Hamas: Mengusir Pejuang Palestina dari Gaza Adalah Omong Kosong!

GAZA (jurnalislam.com)– Gerakan perlawanan Islam Hamas menyatakan siap melawan jika kesepakatan gencatan senjata yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump gagal dan Israel kembali melanjutkan agresinya di Jalur Gaza.

“Kami berharap tidak kembali berperang. Namun, rakyat Palestina dan pasukan perlawanan niscaya akan menghadapi dan menggunakan seluruh kemampuan mereka untuk menangkis agresi ini jika pertempuran dipaksakan,” kata anggota Biro Politik Hamas, Hossam Badran, kepada AFP pada Sabtu (11/10).

Badran menilai negosiasi tahap kedua dari rencana perdamaian Gaza yang diinisiasi Trump akan menghadapi tantangan besar.

“Tahap kedua dari rencana Trump, sebagaimana terlihat jelas dari poin-poinnya sendiri, mengandung banyak kerumitan dan kesulitan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa Hamas tidak akan berpartisipasi dalam penandatanganan resmi kesepakatan Gaza yang dijadwalkan berlangsung di Mesir.

“Soal penandatanganan resmi, kami tidak akan terlibat,” tegas Badran, seraya menambahkan bahwa Hamas selama ini bernegosiasi melalui mediator Qatar dan Mesir dalam proses gencatan senjata tersebut.

Menanggapi usulan dalam rencana perdamaian yang menyebut kemungkinan pengusiran anggota Hamas dari Gaza, seorang pejabat senior kelompok tersebut menolak keras ide tersebut.

“Mengusir warga Palestina baik anggota Hamas maupun bukan dari tanah mereka adalah hal yang absurd dan omong kosong,” katanya menegaskan.

𝗞𝗼𝗻𝘁𝗲𝗸𝘀 𝗚𝗲𝗻𝗰𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮

Pernyataan Hamas ini muncul di tengah berlangsungnya fase pertama gencatan senjata Gaza yang mulai diberlakukan pada Jumat (10/10). Perjanjian tersebut merupakan bagian dari rencana Trump untuk mengakhiri perang dua tahun antara Israel dan kelompok perlawanan Palestina.

Sementara itu, sejumlah truk bantuan kemanusiaan telah mulai memasuki Gaza melalui perlintasan Karem Abu Salem dan Kerem Shalom, di bawah pengawasan mekanisme internasional yang disepakati dalam perjanjian tersebut.

Namun, meski proses gencatan senjata sedang berjalan, banyak pengamat menilai situasi di lapangan masih rapuh, terutama dengan rencana Israel untuk membongkar jaringan terowongan bawah tanah Hamas, yang dikhawatirkan dapat memicu ketegangan baru di Gaza. (Bahry)

Sumber: TRT

Usai Fase Pertukaran Tawanan, Israel Rencanakan Pembongkaran Terowongan Bawah Tanah Hamas

GAZA (jurnalislam.com)– Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan pada hari Ahad (12/10) bahwa ia telah menginstruksikan militer Israel untuk mempersiapkan pembongkaran terowongan bawah tanah yang diklaim digunakan oleh kelompok Palestina Hamas di Gaza.

Dalam unggahan di platform X, Katz menyebut pembongkaran tersebut sebagai “tantangan utama bagi Israel setelah fase pemulangan para sandera,” dan mengklaim bahwa proses itu akan dilakukan “langsung oleh IDF (Tentara Israel) dan melalui mekanisme internasional yang akan dibentuk di bawah kepemimpinan dan pengawasan AS.”

Katz mengklaim bahwa pembongkaran terowongan ini menjadi “makna utama” dari pilar demiliterisasi Gaza dan pelucutan senjata Hamas yang disepakati dalam kesepakatan gencatan senjata.

Menurut laporan, pembongkaran terowongan ini dipandang sebagai langkah strategis berikutnya setelah prosedur pertukaran sandera, dan Israel menekankan bahwa operasi tersebut akan diawasi melalui kerangka internasional agar sesuai dengan komitmen keamanan bersama. (Bahry)

Sumber: TRT

Ratusan Truk Bantuan Masuki Gaza Usai Gencatan Senjata, AS Tegaskan Tak Akan Kirim Pasukan

GAZA (jurnalislam.com)– Truk-truk pengangkut bantuan kemanusiaan mulai memasuki Jalur Gaza menyusul diberlakukannya perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas, menurut laporan sejumlah sumber lokal pada Sabtu (11/10/2025).

Sumber-sumber tersebut mengatakan kepada kantor berita Anadolu bahwa beberapa truk bantuan melintasi perbatasan Karem Abu Salem, yang dikuasai Israel, menuju wilayah Gaza bagian selatan.

