Dua Tentara Israel Tewas, Tiga Lainnya Luka Parah dalam Pertempuran di Jalur Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Dua tentara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dilaporkan tewas dan tiga lainnya terluka parah dalam serangkaian pertempuran yang terjadi di Jalur Gaza bagian utara dalam beberapa hari terakhir, menurut pernyataan resmi militer Israel pada Rabu (2/7/2025).

Salah satu prajurit yang tewas adalah Sersan Yaniv Michalovitch (19), awak tank dari Batalyon ke-82 Brigade Lapis Baja ke-7 yang berasal dari Rehovot. IDF menyatakan bahwa Michalovitch tewas saat bertempur di wilayah utara Jalur Gaza. Dalam insiden yang sama, seorang komandan tank dan prajurit lain dari batalion yang sama mengalami luka berat dan telah dievakuasi ke rumah sakit untuk menjalani perawatan intensif. Keluarga para korban telah diberitahu.

Di lokasi berbeda dalam operasi di Gaza utara, seorang prajurit dari unit Egoz, yang berada di bawah Brigade Komando, juga dilaporkan terluka parah.

Sementara itu, sebelumnya pada Ahad (29/6), militer Israel juga mengumumkan kematian Sersan Yisrael Natan Rosenfeld (20) dari Batalyon Teknik Tempur ke-601 dalam operasi militer di wilayah Kafr Jabalia, Gaza utara. Menurut penyelidikan awal IDF, Rosenfeld tewas akibat ledakan alat peledak improvisasi (IED) saat menjalankan misi tempur.

Rosenfeld merupakan imigran dari London yang pindah ke Israel bersama keluarganya sekitar 11 tahun lalu. Ia meninggalkan kedua orang tuanya dan tiga saudara kandung.

Dengan terbunuhnya Michalovitch dan Rosenfeld, jumlah korban tewas di pihak Israel sejak dimulainya serangan darat terhadap Hamas di Jalur Gaza serta operasi militer di sepanjang perbatasan kini mencapai 442 orang. Jumlah tersebut mencakup dua petugas kepolisian dan tiga kontraktor sipil Kementerian Pertahanan Israel. (Bahry)

Sumber: TOI

Israel Umumkan Operasi Militer Baru “The Proud Lion” di Gaza, Fokus Eliminasi Hamas dan Pemulangan Sandera

GAZA (jurnalislam.com)– Militer Israel pada Rabu (2/7/2025) mengumumkan berakhirnya operasi militer “Gideon’s War Chariot” (Kereta Perang Gideon) di Jalur Gaza dan meluncurkan fase baru yang dinamai “The Proud Lion.” Operasi ini diklaim sebagai langkah strategis untuk meningkatkan tekanan terhadap kelompok perlawanan Palestina, Hamas.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa operasi “The Proud Lion” memiliki dua tujuan utama: membebaskan para sandera yang masih ditahan Hamas serta menghapus keberadaan Hamas sepenuhnya dari Jalur Gaza.

“Kami tidak akan mundur dari tujuan ini,” tegas Katz saat mengunjungi pasukan militer Israel di Rafah. Kunjungan tersebut juga mencakup pertemuan dengan prajurit cadangan dan para komandan lapangan. Dalam kesempatan itu, Katz berjanji akan memberikan dukungan penuh secara operasional dan logistik.

“Untuk membunuh musuh, membawa pulang para sandera, dan menang — itulah misi kami. Tidak ada ruang untuk kompromi. Hamas tidak berubah. Mereka masih berusaha menghancurkan Israel,” ujarnya.

Katz juga menuduh Hamas terlibat dalam koordinasi strategis dengan Iran untuk melancarkan serangan lintas kawasan, termasuk peluncuran rudal dan operasi militer dari berbagai front seperti Gaza, Suriah, Lebanon, dan Yordania.

Pengumuman peluncuran operasi baru ini muncul hanya sehari setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Israel telah menyetujui persyaratan yang diajukan untuk mengamankan gencatan senjata selama 60 hari di Gaza.

