MAGELANG (Jurnalislam.com) – Setelah dua kali gagal menemui pihak DPRD Kabupaten Magelang, FUIMARA (Forum Ukhuwah Islamiyah Magelang Raya) kembali mendatangi kantor DPRD Magelang Jalan Soekarno-Hatta, Mungkid, Magelang, Kamis (19/7/2018) siang.
Rombongan umat Islam diterima beberapa anggota DPRD Magelang kemudian melakukan audensi terkait berdirinya RSU Siloam Syubbanul Wathon. Dalam audensi tersebut, ketua FUIMARA Hendrarto menegaskan bahwa Ulama dan Tokoh masyarakat menolak berdirinya RSU milik James Riyadi tersebut.
“Setelah melakukan penelusuran terkait latar belakang rekam jejak dan misi James Riyadi dan Lippo Grupnya, FUIMARA melihat adanya potensi ancaman yang besar terhadap akidah umat, itulah sebabnya FUIMARA menolak dengan tegas atas pendirian RSU Siloam Syubbanul Wathon,” terangnya dalam pesan siar yang diterima Jurnalislam.com, Kamis (19/7/2018).
“Kami yakin yakin dengan masukan dari sesepuh, pengasuh pondok pesamtren, ulama, kyai, tokoh masyarakat dan ormas Islam di wilayah kota dan kabupaten Magelang, dan mereka menolak tegas atas berdirinya rumah sakit tersebut,” sambungnya.
Hedrarto juga khawatir ada muatan politik atas pemberian ijin RSU tersebut setelah bangunan hampir selesai, padahal PCNU yang juga ingin mendirikan Rumah Sakit namun dipersulit terkait pemberian ijin.
“Perlu diketahui bahwa pcnu kabupaten magelang juga sedang berusaha membangun RS di Palbapang Magelang,” ujar Hendrarto.
Lebih lanjut Hendrarto menepis fitnah yang dialamatkan kepada FUIMARA. Ia menegaskan, bahwa apa yang dilakukannya bersama sejumlah elemen muslim Magelang adalah murni dari aspirasi masyarakat yang menolak berdirinya RSU Siloam tersebut.
“FUIMARA sangat menyesalkan adanya informasi dan upaya penyesatan masyarakat dengan menghembuskan isu bahwa apa yang dilakukan Fuimara bersifat politis dan dilakukan kelompok Wahabi,” tegasnya.
“Karena Fuimara bukan organisasi politik dan bukan golongan ataupun aliran wahabi karena didalamnya terdiri dari berbagai macam aktifis Islam dari berbagai ormas islam. Bahkan hal itu berbahaya karena berpotensi membenturkan sesama umat islam,” pungkas Hendrarto.