Dua Tentara Israel Tewas dalam Serangan di Rafah, Gencatan Senjata Mulai Goyah

RAFAH (jurnalislam.com)– Dua tentara Israel tewas dan tiga lainnya luka-luka dalam serangan yang dilakukan kelompok perlawanan Palestina di Rafah, selatan Jalur Gaza, pada Ahad pagi (19/10). Insiden ini memicu serangan balasan besar-besaran dari militer Zionis dan mengancam kesepakatan gencatan senjata yang baru berjalan kurang dari sepekan.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengidentifikasi dua tentaranya yang tewas sebagai Mayor Yaniv Kula (26) dan Sersan Staf Itay Yavetz (21), keduanya dari Batalyon 932 Brigade Nahal. Kula diketahui menjabat sebagai komandan kompi.

Dalam pernyataan resminya, militer Israel menuding Hamas bertanggung jawab atas serangan tersebut dan menyebutnya sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata.” Namun, Hamas membantah tudingan itu dengan menegaskan bahwa insiden terjadi di area yang berada di bawah kendali pasukan Israel.

Kepala Staf IDF, Letjen Eyal Zamir, mengatakan pasukannya akan tetap dalam siaga tinggi.

“Kami siap dan bersiap menghadapi skenario apa pun,” ujarnya dalam upacara serah terima jabatan sekretaris militer presiden.

Menurut laporan awal militer, serangan terjadi sekitar pukul 10.30 pagi di tenggara Rafah, dekat Jalan Salah a-Din wilayah yang diklaim berada di bawah kontrol Israel berdasarkan kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas.

IDF menyebut sekelompok pejuang Palestina muncul dari sebuah terowongan dan menembakkan peluru kendali anti-tank (RPG) ke arah ekskavator militer, menewaskan dua tentara di tempat. Dalam waktu bersamaan, alat berat lain menjadi sasaran tembakan penembak jitu yang melukai dua operator, salah satunya dalam kondisi serius. Seorang tentara lainnya juga terluka sedang akibat tembakan berikutnya.

Militer Israel mengklaim tidak ada upaya penculikan terhadap tentaranya dalam serangan tersebut.

Pasukan IDF diketahui tengah beroperasi di area itu untuk “membersihkan infrastruktur Hamas”, meski wilayah tersebut berada di bawah kendali Israel sesuai kesepakatan gencatan senjata yang difasilitasi Amerika Serikat.

Peristiwa ini menjadi insiden mematikan pertama bagi militer Israel sejak dimulainya gencatan senjata yang diusulkan AS, yang bertujuan mengakhiri perang berkepanjangan di Gaza selama dua tahun terakhir. (Bahry)

Sumber: TOI

Meniti Jalan Hidayah dalam Gema Majelis Taklim: Muslimah Wahdah Bulukumba Kukuhkan 10 Majelis Taklim

BULUKUMBA (jurnalislam.com)- Muslimah DPD Wahdah Islamiyah Bulukumba kembali menggelar kegiatan Gema Majelis Taklim (GMT) di Gedung Bersama Bulukumba, pada Ahad (19/10/2025). Kegiatan yang dihadiri 381 peserta ini diusung oleh Unit Dakwah dan Majelis Taklim, yang juga akan mengukuhkan 10 Majelis Taklim dari beberapa kecamatan di Bulukumba.

Turut hadir dalam kegiatan ini, Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bulukumba, Ir. Hj. Andi Herfida Muchtar yang juga membuka kegiatan secara resmi. Beliau mengungkapkan rasa syukurnya bisa kembali menghadiri kegiatan muslimah wahdah bersama ratusan muslimah yang ingin menuntut ilmu.

“Kegiatan ini memiliki makna yang mendalam, insyaa Allah bisa menjadi momentum untuk memperkuat kehidupan ummat yakni dengan penguatan ilmu agama, peningkatan kualitas keimanan dan tentu mempererat tali silaturrahim diantara kita semua,” ujarnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan prosesi pengukuhan oleh Ketua Unit Dakwah dan MT, Ustadzah Nurul Huda Yunus, S.Pt. Sesi pengukuhan tersebut berlangsung khidmat dan menambah antusiasme para peserta. Jumlah majelis taklim yang dikukuhkan pada GMT kali ini adalah 10 MT, dan selanjutnya akan dibina oleh da’iyah muslimah wahdah.

Sekretaris MWD Bulukumba, Ustadzah Ariani Abbas, S.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan GMT yang mengangkat tema “Meniti Jalan Hidayah, Raih Keberkahan Hidup” semoga dapat menambah semangat para muslimah untuk senantiasa mencari dan menjaga hidayah yang Allah berikan, salah satunya dengan menghadiri majelis taklim secara rutin.

Suasana semakin khidmat dengan adanya sesi kajian oleh Ustadzah Suarni Yahya, S.H., beliau menekankan bahwa dalam meraih keberkahan hidup, maka kita harus menjaga keistiqomahan diatas hidayah yang telah Allah karuniakan kepada kita.

