Intelijen AS Sebut Tentara Israel Gunakan Warga Palestina sebagai Perisai Manusia di Gaza

WASHINGTON (jurnalislam.com)— Amerika Serikat dilaporkan telah mengumpulkan informasi intelijen pada tahun lalu yang menunjukkan bahwa tentara Israel mengirim warga Palestina ke dalam terowongan-terowongan di Gaza yang diduga berisi bahan peledak.

Laporan tersebut bersumber dari dua mantan pejabat AS yang mengetahui persoalan itu, sebagaimana dikutip oleh media Amerika. Informasi itu kemudian dibagikan kepada Gedung Putih dan dianalisis oleh komunitas intelijen pada minggu-minggu terakhir pemerintahan mantan Presiden Joe Biden.

Menurut hukum internasional, penggunaan warga sipil sebagai tameng manusia dalam operasi militer merupakan pelanggaran berat.

Pejabat-pejabat di dalam pemerintahan Biden telah lama menyuarakan kekhawatiran atas laporan yang menunjukkan bahwa tentara Israel menggunakan warga sipil Palestina untuk melindungi diri mereka dalam operasi militer di Jalur Gaza.

Namun, pengumpulan bukti-bukti langsung oleh Washington mengenai dugaan praktik ini belum pernah dilaporkan sebelumnya.

Sumber yang mengetahui laporan tersebut mengatakan, intelijen yang dikumpulkan pada akhir 2024 menimbulkan pertanyaan di Gedung Putih tentang seberapa luas taktik itu diterapkan dan apakah tindakan tersebut dilakukan atas perintah pimpinan militer Israel.

Para pejabat yang berbicara secara anonim itu tidak menjelaskan apakah warga Palestina yang dimaksud adalah tahanan atau warga sipil biasa.

Tidak diketahui apakah pemerintahan Biden sempat membahas temuan ini dengan pemerintah Israel. Pihak Gedung Putih dan CIA menolak berkomentar, sementara mantan pejabat Biden juga tidak memberikan tanggapan.

Militer Israel dalam pernyataannya membantah tuduhan tersebut, menyatakan bahwa mereka “melarang penggunaan warga sipil sebagai perisai manusia atau memaksa mereka untuk berpartisipasi dalam operasi militer.”

Divisi Investigasi Kriminal Polisi Militer Israel dikabarkan sedang menyelidiki dugaan “keterlibatan warga Palestina dalam misi militer,” namun tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Laporan intelijen ini muncul di tengah meningkatnya analisis internal AS terhadap tindakan militer Israel di Gaza, termasuk peringatan dari kalangan pengacara Israel sendiri mengenai adanya bukti yang dapat mendukung tuduhan kejahatan perang.

Jika dugaan kejahatan perang Israel terbukti, Washington berpotensi dimintai pertanggungjawaban atas dukungannya dalam bentuk penyediaan senjata maupun kerja sama intelijen kepada Tel Aviv. (Bahry)

Sumber: TRT

Bom Tak Meledak Israel Masih Mengancam Warga Gaza, Anak-Anak Jadi Korban

GAZA (jurnalislam.com)– Lebih dari sebulan setelah gencatan senjata diumumkan, jalanan Gaza masih menyimpan luka perang. Kota yang dahulu hidup kini menjelma menjadi puing-puing bisu, rumah-rumah tanpa atap, gang-gang penuh reruntuhan, dan kehidupan yang tersisa hanya berupa bayangan masa lalu.

Namun di antara reruntuhan itu, bahaya masih mengintai bom-bom tak meledak peninggalan serangan Israel tersebar di mana-mana, menunggu tanpa suara.

Di lingkungan selatan Rimal, Mohammed al-Shafi’i (8 tahun) sedang bermain di antara tumpukan beton ketika sebuah bom sisa serangan meledak di sampingnya. Ledakan itu menghancurkan kaki dan tangannya.

“Saya sedang mengisi botol air ketika suara ledakan memecah udara. Saya menemukannya terbaring berlumuran darah. Beberapa jam sebelumnya dia tertawa, membuat mobil dari potongan logam… sekarang dia mungkin tidak akan pernah berjalan lagi,” tutur ibunya, Amal al-Shafei, kepada The New Arab (TNA), pada Rabu (12/11).

Dengan suara lirih, Mohammed mengenang,

“Saya membuat mobil dari logam… lalu semuanya meledak. Tanah menelan saya. Saya tidak bisa berlari atau bermain lagi. Kadang saya merasa benda-benda logam itu mengawasi saya, seperti kematian sedang menunggu.”

