Iran Tegaskan Tak Akan Hentikan Serangan ke Israel hingga Agresi Dihentikan

TEHERAN (jurnalislam.com)– Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya tidak akan menghentikan serangan terhadap Israel selama agresi yang didukung Amerika Serikat terhadap Iran belum berakhir. Pernyataan ini disampaikan pada Ahad (15/6/2025) di tengah meningkatnya eskalasi konflik militer antara kedua negara.

“Kami membela diri; pembelaan kami sepenuhnya sah,” kata Araghchi dalam konferensi pers.

“Pembelaan ini adalah respons kami terhadap agresi. Jika agresi berhenti, tentu saja respons kami juga akan berhenti.” ungkapnya.

Iran juga mengecam keras serangan Israel terhadap ladang gas lepas pantai South Pars pada Sabtu malam. Araghchi memperingatkan bahwa membawa konflik ke wilayah Teluk Persia merupakan kesalahan strategis yang bertujuan memperluas perang ke luar Iran.

“Serangan Israel tidak akan pernah terjadi tanpa lampu hijau dan dukungan,” ujar Araghchi.

Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak mempercayai pernyataan Amerika Serikat yang mengklaim tidak terlibat dalam konflik.

“AS perlu mengutuk serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran jika mereka ingin membuktikan niat baik mereka,” tambahnya.

Araghchi mengungkapkan bahwa Iran memiliki bukti kuat keterlibatan langsung pasukan Amerika dalam mendukung Israel.

Sebagai balasan, Iran melancarkan Operasi True Promise 3 dengan meluncurkan ratusan rudal dan drone ke wilayah Israel, yang mengakibatkan kerusakan besar di kota-kota seperti Haifa dan Tel Aviv.

Serangan yang berlangsung sejak Jumat malam (13/6) itu menggunakan rudal canggih, termasuk rudal balistik dan hipersonik jenis Haj Qassem, Khaibar Shekan, Emad, dan Qader. Militer Iran menyebut aksi ini sebagai respons terhadap agresi militer Israel yang disebut-sebut mendapat dukungan dari Amerika Serikat.

Di Haifa, jaringan pipa dan saluran transmisi energi dilaporkan mengalami kerusakan parah, memaksa penutupan sementara beberapa fasilitas hilir. Sementara itu, Institut Sains Weizmann di Rehovot—pusat penelitian ilmiah terkemuka di Israel—juga terkena dampak. Sedikitnya satu gedung laboratorium dilaporkan terbakar akibat serangan rudal tersebut.

Di kota pesisir Bat Yam, lebih dari 100 orang mengalami luka-luka. Kementerian Kesehatan Israel mencatat sebanyak 385 orang dirawat di rumah sakit dalam 24 jam terakhir. Selain itu, 35 warga Israel masih dinyatakan hilang dan setidaknya 10 orang dilaporkan tewas sejak dimulainya operasi.

Di sisi lain, militer Iran mengklaim berhasil mencegat puluhan drone dan rudal Israel yang menargetkan sejumlah kota besar di Iran dalam dua hari terakhir.

Serangan lanjutan, militer Israel pada Ahad (15/6) mengumumkan telah menyerang setidaknya 80 target di wilayah Teheran pada Sabtu malam. Target tersebut termasuk markas besar Kementerian Pertahanan Iran, pusat penelitian nuklir SPND, serta sejumlah fasilitas yang disebut sebagai lokasi penyimpanan arsip nuklir.

Total, sejak konflik memanas, Israel mengklaim telah menyerang 170 target di berbagai wilayah Iran, termasuk instalasi militer dan terminal minyak.

Militer Iran memperingatkan bahwa serangan mereka akan ditingkatkan jika Israel dan sekutunya tidak segera menghentikan agresi terhadap wilayah Iran. (Bahry)

Sumber: Cradle

Solidaritas Palestina, ACA Indonesia Ajak Masyarakat Nonton Bareng Film Hayya 3 GAZA

SUKOHARJO (jurnalislam.com)- ACA Indonesia, lembaga kemanusiaan yang berkomitmen dan konsisten dalam membantu masyarakat Palestina, menggelar kegiatan Nonton Bareng (nobar) Film Hayya 3: GAZA, bersama Asatidz Soloraya. Acara ini dikemas dengan ajang solidaritas sekaligus penggalangan donasi untuk Palestina.

Acara nobar ini digelar di CGV Transmart Solo, Jl. A. Yani No.234, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, pada Sabtu malam, (14/6/2025). Acara ini terbuka untuk umum dan diharapkan menjadi momentum bersama untuk menyuarakan kepedulian terhadap nasib saudara-saudara kita di Gaza, Palestina.

Hadir dalam nobar Syeikh Younis dari Gaza, Palestina. Asatidz yang hadir Ustadz Yusuf Hilmi Ahmad, Ustadz Mas’ud Izzul Mujahid, Ustadz Mochammad Ridwanullah, Ustadz Rofiq Jauhari, Ustadz Hasan Agha, dan Habib Hasan Alaydrus. Hadir pula rombongan dari LKG TPQ (Lembaga Koordinasi Gerakan Taman Pendidikan Al-Qur’an) Solo Raya.

Dengan berinfak sebesar Rp 75.000, peserta tidak hanya mendapatkan tiket menonton dan nasi box, tetapi juga ikut berkontribusi langsung dalam program ACA Indonesia untuk Palestina.

Banyak masyarakat kagum dengan cerita yang dihadirkan dalam film, karena terdapat pesan-pesan inspiratif dan penuh makna.

“Malam ini saya bersama keluarga nonton film Hayya 3. Filmnya menginspirasi banget, mengingatkan kita agar peduli dengan masyarakat yang ada di Gaza, Palestina,” kata Bapak Sandi salah satu penonton saat diwawancarai tim.

“Banyak sekali hal-hal yang ternyata kita tidak tahu apa yang terjadi disana,dan akhirnya bersyukur banget hidup di Indonesia, lebih nyaman dan damai, sedangkan masyarakat Palestina diblokade dan dijajah Israel ,” tambah seorang peserta nonton bareng yang tidak menyebutkan namanya.

Sekitar 600 peserta nonton bareng pada sabtu malam, sangat antusias dan rela mengantri tiket masuk serta menunggu jatah film tayang.

“Alhamdulillah acara malam ini sukses, terlihat dari peserta nobar yang overload hingga harus antri untuk tiket nonton di hari Sabtu. Kurang lebih 600 peserta memadati seluruh studio CGV transmart Solo malam ini,” Ucap Ustadz Imron Rosadi, Direktur ACA Indonesia. “Kita boking malam ini empat studio”, jelasnya.

Film Hayya 3: GAZA merupakan bagian dari trilogi Hayya yang dikenal menyentuh dan menggugah. Film ini mengangkat kisah perjuangan dan kemanusiaan di Gaza, serta pentingnya solidaritas umat Islam di seluruh dunia.

Dengan adanya nobar Film Hayya 3 ini, diharapkan masyarakat kembali peduli terhadap krisis yang ada di Gaza, Palestina.

“Kami harap dengan adanya nobar Film Hayya 3, masyarakat Indonesia mengetahui informasi tentang kondisi di Gaza, Palestina saat ini, dan memunculkan rasa peduli terhadap kemanusiaan di Gaza, Palestina,” pesan Oki Saputro selaku panitia nobar.

Trump: Perang Israel-Iran Harus Diakhiri, Usai Telepon Panjang dengan Putin

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyerukan diakhirinya perang antara Israel dan Iran usai melakukan pembicaraan selama hampir satu jam dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada Sabtu (14/6).

Trump mengungkapkan bahwa sebagian besar isi percakapan difokuskan pada eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Israel, yang dalam beberapa hari terakhir saling melancarkan serangan mematikan.

“Dia merasa, seperti saya, perang antara Israel-Iran ini harus berakhir,” tulis Trump di akun Truth Social-nya.

“Yang saya jelaskan, perangnya juga harus berakhir.” imbuhnya.

Keterangan dari Kremlin melalui penasihat senior Yuri Ushakov menyebutkan bahwa Putin secara tegas mengutuk operasi militer Israel terhadap Iran dan mengungkapkan kekhawatiran mendalam terhadap risiko eskalasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

“Vladimir Putin mengutuk operasi militer Israel terhadap Iran dan menyatakan kekhawatiran serius tentang kemungkinan eskalasi konflik, yang akan memiliki konsekuensi yang tidak terduga bagi seluruh situasi di Timur Tengah,” ujar Ushakov kepada wartawan.

Kedua pemimpin juga membahas potensi kembali ke jalur diplomasi untuk membahas program nuklir Iran. Ushakov menyebut bahwa AS siap kembali ke meja perundingan dengan Iran, dengan Oman sebagai mediator. Namun, putaran terakhir pembicaraan yang dijadwalkan pada hari Ahad dibatalkan karena meningkatnya ketegangan.

Putin menegaskan bahwa Rusia tetap berkomitmen terhadap solusi damai atas isu nuklir Iran dan akan terus mendorong langkah konkret yang dapat diterima oleh semua pihak.

Sementara soal Ukraina, Trump mengaku hanya sedikit membahasnya dalam percakapan itu. Namun, diskusi lebih lanjut dikabarkan akan dilakukan dalam waktu dekat.

RIA, kantor berita Rusia, melaporkan bahwa Putin menyampaikan kesiapan Rusia untuk kembali bernegosiasi dengan Ukraina setelah tanggal 22 Juni.

Ushakov juga menyampaikan bahwa kedua pemimpin menunjukkan kepuasan atas “hubungan pribadi yang memungkinkan mereka berbicara secara langsung dan terbuka dalam mencari solusi atas persoalan internasional.”

Putin menutup pembicaraan dengan menyampaikan ucapan selamat ulang tahun ke-79 kepada Trump. (Bahry)

Sumber: TNA

Iran Klaim Tembak Jatuh 3 Jet Tempur Siluman F-35 Israel, Pilot Ditangkap

TEHERAN (jurnalislam.com)– Militer Iran mengklaim berhasil menembak jatuh satu jet tempur siluman F-35 milik Israel di langit wilayah barat Iran pada Sabtu (14/6/2025), menurut laporan kantor berita resmi Iran, IRNA.

Pilot pesawat tersebut dilaporkan sempat melontarkan diri sebelum pesawat jatuh. Laporan menyebutkan bahwa pasukan komando Angkatan Darat Iran telah menangkap pilot tersebut. Jika dikonfirmasi, ini akan menjadi F-35 Israel ketiga yang berhasil ditembak jatuh sejak dimulainya serangan Israel terhadap sejumlah situs strategis Iran pada Jumat (13/6).

F-35 dikenal sebagai jet tempur generasi kelima dengan teknologi siluman, sistem avionik canggih, dan kemampuan peperangan elektronik yang membuatnya sangat sulit dideteksi dan dijatuhkan. Sebelum konflik ini, belum ada laporan resmi tentang F-35 yang berhasil ditembak jatuh dalam pertempuran.

Israel memulai eskalasi dengan meluncurkan serangan udara yang menargetkan fasilitas nuklir, rudal, serta membunuh beberapa komandan senior militer Iran, ilmuwan nuklir, dan warga sipil.

Laporan media menyebutkan bahwa lebih dari 104 orang tewas dan hampir 380 lainnya terluka akibat serangan tersebut.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan puluhan rudal ke wilayah Israel dari Jumat malam hingga Sabtu pagi. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam pernyataannya mengatakan bahwa “puluhan rudal balistik berhasil mengenai target strategis musuh.”

“Laporan lapangan, citra satelit, dan intelijen yang dicegat menunjukkan bahwa rudal-rudal tersebut mencapai sasaran secara efektif. Meski musuh mengklaim berhasil mencegatnya, kenyataannya mereka gagal menahan gelombang serangan rudal kami,” tegas IRGC.

Pada Sabtu siang, militer Israel mengakui bahwa tujuh tentaranya terluka dalam serangan rudal balistik yang menghantam wilayah tengah Israel pada malam sebelumnya. Ini menjadi pengakuan resmi pertama atas korban militer Israel sejak permusuhan langsung antara kedua negara pecah dua hari lalu. (Bahry)

Sumber: Cradle

Iran Peringatkan AS dan Sekutunya: Pangkalan Militer Akan Jadi Target Jika Bantu Israel

TEHERAN (jurnalislam.com)– Pemerintah Iran mengeluarkan peringatan tegas kepada Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis agar tidak ikut campur dalam konflik Iran-Israel. Dalam pernyataan yang dimuat media pemerintah, Iran menyatakan bahwa seluruh pangkalan militer dan kapal angkatan laut milik negara-negara tersebut di kawasan Teluk Persia dan Laut Merah akan menjadi sasaran jika mereka membantu Israel menghadapi serangan balasan dari Teheran.

“Setiap negara yang berpartisipasi dalam menangkal serangan Iran terhadap Israel akan menjadi sasaran semua pangkalan regional pemerintah yang terlibat, termasuk pangkalan militer di negara-negara Teluk Persia dan kapal serta kapal angkatan laut di Teluk Persia dan Laut Merah oleh pasukan Iran,” demikian pernyataan yang dikutip Kantor Berita Mehr.

Sementara itu, seorang pejabat militer senior Iran mengatakan kepada Kantor Berita Fars bahwa konfrontasi ini tidak akan berhenti hanya pada serangan terbatas tadi malam. Ia memperingatkan bahwa serangan balasan Iran akan terus berlanjut dan menyakitkan bagi pihak-pihak yang terlibat dalam agresi terhadap negaranya.

“Dalam beberapa hari mendatang, perang akan menyebar ke semua wilayah Israel dan pangkalan AS di wilayah tersebut,” ujarnya.

𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹 𝗔𝗻𝗰𝗮𝗺 𝗧𝗲𝗵𝗲𝗿𝗮𝗻: “𝗔𝗸𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝗯𝗮𝗸𝗮𝗿”

Menanggapi peringatan Iran, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz memperingatkan bahwa “Teheran akan terbakar” jika serangan rudal ke wilayah Israel terus berlanjut. Ia menuding Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, telah menjadikan rakyat Iran sebagai tameng.

“Penduduk Teheran akan membayar harga yang mahal atas kejahatan terhadap warga sipil Israel,” tegas Katz.

Konflik memanas sejak serangan udara besar-besaran Israel pada Jumat (13/6) yang menyasar infrastruktur nuklir dan militer Iran. Serangan itu menewaskan puluhan orang, termasuk beberapa ilmuwan nuklir Iran.

Serangan tersebut juga menghantam situs nuklir penting di Natanz, Isfahan, dan Fordow, serta daerah pemukiman di Teheran. Ratusan orang dilaporkan terluka, sebagian besar warga sipil. Meski demikian, tidak ada kebocoran nuklir yang dikonfirmasi sejauh ini.

𝗢𝗽𝗲𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗜𝗿𝗮𝗻: “𝗧𝗿𝘂𝗲 𝗣𝗿𝗼𝗺𝗶𝘀𝗲 𝗜𝗜𝗜”

Iran merespons serangan tersebut dengan Operasi “True Promise III”, sebuah gelombang serangan rudal balistik dan drone yang menargetkan situs-situs militer Israel. Puluhan rudal dilaporkan berhasil menembus sistem pertahanan Iron Dome, dan menghantam wilayah Tel Aviv, Yerusalem, dan Haifa.

Sedikitnya tiga warga sipil tewas dan lebih dari 60 orang terluka akibat serangan ini. Pemerintah Israel mengonfirmasi adanya kerusakan di wilayah permukiman dan instalasi militer, namun menyebut korban jiwa di pihak mereka masih terbatas.

Iran menegaskan bahwa eskalasi ini merupakan deklarasi perang, dan memperingatkan bahwa konflik akan terus melebar ke aset militer AS dan sekutunya di kawasan jika mereka tetap ikut campur. (Bahry)

Sumber: Cradle

AS Diam-Diam Kirim 300 Rudal Hellfire ke Israel Jelang Serangan ke Iran

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Amerika Serikat dilaporkan secara diam-diam mengirimkan sekitar 300 rudal Hellfire ke Israel hanya beberapa hari sebelum Tel Aviv melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran. Laporan ini pertama kali diungkap oleh Middle East Eye (MEE) pada Sabtu (14/6).

Rudal Hellfire senjata presisi berpemandu laser yang biasa digunakan untuk serangan udara dan pembunuhan terarah disebut telah tiba di Israel pada Selasa (10/6/2025). Pengiriman ini merupakan bagian dari kesepakatan senjata senilai $7,4 miliar (Rp120 triliun) yang telah disetujui Kongres AS sejak Februari 2025, meski tidak pernah diumumkan secara publik

“Pengiriman sejumlah besar Hellfire menunjukkan bahwa Gedung Putih mendapat informasi lengkap tentang rencana Israel untuk menyerang Republik Islam Iran,” tulis MEE, mengutip dua pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.

Seorang pejabat senior pertahanan AS mengatakan kepada MEE, “Ada waktu dan tempat untuk Hellfire. Mereka berguna bagi Israel.”

Serangan udara Israel pada Jumat (13/6), yang dijuluki Operasi “Lion’s Courage”, melibatkan lebih dari 100 jet tempur dan menargetkan fasilitas nuklir, pangkalan militer, serta permukiman sipil di Iran. Serangan ini menewaskan sedikitnya 78 orang, termasuk:

– Mayor Jenderal Hossein Salami, kepala Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)

– Mayor Jenderal Mohammad Bagheri, kepala staf angkatan bersenjata Iran

– Ali Shamkhani, ajudan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei

Iran kemudian meluncurkan serangan balasan yang dinamakan “Operasi True Promise III”, yang menghantam beberapa kota utama Israel seperti Tel Aviv, Yerusalem, dan Haifa. Beberapa rudal dilaporkan menembus sistem pertahanan Iron Dome, menewaskan sedikitnya tiga warga sipil dan melukai lebih dari 60 orang, serta menyebabkan kerusakan infrastruktur.

Pihak militer Israel mengonfirmasi adanya kerusakan pada area perumahan dan situs militer, namun menyebut korban jiwa di pihak mereka masih terbatas.

Sementara itu, dua pejabat AS menyatakan kepada Reuters bahwa militer AS turut membantu mencegat rudal Iran yang menuju Israel menggunakan sistem pertahanan rudal berbasis darat, meskipun pesawat tempur dan kapal perang AS belum dikerahkan secara langsung.

Sumber MEE juga mengungkap bahwa CIA telah diberi pengarahan tentang rencana serangan Israel sejak April dan Mei. Laporan menyebut CIA “terkesan” dengan kemampuan Israel untuk melakukan operasi besar ini tanpa bantuan langsung AS.

Sumber lain dari Israel mengatakan kepada Axios bahwa Trump secara terbuka pura-pura menentang serangan, namun secara pribadi memberikan persetujuan penuh.

“Kami memiliki lampu hijau AS yang jelas,” klaim seorang pejabat Israel kepada Axios.

Axios juga melaporkan bahwa pada bulan Maret, Trump telah memberi Iran tenggat 60 hari untuk menerima kesepakatan nuklir baru sebagai upaya mencegah serangan. Serangan Israel pada Jumat (13/6) terjadi tepat pada hari ke-61 setelah ultimatum tersebut.

“AS terus memasok senjata dan perlengkapan ke Israel,” tulis MEE, mengutip dua pejabat AS yang mengetahui pengiriman tersebut. (Bahry)

Sumber: Cradle

535 Santri PPTQ Ibnu Abbas Diwisuda: Hafalan Kuat, Akhlak Terpuji, Prestasi Mendunia

KLATEN (jurnalislam.com)— Di Gedung Wongso Menggolo, Klaten, Sabtu pagi, (14/6/2025), deretan santri tampak khidmat menyambut panggilan nama mereka. Di tengah suasana haru dan bangga, Pondok Pesantren Tahfizh Qur’an (PPTQ) Ibnu Abbas Klaten kembali menggelar acara Haflah Takharruj wa Takrim, prosesi pelepasan sekaligus apresiasi atas capaian para santri dan mahasantri sepanjang tahun pelajaran 2024/2025.

Tahun ini, sebanyak 535 peserta mengikuti rangkaian haflah yang terbagi ke dalam empat jenjang 61 santri dari Kuttab, 243 dari jenjang SMPIT, 204 dari SMAIT, 10 dari KMI, serta 17 mahasantri dari Ma’had Aly.

Rangkaian acara dimulai sejak Rabu, 11 Juni, dan akan berlangsung hingga Ahad, 15 Juni 2025, dengan agenda yang dibagi menurut jenjang pendidikan.

Wisuda Tahfidz pada Rabu, 11 Juni, Haflah Kuttab Jumat, 13 Juni, Haflah SMP-SMA-Ma’had Aly pada Sabtu, 14 Juni dan Haflah KMI Ahad, 15 Juni.

“Hari ini adalah kegiatan syukuran pelepasan dan apresiasi untuk santri SMP, SMA dan juga Ma’had Aly, Untuk standar pemberian penghargaan untuk santri harus memenuhi 3 kriteria, yaitu kriteria tahfidz, kriteria akhlaq dan kriteria akademik,” terang Dr Umarulfaruq Abubakar, Lc., M.H.I, Sekretaris PPTQ Ibnu Abbas, saat ditemui di sela sela acara.

Menurutnya, kriteria tahfidz diukur berdasarkan capaian minimal hafalan 6 juz untuk SMP, 15 juz untuk SMA, dan 20 juz untuk Ma’had Aly. Sementara penilaian akademik diselaraskan dengan standar nasional dari Diknas, Kementerian Agama, dan kurikulum kepondokkan. Tak kalah penting, nilai akhlak dinilai dari kedisiplinan dan integritas santri selama menempuh pendidikan di pondok.

PPTQ Ibnu Abbas menekankan bahwa haflah bukan sekadar seremoni tahunan. Ia merupakan pengingat sekaligus tonggak komitmen terhadap kualitas pendidikan Islam yang berimbang: spiritual, moral, dan intelektual.

Dr Umarulfaruq juga menyampaikan harapan agar para alumni tetap menjadikan Qur’an sebagai kompas hidup mereka, menjaga akhlakul karimah, dan terus bersemangat dalam belajar. Hubungan dengan pondok, katanya, bukan berakhir di hari wisuda.

“Harapan kami untuk para santri untuk tetap menjaga nilai nilai yang diajarkan di pondok, pertama tetap dekat dengan Al Qur’an, kemudian tetap menjaga Akhlaq Islamiyah dan kami berharap para santri tetap Istiqomah dalam memegang teguh semangat belajar, semangat pendidikan, semangat menghafal, dan tetap komunikasi dengan pondok, sama kepada wali santri juga berharap wali santri yang anaknya sudah selesai tetap kita sebagai sebuah keluarga besar, kita memiliki ikatan satu sama lain,” ungkapnya.

Tahun ini, prestasi akademik para santri juga mencolok. Sebanyak 30 santri diterima melalui jalur seleksi nasional SNBP, 67 santri melalui jalur SNBT dan dua lainnya melalui jalur beasiswa berhasil menembus perguruan tinggi luar negeri Mesir dan Rusia. Selain itu, prestasi santri juga tercatat dari tingkat kabupaten hingga internasional.

Dengan catatan tersebut, Haflah Takharruj wa Takrim kali ini tidak hanya menjadi momen syukur, tapi juga refleksi atas capaian pondok. PPTQ Ibnu Abbas Klaten menunjukkan bahwa tradisi pesantren bukan warisan masa lalu, melainkan kekuatan yang relevan untuk masa depan.

Acara ini semakin khidmat dan berkesan dengan kehadiran dan tausiyah inspiratif dari para tokoh nasional dan internasional seperti Rektor Universitas Darussalam Gontor Prof. Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, Ulama dari Mesir dan Direktur Markaz Al Ghanim Syaikh Subhi Khomis Hamid Ghonim Al-Mishri dan Ketua MIUMI Yogyakarta Ustadz Ridwan Hamidi, Lc., M.A.

Bantuan Senjata Jalan Terus, Tentara Israel Dapat Pelatihan di Inggris

LONDON (jurnalislam.com)– Pemerintah Inggris mengonfirmasi bahwa personel militer Israel telah menerima pelatihan di wilayah Inggris, di tengah meningkatnya sorotan terhadap hubungan militer-politik London dengan Tel Aviv yang dikaitkan dengan agresi Israel di Gaza.

Konfirmasi ini disampaikan oleh Menteri Angkatan Bersenjata Inggris, Luke Pollard, dalam sidang parlemen pada Kamis (12/6/2025). Ia menyebut bahwa pelatihan tersebut dilakukan sebagai bagian dari kerja sama pertahanan rutin dan hanya melibatkan sejumlah kecil tentara Israel.

Pengungkapan ini terjadi di tengah laporan lanjutan mengenai ekspor senjata Inggris ke Israel, yang dinilai bertentangan dengan klaim pemerintah bahwa sebagian pengiriman senjata telah ditangguhkan karena situasi kemanusiaan di Gaza.

Investigasi yang dilakukan oleh Declassified UK dan The Ditch menemukan bahwa perusahaan Inggris Permoid Industries, yang berbasis di Durham, telah mengirimkan lebih dari 1.000 kontainer amunisi ke perusahaan senjata Israel Elbit Systems dalam rentang waktu Oktober 2023 hingga April 2025.

Total pengiriman mencapai lebih dari 135 ton, dengan 360 unit kontainer dikirim hanya dalam bulan April 2025—bertepatan dengan intensifikasi operasi militer Israel di Gaza.

Pengiriman dilakukan ke dua fasilitas utama Elbit Systems di Ramat Hasharon dan Haifa. Meskipun pemerintah Inggris menyatakan telah membatasi ekspor barang-barang militer tertentu, komponen penting seperti mesin dan dudukan drone masih dapat diekspor, yang membuat perusahaan-perusahaan Inggris tetap dapat menyokong operasi militer Israel.

“Fakta yang menyakitkan adalah bahwa perusahaan Inggris masih menyuplai genosida,” tegas Joe Glenton, mantan tentara Inggris yang kini aktif di kelompok kampanye ForcesWatch.

𝗜𝗻𝗴𝗴𝗿𝗶𝘀 𝗟𝗶𝗻𝗱𝘂𝗻𝗴𝗶 𝗣𝗲𝗷𝗮𝗯𝗮𝘁 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗽𝗮𝗻

Dukungan Inggris terhadap Israel tidak hanya terbatas pada ekspor senjata dan pelatihan militer. Pada November 2024, Kepala Staf Umum Tentara Israel, Herzi Halevi, menerima status misi khusus dari Kementerian Luar Negeri Inggris yang melindunginya dari potensi penangkapan selama kunjungan resminya ke London.

Kunjungan ini terjadi hanya tiga hari setelah Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang di Gaza.

Halevi bertemu dengan sejumlah pejabat tinggi Inggris, termasuk Jaksa Agung Richard Hermer, dalam kunjungan yang menuai kritik tajam dari aktivis HAM dan organisasi internasional.

Pada bulan April 2024, mantan Menteri Luar Negeri Inggris David Cameron dilaporkan mengancam akan menghentikan pendanaan dan menarik dukungan Inggris terhadap pengadilan Internasional (ICC), jika pengadilan tersebut melanjutkan langkah hukum terhadap para pejabat Israel.

Menurut sumber dari Middle East Eye (MEE), David Cameron menyampaikan kepada jaksa ICC Karim Khan bahwa tindakan terhadap para pemimpin Israel akan “seperti menjatuhkan bom hidrogen” dan menuduh Khan “telah kehilangan arah.”

Ia juga menolak penyelidikan ICC terhadap agresi Israel di Gaza dan menentang perbandingan antara invasi Rusia ke Ukraina dengan serangan militer Israel di wilayah Palestina tersebut. (Bahry)

Sumber: Cradle

Serangan Balasan, Iran Gempur Israel dengan Rudal Balistik

TEHERAN (jurnalislam.com)– Konflik bersenjata antara Iran dan Israel pecah secara terbuka pada Jumat malam (13/6/2025), saat Iran meluncurkan serangan balasan besar-besaran ke jantung wilayah Israel. Serangan ini dilaporkan menargetkan Tel Aviv dan sejumlah fasilitas militer penting Israel, sebagai respons atas serangan mendadak Israel terhadap fasilitas nuklir dan pangkalan militer Iran di pagi harinya.

Menurut pernyataan resmi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Iran menargetkan “puluhan target, pusat militer, dan pangkalan udara di seluruh Israel.” Operasi ini mereka beri nama “Janji Sejati 3” (True Promise 3), menandai babak baru dalam konfrontasi militer dua negara.

Sebelumnya, pada Jumat dini hari, pesawat tempur Israel meluncurkan serangan besar-besaran bertajuk “Operasi Lion’s Courage”, menghantam fasilitas nuklir, pangkalan militer, gudang rudal, bahkan kawasan permukiman di Iran. Sedikitnya 78 orang tewas dan 329 lainnya luka-luka, termasuk beberapa ilmuwan nuklir dan pejabat senior IRGC.

Seorang pejabat militer Israel mengatakan kepada wartawan, “Kita berada dalam peristiwa bersejarah. Ini bukan operasi, ini perang yang direncanakan, 1.500 kilometer dari Israel.”

Serangan tersebut memicu respons cepat dari Iran. Pertahanan udara aktif di langit ibu kota Teheran serta di sekitar lokasi-lokasi strategis. Pemerintah Iran juga menangguhkan seluruh penerbangan domestik dan internasional, menurut otoritas penerbangan sipil, akibat ancaman berkelanjutan dari udara.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, merespons keras serangan Israel. Dalam pernyataannya, ia mengatakan:

“Dengan kejahatan ini, [Israel] telah menyiapkan nasib yang pahit dan menyakitkan bagi dirinya sendiri, dan Israel pasti akan menghadapinya. Israel harus menunggu hukuman berat, karena lengan kuat angkatan bersenjata Republik Islam Iran tidak akan membiarkannya begitu saja, Insya Allah.”

Sementara itu, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dalam pidato publiknya menyatakan:

“Rakyat Iran dan pejabat negara tidak akan tinggal diam dalam menghadapi kejahatan ini, dan tanggapan yang sah dan kuat dari Republik Islam Iran akan membuat musuh menyesali tindakan bodoh mereka.” tegasnya.

Sumber-sumber lokal melaporkan bahwa drone Iran terlihat melintasi langit negara-negara Arab menuju Israel, beberapa di antaranya ditembak jatuh. Iran juga dilaporkan tengah menyiapkan serangan rudal balistik lebih besar sebagai bagian dari respons militer lanjutan.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam wawancara eksklusif dengan Reuters dan CNN, menegaskan dukungannya terhadap Israel. Ia menyatakan bahwa serangan terhadap Iran adalah bagian dari strategi untuk “menghindari kehancuran” dan mendesak Iran untuk segera kembali ke meja perundingan.

“Ini adalah serangan yang sangat berhasil,” kata Trump, sembari menyebut bahwa dia telah memberi Iran peringatan 60 hari. “Hari ini adalah hari ke-61, dan mereka tidak mendengarkan.”

“Kami tahu segalanya, dan saya berusaha menyelamatkan Iran dari penghinaan dan kematian. Saya ingin sekali melihat kesepakatan berhasil. Mereka masih bisa mencapai kesepakatan.”

“Mereka sekarang harus datang ke meja perundingan untuk membuat kesepakatan sebelum terlambat.”

Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sidang darurat pada hari Jumat atas permintaan Iran, menurut laporan diplomat yang tak disebutkan namanya kepada Reuters. (Bahry)

Sumber: Cradle

Israel Bombardir Teheran, Targetkan Fasilitas Nuklir dan Pejabat Iran

TEHERAN (jurnalislam.com)– Serangan udara besar-besaran diluncurkan oleh Israel ke ibu kota Iran, Teheran, pada Jumat dini hari (13/6/2025). Serangan tersebut merupakan bagian dari operasi militer bertajuk “Keberanian Singa”, yang diklaim menargetkan fasilitas nuklir utama serta pejabat tinggi militer Iran.

Menurut laporan resmi dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, target utama operasi ini mencakup situs pengayaan uranium Iran di Natanz, serta sejumlah tokoh penting dalam program nuklir dan angkatan bersenjata Iran.

“Kami menargetkan situs pengayaan uranium utama Iran di Natanz dan para pejabat nuklir serta militer Iran di Teheran. Operasi ini akan terus berlanjut selama diperlukan hingga misi kami selesai,” ujar Netanyahu dalam pernyataannya pascaserangan.

Serangan ini menyebabkan kerusakan besar dan jatuhnya korban sipil. Meski demikian, data resmi terkait jumlah korban belum dirilis oleh pihak Iran.

Menanggapi potensi serangan balasan dari Iran, pemerintah Israel mengumumkan status darurat nasional, memerintahkan warga untuk segera masuk ke tempat perlindungan bom, serta mengaktifkan dekrit 8 yang menyerukan seluruh pasukan cadangan untuk kembali bertugas militer.

Sementara itu, di Washington, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menegaskan bahwa negaranya tidak terlibat dalam operasi tersebut.

“Israel mengambil tindakan sepihak terhadap Iran. Prioritas utama kami adalah melindungi pasukan Amerika di kawasan tersebut. Kami telah diberi tahu bahwa Israel merasa tindakan ini diperlukan demi membela diri,” kata Rubio kepada awak media.

Ia juga memperingatkan Iran agar tidak menjadikan personel atau kepentingan AS sebagai target balasan.

Sebelumnya, sumber dari pemerintahan AS mengungkapkan kepada Axios bahwa sekutu-sekutu Washington telah diberi informasi bahwa serangan Israel terhadap Iran akan segera dilaksanakan. Namun, ditegaskan kembali bahwa AS tidak terlibat dalam serangan tersebut.

Sebelum serangan terjadi, Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, menyatakan bahwa dirinya tetap berada di Kedutaan AS di Yerusalem dan meminta masyarakat untuk “berdoa bagi perdamaian di Yerusalem.”

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump pada hari yang sama masih menunjukkan sikap diplomatis melalui media sosial, dengan menegaskan komitmennya terhadap “resolusi damai” melalui jalur diplomasi dan pelonggaran sanksi terhadap Iran.

Namun, serangan ini diperkirakan akan memperburuk situasi keamanan di kawasan Timur Tengah, serta memperumit perundingan nuklir yang selama ini masih berlangsung dalam ketegangan tinggi antara Teheran dan Washington. (Bahry)

Sumber: Cradle