Berikan Klarifikasi, Ustaz Azizul Azmi Tegaskan Dugaan Pencabulan Bukan di Ponpes Khoirul Ummah Payung

BANGKA SELATAN (jurnalislam.com)— Menanggapi pemberitaan yang ramai diperbincangkan mengenai dugaan pencabulan oleh seorang pengajar pondok pesantren di Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan.

Pimpinan Pesantren Modern Khoirul Ummah Payung, Ustaz Muhammad Azizul Azmi, S.H.I., memberikan klarifikasi tegas bahwa kejadian tersebut tidak terjadi di lingkungan Pesantren Modern Khoirul Ummah Payung pada Jum’at, (23/5/25).

Dalam pernyataannya, Ustaz Muhammad Azizul Azmi yang merupakan lulusan dari Pesantren Darussalam Gontor menegaskan bahwa lokasi kejadian berada di salah satu desa dalam wilayah Kecamatan Payung, namun bukan di Desa Payung, tempat berdirinya Pesantren Modern Khoirul Ummah Payung.

“Kami menyampaikan bahwa kejadian yang sedang diberitakan bukan terjadi di Pesantren Modern Khoirul Ummah Payung, bukan pula di Desa Payung. Peristiwa tersebut terjadi di desa lain yang masih berada dalam wilayah administratif Kecamatan Payung,” jelas Ustaz M. Azizul Azmi, S.H.I.

Ustadz Azizul juga menghimbau masyarakat untuk tidak langsung mengaitkan seluruh lembaga pesantren dengan perbuatan yang dilakukan oleh oknum tertentu.

“Kami prihatin dan mendukung penuh proses hukum yang berjalan. Namun penting kami sampaikan bahwa tidak semua pesantren patut dicurigai atau digeneralisasi atas tindakan individu yang tidak bertanggung jawab. Pesantren Modern Khoirul Ummah Payung senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman, pendidikan, dan keselamatan anak-anak didik kami,” tambahnya.

Pesantren Modern Khoirul Ummah Payung juga menyatakan komitmennya terhadap transparansi dan keterbukaan dalam seluruh aktivitas pendidikan, serta siap bekerja sama dengan masyarakat dan aparat penegak hukum guna menjaga kepercayaan publik.

Ajak Masyarakat Tetap Dukung Pesantren

Ustaz M. Azizul Azmi juga mengajak masyarakat untuk tetap memberikan dukungan terhadap seluruh pesantren di Indonesia yang konsisten menjadi tempat pendidikan agama dan moral bagi generasi muda.

“Jangan biarkan satu kasus merusak citra lembaga pendidikan Islam secara umum. Justru saat inilah kita harus saling menguatkan dan memastikan bahwa anak-anak kita tetap mendapat tempat terbaik untuk belajar, berakhlak, dan berkembang,” katanya.

Ia mengajak para orang tua untuk tetap mempertimbangkan pesantren sebagai pilihan utama pendidikan anak, dengan memastikan bahwa pesantren yang dipilih adalah lembaga yang berkomitmen terhadap nilai-nilai agama, akhlak, serta pengawasan yang sehat dan bertanggung jawab.

“Mari kita jadikan pesantren sebagai tempat yang terus dipercaya untuk membentuk generasi yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia. Pilihlah pesantren yang jelas sistemnya, aman lingkungannya, dan baik penerapan ilmunya,” pungkas Pimpinan Pesantren Modern Khoirul Ummah Payung yang juga diamanahi sebagai Kepala KUA Kecamatan Payung.

Israel Cegat Masuknya Dokter dan Relawan Kemanusiaan di Gaza, 29 Anak dan Lansia Tewas karena Kelaparan

GAZA (jurmalislam.com)– Israel kembali menuai kecaman setelah menolak masuknya sekelompok dokter dan pekerja kemanusiaan ke Jalur Gaza, hanya beberapa jam sebelum mereka dijadwalkan memasuki wilayah tersebut pada Kamis (22/5/2025). Penolakan ini terjadi di tengah krisis kelaparan yang telah menewaskan 29 anak-anak dan lansia dalam beberapa hari terakhir, menurut Menteri Kesehatan Palestina, Majed Abu Ramadan.