Nasib serupa dialami Ahmed al-Razi (11 tahun) di lingkungan Zeitoun, Gaza utara. Saat mencoba membuat mainan dari selongsong roket kosong, sebuah benda logam kecil yang ia kira mainan meledak di tangannya, merenggut satu mata dan tangan kanannya.

“Ahmed anak yang ceria. Sekarang bahkan kerikil membuatnya takut. Matanya kehilangan cahaya hari itu, begitu pula masa kecilnya,” kata ibunya, Samia al-Razi.

Ahmed sendiri berkata lirih,

“Saya pikir itu mainan. Saya membukanya, lalu semuanya gelap. Saya tidak bisa bermain, tidak bisa berlari… bahkan sepak bola pun berbahaya sekarang.”

𝗚𝗮𝘇𝗮 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗟𝗮𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗼𝗺 𝗧𝗮𝗸 𝗠𝗲𝗹𝗲𝗱𝗮𝗸

Tragedi anak-anak ini hanyalah sebagian dari bahaya besar yang masih menghantui warga Gaza.
Menurut Pusat Hak Asasi Gaza (GRC), puluhan ribu persenjataan yang belum meledak bom, rudal, dan peluru artileri tersebar di seluruh wilayah.

Kantor Media Pemerintah Gaza memperkirakan sekitar 20.000 amunisi aktif masih terkubur di bawah reruntuhan, dengan total berat mencapai 71.000 ton di antara lebih dari 65 juta ton puing.

“Hal ini menjadikan Gaza salah satu tempat paling berbahaya di dunia,” ujar Ismail Thawabta, kepala kantor media pemerintah, kepada TNA. Ia memperingatkan bahwa wilayah itu dapat menghadapi “bencana kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern jika ancaman ini tidak segera ditangani.”

Lembaga PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mencatat lebih dari 61 juta ton puing kini menutupi wilayah Gaza, menghambat upaya pencarian korban dan rekonstruksi.

𝗢𝗽𝗲𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗣𝗲𝗻𝗷𝗶𝗻𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗲𝗿𝗶𝘀𝗶𝗸𝗼

Menurut Mahmoud Bassal, juru bicara pertahanan sipil Gaza, sisa bahan peledak banyak ditemukan di dalam rumah warga, di jalan, hingga di lahan pertanian.

“Setiap operasi penyelamatan atau pembersihan adalah pekerjaan yang mengancam nyawa,” ujarnya.

Ledakan demi ledakan masih terjadi. Di Al-Zaytoun, tiga warga tewas ketika granat sisa perang meledak saat mereka membersihkan puing rumahnya. Di kamp pengungsi Al-Nuseirat, empat pekerja luka parah, sementara di Al-Qarar, Khan Younis, satu ledakan lain kembali mengguncang area pemukiman.

Seorang ahli penjinak ranjau lokal, Mohammed, menggambarkan situasi itu dengan getir:

“Kami bekerja di gang sempit, di dekat rumah yang runtuh, dengan anak-anak di sekitar. Setiap langkah bisa memicu bom. Kami kekurangan peralatan, bahan bakar, dan suku cadang. Anak-anak melihat puing-puing sebagai taman bermain, padahal di bawahnya kematian bersembunyi.”

Sejak agresi besar-besaran Israel dimulai pada 7 Oktober 2023, perang yang diakui banyak pihak sebagai genosida itu telah menewaskan lebih dari 69.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

Gencatan senjata yang diumumkan sebulan lalu tidak menghentikan penderitaan rakyat Gaza. Bom yang belum meledak kini menjadi senjata bisu melanjutkan pembunuhan bahkan setelah perang berhenti. (Bahry)

Sumber: TNA

Kesepakatan Gelap Israel-AS, Ratusan Pejuang Hamas Akan Dideportasi ke Negara yang Belum Diketahui

YERUSALEM (jurnalislam.com)– Pemerintah Israel dan Amerika Serikat dilaporkan telah mencapai kesepakatan untuk mendeportasi sekitar 200 pejuang Hamas yang terjebak di dalam terowongan di wilayah yang dikendalikan Israel di selatan Jalur Gaza, tepatnya di kawasan Rafah.

Menurut laporan dari media Israel pada Selasa (11/11) kesepakatan tersebut muncul setelah pertemuan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Utusan Khusus AS Jared Kushner di Yerusalem. Dalam pertemuan itu dibahas skema pelucutan senjata Hamas, penggantian otoritas pemerintahan di Gaza, dan pembentukan pasukan internasional untuk menjaga keamanan.

Namun, sejumlah hal penting masih belum jelas:
– Tidak disebutkan secara resmi negara tujuan bagi pejuang Hamas itu setelah dideportasi.

– Media menyebut bahwa belum ada negara yang secara resmi menyetujui menerima para pejuang tersebut.

– Jumlah pastinya juga masih mengacu pada angka perkiraan “sekitar 150–200 orang”.

Sementara itu, di saat negosiasi terus berjalan, negara‐negara seperti Turki dan Mesir dikabarkan akan membahas fase lanjutan kesepakatan, termasuk mengenai otoritas pemerintahan di Gaza, penggantian Hamas sebagai pemerintahan, dan bagaimana status keamanan pasca konflik. (Bahry)

Sumber: vinnews

Sisa Kejahatan Perang, 20 Jenazah Ditemukan di Klinik Gaza yang Dihancurkan Pasukan Israel

GAZA (jurnalislam.com)– Pasukan pendudukan Israel pada Rabu (12/11) kembali melanjutkan operasi pembongkaran di wilayah timur Khan Younis, Jalur Gaza bagian selatan. Sementara itu, tim penyelamat Palestina menemukan sedikitnya 20 jenazah di Kota Gaza.

Menurut laporan kantor berita resmi Palestina, Wafa, operasi pembongkaran tersebut telah berlangsung selama berminggu-minggu dan menyebabkan ledakan keras yang mengguncang wilayah sekitar.

Sumber-sumber lokal menambahkan, pesawat tempur dan pesawat pengintai Israel terus berputar di langit Gaza selatan, meskipun gencatan senjata telah diberlakukan. Sedikitnya tiga serangan udara dilaporkan menargetkan wilayah timur Beit Lahia pada Rabu pagi. Di saat yang sama, kapal perang Israel juga melepaskan tembakan ke arah pesisir Gaza bagian selatan.

Warga memanfaatkan masa gencatan senjata untuk mencari dan menguburkan jenazah keluarga mereka yang sebelumnya tidak dapat dievakuasi. Tim penyelamat menemukan 20 jenazah dari area klinik Sheikh Radwan di Kota Gaza. Penemuan itu terjadi setelah pasukan Israel menggali area tersebut dengan buldoser, yang kemudian diketahui sebagai kuburan massal.

“Setelah pasukan Israel meninggalkan lokasi, tim spesialis berhasil masuk dan menemukan jenazah di halaman klinik yang sebelumnya menjadi sasaran pemboman hebat,” lapor Wafa.

Selain itu, dua jenazah juga ditemukan di bawah reruntuhan sebuah rumah di Khan Younis. Operasi pencarian masih terus dilakukan meski terkendala minimnya alat berat dan peralatan penyelamatan yang diizinkan masuk ke wilayah Gaza.

Peristiwa ini terjadi sehari setelah pejabat Palestina melaporkan bahwa pasukan Israel telah menewaskan sedikitnya tiga warga Palestina dalam 24 jam terakhir.

Badan Pertahanan Sipil Jalur Gaza mengonfirmasi pembunuhan tersebut dan menyebutkan bahwa jenazah-jenazah korban telah dibawa ke Rumah Sakit Al-Shifa untuk diidentifikasi. Namun, proses identifikasi jenazah masih terhambat akibat kekurangan peralatan tes DNA.

Kondisi ini menambah duka mendalam bagi keluarga korban yang belum mengetahui nasib kerabat mereka sejak agresi militer Israel dimulai. (Bahry)

Sumber: TNA

Angkat Isu Halal Internasional, Yayasan Khazanah GNH dan Halaltoday.id Gelar Halal Brand and Conference 2025

JAKARTA (jurnalislam.com)– Industri halal nasional dan global terus berkembang pesat, menawarkan potensi pasar yang sangat besar. Di Indonesia, kesadaran konsumen akan produk halal juga semakin meningkat. Data dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) menunjukkan bahwa lebih dari 80% konsumen di Tanah Air sudah menyadari pentingnya sertifikasi halal.

Sertifikasi halal bukan sekadar label, melainkan elemen strategis bisnis jangka panjang yang menumbuhkan kepercayaan, loyalitas konsumen, dan memperkuat daya saing.

Menyikapi hal ini, Yayasan Khazanah Gus Nadirsyah Hosen (YKGNH) bersama Halaltoday.id dan lembaga riset ABSP (Astrabuana Sendhang Pranawa) menyelenggarakan Indonesia Digital Halal Brand Awards (IDHBA) 2025 sebagai bentuk apresiasi bagi pelaku industri yang telah berkomitmen pada industri halal.

Menurut Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), PhD, yang akrab disapa Gus Nadir, pemerintah memiliki peran penting dalam mendorong industri halal.

“Pemerintah merupakan pihak yang paling kuat memiliki kepentingan untuk mendorong industri halalnya menjadi pelopor dan juga acuan bagi konsumen baik di dalam negeri maupun dunia,” ujar Gus Nadir.

Ia menambahkan bahwa perusahaan yang memiliki sertifikat halal dan secara konsisten membangun citra mereknya akan meningkatkan kepercayaan konsumen muslim. Hal ini dikarenakan sertifikasi halal membuka peluang pasar baru dan memperkuat penetrasi di pasar nasional maupun global.

“Sehingga sertifikasi halal bukan hanya sekadar menambah logo saja, tetapi lebih dari itu adalah simbol kepercayaan,” tegasnya.

Lalu terkait dengan bagaimana brand lokal bisa bersaing di pasar internasional, KH. Sholahuddin Al Ayyubi, Ketua MUI bidang Halal dan Ekonomi Syariah serta Ketua KNEKS mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi pasar halal yang besar di global.

“Dengan memiliki kekuatan pasar domestik, pertumbuhan populasi muslim dunia, sektor F&B halal yang telah berkembang, ekosistem e-commerce Indonesia serta jumlah kesepakatan investasi terbanyak, maka peluang tersebut sangat besar dan terbuka lebar,” ujarnya dalam acara IHBC di Hotel Sultan, Jakarta.

Apresiasi untuk Komitmen Industri Halal Digital IDHBA 2025 diselenggarakan untuk mengapresiasi merek atau produk halal terbaik dari berbagai kategori yang dinilai sukses memanfaatkan kanal digital untuk membangun kesadaran dan reputasi merek mereka di masyarakat.

“Indonesia Digital Halal Brand Awards tidak hanya menjadi simbol apresiasi, tetapi juga momentum untuk mendorong komunikasi produk halal yang strategis, inovatif, dan konsisten,” ujar Rofian Akbar, Pemimpin Redaksi Halaltoday.id. Ia melanjutkan bahwa kesuksesan komunikasi produk halal tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga inovasi dan konsistensi.

Gus Nadir percaya bahwa acara ini akan meningkatkan diskursus halal dan memberikan dampak besar bagi masyarakat, baik secara ekonomi maupun citra negara. Dengan mendukung acara seperti ini, pemerintah menunjukkan komitmennya terhadap perlindungan konsumen muslim, memberikan kepastian hukum, dan memperkuat industri serta ekonomi halal secara keseluruhan.

Acara penganugerahan Indonesia Digital Halal Brand Awards (IDHBA) 2025 diselenggarakan pada 10 November 2025 di Hotel Sultan, Jakarta dan menghasilkan sejumlah pemenang antara lain: Danone untuk Aqua dengan kategori Digital Halal Brand, Danone untuk SGM dengan dua kategori yakni Digital Halal Brand dan Halal Brand Consumer Choice Hatari untuk dua produk Yakni Malkist dan Crackers dengan kategori Digital Halal Brand Whincezz dengan kategori Digital Halal Brand.

“Penghargaan ini merupakan Bentuk kepercayaan konsumen kepada kami, bentuk komitmen dan menumbuhkan kepercayaan konsumen kami terjaga kehalalannya,” ungkap Prima Sehanputri, Head of Regulatory Affairs Danone Indonesia.

“Kami bahagia mendapatkan apresiasi dari Halaltoday.id dan akan menjadikan HATARI termotivasi dan lebih baik lagi dalam mengkomunikasikan halal kepada konsumen kami,” kata Raymond C Widodo, General Manager Marketing Hatari.

Sementara, Rifaldi Hussein, Marketing Manager Communication Wincheez mengatakan bahwa pihaknya akan terus berkomitmen menjaga status kehalalannya.

“Dengan komitmen tinggi, kami sebagai pemain keju termuda baru 11 tahun selalu berupaya memberikan kontribusi dan produk berkualitas terbaik bagi masyarakat. Melalui penghargaan ini tentu menjadi motivasi kami untuk terus menjaga kehalalan produk kami,” ungkapnya.

Lima Tahun Tanpa Pembinaan, Ustaz Awi Hadir di Pedalaman Tanpa Listrik dan Jaringan

RIAU (jurnalislam.com)- Peluh membanjiri wajahnya dan napasnya mulai tersengal. Lelahnya perjalanan sudah menguras tenaga ustaz muda tersebut.

“Apakah pohon petai sudah dekat?” tanyanya.

“Ini baru permulaan, Bang. Kita masih harus melewati tiga bukit lagi.”

Jawaban itu membuat Ustaz Awi terdiam. Rasa terkejut bercampur takjub. Bagaimana tidak, sementara kakinya mulai berat dan tubuhnya terasa melemah, warga di depannya tetap melangkah ringan. Wajah mereka tenang tanpa gurat kelelahan sedikit pun, seolah stamina mereka tak pernah habis.

Hari itu, ia memutuskan mengikuti warga mencari hasil hutan, salah satunya petai di TNBT. Dalam pikirannya, perjalanan itu akan seperti pendakian biasa, mungkin melelahkan, tapi bisa diukur. Namun, kenyataannya jauh di luar dugaan.

Ritme berjalan para warga begitu cepat dan stabil. Mereka menanjak dan menuruni lereng curam tanpa ragu, seolah medan berat itu hanyalah jalan biasa di depan rumah. Sementara Ustaz Awi harus berjuang keras menjaga keseimbangan di antara bebatuan licin dan akar-akar besar yang melintang.

Suku Talang Mamak adalah suku pedalaman Riau yang menggantungkan hidupnya secara tradisional di sepanjang aliran Sungai Indragiri dan kawasan Taman Nasional Tiga Puluh (TNBT).

Tanpa pencahayaan dan jaringan, mereka memutar perekonomian dengan mengambil damar, getah pohon besar, serta hasil hutan lain yang bisa dijual, seperti petai.

Di tengah penduduk pedalaman inilah dai Dewan Dakwah, Ustaz Awi Andrizal, memulai perjalanan dakwahnya, tepatnya di Dusun Nunusan, Desa Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gangsal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau.

Perjalanan Ekstrem ke Dusun Nunusan, Desa yang Tidak Terdata di Maps

Entah sudah kali keberapa Ustaz Awi dan rombongan turun dari perahu kayu yang mereka tumpangi saat menyusuri Sungai Batang Gansal agar perahu tersebut lebih ringan ketika melewati arus jeram.

“Perjalanan menuju lokasi dakwah sangat ekstrem karena melewati banyak batu-batu besar serta sungai yang deras. Beberapa kali kami turun dari perahu kayu agar perahu lebih ringan ketika melewati arus jeram tersebut,” ujar Ustaz Awi, awal November 2025.

Perjalanan lewat jalur air tersebut ditempuh beberapa jam setelah perjalanan darat dari pusat kota kabupaten, yakni Kota Rengat.

Dusun Nunusan terpisah jauh dari desa induknya, Desa Rantau Langsat. Hanya ada satu jalur menuju dusun itu, yaitu jalur sungai. Perjalanan hanya bisa ditempuh dengan perahu kayu selama dua sampai lima jam, tergantung kondisi ketinggian air.

Medan tempuh yang sulit dan letak dusun yang terpencil membuat daerah tersebut tanpa listrik dan sinyal telekomunikasi.

Aktivitas mandi, bersuci, mencuci, hingga buang hajat dilakukan di tepian sungai. Begitu hari mulai gelap, Dusun Nunusan bagai dusun mati.

Sekitar empat hingga lima tahun yang lalu, ustaz terakhir memberikan pembinaan agama di Desa Nunusan. Setelah itu, suku Talang Mamak yang telah berislam di sana hanya mendengar khutbah setiap Jumat dari musala kecil mereka.

Mendengar kabar kedatangan dai yang ditempatkan khusus di Desa Nunusan, mereka tak berhenti bertanya, Apakah ustaz tersebut jadi datang? Kapan ustaznya akan tiba? Dan pertanyaan-pertanyaan sejenis.

Kedatangannya pun disambut hangat. Banyak di antara mereka yang menawarinya untuk menetap di rumah masing-masing.

“Respon masyarakat sangat terbuka dan menerima dengan baik. Bahkan seminggu sebelum saya datang, mereka sudah bertanya kepada salah satu mahasiswa STID M. Natsir apakah saya jadi datang ke dusun mereka,” terang dai muda asal Aceh tersebut.

Dari Musala Kecil Pedalaman, Dakwah Tetap Menyala

Tidak mudah membentuk rutinitas masyarakat pedalaman untuk mengikuti kajian rutin, terlebih mereka sangat bergantung pada hasil hutan.

Dari pagi pukul 07.00 hingga petang hari, masyarakat desa masuk hutan untuk mencari damar. Bukan hanya para orang tua, anak-anak pun ikut keluar masuk hutan mengambil damar. Namun demikian, tidak setiap saat mereka memperoleh hasil.

“Terkadang masyarakat tidak dapat membeli beras karena tidak mendapat hasil dari hutan,” kata Ustaz Awi.

Karena itu, Ustaz Awi beberapa kali ikut menyusuri hutan belantara, selain memusatkan dakwahnya di musala kecil Nurul Huda dan berdakwah dari rumah ke rumah.

