Antara Terorisme dan Strategi Pengalihan Isu

SIANG ini, Kamis (14/1/2016) tepatnya pukul 10:30 Wib kota Jakarta dikejutkan dengan ledakan bom di kawasan Sarinah. Ledakan terjadi di beberapa titik. Yang menjadi fokus titik ledakan adalah kawasan Pos Polisi Sarinah. Tentu ledakan ini menjadi sajian berita utama di berbagai media TV nasional. Aksi peledakan ini pun bak film action karena mempertontankan aksi baku tembak. Lepas dari kejadian tersebut, muncul berbagai analisa yang berbeda. Masyarakat awam sudah keduluan terkontruksi media mainstream sehingga menyebut tragedi Sarinah merupakan bagian dari aksi terosisme. Beda hal dengan analisa yang dilakukan oleh peneliti serta pakar terorisme, mereka mengaitkan tragedi sarinah dengan jaringan ISIS karena asumsi mereka aksi ini mirip seperti aksi di Paris. Tentu saja dua analisa ini membuat Islam lagi-lagi terstigmatisasi kian buruk.

Terlepas dari dua analisa tadi penulis coba menyuguhkan analisa pembanding agar aksi ini bisa dicerna secara proporsional. Kondisi bangsa ini sedang berada pada titik kulminasi yang kian mendidih. Masyarakat disuguhkan berbagai persoalan bangsa yang begitu komplit yang sampai hari ini belum mampu teruraikan benang merahnya. Polemik di parlemen yang terus meruncing, korupsi yang menggurita, reshufle kabinet jilid dua serta tarik ulur kontrak karya Freeport. Semua persoalan di atas begitu menguras energi yang berdampak pada stabilitas politik, ekonomi dan keamanan negeri ini. Tentu kondisi ini bisa dijadikan celah oleh pihak terkait untuk memecah fokus masyarakat. Sehingga fokus masyarakat teralihkan dan wal hasil isu-isu di atas menggelinding bebas tanpa penyelesaian yang jelas. Karena fokus masyarakat sudah pindah ke isu terorisme.

Isu terorisme merupakan isu seksi yang dikemas serta dimanfaatkan oleh inteligen sebagai upaya pengalihan isu serta pengkerdilan umat Islam. Dengan membonceng isu terorisme akan membenamkan isu-isu lain yang berkembang. Sehingga sudah tertebak masyarakat menjadi abai, fungsi kritisnya mandeg, serta gerakan perlawanan pun menjadi terhenti karena tertutupi tabir terorisme. Hal yang janggal adalah ketika fungsi badan inteligen sebagai kamnas ini tidak berjalan, tidak mampu mendeteksi gerakan tersebut. Padahal gerakan ini tidak terlalu besar. Selanjutnya motif pemboman pun tidak jelas pesan apa yang disampaikan dan target ledakannya pun bukan tempat-tempat strategis. Jadi terlalu dangkal jika menyamakan aksi ini dengan Paris.

Analisa selanjutnya, hari ini merupakan deadline PT Freeport menawarkan divestasi kepada pemerintah. Kita tahu bahwa polemik Freeport ini mendapatkan perlawanan yang begitu masif dari publik. Bisa saja untuk memuluskan negosiasi tersebut pihak terkait menggelontorkan isu terorisme sebagai pengalihan isu di atas.

Analisa terakhir. Dengan membonceng isu terorisme semakin meneguhkan posisi Indonesia di mata barat ikhwal keseriusan Indonesia untuk memberangus gerakan terorisme sehingga semakin melemahkan umat Islam, meneguhkan sistem kapitalisme buatan barat dan yang paling penting Indonesia tetap memilki bargaining position yang seksi di mata barat. Banyak teori analisa yang bisa dikaitkan dengan aksi tersebut. Hanya kita perlu bijak serta tidak serampangan untuk mengaitkan aksi tersebut dengan Islam. Hingga ramai-ramai termasuk muslim sendiri mengeroyok umat Islam.*

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses