SANAA (Jurnalislam.com) – Ali Abdullah Saleh, mantan presiden Yaman dan sekutu kelompok milisi Syiah Houthi, pada hari Sabtu (26/03/2016) menyerukan pembicaraan langsung dengan Arab Saudi dengan maksud untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung di Yaman, lansir Anadolu Agency.
Saleh mengeluarkan seruan dalam pidato publik pertamanya sejak peluncuran "Operasi Badai Tegas (Operation Decisive Storm)", yaitu operasi militer yang dipimpin Saudi di Yaman yang dimulai tepat satu tahun yang lalu.
Operasi militer Saudi ini bertujuan untuk mengakhiri kemenangan pemberontak Houthi dan pasukan pro-Saleh sebelumnya dan memulihkan pemerintah Presiden Abd Rabbuh Mansour Hadi yang diperangi Houthi namun didukung Arab.
"Kami menyerukan dialog langsung dengan Saudi, yang meluncurkan agresi terhadap Yaman, dan menyerukan diberlakukannya embargo senjata pada Saudi ini," kata Saleh dalam pidato singkat di hadapan pendukungnya di Lapangan Al-Sabeen di Sanaa, ibukota Yaman yang dikuasai pemberontak Houthi.
Saleh menuduh Dewan Keamanan PBB "tidak melakukan sesuatu" untuk menghentikan "agresi dan kejahatan terhadap rakyat Yaman," yang dipimpin Saudi serta mendesak 15-anggota dewan untuk "memikul tanggung jawab dan mengakhiri agresi ini".
Dalam sambutannya – yang disampaikan saat pesawat koalisi yang dipimpin Arab bisa dilihat terbang mengitari ibukota – Saleh juga menegaskan kembali aliansi dengan sekte Syiah Houthi.
Awal pekan ini, Saleh telah menyerukan "perlawanan keras melawan agresi (yang dipimpin Saudi)", yang telah berlangsung satu tahun.
Saleh membuat pernyataan dalam rangka persiapan gencatan senjata di Yaman yang didukung PBB, yang akan berlaku pada 10 April dan akan diikuti oleh pembicaraan damai delapan hari kemudian.
Yaman tetap dalam peperangan sejak September 2014, ketika Houthi menyerbu ibukota Sanaa dan sejumlah bagian lain Negara tersebut.
Arab Saudi mengatakan operasi militer mereka yang telah berlangsung satu tahun di Yaman diluncurkan dalam menanggapi permintaan Presiden Hadi, yang sementara mengungsi di Riyadh setelah Sanaa jatuh ke tangan pemberontak Syiah Houthi yang juga di dukung Republik Syiah Iran.
Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam