Prabowo: Indonesia Siap Akui Israel Jika Palestina Diakui

JAKARTA (jurnalislam.com)– Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan sikap Indonesia terhadap konflik Palestina-Israel saat menerima kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Kepresidenan pada Rabu (28/5/2025). Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menyampaikan komitmen Indonesia terhadap penyelesaian damai melalui solusi dua negara (Two State Solution).

“Di berbagai tempat, di berbagai fora, saya sampaikan sikap Indonesia bahwa Indonesia memandang hanya penyelesaian Two State Solution,” ujar Presiden Prabowo.

Ia menekankan bahwa kemerdekaan bagi bangsa Palestina merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai perdamaian yang sejati di kawasan Timur Tengah. Namun, Prabowo juga menyoroti pentingnya menjamin hak dan keamanan bagi negara Israel.

“Saya tegaskan bahwa kita juga harus mengakui dan menjamin hak Israel untuk berdiri sebagai negara yang berdaulat dan negara yang harus juga diperhatikan dan dijamin keamanannya,” katanya.

Presiden Prabowo menyatakan bahwa Indonesia siap membuka hubungan diplomatik dengan Israel, dengan syarat negara tersebut mengakui kemerdekaan Palestina terlebih dahulu.

“Indonesia sudah menyampaikan, begitu negara Palestina diakui oleh Israel, Indonesia siap untuk mengakui Israel dan kita siap untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel,” tegasnya.

Selain itu, Indonesia juga menyatakan kesiapannya untuk berperan aktif dalam menjaga stabilitas kawasan dengan mengirimkan pasukan perdamaian.

“Kami juga menyampaikan bahwa Indonesia siap untuk menyumbang pasukan perdamaian di kawasan tersebut,” pungkas Prabowo.

Al-Qassam Gempur Pasukan Zionis, 10 Tentara Kena Rudal, Tank Israel Meledak di Beit Lahia

GAZA (jurnalislam.com)– Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, terus melancarkan serangan terhadap pasukan pendudukan Israel dalam berbagai front pertempuran di Jalur Gaza. Dalam laporan resmi yang dirilis melalui kanal resminya, Al-Qassam mengumumkan sejumlah operasi yang menargetkan pasukan infanteri, kendaraan lapis baja, serta markas pasukan Zionis di beberapa wilayah strategis.

Pada 25 Mei 2025, para pejuang Al-Qassam berhasil menargetkan satuan infanteri Israel yang terdiri dari sekitar 10 tentara dengan rudal anti-personel di wilayah Al-Atatra, Beit Lahia, bagian utara Jalur Gaza. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan dan melukai sejumlah tentara Zionis.

Keesokan harinya, 26 Mei 2025, Al-Qassam kembali melancarkan serangan dengan rudal P-29 terhadap pengangkut personel lapis baja milik militer Israel di daerah Al-Fakhari, sebelah timur Khan Yunis. Serangan itu diikuti dengan pendaratan helikopter evakuasi Israel, yang menunjukkan adanya korban serius di pihak pasukan pendudukan.

Pada Selasa, 27 Mei 2025, seorang pejuang Al-Qassam berhasil menembak dan langsung menyerang seorang tentara Israel di Jalan Baghdad, kawasan timur lingkungan Shuja’iyya, Kota Gaza. Aksi ini menjadi bagian dari perlawanan langsung di jantung wilayah urban.

Puncaknya, Kamis, 29 Mei 2025, Al-Qassam merilis video dokumentasi operasi militer dalam rangkaian yang mereka sebut sebagai Operasi ‘Batu Daud’. Video tersebut menunjukkan rudal yang menghantam tank Merkava milik Israel dan pasukan Zionis yang tengah bersembunyi di sebuah rumah di Beit Lahia. Dalam aksi itu, Al-Qassam menggunakan rudal Al-Yassin 105 dan rudal anti-personel.

Dengan eskalasi pertempuran yang kian meningkat dan klaim keberhasilan yang terus dirilis oleh Al-Qassam, situasi di Jalur Gaza dipastikan tetap berada dalam kondisi darurat militer dan krisis kemanusiaan yang mendalam.

Kontributor: Bahry

Pengiriman Senjata AS ke-800 Tiba di Israel, Gaza Dibombardir Tanpa Henti

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Amerika Serikat kembali mengirimkan bantuan militer ke Israel berupa pengiriman senjata ke-800 yang mendarat di Tel Aviv pada Selasa (27/5). Kementerian Pertahanan Israel menyebutkan bahwa sejak agresi militer ke Gaza dimulai pada Oktober 2023, Washington telah mengirimkan lebih dari 90.000 ton persenjataan dan peralatan militer.

Pemerintah Israel menilai pengiriman senjata dari AS secara terus-menerus melalui jalur laut dan udara merupakan “komponen penting” dalam menjaga keberlanjutan operasi militer yang kini telah memasuki hari ke-600.

Selama 19 bulan terakhir, pemerintah AS telah menyetujui penjualan senjata ke Israel senilai hampir Rp480 triliun, termasuk Rp118 triliun untuk rudal dan bom pada Februari lalu serta bantuan senjata “darurat” sebesar Rp48 triliun pada Maret.

Laporan dari Costs of War Project Universitas Brown menyebutkan bahwa AS menghabiskan setidaknya Rp364 triliun antara 7 Oktober 2023 hingga 30 September 2024 untuk mendukung operasi militer Israel di Gaza sekaligus memperluas konflik regional di Timur Tengah.

Departemen Luar Negeri AS tercatat kerap menggunakan otoritas darurat untuk mempercepat pengiriman senjata. Bahkan bulan lalu, Senat AS menolak dua resolusi yang menentang pengiriman senjata dalam jumlah besar ke Israel.

Dalam pernyataan pada Maret lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan:

“Donald Trump adalah sahabat terbaik Israel di Gedung Putih. Dia menunjukkannya dengan mengirimkan semua amunisi yang ditahan. Dengan cara ini, dia memberi Israel peralatan yang kita butuhkan untuk menyelesaikan tugas melawan poros teror Iran.”

Hingga Mei 2025, militer Israel telah menjatuhkan lebih dari 100.000 ton bahan peledak di Gaza—jauh lebih besar dari jumlah gabungan bom yang dijatuhkan di Dresden, Hamburg, dan London selama Perang Dunia II yang totalnya mencapai 32.300 ton.

“Saya belum pernah melihat begitu banyak cedera akibat ledakan dalam hidup saya, dan saya belum pernah melihat begitu banyak cedera di Gaza dalam hidup saya. Kami juga melihat cedera ini pada anak-anak yang sangat kecil,” kata Dr. Victoria Rose, dokter bedah asal Inggris yang tergabung dalam tim medis ke Rumah Sakit Nasser, Khan Yunis, kepada wartawan.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 54.000 warga Palestina telah tewas akibat serangan Israel. Studi dari The Lancet menyebut jumlah korban sebenarnya bisa mencapai 41 persen lebih tinggi dari angka resmi.

Pihak berwenang Gaza menambahkan bahwa sekitar 65 persen dari korban tewas adalah wanita, anak-anak, dan lansia, serta menyatakan bahwa lebih dari 2.180 keluarga Palestina telah dibasmi seluruh anggotanya dalam serangan brutal tersebut. (Bahry)

Sumber: Cradle

4 Kg Tepung Dibayar dengan Darah, Warga Gaza Dihujani Peluru Saat Antri Bantuan GHF

GAZA (jurnalislam.com)– Sedikitnya tiga orang tewas dan puluhan lainnya terluka ketika ribuan warga Palestina yang kelaparan berdesakan demi bantuan pangan di Rafah, Gaza selatan, Selasa (27/5/2025). Kekacauan ini terjadi saat Yayasan Kemanusiaan Gaza (Gaza Humanitarian Foundation/GHF), organisasi baru kontroversial yang didukung Israel dan Amerika Serikat, mulai menyalurkan bantuan.

