TEHERAN (jurnalislam.com)- Pemerintah Iran terus memperketat pembatasan internet setelah memberlakukan pemadaman nasional pekan lalu, yang secara efektif memutus sebagian besar koneksi negara tersebut dengan dunia luar. Langkah ini diambil di tengah penindakan keras terhadap gelombang protes anti-pemerintah yang meluas.
Menurut Kantor Berita Fars, media yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), pemerintah Iran telah mengaktifkan Jaringan Informasi Nasional, sebuah sistem alternatif yang menggantikan internet global.
Jaringan tersebut memungkinkan akses ke situs web dan aplikasi pesan dalam negeri, sementara layanan yang dihosting di luar Iran tetap diblokir. Fars menyebut bahwa meredanya kerusuhan setelah pemadaman menjadi alasan perlunya pembatasan internet lanjutan dengan dalih keselamatan publik.
๐ ๐ฒ๐ป๐๐ท๐ ๐ฃ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐บ๐ฎ๐ป๐ฒ๐ป ๐ฎ๐น๐ฎ ๐๐ผ๐ฟ๐ฒ๐ฎ ๐จ๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ
Ini bukan kali pertama Iran mengaktifkan jaringan domestik tersebut saat pemadaman internet. Mahsa Alimardani, direktur asosiasi di kelompok pemantau hak digital Witness, mengatakan kepada The New Arab pada Kamis (15/01/2026) bahwa sistem tersebut telah dikembangkan selama sekitar 15 tahun.
โSetiap kali pemadaman diberlakukan, mereka hanya menyediakan koneksi domestik untuk seluruh negeri,โ ujarnya.
Namun yang dinilai baru dan mengkhawatirkan, kata Alimardani, adalah sinyal bahwa pembatasan ini bisa menjadi permanen. Jika itu terjadi, tingkat kontrol internet Iran bisa setara dengan Korea Utara, salah satu negara dengan sensor digital paling ketat di dunia.
Ia juga menambahkan bahwa sistem ini sering bermasalah dan telah memicu perdebatan di kalangan elit Iran, terutama terkait dampak ekonomi besar akibat terputusnya koneksi global.
โ๐ฃ๐ฒ๐ป๐ด๐๐ป๐ฐ๐ถ๐ฎ๐ป ๐๐ถ๐ด๐ถ๐๐ฎ๐นโ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ป๐๐ฒ๐ฟ๐ป๐ฒ๐ ๐๐๐ฎ ๐๐ฒ๐น๐ฎ๐
Untuk mengurangi dampak pemadaman total, pemerintah Iran menerapkan kebijakan yang dikenal sebagai โkartu SIM putihโ kartu khusus yang memberikan akses internet tanpa sensor kepada individu yang dekat dengan pemerintah.
Akibatnya, media dan lembaga negara tetap terhubung dengan dunia luar, sementara mayoritas rakyat Iran tetap gelap informasi.
Kaveh Ranjbar, mantan Kepala Teknologi di RIPE NCC, menyebut sistem ini sebagai bentuk โpenguncian digitalโ.
โKlaim bahwa jaringan informasi nasional bisa menggantikan internet global adalah menyesatkan,โ kata Ranjbar dikutip dari The New Arab.
โSecara teknis, Anda tidak bisa menjalankan ekonomi digital modern tanpa internet global. Ada ribuan ketergantungan tak terlihat. Anda tidak bisa menjalankan ekonomi modern hanya dengan jaringan lokal,โ tegasnya.
Ia menambahkan bahwa setiap jam pemadaman menyebabkan kerugian jutaan dolar dan menyebut kebijakan ini sebagai โbunuh diri ekonomiโ. (Bahry)
Sumber: TNA