“Diantara cara kita menjaga keistiqomahan yakni dengan senantiasa menghadiri majelis ilmu atau majelis taklim, memiliki lingkungan dan teman-teman yang shalih, sabar dalam menjalani ujian, serta berdoa kepada Allah,” terangnya.

Momentum kebersamaan ini juga menjadi ajang untuk melakukan penggalangan dana peduli Palestina dan terkumpul sebesar 4.494.000. Kegiatan diakhiri dengan sesi pembagian doorprize yang menambah suka cita para peserta. Semoga kehangatan dan ketenangan dalam majelis-majelis ilmu senantiasa bisa dirasakan oleh para muslimah di Bulukumba.

Tambang Milik Siapa dan untuk Siapa?

Oleh : Herliana Tri M

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kerugian negara mencapai ratusan triliun rupiah akibat operasi tambang ilegal dari enam perusahaan besar. “Kita bisa bayangkan kerugian negara dari enam perusahaan ini saja, total potensi kerugian mencapai Rp300 triliun,” tuturnya dalam pernyataan yang disiarkan publik (Tempo.com, 7/10/2025)

Angka fantastis tersebut menggambarkan betapa besarnya kekayaan negeri ini. Hanya 6 perusahaan saja mampu mengeksplorasi tambang sampai menghasilkan 300 triliun, terlepas pelaku eksplorasi tambang resmi negara atau bukan. Wajar saja kalau negara ini mendapat julukan sebagai bumi pertiwi yang melambangkan Indonesia sebagai tanah ibu pertiwi, tanah air yang membesarkan dan menghidupi seluruh rakyatnya.

Nama tersebut juga menggambarkan kesuburan dan kelimpahan alam Indonesia sebagai sumber kehidupan. Tak salah julukan bumi pertiwi disematkan untuk Indonesia, adanya tambang ilegal juga tambang legal yang tercatat mampu menjadikan Indonesia sebagai negara yang kaya raya. Artinya, kekayaan negeri ini memang berlimpah ruah.

Dalam kesempatan yang lain, Presiden Ri Prabowo mengungkapkan penemuan titik-titik tambang ilegal yang jumlahnya sangat besar. Ia menyampaikan praktik pertambangan tanpa izin (PETI) alias ilegal di berbagai wilayah Indonesia semakin marak. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya bahkan telah mencapai ribuan titik.

Presiden menambahkan, berdasarkan laporan dari Aparat Penegak Hukum (APH), saat ini ada 1.063 lokasi tambang ilegal di Indonesia. Nilai kerugian negara akibat tambang ilegal diperkirakan mencapai Rp 300 triliun.

“Saya telah diberi laporan dengan aparat bahwa terdapat 1.063 tambang ilegal dan potensi kekayaan yang dihasilkan 1.063 tambang ilegal ini berpotensi merugikan negara minimal Rp 300 triliun,” kata Prabowo saat Pidato RUU APBN 2026 dan Nota Keuangan dalam Rapat Paripurna DPR RI, dikutip Selasa(19/08/2025).

Carut Marut Masalah Tambang di Indonesia

Permasalahan tambang di Indonesia tak sekedar kerugian negara akibat penambangan liar dan mengalirnya pundi-pundi kekayaan alam ke pihak lain. Namun, keberadaan tambang yang dikeruk tanpa ampun, tanpa tanggung jawab telah menghantarkan permasalahan serius bagi lingkungan sekitar maupun masayarakat di sekelilingnya.

Lemahnya pengawasan terhadap tambang ilegal diakui oleh pemerintah. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahwa lemahnya instrumen pengawasan sebagai satu kendala utama pemerintah dalam memberantas tambang ilegal.

Lebih- lebih lagi Pertambangan yang dikeruk secara serampangan mengakibatkan banyak dampak buruk bagi masyarakat, seperti deforestasi, kerusakan ekosistem, banjir, longsor, dan pencemaran lingkungan (air, tanah, dan udara). Kerusakan tak terkendali karena tidak menerapkan prinsip penambangan yang baik dan benar. Sekedar mengeruk kekayaan alam, tidak ada mekanisme reklamasi, rehabilitasi lahan, maupun pengelolaan limbah sehingga kerusakan lingkungan yang parah tak bisa dihindari.

Tidak hanya merusak lingkungan, tambang ilegal juga membahayakan nyawa masyarakat. Misalnya, penggunaan merkuri dalam penambangan emas, mencemari sumber air (sungai). Ikan-ikan di sungai juga terkontaminasi merkuri sehingga membahayakan kesehatan, pun demikian saat masyarakat ingin memanfaatkan air sungai yang mengalir, dikonsumsi oleh manusia, bisa menyebabkan kematian. Paparan emisi merkuri juga berakibat fatal pada janin, yaitu mengakibatkan bayi lahir cacat. Ini seperti yang terjadi pada seorang bayi di daerah Lingga Kayu, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara yang lahir pada 2019 dengan kondisi usus di luar perut (gastroschisis).

Tak berhenti sampai disini kerusakannya yang membahayakan, bekas galian tambang ilegal juga kerap mencelakai penduduk. Berdasarkan data anggota DPD RI Yulianus Henock, ada 44.736 lubang tambang di Kalimantan Timur. Hampir tidak ada yang ditangani secara serius sehingga berdampak pada keselamatan nyawa masyarakat. Menurut pengamat Ekonomi Universitas Mulawarman Purwadi Purwoharsojo ada 47 anak yang tenggelam di lubang tambang karena tidak ditutup secara permanen.

Ini berarti eksplorasi secara ugal-ugalan, hanya mementingkan keegoisan dan ketamakan atas kekayaan alam, menghantarkan kerusakan yang besar apalagi luasan dari tambang serta banyaknya titik yang dieksplorasi baik hasil penambangan legal maupun ilegal. Negara perlu menindak tegas setiap aktivitas yang menghantarkan pada kerusakan yang secara pasti terjadi pada rusaknya ekosistem dan membahayakan nyawa.

Siapa yang Layak Mengelola dan Menikmati Hasilnya?

Cara pandang kekayaan alam ini milik siapa tentu berbeda dengan cara pandang saat ini. Dalam pandangan Islam tambang termasuk dalam kepemilikan umum yang artinya menjadi hak semua warga mendapatkan manfaat atas kekayaan alam tersebut.

Namun karena tambang termasuk kekayaan alam yang membutuhkan pengolahan dan tidak langsung dapat dinikmati hasilnya oleh seluruh masyarakat, maka negara mengelola dan mengembalikan manfaatnya demi kesejahteraan rakyat, bukan untuk keuntungan individu atau korporasi.

Negara tidak berhak memberikan kepada seseorang ataupun beberapa orang (korporasi) tertentu. Demikian juga tidak boleh memberikan keistimewaan kepada seseorang atau lembaga tertentu untuk mengeksploitasinya. Jadi, harus dibiarkan sebagai milik umum bagi seluruh kaum muslim dan mereka berserikat atas harta tersebut.

Negara memiliki kewajiban menggali tambang tersebut, memisahkannya dari benda-benda lain, meleburnya, menjualnya atas nama kaum muslim, dan menyimpan hasil penjualannya di baitulmal kaum muslim. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara barang tambang terbuka (terdapat di permukaan bumi) yang eksploitasinya tidak memerlukan usaha yang berat, seperti tambang garam, serta tambang yang terdapat di dalam perut bumi, yang eksploitasinya memerlukan usaha yang berat, seperti emas, perak, besi, tembaga, grafit, timah, krom, uranium, fosfat, dan barang tambang lainnya.

Islam mengatur kepemilikan tambang ini yang sifatnya tetap menjadi milik seluruh rakyat. Negara dilarang memberikan izin pengelolaan tambang kepada perusahaan swasta, baik lokal maupun asing, karena hal itu melanggar syariat Islam. Adapun tambang yang jumlah depositnya kecil boleh dikelola oleh individu (rakyat), tetapi negara melakukan pengawasan secara cermat untuk mencegah terjadinya kerusakan sebagaimana yang terjadi saat ini. prosedur penambangan akan diperhatikan secara detil baik pelaku penambangan tersebut negara sendiri atau rakyat dengan volume tambang yang sedikit.

Sebagai amanah rakyat yang dibebankan kepada negara, maka amanah ini akan dijalankan sebaik-baiknya dari proses pengolahannya maupun hasil yang didapat dimanfaatkan secara optimal untuk kemanfaatan masyarakat, karena memang pada dasarnya ini harta rakyat yang dilakukan secara amanah.

Oleh karena itu, pengelolaan tambang oleh negara dipastikan menjamin keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Dengan demikian, manfaat ekonomi dari tambang bisa didapatkan, sekaligus masyarakat tetap terjaga kesehatan dan keselamatan nyawanya, serta lingkungan tetap terjaga lestari. Negara tidak akan mengorbankan keselamatan rakyat semata demi meraih pundi-pundi kekayaan yang berlimpah.

Pengelolaan tambang yang dilakukan negara tentu berimbas pada kesejahteraan masyarakat secara umum. Namun, negara tidak seharusnya terpaku pada peningkatan angka pertumbuhan ekonomi saja, karena konsep “sejahtera” dalam sistem Islam tidak menggunakan indikator pertumbuhan ekonomi, tetapi terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat secara riil, bukan angka di atas kertas.

Sehingga tujuan pengelolaan tambang adalah untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Hasil tambang akan didistribusikan langsung kepada rakyat dalam bentuk subsidi energi (termasuk listrik), bahan bakar (minyak, gas, dan lain-lain), layanan pendidikan hingga tingkat tinggi (universitas), kesehatan, dan infrastruktur seperti jalan, jembatan, transportasi, komunikasi, instalasi air, dll. Semua pembiayaan fasilitas publik ini bersumber dari pos kepemilikan umum dalam baitul mal.

Berlandaskan cara pandang seperti ini, pengelolaan tambang dengan sistem Islam mewujudkan kesejahteraan rakyat dan dilakukan secara amanah sehingga tidak mengakibatkan kerusakan alam. Rakyat bisa hidup sejahtera dan lingkungan hidup mereka tetap terjaga kelestariannya.

