoirul Ummah Payung senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman, pendidikan, dan keselamatan anak-anak didik kami,” tambahnya.

Pesantren Modern Khoirul Ummah Payung juga menyatakan komitmennya terhadap transparansi dan keterbukaan dalam seluruh aktivitas pendidikan, serta siap bekerja sama dengan masyarakat dan aparat penegak hukum guna menjaga kepercayaan publik.

Ajak Masyarakat Tetap Dukung Pesantren

Ustaz M. Azizul Azmi juga mengajak masyarakat untuk tetap memberikan dukungan terhadap seluruh pesantren di Indonesia yang konsisten menjadi tempat pendidikan agama dan moral bagi generasi muda.

“Jangan biarkan satu kasus merusak citra lembaga pendidikan Islam secara umum. Justru saat inilah kita harus saling menguatkan dan memastikan bahwa anak-anak kita tetap mendapat tempat terbaik untuk belajar, berakhlak, dan berkembang,” katanya.

Ia mengajak para orang tua untuk tetap mempertimbangkan pesantren sebagai pilihan utama pendidikan anak, dengan memastikan bahwa pesantren yang dipilih adalah lembaga yang berkomitmen terhadap nilai-nilai agama, akhlak, serta pengawasan yang sehat dan bertanggung jawab.

“Mari kita jadikan pesantren sebagai tempat yang terus dipercaya untuk membentuk generasi yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia. Pilihlah pesantren yang jelas sistemnya, aman lingkungannya, dan baik penerapan ilmunya,” pungkas Pimpinan Pesantren Modern Khoirul Ummah Payung yang juga diamanahi sebagai Kepala KUA Kecamatan Payung.

Israel Cegat Masuknya Dokter dan Relawan Kemanusiaan di Gaza, 29 Anak dan Lansia Tewas karena Kelaparan

GAZA (jurmalislam.com)– Israel kembali menuai kecaman setelah menolak masuknya sekelompok dokter dan pekerja kemanusiaan ke Jalur Gaza, hanya beberapa jam sebelum mereka dijadwalkan memasuki wilayah tersebut pada Kamis (22/5/2025). Penolakan ini terjadi di tengah krisis kelaparan yang telah menewaskan 29 anak-anak dan lansia dalam beberapa hari terakhir, menurut Menteri Kesehatan Palestina, Majed Abu Ramadan.

Kelompok relawan yang beranggotakan enam orang itu sebelumnya dijadwalkan meninggalkan Yordania Kamis pagi bersama konvoi PBB. Namun, pada Rabu malam, mereka menerima pemberitahuan bahwa Israel tidak mengizinkan mereka memasuki Gaza. Informasi ini dikonfirmasi oleh dua sumber yang dekat dengan kelompok tersebut. Hingga kini, COGAT—unit militer Israel yang menangani pergerakan antara Israel dan Gaza—belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut.

Selama berbulan-bulan, kelompok bantuan internasional dan pekerja medis telah mengeluhkan pembatasan ketat dari Israel yang terus menghambat pengiriman bantuan kemanusiaan, di tengah kondisi Gaza yang kian memburuk akibat blokade total yang dimulai pada 2 Maret lalu. Blokade itu mencakup larangan masuknya pasokan medis, makanan, hingga bahan bakar penting.

Kepala Kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, mengungkapkan bahwa saat ini hampir 500.000 warga Gaza berada di ambang kelaparan akut. Ia bahkan memperingatkan bahwa sekitar 14.000 bayi berisiko meninggal dalam 48 jam jika bantuan tidak segera disalurkan.

Seorang tenaga medis yang sebelumnya ditolak masuk ke Gaza mengatakan bahwa tidak jelas bagaimana Israel menetapkan siapa yang diizinkan masuk atau tidak. Ia menolak disebutkan namanya karena berencana mencoba kembali masuk, namun menyatakan bahwa ia tidak bisa memahami logika di balik kebijakan Israel.

“Saya tidak mengerti mengapa Israel mempertimbangkan ini. Jika mereka memblokir semua hal lain, kenapa tidak juga pekerja kesehatan?” katanya.

Ia menambahkan, Israel bisa saja menggunakan keberadaan segelintir tenaga kesehatan sebagai alibi di masa depan.

“Ini semacam kedok kemanusiaan untuk melegitimasi kekerasan. Mereka akan berkata, ‘Kami izinkan 250 dokter masuk, jadi mana mungkin kami lakukan genosida?’” ujarnya.

Pada hari yang sama, COGAT mengklaim bahwa 198 truk bantuan telah memasuki Gaza melalui perbatasan, membawa makanan, obat-obatan, dan tepung gandum. Namun, menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), tantangan di lapangan masih sangat besar, termasuk risiko keamanan, penjarahan, dan keterlambatan distribusi akibat rute pengiriman yang tidak memadai dari pihak militer Israel.

Presiden Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina, Younis Al-Khatib, menyatakan bahwa sebagian besar bantuan itu belum benar-benar sampai ke warga sipil Gaza.

“Sebagian besar truk masih tertahan di Karem Shalom dan belum masuk ke wilayah Gaza,” tegasnya.

Sementara itu, kematian anak-anak dan lansia akibat kelaparan terus bertambah. Pemerintah Palestina menilai Israel bertanggung jawab atas bencana kemanusiaan ini, yang tidak hanya terjadi karena konflik bersenjata, tetapi juga karena sistematisnya pemblokiran bantuan untuk jutaan warga sipil yang terjebak di dalam Gaza. (Bahry)

Sumber: MEE