Israel Gunakan Isu Jenazah Tawanan untuk Langgar Gencatan Senjata di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)— Para pejabat Palestina menuduh rezim penjajah Israel menggunakan isu jenazah tawanan di Jalur Gaza sebagai dalih untuk melanggar gencatan senjata dan memperpanjang keberadaan militernya di wilayah yang hancur tersebut.

Mereka mengatakan, isu jenazah dimanfaatkan Tel Aviv untuk membenarkan serangan baru, menghentikan bantuan kemanusiaan, serta menunda pembukaan kembali perlintasan Rafah dengan Mesir.

Gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober semula dimaksudkan untuk membuka ruang bantuan kemanusiaan dan menciptakan ketenangan secara bertahap. Namun, Israel justru berulang kali melancarkan serangan udara dan memperketat blokade bantuan.

Antara Selasa malam dan Rabu pagi, tentara Israel menggempur Kota Gaza dengan puluhan serangan udara yang menewaskan sedikitnya 100 warga Palestina dan melukai banyak lainnya.

Militer Israel mengklaim serangan itu merupakan respons atas penundaan penyerahan jenazah warga Israel serta atas terbunuhnya seorang tentaranya di Rafah.

Sementara itu, Gerakan Perlawanan Islam Hamas menyatakan pekan ini bahwa mereka telah menemukan dua jenazah warga Israel tambahan satu di Khan Younis dan satu lagi di kamp pengungsi Nuseirat. Namun sayap militernya, Brigade Al-Qassam, menegaskan tidak akan menyerahkan mereka karena Israel telah “melanggar perjanjian” melalui serangan udara baru di Gaza.

Meski sejumlah alat berat Mesir diizinkan masuk ke Jalur Gaza untuk membantu upaya pemulihan, Israel tetap memblokir masuknya peralatan utama dan tim teknis.

Dengan dua jenazah baru tersebut, Hamas mengatakan kini masih ada 11 jenazah warga Israel yang hilang di Gaza. Pejabat Israel sendiri mengakui hanya memiliki informasi terbatas mengenai sekitar lima jenazah.

Kepala Hamas di Gaza, Khalil al-Hayya, mengatakan pencarian jenazah yang tersisa sangat sulit karena kehancuran parah dan gugurnya para pejuang yang sebelumnya menjaga tawanan.

Sejak gencatan senjata dimulai, faksi-faksi perlawanan Palestina telah menyerahkan 20 tawanan Israel hidup dan sekitar 15 jenazah. Sebagian besar tewas akibat serangan Israel selama perang, sementara lainnya meninggal pada serangan 7 Oktober 2023.

Direktur Pusat Penelitian dan Studi Strategis Arab, Ahmad al-Tanani, menilai Israel sengaja menciptakan kondisi yang membuat pemulihan menjadi mustahil. “Ini telah menjadi dalih politik untuk mempertahankan keadaan tanpa perang dan tanpa perdamaian, serta untuk menghalangi fase kedua dari rencana Presiden Donald Trump,” ujarnya dikutip dari The New Arab pada Kamis (30/10).

Ia menjelaskan, tidak semua jenazah ditahan oleh Hamas. “Sebagian berada di tangan faksi lain, sementara beberapa orang yang mengetahui lokasinya telah gugur,” katanya.

Menurut Al-Tanani, beberapa tawanan Israel kemungkinan tewas akibat serangan udara Zionis terhadap lokasi tempat mereka ditahan. “Israel menolak mengizinkan masuknya peralatan dan tim teknis yang dapat membantu. Padahal faksi-faksi di Gaza telah menawarkan jaminan dan bahkan menyiarkan langsung upaya pemulihan,” tambahnya.

Ia menuduh Israel menyebarkan narasi palsu bahwa perlawanan memanipulasi isu jenazah untuk membenarkan kelanjutan agresinya. Narasi itu, katanya, memberi tentara Israel “kebebasan bergerak” dan melemahkan upaya mediasi Mesir yang berusaha menstabilkan situasi di Gaza.

Analis urusan Israel, Firas Yaghi, menyebut isu jenazah digunakan Tel Aviv sebagai “kartu politik” untuk menghentikan kemajuan menuju tahap selanjutnya dari rencana Trump yang menyerukan penarikan bertahap Israel dari Gaza.

“Netanyahu menggunakan isu ini untuk membenarkan kehadiran militer Israel yang terus berlanjut jauh di dalam Gaza dengan dalih mencari orang hilang,” ujar Yaghi. Ia menegaskan intelijen Israel tahu sebagian jenazah hilang di bawah reruntuhan akibat pemboman besar-besaran.

Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, bahkan mengakui bahwa pemerintah Netanyahu memanfaatkan isu tersebut untuk kepentingan politik dalam negeri.

Yaghi juga menuding Amerika Serikat mengambil posisi lemah. “Pemerintahan Trump memberi Netanyahu kebebasan bertindak penuh dan menutup mata terhadap pelanggaran gencatan senjata,” ujarnya.

“Jika Washington benar-benar mau menekan Israel, rencana itu bisa saja berjalan meski tanpa penyerahan jenazah. Tapi sejauh ini, AS memilih tidak melemahkan Netanyahu,” pungkasnya. (Bahry)

Sumber: TNA.

Glo-Up SDM Hanya dengan Islam

Oleh: Ninis
Aktivis Muslimah Balikpapan

Baru-baru ini, Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) dan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan workshop kreator konten. Acara tersebut diberi judul “Glo-Up: 1000 Ide” ini berlangsung pada Selasa (14/10) di Multifunction Hall Kemenko 1, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara.

Tema kali ini bertajuk “Peningkatan 1000 SDM Gen Z yang Bijak, Kreatif, dan Cerdas melalui Pelatihan Social Media Specialist dan AI Menuju Smart City IKN,”. Workshop ini menghadirkan partisipasi 535 pelajar. Para peserta yang hadir berasal dari 16 sekolah setingkat SMP, SMA, MA, dan SMK di Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU). (kaltimpost.jawapos.com).

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, juga hadir dan menekankan bahwa IKN adalah simbol peradaban baru. Ia mengatakan “IKN tidak hanya gedung-gedung yang megah, tetapi sebuah peradaban baru yang cerdas dan beretika digital.” Selain itu, para peserta dimotivasi untuk menjadi ‘Storyteller Masa Depan Nusantara’, generasi yang mampu menciptakan konten yang tidak hanya menghibur, tetapi juga bermakna, etis, dan mempromosikan nilai-nilai peradaban IKN. (kompas.com).

Lantas, mampukah pelatihan tersebut meningkatkan kualitas SDM sehingga menjadi generasi yang cerdas, bijak kreatif dalam bersosial media?

SDM Ala Sekuler Liberal

Mencetak generasi yang berkualitas tentunya perlu dipersiapkan oleh negara secara serius. Terlebih media ibarat dua mata pisau, baik buruknya tergantung siapa yang memanfaatkannya dan standar apa yang digunakan dalam bersosial media. Sebab, di era modern sekarang yang serba bebas tanpa adanya perlindungan negara dalam dunia nyata dan media sosial apakah menjamin generasi lebih baik atau sebaliknya? Peningkatan SDM apakah cukup dengan pelatihan penggunaan sosial media sesuai dengan brain IKN, yakni smart city. Benarkah ini bentuk upaya peningkatan SDM atau ingin manfaatkan Gen Z menjadi buzzer yang mensupport IKN dan pro setiap kebijakan penguasa? Alih-alih menjadi pemuda yang kritis dan peduli kepentingan masyarakat justru mengaminkan kebijakan zholim penguasa.

Pengarahan pada generasi yang tidak tepat di tengah rusaknya media sangat berbahaya. Apalagi yang menjadi standar media sekarang bukan halal harom tapi sekuler liberal yang terus menggempur generasi di tengah arus globalisasi. Cita-cita mencetak SDM berkualitas hanya mimpi sebab jauh panggang dari api. Buktinya dunia barat yang menjunjung tinggi nilai kebebasan menghadapi problem generasi karena gaya hidup hedonis, seks bebas, LGBT, bullying hingga cold free disebar luaskan di ruang digital.

Tidak dimungkiri generasi muda memang melek digital, namun jika memakai standar liberalisme yang diusung barat akan menjadi bencana. Sebab, konten yang dibuat sekedar eksistensi diri demi mengejar viewer dan materi. Padahal, potensi pemuda bisa diarahkan menjadi generasi yang membawa perubahan melalui pengembangan digitalisasi membuat konten-konten yang mampu membawa perubahan bagi generasi dan kebangkitan Islam.

Media dalam Islam

Dalam Islam, negara terdepan melindungi generasi dari berbagai kerusakan. Generasi harus dijaga dengan penjagaan maksimal sebab mereka generasi penerus bangsa dan perjuangan Islam. Sehingga dibutuhkan support system dari pembinaan di keluarga bekal awal dengan memberikan pemahaman Islam sejak dini sehingga anak mengetahui batasan halal dan haram. Tak hanya itu, adanya kontrol masyarakat tak kalah penting dengan menjalankan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar sebagai penjagaan layer kedua.