Mengajar anak-anak Talang Mamak menjadi aktivitas dakwah utama Ustaz Awi. Dari pagi hingga siang hari, ia mengajar anak-anak SD.

Sebuah sekolah rintisan, kelas filial, berdiri di Dusun Nunusan. Di sanalah anak-anak suku Talang Mamak mengenal pendidikan. Namun, banyak dari mereka yang tidak bisa melanjutkan pendidikan bahkan harus berhenti di tengah jalan karena keterbatasan biaya.

Meski demikian, anak-anak tersebut sangat bersemangat datang ke sekolah. Setiap hari mereka berjalan kaki, ada yang menempuh jarak lebih dari satu jam tanpa menggunakan sepatu atau alas kaki.

Anak-anak itu tidak hanya belajar, tetapi juga keluar masuk hutan sepulang sekolah untuk mencari damar.

Belajar Mengaji di Temaram Malam

Meski kelelahan sepulang dari hutan, anak-anak pedalaman tersebut tetap hadir mengaji selepas Magrib bersama Ustaz Awi.

Diterangi lampu LED atau lampu darurat portabel, mereka mengeja huruf demi huruf di papan tulis kapur.

Dusun yang tadinya sunyi tersebut perlahan hidup sejak kehadiran Ustaz Awi. Suara lantunan doa dari musala kecil di tengah hutan terpencil mengisi malam-malam hening Dusun Nunusan.

Perjalanan dakwah menuntut seorang dai untuk bisa melakukan apa saja yang masyarakat butuhkan. Bukan hanya mengisi rohani mereka, tapi juga siap sedia hadir dalam keseharian mereka.

Terlebih, pengabdian di dusun terpencil yang sangat jauh dari dunia luar membutuhkan penyesuaian diri yang luar biasa.

Selain turut membantu masyarakat mencari hasil alam dengan menyusuri hutan, Ustaz Awi juga membaur dalam berbagai kegiatan mereka: membantu memperbaiki jalan, panen jengkol dan petai, hingga memberikan layanan cukur gratis kepada penduduk pedalaman tersebut.

Satu per satu anak ia cukur dengan telaten. Tak hanya anak-anak, pria dewasa pun turut meminta untuk dicukur oleh Ustaz Awi.

Israel Gelar Manuver Militer Besar di Tepi Barat dan Lembah Yordan

TEPI BARAT (jurnalislam.com)– Tentara pendudukan Israel pada Senin (10/11) melancarkan manuver militer besar-besaran yang dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mencakup wilayah luas Tepi Barat yang diduduki, Lembah Yordan, hingga perbatasan dengan Yordania.

Menurut laporan Al Jazeera, militer Israel mengklaim latihan ini bertujuan “mengambil pelajaran operasional” dari peristiwa 7 Oktober 2023 serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi “skenario eskalasi,” termasuk serangan bersenjata atau infiltrasi dari wilayah Tepi Barat menuju permukiman ilegal Yahudi atau posisi militer Israel.

Latihan militer tersebut melibatkan dua divisi penuh, serta unit dari Angkatan Udara, Shin Bet (dinas intelijen dalam negeri), dan kepolisian Israel.

Warga di wilayah Tepi Barat dilaporkan akan menyaksikan peningkatan aktivitas militer yang tidak biasa, termasuk konvoi kendaraan lapis baja dan pergerakan helikopter di berbagai daerah.

Dalam pernyataannya, militer Israel menyebut latihan dimulai sejak dini hari dan meluas ke seluruh Tepi Barat dan Lembah Yordan. Manuver ini mencakup koordinasi antara pasukan darat dan udara, operasi berbagi intelijen, serta simulasi pengerahan cepat pasukan.

Manuver besar ini berlangsung di tengah meningkatnya operasi militer Israel di Tepi Barat selama satu tahun terakhir. Penggerebekan, penembakan, dan penahanan massal menjadi rutinitas harian yang dijalankan pasukan pendudukan di bawah dalih “keamanan.”

Komunitas Palestina melaporkan serangan hampir setiap hari, termasuk pembongkaran rumah, penutupan jalan, dan penahanan warga sipil.

Menurut data Palestina, sejak Oktober 2023 sedikitnya 1.069 warga Palestina tewas di Tepi Barat dan Yerusalem Timur akibat tembakan pasukan maupun pemukim Israel. Lebih dari 10.000 orang terluka, dan 20.000 lainnya ditahan, termasuk 1.600 anak-anak.
Banyak di antara tahanan melaporkan mengalami pemukulan, penghinaan, dan penolakan hak hukum dasar.