Warga Palestina yang dilanda kelaparan ekstrem akibat blokade Israel selama lebih dari tiga bulan, memanjat pagar dan menerobos kerumunan di bawah panas terik matahari demi mendapatkan bantuan. Kerusuhan terjadi di tengah suara tembakan dan helikopter militer Israel yang berputar-putar di atas lokasi.

“Kami sekarat karena kelaparan. Kami harus memberi makan anak-anak kami. Tidak ada pilihan lain,” ujar seorang ayah Palestina kepada Al Jazeera.

Kantor Media Pemerintah Gaza menuduh pasukan Israel melepaskan tembakan langsung ke warga sipil yang kelaparan.

“Insiden ini membuktikan kegagalan total pendudukan Israel dalam menangani bencana kemanusiaan yang mereka ciptakan sendiri. Apa yang terjadi di Rafah adalah pembantaian yang disengaja dan kejahatan perang,” tegas pernyataan tersebut.

Pihak militer Israel membantah menembaki warga sipil, mereka mengaku hanya melepaskan tembakan peringatan ke area luar. Mereka mengklaim situasi telah terkendali dan distribusi bantuan akan tetap dilanjutkan.

𝗚𝗛𝗙 𝗗𝗶𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻: 𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗡𝗲𝘁𝗿𝗮𝗹, 𝗠𝗶𝗻𝗶𝗺 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗮𝗹𝗮𝗺𝗮𝗻

GHF, yang bermarkas di Swiss, dibentuk pada Februari 2025 melalui pertemuan rahasia antara pejabat-pejabat Israel dan tokoh bisnis Amerika. Organisasi ini ditunjuk Israel sebagai distributor utama bantuan di Gaza, menggantikan peran PBB dan LSM internasional yang kini diblokade masuk.

Namun GHF menuai kritik keras. Kelompok ini dianggap tidak memiliki kapasitas memadai dan tak mematuhi prinsip-prinsip kemanusiaan seperti netralitas dan imparsialitas. Mantan pimpinan GHF bahkan mengundurkan diri awal pekan ini dengan alasan lembaga tersebut gagal menjaga independensinya.

Menurut laporan The New York Times, GHF didirikan oleh jaringan pejabat militer dan pengusaha pro-Israel. Warga Palestina juga menyoroti penggunaan sistem biometrik seperti pengenalan wajah dalam distribusi bantuan, yang mereka nilai sebagai bentuk pengawasan dan penindasan baru.

“Ini bukan cara memberi bantuan,” kata Ahmed Bayram dari Dewan Pengungsi Norwegia.

“Yang terjadi hari ini adalah akibat dari rencana yang sembrono dan tidak manusiawi.” imbuhnya.

𝗗𝗶𝘀𝘁𝗿𝗶𝗯𝘂𝘀𝗶 𝗠𝗶𝗻𝗶𝗺 𝗱𝗮𝗻 𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗟𝗮𝘆𝗮𝗸

Berbeda dengan jaringan distribusi PBB yang memiliki lebih dari 400 titik, GHF hanya mengoperasikan empat lokasi di seluruh Gaza. Ransum yang dibagikan pun dinilai sangat minim dan tidak layak.

Seorang jurnalis Al Jazeera di Deir el-Balah melaporkan bahwa satu paket bantuan hanya berisi 4 kg tepung, sedikit pasta, dua kaleng kacang, teh, biskuit, dan lentil.

“Ini jelas tidak cukup, apalagi untuk semua penghinaan yang dialami warga Palestina saat menerima paket makanan ini,” katanya.

PBB sendiri mengaku prihatin atas kekacauan tersebut.

“Kami dan mitra kami memiliki rencana distribusi yang prinsipil dan operasional. Bantuan harus masuk tanpa hambatan, dan disalurkan oleh lembaga profesional,” kata juru bicara PBB, Stephane Dujarric.

𝗞𝗲𝗹𝗮𝗽𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗦𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴

Menurut laporan terbaru Integrated Food Security Phase Classification (IPC), sekitar 93 persen penduduk Gaza setara 1,95 juta orang menghadapi krisis pangan akut. Para pengamat kemanusiaan menuding Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata perang.

“Solusinya sederhana: buka gerbang dan biarkan bantuan masuk,” tegas Bayram. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Israel Bom Sekolah Lagi, Puluhan Pengungsi Tewas Terpanggang Saat Tidur

GAZA (jurnalislam.com)– Serangan udara Israel kembali menelan korban jiwa dalam jumlah besar di Jalur Gaza. Sedikitnya 50 orang dilaporkan tewas sejak Senin (27/5) dini hari, termasuk 36 warga sipil yang tengah berlindung di sebuah sekolah yang telah dijadikan tempat penampungan.

Menurut laporan pejabat kesehatan di Gaza, serangan terjadi di Sekolah Fahmi al-Jarjawi yang terletak di lingkungan Daraj, Kota Gaza. Sekolah itu sebelumnya telah dialihfungsikan sebagai tempat perlindungan bagi warga yang mengungsi akibat perang berkepanjangan.

“Serangan dilakukan tiga kali berturut-turut saat orang-orang sedang tidur. Seorang ayah dan lima anaknya turut menjadi korban,” ungkap Fahmy Awad, kepala layanan darurat Kementerian Kesehatan Gaza.

Dua rumah sakit besar di Kota Gaza, al-Shifa dan al-Ahli, telah mengonfirmasi jumlah korban tewas dan luka-luka. Banyak korban mengalami luka bakar serius akibat kebakaran yang dipicu oleh serangan tersebut.

Juru bicara Pertahanan Sipil Palestina, Mahmoud Basal, mengatakan bahwa sekolah tersebut menampung ratusan pengungsi, dan sebagian besar korban jiwa adalah perempuan dan anak-anak.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan petugas penyelamat berjuang memadamkan api dan mengevakuasi jenazah dari reruntuhan bangunan yang hangus terbakar.

Militer Israel mengklaim serangan tersebut menargetkan pusat komando dan kendali milik kelompok Hamas dan Jihad Islam Palestina yang disebut beroperasi dari dalam sekolah. Israel kembali menyalahkan Hamas atas jatuhnya korban sipil, dengan alasan kelompok tersebut menggunakan infrastruktur sipil untuk keperluan militer.

Namun, kesaksian para penyintas menggambarkan penderitaan mendalam. Ibrahim al-Khalili, jurnalis Al Jazeera, berbicara kepada Ahed Sameeh, salah satu korban selamat. Ia menggendong putrinya yang berusia tiga tahun saat serangan terjadi.

“Darah di baju saya ini darah anak saya. Tengkoraknya retak,” ujarnya penuh duka. “Kami hanyalah warga sipil yang damai dan tak berdaya. Kami tidak ada hubungannya dengan para pejuang dan senjata.”

Korban lainnya, Bushra Rajab, menggambarkan kepanikan saat serangan terjadi.

“Saya terbangun karena suara ledakan dan orang-orang berteriak. Banyak yang tewas, beberapa dari mereka adalah saudara saya. Potongan tubuh berserakan di mana-mana,” katanya.

Serangan terhadap fasilitas sipil seperti sekolah sebenarnya dilarang dalam hukum humaniter internasional. Namun, sepanjang 19 bulan perang di Gaza, Israel telah berulang kali membombardir sekolah-sekolah yang kini sebagian besar difungsikan sebagai tempat penampungan pengungsi.

Sebelumnya, pada November 2023, setidaknya 50 orang tewas akibat serangan di Sekolah al-Buraq, Kota Gaza. Pada Agustus, lebih dari 100 orang dilaporkan tewas di Sekolah al-Tabin saat sedang melaksanakan salat subuh. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

MUI: Kunjungan PM China Momentum Penting untuk Perdamaian Gaza

JAKARTA (jurnalislam.com)– Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional (HLNKI), Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, menilai kunjungan Perdana Menteri (PM) China ke Indonesia sebagai momentum penting untuk memperkuat kerja sama strategis, tidak hanya di bidang ekonomi tetapi juga dalam mendorong perdamaian dunia, termasuk penyelesaian konflik di Gaza.

“Kunjungan kenegaraan ini sangat penting mengingat situasi global, khususnya yang terkait dengan keadaan yang semakin memburuk di Gaza sebagai akibat genosida Israel dan didukung oleh Amerika,” ujar Prof. Sudarnoto saat dihubungi MUIDigital, Senin (26/5/2025).

Menurutnya, China sebagai salah satu kekuatan besar dunia dalam bidang politik, ekonomi, dan militer memiliki peluang besar untuk memainkan peran strategis dalam menghentikan kekerasan di Palestina.

“China juga berpeluang dan memiliki pengaruh dan kekuatan untuk menghentikan aksi brutal Israel dan Amerika,” tegasnya.

Prof. Sudarnoto menambahkan bahwa kerja sama Indonesia dan China harus dibingkai dalam semangat kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian global. Ia mendorong kedua negara untuk bersinergi sebagai kekuatan penyeimbang dalam upaya melawan ketidakadilan internasional yang dilakukan oleh negara-negara besar.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kerja sama ini perlu dilandasi prinsip kesetaraan, penghormatan terhadap kedaulatan, dan kemaslahatan bersama. Ia juga mengingatkan bahwa kerja sama ini tak boleh mengabaikan isu-isu hak asasi manusia, termasuk perlindungan terhadap umat Islam.

“Seiring dengan pertumbuhan gerakan Islamofobia, maka China ke depan juga perlu tampil sebagai negara yang anti-Islamofobia, anti-diskriminasi, dan anti-rasisme-rasialisme sebagaimana yang terjadi di Amerika,” katanya.

Prof. Sudarnoto menilai, kunjungan PM China ke Indonesia ini sekaligus menjadi ujian awal bagi arah kebijakan luar negeri Indonesia di bawah pemerintahan presiden terpilih, Prabowo Subianto. Momen ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mempertegas posisi Indonesia sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan global.

Gaza Tanpa Obat, WHO Sebut Stok Medis Hampir Habis Total

GAZA (jurnalislam.com)– Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa mayoritas persediaan peralatan medis di Jalur Gaza telah habis, sementara hampir separuh obat-obatan dasar, termasuk obat pereda nyeri, tidak lagi tersedia.

“Stok kami hampir mencapai 64 persen peralatan medis dan stok nol untuk 43 persen obat-obatan esensial serta 42 persen vaksin,” ujar Hanan Balkhy, Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur, dalam konferensi pers di Jenewa, Senin (26/5/2025).

Balkhy menyampaikan bahwa WHO saat ini memiliki 51 truk bantuan yang tertahan di perbatasan Gaza, menunggu izin masuk. Meski Israel telah sedikit melonggarkan blokade total terhadap bantuan sejak awal Maret, truk-truk WHO belum mendapat akses masuk.

“Bisakah Anda membayangkan seorang ahli bedah memperbaiki tulang yang patah tanpa anestesi? Cairan infus, jarum, perban—semuanya tidak tersedia dalam jumlah yang mencukupi,” jelasnya. Balkhy menambahkan bahwa stok antibiotik, obat penghilang rasa sakit, dan obat penyakit kronis kini sangat terbatas.

Setelah blokade selama 11 minggu, Israel mengizinkan 100 truk bantuan memasuki Jalur Gaza pada 21 Mei. Truk tersebut membawa tepung, makanan bayi, dan sebagian peralatan medis, namun tak satu pun berasal dari WHO. PBB dan lembaga kemanusiaan lainnya menilai bantuan itu masih jauh dari cukup untuk mengatasi krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.