Selain itu, juga butuh peran negara sebagai layer ketiga yakni memberikan panduan dalam bermedia sosial sesuai Islam dan juga menerapkan sanksi pada individu melanggar hukum syara dalam bermedia sosial. Dengan penjagaan maksimal oleh negara diharapkan lahir generasi bertakwa, cerdas, bijak dan kreatif yang paham batasan-batasan dalam dunia digital.

Memanfaatkan media dalam Islam pada dasarnya hukumnya mubah. Hal tersebut termaktub dalam buku Aj Hizah Daulah Islamiyah karangan Syekh Taqqiyudin An-Nabhani Bab Penerangan (I’lam), dijelaskan bahwa penyebaran informasi dalam struktur negara Islam diatur oleh dewan penerangan berfungsi sebagai syiar Islam dan kemaslahatan umat. Artinya, media sebagai sarana dakwah Islam dan mencerdaskan umat. Terlebih menuju kebangkitan Islam seharusnya pemuda menggunakan potensinya untuk mempromosikan Islam dan buzzer dakwah Islam. Bukan menjadi buzzer ide-ide sekuler liberal yang menyesatkan. Wallahu A’lam.

Forum Me-dan Bali Tunjukkan Kepedulian Tanpa Batas, Evakuasi Dua Korban Lakalantas

DENPASAR (jurnalislam.com)– Dalam dua insiden terpisah pada Kamis (30/10/2025), tim relawan Forum Me-dan (Medis dan Aksi Kemanusiaan) Bali kembali menunjukkan kesigapan mereka dalam membantu korban kecelakaan lalu lintas di wilayah Denpasar.

Insiden pertama terjadi sekitar pukul 10.00 WITA di lampu merah Imam Bonjol – Teuku Umar, tepat di depan Toko Cakrawala, Denpasar. Seorang remaja berusia 19 tahun berinisial KRS, warga Jalan Gunung Gede, Denpasar Barat, menjadi korban dalam kecelakaan tersebut.

Korban mengalami luka cukup serius, di antaranya penurunan kesadaran, fraktur terbuka pada tangan kanan, serta luka sobek di dagu. Tim ambulan Forum Me-dan Bali yang tiba di lokasi segera melakukan evakuasi dan penanganan awal, sebelum merujuk korban ke RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah (Sanglah) di Jalan Diponegoro, Denpasar Barat, untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Sementara itu, pada pukul 15.15 WITA, tim Forum Me-dan Bali kembali menerima laporan dari Pusdalops Denpasar mengenai kecelakaan lain di Simpang Pura Demak, Jalan Teuku Umar Barat. Dalam kejadian tersebut, korban yang belum diketahui identitasnya (Mr. X), diduga warga negara asing, ditemukan dalam kondisi kesadaran menurun. Relawan Forum Me-dan kembali dikerahkan untuk melakukan evakuasi dan membawa korban ke RSUP Ngoerah (Sanglah).

Driver ambulan Forum Me-dan Bali, Saiful Asrori, mengatakan bahwa timnya selalu berupaya cepat dan sigap dalam memberikan bantuan kemanusiaan di lapangan tanpa membeda-bedakan latar belakang korban.

“Alhamdulillah, kami bisa turut membantu korban laka lantas di dua lokasi hari ini. Ini bagian dari komitmen Forum Me-dan Bali untuk merajut ukhuwah dan peduli sesama, tanpa melihat siapa korbannya, dari mana asalnya, atau apa latar belakangnya. Selama kami mampu, insyaallah kami bantu semampu kami untuk meringankan penderitaan korban,” ujarnya.

Ia menambahkan, semangat relawan dalam menjalankan tugas kemanusiaan ini berlandaskan nilai solidaritas dan kepedulian antar sesama manusia.

Pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap kedua kejadian tersebut untuk memastikan penyebab kecelakaan. Masyarakat diimbau agar lebih berhati-hati dan mematuhi aturan lalu lintas, terutama di kawasan padat seperti Teuku Umar dan Imam Bonjol, yang sering menjadi titik rawan kecelakaan di Denpasar.