𝗣𝗲𝗹𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗚𝗲𝗻𝗰𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮 𝗱𝗶 𝗚𝗮𝘇𝗮 𝗧𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗕𝗲𝗿𝗹𝗮𝗻𝗷𝘂𝘁

Di Jalur Gaza, meskipun Israel dan Gerakan Perlawanan Palestina Hamas telah mengumumkan gencatan senjata pada 10 Oktober lalu, pelanggaran terus terjadi.
Serangan udara, penembakan artileri, dan tembakan penembak jitu masih dilaporkan di sejumlah wilayah, menyebabkan korban jiwa dan gelombang pengungsian baru.

Hingga kini, lebih dari 69.000 warga Palestina telah tewas dan 170.000 lainnya terluka, sebagian besar perempuan dan anak-anak.
Sebagian besar wilayah Gaza, termasuk rumah sakit, sekolah, dan infrastruktur publik, telah hancur total.

PBB memperkirakan proses rekonstruksi Gaza membutuhkan setidaknya 70 miliar dolar AS dan bisa memakan waktu puluhan tahun, mengingat skala kehancuran akibat agresi Israel. (Bahry)

Sumber: PC

Hapus Bukti Kejahatan, RSF Diduga Kubur dan Bakar Ratusan Jenazah di Al-Fasher

KHARTUM (jurnalislam.com)– Kelompok paramiliter Pasukan Pendukung Cepat (RSF) Sudan dilaporkan telah mengumpulkan ratusan jenazah dari jalanan kota Al-Fasher, Darfur Utara, dalam beberapa hari terakhir. Sebagian jenazah dikubur di kuburan massal dan sebagian lainnya dibakar, demikian disampaikan Jaringan Dokter Sudan pada Ahad (9/11).

Dalam pernyataannya, jaringan tersebut menyebut tindakan mengerikan itu sebagai “kejahatan baru yang menambah catatan hitam RSF.”

Menurut mereka, penguburan dan pembakaran massal tersebut merupakan upaya untuk menyembunyikan bukti kejahatan RSF terhadap warga sipil.

RSF menyerbu Al-Fasher setelah mengepung kota itu selama sekitar 18 bulan. Serangan brutal tersebut menyebabkan lebih dari 450 orang tewas, termasuk di Rumah Sakit Saudi, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pasukan RSF juga dilaporkan melakukan penyerangan dari rumah ke rumah, membunuh warga sipil dan melakukan kekerasan seksual.

Meski RSF membantah tuduhan tersebut, kesaksian para pengungsi, video yang beredar, serta citra satelit menunjukkan gambaran mengerikan dari kehancuran kota itu.

“Kejahatan-kejahatan ini tidak akan terhapus oleh upaya menutup-nutupi atau pembakaran,” tegas Jaringan Dokter Sudan, seraya mendesak masyarakat internasional untuk segera meluncurkan penyelidikan independen.

Mereka juga menyebut tindakan RSF di Al-Fasher sebagai “babak baru dalam genosida besar-besaran.”

Sebelumnya, pada Kamis lalu, RSF mengumumkan kesediaannya untuk menerima gencatan senjata kemanusiaan yang diusulkan oleh kelompok mediator pimpinan AS, yang dikenal sebagai Quad.
Namun, militer Sudan menyatakan hanya akan menyetujui usulan tersebut jika RSF menarik pasukannya dari wilayah sipil dan menyerahkan senjatanya.

Konflik bersenjata di Sudan yang pecah sejak April 2023 telah mempertemukan dua faksi utama: pasukan pemerintah di bawah pimpinan Abdel Fattah al-Burhan dan pasukan RSF yang dipimpin Mohammed Hamdan Daglo (Hemeti).

Perang tersebut telah menewaskan puluhan ribu orang, memaksa jutaan warga mengungsi, dan menciptakan krisis pengungsian dan kelaparan terbesar di dunia, menurut laporan PBB. (Bahry)

Sumber: TNA

Suriah Gagalkan Dua Upaya Pembunuhan ISIS Terhadap Presiden Ahmed al-Sharaa

DAMASKUS (jurnalislam.com)– Pemerintah Suriah dilaporkan telah menggagalkan dua rencana terpisah dari kelompok ISIS untuk membunuh Presiden Ahmed al-Sharaa. Dua pejabat senior yang dikutip oleh kantor berita Reuters pada Senin (10/11/2025) mengatakan upaya tersebut menegaskan ancaman nyata yang dihadapi Sharaa di tengah usahanya mengonsolidasikan kekuasaan di Suriah yang telah dilanda perang selama 14 tahun.

