AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Perang kata-kata berlanjut antara Afghanistan dan Pakistan setelah serangan bom truk yang mematikan di Kabul menewaskan sedikitnya 90 orang.
Pejabat intelijen Afghanistan menyalahkan kelompok yang berafiliasi dengan Taliban dan Pakistan melakukan pemboman truk di Kabul hari Rabu (31/5/2017).
Pejabat Pakistan menolak tuduhan tersebut dan pejabat Taliban mengatakan bahwa mereka tidak memiliki tangan dalam ledakan tersebut.
Zein Basravi dari Al Jazeera, melaporkan dari Islamabad, mengatakan bahwa tuduhan Afghanistan pada hari Kamis (1/6/2017) merupakan bagian dari “perang kata-kata” yang sedang berlangsung antara kedua negara.
Ini adalah “sinyal ketidakpercayaan yang mempengaruhi hubungan bilateral mereka, dan juga hubungan kerjasama mengenai isu-isu kontra-terorisme”, katanya.
Sedikitnya 400 lainnya luka-luka ketika seorang penyerang bunuh diri mengendarai sebuah truk tanker yang sarat dengan bahan peledak ke distrik diplomatik Kabul yang dijaga ketat saat jam sibuk pagi hari.
Badan intelijen Afghanistan pada hari Rabu mengklaim bahwa temuan awal menunjukkan jaringan Haqqani yang bermarkas di Taliban telah melakukan serangan tersebut dengan bantuan dinas intelijen Pakistan.
“Rencana serangan hari ini [Rabu] dibuat oleh jaringan Haqqani dengan koordinasi langsung dan kerjasama dengan Inter Services Intelligence (ISI) Pakistan,” kata Direktorat Keamanan Nasional dalam sebuah pernyataan.
Afghanistan telah lama menuduh Pakistan mendukung dan melindungi komandan dan pejuang Haqqani dan Taliban, dan kedua negara secara teratur saling menuduh mendukung kelompok bersenjata yang beroperasi di seberang perbatasan.
Zabihullah Mujahid, juru bicara Imarah Islam Afghanistan (Taliban), mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Taliban tidak terlibat dalam serangan kemarin.
Pernyataan Juru Bicara Imarah Islam atas Ledakan Bom Truk di Kabul
Ledakan tersebut merupakan serangan terburuk kota itu sejak penarikan sebagian pasukan multinasional dari Afghanistan tahun 2014.
Jumlah besar korban adalah warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak. Penjaga keamanan Afghanistan juga termasuk dalam korban tewas.
Walikota Kabul mengatakan, ledakan tersebut merusak properti hingga sejauh 4km dari lokasi ledakan dan puluhan orang menunggu di rumah sakit untuk mengetahui nasib keluarga dan teman mereka yang terluka.
Dalam sebuah panggilan telepon dengan Donald Trump pada hari Rabu, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengeluhkan peran dinas intelijen Pakistan dalam serangan tersebut serta peran dinas intelijen Pakistan dalam konflik yang sedang berlangsung di Afghanistan, sumber-sumber di dalam istana kepresidenan mengatakan kepada Al Jazeera.
Kantor luar negeri Pakistan di Islamabad mengeluarkan sebuah pernyataan beberapa jam setelah ledakan hari Rabu, mengutuk serangan tersebut, dengan mengatakan bahwa rakyatnya sendiri berada di lokasi ledakan dan terkena dampak ledakan tersebut.