Trump: AS atau Israel Bisa Bertindak Jika Hamas Tak Serahkan Senjatanya

WASHINGTON (jurnalislam.com)— Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Ahad (19/10) bahwa dirinya tidak menetapkan tenggat waktu pasti bagi Hamas untuk melucuti senjata sesuai kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza. Namun ia memperingatkan, jika Hamas gagal memenuhi komitmen tersebut, maka AS atau sekutunya, termasuk Israel, dapat turun tangan.

Dalam wawancara dengan FOX News, Trump menjelaskan bahwa Washington belum memiliki “garis waktu yang keras”, tetapi pihaknya akan terus memantau perkembangan implementasi perjanjian.

“Kami akan melihat bagaimana semuanya berjalan,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah ia yakin Hamas benar-benar akan menyerahkan senjatanya, Trump mengatakan kelompok tersebut telah menyatakan kesediaannya, namun ia menegaskan akan ada tindakan tegas jika komitmen itu dilanggar.

“Mereka bilang akan… tapi jika tidak, kami yang akan melakukannya. Entah itu saya, AS, atau proksi kami bisa saja Israel dengan dukungan kami,” kata Trump.

“Kami tidak akan mengerahkan pasukan darat.” Imbuhnya.

Kesepakatan gencatan senjata Israel Hamas yang dimediasi oleh pemerintahan Trump disusun dalam 20 poin utama.
Tahap pertama perjanjian tersebut mencakup pertukaran tahanan, yaitu pembebasan sandera Israel dengan imbalan tahanan Palestina.

Selain itu, rencana tersebut juga mencakup pembangunan kembali Gaza dan pembentukan mekanisme pemerintahan baru tanpa melibatkan Hamas sebagai bagian dari proses politik pasca perang. (Bahry)

Sumber: TRT

Gencatan Senjata Dilanggar, 97 Warga Palestina Gugur Akibat Serangan Israel di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)— Sedikitnya 97 warga Palestina gugur dan 230 lainnya luka-luka akibat serangan pasukan pendudukan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan di Jalur Gaza pada 10 Oktober lalu.

Otoritas Gaza menyebut, 21 pelanggaran tercatat hanya dalam satu hari, pada Ahad (19/10), menunjukkan bahwa Israel terus melancarkan agresi meski gencatan senjata secara resmi masih berlaku.

Dalam pernyataannya, Kantor Media Pemerintah Gaza menegaskan bahwa pasukan pendudukan telah melakukan 80 pelanggaran terdokumentasi sejak gencatan senjata diumumkan, yang dinilai sebagai pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional.

“Pelanggaran-pelanggaran tersebut mencakup penembakan langsung terhadap warga sipil, serangan massal, penargetan yang disengaja, pembentukan ‘sabuk tembak’, dan penangkapan warga,” ungkap pernyataan tersebut.

Pasukan Israel, lanjutnya, menggunakan kendaraan militer, tank di tepi permukiman, derek elektronik dengan sistem penargetan jarak jauh, pesawat tempur, serta drone quadcopter untuk melancarkan serangan di seluruh wilayah Gaza.

“Serangan ini terjadi di seluruh kegubernuran tanpa pengecualian, menegaskan bahwa pendudukan tidak mematuhi gencatan senjata dan terus melanjutkan kebijakan pembunuhan serta teror terhadap rakyat kami,” tegas pihak otoritas Gaza.

Pemerintah Gaza menegaskan, Israel sepenuhnya bertanggung jawab atas pelanggaran tersebut dan menyerukan PBB serta negara penjamin perjanjian untuk segera turun tangan menghentikan agresi.

Seperti diketahui, gencatan senjata antara Hamas dan Israel mulai berlaku pada 10 Oktober berdasarkan rencana yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump.
Kesepakatan itu mencakup penarikan pasukan Israel secara bertahap, pertukaran tahanan, serta masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. (Bahry)

Sumber: TRT

Trump Tegaskan Gencatan Senjata Masih Berlaku Walau Israel Berulang Kali Serang Gaza

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jared Kushner, yang menjadi salah satu negosiator utama dalam kesepakatan gencatan senjata Gaza, mengatakan bahwa Hamas telah bertindak dengan itikad baik berdasarkan perjanjian tersebut.

Dalam wawancara dengan CBS pada Ahad (19/10/2025), Kushner mengungkapkan bahwa pihaknya menerima laporan positif dari para mediator regional yang terlibat dalam negosiasi gencatan senjata.

“Sejauh yang kami lihat dari laporan para mediator, Hamas sejauh ini telah berupaya mematuhi perjanjian tersebut,” ujar Kushner.

Ia menambahkan, meski kesepakatan itu masih bisa gagal kapan saja, Hamas dinilai telah menunjukkan komitmen awal untuk menghormati isi perjanjian.

Kushner menjelaskan bahwa Amerika Serikat, Israel, dan para mediator regional secara bersama memantau pelaksanaan kesepakatan, termasuk proses pemulangan tawanan dan jenazah warga Israel yang ditahan Hamas di Gaza.

Menurutnya, koordinasi dalam pemulihan jenazah para sandera bergantung pada kerja sama antara otoritas Israel dan mediator dari Qatar, Mesir, dan Turki, yang menjadi perantara komunikasi dengan pejabat Hamas di lapangan.