Sementara itu, pihak Hamas mengonfirmasi bahwa mereka sedang melakukan peninjauan internal terhadap proposal gencatan senjata yang dimediasi oleh sejumlah pihak internasional.

Dalam pernyataannya, Hamas menegaskan bahwa mereka tetap berkomitmen pada tujuan untuk mengakhiri agresi militer, menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza, serta mendesak dimulainya bantuan kemanusiaan secara cepat bagi warga sipil yang terdampak. (Bahry)

Sumber: The Cradle

Hamas Pertimbangkan Proposal Gencatan Senjata 60 Hari, Trump Klaim Israel Setuju

GAZA (jurnalislam.com)– Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, pada Rabu (2/7/2025), menyatakan tengah melakukan konsultasi internal untuk membahas proposal gencatan senjata yang diajukan oleh para mediator. Hal ini menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengklaim bahwa Israel telah menyetujui gencatan senjata selama 60 hari di Jalur Gaza.

Perang yang telah berlangsung hampir 21 bulan antara Israel dan Hamas telah menyebabkan krisis kemanusiaan parah bagi lebih dari dua juta penduduk Gaza. Dalam serangan terbaru pada Rabu, sedikitnya 33 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan militer Israel, menurut badan pertahanan sipil setempat.

Presiden Trump, dalam pernyataannya pada Selasa (1/7), mendesak Hamas untuk menerima usulan gencatan senjata, sembari menyebut bahwa Israel telah memberikan lampu hijau terhadap kesepakatan tersebut.

“Israel telah setuju untuk menghentikan pertempuran selama 60 hari. Kami berharap Hamas dapat menerima usulan ini demi menghentikan penderitaan,” ujar Trump.

Dalam pernyataannya, Hamas menegaskan bahwa pihaknya “sedang melakukan konsultasi nasional untuk membahas proposal yang diajukan oleh para mediator.” Hamas juga menyatakan bahwa tujuan dari proses ini adalah untuk “mengakhiri agresi, memastikan penarikan pasukan pendudukan dari Gaza, dan mempercepat bantuan kemanusiaan kepada rakyat kami.”

Trump dijadwalkan akan menerima kunjungan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di Gedung Putih pada pekan depan, di tengah meningkatnya tekanan internasional untuk mengakhiri konflik bersenjata tersebut.

𝗨𝗽𝗮𝘆𝗮 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗯𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗧𝗮𝘄𝗮𝗻𝗮𝗻

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menyatakan bahwa ada “beberapa tanda positif” dalam proses negosiasi yang sedang berlangsung. Ia menegaskan komitmen Israel untuk menyepakati gencatan senjata sekaligus membebaskan para sandera.

“Kami serius dalam upaya mencapai kesepakatan penyanderaan dan gencatan senjata,” kata Saar.

“Setiap peluang untuk pembebasan sandera tidak boleh disia-siakan.”

Menurut data militer Israel, dari 251 orang yang ditawan oleh kelompok bersenjata Palestina sejak Oktober 2023, 49 orang masih berada di Gaza, termasuk 27 yang diyakini telah tewas.

Seorang sumber Palestina yang dekat dengan proses negosiasi mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa tidak ada perubahan mendasar dalam proposal baru ini dibandingkan dengan usulan sebelumnya dari pihak Amerika Serikat.

“Proposal ini mencakup gencatan senjata selama 60 hari, di mana Hamas akan membebaskan setengah dari tawanan Israel yang masih hidup di Gaza, dengan imbalan pembebasan sejumlah tahanan Palestina oleh Israel,” ujar sumber tersebut. (Bahry)

Sumber: TNA

MUI Tegaskan Tak Boleh Ada Ruang Bagi Pendukung Zionisme di Indonesia

JAKARTA (jurnalislam.com)— Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, mengingatkan seluruh elemen masyarakat agar waspada terhadap gerakan pro-Zionis yang mencoba mempengaruhi opini publik di Indonesia. Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada ruang sedikit pun bagi pihak yang mendukung Zionisme di Tanah Air.

“Perlawanan terhadap agresi Israel ini adalah langkah yang benar, rasional, sikap bertanggung jawab, dan sejalan dengan hukum internasional,” kata Prof. Sudarnoto dalam keterangannya kepada MUI Digital, Rabu (2/7/2025), di Jakarta.