Kelompok relawan yang beranggotakan enam orang itu sebelumnya dijadwalkan meninggalkan Yordania Kamis pagi bersama konvoi PBB. Namun, pada Rabu malam, mereka menerima pemberitahuan bahwa Israel tidak mengizinkan mereka memasuki Gaza. Informasi ini dikonfirmasi oleh dua sumber yang dekat dengan kelompok tersebut. Hingga kini, COGAT—unit militer Israel yang menangani pergerakan antara Israel dan Gaza—belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut.

Selama berbulan-bulan, kelompok bantuan internasional dan pekerja medis telah mengeluhkan pembatasan ketat dari Israel yang terus menghambat pengiriman bantuan kemanusiaan, di tengah kondisi Gaza yang kian memburuk akibat blokade total yang dimulai pada 2 Maret lalu. Blokade itu mencakup larangan masuknya pasokan medis, makanan, hingga bahan bakar penting.

Kepala Kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, mengungkapkan bahwa saat ini hampir 500.000 warga Gaza berada di ambang kelaparan akut. Ia bahkan memperingatkan bahwa sekitar 14.000 bayi berisiko meninggal dalam 48 jam jika bantuan tidak segera disalurkan.

Seorang tenaga medis yang sebelumnya ditolak masuk ke Gaza mengatakan bahwa tidak jelas bagaimana Israel menetapkan siapa yang diizinkan masuk atau tidak. Ia menolak disebutkan namanya karena berencana mencoba kembali masuk, namun menyatakan bahwa ia tidak bisa memahami logika di balik kebijakan Israel.

“Saya tidak mengerti mengapa Israel mempertimbangkan ini. Jika mereka memblokir semua hal lain, kenapa tidak juga pekerja kesehatan?” katanya.

Ia menambahkan, Israel bisa saja menggunakan keberadaan segelintir tenaga kesehatan sebagai alibi di masa depan.

“Ini semacam kedok kemanusiaan untuk melegitimasi kekerasan. Mereka akan berkata, ‘Kami izinkan 250 dokter masuk, jadi mana mungkin kami lakukan genosida?’” ujarnya.

Pada hari yang sama, COGAT mengklaim bahwa 198 truk bantuan telah memasuki Gaza melalui perbatasan, membawa makanan, obat-obatan, dan tepung gandum. Namun, menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), tantangan di lapangan masih sangat besar, termasuk risiko keamanan, penjarahan, dan keterlambatan distribusi akibat rute pengiriman yang tidak memadai dari pihak militer Israel.

Presiden Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina, Younis Al-Khatib, menyatakan bahwa sebagian besar bantuan itu belum benar-benar sampai ke warga sipil Gaza.

“Sebagian besar truk masih tertahan di Karem Shalom dan belum masuk ke wilayah Gaza,” tegasnya.

Sementara itu, kematian anak-anak dan lansia akibat kelaparan terus bertambah. Pemerintah Palestina menilai Israel bertanggung jawab atas bencana kemanusiaan ini, yang tidak hanya terjadi karena konflik bersenjata, tetapi juga karena sistematisnya pemblokiran bantuan untuk jutaan warga sipil yang terjebak di dalam Gaza. (Bahry)

Sumber: MEE

91 Warga Palestina Tewas dalam Operasi Brutal Israel di Tepi Barat, Termasuk Anak-Anak dan Perempuan

RAMALLAH (jurnalislam.com)– Pasukan militer Israel dilaporkan telah membunuh sedikitnya 91 warga Palestina dalam serangkaian operasi militer brutal di kamp-kamp pengungsi Tepi Barat yang diduduki dalam 120 hari terakhir. Hal itu diungkapkan organisasi hak asasi manusia Al-Haq yang berbasis di Ramallah, sebagaimana dilansir Al Jazeera pada Jumat (23/5/2025).

Menurut laporan tersebut, operasi militer Israel dilakukan secara besar-besaran di sejumlah wilayah utara Tepi Barat, termasuk Jenin, Tulkarem, Tubas, dan Nablus. Serangan melibatkan penembak jitu, serangan udara dari drone dan helikopter Apache, serta kendaraan militer berat seperti buldoser lapis baja D9 dan D10, tank, dan kendaraan pengangkut personel lapis baja Eitan.

Al-Haq mencatat, antara 21 Januari hingga 16 Mei 2025, tentara Israel mengepung kamp-kamp pengungsi di wilayah tersebut. Sebanyak 91 warga Palestina dilaporkan gugur, termasuk 13 anak-anak dan 3 perempuan. Selain itu, infrastruktur dan rumah warga mengalami kerusakan parah.