“Kami mendorong kedua belah pihak untuk aktif mencari solusi, bukan saling menyalahkan atas kegagalan,” kata Kushner, seraya menegaskan pentingnya menjaga stabilitas selama fase pertama gencatan senjata.

Sementara itu, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa gencatan senjata di Gaza masih berlaku, meskipun pasukan Israel tetap melancarkan sejumlah serangan yang menewaskan puluhan warga Palestina.

Trump mengatakan, Washington berupaya memastikan situasi tetap tenang dan mendorong agar kedua pihak mematuhi kesepakatan yang telah dibuat.

𝗥𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗥𝗲𝗸𝗼𝗻𝘀𝘁𝗿𝘂𝗸𝘀𝗶 𝗚𝗮𝘇𝗮 𝗦𝗲𝗻𝗶𝗹𝗮𝗶 𝗥𝗽𝟴𝟬𝟬 𝗧𝗿𝗶𝗹𝗶𝘂𝗻

Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah menyiapkan “rencana induk” rekonstruksi Gaza pascaperang.

Rencana tersebut, yang bernilai sekitar 50 miliar dolar AS atau setara dengan sekitar Rp800 triliun, akan difokuskan pada pemulihan infrastruktur dasar seperti perumahan, listrik, air bersih, dan fasilitas kesehatan.

“Saya kira ini akan memerlukan banyak dana. Perkiraannya sekitar 50 miliar dolar, mungkin sedikit lebih atau kurang,” ujar Witkoff.

“Namun itu bukan angka besar bagi kawasan ini, karena ada beberapa negara yang siap membantu.”

Ia menambahkan bahwa proses pembangunan kembali akan dilakukan secara transparan, dengan dukungan dari mitra regional seperti Qatar, Mesir, Uni Emirat Arab, serta lembaga internasional. (Bahry)

Sumber: TRT

Tolak Pelucutan Senjata, Hamas: Kami Akan Pertahankan Kendali Keamanan di Gaza

DOHA (jurnalislam.com)– Hamas menyatakan akan mempertahankan kendali keamanan di Jalur Gaza untuk sementara waktu dan tidak dapat berkomitmen untuk melucuti senjata sepenuhnya. Hal itu disampaikan oleh anggota biro politik Hamas, Mohammed Nazzal, dalam wawancara dengan Reuters pada Jumat (17/10/2025).

Menurut Nazzal, posisi ini menunjukkan masih adanya perbedaan besar antara sikap Hamas dan rencana Amerika Serikat yang dipimpin Presiden Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza.

“Kami siap untuk gencatan senjata hingga lima tahun guna membangun kembali Gaza yang hancur. Namun ke depannya, rakyat Palestina harus diberi harapan untuk bernegara,” kata Nazzal dari Doha, Qatar.

𝗛𝗮𝗺𝗮𝘀 𝗧𝗼𝗹𝗮𝗸 𝗣𝗲𝗹𝘂𝗰𝘂𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮 𝗦𝗲𝗽𝗶𝗵𝗮𝗸

Rencana gencatan senjata tahap pertama yang dimediasi AS mulai berlaku sejak awal Oktober. Namun, negosiasi tahap berikutnya akan membahas isu-isu sensitif seperti pelucutan senjata dan siapa yang akan memerintah Gaza.

Ketika ditanya apakah Hamas akan menyerahkan senjatanya, Nazzal menjawab bahwa hal itu tergantung pada sifat dan tujuan proyek yang dimaksud.

“Saya tidak bisa mengatakan ya atau tidak. Pertanyaannya, kepada siapa senjata itu akan diserahkan? Ini bukan hanya urusan Hamas, tetapi juga kelompok perlawanan Palestina lainnya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keputusan terkait senjata harus dibahas dalam kerangka nasional Palestina yang lebih luas, bukan hanya tekanan dari luar.

𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗔𝗦 𝗧𝗲𝗸𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗺𝗮𝘀

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Hamas belum memenuhi seluruh isi perjanjian gencatan senjata, termasuk pembebasan sandera dan pelucutan senjata.

“Hamas harus mematuhi rencana 20 poin tersebut. Waktu mereka hampir habis,” kata pernyataan kantor Netanyahu kepada Reuters.

Rencana yang diumumkan Trump pada 29 September menyerukan agar Hamas segera mengembalikan semua sandera, kemudian menyerahkan kendali pemerintahan Gaza kepada komite teknokratis yang diawasi badan transisi internasional.

Trump menegaskan bahwa Hamas diberi kesempatan untuk melaksanakan keamanan internal sementara di Gaza, termasuk menangani geng-geng bersenjata lokal. Namun ia memperingatkan bahwa Hamas “akan dipaksa melucuti senjata jika melanggar kesepakatan.”

