PBB: Lebih dari 1.000 Warga Palestina Tewas Saat Mencari Bantuan Pangan di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (22/7/2025) mengungkapkan bahwa lebih dari 1.000 warga Palestina telah tewas saat berusaha mendapatkan bantuan pangan di Gaza sejak Yayasan Kemanusiaan Gaza (Gaza Humanitarian Foundation/GHF), yang didukung oleh Amerika Serikat dan Israel, mulai beroperasi.

GHF yang secara resmi bersifat privat, memulai aktivitasnya pada 26 Mei 2025, di tengah pengepungan Israel atas Jalur Gaza selama lebih dari dua bulan. Situasi tersebut memicu peringatan krisis kelaparan besar-besaran di wilayah pesisir itu.

Namun, operasi distribusi bantuan oleh GHF berlangsung dalam situasi kacau dan disertai laporan hampir setiap hari mengenai penembakan oleh pasukan Israel terhadap warga yang tengah mengantre bantuan makanan.

“Lebih dari 1.000 warga Palestina kini telah dibunuh oleh militer Israel saat mencoba mendapatkan makanan di Gaza sejak Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) mulai beroperasi,” kata juru bicara Kantor HAM PBB, Thameen Al-Kheetan, kepada AFP.

Menurut data PBB hingga 21 Juli, sebanyak 1.054 orang tewas saat mencari bantuan pangan. Dari jumlah itu, 766 orang meninggal di sekitar lokasi distribusi GHF dan 288 lainnya di dekat konvoi bantuan PBB serta lembaga kemanusiaan lain.

“Data ini kami peroleh dari berbagai sumber terpercaya di lapangan, termasuk tim medis, organisasi kemanusiaan, dan pegiat hak asasi manusia,” imbuh Kheetan.

Perang Israel di Gaza yang telah berlangsung lebih dari sembilan bulan menciptakan krisis kemanusiaan parah bagi lebih dari dua juta warga yang tinggal di wilayah tersebut. Penduduk Gaza kini menghadapi kekurangan makanan dan kebutuhan pokok lainnya secara ekstrem.

Kementerian Kesehatan Gaza pada Selasa melaporkan, setidaknya 101 orang termasuk 80 anak-anak telah meninggal dunia akibat kelaparan.

Sementara itu, GHF mengklaim telah mendistribusikan lebih dari 1,4 juta paket bantuan makanan sejauh ini. Namun, sejumlah lembaga kemanusiaan besar, termasuk PBB, menolak untuk bekerja sama dengan GHF. Mereka menyatakan kekhawatiran bahwa program tersebut digunakan untuk tujuan militer Israel dan bertentangan dengan prinsip dasar kemanusiaan internasional.

Sejauh ini, GHF merupakan satu-satunya organisasi yang diizinkan oleh otoritas Israel untuk menyalurkan bantuan makanan ke Gaza, meskipun tanpa pengawasan lembaga-lembaga internasional. Hal ini memicu kekhawatiran luas terkait transparansi, netralitas, dan keamanan dalam proses distribusi bantuan. (Bahry)

Sumber: TNA

Ribuan Warga Israel Gelar Aksi di Tel Aviv Tuntut Penghentian Perang Gaza

TEL AVIV (jurnalislam.com)— Ribuan warga Israel menggelar aksi unjuk rasa di Tel Aviv pada Selasa (22/7/2025), menuntut diakhirinya perang di Jalur Gaza dan menyoroti krisis kemanusiaan, khususnya meningkatnya kelaparan di wilayah tersebut.

Aksi dimulai dari Lapangan Habima dan berlanjut menuju markas militer Kirya, pusat komando militer Israel. Para demonstran berjalan membawa karung berisi tepung dan foto-foto anak-anak Palestina di Gaza yang dilaporkan meninggal akibat kelaparan selama konflik.

“Kami membawa foto anak-anak Palestina di Gaza yang meninggal karena kelaparan,” ujar Alon Lee-Green, salah satu penyelenggara aksi, dalam orasinya.

“Mereka tewas karena Israel memblokade bantuan ke Gaza. Kami menuntut agar kelaparan ini dihentikan.”

Pemerintah Israel berulang kali membantah tuduhan terjadinya kelaparan massal di Gaza. Otoritas setempat mengklaim telah mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan, termasuk makanan.

Namun, para pengunjuk rasa membantah pernyataan tersebut. “Mereka bilang tidak ada kelaparan itu bohong,” ujar seorang demonstran dalam sebuah video yang direkam saat aksi. “Lihat foto-foto anak-anak yang menderita kelaparan ini.”

Aksi protes berlangsung damai dan tidak ada laporan penangkapan dari aparat keamanan. (Bahry)

Sumber: TOI

Ratusan Keluarga Badui Dievakuasi dari Suwayda di Tengah Konflik Berdarah

SURIAH (jurnalislam.com)- Ratusan keluarga Badui telah dievakuasi dari Provinsi Suwayda, Suriah selatan, di tengah meningkatnya kekerasan antar kelompok. Banyak pihak menilai tindakan ini sebagai bentuk pemindahan paksa.

Pemerintah Suriah mengklaim bahwa evakuasi tersebut merupakan relokasi sementara. Namun, operasi ini memicu kekhawatiran akan potensi pengusiran permanen dan upaya rekayasa demografi.

“Saya tidak percaya mungkin saya takkan pernah kembali ke rumah saya,” ujar Nasser al-Mahmoud, salah satu pengungsi, kepada Al-Araby Al-Jadeed, media afiliasi The New Arab.

“Kejahatan apa yang dilakukan warga sipil? Mereka bukan bagian dari konflik… Banyak keluarga kini tidak punya tempat tinggal.”

Evakuasi ini terjadi setelah bentrokan mematikan yang pecah sejak 13 Juli antara kelompok Druze lokal dan komunitas Badui di dalam dan sekitar Suwayda. Pertempuran tersebut telah menewaskan ratusan orang.

Upaya awal untuk mencapai gencatan senjata melalui mediasi regional dan internasional gagal, setelah kelompok suku Badui mengumumkan mobilisasi umum. Mereka menuduh milisi Druze melakukan berbagai pelanggaran setelah pasukan keamanan pemerintah ditarik dari wilayah tersebut.

Menurut sumber lokal, sekitar 300 orang telah dievakuasi pada Senin (21/7) ke tempat penampungan sementara di wilayah timur Provinsi Daraa yang bersebelahan.

Keluarga-keluarga ini sebelumnya dikepung selama beberapa hari oleh kelompok bersenjata yang loyal kepada Syekh Hikmat al-Hijri, salah satu pemimpin spiritual komunitas Druze. Kantor berita resmi Suriah, SANA, melaporkan bahwa total sekitar 1.500 orang akan direlokasi.

“Mereka membunuh istri dan anak laki-laki saya,” kata Khalil al-Nayef, pengungsi lainnya.

“Saya melarikan diri bersama putri saya, yang menjadi korban penyiksaan. Ini adalah pengungsian paksa.”

Laporan media dan kesaksian warga menggambarkan situasi mencekam selama pengepungan, termasuk penjarahan, pembakaran rumah, dan pemutusan akses makanan.

“Mereka menghancurkan dan membakar rumah kami. Selama beberapa hari kami tidak punya makanan,” ujar seorang perempuan korban pengusiran.

Seorang guru senior di Suwayda mengatakan kepada televisi pemerintah, “Saya mengajar semua orang di provinsi ini… tetapi penghinaan yang kami alami membuat kami mustahil untuk kembali.”

Di tengah proses evakuasi, Menteri Informasi Suriah Hamza al-Mustafa menuding empat negara—tanpa menyebutkan namanya—telah memicu sektarianisme di Suriah melalui penyebaran narasi palsu di media sosial. Ia menyalahkan kelompok-kelompok yang didukung pihak asing atas krisis di Suwayda, serta memperingatkan adanya upaya pembentukan “kanton sektarian”. Ia justru menyerukan persatuan dan rekonsiliasi.

Dr. Yahya al-Aridi, akademisi asal Suwayda, menyebut bahwa evakuasi terhadap warga Badui—yang mayoritas Sunni—dari provinsi yang didominasi komunitas Druze, telah dimanfaatkan untuk mengobarkan ketegangan sektarian.

“Aktor-aktor tertentu dan geng memanfaatkan warga Badui untuk menyalahkan masyarakat Suwayda atas pengusiran ini,” ujarnya.

“Provinsi ini memang telah keluar dari kendali rezim, tetapi bukan keluar dari negara. Itu perbedaan penting.”

Samer al-Bakkour, peneliti dari Pusat Arab untuk Studi Suriah Kontemporer, menyatakan bahwa evakuasi ini adalah bagian dari pola pemindahan paksa dalam konteks konflik politik lokal, yang bertujuan mengusir suku Badui dari wilayah padang rumput Suwayda. Ia menyebut operasi tersebut melanggar Pasal 49 Konvensi Jenewa Keempat, yang melarang pemindahan paksa warga sipil.

Sementara itu, Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan bahwa lebih dari 100.000 orang telah mengungsi akibat kekerasan di Suwayda. Bersama Bulan Sabit Merah Arab Suriah, WFP menyalurkan makanan siap saji dan tepung bagi keluarga terdampak di Suwayda dan Daraa.

Konvoi bantuan pertama—berisi lebih dari 40 truk—telah tiba di Suwayda, dengan bantuan tambahan dalam perjalanan.

Peneliti politik Ahmad al-Qurbi memperingatkan bahwa dampak dari konflik ini akan melampaui wilayah Suwayda.

“Ini akan memengaruhi demografi, hak kepemilikan, dan dokumentasi,” ujarnya.

“Peristiwa ini juga akan memperkuat proyek separatis dan memperdalam perpecahan sosial. Krisis di Suwayda hanya akan memperburuk ketidakstabilan politik dan sosial di Suriah.” (Bahry)

Sumber: TNA

Dua Tentara Tewas, Satu Perwira Israel Terluka dalam Ledakan di Gaza Selatan

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Dua tentara Israel dilaporkan tewas dan satu perwira lainnya terluka dalam dua insiden terpisah di Jalur Gaza selatan pada Senin (21/7), demikian diumumkan militer Israel (IDF) pada Selasa (22/7/2025).

Korban pertama adalah Sersan Mayor (Purn.) Vladimir Loza (36), tentara cadangan dari Batalyon 7020 Brigade ke-5, yang berasal dari Ashkelon. Loza tewas dalam operasi militer di wilayah Rafah, setelah sebuah ledakan menyebabkan bangunan runtuh.

Menurut penyelidikan awal IDF, ledakan diduga berasal dari alat peledak yang ditanam di lokasi tersebut.

Sementara itu, korban kedua adalah Sersan Staf Amit Cohen (19), dari Batalyon ke-13 Brigade Golani, warga Holon. Cohen dilaporkan tewas dalam ledakan di sebuah gedung di Khan Younis, Gaza selatan. Ledakan itu terjadi saat pasukan IDF memulai operasi darat di wilayah Deir al-Balah, Gaza tengah, untuk pertama kalinya sejak awal perang.

IDF menyebutkan, ledakan yang menewaskan Cohen berasal dari amunisi militer Israel yang meledak secara tidak sengaja. Insiden ini juga menyebabkan seorang perwira dari batalyon yang sama mengalami luka-luka.