Ia menyoroti meningkatnya kejahatan yang dilakukan oleh rezim Zionis Israel terhadap warga sipil di Gaza, termasuk penghancuran besar-besaran wilayah tersebut, yang telah memicu krisis kemanusiaan global. Kondisi ini, kata dia, mendorong semangat masyarakat Indonesia untuk terus menunjukkan solidaritas terhadap rakyat Palestina.

“Semangat dan langkah masyarakat Indonesia untuk membela Palestina cukup besar,” ujarnya.

Prof. Sudarnoto juga menilai sikap tegas pemerintah Indonesia dalam mendukung Palestina melalui jalur diplomasi sudah tepat. Langkah tersebut, menurutnya, sejalan dengan arus besar solidaritas masyarakat dunia terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina.

Ia menegaskan bahwa segala bentuk dukungan terhadap Zionisme Israel, baik dalam bentuk penyebaran narasi maupun simbol-simbol, bertentangan dengan nilai-nilai konstitusi Indonesia.

“Tidak boleh ada seorang pun di Indonesia yang membela Zionisme Israel, membangun narasi yang bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945, apalagi mengibarkan bendera Israel di wilayah Indonesia,” katanya.

Ia juga memperingatkan agar ruang publik, termasuk media sosial, tidak dijadikan tempat untuk menyebarkan agitasi dan propaganda pro-Zionis.

“Saya berharap, jangan disediakan ruang bagi semua pembela Zionisme Israel di Indonesia untuk mengembangkan pikiran, agitasi, dan propaganda mereka melalui media apa pun,” tegasnya.

Mengakhiri pernyataannya, Prof. Sudarnoto menyerukan kepada semua elemen masyarakat, termasuk media massa, untuk terus menguatkan narasi perlawanan terhadap genosida yang dilakukan Israel, serta mendukung penuh kemerdekaan Palestina.

“Saya juga menyerukan kepada semua elemen masyarakat termasuk media massa untuk semakin menggencarkan dan mengarusutamakan semangat lawan genosida Israel, keluar Israel dari seluruh wilayah Palestina, dan dukung kemerdekaan Palestina,” pungkasnya.

Sumber: mui digital

Brigade Al-Quds Klaim Lakukan Serangan Terkoordinasi, Tewaskan Banyak Tentara Israel di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Kelompok Perlawanan Palestina Brigade Saraya Al-Quds, sayap militer Palestinian Islamic Jihad (PIJ), pada Rabu (2/7/2025) mengumumkan telah melancarkan serangkaian serangan kompleks dan terkoordinasi terhadap pasukan pendudukan Israel di berbagai wilayah Jalur Gaza. Serangan-serangan itu, diklaim mengakibatkan banyak korban jiwa di pihak militer Israel.

Mengutip laporan media Israel, serangan tersebut digambarkan sebagai dua “insiden keamanan yang sulit”. Seorang tentara dari unit elit Egoz dilaporkan tewas akibat tembakan penembak jitu, sementara empat lainnya terluka parah ketika sebuah alat peledak menghantam kendaraan tempur mereka. Dua dari korban luka saat ini menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Assuta, Ashdod.

TV Al-Aqsa juga melaporkan bahwa militer Israel melakukan evakuasi terhadap sejumlah pasukannya dari kawasan timur Kota Gaza di tengah pertempuran yang terus berlanjut.

Dalam pernyataan yang dirilis ke media, seorang komandan lapangan Brigade Al-Quds menjelaskan bahwa pihaknya melakukan operasi besar di sebelah timur lingkungan Shujaiyya, Kota Gaza, yang menyasar puluhan tentara dan konvoi kendaraan militer Israel.

“Operasi dimulai dengan meledakkan ladang ranjau tersembunyi yang memaksa pasukan musuh berlindung di rumah-rumah warga. Kami kemudian menyerang mereka menggunakan peluru kendali dan proyektil antibenteng TBG, serta terlibat pertempuran jarak dekat dengan senjata ringan dan sedang,” ujarnya. Komandan tersebut mengklaim bahwa sejumlah perwira dan awak lapis baja Israel tewas atau terluka dalam penyergapan tersebut.