Kontributor: Hedy

PPTQ Ibnu Abbas Klaten Raih Anugerah Pendidikan 2025 sebagai TOP Pesantren Tahfidz dan Akademik Terpadu

KLATEN (jurnalislam.com)— Pondok Pesantren Tahfidzul Quran (PPTQ) Ibnu Abbas Klaten kembali menorehkan prestasi membanggakan di dunia pendidikan. Lembaga pendidikan Islam unggul yang berlokasi di Kabupaten Klaten ini resmi menerima Anugerah Pendidikan 2025 dari Radar Solo, pada Selasa, 28 Oktober 2025, dengan kategori TOP Pesantren Tahfidz dan Akademik Terpadu.

Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap konsistensi dan inovasi PPTQ Ibnu Abbas Klaten dalam mengembangkan model pendidikan terpadu, yang tidak hanya menekankan penguasaan Al-Qur’an, tetapi juga prestasi akademik dan karakter santri yang berdaya saing global.

“Ini bentuk amanah sekaligus pengingat agar kami terus memperkuat sinergi antara nilai-nilai Qur’ani, keunggulan akademik, dan pengabdian masyarakat,” ujar Direktur PPTQ Ibnu Abbas Klaten, KH Muhammad Uqbah Lc MH, dalam konferensi pers dan kopdar bersama rekan media di Klaten, Kamis, 30 Oktober 2025.

PPTQ Ibnu Abbas Klaten bernaung di bawah Yayasan Ibnu Abbas Klaten, sebuah lembaga
yang berawal dari Islamic Center Ibnu Abbas. Yayasan ini resmi berdiri pada 2003 atas
gagasan KH Dr Muhammad Muinudinillah Basri MA, sebagai muassis dan inisiator, dengan dukungan penuh dari Ustaz Dr. Setiawan Budi Utomo, Ustaz Achmad Yusuf, dan Ustaz Nurwahid.

Keempat tokoh ini dikenal sebagai para pendiri sekaligus peletak dasar nilai dan identitas dakwah Yayasan Ibnu Abbas Klaten, yang berorientasi pada pembinaan umat, penguatan akidah ahlus sunnah wal jama’ah, serta pendidikan Islam yang berwawasan global.

Sejalan dengan semangat tersebut, pada 2007, lahirlah PPTQ Ibnu Abbas Klaten dengan visi besar menjadi lembaga pendidikan unggul yang melahirkan genarasi Qur’any, rabbany, ulul albab,dan berakhlak mulia.

Dalam perjalanannya, PPTQ Ibnu Abbas Klaten telah menorehkan berbagai prestasi nasional hingga internasional di bidang tahfidz, akademik, dan sebaran alumni di berbagai kampus favorit. Kolaborasi antara penguasaan ilmu agama dan sains menjadi kekuatan utama pesantren ini dalam membentuk profil santri yang berkarakter dan berdaya saing.

KH Muhammad Uqbah Azis Lc MH menegaskan bahwa penghargaan dari Radar Solo ini bukanlah capaian akhir, tetapi momentum untuk memperkokoh komitmen dalam memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan Islam di Indonesia.

“Kami berharap, penghargaan ini menjadi motivasi bagi seluruh civitas akademika dan santri agar terus berinovasi, berprestasi, serta berkhidmah bagi umat dan bangsa,” tambahnya

Negosiasi Afghanistan–Pakistan di Turki Gagal, Mediator Qatar dan Turki Terkejut dengan Sikap Delegasi Pakistan

KABUL (jurnalislam.com)— Pembicaraan antara delegasi Afghanistan dan Pakistan yang digelar di Turki berakhir tanpa hasil. Menurut sumber yang dikutip Pajhwok Afghan News pada Selasa (28/10), perilaku pihak Pakistan selama perundingan mengejutkan bahkan para mediator dari Qatar dan Turki.

Sumber tersebut mengatakan bahwa delegasi Pakistan tampak tidak memahami mekanisme negosiasi, sering kali terlibat dalam perdebatan yang tidak logis, dan beberapa kali bersikap kasar serta menggunakan bahasa yang tidak pantas.

“Bahkan para mediator pun terkejut dan kesal dengan perilaku pihak Pakistan,” ungkap sumber itu.

Pertemuan yang semestinya membahas sejumlah agenda penting justru terhenti hanya pada satu topik, setelah pihak Pakistan dinilai “mengganggu dan merusak jalannya perundingan dengan sikap tidak pantas.”

Lebih lanjut, sumber tersebut menjelaskan bahwa kepala tim Pakistan dengan nada tidak sopan meminta pihak Afghanistan untuk mengendalikan seluruh kelompok yang melakukan serangan di Pakistan. Permintaan itu, kata sumber, juga membuat para mediator terkejut.