𝗛𝗮𝗺𝗮𝘀 𝗙𝗼𝗸𝘂𝘀 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗥𝗲𝗸𝗼𝗻𝘀𝘁𝗿𝘂𝗸𝘀𝗶 𝗚𝗮𝘇𝗮

Mohammed Nazzal menjelaskan bahwa saat ini Hamas tengah fokus pada stabilitas keamanan dan rekonstruksi Gaza. Ia membenarkan bahwa Hamas telah mengeksekusi sejumlah pelaku kriminal di Gaza, yang disebutnya sebagai “langkah luar biasa di masa perang”.

“Mereka adalah pembunuh yang telah terbukti bersalah. Kami harus menjaga ketertiban di tengah kekacauan,” katanya.

Hamas juga telah menyerahkan 10 dari 28 jenazah sandera yang tewas sejak serangan 7 Oktober 2023. Nazzal mengatakan pencarian jenazah lainnya terkendala oleh kondisi medan dan kehancuran bangunan, namun pihak internasional seperti Turki atau AS dapat membantu jika diperlukan.

Seorang pejabat senior Turki pekan lalu menyatakan bahwa Ankara siap bergabung dalam satuan tugas gabungan bersama Israel, AS, Qatar, dan Mesir untuk menemukan sisa jenazah tersebut.

𝗛𝗮𝗺𝗮𝘀 𝗙𝗼𝗸𝘂𝘀 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗥𝗲𝗸𝗼𝗻𝘀𝘁𝗿𝘂𝗸𝘀𝗶 𝗚𝗮𝘇𝗮

Nazzal menyebut bahwa fase transisi di Gaza akan mencakup dua hal:

1. Pemerintahan sipil teknokratis, yang menjalankan administrasi dan bantuan kemanusiaan.

2. Hamas tetap hadir di lapangan untuk menjaga keamanan dan mencegah penjarahan terhadap truk bantuan.

“Ini adalah fase sementara. Setelahnya, harus ada pemilu,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Hamas belum membahas secara rinci soal rencana pembentukan pasukan stabilisasi internasional di Gaza yang diusulkan AS.

𝗚𝗲𝗻𝗰𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮 𝗝𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮 𝗣𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗣𝗮𝗹𝗲𝘀𝘁𝗶𝗻𝗮

Meski piagam Hamas menyerukan penghancuran entitas Zionis, Nazzal menegaskan bahwa kelompoknya terbuka untuk gencatan senjata jangka panjang sebagai langkah menuju solusi politik.

“Kami tidak mencari perang baru. Gencatan senjata tiga sampai lima tahun akan memberi kesempatan untuk membangun kembali Gaza,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa setelah masa gencatan senjata, negara-negara dunia harus memberikan “cakrawala dan harapan” bagi rakyat Palestina untuk memperoleh kemerdekaan dan hak berdaulat di tanah mereka sendiri. (Bahry)

Sumber: TNA

Gencatan Senjata di Gaza Terancam, Israel Lancarkan Serangan Udara ke Rafah

GAZA (jurnalislam.com)– Gencatan senjata sembilan hari di Jalur Gaza berada di bawah tekanan pada Ahad (19/10/2025) setelah tentara pendudukan Israel melancarkan serangan udara ke wilayah selatan Gaza dengan alasan membalas serangan terhadap pasukannya.

Militer Israel menuduh Hamas melakukan “pelanggaran gencatan senjata” dan menembakkan rudal anti-tank ke arah pasukan penjajah yang masih beroperasi di wilayah Rafah. Sebagai balasan, jet tempur dan artileri Israel menggempur sejumlah titik di kota tersebut.

Namun, Hamas membantah tuduhan itu dan menegaskan pihaknya tetap berkomitmen terhadap kesepakatan gencatan senjata.

“Israel terus melanggar perjanjian dan mengarang dalih lemah untuk membenarkan kejahatannya,” kata anggota biro politik Hamas, Izzat Al-Rishq, dalam pernyataannya.

Menurut saksi mata di Rafah, dua serangan udara Israel mengguncang kawasan yang masih dikuasai tentara Zionis. “Hamas sebenarnya tengah memerangi geng lokal Abu Shabab, tapi mereka dikejutkan oleh kehadiran tank-tank Israel,” ujar seorang warga berusia 38 tahun yang meminta namanya dirahasiakan.

𝗘𝗸𝘀𝘁𝗿𝗲𝗺𝗶𝘀 𝗦𝗮𝘆𝗮𝗽 𝗞𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹 𝗗𝗲𝘀𝗮𝗸 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗗𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝘀𝘂𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶

Ketegangan meningkat ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggelar pertemuan darurat dengan kabinetnya. Para menteri sayap kanan menuntut dimulainya kembali perang besar-besaran terhadap Gaza.

Menteri Keamanan Nasional Israel yang ekstremis, Itamar Ben Gvir, menyerukan agar militer “melanjutkan pertempuran dengan seluruh kekuatan”.

“Ilusi bahwa Hamas akan mematuhi perjanjian sudah terbukti berbahaya bagi keamanan kita. Hamas harus dimusnahkan sepenuhnya,” kata Ben Gvir.

Sementara itu, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich menulis singkat di media sosial: “Perang!”

