Belajar Jadi Wanita Solehah dari Istri Buya Hamka

Oleh: Muhammad Pizaro, Putra Agam

“Saya diminta berpidato, tapi sebenarnya ibu-ibu dan bapak-bapak sendiri memaklumi bahwa saya tak pandai pidato. Saya bukan tukang pidato seperti Buya Hamka. Pekerjaan saya adalah mengurus tukang pidato dari sejak memasakkan makanan hingga menjaga kesehatannya.”

Itulah kalimat singkat dari Siti Raham binti Endah saat didapuk memberikan pidato dalam kunjungan Buya Hamka ke Makassar. Tak disangka, ucapan dari wanita bersahaja itu mendapat sambutan besar dari ribuan hadirin. “Hidup Umi.. Hidup Umi!” pekik massa.

Buya Hamka pun meneteskan air mata. Tangis haru dari ulama besar itu mengiringi langkah kaki sang kekasih turun dari panggung. Betapa besar pengorbanan istri tercintanya dalam masa-masa perjuangan. Siti Raham adalah garansi dari ketawadhuan di balik nama besar Buya Hamka.

Kisah cinta mereka dimulai pada 5 April 1929. Kala itu, Siti Raham berusia 15 tahun. Sedangkan Buya Hamka berumur 21 tahun. Sejak itu, mereka sah menjadi pasangan suami istri.

Ya, di sebuah usia dimana para muda-mudi saat ini lebih sibuk memakan rayuan dan menenggak kemaksiatan.

Perjuangan Buya Hamka meminang Siti Raham patutlah ditiru. Tidaklah salah Allah menganugerahi manusia dengan kekuatan akal pikirannya. Buya Hamka kemudian menulis roman berbahasa Minang berjudul “Si Sabariyah”. Buku itu dicetak tiga kali. Dari honor buku itulah Buya membiayai pernikahannya.

Banyak suka dan duka mewarnai perjalanan Buya Hamka merajut rumah tangga. Ulama Muhammadiyah itu tidak salah memilih Siti Raham. Di saat ujian datang, wanita kelahiran 1914 ini tampil sebagai motivasi baginya. Tanpa mengeluh maupun gundah.

“Kami hidup dalam suasana miskin. Sembahyang saja terpaksa berganti-ganti, karena di rumah hanya ada sehelai kain,” tutur Hamka dalam buku biografi “Pribadi dan Martabat Buya Prof Dr. Hamka” karangan Rusydi Hamka.

Puncak kemiskinan dua sejoli ini terjadi ketika lahir anak ketiga, yaitu Rusydi Hamka. Dia dilahirkan di kamar asrama, Kulliyatul Mubalighin, Padang Panjang pada 1935.

Sedangkan anak pertama Buya Hamka, bernama Hisyam, meninggal dalam usia lima tahun. Besarnya beban ekonomi ditambah kerasnya penjajahan, membuat Hamka harus memutar otak untuk membiayai anak-anaknya.

Dalam kondisi kekurangan, pergilah Hamka ke Medan untuk bekerja di Majalah Pedoman Masyarakat sebagai jurnalis dan penulis. Nama penanya Hamka.

Selama di Medan, ia banyak menulis artikel di berbagai majalah dan sempat menjadi guru agama saat beberapa bulan di Tebing Tinggi. Ia juga mengirimkan tulisan-tulisannya untuk surat kabar Pembela Islam di Bandung dan Suara Muhammadiyah yang dipimpin Abdul Rozak Fachruddin di Yogyakarta.

Selain itu, ia juga bekerja sebagai koresponden di Harian Pelita Andalas dan menuliskan laporan-laporan perjalanan, terutama perjalanannya ke Mekkah pada tahun 1927. Dari situlah lahir Novel Hamka Di Bawah Lindungan Ka’bah. Di kota yang kini menjadi ibukota Sumatera Utara itu, Hamka tinggal selama sebelas tahun.

Menurut penuturan Rusydi Hamka, saat itulah dia menyaksikan dan mengalami kesulitan-kesulitan hidup kedua orangtuanya. Di balik tanggung jawab sang ayah, tak lupa kesetiaan Siti Raham senantiasa bersamanya. Wanita tegar itu senantiasa menjalankan amanah Buya Hamka untuk menjadi istri yang taat suami dan mendidik anak-anak di kala Buya tiada bersamanya.

Namun di tengah keterbatasannnya, Hamka sukses menulis buku Tasawuf Modern, sebagai karangan bersambung dalam majalah Pedoman Masyarakat. Sukses di majalah, atas permintaan pembaca Tasawuf Modern diterbitkan sebagai sebuah buku untuk pertama kali tahun 1939.

Penerbitan pertama buku Buya tersebut mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakat sehingga mengalami cetak ulang beberapa kali pada penerbit di Medan. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Tasawuf Modern kembali diterbitkan di Jakarta sekitar tahun 60-an.

Dengan kondisi pas-pasan, Buya Hamka mampu menahkodai rumah tangga dengan tujuh orang anak. Itu belum ditambah beberapa kemenakan yang ikut dibiayai Buya Hamka. Sebab dalam adat Minang, seorang Mamak punya tanggung jawab terhadap kemenakan dan saudara perempuannya.

Rusydi mengatakan Hamka adalah orang yang biasa-biasa
saja. Berbeda dengan pria keturunan Minang yang pandai berdagang, Buya Hamka bukanlah orang yang mewarisi bakat berbisnis. Hamka juga bukanlah orang yang hidup dari gaji pemerintah.

“Ketika pindah ke Padang Panjang dalam suasana revolusi, ayah jelas tak punya sumber kehidupan tetap yang diharapkan setiap bulan,” terang Rusydi Hamka.

Saat memimpin Muhammadiyah di Sumatera Barat, Buya Hamka kerap keliling kampung untuk berdakwah. Perjalanan itu dilaluinya dengan Bendi maupun berjalan kaki. Kegiatan itu dilakukan selama berhari-hari tanpa pulang ke rumah.

Maka saat menemui istrinya di rumah, pertanyaan yang sering diutarakan Buya Hamka adalah: Apakah anak-anak (bisa) makan? Hingga Buya Hamka sengaja menepuk perut anak-anaknya untuk mengetahui apakah buah hatinya lapar atau kenyang.

Di sinilah, Siti Raham sukses menjalankan amanah sebagai Ibu. Agar anak-anaknya tidak kelaparan, Siti Raham rela menjual harta simpanannya. Beliau bukanlah wanita yang menjadikan perhiasan sebagai makhota. Karena makhota sejatinya adalah Buya Hamka dan keluarga.

Maka kalung, gelang emas, dan kain batik halus yang dibelinya di Medan terpaksa dijual di bawah harga demi membeli beras dan membayar uang sekolah anak-anak. Biarlah dirinya kesusahan, asal perut anak-anaknya tidak kelaparan dan tetap bisa melanjutkan pendidikan.

Kerap kali dirinya meneteskan air mata, ketika membuka almarinya untuk mengambil kain-kain simpanannya untuk dijual ke pasar. Tak tega melihat istrinya terus menguras hartanya, Buya Hamka sontak mengeluarkan beberapa helai kain Bugisnya untuk dijual. Namun sang istri mencegahnya.

“Kain Angku Haji jangan dijual, biar kain saya saja. Karena Angku Haji sering keluar rumah. Di luar jangan sampai Angku Haji kelihatan sebagai orang miskin,” ujarnya.

Demikianlah dalam keadaan sederhana Siti Raham masih mempertimbangkan kehormatan suaminya. Apa saja dilakukannya agar Buya Hamka tidak terlihat lusuh di mata jama’ah dan masyarakat. Dari mulai memikirkan pakaian hingga membersihkan kopiah bila Buya Hamka hendak keluar. Karena cinta adalah kehormatan.

Maka melihat Buya Hamka menangis saat dirinya turun dari mimbar pidato di Makassar, sang istri hanya bisa tersenyum, “’Kan yang Umi pidatokan itu kenyataannya saja.”

Jamaah Ansharusy Syariah Tetapkan 1 Ramadhan 1438 Jatuh Hari Esok

PENGUMUMAN AWAL RAMADHAN 1438 H

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh

Berdasarkan hasil rukyatul hilal yang dilakukan oleh team rukyat hilal jamaah ansharusy syariah di 6 wilayah dan tim rukyat hilal dari elemen ormas islam lainnya yang hasilnya hilal telah terlihat di pos pengamatan Hilal bukit Condrodipo Gresik, hilal terlihat pada pukul 17.21 – 17.30, dengan saksi yg melihat Hilal di Gresik yakni Ust. Inwanuddin, KH. Azhar, Rijaluddin, Sholahuddin, H. Abdullah Thoyyib. Dengan terlihatnya hilal tersebut, maka:

Jamaah Ansharusy Syariah memutuskan :

1 Ramadhan 1438 H jatuh pada hari: Sabtu, 27 Mei 2017

Jamaah Ansharusy Syariah mengucapkan : “SELAMAT MENYAMBUT BULAN RAMADHAN 1438 H”

Mudah-mudahan amal sholih kita selama Ramadhan ini di terima Allah SWT Aamiin yaa Robbal ‘alamin

 

Amir Jamaah Ansharusy Syariah

Ustadz Muhammad Achwan

Hari ini, Mahasiswa di 50 Daerah Demo Tuntut Kapolres Jakpus Dicopot

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Hari ini (26/5/2017) ribuan mahasiswa di 50 daerah di seluruh Indonesia menggelar unjuk rasa menuntut pencopotan Kapolres Jakarta Pusat. Aksi sebagai protes terhadap tindak kekerasan aparat saat membubarkan Aksi KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) di depan Istana Merdeka, Rabu (23/5/2017) kemarin.

“Unjuk rasa ini protes karena aparat kepolisian menganiaya peserta aksi KAMMI lalu, termasuk salah satunya peserta aksi perempuan. Padahal, sejatinya, kepolisian bertugas mengayomi rakyat, termasuk peserta aksi,” kata Ketua Umum PP KAMMI, Kartika Nur Rakhman dalam siaran pers yang diterima Jurnalislam.com, pagi ini.

Nur Rakhman mendesak kepolisian untuk menghentikan standar ganda dalam bertugas. Sebab, masyarakat sudah sangat resah dengan standar ganda kepolisian dan mahasiswa menyampaikan keresahan itu melalui aksi hari ini.

“Reformasi di tubuh Kepolisian nampaknya telah gagal. Kepolisian kini menjelma menjadi tirani baru dalam penegakkan hukum Indonesia. KAMMI dan mahasiswa Indonesia akan melawan tirani hukum yang dilakukan oleh aparat negara, baik eksekutif maupun yudikatif,” jelas Nur Rakhman.

Nur Rakhman melanjutkan, Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla harus serius membenahi etika dan kinerja Kepolisian Republik Indonesia. Dimulai dari memberikan sanksi tegas yakni pencopotan Kapolres Jakarta Pusat dan Kapolda Metro Jaya.

“Bila Kapolres Jakarta Pusat dan Kapolda Metro Jaya tidak segera dicopot, maka akan menjadi pembenaran bahwa Presiden Jokowi membenarkan dan terlibat dalam tindakan represif dan kekerasan aparat kepolisian yang pandang bulu”, tandas Riko.

Ketua Bidang Kebijakan Publik PP KAMMI, Riko Tanjung mengatakan bahwa demo 50 daerah ini tidak terjadi bila aparat kepolisian tidak diskriminatif dan represif dalam mengawal aksi demonstrasi mahasiswa.

“Mahasiswa adalah penjaga stabilitas bangsa dan pengawal demokrasi. Ini tugas kebangsaan mahasiswa. Tindak kekerasan aparat kepolisian kepada mahasiswa bisa dinilai sebagai anti demokrasi dan mengancam stabilitas bangsa. Ini harus dihentikan,” tegas Riko.

“Bila ada aspirasi dan demonstrasi massif dari mahasiswa, ini menunjukkan ada yang salah dalam Negeri ini. KAMMI lahir dari keprihatinan bangsa atas krisis 1998. Tugas KAMMI adalah merawat dan menjaga Indonesia agar tidak ada lagi krisis serupa 1998 yang menyengsarakan rakyat, merusak tatanan demokrasi dan meruntuhkan keutuhan persatuan NKRI. kAMMI bergerak tak kenal lelah supaya cita-cita kemerdekaan yang dirumuskan pendiri bangsa bisa diwujudkan tanpa ada yang mendestruksi,’ pungkas Riko.

Siaran Pers

Silaturahim Ormas Islam Se-Jawa Timur: Bersatu Lawan Kedzaliman

Jurnalislam.com) – Ormas Islam se-Jawa Timur menggelar silaturahim di Masjid Mujahidin, Perak, Kota Surabaya, Kamis (25/5/2017). Acara diikuti ratusan peserta dari perwakilan ormas-ormas Islam di Jawa Timur.

Acara menitikberatkan pada upaya menjaga ukhuwah Islamiyah dan menggalang kekuatan untuk melawan kedzaliman yang kerap menimpa umat Islam.

“Setiap permasalahan selalu dialihkan oleh pemerintah, sudah saatnya ummat Islam bersatu padu agar kekuatan dan ukhuwah islamiyah terjaga,” kata Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Timur, Ustadz Sudarno Hadi. Ia juga dengan tegas menolak upaya kriminalisasi para ulama.

Dalam kesempatan itu, hadir juga perwakilan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jawa Timur. Dalam paparannya, juru bicara HTI Jatim Ustadz Rachmat S. Labib mengkritisi rencana pemerintah membubarkan ormas tersebut.

“Ormas yang sudah berbadan hukum seperti HTI tidak bisa serta merta dibubarkan, hanya bisa dibubarkan melalui pengadilan dan beberapa tahapan hukum yang berlaku di NKRI, tidak bisa serta merta dan secara represif, harus sesuai koridor hukum,” ujarnya.

Ustadz Rachmat juga menegaskan, HTI adalah organisasi yang taat hukum dan semua kegiatan HTI tidak ada yang melanggar hukum.

“Mereka tidak mempunyai alasan yang sesuai hukum utk membubarkan HTI,” tandasnya.

Kontributor: Oesman, Surabaya

 

Tarhib Ramadhan 1438 Juga Digelar Umat Islam Banyuwangi

BANYUWANGI (Jurnalislam.com) – Tarhib Ramadhan 1438 H juga digelar umat Islam Banyuwangi. Ratusan umat Islam mengikuti pawai motor mengelilingi Kota Banyuwangi pada Kamis (25/5/2017) sore.

Mereka juga membagikan selebaran berisi imbauan untuk memperbanyak ibadah di bulan suci Ramadhan berjudul “Ramadhan Mubarok Tinggalkan Maksiat Perbanyak Ibadah”.

Ketua Gabungan Umat Islam Banyuwangi, H Agus Iskandar mengatakan, kegiatan tersebut untuk mempererat ukhuwah Islamiyah umat Islam Banyuwangi.

Ia juga menyeru untuk menjadikan momen bulan Ramadhan sebagai momen kebangkitan umat Islam dengan mengedepankan ukhwah islamiyah.

“Saudaraku muslim jadikanlah momen bulan Ramadhan ini untuk memperkuat ukhwah kita dengan mengedepankan persatuan kesatuan dan kesolidan yang kokoh di antara kita,” tutup H Agus Iskandar.

Kontributor: Jacki Ardhiyansyah, Banyuwangi

FPI Tasikmalaya Siap Jaga Kondusifitas Ramadhan 1438 H

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Front Pembela Islam (FPI) Tasikmalaya mengimbau kepada masyarakat untuk menjaga kesucian bulan Ramadhan dari praktek-praktek kemaksiatan. FPI bersama ormas lainnya juga mengaku siap bekerja sama dengan pemerintah dan aparat keamanan untuk menjaga kondusifitas Ramadhan.

“Kami telah bekerjasama dengan DPR, Kepolisian dan aparat yang lain, dan kami mendorong mereka agar mengamankan Kota Tasikmalaya dan khususnya selama bulan suci Ramadhan,” kata Ketua FPI Tasikmalaya Ustadz Anshori kepada Jurnalislam.com, Kamis (25/5/2017).

Akan tetapi, kata Ustadz Anshori, jika pemerintah dan aparat tidak menindaklanjuti laporan-laporan masyarakat terkait tempat-tempat kemaksiatan yang membandel, pihaknya akan turun untuk mengingatkan secara langsung.

“Tapi seandainya kami sudah lapor dan menentukan titik kemaksiatan tapi tidak ditindak lanjuti dan tidak bergerak, kewajiban kami akan mengingatkan langsung demi kemaslahatan umat,” tegasnya.

Ustadz Anshori berharap ada kerjasama yang baik antara ulama dan umara di Tasikmalaya untuk mewujudkan Tasikmalaya yang bersih dari kemaksiatan.

“Kita tak neko-neko yang penting Tasik aman, Tasik kondusif, Tasik bersih tidak rujit dengan kemaskiatan, malu jika kota Tasik banyak kemaksiatan,” pungkasnya.

 

Jelang Ramadhan, MUI dan IZI Siapkan 1500 Paket Ramadhan untuk Keluarga Dhuafa

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Menyambut bulan suci Ramadhan 1438 H, Lembaga Amil Zakat Nasional Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) menyiapkan 1500 paket untuk tahap pertama akan diberikan kepada keluarga dhuafa. Program Paket Ramadhan ini akan dibagikan ke seluruh wilayah Indonesia.

Acara secara simbolis dilaksanakan di wilayah Kelurahan Podorejo Kecamatan Ngaliyan, Kamis (25/5/2017). Paket lebaran ini secara simbolis akan diserahkan oleh Ketua MUI Kota Semarang dan Kepala Kantor IZI Perwakilan Jawa Tengah dibantu oleh relawan “Agen Kebaikan IZI”.

Mereka mendata warga-warga dhuafa di wilayah Jawa Tengah, yang kemudian diberikan paket Ramadhan oleh IZI melalui relawan agen kebaikan ini. Adapun paket Ramadhan yang diberikan berupa paket sembako dan bahan kebutuhan pokok.

Kepala Kantor Perwakilan IZI Djoko Adhi mengatakan, IZI harus selalu berupaya menjadi lembaga amil zakat yang mempermudah masyarakat, baik memberi kemudahan kepada para mustahik maupun memberi kemudahan kepada masyarakat (muzakki) yang hendak memberikan bantuan melalui IZI.

“Sebagai pelopor lembaga amil zakat, kita harus selalu berusaha mempermudah dan membantu kaum muslimin yang membutuhkan. Jangan lupa juga untuk memberikan kemudahan kepada para dermawan yang hendak menyumbangkan hartanya melalui IZI,” ujar Djoko Adhi.

Sementara itu, Prof. KH. M. Erfan Soebahar M.Ag selaku Ketua MUI Kota Semarang sangat mengapresiasi langkah IZI, program pemberian paket ramadhan ini langkah nyata agar seluruh lapisan masyarakat menyambut gembira dengan hadirnya bulan ramadhan khususnya masyarakat dhuafa.

Rangkaian kegiatan selama bulan Ramadhan 2017, IZI telah menyiapkan berbagai program menarik diantaranya, paket ramadhan untuk dhuafa (penyapu jalan, tukang parkir, penjual koran perempuan, pedagang keliling ), buka bersama di kampung nelayan dan komunitas tuna netra muslim. Kegiatan ini dilakukan di wilayah Kota Semarang, Tegal, Kudus dan Purwokerto.

Siaran Pers

Wujudkan Ramadhan Kondusif, Pemerintah dan Ormas Islam Jember Adakan Rakor

JEMBER (Jurnalislam.com) – Merespon aspirasi umat Islam agar pelaksanaan ibadah di bulan Ramadhan berlangsung kondusif, aparat pemerintahan Jember pada Rabu (24/5/2017) melakukan Rapat Kordinasi (Rakor) dengan MUI dan beberapa perwakilan ormas Islam. Bertempat di Aula Polres Jember, rakor dihadiri oleh perwakilan ormas-ormas Islam seperti Front Pembela Islam (FPI), Laskar Islam Jember (LIJ), Ansharusy Syari’ah, dan beberapa elemen lainnya.
Rakor menyoroti sejumlah tema penting, diantaranya penutupan total tempat hiburan malam, aturan rumah makan yang buka di siang hari dan pemaksimalan info aduan maksiat dan kriminal lewat jalur aparat hukum. Termasuk pula upaya menjaga stabilitas harga pangan dari kecurangan penimbunan oleh oknum pedagang.
pemusnahan miras
“Mohon teman-teman ormas untuk tidak sweeping. Kami turut mengundang para pemilik tempat hiburan untuk tahu info ini. Berbagai pihak terkait kami libatkan untuk berperan serta menjaga kondusifnya ramadhan,” kata perwakilan Polres Jember, AKBP Kusworo Wibowo.
Menanggapi pernyataan itu, perwakilan Laskar Islam Jember (LIJ) Nanag Santoso berharap, upaya tersebut bukan hanya pada Ramadhan saja tetapi bersifat kontinyu.
“Semoga ini bukan sekedar seremonial tapi ada upaya rutin berkelanjutan menjaga kondusifnya Jember sebagai ikon kota Santri,” ungkap Nanang.
Nanang mengingatkan agar pihak aparat menindak serius pelaporan info maksiat selama Ramadhan dan tidak membiarkan adanya pelanggaran yang mencederai ibadah umat Islam selama Ramadhan.
Acara diakhiri dengan pemusnahan barang bukti temuan aparat keamanan berupa miras sejumlah merk, narkoba dan alat bukti kriminal lainnya.

Tarhib Ramadhan 1438 H Soloraya Diikuti DSKS, MUI dan Ormas Islam

SOLO (Jurnalislam.com) – Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta bekerja sama dengan elemen umat Islam Soloraya menggelar Tarhib Ramadhan 1438 H di Masjid Agung Surakarta, Kamis (25/5/2017). Acara bertajuk ‘Tebar Salam Menuju Persatuan Bangsa Bersatu Di Bawah Bimbingan Ulama’ diisi dengan longmarch mengitari pusat kota Surakarta.

Dalam sambutannya, Ketua DSKS Ustadz Muinuddinillah Basri mengatakan, umat Islam selalu distigmakan negatif seperit intoleran dan terorisme. Kegiatan Tarhib Ramadhan kali menjadi bukti bahwa umat Islam sangat menjunjung tinggi toleransi.

Ketua DSKS, Ustadz Muinudinillah Basri sampaikan sambutan. Foto: Arie R/Jurnis

“Kita mengadakan acara ini, Insya Allah menunjukan toleran artinya yang punya hari raya pada hari ini silahkan kita tidak akan mengganggu sama sekali, dan kita ingin membuktikan bahwa umat Islam sangat toleran,” katanya di hadapan ratusan peserta aksi.

Sementara itu korlap aksi, Dimas Al-Fatah menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk menyempaikan pesan kepada masyarakat agar bersiap-siap menyambut bulan Ramadhan dan mempererat ukhwuah dan persaudaran sesama muslim terutama di kota Soloraya.

“Untuk menyatukan persatuan dan ukhuwah karena ini diikuti dari banyak elemen umat islam di Soloraya. Kemudian besok itu sudah bulan Ramadhan agar masyarakat segera menyiapkan satu sama lain, jangan sampai kita terlupakan dimana bulan Ramadhan itu, penuh maghfiroh dan limpahan pahala sehingga kita ingatkan kepada kaum muslimin,” terangnya.

Dimas juga menyampaikan, acara Tarhib Ramadhan kali ini juga diisi dengan bakti sosial membagikan 2000 paket nasi bungkus, flyer jadwal shalat dan imsyakiyah kepada masyarakat di sepanjang rute aksi.

GNPF MUI Minta Polri Profesional Tangani Kasus Bom Kampung Melayu

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) mendorong aparat keamanan untuk bersikap adil dan profesional dalam memecahkan kasus bom Terminal Kampung Melayu. UBN mengingatkan aparat untuk menghindari kesan menyudutkan agama tertentu.

“Menghindari kesan penyudutan kelompok agama tertentu dalam merilis berita atau menyebarkan informasi khususnya agama Islam yang selama ini direkayasa dan diidentikkan sebagai agama teroris,” katanya dilansir dari aqlnews.com, Kamis (25/5/2017).

Menurutnya, peristiwa yang telah menimbulkan korban jiwa tersebut bukanlah lelucon yang boleh dijadikan mainan untuk kepentingan apapun. “Semoga dalang di balik tindakan biadab ini segera tertangkap dan dihukum dengan hukuman berat. Jauhkan politisasi kasus ini untuk kepentingan politik sesaat karena akan menambah kerugian dan kerusakan serta dendam yang tak berkesudahan,”

UBN mengimbau segenap elemen bangsa Indonesia untuk bersikap jernih guna tidak melekatkan setiap peristiwa kekerasan dengan Islam dan umat Islam. Dikatakan UBN, bersikap empatik adalah sikap bijaksana agar terjaga dari penggeringingan opini yang menyesatkan.

“Kepada segenap ummat Islam tetaplah bersikap rasional dan waspada dalam menyikapi kasus bom bunuh diri di kawasan terminal Kampung Melayu agar kita selamat dari penggiringan isu atau rekayasa isu baru yang menyesatkan,” ujarnya.

“Atas adanya nyawa yang hilang dan ada yang terluka, kita semua berduka sebagai sesama muslim dan sesama anak bangsa, ada keluarga mereka yang kehilangan dan kerabat mereka yang berduka,” tuturnya.

UBN menjelaskan, Indonesia bukan zona perang dalam timbangan syariat, maka bom bunuh diri adalah tindakan yang salah alamat dan di luar batas syariat Islam.

Berislam dengan damai dan menjauhi cara-cara kekerasan adalah komitmen bersama para ulama dan ummat Islam Indonesia. Karenanya, tindakan bom bunuh diri dengan menghilangkan nyawa sendiri dan atau nyawa orang lain adalah tindakan di luar konsensus ulama dan ummat Islam Indonesia,” pungkasnya.

Sumber: AQLNews