“Bagaimana mungkin Afghanistan mengendalikan warga negara Pakistan dan kelompok militan mereka sendiri?” ujar sumber tersebut mengutip tanggapan delegasi Afghanistan.

Delegasi Afghanistan menegaskan bahwa kelompok yang melakukan serangan di wilayah Pakistan bukan berada di bawah otoritas mereka, melainkan warga negara Pakistan sendiri.

Selain itu, pihak Pakistan juga mengancam akan membalas serangan Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP) dengan serangan ke wilayah Afghanistan jika insiden serupa kembali terjadi.

Menanggapi ancaman tersebut, delegasi Afghanistan menegaskan bahwa keamanan di wilayah Pakistan adalah tanggung jawab aparat keamanan Pakistan sendiri. Afghanistan, lanjutnya, hanya berkewajiban memastikan wilayahnya tidak digunakan untuk menyerang negara tetangga itu.

“Kami berkomitmen tidak membiarkan siapa pun menggunakan wilayah kami untuk menyerang Pakistan. Namun, sebagai imbalannya, Pakistan juga harus menjamin tidak akan melanggar wilayah udara Afghanistan atau mengizinkan pesawat nirawak Amerika melintas dari wilayah mereka,” tegas pihak Afghanistan.

Delegasi Afghanistan juga menuntut agar Pakistan tidak menjadi tempat bagi kelompok Daesh untuk melancarkan serangan ke Afghanistan.

Sumber itu menambahkan, pada awalnya delegasi Pakistan menyetujui usulan tersebut. Namun setelah menerima panggilan telepon, mereka menarik kembali kesepakatan itu dan menyatakan tidak dapat menghentikan penerbangan pesawat nirawak Amerika maupun menjamin pencegahan aktivitas Daesh.

Ketegangan meningkat ketika kepala tim negosiasi Pakistan, Jenderal Shahab Aslam, menolak membahas isu pelanggaran wilayah udara oleh pesawat nirawak Amerika.

Dalam pertemuan itu, Duta Besar Qatar untuk Afghanistan, Mirdaf, menegur Shahab agar tidak memotong pembicaraan pihak Afghanistan. Namun Shahab menanggapi dengan mengatakan bahwa pesawat nirawak yang menyerang Afghanistan lepas landas dari pangkalan militer Amerika di Qatar.

Duta Besar Mirdaf menjawab bahwa hal itu didasarkan pada perjanjian resmi antara Qatar dan Amerika Serikat. Shahab kemudian menimpali, “Kami juga memiliki perjanjian dengan Amerika Serikat.”

Negosiasi pun berakhir tanpa kesepakatan, meninggalkan ketegangan diplomatik antara kedua negara yang berbatasan langsung itu. (Bahry)

Sumber: pajhwok

Tentara Israel Tewas di Rafah, Zionis Luncurkan Serangan Besar Selama Gencatan Senjata

GAZA (jurnalislam.com)– Seorang tentara cadangan Israel tewas dalam serangan yang dilancarkan oleh kelompok perlawanan Palestina terhadap pasukan pendudukan yang ditempatkan di wilayah Rafah, Jalur Gaza selatan, pada Selasa (28/10). Militer Israel mengumumkan kematian tersebut pada Rabu pagi.

Serangan itu terjadi di tengah gencatan senjata yang telah berlangsung selama beberapa minggu terakhir.

Menanggapi serangan tersebut, tentara pendudukan Zionis melancarkan “serangkaian serangan signifikan” ke sejumlah titik di Gaza selatan. Israel mengklaim serangannya menargetkan komandan Hamas dan kelompok pejuang lainnya. Namun, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 100 warga sipil gugur akibat serangan brutal itu.

Beberapa jam kemudian, militer Israel mengumumkan bahwa gencatan senjata kembali diberlakukan mulai pukul 10 pagi waktu setempat.

Tentara yang tewas diidentifikasi sebagai Sersan Mayor (Purn.) Yona Efraim Feldbaum, 37 tahun, operator alat berat di Divisi Gaza. Ia berasal dari permukiman ilegal Neria di Tepi Barat.

Menurut penyelidikan awal militer Israel (IDF), penembak jitu dari kelompok perlawanan melepaskan tembakan ke arah bangunan yang digunakan pasukan pendudukan dan sebuah ekskavator di lingkungan Jenina, Rafah, sekitar pukul 15.45 waktu setempat. Tembakan itu menewaskan Feldbaum yang tengah mengoperasikan ekskavator tersebut.