Dalam pernyataan terpisah, Brigade Al-Quds juga mengonfirmasi telah berhasil menjatuhkan pesawat pengintai Israel di wilayah Khan Yunis, Gaza selatan, yang sedang melakukan misi pengawasan.

Serangan perlawanan Palestina dilaporkan terus meningkat dalam beberapa hari terakhir. Pada Selasa (1/7), pejuang Palestina menyergap unit infanteri Israel di timur Khan Yunis, dengan memasang jebakan bom antipersonel dan antibenteng di sebuah rumah yang digunakan pasukan Israel sebagai tempat berlindung. Saat pasukan bantuan Israel datang, mereka disambut tembakan senapan mesin dan peluncur RPG, yang memaksa militer mengerahkan helikopter untuk evakuasi.

Di kawasan Abasan al-Kabira, Khan Yunis, pejuang Brigade Al Quds menghancurkan buldoser lapis baja D9 menggunakan alat peledak berbentuk laras berkekuatan tinggi.

Dalam operasi gabungan dengan Brigade Al-Qassam, mereka juga mengklaim menghancurkan tank Merkava dengan bahan peledak Thaqeb yang ditanam di sekitar lokasi.

Sumber militer Israel sendiri mengakui bahwa sedikitnya 30 tentaranya tewas sejak pertempuran kembali pecah pada Maret lalu. Namun, sejumlah sumber Palestina dan pengamat independen menyatakan angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi, menuding adanya praktik sensor informasi oleh otoritas Israel untuk menjaga stabilitas moral publik dalam negeri. (Bahry)

Sumber: TPC

Di Tengah Kecaman Dunia, AS Kembali Kirim Senjata ke Israel Senilai Rp8 Triliun

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Pemerintah Amerika Serikat telah menyetujui penjualan peralatan panduan amunisi dan dukungan teknis senilai USD 510 juta (sekitar Rp8,3 triliun) kepada Israel, demikian diumumkan Departemen Luar Negeri AS pada Senin (30/6/2025).

Penjualan tersebut mencakup 3.845 unit peralatan panduan KMU-558B/B Joint Direct Attack Munition (JDAM) untuk bom jenis BLU-109, serta 3.280 unit peralatan JDAM KMU-572F/B untuk bom MK 82. Paket ini juga mencakup layanan rekayasa, logistik, dan dukungan teknis lainnya, menurut pernyataan dari Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan AS (DSCA).

“Penjualan ini akan meningkatkan kemampuan Israel dalam menghadapi berbagai ancaman saat ini dan di masa depan, termasuk mempertahankan perbatasan, infrastruktur vital, dan pusat-pusat populasi,” kata DSCA.

Pengumuman ini muncul di tengah meningkatnya tekanan global terhadap Israel atas serangan militer berkelanjutan di Jalur Gaza.

Sejak dimulainya agresi militer pada Oktober 2023, otoritas kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 56.500 warga Palestina tewas akibat serangan udara dan artileri Israel. Hanya pada hari Senin (30/6), sedikitnya 97 warga sipil dilaporkan tewas, dengan puluhan lainnya luka-luka, dalam serangkaian serangan yang menargetkan daerah padat pengungsi di Gaza.

Dukungan militer Washington kepada Tel Aviv terus menuai kritik tajam dari masyarakat internasional. Banyak pihak menilai bantuan persenjataan tersebut justru memperpanjang penderitaan warga sipil di Gaza dan memperburuk krisis kemanusiaan.

Pada November lalu, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Selain itu, Israel saat ini juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas operasi militer yang dilancarkan di wilayah yang terkepung tersebut. (Bahry)

Sumber: AA

Iran: 935 Warga Tewas Akibat Serangan Israel, Termasuk 38 Anak-anak

TEHERAN (jurnalislam.com)– Pemerintah Iran menyatakan sedikitnya 935 orang tewas akibat serangan Israel selama konflik berdurasi 12 hari yang berakhir dengan gencatan senjata permanen. Juru Bicara Kehakiman Iran, Asghar Jahangir, pada Senin (30/6/2025) mengungkapkan bahwa jumlah korban termasuk 38 anak-anak dan 132 perempuan.

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menuduh Israel dan Amerika Serikat melakukan tindakan agresi yang melanggar hukum internasional. Ia menyerukan agar komunitas internasional, khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), secara resmi menyatakan Israel dan AS sebagai pihak agresor.

“Apa yang terjadi adalah bentuk agresi dalam segala aspeknya, sesuai hukum internasional dan Piagam PBB. Kami menuntut agar PBB mengambil langkah nyata untuk meminta pertanggungjawaban rezim Zionis dan AS,” ujar Baghaei dalam konferensi pers di Teheran.

Baghaei menambahkan bahwa serangan Israel pada 13 Juni lalu terjadi saat Iran tengah melangsungkan negosiasi dengan AS terkait program nuklirnya. Ia menyebut tindakan Washington sebagai bentuk pengkhianatan terhadap proses diplomatik yang sedang berlangsung.

“AS bukanlah mitra yang dapat dipercaya. Sikap mereka yang berubah-ubah membuat perundingan menjadi tidak stabil,” tambahnya.

Israel melancarkan serangan udara dan drone ke berbagai sasaran di Iran, termasuk kawasan sipil dan fasilitas militer utama. Serangan tersebut menewaskan sejumlah perwira tinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan ilmuwan nuklir senior Iran.

Sebagai balasan, Iran menembakkan beberapa gelombang rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, yang disebut berhasil menembus sistem pertahanan rudal negara itu dan menyebabkan kerugian finansial mencapai setidaknya USD 3 miliar.

Laporan majalah independen +972 menyebutkan bahwa sejak berdirinya Israel pada 1948, belum pernah ada serangan berkelanjutan terhadap kota-kota besar seperti yang terjadi selama perang ini. Beberapa rudal Iran dilaporkan menghancurkan sejumlah bangunan secara total, dan setidaknya 25 gedung lainnya terpaksa dibongkar akibat kerusakan struktural.

Otoritas Israel melaporkan 29 warga sipil tewas, hampir 10.000 orang kehilangan tempat tinggal, dan lebih dari 40.000 klaim kompensasi telah diajukan ke otoritas pajak properti.

Selain korban fisik dan material, perang ini juga meninggalkan trauma psikologis yang mendalam bagi warga Israel.

“Jika konflik kembali terjadi, Israel kemungkinan besar tidak akan lagi menanggapinya dengan tenang,” tulis +972.

Gencatan senjata antara Israel dan Iran dicapai pada 24 Juni, setelah serangan udara AS ke fasilitas nuklir Iran pada 22 Juni memicu serangan balasan Teheran terhadap pangkalan militer AS di Al-Udeid, Qatar, sehari kemudian.

Meskipun gencatan senjata telah disepakati, Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, menyatakan negaranya siap melancarkan serangan tambahan ke Iran. Ia menyebutnya sebagai bagian dari “kebijakan penegakan hukum”.

“Kami bertekad menjaga superioritas udara, mencegah kemajuan proyek nuklir Iran, serta menghentikan pengembangan rudal jarak jauh yang dapat mengancam keamanan kami,” kata Gallant. (Bahry)

Sumber: Cradle

Tentara Israel Diperintahkan Tembaki Warga yang Antre Bantuan, Media Israel Beberkan Pengakuan Mengejutkan

GAZA (jurnalislam.com)– Tentara Israel diduga telah secara sengaja menembaki warga sipil Palestina tak bersenjata yang tengah mencari bantuan pangan di Gaza, berdasarkan perintah langsung dari komandan mereka. Hal ini terungkap dalam laporan investigasi yang diterbitkan oleh surat kabar Israel, Haaretz, pada Jumat (27/6/2025).

Laporan tersebut memicu penyelidikan resmi oleh militer Israel atas kemungkinan kejahatan perang. Haaretz mengutip beberapa tentara Israel yang mengaku menerima instruksi untuk menggunakan kekuatan mematikan terhadap kerumunan warga sipil yang tidak menimbulkan ancaman.