𝗚𝗲𝗻𝗰𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮 𝗥𝗮𝗻𝗰𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗧𝗿𝘂𝗺𝗽 𝗠𝘂𝗹𝗮𝗶 𝗚𝗼𝘆𝗮𝗻𝗴

Gencatan senjata yang dimediasi Presiden AS Donald Trump dan berlaku sejak 10 Oktober lalu semula diharapkan dapat menghentikan dua tahun agresi brutal Israel di Gaza. Kesepakatan tersebut mencakup pertukaran tawanan dan peta jalan politik bagi masa depan Gaza.

Namun, sejak awal kesepakatan telah diwarnai pelanggaran. Pada Sabtu (18/10), pasukan Israel menyerang sebuah bus di Kota Gaza dan menewaskan sedikitnya 11 warga sipil Palestina.

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, sedikitnya 35 warga Palestina telah gugur sejak gencatan senjata diberlakukan.

Utusan perdamaian AS, Steve Witkoff, dijadwalkan akan berkunjung ke Timur Tengah pekan depan untuk memantau pelaksanaan kesepakatan tersebut.

𝗥𝗮𝗳𝗮𝗵 𝗗𝗶𝘁𝘂𝘁𝘂𝗽, 𝗝𝗲𝗻𝗮𝘇𝗮𝗵 𝗠𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗧𝗲𝗿𝗹𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿

Krisis kemanusiaan semakin memburuk setelah Israel menutup perlintasan Rafah dari arah Mesir. Langkah ini dilakukan dengan alasan menekan Hamas agar mempercepat pemulangan tawanan dan jenazah korban.

Kementerian Kesehatan Gaza menyebut Israel telah menyerahkan 150 jenazah warga Palestina, sementara Hamas masih berupaya mengevakuasi korban lain yang tertimbun reruntuhan.

Hamas memperingatkan bahwa keputusan Israel menutup Rafah akan “menghambat evakuasi dan pemindahan jenazah secara signifikan.”

“Kami membutuhkan waktu dan bantuan teknis untuk mengevakuasi para korban dari bawah reruntuhan,” kata pernyataan Hamas.

Kantor Netanyahu menyebut pembukaan kembali penyeberangan Rafah akan dipertimbangkan “berdasarkan kepatuhan Hamas terhadap kerangka perjanjian yang telah disepakati.” (Bahry)

Sumber: TNA

Masih Ada 18 Jenazah Tawanan di Gaza, Hamas Butuh Alat Berat tapi Israel Tolak Bantuan Turki

GAZA (jurnalislam.com)– Sayap bersenjata Hamas, Brigade Al-Qassam, menyerahkan jenazah seorang tawanan tambahan yang ditemukan di reruntuhan Jalur Gaza, Jumat (17/10) malam. Kelompok perlawanan Palestina itu sekaligus mendesak para mediator dan komunitas internasional menekan Israel agar membuka perlintasan perbatasan dan mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan.

Dalam pernyataannya, Brigade Al-Qassam menyebut penyerahan dilakukan pada pukul 23.00 waktu setempat (20.00 GMT) tanpa merinci lokasi penemuan. Jenazah tersebut disebut sebagai milik seorang “tahanan pendudukan”, yang menunjukkan bahwa korban adalah warga Israel.

Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kemudian mengonfirmasi penerimaan peti mati dari Hamas melalui Palang Merah. Jenazah tersebut dibawa ke Pusat Kedokteran Forensik Nasional Israel untuk proses identifikasi sebelum keluarga diberitahu.

Militer Israel meminta publik “bertindak dengan penuh kepekaan dan menunggu hasil identifikasi resmi,” seraya menuntut Hamas “mematuhi perjanjian dan mengembalikan semua sandera yang telah meninggal.”

𝗛𝗮𝗺𝗮𝘀 𝗕𝘂𝘁𝘂𝗵 𝗔𝗹𝗮𝘁 𝗕𝗲𝗿𝗮𝘁 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗘𝘃𝗮𝗸𝘂𝗮𝘀𝗶

Hamas menegaskan tetap berkomitmen pada perjanjian gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat, termasuk penyerahan jenazah tawanan yang belum ditemukan di bawah reruntuhan. Kelompok itu mengklaim telah menyerahkan semua jenazah yang berhasil dievakuasi, namun masih memerlukan bantuan alat berat untuk menemukan sisanya.

“Masih ada 18 jenazah yang tertahan di Gaza,” kata Hamda Salhut, jurnalis Al Jazeera yang melaporkan dari Amman. “Hamas menunggu bantuan berupa alat berat dan tim di lapangan.”

Namun, Hamas menuduh Israel menghambat proses tersebut dengan tidak mengizinkan masuknya buldoser baru ke Jalur Gaza. Sebagian besar alat berat di wilayah itu hancur selama perang, sementara warga Palestina berjuang membersihkan puing-puing dengan peralatan seadanya.

𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹 𝗧𝗮𝗸 𝗞𝗼𝗼𝗽𝗲𝗿𝗮𝘁𝗶𝗳 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗧𝗶𝗺 𝗣𝗲𝗻𝗰𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻

Jurnalis Al Jazeera lainnya, Nour Odeh, melaporkan bahwa Israel juga tidak bekerja sama dengan negara-negara yang menawarkan bantuan teknis pencarian jenazah.