Beberapa saat kemudian, pejuang Palestina juga menembakkan beberapa peluru RPG ke arah pasukan IDF, mengenai kendaraan lapis baja tanpa menimbulkan korban tambahan.

Sebagai tanggapan, IDF menyerang sejumlah titik yang mereka sebut sebagai “ancaman terhadap pasukan,” termasuk bangunan dan terowongan di wilayah tersebut.

Lingkungan Jenina berada di sisi timur Garis Kuning, yang menandai batas penarikan mundur pasukan Israel di Gaza. Meski wilayah itu berada di bawah kendali Israel sesuai perjanjian gencatan senjata, militer mengklaim masih ada “kantong operasi” pejuang Palestina yang bersembunyi di sana.

Pekan lalu, dua tentara Israel juga tewas dalam serangan serupa di lokasi yang sama, yang kemudian memicu gelombang serangan udara Zionis terhadap wilayah Gaza.

Israel menuding Hamas berada di balik serangan-serangan tersebut. Namun, Hamas membantah keterlibatan dan menegaskan tetap berkomitmen pada perjanjian gencatan senjata yang disepakati sebelumnya. (Bahry)

Sumber: TOI

Hamas Tegaskan Tak Terlibat dalam Insiden Rafah, Sebut Serangan Israel Langgar Gencatan Senjata

GAZA (jurnalislam.com)– Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) menegaskan bahwa pihaknya tidak terlibat dalam insiden penembakan terhadap pasukan Israel di Rafah. Hamas juga menuding Israel telah melakukan pelanggaran serius terhadap perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani di Sharm El-Sheikh di bawah mediasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis di situs web resminya pada Selasa (28/10/2025), Hamas menyebut bahwa pemboman yang dilakukan oleh tentara pendudukan Israel di Jalur Gaza merupakan tindakan kriminal dan pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata.

“Pemboman kriminal yang dilakukan oleh tentara pendudukan fasis di wilayah Jalur Gaza merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani di Sharm El-Sheikh di bawah naungan Presiden AS Trump,” tulis pernyataan tersebut.

Hamas menilai serangan Israel pada masa gencatan senjata ini merupakan bagian dari rangkaian pelanggaran yang terus dilakukan dalam beberapa hari terakhir.

“Serangan teroris ini merupakan kelanjutan dari serangkaian pelanggaran yang dilakukan dalam beberapa hari terakhir, termasuk serangan yang mengakibatkan korban jiwa dan luka-luka, serta penutupan perlintasan Rafah yang masih berlanjut,” lanjut pernyataan itu.

Gerakan tersebut menegaskan bahwa tindakan Israel menunjukkan upaya sistematis untuk melemahkan perjanjian gencatan senjata. Karena itu, Hamas menyerukan kepada para mediator internasional untuk segera bertindak menekan Israel agar menghentikan agresinya terhadap warga sipil di Gaza.

“Kami menuntut agar para mediator yang menjamin perjanjian tersebut segera mengambil tindakan untuk menekan pendudukan, mengekang eskalasi brutal terhadap warga sipil di Jalur Gaza, menghentikan pelanggaran serius terhadap perjanjian gencatan senjata, dan memaksa pendudukan untuk mematuhi semua ketentuannya,” tegas Hamas dalam penutup pernyataannya.

Kontributor: Bahry

Meski Israel Gempur Gaza, Trump: Gencatan Senjata Tak Akan Terganggu

GAZA (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa gencatan senjata di Gaza akan tetap bertahan meskipun terjadi serangan udara mematikan oleh Israel. Pernyataan ini disampaikan Trump pada Rabu (29/10/2025) di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut.

“Tidak ada yang akan membahayakan gencatan senjata,” kata Trump kepada wartawan di pesawat kepresidenan 𝘈𝘪𝘳 𝘍𝘰𝘳𝘤𝘦 𝘖𝘯𝘦 saat melakukan kunjungan ke Asia.

Trump membela tindakan Israel yang melakukan serangan balasan terhadap Gaza setelah seorang tentara Israel dilaporkan tewas. “Mereka membunuh seorang tentara Israel. Jadi Israel membalas. Dan mereka harus membalas,” ujarnya.

Sementara itu, Hamas menghadapi tekanan internasional setelah mengembalikan sebagian jenazah seorang tawanan Israel pada Senin (27/10). Israel mengklaim tindakan tersebut melanggar kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 19 Oktober.