Masuknya bantuan kemanusiaan ini menandai dimulainya fase pertama perjanjian gencatan senjata Gaza yang diberlakukan pada Jumat (10/10), sebagai bagian dari rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang dua tahun antara Israel dan kelompok perlawanan Palestina di wilayah tersebut.

Pihak Israel menyatakan bahwa para tawanan yang ditahan di Gaza diperkirakan akan dibebaskan pada Senin pagi, sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian gencatan senjata dengan Hamas.

“Israel siap menerima para sandera jika mereka dibebaskan lebih awal,” ujar Shosh Bedrosian, juru bicara kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Ia menambahkan, Israel akan membebaskan sejumlah tahanan Palestina setelah para tawanan Israel dipulangkan dengan selamat dari Gaza.

𝟰𝟬𝟬 𝗧𝗿𝘂𝗸 𝗕𝗮𝗻𝘁𝘂𝗮𝗻 𝗕𝗲𝗿𝗴𝗲𝗿𝗮𝗸 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗠𝗲𝘀𝗶𝗿

Menyusul kesepakatan gencatan senjata tersebut, sekitar 400 truk bantuan kemanusiaan mulai bergerak dari Mesir menuju Gaza pada Ahad pagi (12/10) melalui perlintasan Kerem Shalom dan Auja kedatangan berskala besar pertama sejak Maret lalu.

Dalam satu jam pertama, sebanyak 90 truk telah melewati sisi Mesir, membawa pasokan bantuan kemanusiaan untuk didistribusikan ke seluruh Jalur Gaza.

Koordinasi juga tengah dilakukan untuk membuka perlintasan Rafah pada Selasa (14/10), guna memungkinkan evakuasi warga Palestina yang terluka, serta warga sipil, warga negara asing, dan warga negara ganda yang masih terdampar di Mesir.

Berdasarkan mekanisme kemanusiaan yang disepakati pada Januari 2025, sekitar 600 truk bantuan diperkirakan akan tiba setiap hari. Badan-badan PBB dan organisasi internasional telah bersiap meningkatkan operasi bantuan, dengan Israel menyetujui masuknya 170.000 ton bantuan untuk 60 hari pertama masa gencatan senjata.

𝗔𝗦: 𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗔𝗸𝗮𝗻 𝗔𝗱𝗮 𝗣𝗮𝘀𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗗𝗮𝗿𝗮𝘁

Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan bahwa meskipun Washington berperan dalam tercapainya kesepakatan gencatan senjata Gaza, Amerika Serikat tidak akan mengerahkan pasukan militernya ke Gaza maupun ke Israel.

“Kami tidak berencana mengirim pasukan darat,” kata Vance dalam wawancara dengan NBC yang ditayangkan pada Ahad (12/10).

Ia menjelaskan bahwa satuan yang telah berada di kawasan hanyalah Komando Pusat AS (US CENTCOM), yang bertugas memantau pelaksanaan gencatan senjata dan memastikan bantuan kemanusiaan dapat tersalurkan dengan baik. (Bahry)

Sumber: TRT, Cradle

Trump Klaim Gencatan Senjata Gaza Akan Bertahan: “Orang-Orang Sudah Lelah Berperang

GAZA (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat Donald Trump memuji peran Turki dalam upaya mengamankan kesepakatan gencatan senjata di Gaza. Ia menyebut Presiden Recep Tayyip Erdogan sebagai sosok yang “fantastis” dan menekankan pengaruh besar Ankara di kawasan tersebut.

“Turki luar biasa. Presiden Erdogan luar biasa. Ia sangat membantu karena sangat dihormati. Ia memimpin negara yang kuat dengan militer yang sangat tangguh. Dan ia benar-benar banyak membantu,” kata Trump kepada wartawan dalam perjalanan menuju Timur Tengah menjelang konferensi perdamaian internasional terkait gencatan senjata di Gaza, Ahad (12/10).

Trump juga menyebut sejumlah negara lain yang berperan dalam proses negosiasi, di antaranya Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, Indonesia, dan Yordania.

Berbicara kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One, Trump menepis kekhawatiran mengenai keberlangsungan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.

“Perang sudah berakhir. Oke? Kalian paham?” ujar Trump ketika ditanya apakah ia yakin konflik antara Israel dan kelompok perlawanan Palestina, Hamas, benar-benar telah berakhir.

Saat ditanya apakah gencatan senjata akan bertahan lama, Trump menjawab, “Saya pikir gencatan senjata ini akan bertahan. Orang-orang sudah lelah. Ini sudah berlangsung berabad-abad.”

Trump dijadwalkan tiba di Israel untuk bertemu dengan keluarga para tawanan Israel dan menyampaikan pidato di Knesset, parlemen Israel. Setelah itu, ia akan menuju Sharm el-Sheikh, Mesir, untuk bergabung dengan para pemimpin dunia dalam KTT Perdamaian Sharm el-Sheikh pada Senin (13/10).

KTT tersebut, yang akan dipimpin bersama oleh Trump dan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, bertujuan “mengakhiri perang di Gaza, memperkuat upaya perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah, serta membuka babak baru keamanan kawasan,” demikian pernyataan resmi dari Kairo.

Presiden Erdogan juga dipastikan akan menghadiri KTT itu atas undangan Sisi dan Trump, sebagaimana diumumkan oleh Direktur Komunikasi Turki, Burhanettin Duran, pada Ahad (13/10) melalui media sosial. (Bahry)

Sumber: TRT

Pendakian For Palestina: 130 Peserta Kibarkan Bendera Merah Putih dan Palestina di Puncak Gunung Andong

MAGELANG (jurnalislam.com)- Sebanyak 130 peserta dari berbagai komunitas, organisasi, dan individu mengikuti kegiatan Pendakian For Palestina Dari Andong Sampai Palestina, sebuah aksi kemanusiaan dan solidaritas yang diselenggarakan dalam rangka memperingati 2 Tahun Taufan Al Aqsha pada Ahad, (12/10/2025).

Kegiatan ini dimulai dari Masjid Nurul Iman Kalitan, Solo, dengan salat Subuh berjamaah dan briefing bersama, sebelum rombongan berangkat menuju Basecamp Pendem, Gunung Andong, Magelang. Pendakian berlangsung dengan penuh semangat kebersamaan dan kepedulian, diiringi doa untuk keselamatan dan kemerdekaan rakyat Palestina.

Di puncak Gunung Andong, para peserta mengibarkan bendera Indonesia dan Palestina sebagai simbol persaudaraan lintas bangsa. Doa bersama digelar, diikuti dengan orasi kemanusiaan dan refleksi perjuangan dua tahun tragedi Taufan Al Aqsha di Gaza.

Ketua panitia kegiatan, Zecky Ramdhani menyampaikan bahwa pendakian ini bukan sekadar kegiatan alam, tetapi juga bentuk nyata dukungan moral terhadap perjuangan rakyat Palestina.

“Kami ingin menunjukkan bahwa solidaritas tidak harus besar untuk bermakna. Dari ketinggian Andong, kami kirimkan doa dan semangat untuk saudara-saudara kita di Palestina. Ini langkah kecil, tapi bernilai besar jika dilakukan bersama,” ujarnya.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari komunitas pendaki, relawan kemanusiaan, hingga donatur dan sponsor lokal. Selain aksi pendakian, panitia juga mengadakan penggalangan dana dan pembagian infaq untuk anak-anak yatim dan kemanusiaan bagi Palestina.

Panitia menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh peserta, sponsor, dan relawan atas dukungan luar biasa yang diberikan.

“Kami juga memohon maaf apabila terdapat kekurangan selama kegiatan berlangsung. Semoga semangat kebersamaan dan kepedulian ini terus terjaga dan menjadi inspirasi bagi banyak orang,” tambah Zecky Ramdhani.

Pendakian For Palestina ini menjadi simbol bahwa kepedulian tidak mengenal batas. Dari puncak Andong di Jawa Tengah, gema doa dan solidaritas terus mengalir menuju tanah perjuangan di Palestina.

Pakar Hukum: Pemberi Perintah Santri Ikut Ngecor di Ponpes Bisa Terkena Sanksi Hukum

SURABAYA (jurnalislam.com)– Pakar Hukum Pidana Universitas Airlangga (Unair), Sapta Aprilianto, menegaskan bahwa pihak yang memerintahkan santri untuk ikut membantu pengecoran bangunan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, bisa dijerat sanksi hukum karena unsur kelalaian.

Diketahui, mushala tiga lantai di asrama putra Ponpes Al Khoziny ambruk pada Senin (29/9/2025) saat para santri sedang melaksanakan salat Ashar. Peristiwa tragis itu menewaskan 67 orang dan melukai 104 lainnya.

Berdasarkan hasil asesmen tim gabungan bersama pakar teknik sipil, penyebab ambruknya bangunan diduga akibat kegagalan konstruksi. Beberapa santri sebelumnya juga disebut ikut dalam proses pembangunan, termasuk membantu pengecoran.

Sapta menjelaskan bahwa dalam hukum pidana, tidak hanya pelaku langsung yang bisa dimintai pertanggungjawaban, tetapi juga pihak yang memerintahkan atau menganjurkan.

“Definisi pelaku bukan hanya orang yang melakukan, tetapi juga orang yang menyuruh melakukan, turut serta melakukan, atau menganjurkan orang lain untuk melakukan tindak pidana,” ujar Sapta kepada wartawan dikutip dari Kompas.com, Jumat (10/10/2025).

Ia menegaskan, dalam hukum terdapat dua bentuk kesalahan, yakni tindakan yang dilakukan dengan sengaja dan tindakan karena alpa atau kelalaian.

Sapta mencontohkan, apabila seorang dosen menyuruh mahasiswa hukum memperbaiki AC di atap gedung hingga berujung kematian, maka hal tersebut termasuk unsur kelalaian.

“Kalau saya menyuruh mahasiswa hukum memperbaiki AC, lalu dia kesetrum dan meninggal, itu bentuk kelalaian,” jelasnya.

Menurutnya, orang yang memberikan perintah kepada pihak yang tidak memiliki keahlian di bidangnya bisa dikenai sanksi pidana jika perintah itu menimbulkan akibat fatal.

“Yang nyuruh juga salah, karena memerintahkan orang di luar bidangnya. Kalau dia tidak tahu kapasitas orang yang disuruh, itu kelalaian,” tambahnya.

Sapta juga menegaskan bahwa unsur kelalaian tidak dapat dihapus sekalipun pihak korban atau keluarganya mengaku ikhlas dan tidak menuntut.

“Keikhlasan korban tidak menghapus sifat pidana. Dalam teori hukum, nyawa yang hilang karena kelalaian tetap harus dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Ia menambahkan, untuk kasus ambruknya bangunan mushala Ponpes Al Khoziny, dibutuhkan penyidikan mendalam karena konstruksi bangunannya besar dan kompleks.

“Penganjur maupun pelaksana bisa sama-sama dimintai pertanggungjawaban pidana, tapi mengingat bangunannya besar, penyidik harus menelusuri secara detail,” pungkasnya.

Hamas, Jihad Islam, dan Front Pembebasan Palestina Umumkan Tahap Pertama Penghentian Perang di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Tiga kekuatan perlawanan utama Palestina—Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), Gerakan Jihad Islam di Palestina, dan Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP)—mengeluarkan pernyataan pers bersama pada Jumat (10/10/2025) terkait keberhasilan mencapai tahap pertama perjanjian penghentian perang pemusnahan di Jalur Gaza.

Dalam pernyataan resmi yang disiarkan melalui kanal resmi Hamas, ketiga kekuatan itu menyampaikan penghormatan kepada rakyat Palestina, terutama warga Gaza yang selama lebih dari dua tahun terakhir menghadapi kejahatan genosida Zionis dengan keteguhan luar biasa.

“Keteguhan mereka merupakan simbol hidup dari tekad rakyat kami dan bukti bahwa semangat mereka lebih kuat daripada mesin penghancur Zionis mana pun,” tulis pernyataan tersebut.

Mereka juga menyampaikan penghormatan kepada para syuhada, tawanan, dan keluarga korban hilang, serta semua elemen rakyat yang tetap bertahan di tengah kehancuran, kelaparan, dan penderitaan. Tiga kekuatan menegaskan bahwa keberanian rakyat Gaza telah menggagalkan rencana pengungsian paksa dan memperlihatkan keteguhan yang akan tercatat dalam sejarah Palestina.

Pernyataan itu juga menyinggung pemandangan heroik kembalinya warga ke Gaza Utara, yang dinilai sebagai bentuk nyata penolakan terhadap migrasi paksa dan tekad untuk tetap hidup di tanah air mereka meski rumah-rumah hancur lebur.

𝗔𝗽𝗿𝗲𝘀𝗶𝗮𝘀𝗶 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗚𝗮𝗿𝗱𝗮 𝗣𝗲𝗿𝗹𝗮𝘄𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗡𝗲𝗴𝗮𝗿𝗮-𝗡𝗲𝗴𝗮𝗿𝗮 𝗣𝗲𝗻𝗱𝘂𝗸𝘂𝗻𝗴

Ketiga faksi perlawanan memberikan penghormatan khusus kepada para pejuang perlawanan yang terus berjuang di medan tempur dan berhasil mengguncang moral militer Israel. Mereka juga menyampaikan terima kasih kepada garda terdepan di Yaman, Lebanon, Republik Islam Iran, dan Irak, yang telah menunjukkan solidaritas dan bahkan menumpahkan darah demi perjuangan menuju pembebasan Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa.

Selain itu, apresiasi diberikan kepada Mesir, Qatar, dan Turki sebagai mediator utama, serta semua pihak yang berperan dalam proses perundingan. Tiga kekuatan menyerukan agar Amerika Serikat dan para mediator terus menekan Israel agar patuh pada seluruh isi perjanjian dan tidak melakukan pelanggaran.

