JURNALISLAM.COM – Asisten sekretaris jenderal Liga Arab untuk urusan Palestina Muhammad Sobeih telah mencap Israel sebagai negara "abnormal" , mengatakan lembaga pan-Arab tersebut berusaha untuk mengeluarkan sebuah resolusi dari Dewan Keamanan PBB untuk mengakhiri pendudukan Israel selama beberapa dekade di wilayah Palestina, World Bulletin melaporkan, Jumat (21/08/2015).
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency, Sobeih mengatakan anggota Liga Arab sedang mengadakan konsultasi untuk mengeluarkan resolusi PBB mengakhiri kegiatan pendudukan dan menghentikan aktivitas pemukiman Israel.
"Liga Arab akan pergi ke Dewan Keamanan PBB saat ini untuk mencegah Israel menghindari kewajibannya," katanya.
Mengistilahkan Israel sebagai negara "abnormal", Sobeih mengatakan bahwa Liga Arab tidak percaya kepada pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
"Israel tidak kompatibel dengan solusi dua negara atau hukum internasional," katanya. "Israel bergerak di jalur berbahaya untuk kehancurannya."
Pembicaraan damai antara perunding Israel dan Palestina terhenti tahun lalu atas penolakan Israel untuk membebaskan sekelompok tahanan Palestina meskipun telah berjanji sebelumnya untuk melakukannya.
Pada bulan Desember, Palestina gagal memenangkan dukungan dalam upaya mengeluarkan resolusi Dewan Keamanan PBB menetapkan batas waktu dua tahun untuk mengakhiri pendudukan Israel dari tanah mereka.
Sobeih mengatakan pemukim Israel telah melakukan serangan terhadap 11.000 warga Palestina sejak tahun 2004.
Dalam beberapa pekan terakhir, bayi Palestina dibakar sampai mati dalam serangan pembakaran oleh pemukim Yahudi di dekat kota Nablus, Tepi Barat. Ayah bayi tersebut juga meninggal beberapa hari kemudian akibat luka yang dideritanya dalam serangan itu.
Sobeih mengatakan pemerintah Israel "secara resmi mendukung" para pemukim Yahudi dan ekstremis Yahudi, mengutip pernyataan terbaru Menteri Kehakiman Yahudi Ayelet Shaked, saat ia menghina anak-anak Palestina sebagai "ular".
Tahun lalu, Shaked menghujat, setelah pembunuhan tiga pemukim di Tepi Barat, bahwa "di balik setiap teroris berdiri puluhan pria dan wanita, tanpa siapa ia tidak bisa terlibat dalam terorisme."
"Mereka harus pergi, sebagaimana seharusnya rumah tempat mereka membesarkan ular juga harus hilang. Jika tidak, ular yang lebih kecil akan dibesarkan di sana," kata Menteri Kehakiman Yahudi.
Lonjakan serangan pemukim terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Tepi Barat atas upaya berulang yang dilakukan oleh pemukim saat memaksa memasuki kompleks Masjid Al-Aqhsa di Yerusalem Timur.
Sobeih memperingatkan akan terjadinya "bencana" karena serangan berulang terhadap kompleks masjid oleh para pemukim Israel.
"Upaya berulang untuk memprovokasi opini publik dunia secara luas dengan menodai kesucian Masjid Al-Aqhsa … menanggung indikasi rasis yang berbahaya," Asisten sekretaris jenderal Liga Arab, Muhammad Sobeih memperingatkan.
Deddy | World Bulletin | Jurniscom