Yayasan Al-Manarah: Kalimat Tauhid Akan Mempersatukan Umat Islam

PADANG (Jurnalislam.com) – Penasihat utama Yayasan al-Manarah al-Islamiyah Prof. Syeikh Sulaiman al-Bierah mengungkapkan, hari ini realita umat Islam menunjukkan dalam kondisi penuh dengan luka dan banyak mengalami persoalan internal dalam berbagai bidang.

Terutama, menurutnya, semenjak jatuhnya Khilafah Utsmaniyah. Dimana negara-negara Islam dipecah-pecah dan dibagi-bagi sehingga secara entitas politik tidak memiliki kekuatan.

Di sisi lain, sambung Syeikh Sulaiman, umat Islam juga mengalami masalah kemiskinan, kebodohan, dan kemunduran.

“Kita harus mengenali dan memahami kondisi umat Islam sendiri,” ujarnya dalam Multaqo Ulama dan Da’i Internasional di Kota Padang, Sumatera Barat, Selasa (18/07/2017).

Imam Masjidil Haram yang juga guru dari Syeikh as-Sudais ini menjelaskan, meskipun kondisi umat Islam terpecah. Tetapi tidak boleh kehilangan harapan dan yakin suatu ketika dipulihkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Karenanya, Syeikh Sulaiman menyampaikan, perlunya semua pihak bergerak melakukan upaya apapun untuk bisa pulih dari kondisi-kondisi tersebut.

“Olehnya upaya yang dilakukan al-Manarah bertujuan untuk membangun itu, bukan memperdalam luka, tapi memulihkan harapan kembali. Menyatukan tanpa menyinggung perbedaan-perbedaan yang ada,” imbuhnya.

“Semua disatukan dengan kalimat tauhid. Usaha saat ini adalah mendekatkan bukan saling menjauhkan,” tandas Syeikh Sulaiman menutup.

Reporter: Yahya G Nashrulloh/INA

Syeikh Ahmad Bathahaf: Fir’aun Manfaatkan Media untuk Mengokohkan Kekuasaan

PADANG (Jurnalislam.com) – Direktur Program Pengadaan Kader Ilmiah Jeddah, Saudi Arabia Syeikh Ahmad Bathahaf mengatakan, media memiliki peran penting dalam kebangkitan dan kejatuhan sebuah bangsa atau umat. Hal itu, katanya, sebagaimana digambarkan dalam kisah penguasa dzalim Fir’aun.

Syeikh Ahmad menjelaskan, kekuasaan Firaun yang begitu kuat sejatinya tidak bisa bertahan kecuali dengan kekuatan media yang dia bangun untuk mempertahankan kekuasaannya.

“Hanya saja, corong media pada saat itu berupa simpul-simpul tokoh masyarakat dan tukang sihir,” katanya dalam Simposium Jurnalis Muslim yang diselenggarakan di Padang, Sumatera Barat, Selasa (18/07/2017).

Baca juga: Anies Baswedan Bangga Indonesia Tuan Rumah Pertemuan Ulama dan Dai Internasional

Ia mengungkapkan, pada saat itu tokoh dan tukang sihir merupakan sarana untuk mengumpulkan khalayak dan menyampaikan kabar yang ingin disebarluaskan.

Fir’aun, terang Syeikh Ahmad, mempergunakan hartanya untuk mengerahkan tokoh dan tukang sihir tersebut.

“Karena saat itu tukang sihir memiliki kesamaan dengan media yang bisa mengubah keadaan atau pemikiran,” ujarnya.

Syeikh menjelaskan, para tukang sihir tersebut menyampaikan kepada publik bahwa agama Fir’aun lah yang menunjukkan kepada kebenaran. Dan agama Musa dianggap sebagai agama yang akan menggantikan agama nenek moyang mereka.

Akan tetapi, sebagian besar para tukang sihir itu menyaksikan kebenaran yang dibawa oleh Musa. Hingga kemudian mereka masuk Islam dan mengikuti kebenaran yang dibawa oleh Nabi Musa As.