Menurut Hamas, jenazah yang dikembalikan merupakan bagian dari 28 jenazah tawanan yang disepakati untuk dikembalikan secara bertahap. Namun, hasil pemeriksaan forensik Israel menyebut bahwa jenazah itu sebenarnya adalah bagian dari tubuh seorang tawanan yang telah dipulangkan ke Israel dua tahun lalu.

Juru bicara pemerintah Israel, Shosh Bedrosian, menuduh Hamas melakukan manipulasi. “Hamas menggali lubang di tanah, menempatkan sebagian jenazah di dalamnya, lalu menyerahkannya kepada Palang Merah,” katanya kepada wartawan.

Menanggapi tuduhan tersebut, juru bicara Hamas Hazem Qassem membantah keras. Ia mengatakan bahwa kelompoknya tidak mengetahui lokasi seluruh jenazah tawanan yang hilang akibat gempuran Israel selama dua tahun terakhir.

“Gerakan ini bertekad menyerahkan jenazah para tawanan Israel sesegera mungkin setelah mereka ditemukan,” ujar Qassem kepada AFP.

Hamas menegaskan bahwa mereka telah memulangkan semua 20 tawanan Israel yang masih hidup sesuai dengan kesepakatan gencatan senjata.

Di Gaza, sebagian warga mulai khawatir perang akan kembali pecah. Abdul-Hayy al-Hajj Ahmed (60) mengatakan kepada AFP bahwa tekanan terhadap Hamas dapat menjadi alasan bagi Israel untuk memulai serangan baru.

“Saat ini mereka menuduh Hamas mengulur waktu, dan itu bisa menjadi dalih untuk eskalasi baru,” katanya. “Kami hanya ingin beristirahat, tapi saya yakin perang akan kembali.” pungkasnya. (Bahry)

Sumber: TNA

Israel Serang Gaza di Tengah Gencatan Senjata, 30 Warga Tewas

GAZA (jurnalislam.com)– Badan Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa Israel melancarkan serangan udara pada Selasa (28/10/2025) meskipun gencatan senjata masih berlaku. Serangan tersebut menargetkan beberapa wilayah di Jalur Gaza dan menewaskan sedikitnya 30 orang.

“Setidaknya 30 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat serangan Israel di Jalur Gaza. Tim kami masih berupaya mengevakuasi korban dari bawah reruntuhan,” kata juru bicara badan tersebut, Mahmud Basal, kepada AFP.

Menurut laporan, sedikitnya tiga serangan udara menghantam wilayah Gaza, termasuk satu serangan yang mengenai halaman belakang Rumah Sakit Al-Shifa. Lima orang dilaporkan tewas ketika kendaraan yang mereka tumpangi terkena serangan udara.

Sementara itu, militer Israel mengklaim serangan dilakukan sebagai balasan atas dugaan serangan Hamas terhadap pasukan mereka di Gaza. Menteri Pertahanan Israel Yoav Katz menyebut insiden tersebut sebagai “pelanggaran batas” yang akan dibalas dengan “kekuatan besar”.

“Serangan Hamas terhadap tentara IDF di Gaza merupakan pelanggaran batas yang akan ditanggapi dengan kekuatan besar,” ujar Katz dalam sebuah pernyataan. Namun, ia tidak merinci lokasi serangan yang dimaksud.

Di sisi lain, Hamas membantah tudingan tersebut. Dalam pernyataannya, kelompok itu menyebut para pejuangnya “tidak terlibat dalam insiden penembakan di Rafah”.

Meski terjadi serangan, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyatakan bahwa gencatan senjata tetap berlaku. “Itu bukan berarti tidak akan ada pertempuran kecil,” kata Vance dalam wawancara dengan Fox News yang juga diunggah oleh Gedung Putih.

Vance merupakan salah satu dari beberapa pejabat tinggi AS yang pekan lalu melakukan kunjungan ke Israel untuk memperkuat gencatan senjata rapuh yang ditengahi oleh Presiden Donald Trump.

“Kita tahu Hamas atau pihak lain di Gaza menyerang seorang tentara IDF. Israel kemungkinan akan membalas, tetapi saya pikir perdamaian yang dijanjikan presiden akan bertahan,” tambahnya. (Bahry)

Sumber: TNA

Gagal Fokus Dalam Berpihak

Oleh : Herliana Tri M

Gencatan senjata yang saat ini terjadi belum mampu meredakan derita dan sakitnya warga Gaza. Kata dan perilaku tak bisa dipercaya. Inilah gambaran warga Gaza harus berhadapan dengan pendudukan Israel.

Gencatan senjata antara Israel dan Hamas diumumkan pada 10 Oktober lalu ternyata tidak menunjukkan angin segar bagi kedamaian warga Palestina di Gaza. Dalam sepuluh hari sejak kesepakatan itu berlaku, hampir 100 warga Palestina meninggal dan 230 lainnya luka-luka akibat serangan militer Israel. Serangan udara dan tembakan langsung terhadap warga sipil terjadi meski kesepakatan damai masih resmi berlaku.

Gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat dengan dukungan Qatar, Mesir, dan Turki memuat 20 poin kesepakatan. Di antaranya penghentian secara total pertempuran, pembebasan tahanan, penarikan bertahap pasukan Israel, hingga penyerahan pemerintahan Gaza kepada administrasi yang independen dari Hamas. Artinya dalam kesepakatan ini Hamas siap melucuti senjatanya dan memberikan kepada tim independen yang akan membangun Gaza kembali.

Gagal Fokus

Karakter Israel tak pernah berubah. Tak pernah bisa dipegang janjinya. Bangsa yang selalu ingkar. Dugaan kuat, Israel mau duduk untuk mengikuti gencatan senjata karena kuatnya tekanan internasional dan desakan Israel untuk mundur dari wilayah Gaza.

Saat dirasa penduduk dunia mulai mengendur atas pembelaannya terhadap Gaza, tabiat aslinya kembali dipertontonkan, membombardir membabi buta, tak pandang bulu, tak mengenal waktu dan kembali bantuan sulit untuk masuk. Padahal ini baru hitungan jari jalannya gencatan senjata.

Kedatangan tentara muslim di Palestina yang diatur oleh Trump, masuk ke wilayah Gaza dan bermaksud melucuti senjata pejuang disana justru menunjukkan langkah mundur, gagal fokus dalam pembelaan. Bukankah yang menduduki wilayah Gaza adalah Israel, mengapa posisi negara-negara yang akan masuk wilayah Gaza tidak melucuti senjata Israel dan mengusirnya dari wilayah jajahan?

Sungguh tak masuk nalar apabila negara- negara yang ingin menjadi penengah konflik ini justru ingin hadir dan memuluskan usaha Israel untuk melumpuhkan perjuangan penduduk Gaza. Keberadaan saudara muslim yang akan hadir justru melaksanakan kehendak Trump yang selalu mendukung Israel. Disamping itu, para tentara juga melaksanakan kehendak mantan perdana menteri Inggris Tony Blair yang terkenal kejam. Pusat operasi tentara yang dianggap independen tidak akan berada di bawah bendera tauhid, melainkan di bawah perlindungan entitas Zionis sang pembunuh dengan bendera biru-putihnya.

Bersikap Ksatria, Membebaskan Tanah Jajahan

Untuk membebaskan Gaza secara efektif sebenarnya kita dapat belajar dari Sultan Salahuddin al-Ayyubi saat membebaskan Palestina pada tahun 1187. Tokoh pejuang ini membangun kekuatan militer yang mampu menyatukan wilayah-wilayah kaum Muslim yang terpecah-belah. Pada akhirnya Palestina dapat dibebaskan dari pasukan Salib setelah dijajah selama 90 tahun lamanya.

Oleh karena itu, untuk membebaskan Palestina kita juga butuh pemimpin tangguh, yang berani mengambil sikap tegas sama seperti para pemimpin kaum Muslim terdahulu. Mereka mampu menyatukan kekuatan kaum muslim, membangun militer yang kuat dan memobilisasi tentara kaum muslim, melakukan pembebasan terhadap Palestina. Hanya dengan itu, persoalan penjajahan dan pembantaian terhadap saudara Muslim Palestina bisa diselesaikan dengan cepat dan efektif.

Jika langkah ini tidak diambil, dunia hanya akan menonton dan menghitung jumlah korban tiap harinya yang terus-menerus bertambah, baik karena ditembak, dibom, atau mati kelaparan kekurangan nutrisi. Bahkan yang lebih mengerikan lagi, apabila keberadaan negeri-negeri muslim yang nantinya hadir ke Gaza justru menyelesaikan ambisi Israel yang belum bisa ia tuntaskan, yakni ‘memandulkan’ perjuangan rakyat Gaza dengan melucuti semua senjata pejuang. Sungguh apabila ini terjadi, sejarah akan mencatat sebagai wujud pengkhianatan atas saudara yang tertindas.