Kalau Bukan Jihad Apalagi? Bakti Santri Untuk Negeri

Budi Eko Prasetiya, SS
Manajer Griya Qur’an Al Hafizh Jember

Peringatan hari santri 2023 membawa tema “Jihad Santri untuk kejayaan negeri“. Tema Jihad Santri Jayakan Negeri diusung Kementerian agama untuk mengajak para santri berjuang membangun kejayaan negeri dengan semangat jihad.

Momentum ini perlu disyukuri sebagai bentuk pengakuan dan  apresiasi negara kepada jasa perjuangan dan pengorbanan para ulama dalam memobilisir rakyat Indonesia dan kaum santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Namun demikian, ini bukan alasan untuk berpuas diri dengan sekedar membanggakan sejarah lalu berdiam diri tanpa berusaha meneruskan perjuangan para pendahulu kita.

Al-Quran mengingatkan, _”Mereka itu adalah umat yang telah berlalu, bagi mereka pahala perbuatan mereka dan bagi kalian hasil jerih payah kalian. Kalian tidak akan ditanya tentang apa yang mereka kerjakan.”_  QS. Al-Baqarah: 134.

Sebagai generasi pewaris para ulama, kita wajib meneladani spirit jihad dan pengorbanan yang telah dicontohkan untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan dan menjaga kemuliaan agama. Yang selanjutnya ditransformasikan menjadi kiprah nyata yang bermanfaat luas sesuai potensi kebaikan yang telah Allah berikan.

Santri identik dengan jihad. Kita semua tahu bagaimana dahulu ulama dan santri berjuang melawan penjajah. Penuh dengan pengorbanan, tangisan dan darah. Hidup Mulia atau Mati Syahid !

Resolusi Jihad bukanlah slogan kosong. Ia berhasil menyalakan bara semangat di hati para santri yang khusyu’ dalam khidmat keilmuan di pesantren, lalu bertransformasi menjadi pejuang. Dengan azzam yang kuat, mereka meninggalkan halaman pesantren, menggantikan buku-buku dengan senjata, dan mengubah doa-doa menjadi gemuruh pekik perjuangan.

Semangat jihad santri tetap menjadi obor yang menerangi perjalanan bangsa. Di tengah derasnya arus globalisasi, santri tetap berdiri kokoh, menjadikan jihad sebagai landasan untuk mengisi kemerdekaan. Merefleksi tema Hari Santri tahun ini, kita diajak untuk mengambil inspirasi dari kiprah santri. Mereka telah memberikan contoh konkret bagaimana semangat jihad diwujudkan dalam bentuk kontribusi nyata bagi kemajuan negeri.

Sebagai generasi saat ini dan yang akan datang, kita memiliki tanggung jawab moral untuk melanjutkan estafet perjuangan santri. “Kalau Bukan Jihad Apalagi?!”

Kemarau Panjang, Warga Kota Cilegon Gelar Shalat Istisqa Minta Hujan

CILEGON (jurnalislam.com)- Musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia membuat kesulitan dan kekhwatiran warga, termasuk di Kota Cilegon Banten. Di beberapa wilayah di sekitar Kota Cilegon bahkan sangat sulit untuk mendapatkan air bersih.

Atas dasar itulah sejumlah warga di lapangan Arga Baja Pura, Masjid Ar Rohmah, Perumahan Arga Baja Pura, Gerogol, Cilegon, Banten melakukan shalat istisqa berdoa agar Alloh Subhanahu wa Ta’ala segera menurunkan hujan pada Ahad, (22/10/2023).

Ketua DKM Masjid Ar Rohmah Zamhari mengatakan bahwa di wilayahnya saat ini sudah sangat kesulitan untuk mendapatkan air, terutama kebutuhan air bersih.

“Kegiatan ini sebagai doa dan ikhtiar kita agar Alloh Subhanahu wa Ta’ala segera menurunkan hujan di Kota Cilegon khususnya, Indonesia umumnya. Di beberapa Kota Cilegon bahkan warga sangat kesulitan air bersih untuk kegiatan sehari hari,” katanya.