Menurut sumber keamanan Suriah dan pejabat senior Timur Tengah, rencana pembunuhan itu digagalkan dalam beberapa bulan terakhir. Dalam salah satu kasus, rencana ISIS dikaitkan dengan agenda resmi Presiden Sharaa, namun pejabat enggan mengungkap detailnya karena alasan keamanan.

Kementerian Informasi Suriah belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut.

𝗨𝗽𝗮𝘆𝗮 𝗣𝗲𝗺𝗯𝘂𝗻𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗲𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗲𝗿𝘁𝗲𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗧𝗿𝘂𝗺𝗽

Laporan ini muncul ketika Suriah bersiap bergabung dengan koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat (AS) untuk memerangi ISIS. Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu Sharaa di Gedung Putih pada Senin, dalam pertemuan bersejarah yang menjadi kali pertama seorang kepala negara Suriah diterima secara resmi di Washington.

Ahmed al-Sharaa, yang naik ke tampuk kekuasaan pada Desember tahun lalu setelah pasukan Islamis yang dipimpinnya menggulingkan rezim Bashar al-Assad, berusaha menampilkan diri sebagai pemimpin moderat. Ia berharap pertemuannya dengan Trump dapat membuka dukungan internasional bagi rekonstruksi dan rehabilitasi Suriah.

Langkah Suriah untuk bergabung dalam koalisi anti-ISIS juga menandai perubahan haluan besar dari orientasi lama Damaskus yang dekat dengan Rusia dan Iran menuju hubungan yang lebih akrab dengan blok Barat dan negara-negara Arab.

𝗞𝗮𝗺𝗽𝗮𝗻𝘆𝗲 𝗡𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹 𝗠𝗲𝗹𝗮𝘄𝗮𝗻 𝗜𝗦𝗜𝗦

Akhir pekan lalu, Kementerian Dalam Negeri Suriah meluncurkan operasi nasional memburu sel-sel ISIS di berbagai wilayah, yang menghasilkan penangkapan lebih dari 70 orang tersangka.

Seorang pejabat keamanan senior mengatakan operasi itu didasarkan pada informasi intelijen bahwa ISIS tengah menyiapkan serangan terhadap pemerintah dan kelompok minoritas. Ia menambahkan bahwa langkah ini sekaligus menunjukkan kemampuan intelijen Suriah menembus jaringan ISIS di dalam negeri. (Bahry)

Sumber: TNA

68 Orang Keluarga Besar Yayasan Nur Hidayah Surakarta Berangkat Umroh

SOLO (jurnalislam.com)- “Alhamdulillah Yayasan Nur Hidayah Surakarta tahun ini kembali diijinkan untuk memberangkatkan pegawai untuk melaksanakan Ibadah Umroh. Jamaah yang berangkat tahun ini paket komplit. Dari Dewan Pembina, Dewan Pengawas, Dewan Pengurus, Kepala Sekolah, guru, sampai pegawai semua ada. Sebagian juga berangkat bersama keluarganya. Total semuanya ada 68 orang. Alhamdulillah kita bersyukur semua ini atas kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala,”

Demikian disampaikan Ketua Yayasan Nur Hidayah Surakarta Ustadz H. Heri Sucitro, S.Pd. menjelang pemberangkatan jamaah umroh di Bandara Adi Soemarmo Solo, Selasa (11/11/2025). Beliau juga menyampaikan harapannya.

“Dengan pelaksanaan ibadah umroh bersama ini, kami berharap ukhuwah di antara pegawai semakin bertambah kuat. Kami selalu berharap hadirnya pertolongan Allah Ta’ala untuk kesuksesan perjuangan Yayasan Nur Hidayah Surakarta,” terangnya.

Tampak keluarga, pengurus dan pegawai yang lain turut mengantar keberangkatan jamaah di Bandara Adi Soemarmo. Suasana haru dan bahagia terlihat menyelimuti momen kebersamaan tersebut hingga waktu keberangkatan tiba. Mereka tampak saling mendoakan dan melepas jamaah dengan sumringah.

Dari Bandara King Abdul Azis Jeddah jamaah dijadwalkan ziarah ke Madinah dan menginap selama tiga hari. Selanjutnya jamaah akan melaksanakan rukun umroh dan tinggal di Mekkan selama 5 hari. Selain beribadah di Masjidil Haram juga diagendakan mengunjungi beberapa situs sejarah untuk napak tilas jejak perjuangan Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam dan para Sahabat. Selama umroh jamaah dibimbing oleh muthowif dari biro umroh SHU Baitullah.

Masya Allah, semoga Allah Ta’ala memberikan kelancaran dalam menjalankan ibadah, kesehatan, dan keselamatan hingga kembali ke tanah air. Aamiin.