“Kami menembakkan senapan mesin dari tank dan melemparkan granat,” ujar salah satu tentara yang enggan disebut namanya.

“Ada satu insiden di mana sekelompok warga sipil tertembak saat bergerak di bawah kabut.”

“Itu adalah medan pembantaian,” tambahnya.

Sumber lain dalam laporan menyebut, di lokasi penempatan mereka di Gaza,

“antara satu hingga lima orang tewas setiap hari.”

𝗧𝗮𝗸𝘁𝗶𝗸 “𝗞𝗼𝗻𝘁𝗿𝗼𝗹 𝗠𝗮𝘀𝘀𝗮” 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗹𝘂𝗿𝘂 𝗧𝗮𝗷𝗮𝗺

Nir Hasson, jurnalis Haaretz yang turut menulis laporan tersebut, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa tembakan terhadap warga sipil digunakan sebagai bagian dari metode militer untuk mengontrol massa di titik distribusi bantuan.

“Jika Anda ingin massa lari dari suatu tempat, Anda menembak mereka – bahkan ketika Anda tahu mereka tidak bersenjata,” kata Hasson.

Menurutnya, meskipun nama komandan yang mengeluarkan perintah tersebut belum diketahui, kemungkinan besar ia adalah pejabat militer senior.

𝗚𝗛𝗙, 𝗕𝗮𝗻𝘁𝘂𝗮𝗻 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗽 𝗠𝗲𝗺𝗮𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻?

Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut serangan terhadap titik distribusi bantuan sebagai “kejahatan perang,” terutama di lokasi-lokasi yang dikelola oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF) – sebuah yayasan yang didukung Israel dan Amerika Serikat.

“Pengakuan mengejutkan dalam laporan Haaretz mengonfirmasi bahwa tentara Israel menjalankan kebijakan genosida sistematis dengan kedok palsu bantuan kemanusiaan,” bunyi pernyataan resmi.

GHF telah mengoperasikan empat titik distribusi bantuan sejak Mei, namun telah menuai kritik tajam dari berbagai kelompok kemanusiaan, termasuk PBB, karena dianggap “mempersenjatai bantuan.”

Menanggapi laporan tersebut, Sekjen PBB Antonio Guterres menegaskan bahwa laporan semacam ini hanyalah bagian dari pelanggaran besar yang telah lama terjadi di Gaza.

“Kita tidak memerlukan laporan semacam itu untuk mengakui bahwa telah terjadi pelanggaran besar-besaran terhadap hukum internasional [di Gaza]. Dan ketika terjadi pelanggaran hukum internasional, harus ada akuntabilitas,” kata Guterres dalam konferensi pers di New York.

Sementara itu, organisasi medis Doctors Without Borders (MSF) menyebut titik distribusi bantuan GHF sebagai “pembantaian yang menyamar sebagai bantuan kemanusiaan.”

𝗞𝗼𝗿𝗯𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗕𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗯𝗮𝗵

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, sejak dimulainya serangan Israel ke wilayah tersebut pada Oktober 2023, sedikitnya 56.331 warga Palestina tewas, dan 132.632 lainnya terluka.

Hanya pada Jumat lalu, enam orang dilaporkan tewas akibat tembakan saat sedang berusaha mendapatkan makanan di Gaza selatan.

Warga Gaza, menurut laporan Al Jazeera, kini menghadapi pilihan tragis: “mati kelaparan, atau mati saat mencoba mencari makanan yang sangat terbatas.” (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Usai Perang 12 Hari, Israel Klaim Tewaskan 30 Pejabat Keamanan dan 11 Ilmuwan Nuklir Iran

YERUSALEM (jurnalislam.com)– Seorang pejabat senior militer Israel mengungkapkan bahwa selama 12 hari perang udara melawan Iran, pihaknya telah menewaskan lebih dari 30 pejabat keamanan senior serta 11 ilmuwan nuklir utama Iran. Pernyataan ini disampaikan pada Jumat (27/6/2025) sebagai rangkuman atas serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Israel sejak 13 Juni lalu.

