Abbas: Hamas Tak Bisa Memerintah Gaza, Harus Serahkan Senjata ke Otoritas Palestina

AMMAN (jurnalislam.com)- Presiden Otoritas Palestina (PA), Mahmoud Abbas, menegaskan bahwa Hamas “tidak dapat memerintah” Jalur Gaza apabila perang dengan Israel yang sedang berlangsung saat ini berakhir. Hal itu disampaikan Abbas dalam pertemuan dengan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair di Amman, Yordania, pada Ahad (13/7/2025).

Menurut Abbas, Hamas harus menyerahkan seluruh persenjataannya kepada Otoritas Palestina dan hanya dapat terlibat dalam aktivitas politik jika mengikuti kerangka program Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) serta legitimasi internasional. Ia juga menekankan pentingnya “satu otoritas dan satu senjata yang sah di Jalur Gaza.”

Dalam pertemuan tersebut, Abbas dan Blair membahas perkembangan politik dan kemanusiaan terbaru di Palestina, khususnya di Jalur Gaza. Melalui unggahan di laman resmi Kepresidenan Palestina, Abbas kembali menyerukan gencatan senjata segera dan pembebasan seluruh tawanan—baik warga Israel yang ditahan di Gaza maupun warga Palestina yang ditahan oleh Israel. Ia juga menuntut percepatan masuknya bantuan kemanusiaan darurat ke wilayah yang dilanda perang tersebut.

“Satu-satunya solusi yang layak atas krisis ini adalah penarikan penuh Israel dari Jalur Gaza dan penyerahan tanggung jawab penuh kepada Negara Palestina, dengan dukungan aktif dari dunia Arab dan komunitas internasional,” kata Abbas.

Selain itu, ia juga mendesak penghentian pembangunan permukiman Israel di Tepi Barat serta serangan terhadap situs-situs keagamaan di wilayah Palestina yang diduduki.

Pada April lalu, Abbas juga sempat menuntut Hamas agar menyerahkan kekuasaan di Gaza, melucuti senjata, dan membebaskan seluruh sandera sebagai syarat rekonsiliasi.

Hamas dan Fatah telah berselisih selama hampir dua dekade, sejak Hamas memenangkan pemilu legislatif Palestina pada 2006. Ketegangan memuncak ketika Hamas merebut kendali atas Gaza pada 2007, setelah ditolak menjalankan pemerintahan oleh Otoritas Palestina. Sejak itu, kedua kubu telah beberapa kali mencoba berdamai, namun belum menghasilkan kesepakatan yang bertahan lama. (Bahry)

Sumber: TNA

Tiga Tentara Israel Tewas dalam Ledakan Tank di Gaza Utara, Satu Perwira Luka Parah

GAZA (jurnalislam.com)– Militer Israel mengumumkan bahwa tiga tentaranya tewas dan satu perwira terluka serius setelah tank yang mereka tumpangi terkena ledakan di Jabalia, Jalur Gaza utara, pada Senin (14/7/2025). Ledakan terjadi di tengah pertempuran yang sedang berlangsung dengan kelompok Hamas.

Ketiga prajurit yang tewas diidentifikasi sebagai:

– Sersan Staf Shoham Menahem (21), asal Yardena

– Sersan Shlomo Yakir Shrem (20), asal Efrat

– Sersan Yuliy Faktor (19), asal Rishon Lezion

Sementara itu, seorang perwira yang tidak disebutkan namanya saat ini tengah dirawat di rumah sakit dalam kondisi kritis. Keempatnya diketahui berasal dari Batalyon ke-52 Brigade Lapis Baja ke-401.

Militer Israel (IDF) menyatakan bahwa penyelidikan awal menduga tank tersebut awalnya terkena tembakan granat berpeluncur roket dari Hamas. Namun, dugaan sementara berubah setelah investigasi menunjukkan kemungkinan kesalahan operasional, dengan ledakan berasal dari peluru yang gagal fungsi dan meledak di dalam menara tank. Penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut.

Kematian tiga prajurit ini menambah jumlah korban militer Israel yang tewas dalam serangan darat di Gaza dan sepanjang perbatasan menjadi 454 tentara, termasuk dua perwira polisi dan tiga kontraktor sipil Kementerian Pertahanan.

Sejak Israel kembali melanjutkan serangan di Jalur Gaza pada Maret mengakhiri gencatan senjata yang sebelumnya berlaku sedikitnya 44 tentara Israel dilaporkan tewas. Jumlah ini meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir, dengan 13 di antaranya terjadi sepanjang Juli.

Di sisi lain, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, serangan Israel sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan sedikitnya 58.386 warga sipil Palestina. (Bahry)

Sumber: TNA, TOI

42 Tentara Israel Bunuh Diri, 3 Kasus Terjadi dalam Sepekan Terakhir

GOLAN (jurnalislam.com)- Seorang tentara Israel dilaporkan bunuh diri di sebuah pangkalan militer di Dataran Tinggi Golan, wilayah Suriah yang diduduki Israel. Insiden ini menandai kasus ketiga bunuh diri di kalangan tentara aktif dalam sepuluh hari terakhir, menurut pernyataan militer Israel pada Senin (14/7/2025).

Militer tidak merinci lebih lanjut mengenai peristiwa tersebut, hanya menyebutkan bahwa sang prajurit ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di dalam pangkalan.

Media Israel Channel 12 melaporkan bahwa tentara yang tewas merupakan anggota Brigade Nahal dan diketahui pernah terlibat dalam operasi tempur di Jalur Gaza. Polisi Militer telah membuka penyelidikan untuk mengungkap latar belakang kematian tersebut.

Pekan lalu, seorang prajurit cadangan juga bunuh diri, diikuti oleh seorang tentara lainnya yang ditemukan meninggal dalam kondisi serupa.

“Tiga tentara bunuh diri dalam seminggu terakhir. Ini adalah kenyataan yang menyesakkan,” ujar pemimpin oposisi Yair Lapid melalui platform X.

“Setidaknya 15 tentara telah tewas karena bunuh diri sejak awal tahun. Perang ini menghancurkan kehidupan,” tambahnya.

Laporan media Israel mencatat tren peningkatan bunuh diri di kalangan militer sejak dimulainya perang Gaza pada Oktober 2023.

Pada 6 Juli lalu, seorang tentara cadangan ditemukan meninggal karena bunuh diri di hutan dekat kota Safed, Israel utara, yang diduga dipicu oleh gangguan psikologis akibat perang.

Surat kabar Israel Hayom menyebutkan bahwa 21 tentara Israel telah mengakhiri hidup mereka sepanjang 2024. Sementara Haaretz melaporkan bahwa sejak perang Gaza dimulai, total 42 tentara telah bunuh diri. (Bahry)

Sumber: anews

Serangan Intensif Brigade Al-Qassam: Tank, Ekskavator, dan Pos Komando Israel Jadi Sasaran

GAZA (jurnalislam.com)– Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, melaporkan serangkaian serangan terhadap posisi militer Israel di sejumlah titik di Jalur Gaza pada Sabtu (12/7/2025). Serangan itu mencakup penghancuran kendaraan tempur dan serangan terhadap pos komando militer Israel.

Dalam pernyataan resminya, Al-Qassam menyebut bahwa pejuang mereka berhasil menyerang sebuah tank militer Israel dengan alat peledak berkekuatan tinggi di kawasan timur permukiman Zeitoun, selatan Kota Gaza. Setelah serangan itu, dilaporkan terjadi pendaratan helikopter militer Israel yang diduga untuk evakuasi pasukan.

Selain itu, pos komando dan kendali militer Israel di Qizan al-Najjar, wilayah selatan Khan Yunis, juga diserang menggunakan mortir pada sore hari. Brigade Al-Qassam juga melaporkan aksi penembakan terhadap seorang tentara Israel hingga tewas di daerah Abasan al-Kabira, timur Khan Yunis.

Dalam laporan terpisah, kelompok itu menyatakan telah menghancurkan sebuah ekskavator militer Israel di sebelah timur permukiman Zeitoun pada Rabu (9/7) lalu, dengan alat peledak serupa. Pendaratan helikopter juga dilaporkan terjadi setelah serangan tersebut.

Serangan mortir lainnya dilancarkan ke arah pos komando Israel di permukiman Al-Tuffah, bagian timur Kota Gaza.

Sementara itu, militer Israel (IDF) mengonfirmasi bahwa empat tentaranya terluka dalam insiden terpisah di Gaza pada hari Sabtu (12/7). Dua di antaranya mengalami luka di Gaza utara dan dua lainnya di Gaza selatan. Seluruh korban luka telah dievakuasi ke rumah sakit.

IDF juga menyatakan bahwa mereka telah meluncurkan lebih dari 250 serangan udara ke berbagai target di Gaza sejak Kamis (10/7). Pada Sabtu malam, lebih dari 35 sasaran diserang di Beit Hanoun, wilayah utara Gaza, sebagai bagian dari gelombang baru operasi militer. (Bahry)

Sumber: TOI

Mayoritas Warga Israel Ingin Perang Gaza Diakhiri dan Netanyahu Mundur

GAZA (jurnalislam.com)- Sebanyak 74 persen warga Israel, termasuk 60 persen dari pemilih koalisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, mendukung kesepakatan dengan Hamas untuk membebaskan seluruh sandera sekaligus dengan imbalan penghentian perang di Gaza. Hal itu terungkap dalam survei yang disiarkan Channel 12 pada Jumat (11/7/2025).

Sebaliknya, hanya 8 persen responden mendukung usulan Netanyahu yang menawarkan pembebasan sebagian sandera terlebih dahulu, dilanjutkan dengan negosiasi gencatan senjata permanen dan pembebasan sisanya. Sebanyak 12 persen menolak kesepakatan apa pun yang mensyaratkan diakhirinya perang, dan 6 persen menyatakan tidak tahu.

Ketika ditanya mengapa Netanyahu bersikeras pada kesepakatan bertahap, 49 persen responden menilai alasan tersebut bermotif politik, sementara 36 persen mengatakan pertimbangan keamanan. Sisanya, 15 persen, mengaku tidak tahu.

Dalam pertemuan dengan keluarga para sandera di Washington pada Rabu lalu, Netanyahu menyatakan bahwa kesepakatan menyeluruh untuk memulangkan seluruh sandera sekaligus “tidak pernah menjadi pilihan”, menurut laporan penyiar publik Kan.

Survei juga menunjukkan bahwa 55 persen warga Israel menilai penanganan Netanyahu terhadap perang di Gaza buruk, dibandingkan dengan 41 persen yang menilainya baik, dan 4 persen tidak memberikan penilaian. Untuk Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, 52 persen menilai kinerjanya buruk, 37 persen baik, dan 11 persen tidak tahu.

Satu-satunya pejabat tinggi yang mendapatkan penilaian positif adalah Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir. Sebanyak 62 persen responden menilai kinerjanya dalam perang baik, 24 persen buruk, dan 14 persen tidak tahu.

Di tengah spekulasi bahwa Netanyahu dapat mengundurkan diri sebagai bagian dari kesepakatan hukum guna mengakhiri proses pengadilan korupsi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, sebanyak 55 persen responden, termasuk 27 persen pemilih koalisi, menyatakan ia sebaiknya mengambil opsi tersebut. Sementara itu, 34 persen ingin Netanyahu tetap menjabat dan maju pada pemilu berikutnya, dan 11 persen tidak memiliki pendapat.

Mengenai isu yang akan menentukan pilihan dalam pemilu mendatang, 27 persen responden menyebut ekonomi dan biaya hidup sebagai faktor utama. Sebanyak 26 persen menyebut perang Gaza dan serangan Hamas yang memicunya, 14 persen menyoroti isu wajib militer bagi warga ultra-Ortodoks (Haredi), 13 persen menyebut perpecahan internal Israel, 8 persen menyoroti program nuklir Iran, dan 12 persen lainnya belum menentukan sikap.

Saat ditanya siapa yang layak memimpin blok oposisi anti-Netanyahu dalam pemilu mendatang, 35 persen pemilih oposisi memilih mantan Perdana Menteri Naftali Bennett. Sementara itu, 13 persen menyebut Benny Gantz (Ketua Partai Biru Putih), 12 persen mendukung Yair Lapid (Ketua Partai Yesh Atid), 12 persen menyebut Avigdor Liberman (Ketua Partai Yisrael Beytenu), 11 persen memilih Gadi Eisenkot (mantan Kepala IDF), dan 6 persen menyebut Yair Golan (Ketua Partai Demokrat).

Partai baru yang dibentuk Bennett, sementara diberi nama Bennett 2026, telah menyelesaikan pendaftaran bulan lalu. Meskipun pernah menjadi sekutu Netanyahu di sayap kanan, Bennett kehilangan dukungan dari kalangan tersebut setelah membentuk pemerintahan pada 2021–2022 yang melibatkan partai sayap kiri dan Arab.

Pemilu Israel berikutnya dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026, kecuali terjadi pembubaran parlemen lebih awal. Tekanan untuk pemilu ulang terus meningkat setelah pemerintah dinilai gagal mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menjadi pemicu perang di Gaza.

Dari dalam koalisi, faksi ultra-Ortodoks mengancam menarik dukungan karena kekecewaan terhadap kebijakan pengecualian wajib militer bagi siswa yeshiva. Sementara itu, partai-partai sayap kanan mengancam menjatuhkan pemerintahan jika perang di Gaza dihentikan.

Meski secara terbuka berjanji akan terus memerangi Hamas hingga organisasi itu dikalahkan, Netanyahu dilaporkan tengah bekerja sama dengan mantan Presiden AS Donald Trump untuk menyusun rencana mengakhiri perang. Rencana tersebut juga mencakup komitmen kembali terhadap solusi dua negara dan normalisasi hubungan diplomatik Israel dengan Arab Saudi dan Suriah.

Survei Channel 12 ini dilakukan oleh perusahaan riset Midgam, bekerja sama dengan iPanel. Namun, ukuran sampel dan margin of error tidak disebutkan dalam laporan. (Bahry)

Sumber: TOI

MUI Jatim Terbitkan Fatwa Haram untuk Penggunaan Sound Horeg yang Berlebihan

SURABAYA (jurnalislam.com)– Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur secara resmi menerbitkan Fatwa Nomor 1 Tahun 2025 tentang Penggunaan Sound Horeg sebagai respons atas meningkatnya keresahan masyarakat terhadap fenomena penggunaan sistem audio berdaya besar yang kerap menimbulkan kebisingan dan pelanggaran norma sosial.

Fatwa tersebut ditetapkan di Surabaya pada Sabtu, 12 Juli 2025, dan menjadi rujukan keagamaan atas praktik penggunaan sound horeg yakni sistem suara dengan intensitas tinggi yang sering digunakan dalam pertunjukan keliling, pesta jalanan, atau hiburan yang dinilai mengganggu ketertiban umum.

Dalam penjelasannya, MUI Jatim menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi audio digital dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya adalah hal yang positif selama tidak bertentangan dengan hukum negara maupun prinsip-prinsip syariat Islam.

Namun, MUI menetapkan bahwa penggunaan sound horeg yang melampaui batas wajar, menimbulkan gangguan kesehatan, merusak fasilitas umum, disertai aktivitas joget pria dan wanita yang membuka aurat, serta memuat unsur kemungkaran lainnya baik dilakukan di satu lokasi maupun secara berkeliling dihukumi haram.

Selain itu, MUI juga menyatakan bahwa bentuk pertunjukan seperti battle sound atau adu suara yang menimbulkan kebisingan ekstrem dan pemborosan sumber daya (tabdzir dan idha’atul mal), juga haram secara mutlak.

Adapun penggunaan sound system untuk keperluan positif seperti resepsi pernikahan, pengajian, shalawatan, dan kegiatan lainnya diperbolehkan, selama intensitas suara masih dalam batas wajar dan tidak mengandung unsur yang diharamkan dalam syariat.

MUI juga menggarisbawahi tanggung jawab moral dan hukum bagi pengguna sound horeg yang menimbulkan kerugian pada orang lain, termasuk kewajiban untuk mengganti kerusakan yang ditimbulkan.

Fatwa ini menjadi bentuk ikhtiar keagamaan untuk menjaga ketertiban, kenyamanan masyarakat, serta mencegah kerusakan moral dan sosial yang diakibatkan oleh penyalahgunaan teknologi hiburan.

sumber: muijatim

Rencana Israel: Dua Juta Warga Gaza Akan Digusur dan Dipusatkan di Rafah

GAZA (jurnalislam.com)- Militer Israel mengklaim telah melancarkan 250 serangan di Jalur Gaza dalam kurun waktu 48 jam terakhir hingga Sabtu (12/7/2025), di tengah terus bergulirnya rencana kontroversial untuk menggusur dan mengusir paksa jutaan warga Palestina dari wilayah tersebut.

Awal pekan ini, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengumumkan rencana pembangunan sebuah “kota kemanusiaan” yang disebut akan menampung sekitar 2,1 juta warga Palestina di atas reruntuhan Rafah, kota di Gaza selatan yang kini hampir sepenuhnya hancur akibat agresi militer Israel.

Rencana tersebut menuai kecaman luas. Warga Palestina menolak keras gagasan tersebut, menyatakan bahwa mereka tidak akan meninggalkan tanah kelahiran mereka. Sejumlah organisasi hak asasi manusia, lembaga internasional, dan negara-negara dunia menilai rencana itu sebagai bentuk “pembersihan etnis” dan pengusiran paksa terhadap sebuah populasi dari wilayah asalnya.

Analis politik senior Israel, Akiva Eldar, mengatakan kepada Al Jazeera pada Sabtu bahwa rencana tersebut membuat banyak warga Israel terkejut dan marah. Ia menyebut gagasan tersebut sebagai “ilegal dan tidak bermoral”.

“Siapa pun yang terlibat dalam proyek menjijikkan ini akan tercatat dalam sejarah sebagai pelaku kejahatan perang,” tegas Eldar.

Ia menambahkan, pesan yang terkandung dalam rencana ini seolah menyiratkan bahwa “antara sungai dan laut, hanya orang Yahudi yang berhak memiliki negara”, merujuk pada wilayah dari Sungai Yordan hingga Laut Mediterania.

Sementara itu, profesor studi Timur Tengah di Universitas Turin, Lorenzo Kamel, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kebijakan pengusiran warga Palestina dan pemusatan mereka ke wilayah tertentu bukanlah hal baru.

“Pada tahun 1948, tepat 77 tahun lalu, sekitar 70.000 warga Palestina diusir dari desa Lydda dalam apa yang dikenal sebagai ‘pawai kematian’. Banyak dari mereka berakhir di Jalur Gaza,” ujarnya.

Kamel menilai bahwa selama beberapa dekade, otoritas Israel telah memaksa warga Palestina untuk tinggal di lokasi-lokasi yang menyerupai kamp konsentrasi, dan kondisi tersebut kian memburuk dalam beberapa bulan terakhir.

“Rencana untuk mengumpulkan seluruh penduduk Gaza di atas reruntuhan Rafah tidak lain adalah persiapan untuk deportasi massal dari Jalur Gaza,” pungkasnya. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Sedikitnya 110 Warga Palestina Tewas dalam Serangan Terbaru Israel di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)- Setidaknya 110 warga Palestina tewas dalam serangan udara dan darat yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza pada Sabtu (12/7/2025), menurut keterangan sumber medis kepada Al Jazeera. Serangan itu menandai peningkatan intensitas agresi militer Israel di wilayah tersebut.

Dari jumlah tersebut, 34 korban dilaporkan tewas akibat tembakan pasukan Israel di Rafah, Gaza selatan, tepatnya di dekat satu-satunya pusat distribusi bantuan yang masih beroperasi milik Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF). Insiden tersebut memicu kecaman dari berbagai kelompok hak asasi manusia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang menyebut lokasi itu sebagai “rumah jagal manusia” dan “jebakan maut”.

Melansir dari Al Jazeera Mubasher, pasukan Israel disebut melepaskan tembakan langsung ke arah warga yang tengah mengantre bantuan di wilayah al-Shakoush, Rafah. Hani Mahmoud, jurnalis Al Jazeera yang melaporkan dari Deir el-Balah, menyebutkan bahwa pasukan Israel menembaki kerumunan warga sipil secara membabi buta dalam salah satu serangan tersebut.

“Banyak keluarga dari wilayah utara yang putus asa melakukan perjalanan berbahaya ke selatan demi mendapatkan bantuan dari satu-satunya titik distribusi yang masih beroperasi di Rafah,” kata Mahmoud. Ia menambahkan bahwa banyak jenazah masih tergeletak di lokasi kejadian, sementara para korban luka telah dibawa ke Rumah Sakit Nasser di Khan Younis.

Serangan lainnya pada hari yang sama dilaporkan menewaskan 14 orang di Kota Gaza, termasuk empat korban dalam serangan di sebuah rumah di Jalan Jaffa, wilayah Tuffah. Sepuluh lainnya mengalami luka-luka.

Di wilayah Jabalia, Gaza utara, dua bangunan tempat tinggal dilaporkan hancur akibat serangan udara, menewaskan sedikitnya 15 orang. Sementara di kamp pengungsi Shati, tujuh orang tewas akibat serangan serupa.

Pada malam hari, militer Israel dilaporkan melancarkan sekitar 40 serangan udara di wilayah Beit Hanoon, Gaza utara, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera Arabic.

Sementara itu, Kantor Media Pemerintah Gaza mengungkapkan bahwa sejauh ini sedikitnya 67 anak meninggal akibat malnutrisi, dan lebih dari 650.000 anak di bawah usia lima tahun berada dalam risiko tinggi mengalami malnutrisi akut dalam beberapa pekan ke depan.

“Dalam tiga hari terakhir, puluhan orang meninggal karena kekurangan makanan dan obat-obatan penting. Situasi kemanusiaan saat ini berada dalam kondisi yang sangat brutal,” demikian pernyataan lembaga tersebut.

Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, pada Jumat (11/7) menyatakan bahwa Israel sedang melaksanakan “skema yang kejam dan Machiavellian” di Gaza. Ia mencatat bahwa sejak Mei lalu, ketika GHF mulai mendistribusikan bantuan, lebih dari 800 warga Palestina tewas saat mencoba mengakses bantuan kemanusiaan.

“Gaza telah berubah menjadi kuburan massal bagi anak-anak dan warga sipil yang kelaparan, tepat di bawah pengawasan dunia,” ujar Lazzarini. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Kekurangan Pasukan Parah, Militer Israel Perpanjang Masa Wajib Militer

TEL AVIV (jurnalislam.com)- Militer Israel memperpanjang masa dinas ribuan prajurit reguler selama satu tahun penuh di tengah meningkatnya kekurangan personel akibat operasi militer di berbagai front. Kebijakan ini menuai kritik tajam dari kalangan oposisi, menurut laporan Channel 12 Israel.

Langkah tersebut disebut sebagai respons atas beban militer yang terus meningkat, khususnya setelah Israel melanjutkan serangan besar-besaran di Jalur Gaza, Tepi Barat, Lebanon, Suriah, hingga konflik singkat dengan Iran.

Channel 12 juga melaporkan bahwa keputusan perpanjangan masa dinas telah mendorong sejumlah pihak di dalam militer untuk mendorong tercapainya kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas guna mengurangi tekanan terhadap para tentara.

Pemimpin oposisi Yair Lapid mengecam kebijakan ini sebagai “memalukan” karena pemerintah tetap memberikan pengecualian wajib militer kepada komunitas Yahudi ultra-Ortodoks. Lapid bahkan terlibat perselisihan dengan Ketua Partai ultra-Ortodoks Shas, Aryeh Deri, awal pekan ini, terkait wacana sanksi terhadap siswa yeshiva (pesantren Yahudi) yang menolak wajib militer.

“Menteri Deri, alih-alih menyerang Jaksa Agung yang hanya menjalankan hukum, tugas Anda seharusnya memberi tahu para siswa yeshiva: ‘Israel tengah berjuang demi eksistensinya. Tidak ada pilihan selain bergabung dengan saudara-saudara kalian di medan perang,’” ujar Lapid seperti dikutip The Jerusalem Post.

“Siapa pun yang duduk di kabinet dan mengirim tentara ke Gaza, tak memiliki legitimasi moral untuk membiarkan penghindaran wajib militer.” tegasnya.

Di tengah meningkatnya ketegangan, militer Israel juga mengumumkan pada Jumat (11/7) bahwa mereka akan mengerahkan dua batalyon tambahan ke wilayah Tepi Barat yang diduduki. Tidak ada rincian lebih lanjut terkait jumlah pasukan atau lokasi spesifik penempatan tersebut.

Perang di Gaza, yang dimulai pada Oktober 2023, hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Upaya mediasi gencatan senjata yang dimediasi sejumlah negara belum membuahkan hasil. Sejumlah pakar PBB dan organisasi hak asasi manusia telah mengklasifikasikan agresi Israel di Gaza sebagai bentuk genosida.

Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan, hingga saat ini sedikitnya 57.762 warga Palestina telah tewas dan 137.656 lainnya mengalami luka-luka.

Sementara itu, di Tepi Barat, militer Israel terus melancarkan operasi skala besar, termasuk penggerebekan terhadap kamp-kamp pengungsi. Serangan udara juga terus dilakukan terhadap Lebanon dan Suriah, meski gencatan senjata dengan Hizbullah telah disepakati pada November 2024. (Bahry)

Sumber: TNA

PBB: Pembatasan Bantuan oleh Israel di Gaza Ancam Banyak Nyawa

NEW YORK (jurnalislam.com)- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat (11/7/2025) memperingatkan bahwa pembatasan yang diberlakukan Israel terhadap akses bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, termasuk pengiriman bahan bakar, membahayakan banyak nyawa.

“Penolakan semacam ini mengancam jiwa,” ujar juru bicara PBB, Stéphane Dujarric, dalam konferensi pers.

Ia menegaskan, “Setiap hari tanpa gencatan senjata berarti bertambahnya korban jiwa yang seharusnya bisa diselamatkan. Anak-anak meninggal karena kesakitan, dan warga yang kelaparan ditembak saat mencoba menjangkau bantuan yang telah disetujui Israel.”

Dujarric menambahkan, puluhan warga dilaporkan tewas pada hari Jumat di Rafah saat berusaha mendapatkan kebutuhan pokok bagi keluarga mereka.

“Saat ini, krisis bahan bakar di Gaza berada pada tingkat yang sangat kritis. Kemarin, untuk hari kedua berturut-turut, tim kami berhasil mengirimkan sekitar 75.000 liter bahan bakar yang sangat dibutuhkan ke Gaza,” jelasnya.

“Namun jumlah tersebut hanyalah sebagian kecil dari yang diperlukan untuk mempertahankan operasi penyelamatan jiwa setiap harinya,” lanjut Dujarric.

“Untuk lebih jelasnya: Bahan bakar di Gaza hampir habis.”

Ia memperingatkan bahwa jika pembatasan saat ini tidak segera dicabut agar pasokan bahan bakar dapat dikirimkan secara rutin dan dalam jumlah besar, maka lebih banyak layanan vital akan berhenti beroperasi.

Dujarric juga mendesak adanya “akses yang aman dan tanpa hambatan ke Gaza.” Ia mengungkapkan bahwa pada Kamis lalu, otoritas Israel menolak izin bagi tim PBB untuk membawa bahan bakar ke wilayah Gaza utara, dan kemudian memblokir akses ke sebuah lokasi di Kota Gaza tempat 18 orang yang terluka terjebak di bawah reruntuhan.

“Ketika tim akhirnya diizinkan masuk pada hari berikutnya, tidak ada satu pun korban yang ditemukan dalam kondisi hidup,” ujarnya.

Dari total 15 upaya distribusi bantuan kemanusiaan yang dikoordinasikan dengan otoritas Israel pada hari Kamis, hanya enam yang berhasil difasilitasi sepenuhnya. Sisanya ditolak atau terhambat di lapangan.

“Otoritas Israel telah memblokir masuknya seluruh material untuk tempat berlindung selama lebih dari 130 hari,”pungkasnya. (Bahry)

Sumber: AA