Di tengah kekurangan ini, WHO menegaskan bahwa mereka tidak akan terlibat dalam skema distribusi bantuan alternatif yang didukung Amerika Serikat dan diusulkan oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF). PBB khawatir keterlibatan yayasan ini dapat memicu pengungsian lebih lanjut dan membahayakan keselamatan warga sipil.

Sementara itu, pihak GHF menyatakan bahwa skema mereka akan menjamin bantuan sampai ke tangan rakyat Gaza tanpa dialihkan ke Hamas atau kelompok kriminal. Namun tuduhan Israel yang menyatakan Hamas mencuri bantuan hingga kini belum didukung oleh bukti dan dibantah oleh pihak Palestina.

The Gaza Humanitarian Foundation (GHF) sendiri merupakan yayasan baru yang diklaim independen dan mendapat dukungan dari Amerika Serikat. Namun, keberadaannya masih menuai kontroversi, terutama menyangkut transparansi dan potensi dampaknya terhadap stabilitas kehidupan sipil di Gaza. (Bahry)

Sumber: TNA

Brigade Al-Qassam Klaim Hancurkan Tank dan Lukai Pasukan Israel di Gaza Utara

GAZA (jurnalislam.com)- Sayap militer Gerakan Perlawanan Islam Hamas, Brigade Izzuddin Al-Qassam, merilis laporan terbaru mengenai sejumlah operasi militer mereka terhadap pasukan pendudukan Israel di Jalur Gaza, khususnya di wilayah utara dan timur.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui situs resmi mereka pada Senin (26/5/2025), para pejuang Al-Qassam mengklaim telah berhasil menargetkan dua tank milik militer Israel menggunakan peluru kendali “Al-Yassin 105”. Serangan ini terjadi di wilayah Aslan, Beit Lahia, Gaza utara, pada 24 Mei 2025. Salah satu tank dilaporkan terbakar hebat akibat serangan langsung tersebut.

“Setelah kembali dari garis pertempuran, para pejuang kami mengonfirmasi bahwa mereka menargetkan dua tank Zionis dengan peluru ‘Al-Yassin 105’, yang menyebabkan kebakaran di salah satu kendaraan,” tulis pernyataan resmi Brigade Al-Qassam.

Tidak hanya itu, dalam operasi terpisah di wilayah Al-Qar’a Al-Khamisa, Beit Lahia, para pejuang Al-Qassam juga mengklaim berhasil meluncurkan rudal anti-personel ke arah pasukan Israel yang bersembunyi di dalam sebuah rumah. Serangan tersebut dikatakan menimbulkan korban di pihak Israel.

Pada malam hari yang sama, di wilayah timur Jalan Al-Muntar, sebelah timur lingkungan Shuja’iyya, Kota Gaza, Brigade Al-Qassam melaporkan bahwa mereka telah menyasar pasukan teknik Israel yang mencoba menyusup ke wilayah tersebut. Beberapa peluru anti-personel ditembakkan ke arah unit yang terdiri dari empat tentara Israel. Selain itu, ladang ranjau yang telah dipasang sebelumnya juga berhasil diledakkan ketika pasukan Israel memasuki area itu.

“Pasukan Israel yang terdiri dari 4 tentara menjadi sasaran beberapa peluru anti-personel, dan ladang ranjau diledakkan dalam pasukan teknik lain yang menyusup pada malam hari,” ungkap Al-Qassam.

Laporan keberhasilan serangan Al-Qassam ini muncul di tengah berlangsungnya operasi militer besar-besaran Israel yang dikenal dengan nama “Kereta Perang Gideon” (Gideon War Chariot), sebuah ofensif darat intensif yang diluncurkan untuk menghancurkan infrastruktur perlawanan di Gaza. Operasi ini melibatkan penggunaan kekuatan tempur penuh, termasuk kendaraan lapis baja, pasukan elit, dan teknologi tempur terbaru seperti robot peledak.

Namun, klaim dari Al-Qassam memperlihatkan bahwa perlawanan di lapangan tetap kuat dan berusaha mengimbangi agresi militer yang tak pandang bulu tersebut, di tengah penderitaan panjang rakyat sipil Gaza.

Kasus Ayam Goreng Mengandung Babi di Solo, MUI: Harus Ada Langkah Tegas, Jangan Abai!

JAKARTA (jurnalislam.com)— Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof. KH Asrorun Ni’am Sholeh, menyoroti serius kasus Ayam Goreng Widuran di Solo, Jawa Tengah, yang diketahui menggunakan bahan non-halal berupa campuran babi pada kremesannya. Padahal, rumah makan yang telah berdiri selama lebih dari 50 tahun itu mencantumkan tulisan “halal” di spanduknya dan mengklaim bahwa menunya halal.

“Pelaku usaha harus patuh pada undang-undang yang mewajibkan sertifikat halal bagi produk pangan yang diperdagangkan di Indonesia. Kalau tidak, ada sanksinya. Aparat pemerintah harus melakukan langkah tegas, tidak boleh abai,” kata Prof. Ni’am dalam keterangannya kepada MUIDigital, Senin (26/5/2025).

Ia mendesak agar pemerintah daerah segera mengambil tindakan, baik secara administratif maupun hukum, agar kasus ini tidak berdampak buruk pada reputasi kota Solo sebagai kota yang religius dan inklusif.

“Kalau tidak dilakukan langkah cepat, bisa merusak Kota Solo yang religius dan inklusif. Kasus Widuran ini contoh pelaku usaha yang culas dan tidak jujur yang bisa merusak reputasi Kota Solo,” tegasnya.

Menurut Guru Besar Ilmu Fikih UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu, kejadian ini juga berpotensi merugikan pelaku usaha lainnya di Solo. Ketidakpercayaan publik yang muncul dapat menurunkan jumlah wisatawan karena kekhawatiran terhadap keamanan menu makanan di kota tersebut.

“Merugikan pelaku usaha Kota Solo, bisa merusak kepercayaan publik kepada seluruh Kota Solo, berdampak menurunkan jumlah wisatawan karena rasa tidak aman terhadap menu makanan di Solo,” katanya.

Lebih lanjut, Prof. Ni’am menjelaskan bahwa ayam pada dasarnya adalah hewan yang halal dikonsumsi, namun status kehalalannya bisa hilang apabila proses penyembelihan atau pengolahannya tidak sesuai dengan syariat.

“Ayam yang disembelih secara benar, tapi jika digoreng dengan minyak babi, maka haram dikonsumsi,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa pemastian halal tidak bisa hanya dilihat dari nama menu atau bahan mentahnya, tapi juga dari keseluruhan proses pengolahannya.

“Menu ayam tidak serta merta dipastikan halal,” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Al-Nahdlah, Depok, Jawa Barat itu.

Menutup keterangannya, Prof. Ni’am mengingatkan masyarakat, khususnya umat Islam, untuk selalu berhati-hati dalam memilih tempat kuliner. Ia mendorong agar masyarakat memeriksa kehalalan produk makanan secara menyeluruh.

“Harus dipastikan kehalalannya, cek sertifikat halalnya, tanya pemiliknya, dan kendali indikasi-indikasinya,” pungkasnya.

Lebih Mengerikan dari Bom Udara, Israel Kirim Robot Peledak ke Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Militer Israel dilaporkan mengintensifkan penggunaan robot bermuatan bahan peledak di wilayah utara Jalur Gaza, menyebabkan kehancuran besar, korban jiwa, dan kepanikan di kalangan warga sipil. Laporan investigatif media berbahasa Arab milik The New Arab, Al-Araby Al-Jadeed, pada Ahad (25/5/2025), mengungkapkan bahwa teknologi mematikan ini telah digunakan secara luas, khususnya di kota Beit Hanoun dan Beit Lahia.

Robot-robot tersebut, yang dimodifikasi dari kendaraan lapis baja M113 dan membawa hingga lima ton bahan peledak, dioperasikan dari jarak jauh dan sering diparkir berjam-jam hingga berhari-hari di dekat rumah, rumah sakit, dan permukiman warga.

Mahmoud Nasser, pasien di Rumah Sakit Kamal Adwan, mengenang saat salah satu robot itu berhenti tepat di depan rumah sakit.

“Kami tidak bisa tidur malam itu. Semua orang menahan napas, karena ledakannya akan menghancurkan rumah sakit dan membunuh semua orang di dalamnya. Ketika robot itu akhirnya menjauh di pagi hari, kami semua menghela napas lega,” ujarnya kepada Al-Araby Al-Jadeed.

Nasser yang sebelumnya tinggal di Beit Hanoun juga menyaksikan beberapa ledakan dari dekat.

“Suaranya mengerikan – seperti gempa bumi. Dinding bergetar, dan area itu hancur. Warga kini mengenali robot-robot ini dari gerakannya yang kaku. Satu robot berhenti di luar rumah keluarga Abu Odeh – mereka mengira itu kendaraan biasa, tetapi meledak, menewaskan ketujuh anggota keluarga itu,” jelasnya.

Paramedis Pertahanan Sipil Gaza, Mohammed Tamous, menggambarkan skala kerusakan akibat robot-robot ini yang sangat luar biasa.

“Pada bulan November 2024, 15 robot diledakkan di dua jalan di Kamp Jabalia. Ledakan itu menyapu bersih seluruh blok. Puluhan orang menjadi martir. Sebagian besar warga mengungsi karena penembakan terus-menerus dan perintah evakuasi paksa,” katanya.

“Kami berada lima kilometer jauhnya dan masih mendengarnya seperti berada di dekat kami. Beberapa puing mencapai kami. Orang-orang kehilangan pendengaran. Penyelamatan tidak mungkin dilakukan – area itu hancur.” imbuhnya.

Penggunaan robot-robot ini juga menyebabkan pengungsian massal. Abu Nasr, yang tinggal hanya satu kilometer dari lokasi ledakan, berkata:
“Kami menghabiskan sepanjang hari menghitung ledakan robot. Kami mempercayakan diri kepada Tuhan – suaranya mengerikan, dan kerusakannya sangat besar.”

Musab Shabat, warga Gaza yang melarikan diri bersama keluarganya dari jalan Al-Jalaa, menggambarkan efek ledakan,

“Anda merasakan getaran di bumi, seperti gempa bumi, tetapi lebih keras. Bahkan dari jarak satu kilometer, getarannya terasa di dekat Anda. Saya tidak bisa menenangkan anak-anak saya. Ketika robot itu bergerak, itu berarti seluruh blok akan lenyap.”

Shireen Mousa Hamdan (37), pengungsi dari Beit Hanoun, mengalami langsung dampaknya.

“[Israel] mengirim robot setiap hari. Mereka berkeliaran di gang-gang dan menyebarkan ketakutan. Rumah kami yang berlantai tiga terkena serangan udara. Anak saya menjadi martir. Saya mengalami patah tulang tengkorak dan sekarang menggunakan kursi roda. Semua keluarga saudara laki-laki suami saya tewas,” katanya.

“Robot itu menghancurkan lima rumah dan mengubahnya menjadi abu. Sebuah tank menembakkan satu peluru – Anda bisa bersembunyi. Tetapi robot mengubah segalanya menjadi debu.”

Organisasi hak asasi manusia Euro-Med Monitor mengecam penggunaan robot peledak di kawasan sipil. Mereka menyebut praktik ini sebagai pelanggaran hukum internasional karena tidak dapat membedakan antara target militer dan warga sipil.

Penggunaan robot peledak ini menambah daftar panjang metode militer Israel yang menuai kritik internasional dalam konflik yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil Palestina sejak Oktober 2023. (Bahry)

Sumber: TNA