“Proyek nuklir Iran mengalami pukulan telak. Kemampuan mereka untuk memperkaya uranium hingga level 90% telah dinetralkan untuk waktu yang lama. Kapasitas mereka untuk memproduksi inti senjata nuklir saat ini juga berhasil kami lumpuhkan,” ujar pejabat tersebut, yang tidak bersedia disebutkan namanya karena alasan keamanan.

Menurut pejabat itu, serangan pembuka Israel pada 13 Juni berhasil melumpuhkan sistem pertahanan udara Iran dan mengganggu kemampuan respons militer Teheran pada jam-jam awal konflik. Angkatan Udara Israel disebut telah menyerang lebih dari 900 target, termasuk fasilitas produksi rudal dan infrastruktur militer strategis Iran.

𝗘𝗳𝗲𝗸𝘁𝗶𝘃𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗦𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗜𝗿𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗿𝗮𝗴𝘂𝗸𝗮𝗻

Di pihak lain, Iran membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke berbagai kota dan instalasi militer di Israel. Meski Iran mengklaim keberhasilan dalam menembus pertahanan udara Israel, sejumlah pakar menilai serangan itu tidak efektif secara militer.

Decker Eveleth, analis riset asosiasi di CNA Corporation dan pakar citra satelit, mengatakan tinjauan terhadap citra satelit komersial menunjukkan hanya sebagian kecil dari sekitar 30 rudal Iran yang berhasil mencapai sasaran militer penting.

“Iran belum memproduksi rudal yang menunjukkan akurasi tinggi. Target seperti jet tempur F-35 di dalam hanggar sangat sulit diserang oleh sistem rudal mereka saat ini,” kata Eveleth kepada Reuters.

Ia juga menambahkan bahwa rudal-rudal Iran hanya mampu secara konsisten mengancam kota-kota besar atau fasilitas industri seperti kilang minyak, dan tidak memiliki kepadatan serangan yang cukup untuk menciptakan kerusakan strategis berskala besar.

“Dengan performa seperti saat ini, secara praktis tidak ada yang dapat mencegah Israel untuk melancarkan operasi serupa di masa mendatang,” tulisnya di platform X.

𝗞𝗲𝗿𝘂𝗴𝗶𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗞𝗲𝗱𝘂𝗮 𝗣𝗶𝗵𝗮𝗸

Pemerintah Iran melaporkan bahwa sedikitnya 627 warga tewas akibat serangan Israel, meskipun angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen karena pembatasan ketat terhadap media asing. Sementara itu, Israel melaporkan 28 warganya tewas akibat serangan balasan Iran.

Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, dalam pernyataannya Jumat kemarin menegaskan bahwa militer telah diperintahkan untuk menyusun rencana menjaga superioritas udara di atas Iran, mencegah pengembangan program nuklir dan produksi rudal Teheran, serta membatasi dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok militan anti-Israel.

𝗞𝗮𝗶𝘁𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗚𝗮𝘇𝗮

Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF), Letjen Eyal Zamir, menambahkan bahwa keberhasilan operasi di Iran dapat dimanfaatkan untuk memperkuat posisi Israel dalam konflik berkepanjangan melawan Hamas di Jalur Gaza, yang diduga mendapat dukungan dari Iran.

Zamir menginformasikan kepada pasukan Israel di Gaza bahwa operasi darat yang disebut “Kereta Perang Gideon” hampir mencapai tujuannya, yakni mengambil alih penuh wilayah kantong Palestina dan memberikan opsi strategis baru bagi pemerintah Israel.

Sementara itu, Iran tetap membantah tuduhan bahwa mereka tengah mengembangkan senjata nuklir. Meski demikian, Teheran diketahui telah memperkaya uranium hingga tingkat yang tidak dapat digunakan untuk kepentingan sipil, menolak akses inspektur internasional ke fasilitas-fasilitas nuklirnya, serta terus memperluas kemampuan rudal balistik.

Israel menuding bahwa langkah-langkah Iran saat ini merupakan sinyal bahwa negara itu tengah menuju persenjataan nuklir. (Bahry)

Sumber: TOI

Netanyahu Dihadapkan pada Dugaan Korupsi dan Kejahatan Perang, Trump Beri Pembelaan Terbuka

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik keras terhadap jaksa penuntut Israel atas persidangan korupsi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Trump menyebut proses hukum itu sebagai “kegilaan” dan menilai hal tersebut bisa mengganggu perundingan damai di Timur Tengah.

Dalam unggahan di platform Truth Social pada Sabtu (28/6/2025), Trump mengecam otoritas Israel karena dinilai melemahkan posisi Netanyahu dalam menghadapi kelompok Hamas di Gaza dan ketegangan dengan Iran.

“Sungguh GILA melakukan apa yang dilakukan jaksa penuntut yang tidak terkendali terhadap Bibi Netanyahu,” tulis Trump, merujuk pada Netanyahu dengan nama panggilannya.

“Amerika Serikat menghabiskan miliaran dolar setiap tahun… untuk melindungi dan mendukung Israel. Kami tidak akan membiarkan ini,” tambahnya.

Netanyahu dijadwalkan bersaksi pada Senin mendatang dalam pemeriksaan silang terkait kasus korupsi yang telah berlangsung sejak 2020. Ia menghadapi dakwaan penyuapan, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan.

Pengacaranya sebelumnya mengajukan permohonan penundaan persidangan selama dua pekan dengan alasan beban tugas keamanan nasional usai konflik 12 hari dengan Iran. Namun, pengadilan menolak permintaan tersebut pada Jumat (27/6).

𝗞𝗿𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗗𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗡𝗲𝗴𝗲𝗿𝗶

Sejumlah anggota Knesset Israel menuding Netanyahu sengaja memanfaatkan konflik regional untuk mengalihkan perhatian dari kasus hukumnya.

“[Netanyahu] sedang mengondisikan masa depan Israel dan anak-anak kita dalam persidangannya,” kata Naama Lazimi, anggota Knesset dari Partai Demokrat, dikutip The Times of Israel.

Karine Elharrar, anggota Knesset dari partai Yesh Atid, menyebut Netanyahu “bertindak melawan kepentingan publik” karena mengaitkan proses hukum dengan negosiasi pembebasan tawanan dan normalisasi hubungan regional.

𝗗𝗶𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗦𝘂𝗿𝗮𝘁 𝗣𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗽𝗮𝗻

Masalah hukum Netanyahu tak berhenti di pengadilan domestik. Ia juga menjadi subjek surat perintah penangkapan yang dikeluarkan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) tahun lalu, bersama mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant.

Keduanya didakwa melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang terkait dengan perang di Gaza sejak Oktober 2023. Netanyahu dan Gallant membantah tuduhan itu dan menyebutnya sebagai bentuk “anti-Semitisme”.

Komentar Trump datang beberapa hari setelah ia mengisyaratkan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas mungkin sudah dekat. Ia mengklaim Netanyahu sedang terlibat dalam perundingan, meski tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Hamas telah menyatakan kesediaannya membebaskan tawanan Israel yang tersisa di Gaza sebagai bagian dari kesepakatan damai, namun tetap menolak tuntutan Israel untuk pelucutan senjata sepenuhnya.

Netanyahu merespons dukungan Trump melalui unggahan di platform X:

“Terima kasih sekali lagi, @realDonaldTrump. Bersama-sama, kita akan membuat Timur Tengah Hebat Lagi!”

𝗦𝗲𝗿𝘂𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗻𝗴𝘂𝗻𝗱𝘂𝗿𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗿𝗶

Di tengah memanasnya situasi politik, seruan agar Netanyahu mengundurkan diri kembali muncul. Dalam wawancara dengan Channel 12, mantan Perdana Menteri Naftali Bennett menyatakan bahwa sudah saatnya Netanyahu mundur dari jabatannya.

“Dia telah berkuasa selama 20 tahun… itu terlalu lama,” kata Bennett.

“Dia memikul tanggung jawab besar atas perpecahan dalam masyarakat Israel.”

Bennett, yang sempat mundur dari politik, disebut-sebut tengah mempertimbangkan kembali ke panggung politik. Sejumlah survei menunjukkan peluangnya untuk kembali menantang Netanyahu cukup besar. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera