Rakyat Bahagia di Tengah Kemiskinan, Mungkinkah?

Rakyat Bahagia di Tengah Kemiskinan, Mungkinkah?

Oleh : Siti Rima Sarinah

Kemiskinan yang menimpa rakyat merupakan kondisi tidak terpenuhinya kebutuhan pokok akibat faktor ekonomi. Kemiskinan yang melanda sebuah negara yang mengakibatkan rakyatnya mengalami kemiskinan struktural, diakibatkan kesalahan sistem yang melandasi lahirnya berbagai kebijakan dan aturan yang diberlakukan. Meningkat biaya pendidikan, kesehatan dan biaya hidup lainnya, seiringnya dengan minimnya lapangan pekerjaan dan masifnya gelombang PHK yang terus terjadi hingga hari ini mengakibatkan rakyat kesulitan mendapatkan sumber mata pencaharian baru.

Hidup dalam kondisi serba kekurangan bukanlah kondisi yang diharapkan. Berupaya sekuat tenaga untuk meraih kehidupan layak pun sudah diperjuangkan, namun kata layak dan sejahtera semakin jauh dari kehidupan rakyat. Akibat kemiskinan inilah banyak anak yang harus mengalami putus sekolah, dan harus bekerja untuk perekonomian keluarga diusia mereka yang masih sangat belia. Bisa mengenyam pendidikan hingga di bangku kuliah pun menjadi cita-cita mereka yang harus pupus akibat kemiskinan yang melanda kehidupan rakyat di negeri Zamrud Khatulistiwa.

Dikutip dari cna.id, 23/01/2026, terkait pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss yang menyatakan temuan survei yang menempatkan rakyat Indonesia sebagai negara yang paling berkembang di dunia dan paling bahagia walaupun hidup dalam kemiskinan. Ada yang menarik dari pernyataan Sang Presiden, tentang definisi bahagia dan miskin yang merupakan dua kondisi yang sangat bertolak belakang. Dan memunculkan pertanyaan besar benarkah rakyat bahagia di tengah kemiskinan struktural yang melanda kehidupan mereka?

Kemiskinan Yang Memprihatinkan

Sungguh ironis, Indonesia adalah negeri yang memiliki kekayaan alam melimpah ruah dari sabang hingga merauke. Seharusnya kekayaan alam ini mampu mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran terwujud nyata dalam kehidupan rakyatnya. Namun sayangnya, tak sedikit pun kekayaan alam yang notabene milik rakyat bisa dirasakan oleh rakyat. Mereka harus bekerja keras untuk bisa mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, keamanan dan lain sebagainya, merupakan hajat hidup rakyat yang menjadi kewajiban negara untuk memenuhinya.

Rakyat akan bisa sekolah dan mendapatkan pelayanan kesehatan jika mereka bisa membayar, karena tidak ada yang gratis untuk memperoleh semua akses dan pelayanan hajat hidup tersebut. Rakyat pun diwajibkan untuk membayar berbagai pungutan pajak, tanpa melihat kondisi perekonomian yang sudah sangat sulit. Tatkala rakyat berjuang keras untuk mengolah lahan dengan harapan hasil panen yang akan didapatkan bisa menopang perekonomian keluarga. Tanpa rasa bersalah, pemerintah membuka keran impor sehingga produk dari luar dengan mudah masuk membuat hasil panen tak laku di pasaran.

Pada akhirnya kondisi ini menyulitkan rakyat untuk keluar dari jeratan kemiskinan akibat sistem yang diberlakukan tak satu pun pro pada kepentingan rakyat. Dan sangat terlihat jelas kebijakan negara menguntungkan pihak yang mana, yang jelas rakyat menjadi pihak yang sangat dirugikan. Hal ini membuktikan kemiskinan yang memprihatinkan ini akibat sistem dan abainya peran negara terhadap tanggung jawab yang diberikan rakyat kepadanya.

Akibat Kapitalisme

Kemiskinan struktural yang dialami oleh rakyat diakibatkan oleh sistem kapitalisme yang menjadi asas lahirnya kebijakan dan aturan yang diterapkan di negeri ini. Kekayaan alam milik rakyat yang seharusnya dikelola oleh negara yang hasilkan dikembalikan untuk kemaslahatan rakyat, justru diberikan hak pengelolaannya kepada swasta/asing. Sehingga mereka yang menjadi pihak yang mendapatkan keuntungan dari pengelolaan tersebut. Sedangkan rakyat tidak mendapatkan apa-apa, selain kemiskinan akibat kebijakan yang diterapkan oleh penguasa dan pengusaha.

Sistem yang menjadikan materi sebagai tujuan satu-satunya ini telah menihilkan peran negara sebagai pelayan dan pengurus rakyat. Dan mengalihkan peran negara kepada pengusaha dan mereka menjadikan hajat hidup rakyat sebagai ajang bisnis yang sangat menguntungkan. Kondisi inilah yang membuat rakyat masuk dalam kubangan kemiskinan struktural yang sangat dalam.

Rakyat Bahagia = Sejahtera

Mengukur kebahagiaan rakyat tidaklah bisa dilihat dari hasil survei, melainkan harus jelas dalam mendefiniskan kebahagiaan itu sendiri. Rakyat adalah pihak yang diurusi dan dilayani semua kepentingan serta hajat hidupnya. Ibarat seorang ibu yang senantiasa hadir untuk menjaga dan melindungi serta memberikan apa saja yang dibutuhkan oleh anaknya. Tanpa pamrih ataupun mengharap imbalan apa pun atas periayahan yang diberikan kepada anaknya.

Potret seorang ibu inilah yang seharusnya dilakukan oleh negara. Karena negara adalah pihak yang bertanggung jawab untuk menunaikan tugasnya kepada rakyat. Sehingga mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran merupakan salah satu tugas negara. Keberadaan negara harus senantiasa hadir sebagai garda terdepan untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi oleh rakyat.

Kehadirannya ditengah rakyat karena dorongan sikap tanggung jawab dan amanah yang diembannya kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sehingga penguasa akan sangat berhati-hati agar tidak melalaikan tugasnya yang membuat raknyat menderita.

Oleh karena itu, rakyat sangat membutuhkan hadirnya sebuah negara dan seorang pemimpin yang peduli dan peka terhadap setiap urusan rakyat. Potret kepemimpinan dalam Islam seharusnya menjadi teladan dan panutan bagi penguasa hari ini. Karena sejarah telah membuktikan keberadaan penguasa dalam sejarah kepemimpinan Islam mampu mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuranan hingga ratusan tahun lamanya.

Negara berlandaskan syariat Islam tidak memberikan hak kepada siapa pun untuk mengelola kekayaan alam milik rakyat. Negaralah yang mengelola secara langsung yang hasilnya dikembalikan untuk memberikan pendidikan, kesehatan, keamanan dan hajat hidup lainnya secara gratis, adil dan merata untuk setiap individu rakyat. Pelayanan negara seperti inilah yang membuat rakyat mendapatkan kebahagiaan hakiki, karena mereka diurus dan diatur oleh sistem dan pemimpin yang amanah dengan sistem kehidupan yang terbaik. Wallahua’lam

Bagikan