Buku Move On, Kisah Hijrah Anak-anak Muda Bandung

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Tidak bisa dipungkiri, selain terkenal dengan kreativitas anak mudanya, musik, pakaian dan mode, Kota Bandung juga terkenal dengan gangster dan klub motornya yang kerap membuat keributan di jalanan.

Tak jarang juga di antara gangster di Kota Kembang tersebut terjadi perkelahian higga menimbulkan korban. Permusuhan antar gangster seperti sudah mendarah daging yang benang kusutnya sulit diurai.

Sebut misalnya yag terjadi pada geng motor yang cukup terkenal dan besar di Kota Bandung: XTC, GBR, Brigez dan Moonraker. Entah bagaimana awalnya, keempat geng motor tersebut saling bermusuhan satu dengan yang lainnya.

Namun, saat ini semuanya telah berubah. Keempat pimpinan geng tersebut telah mendeklarasikan perdamaian, bahkan mereka dan banyak anggotanya telah melakukan transformasi hidup.

Transformasi hidup yang mereka lakukan bukanlah mengubah hobi sehingga meninggalkan dunia motor dan jalanan. Justru perubahan mereka terjadi dalam masalah cara pandang dan gaya hidup.

Ya, mereka telah berhijrah. Kehidupan mereka yang awalnya jauh dari nilai-nilai positif, kini justru lebih dekat Islam dan selalu melakuan berbagai aksi kebaikan.

Istilah “Dulu di jalanan, sekarang di pengajian, dulu tauran sekarang kajian, dulu malak sekarang infaq, dulu ekstasi sekarang prestasi, dulu narkoba sekarang bekarya, dulu di penjara sekarang di musholla, dulu perusak sekarang penggerak” pun menjadi ciri khas dari kisah hijrah mereka.

Cover buku Move On

Oleh karenanya, hal itulah yang membuat seorang penulis dan juga anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU), Hilman Indrawan tertarik menulis buku berjudul Move On yang mengangkat kisah-kisah hijrah anak-anak gangster Bandung.

Bukah hanya itu, dalam bukunya, juga Hilman menulis kisah hijrah mereka yang berlatar belakang musisi dan atlet. Setidaknya, ada 20 kisah dia abadikan di dalam buku tersebut.

“Digambarkan dari kisah ini, berkisah dulu dan sekarang, makanya ada kata Move On yang artinya mereka harus move on dari masa lalu,” ungkap Hilman kepada INA News Agency (INA)—kantor berita yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu, Sabtu (10/11/2018).

Buku Move On ditulis, menurut Hilman, juga karena dia merasa resah atas sikap anak-anak sekolah yang menjadi anggota geng motor namun tidak mengikuti jejak para seniornya yang telah berhijrah.

Bahkan, kata Hilman, masih banyak dari kalangan remaja yang belum tahu bahwa para senior mereka di geng motor atau di dunia gangster telah berhijrah dan meninggalkan dunia gelap.

Oleh karenanya, kata Hilman, kerusuhan dan tawuran masih kerap dibuat di Bandung oleh para anggota geng motor yang para seniornya sendiri telah berhijrah, meskipun skalanya tidak sebegitu besar seperti dulu.

“Mereka gak tahu para seniornya telah berubah, bahwa group motor ini sudah membaik, maka saya ingin mempublikasikan kepada banyak orang, nih Brigez sudah berubah,” terang Hilman.

Hilman menuturkan bahwa fenomena dan gerakan hijrah di kalangan anak muda kota Bandung sangat penting dipublikasikan. Apalagi gerakan hirah di kota Bandung telah mengubah geng jalanan menjadi komunitas dakwah.

“Maka ketika saya ketemu dengan temen-temen geng motor yang sudah bertranformasi, mereka telah melakukan kebaikan, kebermanfaatan bagi masyarakat, maka saya tugasnya sebagai penulis, berjihad melalui tulisan. Saya hanya mempublikasikan kebaikan itu,” tutur Hilman.

Gerakan Hijrah juga, ungkap Hilman, telah membuat kondusif kota Bandung. Bandung yang sebelumnya menjadi kota tdak aman dan menakutkan, saat ini menjadi lebih kondusif.

“Ketika muncul gerakan hijrah, maka Bandung menjadi berubah drastis. Bandung yang dulunya ditakuti karena terkenal dengan geng motornya yang beringas, dengan pembegalan, tauran dan lain sebagainya,” ungkap Hilman. Di Pameran Buku Juara Braga Bandung pada Jumat (9/11/2018) itu juga telah diumumkan rencana peluncuran buku tersebut pada Desember 2018 mendatang.

Reporter: Nizar Malisy | INA

Gelar Aksi #WorldWithoutWalls, Komunitas Global Seru Tembok Zionis Diruntuhkan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dalam rangka memperingati Global Day of InterAction, sejumlah organisasi dan aktivis pembebasan Palestina menggelar kampanye bertajuk #WorldWithoutWalls di sejumlah negara, Jumat (9/11/2018).

Hari yang bertepatan dengan runtuhnya Tembok Berlin, yang juga mengakhiri ketegangan antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet pada Perang Dingin itu dijadikan simbol perlawanan komunitas internasional terhadap tembok Apartheid di Palestina.

Salah satu inisiator gerakan, Palestinian Cultural Organization Malaysia (PCOM) menjelaskan, tujuan digelarnya kampanye tersebut bermaksud untuk menyerukan pembebasan rakyat Palestina dari blokade Zionis. Khususnya di sejumlah wilayah terjajah seperti Tepi Barat dan Gaza.

“Tagar yang kami buat berupa #worldwithoutwalls menggambarkan nasib rakyat di Palestina dan di berbagai belahan dunia yang terkepung oleh kekuatan (penjajah) yang membatasi ruang gerak mereka,” ujar Ketua PCOM Muslim Imran kepada INA News Agency, Jumat (9/11/2018).

Instalasi tembok pemisah di Tepi Barat terjajah, Palestina, karya artis street art Banksy dipamerkan pada acara World Travel Market, di London, Rabu (6/11). Instalasi tersebut menghebohkan pengunjung karena untuk pertama kalinya Banksy memamerkan hasil karyanya pada pameran travel. FOTO: MEMO/Rebecca Stead

Muslim, aktivis asal Tepi Barat terjajah itu berharap Indonesia juga dapat turut serta dalam kampanye global #WorldWithoutWalls yang juga digelar di sejumlah negara.

Menurutnya, Indonesia memiliki suara yang cukup berpengaruh di tataran internasional, khususnya di Asia Tenggara. Terlebih, dengan sejarah perjuangan dalam mengusir penjajah, maka Indonesia seharusnya memiliki alasan kuat untuk turut serta menyuarakan pembebasan Palestina dari cengkeraman penjajah Zionis.

“Kami berharap Indonesia mendukung campaign ini dan juga ikut memperingati hari solidaritas internasional untuk Palestina bersama komunitas internasional,” ucap Muslim.

Dari benua Amerika di Meksiko, Argentina, dan AS, lalu ke Eropa di Berlin, London, Grenoble (Prancis), Brussels, beranjak ke Asia di Putrajaya, India dan Thailand, mereka menyuarakan diruntuhkannya tembok penghalang yang menyesakkan ruang gerak bangsa Palestina.

Seorang peserta memegang flyer berisi kampanye #WorldWihoutWalls, di Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin, Putrajaya, Malaysia, Jumat (9/11). FOTO: Dok. BDS Malaysia

Di pusat kota London, street artist yang dikenal dengan julukan Banksy secara mengejutkan menyertakan karyanya pada acara World Travel Market. Sontak instalasi tembok pemisah di Tepi Barat dengan listrasi dua bocah bersayap itu menghebohkan pengunjung.

Sementara di Argentina, personil grup Pink Floyd, Roger Waters, tampil pada festival yang digelar oleh BDS Argentina.

Aksi tidak selalu dilakukan dengan berdemonstrasi turun ke jalan. Tetapi bisa juga melalui literasi situasi dan ilmu yang benar mengenai negeri para Nabi tersebut.

Di Putrajaya, Malaysia, digelar pameran foto yang menampilkan dampak tembok Apartheid di Palestina. Di antaranya orang-orang yang terpisahkan dari sanak famili, serta anak-anak yang terhalangi pergi ke sekolah—karena bangunannya dibuldozer atau tak diizinkan melewati pos pemeriksaan. (INA)

Habib Rizieq : Banyak Pernyataan KBRI Tidak Sesuai Fakta

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Habib Rizieq Shihab membantah pernyataan Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, yang mengatakan bahwa Habib Rizieq dikeluarkan dari tahanan kepolisian Saudi dengan jaminan. Agus tidak menjelaskan lebih lanjut apa jaminan yang dimaksud.