Kamp pengungsi Jenin menjadi sasaran paling parah. Di kota ini saja, 40 warga Palestina tewas, termasuk 7 anak-anak dan 1 perempuan. Sedikitnya 430 bangunan hancur akibat agresi militer Israel.

Akibat kekerasan tersebut, sekitar 16.600 warga Palestina di Jenin terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Banyak dari mereka kehilangan tempat tinggal karena rumah dan infrastruktur kamp hancur lebur oleh serangan militer Israel.

Kekejaman ini menunjukkan bahwa kekerasan Israel terhadap warga Palestina tidak hanya terpusat di Jalur Gaza, melainkan juga terjadi secara masif dan sistematis di Tepi Barat yang secara geografis terpisah dari Gaza.

Meski publik internasional sering kali hanya mencermati tragedi kemanusiaan di Gaza, laporan ini menegaskan bahwa seluruh wilayah Palestina kini berada dalam ancaman serius dari kekerasan militer Israel yang terus berlanjut. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Teror Udara Israel Habisi 50 Warga Sipil dalam Satu Keluarga

GAZA (jurnalislam.com)– Serangan udara terbaru militer Israel di Jalur Gaza utara kembali menelan korban dari kalangan warga sipil. Kali ini, serangan mematikan itu menghantam rumah keluarga Dardouna di Jabalia, pada Jumat (23/5), menewaskan puluhan orang.

Menurut laporan Anas al-Sharif dari Al Jazeera, jet tempur Israel menggempur bangunan berlantai lima yang dihuni lebih dari 50 anggota keluarga tersebut. Serangan itu meratakan bangunan hingga rata dengan tanah.

“Bangunan tempat tinggal ini terdiri dari lima lantai. Tadi malam, bangunan itu diratakan dengan tanah oleh jet tempur Israel,” kata seorang paramedis di lokasi kejadian.

“Serangan udara itu menyebabkan semua 50 orang di dalamnya tewas atau terkubur hidup-hidup. Kami hanya berhasil menyelamatkan beberapa orang,” lanjutnya.

Seorang kerabat korban mengatakan anak sulung dari putranya ikut menjadi korban. Ia diberi nama sesuai dengan pamannya, Mohammed, yang juga telah tewas dalam serangan sebelumnya pada 23 Oktober lalu.

“Kami membesarkan cucunya yang masih hidup, tapi kini dia telah menyusul ayah dan pamannya di surga,” ujarnya dengan suara bergetar.

“Sebelumnya, ibu, saudara perempuan, paman, bibi, dan neneknya juga telah terbunuh. Militer Israel membunuh warga sipil hanya demi kesenangan,” tambahnya pilu.

Serangan brutal yang terus berlanjut di Gaza menambah daftar panjang korban sipil, sekaligus memperparah krisis kemanusiaan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Rudal Hipersonik Yaman Hantam Bandara Ben Gurion, Maskapai Dunia Ramai-Ramai Tinggalkan Israel

TEL AVIV (jurnalislam.com)– Angkatan Bersenjata Yaman (YAF), sayap militer dari kelompok Houthi. Dalam pernyataan resmi pada Jumat, 23 Mei 2025, YAF menyatakan bahwa mereka telah menargetkan Bandara Ben Gurion di Tel Aviv dengan rudal balistik hipersonik – serangan ketiga dalam waktu 24 jam terhadap bandara utama Israel itu.

“Untuk mendukung rakyat Palestina yang tertindas… Pasukan rudal melakukan operasi militer efektif yang menargetkan Bandara Lod, yang dikenal di Israel sebagai Bandara Ben Gurion, dengan rudal balistik hipersonik,” demikian bunyi pernyataan resmi YAF.

YAF menyatakan serangan tersebut berhasil mencapai target dan menyebabkan “jutaan kawanan Zionis perampas melarikan diri ke tempat perlindungan”, serta mengacaukan lalu lintas udara di bandara.

Pada Jumat pagi, sirene serangan udara meraung di seluruh Tel Aviv. Tentara Israel mengklaim rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara mereka. Dua serangan sebelumnya pada Kamis sore dan pagi hari juga diklaim berhasil digagalkan oleh Tel Aviv.

Namun, ketegangan yang terus meningkat ini telah berdampak besar pada aktivitas penerbangan internasional. Sejumlah maskapai besar dunia memutuskan menghentikan operasionalnya ke Israel karena alasan keamanan.