“Untuk warga yang berada di sekitar area Masjid Ar Rohmah juga stock air semakin menipis, tidak menutup kemungkinan kalau kemarau terus berkepanjangan maka air akan habis. Kami pun menghimbau kepada seluruh warga agar lebih hemat dan bijak lagi dalam penggunaan air untuk kebutuhan sehari-hari,” tambah Zamhari.

Sementara imam dan khatib shalat Istisqa Ustaz Ahmad Slamet Ibnu Syam dalam khutbahnya mengajak masyarakat untuk bertaubat atas dosa dan kemaksiatan yang pernah dilakukan.

”Sebelum melaksanakan Shalat Istisqa ini, marilah kita bertaubat kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala atas segala dosa dan kemaksiatan yang telah diperbuat karena satu dari sekian ciri orang beriman Ketika ditimpa kesusahan dia beristighfar, bertobat memohon ampunan kepada-Nya,” ungkapnya.

“Shalat Istisqa adalah merupakan Sunnah Rasulullah dan pada jaman sahabat pun menurut beberapa riwayat Ketika kemarau melanda melakukan shalat istisqa. Kalau bukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada siapa lagi kita meminta? Dan Allah lah sebaik baik tempat meminta,” pungkasnya.

Kegiatan Shalat Istisqa ini diikuti oleh puluhan warga sekitar Komplek Masjid Ar Rohmah dan dari luar komplek Masjid.

“Semoga dengan dilaksanakan shalat Istisqa ini Allah Subhanahu wa Ta’ala segera menurunkan hujan dan membawa keberkahan buat kita semua,” terang salah satu warga Edi Pur.

Shalat Istisqa ini mulai pada jam 07.00 dan selesai jam 08.00 WIB.

Reporter: Jajat Sudrajat

9 Warga Terluka Akibat Serangan Tank Israel yang Menyasar Perbatasan Mesir

GAZA (jurnalislam.com)- Militer Israel mengatakan pada Ahad (22/10/2023) bahwa salah satu tanknya “secara tidak sengaja menembak dan mengenai sebuah pos Mesir” di dekat perbatasan dengan Gaza saat tentara Israel membombardir wilayah perbatasan tersebut.

Dilaporkan Midle East Eye, 9 warga Mesir terluka akibat serangan Israel di wilayah Mesir dekat perbatasan Gaza, yang juga menghancurkan menara pengawas Mesir. Tentara Israel kemudian mengonfirmasi bahwa mereka menembak ke udara dan insiden itu adalah sebuah kecelakaan.

“Militer Israel menyatakan kesedihan atas insiden tersebut” di dekat daerah Kerem Shalom, terang Israel dalam sebuah pernyataannya.

“Insiden tersebut sedang diselidiki dan rinciannya sedang ditinjau,” tambah pernyataan itu.

Sementara itu, tentara Mesir membenarkan bahwa Israel “segera menyatakan penyesalannya atas insiden yang tidak disengaja tersebut dan penyelidikan sedang dilakukan”.

Media Mesir menegaskan serangan Israel tidak akan mengganggu aliran bantuan ke Gaza, terang para saksi.

Sejak Sabtu, 37 truk yang membawa pasokan penting telah menyeberang ke Gaza melalui pos perbatasan Rafah dengan Mesir.

PBB memperkirakan sekitar 100 truk per hari dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan Gaza.

Sumber: ndtv, MEE

Reporter: Bahri

Air Mata Palestina, Air Mata Kita

Serangan Israel terakhir ini terhadap rumah sakit Baptis di kota Gaza, seketika menewaskan sekitar 500 orang lebih dan menghampiri 1000 orang yang terluka. Bahkan data dari kementerian kesehatan Palestina hingga hari ini korban yang berada di Jalur Gaza sekitar 3.785 orang dan korban luka 12.500 orang.

Menjadi sebuah peristiwa yang mengenaskan, merengguk nyawa anak-anak yang tak bersalah, meruntuhkan gedung-gedung yang kokoh, mensirnakan tawa dan riang gembira anak-anak gaza dengan kesedihan, tangisan, ketakutan dan kepedihan.

Tangisan keras yang merengguk nyawa orang tua dan keluarganya, simpah darah yang tak ada langkah kaki lepas darinya, bahkan tubuh manusia menjadi hancur berkeping akibat bom dahsyat dari zionis laknatullah.

Dalam sebuah peristiwa, terlihat seorang gadis kecil berdiri tegap di depan ribuan warga Palestina dengan mendendangkan syair Abdullah al-Tamimi. Suara gadis mungil itu tegas dan lantang, tapi tidak berteriak. Dia seperti merintih tapi tidak menangis. Suaranya keras tapi tidak marah. Dia bertanya tapi tak perlu jawaban. Tampaknya misi syair itu disampaikan untuk seluruh umat Islam. Inilah penggalan syairnya.

“Pinjamkan kepada kami…pinjamkan kepada kami senjata untuk kekebasan al-Aqsa. Wahai pemuda Islam…Bukankah kita saudara seagama? Apakah menyakitkanmu ketika kami di embargo? Apakah menggembirakanmu jika kami binasa? Apakah menggembirakanmu jika kami lapar? Apakah kalian harus menunggu sampai keberadaan masjid al-Aqsa dihilangkan, dan kita semua hilang?

Wahai saudaraku seagama, beritahu kami kapan kalian marah? Apakah ketika kehormatan kita dirobek-robek? Apakah ketika masjid kita dihancurkan? Apakah ketika harga diri kita dibunuh? Apakah ketika kehormatan kita direndahkan?

Di saat al-Quds marah, kamu juga belum marah. Kapan kamu marah? Jika karena Allah, harga diri, karena Islam kamu tidak marah. Maka beritahu kami kapan kamu marah?”

Ketika menyimak dan menelah syair itu, dengan penuh kesadaran mestinya kita terhentak. Mengapa orang Palestina minta dipinjamkan senjata. Tidakkah kita mengetahui bahwa mereka memiliki rudal-rudal canggih yang dikebambangkan oleh ilmuwan-ilmuwan mereka sendiri? Nampaknya bukan demikian maksudnya. Mereka merasa sendiri dan tidak banyak manusia yang membela mereka.

Namun kini suasana itu berbeda, banyak Negara yang telah mengecam israel. Kaum terpelajar, non muslim dan para pemimpin negara, hati nurani kemanusiaan mereka mendukung kemerdekaan Palestina dan mengutuk keras kekejaman israel kepada rakyat Palestina. Nampaknya, jika rasa kemanusiaan itulah motif utamanya untuk mendukung Palestina, maka rasa iman dalam diri seorang muslim harus lebih membara untuk mendukung Palestina.

Nampaknya, permintaan syair itu untuk meminjam senjata bukanlah rudal dan tank untuk mempertahankan Al-Aqsa, tapi pembelaan mereka secara diplomasi dan negosiator internasional. Bahkan perkembangan dunia digital hari ini memungkinkan kita untuk bersuara lebih lantang lagi dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Ketika syair itu memilih diksi ‘saudara seagama’ untuk menuangkan rasa kebersamaan, kita menjadi seperti bersalah. Sebab ciri seorang mukmin menurut syariah adalah berukhuwwah dan saling marasakan, menguatkan, mendukung bagaikan satu anggota tubuh.

Tapi mengapa, ketika saudara kita di Palestina diembargo, sehingga kelaparan dan dibunuh dengan senjata semena-mena, bahkan satu ledakan bom menewaskan 500 orang, dan kita tidak ikut merasakan? Penyair itu menuduh kita ‘persaudaraan seagama macam apa yang kalian miliki ini?’ Jangan-jangan kita baru sekadar berislam dan hati kita belum beriman.