“Jadi saya dilepas oleh kepolisian Saudi karena saya sebagai korban, jadi dilepas tanpa jaminan apapun. Jadi kalau ada yang mengatakan dengan jaminan ini jaminan itu, itu semua bohong, dan itu semua adalah berita palsu,” tegas Habib Rizieq dalam video yang diunggah di Youtube oleh FrontTV, channel resmi Front Pembela Islam (FPI) pada Jumat (9/11/2018) malam.

Ia pun membantah telah ditangkap oleh kepolisian Saudi. “Jadi tidak betul kalau ada berita saya ditangkap, saya ditahan, rumah saya disergap, kemudian digeledah, itu semua bohong,” katanya.

Habib Rizieq menyayangkan pernyataan KBRI yang terlalu berlebihan. Sebab, kata dia, banyak pernyataan KBRI yang disampaikan kepada media tidak sesuai dengan fakta.

“Saya ingin mengingatkan KBRI yang ada di Riyadh supaya tidak membuat pernyataan-pernyataan yang terlalu didramatisir, hati-hati. Karena apa-apa yang dijadikan pernyataan resmi yang keluar dari Kedutaan Besar Republik Indonesia banyak yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan,” tuturnya.

Rizieq juga mengingatkan untuk jangan lagi bercerita soal adanya pasukan khusus diplomatik. Dia meminta kejadian ini tidak didramatisir.

“Begitu juga saya ingatkan kepada mereka jangan lagi bercerita adanya pasukan khusus diplomatik, yang disiapkan dengan metode seperti ini, sistem seperti itu, jangan didramatisirlah. Kita bicara yang normal saja, yang wajar saja,” ujarnya.

Sebelumnya, Agus Maftuh mengatakan kepada media bahwa kepolisian Saudi telah menahan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab karena adanya aduan dari warga mengenai bendera yang terpasang di rumah imam besar FPI itu di Mekah. Bendera hitam berkalimat tauhid itu dianggap pelapor sebagai bendera yang mirip dengan bendera ISIS.

Habib Rizieq juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah yang telah mendampingi kekonsuleran.

“Saya berterimakasih atas bantuan yang diberikan oleh KJRI di Jeddah  tapi saya minta KBRI yang ada di Riyadh jangan terlalu berlebihan di dalam memberikan keterangan pers. Jadi jangan melalukan pencitraan yang tidak perlu karena akan mengantarkan kepada fitnah yang akan merugikan sendiri,” pungkasnya.

Habib Rizieq : Ayo Lawan Berita Hoax dengan Haq!

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab, mengajak umat Islam untuk melawan berita bohong (hoax). Pernyataan itu disampaikan menyoal pernyataan sejumlah pihak yang memberikan keterangan yang tidak benar terkait pemberitaan penangkapan dirinya oleh kepolisian Arab Saudi belum lama ini,

“Kepada seluruh bangsa Indonesia, ayo kita lawan berita-berita bohong, ayo kita lawan berita hoax dengan haq (kebenaran-red), mari kita lawan berita fitnah dengan fakta. Jadi sekali lagi jangan ada yang menyebar segala bentuk berita-berita bohong,” katanya dalam video yang diunggah channel FrontTV di Youtube, Jumat (9/11/2018) malam.

Dalam video berdurasi 22 menit itu, Habib Rizieq tampak sedang bersama istri dan anak-anaknya. Ia menyampaikan klarifikasi tentang berita penangkapan dirinya oleh kepolisian Arab Saudi setelah beredarnya foto bendera hitam bertuliskan lafadz tauhid yang ditempel di bagian belakang rumahnya di Mekah.

Ia membantah penangkapan dirinya. Habib Rizieq menjelaskan, kepolisian Arab Saudi hanya meminta keterangan kepada dirinya terkait bendera tersebut.

“Jadi tidak betul kalau ada berita saya ditangkap, saya ditahan, rumah saya disergap, kemudian digeledah, itu semua bohong,” katanya dalam video tersebut.

Di kantor polisi, Habib Rizieq mengaku hanya ditanya tiga pertanyaan terkait keberadaan bendera tersebut.

“Pada saat saya di kantor polisi, ada tiga pertanyaan utama yang diberikan kepada saya. Pertama, apakah saya yang menempelkan poster tersebut? Maka saya jawab dengan singkat dan tegas, bukan. Kedua, apakah saya tahu siapa orang yang menempelkan poster tersebut? Kemudian saya jawab, saya tidak tahu. Kemudian yang ketiga, apakah saya ada menduga atau mencurigai ada pihak-pihak tertentu yang ingin mencelakai saya sehingga menempelkan poster tersebut agar saya bermasalah dengan pihak keamanan di Saudi?,” paparnya.

“Pada pertanyaan ketiga ini saya bercerita cukup panjang, saya menceritakan tentang posisi saya, tentang apa yang saya hadapi selama ini, tentang adanya berbagai macam upaya jahat yang dilakukan oleh suatu pihak untuk mencelakakan kami sekeluarga,” sambung dia.

Di akhir video itu, Habib Rizieq juga menyampaikan pesan untuk Presiden Joko Widodo. Ia meminta Jokowi untuk menegakkan keadilan atas kasus-kasus besar yang terjadi di Indonesia seperti kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan.

“Saya ingatkan anda sebagai seorang presiden tunjukkan wibawa sebagai seorang pemimpin, tunjukkan tanggungjawab anda sebagai seorang pemimpin, jangan biarkan hukum itu diinjak-injak, anda harus segera mengerahkan kekuatan hukum untuk menyelsaikan pelanggaran hukum seperti penyiram air keras kepada Novel Baswedan harus segera ditangkap,” pungkasnya.

Habib Rizieq kepada Kapitra Ampera : ‘Anda Bukan Lagi Pengacara Saya!’

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dalam video klarifikasi yang diunggah FrontTV di Youtube pada Jumat (9/11/2018) malam tadi, Habib Rizieq juga berbicara tentang status Kapitra Ampera. Habib Rizieq menegaskan, Kapitra Ampera bukan lagi pengacaranya.

“Kemudian kepada saudara Kapitra, saya ingin ingatkan dari kota suci Mekah Almukarromah ini, anda jangan memberikan keterangan apapun atas nama saya, anda bukan lagi pengacara saya!” tegasnya dalam video tersebut.

Habib Rizieq menyampaikan, saat ini tim pengacaranya dipimpin oleh Sugito Atmo yang juga Ketua Bantuan Hukum FPI. Dia juga meminta Sugito supaya mencatat siapa saja tim hukumnya yang sudah berubah haluan perjuangan.

“Tim pengacara saya yang resmi dipimpin oleh saudara Sugito SH, dan saya sudah instruksikan kepada saudara Sugito sejak lama, siapapun dari barisan pengacara saya yang sudah berubah haluan, yang tidak lagi sejalan di dalam memperjuangkan prinsip-prinsip keadilan maka saya minta kepada pak Sugito untuk mencoretnya dari daftar pengacara saya pribadi di dalam mengurus segala hal yang berkenaan dengan hukum di NKRI,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, dirinya sudah berbeda pandangan dengan Kapitra. Dia mengakui Kapitra merupakan kawannya dan tetap menghormatinya. Tetapi Rizieq mengingatkan agar Kapitra tidak boleh lagi berbicara atas nama dirinya.

“Jadi sekali lagi saudara Kapitra anda kawan saya, saya tetap menghormati anda walaupun kita sudah berbeda pilihan, kita sudah berbeda jalan saat ini, anda tidak ada lagi di kapal perjuangan saya dan kawan-kawan, saya hormati itu semua akan tetapi ingat anda tidak boleh lagi berbicara atas nama saya,” ungkapnya.

Habib Rizieq juga menegaskan, keterangan Kapitra soal adanya penggeledahan di rumahnya di Mekah adalah tidak benar. Rizieq memastikan penyidik kepolisian Arab Saudi tak pernah masuk ke rumahnya.

“Dan keterangan anda juga ngawur, mengatakan ada penggeledahan di rumah saya, tidak ada, jangan melakukan fitnah terhadap kepolisian Saudi Arabia, kepolisian Saudi Arabia jangankan menggeledah rumah saya, masuk ke melewati pintu rumah saya pun tidak, bahkan berjarak jauh 30 meter dari pintu belakang rumah saya. Jadi sekali lagi jangan melakukan fitnah terhadap kepolisian Saudi Arabia, karena kepolisian Saudi Arabia tidak pernah menggeledah rumah saya sampai saat ini. Apalagi saya dinyatakan oleh mereka hanya sebagai korban, bukan sebagai pelaku kejahatan,” paparnya.

Sejarawan : Sosok Seperti Kasman Singodimedjo Dibutuhkan Negeri Ini

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sejarawan Universitas Indonesia, Prof. Dr. Anhar Gonggong, menyatakan, penetapan Mr. Kasman Singodimedjo sebagai Pahlawan Nasional membuka lembaran baru dalam sejarah Indonesia.

“Dengan mengangkat Pak Kasman, berarti mengurai keterjepitan (sejarah) karena selama ini dalam pemahaman sejarah ada yang kacau dan saat ini mulai terbuka dengan pengangkatan Pak Kasman,” ungkap Anhar dalam Pengajian Bulanan PP Muhammadiyah dengan tema ‘Prof. DR. MR. R.H Kasman Singodimedjo Santri Nasionalis Berkemajuan’ di Gedung Muhammadiyah, Menteng, Jakpus, Jumat (9/11/2018).

Meski tidak secara gamblang menjelaskan apa yang dimaksud dengan keterjepitan sejarah tersebut, Anhar yang juga merupakan pengajar di Sekolah Tinggi Intelejen Negara itu mengatakan bahwa peristiwa pengesahan gelar Mr. Kasman penting bagi generasi ke depan terutama dalam memahami makna pemimpin dan makna pejuang.

“Pemimpin adalah orang yang siap melampaui diri. Tidak memikirkan dirinya. Bayangkan, dia (Mr. Kasman) melupakan penderitaan dirinya, termasuk keluarganya, istrinya, dan anak-anaknya dan dia tetap maju ke depan untuk mewujudkan apa yang dia perjuangkan. Indonesia tidak akan ada tanpa orang-orang seperti ini, orang yang maju ke depan menjadi pemimpin dan mau menderita,” tukas Anhar.

Kepahlawanan Mr. Kasman menurut Anhar adalah kesediaan dan kesetiaannya untuk tetap memilih berjuang pada kebenaran dan siap menanggung penderitaan di dalam perjuangan.

“Andaikata dia hipokrit, ketika Bung Karno berkuasa, Mr. Kasman bisa ikut dan selesai. Bahkan gelar Meester hukumnya akan mampu membuat dirinya membuka kantor bantuan hukum, tetapi beliau tidak mau,” imbuh Anhar.

Anhar berpesan agar generasi muda mempelajari teladan Mr. Kasman untuk tetap konsisten dalam berjuang pada kebenaran. Dijegalnya Kasman oleh Sutan Syahrir, Soekarno, sampai dengan Orde Baru dalam memperjuangkan kebenaran justru membawa makna yang dalam bagi generasi berikutnya.

“Di tengah situasi negeri kita yang seperti sekarang. Pejabat yang masuk penjara itu sejatinya bukan pemimpin karena tidak mampu melampaui dirinya sendiri. Dalam konteks sekarang orang yang berpendirian seperti Pak Kasman dibutuhkan oleh negeri ini,” ungkap Anhar.

Di Balik Gelar Pahlawan Mr. Kasman Singodimedjo

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menjelang peringatan Hari Pahlawan Nasional 10 November, tekah mengesahkan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada enam tokoh nasional melalui Keppres Nomor 123/TK/Tahun 2018.

Dua orang di antaranya adalah tokoh Muhammadiyah yakni AR Baswedan dan Mr. Kasman Singodimedjo.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengatakan perjuangan untuk mengusulkan Pak Kasman menjadi pahlawan nasional berat sebab perjuangannya adalah perjuangan kebenaran yang jernih dan tidak diliputi oleh nafsu.

“Beliau adalah tokoh yang senantiasa berjuang di jalan yang benar,” ungkapnya dalam membuka acara Pengajian Bulanan PP Muhammadiyah dengan tema ‘Prof. Dr. Mr. R.H Kasman Singodimedjo Santri Nasionalis Berkemajuan’ di Gedung Muhammadiyah, Menteng, Jakpus, Jumat (9/11/2018).

Dia menjelaskan, pada November 2012, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mendaftarkan pengajuan gelar Pahlawan Nasional bagi tiga tokoh Bapak Republik Indonesia dari latar belakang Muhammadiyah, yakni Ki Bagus Hadikusumo, Mr. Kasman Singodimedjo, dan Prof. Abdul Kahar Muzakkir.

Ketua tim pengajuan gelar adalah mendiang almarhum AM Fatwa. Dari tiga nama yang diajukan tersebut, Ki Bagus Hadikusumo lebih dahulu mendapatkan gelar Pahlawan Nasional pada 2015 berdasar pada Keppres Nomor 116/TK/2015. Dengan demikian, hanya Prof. Abdul Kahar Muzakkir yang menanti pengesahan gelar dari Presiden.

Setelah pengesahan gelar Ki Bagus, Abdul Mu’ti bercerita bahwa ketua tim pengajuan gelar AM Fatwa mengirim sebuah pesan pendek bahwa ada tugas PP Muhammadiyah yang belum selesai dikerjakannya, yaitu gelar Mr. Kasman.

“Kata Pak Fatwa ini (Mr. Kasman) yang paling berat dan ternyata ajal menjemput Pak Fatwa. Karena itu saya merasa berhutang sehingga kita akan perjuangkan bagaimana caranya agar Pak Kasman mendapatkan gelar Pahlawan Nasional,” ungkap Abdul Mu’ti.

Lebih lanjut, menurut Abdul Mu’ti kegigihan PP Muhammadiyah mengawal perjuangan pengajuan gelar Pahlawan Mr. Kasman bukan karena beliau adalah tokoh Muhammadiyah, tetapi karena kesadaran bahwa sejarah harus ditulis dengan benar dan generasi sekarang harus mendapatkan informasi yang benar tentang sejarah yang benar.

“Selamat kepada keluarga Mr. Kasman, terimakasih juga kepada Pak Fatwa dan keluarga. Keberhasilan gelar ini adalah dedikasi Pak Fatwa untuk umat dan bangsa,” pungkasnya.

Habib Rizieq Desak Jokowi Segera Selesaikan Kasus Novel Baswedan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab mengingatkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menegakkan keadilan. Presiden Jokowi, kata dia, harus menunjukkan wibawanya sebagai pemimpin.

“Tegakkan keadilan, tegakkan keadilan, tegakkan keadilan,” katanya dalam sebuah video yang diunggah di channel Youtube FrontTV, Jumat (9/11/2018).

Salah satu kasus yang diminta untuk diungkap adalah kasus penyerangan kepada penyidik senior KPK, Novel Baswedan dan penyerangan kepada saksi ahli IT dalam kasus Habib Rizieq, Hermansyah.

“Harus ditemukan, harus dikejar, dan jika di sana ada pejabat keamanan tertentu yang terlibat harus diproses dan dijebloskan ke penjara. Begitu juga kasus Hermansyah, meskipun pelakunya sudah ditangkap tapi aktor intelektualnya yang membayar mereka sampai hari ini masih dibiarkan,” tegasnya.

Habib Rizieq juga mengimbau kepada rakyat Indonesia untuk tidak menyerah dalam memperjuangkan keadilan. “Jangan pernah mundur di dalam menegakkan keadilan,” tegasnya.

 

 

 

Berita di Balik Bencana

Oleh: Beggy Rizkiyansyah – Anggota Divisi Wacana Publik JITU

Wajahnya tampak emosional. Disitulah ia berdiri, melaporkan bencana Tsunami di Aceh pada tahun 2004. Tak lama ia tak kuat menahan sedihnya. Ia melaporkan situasi pasca tsunami sambal menangis. Najwa Shihab, jurnalis yang menangis sambal mewartakan bencana tersebut adalah salah satu contoh bagaimana emosi dapat melibatkan proses liputan, termasuk dalam meliput bencana. Apakah keterlibatan emosi dapat mengganggu objektivitas seorang jurnalis?

Pertanyaan seperti itu menjadi salah satu bahan perdebatan dalam wacana jurnalisme dalam meliput bencana. Karin Wahl-Jorgensen dan Mervi Pantti dalam The Ethics of Global Disaster Reporting: Journalistic Witessing and The Challenge to Objectivity memuat berbagai pertannyaan seputar etika dalam liputan bencana. Persoalan tersebut termasuk keterlibatan emosi dalam pemberitaan.  (Karin Wahl-Jorgensen dan Mervi Pantti: 2013)

Ahmad Arif dalam Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme (2010) juga mengangkat soal keterlambatan media dalam mengungkap bencana tsunami di Aceh pada 2004. Ahmad Arif juga menggugat bagaimana media-media bahkan tergesa-gesa dalam mewartakan bencana tanpa verifikasi yang memadai. Salah satunya disebabkan kesalahan informasi yang disampaikan oleh berbagai institusi pemerintah yang bukan saja, tak mampu memberi informasi yang memadai tetapi juga memberi informasi keliru. Sehingga pemberitaan bencana kerap terlambat diangkat.

Diluar kedua kajian Arif dan Karin, ada banyak pertanyaan lain. Salah satunya yang merebak saat ini yaitu, bagaimana media Islam dalam mewartakan bencana? Bagaimana etika menilai bencana, termasuk kontroversi mengaitkan satu bencana sebagai azab dari Allah ﷻ.

Amat penting untuk menarik kembali tujuan awal dari meliput bencana. Ward (2010) menyebutkan bahwa jurnalisme bencana bukan semacam perlombaan. Tetapi  bertugaas untuk menggugah emosi  pembaca atau pemirsa. Ward menyebutnya jurnalisme humanistik yang menggabungkan emosi dan alasan. Jurnalisme humanistik untuk berempati pada korban dengan informasi yang berdasarkan fakta dan analisis kritis. (Karin Wahl-Jorgensen dan Mervi Pantti: 2013)

Pemahaman seperti ini juga mengundang kritik. Keterlibatan emosi dalam liputan dianggap akan mengacaukan objektivitas. Namun apakah mungkin seorang jurnalis menyingkirkan emosi sebagai satu ciri kemanusiaannya? Menurut Kovach dan Rosenstiel, penulis buku Elemen-Elemen Jurnalisme, akan sangat aneh, bahkan menekan, jika reporter berlaku seperti robot jurnalistik. (Karin Wahl-Jorgensen dan Mervi Pantti: 2013)

Satu penjelasan menarik disebutkan oleh WIlls (2013). “Pembaca dan penonton akan lebih terikat dengan sebuah cerita jika mereka merasa reporter peduli pada cerita, orang-orang yang terkena dan cukup peduli agar pembaca atau penonton menulis satu cerita yang peduli dan meyakinkan.” (Karin Wahl-Jorgensen dan Mervi Pantti: 2013)

Perdebatan diatas memang berkisar dalam bingkai juralisme barat yang mengusung humanisme sekular. kepedulian akan liputan bencana memang bermaksud untuk menggugah empati dan kepedulian sebagai sesama manusia.

Hal berbeda jika kita melihat dari perspektif jurnalisme Islami. Salah satu fungsi jurnalisme islami adalah edukasi (tabligh). Ia tak saja mengajak pembaca atau penontonnya untuk berempati dan peduli. Tetapi juga untuk mengambil hikmah dari bencana tersebut.

Umat Islam diajarkan untuk memahami bahwa bencana bukan saja pewujudan dari azab atau pun ujian, tetapi juga menunjukkan kekuasaan Allah ﷻ di balik sebuah bencana (al-Baqarah 155-157). (Fariq Gasim Anuz: 2017) Berbagai penjelasan ilmiah di balik terjadinya bencana tidak seharusnya membuat kita memiliki cara pandang yang sekularistik dan menyingkirkan peran Allah. Sebaliknya, berbagai penjelasan ilmiah seharusnya membawa kita semakin mempercayai bahwa Allah mampu mengatur segalanya.

Tak ada yang dapat mengetahui apakah bencana tersebut berupa azab ataupun ujian. Hanya pribadi masing-masinglah yang dapat menduga-duga makna di balik bencana tersebut dan bahan muhasabah bagi dirinya. Dalam satu hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari, Aisyah Ra bertanya pada Rasulullah tentang tha’un. Rasulullah kemudian menjawab tha’un sebagai azab yang dikirim Allah kepada siapa-siapa yang dikehendakinya; dijadikannya tha’un sebagai rahmat orang yang beriman. Jika hamba tersebut terkena penyakit tha’un, dia tetap tinggal di negerinya dengan sabar dan mengharap ganjaran dari Allah, maka ia mendapat ganjaran syahid jika ia mati. (Fariq Gasim Anuz: 2017)

Jurnalis muslim berperan agar -disamping mengajak untuk peduli pada para korban-  umat dapat mengambil hikmah dari sebuah bencana. Bagi jurnalis muslim. Ia tentu tak dapat menjangkau alasan di balik terjadinya bencana tersebut.; apakah itu azab atau ujian. Namun hikmah dari bencana tersebut dapat disampaikan oleh para jurnalis muslim.

Satu lokasi yang menjadi sarang kemaksiatan, kemudian terkena bencana dapat diangkat sebagai satu berita (peringatan) kepada para pembaca tanpa harus memakai bahasa yang menghakimi. Kumpulan fakta yang disusun dalam satu reportase atau liputan tersebut disajikan pada pembaca atau penonton, dan membiarkan mereka yang menilai.

Bagaimana pun, pesan pemberitaan satu bencana dapat kita pilah menjadi tiga aspek. Pertama liputan atau reportase bencana berfungsi untuk mengajak para pembaca atau penonton untuk bersegera membantu para korban. Emosi yang kemudian terlibat dalam reportase adalah manusiawi. Seperti diajukan Wills (2013), cerita yang menggugah akan membuat pembaca lebih peduli. Tentu saja, keterlibatan emosi harus dimbangi dengan fakta yang kuat.

Kedua, liputan atau reportase lebih mendalam tentang bencana tersebut disajikan dengan penjelasan ilmiah yang dibingkai oleh nilai tauhid untuk memaklumi kedhaifan manusia dan betapa besarnnya kekuasaan Allah ﷻ. Penjelasan ilmiah atas satu bencana disajikan sebagai satu proses bukan satu alasan terjadinya bencana tersebut. Dan bukan disajikan dengan bahasa, kata-kata, atau bingkai (framing) yang bertendensi menyingkirkan peran Allah ﷻ dalam menggerakkan segala fenomena alam tersebut.

Ketiga, liputan atau reportase lebih mendalam dari lokasi bencana juga menyingkap kehidupan masyarakat tersebut. Jika satu daerah yang terkena bencana setelah dilakukan liputan adalah bekas tempat yang menjadi sarang kemaksiatan misalnya, hal tersebut bukanlah tabu untuk diangkat. Dan tidak berarti tidak berempati kepada para korban.

Liputan yang demikian adalah wajar, selama tidak menghakimi para korban, memberi penilaian akhir atau melakukan penyimpulan yang memastikan alasan di balik bencana tersebut. Sebab yang demikian adalah satu hal yang hanya diketahui oleh Allah ﷻ. Poin yang lebih krusial dari liputan semacam itu adalah pesan (hikmah) kepada pembaca bahwa segala kemaksiatan membuka kemungkinan kemudharatan pada masyarakat, apa pun bentuknya.

Pada akhirnya, pemberitaan bencana alam dalam perspektif jurnalisme Islami bukanlah sekedar liputan biasa. Atau perlombaan dalam kecepatan meliput. Tetapi lebih penting, bagaimana pembaca atau penonton memahami, bahwa segala bencana adalah atas kuasa Allah dan manusia harus mengambil pelajaran atasnya.

Tulisan ini merupakan Program #MelekMedia dari Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

 

 

Fenomena Mabuk Air Rebusan Pembalut, KPAI : Mereka Tahu dari Internet

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Kesehatan dan NAPZA, Sitti Hikmawatty, mengaku prihatin dengan semakin banyaknya kasus ditemukan anak-anak yang meminum rebusan pembalut wanita.

Sesuai data yang masuk di KPAI, kasus ini bukanlah kasus baru. KPAI mencatat, pada tahun 2017 kasus penyalahgunaan PCC sudah ditemui, namun jumlahnya relatif kecil.

“Kegiatan remaja mencari alternatif zat yang dapat membuat mereka fly, tenang ataupun gembira, awalnya didapatkan secara coba-coba atau eksperimen. Termasuk meminjam air rebusan pembalut juga didapat dari coba-coba, selain fenomena lain seperti ngelem, dll,” katanya dalam keterangan tertulis kepada Jurnalislam.com, Kamis (8/11/2018).

Menurutnya, beberapa zat “temuan” para remaja ini termasuk kelompok eksperimen psikotropika. Jumlahnya belum bisa diprediksi karena berkaitan erat dengan jumlah anak serta kreatifitas mereka “meramu” bahan-bahan yang mudah didapat di pasaran.

“Anak-anak ini cerdas, karena dengan berbekal internet mereka bisa membuat beberapa varian baru, dari racikan coba-coba. Dan disinilah tingkat resiko/bahaya menjadi meningkat karena mereka hanya konsen pada satu zat tertentu dalam sebuah bahan, namun zat lainnya cenderung diabaikan sehingga reaksi sampingan yang terjadi bisa berakibat fatal,” paparnya.