“Kami menghargai gerakan solidaritas global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dunia kini menyadari bahwa perjuangan rakyat Palestina adalah isu kemanusiaan universal,” lanjut pernyataan itu.

𝗛𝗮𝘀𝗶𝗹 𝗡𝗲𝗴𝗼𝘀𝗶𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗧𝗮𝗵𝗮𝗽 𝗦𝗲𝗹𝗮𝗻𝗷𝘂𝘁𝗻𝘆𝗮

Dalam penjelasannya, ketiga faksi menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan kegagalan politik dan militer Israel, yang tidak mampu mematahkan keteguhan rakyat Palestina meskipun menggunakan kekuatan senjata besar-besaran.

Tahap pertama perjanjian ini mencakup penghentian perang pemusnahan, penarikan sebagian pasukan pendudukan, pembukaan jalur bantuan kemanusiaan, serta pembebasan ratusan tahanan Palestina dari penjara-penjara Israel.

Meski demikian, mereka mengakui bahwa Israel berupaya menggagalkan pembebasan sejumlah tokoh penting dari tahanan, namun pelaksanaan tahap pertama ini tetap dilanjutkan demi menghentikan genosida dan mengakhiri penderitaan rakyat Gaza.

“Kami berjanji kepada keluarga para tahanan bahwa pembebasan mereka akan tetap menjadi prioritas nasional kami dan kami tidak akan pernah meninggalkan mereka,” tegas pernyataan itu.

𝗦𝗲𝗿𝘂𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝘀𝗮𝘁𝘂𝗮𝗻 𝗡𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗥𝗲𝗸𝗼𝗻𝘀𝘁𝗿𝘂𝗸𝘀𝗶 𝗚𝗮𝘇𝗮

Tiga kekuatan menyerukan persatuan nasional Palestina dan mengajak seluruh faksi untuk berpartisipasi dalam pertemuan nasional komprehensif yang akan difasilitasi Mesir, guna menyusun strategi bersama pasca-gencatan senjata dan membangun kembali lembaga-lembaga nasional di atas dasar kemitraan dan transparansi.

Mereka juga menolak segala bentuk pengawasan asing atas Jalur Gaza, menegaskan bahwa pemerintahan dan lembaga Gaza adalah urusan internal Palestina. Namun, partisipasi Arab dan internasional tetap disambut dalam konteks rekonstruksi dan pembangunan kembali.

𝗞𝗼𝗺𝗶𝘁𝗺𝗲𝗻 𝗠𝗲𝗹𝗮𝗻𝗷𝘂𝘁𝗸𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗿𝗹𝗮𝘄𝗮𝗻𝗮𝗻

Sebagai penutup, tiga kekuatan memperbarui janji setia kepada para syuhada dan tawanan, serta menegaskan komitmen untuk melanjutkan perlawanan dalam segala bentuknya hingga hak-hak rakyat Palestina sepenuhnya ditegakkan terutama pengakhiran pendudukan, penentuan nasib sendiri, dan berdirinya negara Palestina merdeka dengan Yerusalem sebagai ibu kota.

“Kami akan terus berjuang hingga kebebasan dan martabat rakyat kami terwujud,” demikian pernyataan resmi yang ditutup dengan kalimat “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Sumber: Situs resmi Gerakan Hamas

Gencatan Senjata Berlaku, Puluhan Ribu Warga Palestina Kembali ke Gaza Utara

GAZA (jurnalislam.com)– Puluhan ribu warga Palestina mulai berbondong-bondong menuju Gaza utara pada Jumat (10/10/2025), sesaat setelah gencatan senjata mulai berlaku. Mereka pulang dengan langkah gontai, cemas melihat sisa-sisa rumah yang hancur dan khawatir akan kesulitan baru yang akan mereka hadapi.

Perang genosida yang dilancarkan penjajah Zionis Israel sejak Oktober 2023 telah membuat hampir seluruh penduduk Gaza sekitar 2,2 juta jiwa mengungsi. Agresi brutal yang dimulai setelah serangan lintas batas oleh Hamas terhadap permukiman dan instalasi militer Israel itu telah menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina dan mengubah sebagian besar wilayah Gaza menjadi lautan puing.

Militer Israel mengumumkan bahwa kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada pukul 12.00 siang waktu setempat, Jumat (10/10). Tak lama setelah pengumuman itu, ribuan warga Palestina mulai berjalan di sepanjang jalan pesisir Gaza menuju wilayah utara untuk melihat kondisi rumah mereka yang telah hancur, menyusul penarikan mundur pasukan pendudukan.

Meski kabar gencatan senjata disambut dengan syukur, banyak warga Gaza sadar bahwa kehidupan mereka tak lagi sama.

“Oke, sudah berakhir lalu bagaimana? Tidak ada rumah yang bisa saya tuju,” ujar Balqees, seorang ibu lima anak dari Kota Gaza yang kini berlindung di Deir al-Balah, kepada Reuters.

“Mereka telah menghancurkan segalanya. Puluhan ribu orang tewas, Gaza hancur, dan mereka membuat gencatan senjata. Apakah saya seharusnya bahagia? Tidak, saya tidak bahagia,” tambahnya.

Beberapa warga bahkan mulai kembali ke wilayah utara sebelum gencatan senjata resmi diberlakukan. Sebagian berhasil mencapai pinggiran barat laut distrik Sheikh Radwan di Kota Gaza.

Salah satunya adalah Ismail Zayda, ayah tiga anak berusia 40 tahun, yang kembali memeriksa rumahnya pada Jumat pagi. Ia terkejut mendapati rumahnya masih berdiri di tengah kehancuran total di sekitarnya.

“Alhamdulillah, rumah saya masih berdiri,” katanya melalui pesan suara kepada Reuters.

“Tapi daerah ini hancur, rumah tetangga saya hancur seluruh distrik telah hilang.” sambungnya.

Pasukan pendudukan Israel mulai menarik kendaraan lapis baja dan buldoser dari Gaza pada Kamis (9/10). Dalam pernyataannya, militer Israel menyebut langkah itu sebagai “penyesuaian posisi operasional” di dalam Gaza.

Bagi sebagian warga Palestina, sekadar kembali menginjakkan kaki di tanah tempat rumah mereka pernah berdiri sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.

“Tentu saja, tidak ada rumah semuanya hancur tetapi kami senang bisa kembali ke tempat rumah kami semula, bahkan di atas reruntuhan,” kata Mahdi Saqla (40), sambil berdiri di dekat tenda darurat di Gaza tengah.

“Itu pun merupakan suatu kebahagiaan yang besar.” pungkasnya.

Sumber: TRT

PP PERSIS: Jangan Jadikan Tragedi Al-Khoziny untuk Menyudutkan dan Mempersulit Pendirian Pesantren

JAKARTA (jurnalislam.com)– Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS) menyampaikan duka cita mendalam atas musibah runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, yang menelan banyak korban jiwa.

Ketua Umum PP PERSIS, Dr. KH. Jeje Zaenudin, menyatakan keprihatinan dan kesedihan mendalam atas peristiwa tersebut.

“Kami menyampaikan keprihatinan yang sangat pedih atas musibah ini. Ini adalah ungkapan duka cita yang kesekian kalinya karena kami tidak menduga bahwa jumlah korban terus bertambah,” ujarnya dikutip dari persis.or.id pada Kamis (9/10/2025).

Kiai Jeje mendoakan agar para santri yang wafat dicatat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai syuhada, karena mereka meninggal dalam keadaan menuntut ilmu agama.

“Semoga yang terluka diberikan kesembuhan dan kekuatan, dan seluruh keluarga korban diberikan ketabahan, kesabaran, serta keikhlasan. Kami berdoa agar musibah ini menjadi pahala yang berlipat dan menjadi investasi akhirat kelak,” imbuhnya.

Lebih jauh, Kiai Jeje menolak keras upaya pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan tragedi ini untuk mendiskreditkan lembaga pesantren.

“Kami menolak segala bentuk opini yang mencoba mendiskreditkan pesantren. Musibah adalah takdir Allah, dan tidak ada satu pun lembaga yang menginginkan hal ini terjadi. Tidak ada yang sengaja melalaikan,” tegasnya.

Menurutnya, setiap musibah harus disikapi dengan keimanan kepada qadha dan qadar Allah, bukan dijadikan dalih untuk membatasi eksistensi lembaga pendidikan Islam.

“Jangan jadikan musibah ini untuk menyudutkan pesantren atau mempersulit pendiriannya. Apalagi hingga mempersulit pembangunan rumah ibadah atau lembaga keagamaan lainnya,” ungkap Kiai Jeje.

Ia juga menyerukan agar pemerintah menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran penting untuk meningkatkan dukungan moral dan material terhadap pesantren.

“Pemerintah wajib memberikan perhatian, dukungan moral dan material, agar lembaga pesantren bisa tumbuh lebih kuat, aman, dan nyaman,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Kiai Jeje menegaskan bahwa pesantren tidak boleh dianggap sebagai lembaga pendidikan kelas dua.

“Kontribusi pondok pesantren bagi bangsa sangat besar dan nyata,” tutupnya.