Kata-kata “…beritahu kami kapan kalian marah? sungguh merupakan kata-kata yang tajam menusuk lubuk hati kita. Seakan penyair ini berkata ‘kami sudah alami seperti ini kalian belum juga marah? Kapan? Mungkin jika dilanjutkan akan berbunyi seperti ini: ‘jika selama ini kalian merasa telah berjuang lillah, lil Islam, telah menjaga Islam dan memperjuangkan agama, tapi tidak marah melihat saudaramu ini ditindas dan dihabisi seperti ini, berarti kalian tidak benar-benar lillah dan tidak sungguh-sungguh lil Islam. Syair ini begitu indah namun menyakitkan hati kita, karena penderitaan mereka lebih sakit dan pedih dari sekedar ungkapan dalam bait-bait syair.

Jika kita masih belum tersentuh, mari kita bayangkan. Seakan telunjuk sang penyair atau gadis cilik yang melantunkan syair itu mengarah ke muka kita dan suaranya memekik di telinga kita. Kata-katanya sekan menjadi seperti ini, ‘Wahai saudaraku seagama, apakah anda baru akan marah ketika kehormatan anda atau keluarga anda dilecehkan? Setelah masjid anda dirobohkan? Setelah kemanusiaan anda diinjak-injak?’ Mari kita bayangkan, sadari, rasakan dan hayatai dalam hati sanubari kita.

Jika bayangan di atas masih belum menyentuh hati dan menggetarkan jiwa kita dan kita juga belum marah, maka kita penting merenungi sabda Nabi, “Barangsiapa tidak peduli dengan urusan umat Islam, maka ida bukan golongan Islam,” (al-Hadits). Atau sindiran Buya Hamka, “Jika agamamu dihina dan kamu tidak marah, maka ganti bajumu dengan kain kafan,”. Artinya, jika anda Muslim dan Mukmin tapi tidak mempunyai ghirah diniyyah, maka kematian adalah lebih baik bagi anda.

Sejarah telah mencatat, bahwa Bumi Syam selalu menjadi penerang antara haq dan kebatilan, setiap zaman para pengusung kebatilan senantisa melakukan berbagai bentuk kedzalimannya, baik dengan penjajahan, pembunuhan dan penindasan. Setiap zaman itu pula, tetap Allah pilih golongan orang-orang yang tampil dengan penuh keberanian melawan setiap kebatilan dan kedzaliman bagi bangsa Palestina.

Imam Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah menceritakan, “Serangan-serangan pasukan Salib semakin agresif sehingga berhasil menguasai wilayah yang sangat luas. Pada tahun 491 H/1097 M, mereka menguasai Anthakiyah dan terus melakukan serbuan sehingga berhasil merebut Baitul Maqdis (Palestina) pada tahun 492 H/1098 M. Di setiap kota dan desa yang dilalui, pasukan Salib melakukan pembantaian terhadap penduduk dengan cara sangat keji. Kaki kuda-kuda mereka berlumuran darah korban-korban pembantaian yang terdiri dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Semua peristiwa ini terjadi di saat mayoritas masyarakat Muslim terlena dengan pertikaian dan perselisihan antara mereka sendiri. Para sultan dan penguasa tidak melakukan tindakan apapun untuk menghentikan invasi pasukan Salib yang terus meluas,” (al-Bidayah wa an-Nihayah, vol.12, hlm, 157).

Beberapa buku sejarah Islam pada periode tersebut mencatat gambaran-gambaran ironis tentang sikap para penguasa dan masyarakat Muslim yang lebih mementingkan urusan pribadi daripada berusaha menghadapi bahaya yang sedang mengancam. Beberapa gambaran peristiwa dicatat oleh Ibnu al-Jauzi dalam buku sejarahnya, al-Muntazham, juga oleh Ibnu al-Atsir dan sejarawan lainnya, yaitu ketika pasukan Salib menguasai Ramallah, Quds, dan ‘Asqalan. Mereka membunuh penduduk kota-kota tersebut dan membantai sekitar 70.000 (tujuh puluh ribu) kaum Muslimin di kawasan al-Aqsha yang meliputi masyarakat biasa, ulama, pelajar, ahli ibadah, dan ahli zuhud.” (Ibnu Khaldun, Diwan al-Mubtada ‘wa al-Khabar, vol. 5, hlm. 2).

Kenyataan pahit ini mendorong Abu al-Muzhaffar al-Abiwardi untuk melantungkan syair, sebagaimana gadis mungil di atas mendendamkan syair atas kondisi tragis yang dialaminya, syair itu berbunyi:
“Darah kami bercampur air mata yang tercucur Tidak ada lagi bagian tubuh yang tak berbalut luka. Senjata yang paling rapuh adalah air mata yang berderai Ketika perang semakin memanas dengan pedang yang saling beradu.

Alangkah malangnya putra-putra Islam.. Di saat sekian bahaya besar mengancam anak keturunanmu.. Bagaimana mungkin mata ini bisa tidur lelap Ketika didera berbagai penderitaan yang membangunkan setiap orang yang tidur.

Saudara-saudaramu di Syam. Tidur di atas bantalan pembantaian atau di dalam perut binatang-binatang buas. Tentara Eropa telah membuat mereka terhina, sementara engkau terus bergelimang nikmat dan hanya bisa bersikap pasrah.

Jika ada orang yang menghindari perang-perang itu, justru akan menggigit jari di kemudian hari. Jasad suci yang terkubur di Thaibah Nyaris memanggil dengan suara lantang, “Wahai keluarga Hasyim!” Aku melihat umatku enggan menyerbu musuh, sedangkan sendi-sendi agama begitu rapuh.

Mereka menghindari api karena takut mati, tanpa menganggap kehinaan sebagai akibat yang pasti. Apakah pembesar-pembesar Arab rela dengan kehinaan, sehingga membuat seluruh masyarakat menjadi terhina pula.

Jika memang mereka enggan bangkit atas dasar menolong agama. Tidakkah mereka bangkit karena kecemburuan terhadap istri dan keluarga!. Jika memang mereka tidak peduli dengan pahala, ketika terjun di medan laga. Tidakkah mereka mau peduli karena harta rampasan di depan mata.

****

Sebagai bangsa yang telah merdeka selama 78 tahun dan dengan jumlah penduduk yang mayoritas muslim, bangsa Indonesia memiliki catatan history yang erat dan kuat dengan Palestina, utamanya dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Syaikh Muhammad Amin Husaini, Mufti Besar Palestina, bersama KH Agus Salim. Setahun sebelum Indonesia merdeka, pada 6 September 1944, Syekh Amin memberikan dukungan secara terbuka bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia di radio. Bukan sekedar itu, Palestina juga dilaporkan ikut melobi sejumlah negara-negara di Timur Tengah untuk mengakui kemerdekaan Indonesia. Yang mana pada 22 Maret 1946 Mesir menyusul memberikan pengakuan kemerdekaan Indonesia, sebagaimana dikutip dari buku Indonesia, Islam, and Democracy yang ditulis oleh Azyumardi Azra.

Dukungan yang diberikan oleh Palestina tidak hanya bersifat diplomatis, tetapi juga materi. Hal ini dilakukan oleh seorang pengusaha Palestina yang kaya raya dan sangat simpati terhadap perjuangan Indonesia, Muhammad Ali Taher. Dengan tulus, ia menyerahkan seluruh uangnya yang berada di Bank Arabia kepada Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, M. Zein Hassan. Ia berkata, “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia!” Dukungan tersebut disampaikan tanpa mengharapkan imbalan atau tanda bukti penerimaan.

Sehingga tak heran, dalam UUD 1945 ditegaskan, “Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Begitulah pembukaan UUD 45, pernyataan awal cita-cita luhur Republik Indonesia, yang paham betul. Maka siapapun yang mendukung penjajah, dia tak layak menjadi Indonesia, bahkan bertentangan dengan fitrah manusia dan martabatnya sebagai seorang muslim.

Faktanya, Israel itu penjajah, pendatang haram yang mengambil paksa tanah Palestina, membunuhi penduduk aslinya sejak Inggris memberinya ruang di tahun 1920. Entah sudah berapa ribu nyawa merenggang dibantai dengan sadis, baik dipertunjukkan terbuka, juga tertutup media dan berita hingga saat ini.

