Bedah Buku Kolaborasi Pemuda Muhammadiyah Jati Asih Tegaskan Isu Palestina Adalah Soal Penjajahan dan Rasialisme, Bukan Sekadar Perang Agama

Bedah Buku Kolaborasi Pemuda Muhammadiyah Jati Asih Tegaskan Isu Palestina Adalah Soal Penjajahan dan Rasialisme, Bukan Sekadar Perang Agama

BEKASI (jurnalislam.com)— Dukungan konsisten bangsa Indonesia terhadap Palestina berakar dari prinsip penolakan terhadap penjajahan dan rasialisme yang diletakkan oleh para founding fathers Indonesia. Penegasan ini menjadi poin utama dalam bedah buku “Akar Sejarah Solidaritas Indonesia-Palestina” di Typica Coffee, Galaxy, Bekasi pada Sabtu, (12/9/2026).

Acara ini dimoderatori oleh Salman Sobakh dari PC Pemuda Muhammadiyah Jatiasih. Berkolaborasi dengan komunitas sejarah Jejak islam untuk Bangsa (JIB), Kelompok Kerja Strategis Ummatica dan PC Pemuda Muhammadiyah Jatiasih dan PC Nasyiatul Aisyiah Jatiasih Kota Bekasi.

Dalam paparannya, Beggy Rizkiansyah menjelaskan bagaimana tokoh-tokoh bangsa Indonesia sejak era pra-kemerdekaan hingga pasca-kemerdekaan memandang kebijakan zionisme sebagai bentuk kolonialisme yang merampas tanah air bangsa lain.

“Para tokoh-tokoh bangsa ini sudah menentukan Israel ini adalah soal rasialisme dan kolonialisme. Ini bukan cuma soal kemanusiaan, tapi ini soal penjajahan dan rasisme… Kenapa ada bangsa kita yang bahkan bukan orang Islam pun mendukung Palestina? Ya karena ini soal sama penjajah. Kita nih bangsa yang terjajah, kita tahu rasanya dijajah gimana,” tegas Beggy Rizkiansyah.

Beggy menambahkan bahwa dorongan pembelaan terhadap Palestina tumbuh secara organik dari arus bawah (grassroot) masyarakat sebelum akhirnya ditegaskan menjadi sikap resmi pemerintah.

“Di Indonesia kepedulian terhadap Palestina ini dukungan dari bottom-up, dari grass root dulu, dari masyarakat dulu, dari ulama, dari tokoh-tokoh Islam, kemudian mereka menekan pemerintahnya dan pemerintahnya punya sikap… Karena sama-sama antikolonialisme, anti penjajahan,” imbuh Beggy.

Sejalan dengan hal tersebut, pengulas Fajar Sadikov menggarisbawahi bahwa ajaran Islam dan nilai kebangsaan Indonesia senantiasa mendorong setiap muslim untuk bervisi global serta membela kemanusiaan universal.

“Ketika berbicara perang Palestina bukan perang agama… Islam tidak pernah membawa agama untuk mensegregasi ruang, Islam itu justru malah menjadi rahmatan lil alamin… Menjadi seorang muslim itu harus bervisi global. Dia tidak peduli di mana pun saudaranya berada, itu adalah bagian dari dirinya,” ungkap Fajar Sadikov.

Bagikan