Menurut laporan dari media lokal Radar Sidoarjo, operasional SAR telah resmi ditutup sejak Selasa pagi (7/10/2025), menandakan bahwa proses evakuasi dan pencarian korban sudah tuntas. Dari total 171 santri yang berada di lokasi kala bangunan musala itu ambruk, sebanyak 67 di antaranya meninggal dunia dan 104 lainnya selamat, dengan kondisi beragam. Dari 67 jenazah, 48 telah berhasil diidentifikasi melalui proses otopsi, DNA, dan penelitian forensik lainnya.

Potret Bangunan Pendidikan di Era Kekhilafahan Islam

Oleh: Djumriah Lina Johan
Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Sepekan terakhir dunia pendidikan dirundung nestapa. Sebagaimana diketahui bersama bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny rubuh. Berdasarkan pemberitaan, BNPB mengupdate data terbaru jumlah korban tewas ambruknya pondok pesantren yang berlokasi di Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, jumlah korban meninggal dunia menjadi 37 orang.

BNPB telah meminta tim ahli dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) untuk melakukan investigasi forensik struktur bangunan secara menyeluruh sehingga bisa memberikan rekomendasi proses evakuasi. Sebab dikhawatirkan evakuasi puing bisa merusak bangunan lain.

Sementara itu, Kementerian Agama akan mengevaluasi kelayakan semua bangunan pondok pesantren dan rumah ibadah. Semua dilakukan sebagai bagian dari mitigasi agar peristiwa rubuhnya bangunan di Pesantren Al-Khoziny tidak terjadi di daerah lain.

Buah Penerapan Sistem Kapitalistik

Ambruknya bangunan pondok pesantren hingga menewaskan banyak santri menunjukkan gagalnya negara menjamin pendidikan berkualitas dari segi sarana prasana sekaligus kegagalan menjamin keamanan. Kegagalan ini bisa kita lihat dari beberapa faktor.

Pertama, bangunan yang tidak layak. Bangunan yang tidak layak karena tidak adanya campur tangan pemerintah dalam pembangunan pondok pesantren. Kalaupun negara ikut andil dalam pembangunan biasanya hanya sekadar pendanaan saja. Bukan dari konsep, tenaga ahli, atau bahkan pengawasan. Tenaga ahli dan pengawasan justru baru dikerahkan dan dilakukan efek dari kejadian rubuhnya bangunan yang sudah terlanjur terjadi.

Kedua, pendidikan dipandang sebagai komoditas yang bisa diperjualbelikan. Hingga berkembang pemahaman ada harga ada kualitas. Jika ingin sekolah atau pondok yang memiliki sarana dan prasarana bagus, maka siap untuk mengeluarkan biaya yang besar. Apalagi pondok pesantren diketahui memiliki pendanaan murni dari orang tua santri atau dari donatur. Bukan pembiayaan penuh dari negara. Sehingga peran negara di sini hilang sebagai penanggungjawab urusan masyarakat di bidang pendidikan.

Ketiga, akibat penerapan sistem kapitalisme liberal yang melemahkan ekonomi, mengkotak-kotakkan antara sekolah negeri dengan swasta, membuat anggaran pendidikan minim, serta menjadikan sektor pendidikan bukan prioritas utama. Tata kelola ekonomi ala kapitalisme menjadikan sumber daya alam di Indonesia yang melimpah tidak bisa digunakan untuk membiayai pendidikan karena mayoritas SDAE dikuasai swasta, bahkan asing.

Sedangkan APBN dibiayai dari pajak dan utang. Artinya, rakyat sendiri yang membiayai pendidikan melalui pajak yang mereka bayar. Sementara itu, utang negara yang menggunung bukannya menyejahterakan, malah menggerogoti APBN untuk pembayaran pokok cicilan dan bunganya.

Ironis, semua ini menunjukkan bahwa tata kelola ekonomi dan anggaran ala kapitalisme menyebabkan runtuhnya bangunan pencetak kader ulama dan generasi penerus bangsa. Demikianlah, negara dalam kapitalisme cenderung abai dalam urusan pendidikan. Pendidikan diserahkan kepada masyarakat dan pihak swasta. Akibatnya, banyak persoalan tidak tertangani, termasuk ambruknya bangunan pondok pesantren.

Sarana dan Prasarana Pendidikan Kekhilafahan Islam

Dalam Islam, negara berkewajiban mengatur segala aspek yang berkenaan dengan pendidikan, mulai dari kurikulum, bahan ajar, metode pengajaran, sarana dan prasarana sekolah, hingga mengupayakan pendidikan dapat diakses rakyat secara mudah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam mendukung lahirnya generasi unggul, negara Khilafah akan memenuhi sarana dan prasarana yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar guru dan siswa, di antaranya:

Pertama, semua jenjang pendidikan harus memiliki fasilitas yang sama. Tujuannya agar semua peserta didik di setiap wilayah dapat menikmati fasilitas pendidikan. Negara akan berperan aktif dalam melengkapi sarana-sarana fisik yang mendorong terlaksananya program dan kegiatan pendidikan sesuai dengan kebutuhan, kreativitas, dan inovasi. Sarana tersebut bisa berupa gedung sekolah/kampus, ruang kelas, kantor guru dan TU, perpustakaan, laboratorium, asrama siswa, toko buku, aula sekolah, ruang seminar atau diskusi, majalah, surat kabar, layanan internet, dan sebagainya.

Fasilitas sekolah disediakan seperti perpustakaan beserta isinya, rumah sakit, dan pemandian. Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky pernah mendirikan Madrasah an-Nuriah di Damaskus pada abad ke-6 H. Di sekolah ini terdapat fasilitas lain seperti asrama siswa, perumahan staf pengajar, tempat peristirahatan, para pelayan, serta ruangan besar untuk ceramah dan diskusi.

Kedua, membangun banyak perpustakaan umum, laboratorium, dan sarana umum lainnya di luar yang dimiliki sekolah dan perguruan tinggi untuk memudahkan para siswa melakukan kegiatan penelitian dalam berbagai disiplin ilmu.

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah menyebutkan dalam Muqaddimah ad-Dustur Pasal 179, “Negara menyediakan perpustakaan, laboratorium, dan sarana ilmu pengetahuan lainnya, di samping gedung gedung sekolah dan universitas untuk memberi kesempatan bagi mereka yang ingin melanjutkan penelitian dalam berbagai cabang pengetahuan, seperti fikih, usul fikih, hadis dan tafsir. Termasuk di bidang ilmu murni, kedokteran, teknik, kimia, dan penemuan-penemuan baru sehingga lahir di tengah-tengah umat sekelompok besar mujtahid dan para penemu.”

Ketiga, negara juga akan membangun infrastruktur untuk memudahkan para siswa bersekolah, seperti jalan dan jembatan. Khilafah juga menyediakan alat transportasi untuk mengangkut para siswa dari tempat tinggalnya menuju sekolah, misalnya kereta api, bus, trem, dll.

Keempat, negara akan mengelola SDA (tambang, hutan, laut, sungai,dll.) secara mandiri, tidak menyerahkannya pada swasta, apalagi asing. Hasil dari pengelolaan ini akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan rakyat, termasuk pendidikan. Dengan demikian, negara bisa menyediakan fasilitas pendidikan yang bagus tanpa memungut biaya satu dinar pun dari rakyat.

Contoh praktisnya adalah Madrasah al-Mustansiriyyah yang didirikan Khalifah al-Mustansir Billah di kota Baghdad. Di sekolah ini setiap siswa tidak hanya tak perlu membayar sekolah, mereka justru menerima beasiswa berupa satu dinar (4,25 gram emas) per bulan.

Selain itu, individu rakyat yang kaya dipersilahkan untuk memberikan wakaf untuk pendidikan, baik berupa gedung, laboratorium, atau yang lainnya. Salah satu contoh wakaf di bidang pendidikan adalah Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko yang awalnya adalah masjid wakaf dari Fatimah al-Fihri. Ia juga mewakafkan perpustakaan. Berkat dukungan para khalifah, masjid tersebut bertransformasi menjadi madrasah dan selanjutnya menjadi universitas.

Jika ada kebutuhan yang urgen untuk infrastruktur pendidikan yang jika tidak dipenuhi akan menyebabkan mudarat, sedangkan di baitulmal sedang tidak ada dana, negara akan melakukan pemungutan pajak (dharibah) dari kaum muslim laki-laki dewasa yang kaya. Jika dana sudah mencukupi, pemungutan pajak akan dihentikan.

Kelima, negara harus sungguh-sungguh memelihara infrastruktur pendidikan, tidak boleh bersikap minimalis atau menyerahkan tanggung jawab kepada masyarakat dan swasta. Khilafah mampu menyediakan dana besar untuk menjaga kondisi sarana dan prasarana sekolah dalam kualitas terbaik. Hal ini terwujud karena Islam menetapkan negara sebagai raa’in (pengurus) yang memenuhi kebutuhan pokok rakyat, termasuk pendidikan.

Demikianlah, Khilafah memperhatikan dan mendukung sektor pendidikan agar tujuan-tujuannya mudah tercapai serta rakyat merasa aman dan nyaman bersekolah. Negara menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas sebagai salah satu aspek yang memengaruhi keberhasilan pendidikan. Hasil akhirnya adalah terwujud peradaban Islam nan gemilang. Wallahu a’lam.