“Anakku Sekarat Perlahan”: Tangisan Ibu di Gaza Saat Perbatasan Rafah Masih Tertutup

“Anakku Sekarat Perlahan”: Tangisan Ibu di Gaza Saat Perbatasan Rafah Masih Tertutup

GAZA (jurnalislam.com)- Israel pada Ahad (01/02/2026) mengizinkan pembukaan kembali secara terbatas Penyeberangan Rafah yang menghubungkan Jalur Gaza dengan Mesir. Namun, penutupan selama lebih dari satu setengah tahun terakhir telah menimbulkan bencana kemanusiaan yang mendalam, khususnya bagi pasien yang membutuhkan perawatan medis penting.

Akibat pengepungan Israel, sekitar 50 persen pasien gagal ginjal di Gaza dilaporkan meninggal dunia. Sementara itu, para pasien yang masih hidup harus berjuang bertahan di tengah keterbatasan obat-obatan dan fasilitas kesehatan.

Di ruang dialisis Kompleks Medis Al-Shifa di Kota Gaza, seorang remaja bernama Rawaa Al-Daama (15) menjalani sesi dialisis yang menjadi bagian dari rutinitas melelahkannya.

Ibunya, Sabrin, menuturkan bahwa Rawaa telah menderita penyakit ginjal kronis sejak lahir. Namun, kondisinya memburuk drastis sejak perang pecah, ketika akses terhadap obat dan perjalanan medis terputus.

Kepada Kantor Berita Qatar (QNA), Sabrin mengungkapkan bahwa putrinya harus menjalani tiga hingga empat kali dialisis setiap pekan.

“Kami menghabiskan hidup bolak-balik antara rumah dan rumah sakit. Kondisinya terus memburuk. Dia sekarat perlahan, dan kami seakan ikut sekarat bersamanya,” ujarnya.

Ia juga menyatakan kesiapannya untuk mendonorkan ginjal demi menyelamatkan anaknya. Namun, penutupan perbatasan membuat proses transplantasi mustahil dilakukan.

“Kami tidak meminta apa pun selain agar jalan dibuka untuk menyelamatkan sisa hidup kami,” katanya.

𝗥𝗮𝘁𝘂𝘀𝗮𝗻 𝗣𝗮𝘀𝗶𝗲𝗻 𝗠𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗠𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂

Meski perbatasan Rafah mulai dibuka secara terbatas, sekitar 200 pasien masih menunggu izin untuk keluar dari Gaza demi mendapatkan perawatan di luar negeri. Sumber setempat menyebutkan bahwa pembukaan lebih permanen direncanakan pada hari Senin.

Kepala Departemen Nefrologi Al-Shifa, Dr. Ghazi al-Yazji, menegaskan bahwa penutupan perbatasan berdampak “mematikan” bagi para pasien.

Ia menjelaskan bahwa banyak penderita penyakit autoimun membutuhkan biopsi ginjal yang tidak tersedia di Gaza, sehingga kondisi mereka berkembang menjadi gagal ginjal total.

Saat ini, departemen dialisis Al-Shifa melayani sekitar 210 pasien gagal ginjal stadium lima dalam kondisi yang sangat terbatas.

“Kami mengalami kekurangan mesin dan perlengkapan medis. Terkadang kami terpaksa melakukan transfusi darah untuk menggantikan obat yang tidak tersedia, meski berisiko tinggi bagi pasien,” ujarnya.

Angka Kematian yang Mengkhawatirkan
Direktur Al-Shifa, Dr. Mohammed Abu Salmiya, menyebut bahwa sekitar 50 persen pasien dialisis di Gaza meninggal dunia selama dua tahun perang dan pengepungan.

Ia menambahkan bahwa 70 persen kebutuhan farmasi dan medis tidak tersedia di wilayah tersebut.

Saat ini, Al-Shifa hanya memiliki 34 mesin dialisis untuk melayani sekitar 750 pasien gagal ginjal. Kondisi ini semakin membebani rumah sakit, terutama setelah fasilitas kesehatan lain, seperti Rumah Sakit Indonesia, hancur akibat serangan.

Abu Salmiya memperingatkan bahwa pembatasan atau penutupan kembali Rafah akan memperparah bencana kemanusiaan, serta menghambat pasien yang membutuhkan transplantasi dan perawatan khusus.

𝗥𝗶𝗯𝘂𝗮𝗻 𝗣𝗮𝘀𝗶𝗲𝗻 𝗧𝗲𝗿𝗷𝗲𝗯𝗮𝗸 𝗱𝗶 𝗚𝗮𝘇𝗮

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza sebelumnya melaporkan bahwa lebih dari 1.000 pasien dan korban luka meninggal akibat larangan perjalanan medis. Sekitar 20.000 lainnya masih menunggu dengan harapan bisa keluar dari Gaza untuk mendapatkan perawatan yang menyelamatkan nyawa.

Di tengah kehancuran dan keterbatasan, kisah Rawaa dan ibunya menjadi potret pilu penderitaan rakyat Gaza sebuah jeritan kemanusiaan yang menanti dunia untuk mendengarnya. (Bahry)

Sumber: TNA

Bagikan