Militer Israel mengatakan saat ini masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti ledakan-ledakan tersebut. (Bahry)

Sumber: TOI

Prajurit Israel Tewas dengan Luka Tembak, Diduga Bunuh Diri

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Seorang prajurit Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang tengah menjalani pelatihan sebagai penerjun payung dan diduga mencoba bunuh diri pekan lalu, dilaporkan meninggal dunia akibat luka-lukanya. Informasi tersebut disampaikan militer Israel pada Ahad (20/7/2025).

Korban diketahui bernama Kopral Dan Phillipson, seorang prajurit muda yang berasal dari Norwegia. Ia pindah ke Israel sekitar setahun lalu tanpa didampingi keluarganya, untuk bergabung dengan militer sebagai bagian dari program prajurit tunggal.

IDF melaporkan bahwa Phillipson ditemukan dengan luka tembak yang diduga dilakukan sendiri di sebuah pangkalan pelatihan di wilayah selatan Israel, pada Selasa pekan lalu. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, namun akhirnya meninggal dunia pada Jumat (18/7) akibat luka yang dideritanya.

IDF menyatakan bahwa Polisi Militer telah membuka penyelidikan atas insiden ini. Hasil penyelidikan nantinya akan diserahkan kepada Advokat Jenderal Militer untuk ditinjau lebih lanjut.

Phillipson tinggal di Kibbutz Be’erot Yitzhak sebagai bagian dari program Reut untuk prajurit tunggal. Menurut unggahan di Facebook oleh Yosi Shnior, yang menjadi ayah angkat Phillipson dalam program tersebut, ia dibesarkan di Oslo dalam keluarga Zionis yang religius dan telah bercita-cita untuk bergabung dengan IDF sejak duduk di bangku SMA.

“Selama pelatihannya sebagai penerjun payung, ia dikenal sebagai prajurit yang disiplin, luar biasa, dan dicintai oleh rekan-rekannya,” tulis Shnior.

Upacara pemakaman Phillipson digelar pada Ahad pukul 15.00 waktu setempat di Pemakaman Militer Mount Herzl, Yerusalem.

Dalam dua pekan terakhir, tercatat empat tentara Israel, termasuk seorang prajurit cadangan yang sedang tidak bertugas, meninggal dunia akibat dugaan bunuh diri. Dengan demikian, total kasus dugaan bunuh diri di tubuh militer Israel sepanjang tahun 2025 telah mencapai 19 kasus.

Militer Israel mengakui adanya peningkatan signifikan kasus bunuh diri di kalangan tentaranya sejak dimulainya perang yang masih berlangsung hingga saat ini. (Bahry)

Sumber: TOI

Laporan PBB: 19 Warga Gaza Meninggal karena Kelaparan dalam Satu Hari

GAZA (jurnalislam.com)- Otoritas kesehatan Gaza melaporkan bahwa sedikitnya 19 orang meninggal dunia akibat kelaparan dalam satu hari pada Ahad (20/7/2025), menyoroti kondisi yang semakin memburuk di bawah blokade ketat bantuan oleh Israel.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Antoine Renard, perwakilan Program Pangan Dunia (WFP) untuk Palestina, menyatakan bahwa badan PBB tersebut telah memperingatkan selama berminggu-minggu bahwa warga Palestina di Gaza menghadapi ancaman kelaparan akut.

“Ada tingkat keputusasaan di mana orang-orang rela mempertaruhkan nyawa hanya untuk mendapatkan bantuan yang masuk ke Gaza,” kata Renard dari Yerusalem Timur yang diduduki.

Ia juga menyebut adanya lonjakan jumlah warga yang mengalami malnutrisi. “Situasi ini benar-benar mencapai tingkat yang belum pernah kami lihat sebelumnya,” ujarnya.

Sementara itu, UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina, menyatakan menerima “pesan-pesan putus asa tentang kelaparan” dari dalam Gaza, termasuk dari staf mereka sendiri, seiring memburuknya kondisi kemanusiaan.

“Penderitaan di Gaza adalah buatan manusia dan harus dihentikan. Hentikan pengepungan, dan izinkan bantuan masuk dengan aman dan dalam skala besar,” demikian pernyataan UNRWA yang dipublikasikan melalui platform X.

Amjad Shawa, kepala Jaringan LSM Palestina, mengatakan kepada Al Jazeera pada Senin (21/7) bahwa sekitar 900.000 anak-anak di Gaza kini mengalami berbagai tingkat malnutrisi.

𝗧𝗲𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹

Sebanyak 25 negara, termasuk Inggris, Prancis, Australia, Kanada, Jepang, dan sejumlah negara Eropa lainnya, mengeluarkan pernyataan bersama yang menyerukan diakhirinya perang di Gaza dan menuntut Israel mematuhi hukum internasional.

“Penderitaan warga sipil di Gaza telah mencapai titik terendah,” bunyi pernyataan para menteri luar negeri tersebut. Mereka mengutuk lambannya distribusi bantuan dan tindakan tidak manusiawi terhadap warga sipil, termasuk anak-anak, yang mencoba memenuhi kebutuhan dasar seperti air dan makanan.

“Model penyaluran bantuan pemerintah Israel berbahaya, memicu ketidakstabilan, dan merampas martabat manusia warga Gaza,” tegas mereka.

Pernyataan itu juga menyoroti bahwa penolakan Israel terhadap masuknya bantuan kemanusiaan esensial merupakan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional. “Israel harus mematuhi kewajibannya berdasarkan hukum internasional,” tutup pernyataan tersebut. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Israel Gempur Deir el-Balah, Sedikitnya 65 Warga Palestina Tewas

GAZA (jurnalislam.com)- Sedikitnya 65 warga Palestina tewas dalam serangan Israel di Gaza pada Senin (21/7/2025), menurut sumber medis. Serangan ini berlangsung saat militer Israel untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023 mengerahkan tank ke wilayah Deir el-Balah, Gaza tengah.

Israel melancarkan serangan darat di wilayah selatan dan timur kota tersebut, yang kini dipenuhi pengungsi Palestina. Serangan terjadi sehari setelah militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi paksa bagi warga, yang memaksa ribuan orang mengungsi ke arah barat menuju pantai Mediterania dan ke selatan menuju Khan Younis.

Penembakan tank di kawasan itu menghantam rumah-rumah dan masjid, menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai beberapa lainnya, lapor Reuters mengutip petugas medis setempat.

Melaporkan dari Deir el-Balah, jurnalis Al Jazeera, Tareq Abu Azzoum, mengatakan bahwa suara tembakan terdengar jelas saat tank-tank Israel memasuki wilayah tersebut pada Senin pagi.

“Kami dapat melihat bahwa seluruh kota diserang Israel,” ujarnya.

“Kami tidak bisa tidur tadi malam. Terjadi pemboman Israel yang berkelanjutan. Jet tempur, tank, dan kapal perang angkatan laut terus menghantam beberapa permukiman. Tiga lapangan hancur, dan rumah-rumah warga diratakan,” lanjutnya.

Banyak warga dilaporkan melarikan diri menggunakan kereta keledai dan berbagai moda transportasi darurat lainnya.

𝗦𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗹𝘂𝗮𝘀, 𝗞𝗼𝗿𝗯𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗕𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗯𝗮𝗵

Sumber medis mengatakan kepada Al Jazeera bahwa dari 65 korban tewas pada hari itu, termasuk 11 di antaranya adalah pencari bantuan.

Di Khan Younis, Gaza selatan, serangan udara Israel menewaskan sedikitnya lima orang, termasuk satu pasangan suami istri dan dua anak mereka yang berada di dalam sebuah tenda, menurut keterangan petugas medis.

Lima warga Palestina lainnya tewas dalam serangan terpisah di Jabalia al-Balad, Gaza utara. Sebelumnya, Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan bahwa timnya menemukan jenazah satu orang dan mengevakuasi tiga orang yang terluka setelah serangan artileri Israel di Jabalia al-Nazla.

Sumber dari Rumah Sakit al-Shifa juga melaporkan adanya serangan pesawat nirawak di Kota Gaza yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa, meski jumlah pasti belum diketahui.

Sehari sebelumnya, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 134 orang tewas dan 1.155 lainnya luka-luka akibat serangan pasukan Israel. Sejak perang dimulai, jumlah korban tewas di Gaza telah mencapai sedikitnya 59.029 orang. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

WHO: Israel Serang Kediaman dan Gudang WHO di Gaza, Staf Ditahan dan Ditelanjangi

GAZA (jurnalislam.com)- Pasukan Israel dilaporkan menyerang kediaman staf Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Gaza sebanyak tiga kali pada Senin (21/7/2025), termasuk gudang utama WHO, serta menahan sejumlah staf dan anggota keluarga mereka. Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam sebuah pernyataan resmi.

Tedros menyebutkan bahwa serangan terjadi di Deir al-Balah, wilayah tengah Gaza.

“Militer Israel memasuki lokasi tersebut dan memaksa perempuan dan anak-anak mengungsi dengan berjalan kaki menuju Al-Mawasi, di tengah konflik yang masih berlangsung,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa staf pria dan anggota keluarga mereka diborgol, ditelanjangi, diinterogasi di tempat, dan diperiksa dengan todongan senjata. Dua staf WHO beserta dua anggota keluarga mereka ditahan. Tiga orang telah dibebaskan, namun satu staf WHO masih ditahan hingga saat ini.

Sebanyak 32 staf WHO dan anggota keluarga mereka berhasil dievakuasi ke kantor WHO setelah akses memungkinkan.

“WHO menuntut pembebasan segera staf yang ditahan dan perlindungan penuh bagi seluruh personelnya,” tegas Tedros.

Ia juga menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap perintah evakuasi terbaru Israel di Deir al-Balah yang berdampak langsung pada beberapa fasilitas WHO.

“Gudang utama WHO yang berada di Deir al-Balah kini berada dalam zona evakuasi, dan mengalami kerusakan akibat serangan yang menyebabkan ledakan dan kebakaran,” ujarnya.

Tedros mendesak negara-negara anggota PBB untuk membantu menjamin aliran pasokan medis ke Gaza secara berkelanjutan. Ia menekankan bahwa terganggunya operasi WHO dapat melumpuhkan seluruh respons kesehatan di wilayah tersebut.

“Gencatan senjata bukan hanya dibutuhkan, tapi sudah sangat terlambat,” pungkasnya. (Bahry)

Sumber: AA

Houthi Lancarkan Serangan Drone ke Bandara dan Pelabuhan Israel

SANA’A (jurnalislam.com)- Kelompok Houthi Yaman (Ansarallah) mengumumkan pada Senin (21/7/2025) bahwa mereka telah melancarkan serangkaian serangan menggunakan pesawat nirawak (drone) terhadap sejumlah target di Israel. Serangan ini diklaim sebagai balasan atas serangan udara Israel di pelabuhan Laut Merah Yaman, al-Hudaydah.

Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, menyatakan bahwa operasi tersebut melibatkan lima pesawat nirawak dan berhasil menghantam beberapa lokasi strategis, termasuk Bandara Ben Gurion, Bandara Ramon, fasilitas penting di kota pelabuhan Ashdod, pangkalan militer di Jaffa, serta pelabuhan Eilat (Umm al-Rashrash).

“Operasi ini merupakan respons langsung terhadap agresi Israel baru-baru ini terhadap pelabuhan al-Hudaydah,” ujar Saree.

Ia menambahkan bahwa pesawat nirawak tersebut “berhasil mencapai targetnya.”

Sebelumnya pada hari yang sama, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi bahwa Angkatan Udara Israel telah meluncurkan serangan terhadap infrastruktur milik Houthi. Militer Israel menyebutkan bahwa serangan itu menargetkan “instalasi militer” yang digunakan oleh kelompok tersebut.

Sementara itu, militer Israel juga melaporkan telah mencegat sebuah pesawat nirawak yang diyakini diluncurkan dari wilayah Yaman. Namun, tidak ada sirene peringatan yang diaktifkan sesuai dengan protokol standar. (Bahry)

Sumber: Shafaq

Saraya Al-Quds dan Al-Qassam Intensifkan Serangan Terhadap Pasukan Israel di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Video terbaru yang dirilis Saraya Al-Quds menunjukkan keberhasilan penargetan kendaraan lapis baja milik militer Israel di Jalur Gaza, memperlihatkan berlanjutnya operasi perlawanan terhadap pendudukan Zionis.

Pada Ahad (20/7/2025), faksi-faksi perlawanan Palestina di Gaza mengumumkan bahwa mereka akan meningkatkan intensitas serangan terhadap pasukan Israel yang masih melakukan operasi militer di wilayah tersebut.

Brigade Al-Qassam menyatakan bahwa mereka, dalam koordinasi dengan Brigade Al-Quds, berhasil menargetkan tiga tank Merkava Israel di lingkungan Shujaiya, Gaza timur. Serangan tersebut menggunakan alat peledak jenis Shawaaz dan Thaqib, serta peluru kendali tandem.

Dalam pernyataan resminya, Al-Qassam juga mengonfirmasi bahwa salah satu pejuangnya berhasil menembak mati seorang tentara Israel di dalam tank Merkava yang berada di dekat Sekolah Al-Nazareth, lingkungan Shejaiya.

Sementara itu, Brigade Al-Quds (Saraya Al-Quds) dari kelompok Jihad Islam Palestina (PIJ) juga merinci sejumlah operasi militer mereka yang dilakukan pada Ahad, 20 Juli 2025, antara lain:

– Menembakkan mortir kaliber 60 mm ke pusat komando dan kendali militer Israel di area Aula Insinyur al-Satr al-Gharbi, utara Khan Yunis.

– Menghancurkan kendaraan militer Israel dengan alat peledak kejut “Barq” di wilayah Ma’an, tenggara Khan Yunis, pada Sabtu sore.

– Pada 7 Juli lalu, bersama Brigade Al-Qassam, melakukan penyergapan terhadap tiga tank Merkava Israel di dekat Masjid al-Ridwan, Shujaiya, dengan menggunakan dua alat peledak (Thaqib dan Shuath) serta peluru Tandem.

– Meluncurkan roket 107 mm ke pusat komando dan kendali Israel di dekat Jalan 5, utara Khan Yunis, sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Setelah serangan, terlihat helikopter mendarat, disertai suara tembakan dan granat asap, yang mengindikasikan proses evakuasi korban dari lokasi tersebut.

Operasi-operasi perlawanan ini dilaporkan terus berlangsung di berbagai wilayah Gaza dan menyebabkan jatuhnya korban jiwa di pihak militer Israel.

Di sisi lain, media resmi Israel melaporkan bahwa Brigade Pasukan Terjun Payung dan Komando dari Divisi ke-98 telah ditarik dari Jalur Gaza. Meski militer Israel menyebut masih memiliki lima divisi yang aktif di Gaza, laporan menyebutkan jumlah sebenarnya jauh lebih sedikit. Brigade Paratrooper dikabarkan akan dikerahkan kembali ke wilayah pendudukan Tepi Barat dalam waktu dekat untuk menggantikan pasukan cadangan.

Menurut data dari berbagai sumber Israel, sejak 7 Oktober 2023, sedikitnya 900 tentara dan perwira militer Israel telah tewas dalam pertempuran melawan kelompok perlawanan Palestina.

Sumber: PC