“Dari kisah tersebut pengaruh media massa sangatlah besar. Persamaannya, saat ini bisa disaksikan bagaimana imperium media Barat bisa mengubah pandangan masyarakat dengan media yang mereka miliki. Bahkan mampu mengubah pejuang kebenaran menjadi orang yang salah,” paparnya.

Baca juga: Blokir Media Sosial, Pengamat: Rezim Jokowi Blunder

Karena itu, lanjutnya, eksistensi dakwah Nabi Musa juga karena dukungan media massa. Namun bukan hanya Musa yang menggunakan fasilitas media massa, tapi semua nabi menggunakan media massa dalam menyebarkan kebenaran atau dakwah.

“Perjalanan para nabi dan usaha mereka menyebarkan dakwah dengan media massa adalah fakta yang tidak bisa dihindari. Akan tetapi media massa itu berubah-ubah dari masa ke masa,” tandasnya.

Simposium Jurnalis Muslim ini diselenggarakan oleh Yayasan al-Manarah al-Islamiyah bekerjasama dengan Jurnalis Islam Bersatu (JITU) dan Pemerintah Kota Padang sebagai tuan rumah.

Reporter: Yahya G Nashrulloh/INA

Ribuan Jamaah Hadiri Kajian Ustadz Felix Siauw di Solo

SOLO (Jurnalislam.com) – Ribuan orang memadati Masjid Baitul Amin, Cemani, Sukoharjo pada Senin (17/7/2017) menghadiri Tabligh Akbar dai muda keturunan Tionghoa, Ustadz Felix Siauw. Acara bertema “Generasi Muda Kunci Masa Depan Bangsa” itu dijaga ketat oleh Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM).

Dalam paparannya, Ustadz Felix menjelaskan salah satu perbedaan antara generasi muda zaman dahulu dengan zaman sekarang. Salah satu contohnya adalah pemuda penakluk Konstantinopel, Muhammad Al Fatih.

“Pada umur 11 tahun Muhammad Al Fatih sudah bisa nulis syair jihad, (anak muda) sekarang dengan umur yang sama nulis surat cinta,” katanya.

Selain itu, kata dia, Muhammad Al Fatih juga menguasai 8 bahasa dan sejak akhil baligh sampai wafatnya tidak pernah meninggalkan qiyamul lail. Muhammad Al Fatih menaklukan Konstantinopel dalam usia 21 tahun.

Kunci suskes Muhammad Al Fatih yang lain menurut Ustadz Felix adalah keyakinan yang kuat akan nubuwah kemenangan Islam.

Selain itu, ia juga mengatakan perbedaan antara orang muslim dan non-muslim dalam menerima Islam.

“Bedanya orang beriman dan non-muslim itu di keyakinan. Kalau orang Islam itu, beriman dulu baru bukti. Sebaliknya, orang non-muslim itu bukti dulu baru mau beriman,” pungkasnya.

Sebelumnya, kajian Ustadz Felix Siauw mendapat penolakan dari oknum ormas di beberapa daerah. Akan tetapi di Solo, ia disambut hangat 5000 jamaah.

Reporter: Ridho Asfari

Ditolak Oknum Ormas di Sragen, Felix Siauw Santuni Anak Yatim di Solo

SOLO (Jurnalislam.com) – Sebelum berceramah di Masjid Baitul Amin Sukoharjo, Senin (17/7/2017) kemarin, Ustadz Felix Siauw memberikan bantuan 57 paket bahan pokok ke Pondok Yatim dan Dhuafa Soejono Taroena Baki, Sukoharjo.

Koordinator Komunitas Nahi Munkar Solo (KONAS), Dadyo Hasto Kuncoro, mengatakan ini sisi lain yang perlu publik ketahui, bahwa dakwah tidak mengenal batasan.

“Dakwah dia (Ustadz Felix) kerap ditolak, di Sragen oknum yang menolak mengatasnamakan Santri Nadlatul Ulama (NU). Kemarin yang ditunjukkan luar biasa, sebelum mengisi kajian, bersama KONAS ia menyantuni anak yatim dan dhuafa di Pondok Soejono Taroena Baki yang kental dengan nuansa NU,” katanya, Selasa (18/7/2017) .

Dikatakan, kepedulian terhadap anak yatim dan dhuafa adalah hal yang tidak boleh dilupakan bagi aktivis nahi munkar. Kata dia, kegiatan nahi munkar ini tidak biasa dipisahkan dengan mendidik dan memahamkn masyarakat melalui perbuatan amar maruf.

“Alhamdulillah, selain menyatuni anak yatim Felix Siauw juga memotivasi adik-adik pondok untuk menjadi generasi yang luar biasa sehingga bermanfaat untuk agama dan ummat,” paparnya.

Ia berharap, semoga yang sedikit ini, bisa memicu munculnya kepedulian yang lebih besar ummat Islam terhadap kondisi saudaranya dan kekeluargaan antar ummat Islam. Menurutnya, kelancaran dan kesuksesan acara kajian Felix Siauw yang dihadiri ribuan orang kemarin membuktikan bahwa dakwahnya tak mengandung kebencian.

Tinjauan Politik Kewajiban Menolak Perppu 2/2017

Oleh: AB Latif (Indopolitik Watch)

PEMERINTAH resmi menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tertanggal 10 Juli 2017 untuk mengatur organisasi kemasyarakatan (ormas) diindonesia. Penerbitan Perppu ini juga menggantikan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013.

Gonjang-ganjing menasional sejak pemerintah berencana membubarkan HTI. Kala itu, disebutkan bahwa perppu merupakan salah satu opsi yang bisa dipilih untuk membubarkan ormas yang radikal dan anti pancasila. Opsi lainnya adalah melalui pengadilan. Ini artinya keluarnya Perppu nomor 2 tahun 2017 merupakan pilihan pemerintah sebagai langka awal untuk membubarkan ormas Islam pada umumnya.

Jika melalui Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 proses pembubarannya cukup sulit dan bertele-tele serta memakan waktu yang lama. Diharapkan dengan Perppu ini secepatnya pemerintah bisa membubarkan ormas. Hal ini diperkuat dengan dihilangkannya proses pengadilan dalam mekanisme pembubaran ormas dalam Perppu ini. Sesungguhnya Perppu ini adalah buah dari kepanikan Presiden Jokowi akan Pemilu 2019. Dimana pencitraannya sudah luntur diterpa angin. Padahal masih harapan untuk bisa bertahan lagi sampai 2 periode.

Ada beberapa agenda dibalik keluarnya Perppu nomor 2 tahun 2017 ini:

Pertama, pembubaran ormas islam yang begitu membahayakan kepentingan asing dan aseng.

Kedua, usaha kuat dari para golongan kiri atau komunisme untuk menghapus UU No 17 tahun 2013 yang terdapat pasal melarang ajaran komunisme di Indonesia. Artinya jika nanti Perppu digugat dengan alasan akan membunuh demokrasi, maka golongan kiri/komunis pun bisa menggugat Undang-Undang nomor 17 tahun 2013 dengan alasan yang sama. Jika ternyata Perppu baru ini menang dan disahkan pemerintah, maka kemenangan bagi komunisme.

Ketiga, dalam Perppu yang baru sudah tidak dicantumkan lagi larangan ajaran Komunisme dan ini adalah peluang ajaran komunisme untuk bangkit dan berkembang dengan bebas. Inilah skenario orang-orang komunis untuk bisa legal di Indonesia. Banyak di kalangan umat ini yang belum tahu bahwa dibalik Perppu ini ada komunisme yang bermain cantik. Kini komunisme hidup dan tumbuh subur di balik rezim yang berkuasa saat ini.

Keempat, Perppu ini ternyata juga mampu mengalihkan opini ketidakadilan dan ketidakmampuan rezim penguasa saat ini. Kedzaliman penguasa atas rakyatnya saat menaikan tarif dasar listrik yang begitu menyengat aman-aman saja dan hampir tidak ada protes sama sekali. Akibat kebijakan dzolim ini rakyat semakin terbebani. Selain itu kelangkaan premium saat ini, perpanjangan kontrak Freeport, utang luar negeri yang begitu menghakhawatirkan juga menjadi bukti betapa lemahnya rezim untuk mengurusi negeri yang kaya ini.

Sungguh Perppu ini sangatlah berbahaya bagi keberlangsungan hidup warga. Artinya dengan Perppu inilah pintu kesewenang-wenangan akan terbuka, karena pemerintah akan bertindak secara sepihak dalam menilai, menuduh, dan menindak ormas tanpa ada ruang bagi ormas untuk membela diri. Hal ini diperkuat dengan adanya pasal karet yakni larangan melakukan tindakan permusuhan terhadap SARA dan penyebaran paham lain yang dianggap bakal mengganggu Pancasila dan UUD 1945. Ini akan berpotensi dimaknai secara sepihak untuk menindak pihak lain yang dianggap bertentangan dengan kebijakkan pemerintah.

Selain itu juga akan mampu menumbuhkan kembali ajaran Komunisme di negeri muslim ini. Dimana sudah ada jutaan kader komunis di Indonesia yang siap bertarung untuk menguasai negeri ini. Relakah negeri yang kita cintai ini dikuasai asing yang komunis ? disinilah pentingmya memahami fakta dan bersatu bersama semua elemen masyarakat untuk menolak Perppu nomor 2 tahun 2017. Tolak Perppu sebagai bentuk kecintaan kita bagi negeri ini. Sadari juga penolakan dengan perjuangan dan kesadaran politik. (*)

Panglima TNI: Peran Ulama Sangat Penting di Era Global

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengatakan, peran serta ulama Indonesia dalam menghadapi persaingan global sangat menentukan untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa pemenang.

“Sejarah telah membuktikan bahwa peran kiai ulama dan santri selalu hadir dalam setiap perjuangan untuk mewujudkan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan NKRI di samping komponen bangsa lainnya,” ungkapnya pada acara Halal Bihalal di Pondok Pesantren An Nur 2 Al Murtadlo, Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Ahad (16/7/2017) lalu sebagaimana dilansir Republika.

Panglima TNI menegaskan sebelum Sumpah Pemuda diikrarkan, mereka telah mengumandangkan perlunya persatuan dan kesatuan bangsa untuk mengusir para penjajah dari Tanah Air Indonesia.

“Indonesia merdeka dari penjajah zaman dahulu tidak lepas dari peran penting kiai, ulama dan santri,” ujarnya di hadapan kiai dan sekitar 7.000 santri serta 2.000 alumni Ponpes An Nur 2 Al Murtadlo.

Terkait kompetisi global, Gatot menilai persaingan antar negara muncul sebagai akibat semakin menipisnya energi fosil. Sedangkan pertumbuhan penduduk yang terjadi sangat pesat. Dan bumi sebagai tempat tinggal tidak bertambah luas bahkan semakin sempit karena pemanasan global.

Menurut Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, diprediksi sekitar tahun 2043 semua penduduk di dunia bakal mencari pangan di negara-negara ekuator seperti di kawasan Amerika Latin, Asia Tengah dan Asia Tenggara. Salah satunya Indonesia yang dinilai subur dan memiliki sumber daya alam yang melimpah di antaranya air, pangan dan energi yang terbarukan.

“Inilah yang harus diantisipasi bangsa Indonesia karena kekayaan alamnya akan menjadi rebutan negara-negara asing. Jadi bangsa Indonesia harus siap menghadapi kenyataan ini karena salah satu negara di ekuator yang memiliki energi luar biasa besar,” ungkap Panglima TNI.

Usai acara Halal Bihalal, Panglima TNI melaksanakan peletakkan batu pertama renovasi Masjid An Nur. Ia juga meresmikan gedung Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning (STIKK).

Ustadz Zaitun Rasmin Optimis Persatuan Umat Akan Terwujud

PADANG (Jurnalislam.com) – Ketua Ikatan Ulama dan Da’i ASEAN, Ustadz Zaitun Rasmin menyatakan, persatuan merupakan suatu yang sangat penting dalam ajaran Islam dan juga menjadi salah satu kebutuhan manusia dalam hidup.

Karena itu, Multaqo Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, Eropa, dan Afrika yang berlangsung di Kota Padang saat ini kembali mengangkat tema tentang persatuan umat.

“Persatuan ini dibutuhkan di Indonesia, Asean, termasuk dunia Arab,” ungkapnya kepada Islamic News Agency (INA) di Hotel Grand Inna, Padang, Senin (17/07/2017).

Baca juga: Anies Baswedan Bangga Indonesia Tuan Rumah Pertemuan Ulama dan Dai Internasional

Ia mengungkapkan, walaupun terdapat perbedaan dan ancaman perpecahan, seperti yang terjadi di negara-negara Arab sekarang. Selama semua pihak mau untuk duduk bersama dan berkomunikasi, Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini yakin persatuan umat bisa diwujudkan.

“Sebab, sebetulnya memang kunci persatuan ini adalah duduk bareng dan komunikasi. Selama ini kita lakukan dengan niat yang baik, insya Allah dapat terwujud persatuan itu,” jelasnya.

Terhadap perbedaan, Ustadz Zaitun mengajak, agar semua pihak saling memahami dan toleran.

Namun, sambungnya, jika ada yang perlu saling mengingatkan, menasihati, bahkan mengkritik. Hal ini juga perlu dibuka peluangnya, tentu tetap dengan cara-cara yang santun.

“Sehingga kemudian ini menjadi sinergi dan tidak kontra,” ungkapnya.

Baca juga: Ulama dan Dai Dunia Kumpul di Padang Bahas Persatuan Umat

Ustadz Zaitun mengaku, sangat optimis umat Islam dapat bersatu melalui acara seperti Pertemuan Ulama dan Dai Internasional saat ini. Dikarenakan peserta yang datang dari berbagai tempat dan latar belakang.

“Peserta pertemuan adalah para ulama dan da’i. Kalau mereka bersatu, insya Allah umat bersatu. Jadi kami sangat optimis,” tegasnya menutup.

Sebagaimana diketahui, Yayasan al-Manarah al-Islamiyah dan Ikatan Ulama dan Da’i ASEAN bekerjasama dengan Pemerintah Kota Padang menyelenggarakan Pertemuan Ulama dan Da’i se-Asia Tenggara, Eropa, dan Afrika. Acara itu berlangsung hingga Kamis (20/07/2017) mendatang.

Reporter: Yahya G Nashrulloh/INA

Anies Baswedan Bangga Indonesia Tuan Rumah Pertemuan Ulama dan Dai Internasional

PADANG (Jurnalislam.com) – Gubernur Jakarta Terpilih Anies Rasyid Baswedan mengaku bangga Indonesia, khususnya Kota Padang, menjadi tuan rumah pertemuan ulama dan dai se-Asia Tenggara, Eropa, dan Afrika yang ketiga kalinya.

Anies mengungkapkan, sudah seharusnya Indonesia bisa menjadi pemain dunia. Indonesia tidak boleh hanya sekadar memikirkan lingkar dalam batas wilayahnya saja.

Baca juga: Bertemu Dubes Saudi, Wali Kota Padang Berharap Cabang LIPIA Segera Didirikan

Menurutnya, dengan menjadi tuan rumah Indonesia bisa menunjukkan kepada dunia Islam bagaimana Islam dan kedamaiaan hadir di negeri ini.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini menilai, Indonesia berhasil mengelola kebhinnekaan yang luar biasa, di negeri yang terdapat lebih dari 700 bahasa dan 400 suku.

Maka, terangnya, para dai yang berasal dari luar Indonesia akan melihat dari dekat bagaimana kematangan bangsa Indonesia dan umat Islamnya mengelola berbagai aspek kebhinnekaan.

Baca juga: Pemkot Padang Bicara Soal Investasi di Pertemuan Ulama dan Da’i Internasional

“Ini kesempatan bagi Indonesia untuk menunjukkan kepada dunia. Mereka bisa belajar dan mengambil hikmah dari kita,” ujarnya kepada Islamic News Agency (INA), jaringan kantor berita yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu (JITU), usai acara pembukaan di Masjid Raya Sumatera Barat, Kota Padang, Senin (17/07/2017).

Berkaitan dengan tema yang diangkat, yakni tentang Persatuan Umat, Anies menekankan, persatuan harus diberi pondasi. Pondasinya, kata dia, adalah keadilan. Yang kemudian menghadirkan kedamaian dan kedamaian menghadirkan persatuan.

“Ini yang penting kita garis bawahi,” pungkasnya.

Reporter: Yahya G Nasrullah/INA

Walikota Padang: MUI Termasuk Panitia Pertemuan Ulama dan Dai Internasional

PADANG (Jurnalislam.com) – Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah menegaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan Pertemuan Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, Eropa dan Afrika di Kota Padang berlangsung sejak Senin hingga Kamis (17-20/07/2017) mendatang.

Bahkan, terangnya, MUI Kota Padang juga menjadi bagian dari panitia acara.

“Kemudian MUI Provinsi Sumatera Barat juga kita undang,” ujarnya kepada Islamic News Agency (INA), usai kegiatan pembukaan Multaqo Ulama dan Dai Internasional di Masjid Raya Sumatera Barat, Kota Padang.

Baca juga: Ulama dan Dai Dunia Kumpul di Padang Bahas Persatuan Umat

Sedangkan untuk tingkat pusat, Mahyeldi menjelaskan, hal itu juga sudah dikoordinasikan oleh penyelenggara utama yakni Yayasan al-Manarah al-Islamiyah.

Dewan Pembina Yayasan al-Manarah al-Islamiyah Syaikh Khalid al-Hamudi, kata Mahyeldi, berkomunikasi langsung dengan Ketua Umum dan Sekjen MUI di Jakarta.

“Kalau ada yang mengatakan bahwasanya acara ini tidak melibatkan MUI, itu adalah suatu hal yang kurang tepat dan kemudian tidak benar,” ungkapnya.

Untuk meyakinkan itu, Mahyeldi bahkan siap menunjukkan dokumen administratif terkait koordinasi dengan MUI dalam pertemuan yang mengangkat tema Persatuan Umat tersebut.

Baca juga: Gubernur Sumatera Barat Buka Multaqo Ulama dan Da’i Se-Asia Tenggara, Eropa, Afrika

“Peserta yang dari Indonesia juga diundang melalui pemerintahan daerah dan MUI,” jelasnya.

“Di Sumatera Barat juga demikian. Organisasi juga diundang, seperti NU dan Muhammadiyah serta yang lainnya,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, Pertemuan Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, Eropa, dan Afrika ini diselenggarakan oleh Yayasan al-Manarah al-Islamiyah bekerjasama dengan Ikatan Ulama dan Da’i ASEAN serta Pemerintah Kota Padang.

Selain Multaqo Ulama dan Dai Internasional, juga digelar Simposium Jurnalis Muslim pada 18-19 Juli 2017 yang diikuti perwakilan wartawan dari media-media Islam dan mainstream.

Reporter: Yahya G Nasrulloh/INA

Blokir Medsos, Pengamat: Tugas Negara Seharusnya Mengontrol, Bukan Memberangus

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Rencana pemerintah memblokir sejumlah media sosial yang ditengarai berisi muatan terorisme dinilai sebagai tindakan naif. Pernyataan itu disampaikan Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya dalam keterangan tertulis kepada Jurnalislam.com, Selasa (18/7/2017).

Menurutnya, teknologi akan melahirkan dampak positif dan negatif tergantung penggunaanya.

“Ibaratnya gelas, ia sebagai alat dan air itu isinya. Namun Bukan karena isi gelas itu racun kemudian negara menghancurkan gelasnya, padahal gelas itu sudah menjadi kebutuhan dan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan warga negaranya,” katanya.

Harits mengakui, peran negara adalah untuk menutup semua celah yang bisa membahayakan kehidupan warga negaranya dalam beragam aspeknya.

“Namun peran negara yang harus dioptimalkan dalam hal ini adalah fungsi filtering dan kontrol bukan memberangus,” pungkasnya.