“Turki, misalnya, siap mengirimkan 81 ahli pencarian jenazah ke Gaza, namun Israel belum memberikan izin masuk, termasuk untuk peralatan yang dibutuhkan,” kata Odeh.

Pada hari yang sama, dua buldoser terlihat menggali di kawasan Kota Hamad, Khan Younis, tempat Hamas mencari jenazah para tawanan di bawah reruntuhan menara apartemen yang dibombardir Israel.

𝗧𝗲𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗣𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸 𝗱𝗮𝗻 𝗔𝗻𝗰𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗧𝗿𝘂𝗺𝗽

Mantan diplomat senior Israel, Alon Liel, mengatakan pemulangan jenazah tawanan sangat sensitif bagi publik Israel, menciptakan tekanan besar terhadap pemerintah Netanyahu. Ia mengakui banyak warga Israel marah karena menilai Hamas belum mengembalikan semua jenazah tawanan sesuai perjanjian gencatan senjata.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa ia akan memberi lampu hijau bagi Israel untuk melanjutkan perang jika Hamas gagal memenuhi kesepakatan dan mengembalikan semua jenazah tawanan. Menurut Trump, jumlah jenazah yang belum dikembalikan mencapai 28 orang.

Dalam beberapa hari terakhir, Hamas telah menyerahkan sembilan jenazah tawanan dan satu jenazah lain yang diklaim Israel bukan tawanan.

𝗞𝗿𝗶𝘀𝗶𝘀 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮𝗮𝗻 𝗠𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗣𝗮𝗿𝗮𝗵

Pemulangan jenazah tersebut terjadi di tengah kondisi kemanusiaan yang terus memburuk. Badan pertahanan sipil Gaza menyebut lebih dari 10.000 warga Palestina masih terjebak di bawah reruntuhan, sementara baru 280 jenazah yang berhasil dievakuasi.

Hamas kembali menyerukan agar para mediator menekan Israel membuka perbatasan Rafah, mempercepat distribusi bantuan, dan memulai rekonstruksi. Meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak pekan lalu, Israel masih menahan masuknya bantuan berskala besar dan mempertahankan operasi militernya di sekitar separuh wilayah Gaza. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Lebih dari Satu Juta Perempuan dan Anak Gaza Butuh Bantuan Pangan Mendesak

GAZA (jurnalislam.com)– Badan PBB untuk Kesetaraan Gender, UN Women, memperingatkan bahwa lebih dari satu juta perempuan dan anak perempuan di Jalur Gaza masih membutuhkan bantuan pangan, meskipun saat ini tengah berlangsung gencatan senjata yang rapuh antara Hamas dan Israel.

Dalam keterangan pers di Jenewa pada Jumat (17/10), Direktur Kantor UN Women, Sofia Calltorp, mengatakan bahwa hampir seperempat juta perempuan dan anak di Gaza membutuhkan dukungan nutrisi mendesak.

“Gencatan senjata ini adalah kesempatan bagi kita untuk mengirimkan bantuan secepat mungkin dan menghentikan kelaparan sebelum terlambat,” kata Calltorp.

Ia menegaskan, jeda pertempuran yang tercapai awal bulan ini belum mengakhiri penderitaan rakyat Gaza. Banyak perempuan dan anak-anak yang telah mengungsi berulang kali kini menghadapi musim dingin tanpa tempat berlindung.

“Selama dua tahun terakhir, perempuan dan anak perempuan di Gaza terbunuh rata-rata dua orang setiap jam. Angka ini menggambarkan skala kekejaman perang yang akan menghantui hati nurani kolektif kita selama beberapa generasi,” ujarnya.

Calltorp menyebut sebagian besar perempuan di Gaza telah mengungsi sedikitnya empat kali selama perang. Gencatan senjata saat ini, katanya, menjadi kesempatan pertama bagi mereka untuk berhenti berlari, mencari tempat aman, dan mencoba membangun kembali kehidupan.

Ia menekankan bahwa pemulihan Gaza tidak akan mungkin terjadi tanpa peran aktif perempuan.

“Tidak akan ada pemulihan tanpa perempuan dan anak perempuan yang selama ini menjaga Gaza tetap bertahan di tengah kelaparan, ketakutan, dan pengungsian,” tegasnya.

Calltorp juga menyerukan kepada semua pihak untuk menegakkan gencatan senjata dan kepada para donor internasional agar segera meningkatkan dukungan kemanusiaan.

“Jika kebutuhan perempuan dan anak perempuan tidak dijadikan prioritas utama, dan jika organisasi perempuan tidak dilibatkan dalam proses pemulihan, maka mereka akan sepenuhnya terpinggirkan dari masa depan Gaza,” tambahnya.

Ia menutup dengan menekankan pentingnya investasi pada bantuan yang dipimpin perempuan, karena setiap dukungan yang diberikan, katanya, “adalah investasi untuk harapan.”

“Setiap dolar yang diinvestasikan dalam bantuan yang dipimpin perempuan menghasilkan manfaat delapan kali lipat bagi masyarakat,” pungkas Calltorp. (Bahry)

Sumber: TRT