Maka, air mata palestina adalah air mata kita. Hanya binatang dan manusia dengan level terendah yang diam dengan semua penjajahan, pembantaian dan kebiadaban Israel pada rakyat Palestina dan dunia, tapi menggonggong dan menyalak nyaring seolah Israel yang menjadi korban ketika rakyat Palestina melawan penjajahan dan pendudukan tanah dan hidup mereka.

Maka perlawanan Hamas dan rakyat Palestina pada saat ini adalah sebuah keberanian dan kebenaran, didasarkan cita-cita luhur ingin merdeka, mempertahankan tanah, harga diri dan agamanya. Sebagaimana Indonesia dulu, dengan penuh upaya, kerja keras dan pertolongan Allah kita dapat meraih kemerdekaan bagi bangsa kita.

Semoga tulisan ini menjadi renungan bagi kita, bahwa peperangan yang terjadi di Palestina adalah penegasan bagi dua golongan, antara haq dan batil. Maka sepatutnya kita memasukkan diri kita dalam golongan yang memperjuangkan kebenaran, sebab kita memiliki banyak dimensi yang menghubungkan diri kita dengan Palestina, kita bersaudara secara agama, amanat bangsa kita, dan rasa kemanusiaan atar sesama manusia.

Semoga Allah kuatkan saudara-saudara kita di Palestina, dan bagi kita, semampu mungkin membantu saudara-saudara kita di sana, meski lewat doa semata dan berbagai upaya yang lainnya. Mohon bacakan doa ini bagi para pejuang Palestina. اللّهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ

Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd., M.Pd., C.ET
(Aktivis Media Islam, Peneliti Madani Institute dan Kandidat Doktor UIN Alauddin Makassar)

Puluhan Truk Bantuan Kemanusiaan Mulai Masuk ke Gaza

PALESTINA (jurnalislam.com)- Konvoi 20 truk membawa pasokan medis, makanan, dan air melewati Penyeberangan Rafah menuju Gaza pada hari Sabtu (21/0/2023), dan bertambah 14 truk lagi menyusul masuk pada hari Ahad (22/10/2023).

Menurut David Satterfield, Utusan Khusus untuk Masalah Kemanusiaan Timur Tengah, bantuan tersebut akan terus mengalir setiap hari.

Tujuannya adalah agar “aliran bantuan terus mengalir” ke Gaza, kata Satterfield di acara “Inside with Jen Psaki” di MSNBC.

“Potensi invasi darat Israel ke Gaza dikhawatirkan juga dapat mempersulit pengiriman bantuan,” sambungnya.

Ada juga kekhawatiran mengenai akses warga Palestina terhadap air bersih, dan Satterfield mengatakan salah satu dari dua jalur pipa utama telah dipulihkan dan mereka sedang mengerjakan jalur lainnya.

Selain pengiriman bantuan, Satterfield juga berupaya mencari cara agar warga Amerika dan warga asing di Gaza dapat keluar meninggalkan Gaza.

Sumber: CNBC

Reporter: Bahri

Kecam Penjajahan Israel, Ribuan Warga Malang Gelar Aksi Damai Dukung Palestina

MALANG (jurnalislam.com)- Masyarakat Muslim Malang Raya Cinta Indonesia (M3RCI) menggelar aksi damai di depan kantor DPRD kota Malang, jl. Tugu, kec. Klojen, pada Jum’at siang (20/10/2023), guna mengekspresikan dukungan penuh terhadap perjuangan rakyat Palestina dalam merebut kembali tanah mereka dari pendudukan Israel.

Peserta memulai aksinya dengan longmarch dari titik awal di masjid Jendral Ahmad Yani kota Malang menuju bundaran Alun-alun Tugu Malang.

Tampak juga dalam aksinya peserta mengibarkan bendera Indonesia dan bendera Palestina, serta membentangkan spanduk dengan berbagai tulisan seperti ‘Israel The Real Terrorist’, ‘We Stand with Palestine’.

Dalam sebuah pernyataan sikap yang dibacakan orator aksi, M3RCI mengutuk segala bentuk kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh Israel terhadap rakyat Palestina.

“Mengecam dengan tegas serangan terhadap rumah sakit Indonesia Merc dan penggunaan senjata kimia oleh Israel, yang merupakan pelanggaran hukum internasional dan hak asasi manusia yang serius,” ungkapnya.

Lebih lanjut dalam pernyataan mereka, M3RCI mendesak agar tindakan tegas diambil dan sanksi diberlakukan terhadap Israel sebagai tanggapan terhadap tindakan mereka yang melanggar hukum internasional.

“Berharap agar komunitas umat Islam secara bersatu menyuarakan pendapatnya dan mengajak pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah-langkah yang tegas, terlebih dalam memastikan akses bantuan kemanusiaan dengan lancar ke Jalur Gaza,” pungkasnya.

Aksi ini berjalan dengan tertib dan dihadiri ribuan umat islam dari berbagai elemen seperti Muhammadiyah, Jamaah Ansharu Syariah, Hijrah United, Pondok Pesantren Ar Rohmah Hidayatullah Malang dan komunitas lainnya.

Reporter: Bahri

Cina Mengutuk Serangan Israel Terhadap Rumah Sakit Gaza

BEIJING (jurnalislam) – Cina pada hari Rabu (18/10/2023) mengeluarkan pernyataan mengutuk keras serangan Israel terhadap Rumah Sakit Baptis Al-Ahli di Gaza tengah, dan mengatakan bahwa mereka terkejut dengan insiden tersebut.

“Kami berduka atas para korban dan menyampaikan simpati kepada mereka yang terluka,” kata Kementerian Luar Negeri setelah serangan Selasa malam yang menewaskan ratusan orang.

Lebih lanjut ia juga menyerukan “segera gencatan senjata dan penghentian permusuhan,” Beijing menyerukan “setiap upaya yang mungkin dilakukan untuk melindungi warga sipil dan mencegah bencana kemanusiaan yang lebih buruk.”

Dilaporkan lebih dari 500 orang terbunuh dalam serangan udara Israel di Rumah Sakit Baptis Al-Ahli pada Selasa malam, menurut pejabat Palestina di daerah Gaza. Namun Israel masih membantah bertanggung jawab atas serangan udara tersebut.

Rekaman di media sosial menunjukkan mayat-mayat berserakan di halaman rumah sakit.

Menurut seorang reporter Anadolu, ribuan warga Palestina berada di rumah sakit ketika gedung tersebut dibombardir.

Sumber: Anadolu Ajansi

Reporter: Bahri

Rusia Tantang Israel Berikan Bukti Tidak Terlibat Peledakan Rumah Sakit di Gaza

MOSKOW (jurnalislam.com)- Rusia menilai bahwa ledakan di kompleks rumah sakit Gaza yang dilaporkan para pejabat kesehatan setempat telah menewaskan ratusan warga sipil adalah bentuk “kejahatan” dan “tindakan dehumanisasi”.

“Mengenai penilaian kami, kami tentu saja mengklasifikasikan tindakan tersebut sebagai kejahatan, sebagai tindakan dehumanisasi,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova, pada Rabu (18/10/2023).

Dia mengatakan bahwa Rusia selama ini mengikuti pernyataan resmi dari Israel, yang menyangkal keterlibatannya, dan sekarang mereka perlu memberikan bukti.

“Jika ada niat serius untuk membuktikan bahwa mereka tidak terlibat dan tidak bersalah, maka mereka tidak hanya perlu memberikan komentar di media dan jejaring sosial, namun juga memberikan fakta,” katanya.

“Tolong berikan gambar satelit, dan alangkah baiknya jika mitra Amerika memberikannya, yang menunjukkan geografi penerbangan, dengan semua rincian yang tersedia saat itu,” tambahnya.

Sumber: Reuters

Reporter: Bahri

Ansharu Syariah: Pembelaan Terhadap Palestina Sesuai UUD 1945

JAKARTA (jurnalislam.com)- Pembelaan terhadap rakyat Palestina disebut Juru Bicara Jamaah Ansharu Syariah Ustaz Abu Al Iz sudah sesuai dengan pembukaan Undang Undang Dasar (UUD)1945.

Ia pun mendesak Pemerintah untuk bersikap tegas terhadap ‘Israel’ dan memberikan bantuan untuk rakyat Palestina.

“Meminta pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah nyata dan tegas dalam
membantu Bangsa Palestina memperjuangkan haknya untuk menjadi bangsa yang merdeka,” katanya dalam keterangan yang diterima jurnis pada Selasa, (10/10/2023).

“Seperti yang tertulis dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 “Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan,” imbuhnya.

Menurutnya, penjajahan yang dilakukan oleh ‘Israel’ terhadap bangsa Palestina harus dihentikan, untuk itu ia berharap dunia internasional untuk ikut memperjuangkan kemerdekaan di Palestina.

“Rakyat Palestina berhak mempertahankan negerinya yang terus ditekan dan dijajah
oleh zionis Israel, bahkan umat Islam di dunia berkewajiban menjaga Masjidil Aqsho
dari penguasaan zionis Israel,” paparnya.

“Meminta PBB untuk mendesak Israel agar membuka blokade totalnya terhadap
wilayah Palestina,” tambahnya.

Selain itu, ia menghimbau negara negara Arab untuk memberikan bantuan kemanusiaan untuk korban serangan ‘Israel’ terutama di wilayah Gaza, Palestina.

“Bangsa-bangsa Arab yang berbatasan dengan Palestina untuk lebih tegas dalam membantu Bangsa Palestina, jangan ambigu dengan pernyataan-pernyataannya yang malah terkesan netral,” pungkasnya.

Reporter: Jono Riyanto

Ansharu Syariah Himbau Umat Islam Gelar Qunut Nazilah Doakan Rakyat Palestina

JAKARTA (jurnalislam.com)- Juru Bicara Jamaah Ansharu Syariah Ustaz Abu Al Iz menghimbau umat Islam untuk melakukan qunut nazilah untuk keselamatan rakyat Gaza, Palestina, yang saat ini terus dibombardir oleh tentara ‘Israel’. 

“Mengimbau kepada seluruh umat Islam untuk melaksanakan Qunut Nazilah dan mendoakan saudara kita di Palestina,” katanya dalam keterangan yang diterima jurnalislam.com pada Selasa, (10/10/10).

Dilansir Reuters, Menteri Kesehatan Palestina, Mai al-Kaila, data per Rabu (18/10/2023), ada 3.300 rakyat Palestina terbunuh dan lebih dari 13 ribu orang luka-luka sejak perang pecah pada 7 Oktober lalu.

Ustaz Abu Al Iz juga menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh pejuang Hamas adalah bentuk upaya untuk meraih kemerdekaan Palestina yang selama ini telah ditindas dan dijajah oleh ‘Israel’.

“Serangan Hamas ke Israel adalah bentuk pembelaan diri dan sah secara syar’i
maupun hukum internasional. Terlebih lagi, Operasi Badai Al-Aqsa berjalan sangat
terukur, efektif, dan efisien. Minimnya jumlah korban dari sipil Israel adalah bukti
keberhasilan operasi tersebut,” ungkapnya.

“Bangsa Palestina telah mengalami penderitaan panjang semenjak diduduki oleh
Israel dari tahun 1967. Wilayahnya diblokade, tanah-tanah mereka dirampas, penduduknya ditangkapi, diculik, disiksa, dipenjara tanpa peradilan hingga dibunuh,” imbuhnya.

Ia juga menghimbau umat Islam untuk ikut membantu rakyat Palestina sesuai dengan kemampuan.

“Rakyat Palestina berhak mempertahankan negerinya yang terus ditekan dan dijajah
oleh zionis Israel, bahkan umat Islam di dunia berkewajiban menjaga Masjidil Aqsho
dari penguasaan zionis Israel,” pungkasnya.

Reporter: Iwan Kurniawan