𝗕𝗮𝗻𝗱𝗮𝗿𝗮 𝗗𝗶𝘁𝘂𝘁𝘂𝗽, 𝗠𝗮𝘀𝗸𝗮𝗽𝗮𝗶 𝗖𝗮𝗯𝘂𝘁

YAF diketahui mulai menyerang Bandara Ben Gurion secara intensif sejak awal Mei, bahkan sempat mengklaim telah mengenai fasilitas itu secara langsung. Mereka juga memperingatkan bahwa bandara tersebut tidak lagi aman untuk penerbangan internasional.

Akibatnya, beberapa maskapai besar dunia menghentikan layanan mereka:

– Lufthansa Group dan ITA Airways Italia memperpanjang penangguhan penerbangan ke Tel Aviv hingga 8 Juni.

– Air Seychelles membatalkan seluruh penerbangan ke Israel untuk bulan Juni dan Juli.

– CEO Ryanair, Michael O’Leary, menyatakan bahwa pihaknya mulai kehilangan kesabaran dan mempertimbangkan menarik pesawat dari rute Israel.

– Maskapai besar lainnya seperti Air India, Air Canada, United Airlines, dan British Airways juga menangguhkan penerbangan hingga akhir Juli.

𝗕𝗹𝗼𝗸𝗮𝗱𝗲 𝗣𝗲𝗹𝗮𝗯𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗶𝗳𝗮

Tidak hanya menyerang bandara, YAF pada 20 Mei juga mengumumkan pemblokadean terhadap pelabuhan Haifa, salah satu pelabuhan utama di Israel utara.

“Semua perusahaan dengan kapal di pelabuhan ini atau yang akan menuju ke sana diberitahu bahwa pelabuhan tersebut telah dimasukkan dalam bank target,” tegas pernyataan YAF.

Langkah Yaman ini disebut sebagai respons terhadap eskalasi kekerasan Israel di Jalur Gaza, dan menjadi bagian dari strategi mereka mendukung perjuangan Palestina di tengah agresi militer yang terus berlangsung.

Sumber: Cradle

Terungkap! Alasan Mengejutkan AS Hentikan Serangan di Yaman

AMERIKA SERIKAT (jurnalislam.com)- Amerika Serikat dilaporkan menghentikan operasi militernya di Yaman setelah menghadapi tekanan dari sistem pertahanan udara canggih milik kelompok Houthi. Salah satu insiden yang paling mencolok adalah serangan yang nyaris mengenai jet tempur siluman F-35 milik AS.

Menurut laporan The New York Times pekan ini, kelompok Houthi berhasil menembak jatuh sedikitnya tujuh pesawat nirawak MQ-9 Reaper milik AS masing-masing bernilai sekitar 30 juta dolar AS atau setara Rp480 miliar. Mereka juga hampir mengenai jet tempur F-16 dan F-35, dua aset utama Angkatan Udara AS. Insiden tersebut memicu kekhawatiran serius di internal Komando Pusat AS (CENTCOM) dan mendorong peninjauan ulang strategi keterlibatan militer di kawasan tersebut.

Pada 6 Mei 2025, AS secara resmi mengakhiri operasi pengeboman bernama Operation Rough Rider yang telah berlangsung sejak Maret. Penghentian operasi ini merupakan hasil gencatan senjata yang dimediasi oleh Oman antara AS dan kelompok Houthi.

Gencatan senjata tersebut mencakup komitmen Houthi untuk menghentikan serangan terhadap kapal-kapal AS di Laut Merah, Selat Bab al-Mandab, dan Teluk Aden. Sebelumnya, sejak November 2023, kelompok tersebut melancarkan serangan rudal dan drone terhadap kapal-kapal komersial yang mereka tuduh terkait dengan Israel, sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina di tengah agresi militer Israel di Gaza.

The New York Times juga mengungkapkan bahwa dua jet tempur F/A-18 Super Hornet milik AL AS masing-masing senilai 67 juta dolar AS atau sekitar Rp1,07 triliun jatuh secara tidak sengaja dari kapal induk saat operasi berlangsung. Kerugian besar inilah yang disebut turut mempercepat keputusan Washington untuk mengakhiri keterlibatan militernya.

Di sisi diplomatik, Utusan Timur Tengah AS, Steve Witkoff, dilaporkan melakukan pembicaraan tidak langsung dengan Houthi melalui Oman. Gencatan senjata yang diumumkan secara tiba-tiba ini diklaim sebagai keberhasilan oleh kedua pihak. Gedung Putih menyatakan bahwa operasi militer mereka telah memaksa Houthi menghentikan serangan, sementara Houthi mengklaim bahwa AS gagal mencapai tujuannya dan akhirnya memilih mundur dari konflik.

Laporan itu juga menyinggung bahwa sebagian anggota tim keamanan nasional Presiden Donald Trump saat itu meremehkan kemampuan Houthi. Namun, laporan intelijen kemudian menunjukkan kelompok ini semakin tangguh dan sulit dilumpuhkan, termasuk dalam penggunaan sistem pertahanan udara serta strategi militer bawah tanah.

Selama 30 hari pertama operasi, AS telah menghabiskan lebih dari 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp16 triliun, termasuk pengerahan kapal induk, jet tempur B-2, F-35, dan sistem pertahanan lainnya. Penggunaan besar-besaran amunisi presisi juga memicu kekhawatiran akan menipisnya stok senjata strategis AS.

Kepala negosiator Houthi, Mohammed Abdulsalam, menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata dicapai melalui Oman, dan bahwa pihaknya hanya menghentikan operasi sebagai bentuk respons atas berhentinya serangan udara AS.

Sementara itu, pihak Gedung Putih maupun Presiden Trump belum memberikan tanggapan resmi atas laporan tersebut. (Bahry)

Sumber: TNA

Al-Qassam Ledakkan Dua Kendaraan Militer Israel Penuh Tentara di Jabalia

GAZA (jurnalislam.com)– Brigade Al-Qassam, sayap militer dari Gerakan Perlawanan Islam Hamas, merilis rekaman video penyergapan terhadap tentara dan kendaraan militer Israel di timur kamp pengungsi Jabalia, Gaza utara. Operasi ini disebut berlangsung pada 3 Desember 2024, namun publikasi rekaman sengaja ditunda karena alasan keamanan.

Video tersebut diunggah ke kanal resmi Hamas pada Jumat (23/5/2025) dini hari melalui platform Telegram. Dalam keterangannya, Brigade Al-Qassam menyebut operasi ini sebagai bagian dari “pertempuran ketiga di kamp Jabalia”.

“Pada 3 Desember 2024, selama pertempuran ketiga di Jabalia, mujahidin kami berhasil menyusup ke belakang garis musuh di wilayah yang dikenal sebagai landasan udara militer Israel titik evakuasi tentara yang tewas dan terluka – yang terletak di timur kamp Jabalia,” demikian pernyataan resmi dalam video.

Dalam serangan tersebut, mujahidin Al-Qassam menargetkan dua jip militer Israel dan sejumlah pasukannya menggunakan bom tipe Shawaaz, bom kendali jarak jauh (TV), serta peluru anti-tank Al-Yassin 105.

Tayangan dalam video memperlihatkan ledakan dahsyat yang menghantam kendaraan militer, diikuti kekacauan di area tersebut. Tampak pula sejumlah tentara Israel mengevakuasi korban, baik yang terluka maupun yang tewas, menggunakan helikopter militer dari titik evakuasi di wilayah timur kamp Jabalia.

Al-Qassam menyebut serangan tersebut sebagai hasil dari penyergapan yang direncanakan secara matang, dan menunjukkan kemampuan mereka untuk beroperasi di jantung posisi militer Israel yang dianggap strategis.

Rekaman tersebut menjadi salah satu dari sedikit dokumentasi yang berhasil dipublikasikan Hamas di tengah situasi keamanan yang masih sangat tegang dan terbatasnya akses media di Jalur Gaza.

Israel Di bawah Tekanan Internasional, Bantuan Masuk ke Gaza Dinilai Hanya Kedok Netanyahu

GAZA (jurnalislam.com)- Israel menghadapi tekanan internasional yang semakin besar untuk mengakhiri blokade total di Jalur Gaza. Sejak 2 Maret 2025, truk-truk yang membawa bantuan kemanusiaan, termasuk makanan dan obat-obatan, dilarang masuk ke wilayah tersebut, memperparah krisis kemanusiaan yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan.

Laporan terbaru dari Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang didukung PBB menyebutkan bahwa lebih dari 93 persen anak-anak di Gaza — sekitar 930.000 anak — kini berada di ambang kelaparan. Situasi ini dinilai sebagai salah satu krisis kelaparan terburuk di dunia saat ini.

Pada Rabu (21/5/2025), militer Israel mengumumkan bahwa mereka telah mengizinkan masuknya 100 truk bantuan yang membawa tepung, makanan bayi, dan peralatan medis melalui perbatasan Kerem Shalom (dikenal juga sebagai Karem Abu Salem). Namun, pejabat PBB menyatakan bahwa masalah distribusi di lapangan membuat bantuan tersebut belum dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan secara langsung.

“Persediaan terbatas yang akhirnya diizinkan masuk ke Gaza tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan besar di wilayah itu. Jauh lebih banyak bantuan yang perlu masuk,” tegas Stephane Dujarric, juru bicara Sekjen PBB.

Kelompok bantuan internasional juga mengkritik langkah Israel, menyebutnya sebagai “kedok” untuk menutupi pengepungan yang masih berlangsung.

“Keputusan otoritas Israel untuk mengizinkan bantuan dalam jumlah sangat minim ini hanyalah upaya menghindari tuduhan membuat warga Gaza kelaparan, padahal kenyataannya mereka dipaksa bertahan hidup dalam kondisi yang nyaris mustahil,” ujar Pascale Coissard, Koordinator Darurat Doctors Without Borders di Khan Younis.

Meskipun ada sedikit pelonggaran, tekanan dari komunitas internasional terus meningkat agar Israel segera membuka jalur bantuan kemanusiaan secara penuh dan menghentikan blokade yang menyiksa lebih dari dua juta warga Gaza. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Netanyahu Ungkap Syarat Akhiri Perang: Pelucutan Hamas hingga Usir Warga Gaza

PALESTINA (jurnalislam.com)- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa seluruh Jalur Gaza akan berada di bawah kendali penuh militer Israel setelah operasi militer yang sedang berlangsung berakhir. Hal ini disampaikannya dalam konferensi pers pertamanya sejak Desember lalu, yang menandai sikap keras Israel dan menetapkan syarat-syarat ekstrem untuk mengakhiri perang di wilayah yang terkepung itu.

Dalam pernyataannya, Netanyahu menyebut sejumlah syarat untuk menghentikan agresi, antara lain pembebasan seluruh tawanan Israel, pelucutan senjata Hamas, pengasingan para pemimpin Hamas, serta yang paling kontroversial melanjutkan rencana yang digagas oleh mantan Presiden AS Donald Trump untuk mengusir warga Palestina dari Gaza.

Rencana tersebut sebelumnya menyebut bahwa Jalur Gaza akan diubah menjadi “Riviera Timur Tengah” dan dikelola oleh Amerika Serikat. Ini merupakan kali pertama Netanyahu secara terbuka mengaitkan rencana pengusiran massal itu dengan strategi resmi Israel. Banyak negara dan kelompok hak asasi manusia internasional mengecam gagasan tersebut sebagai bentuk pembersihan etnis.

Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya intensitas serangan Israel yang menyebabkan ratusan warga Palestina, termasuk anak-anak dan perempuan, terbunuh hanya dalam beberapa hari terakhir. Sejak Rabu (21/5) dini hari saja, sedikitnya 82 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia. Kelaparan juga semakin meluas, sementara blokade masih diberlakukan ketat dan hanya sejumlah kecil truk bantuan yang diizinkan masuk.

Netanyahu juga mengatakan bahwa Israel akan tetap terbuka terhadap “gencatan senjata sementara” dan kemungkinan pertukaran sandera, namun tanpa melemahkan kebebasan operasi militernya. Ia menyinggung rencana distribusi bantuan bersama Amerika Serikat, yang diklaim dilakukan agar Hamas tidak mengontrol pasokan makanan. Namun Hamas membantah menerima atau menguasai bantuan tersebut.

Kritik Pedas dari Oposisi: ‘Obsesi Berbahaya Netanyahu’

Pernyataan Netanyahu memicu kecaman keras dari oposisi Israel. Pemimpin oposisi Yair Lapid memperingatkan bahwa strategi Netanyahu akan membawa Israel pada pendudukan panjang di Gaza, kematian tentara yang terus berjatuhan, serta keruntuhan reputasi internasional dan ekonomi nasional.

Yair Golan, pemimpin partai Demokrat, bahkan menyebut Netanyahu sebagai “pria yang tertekan, terobsesi, dan suka berbohong,” yang tak mau bertanggung jawab atas konsekuensi kebijakannya.

“Saya akan menuntut Anda atas pencemaran nama baik karena kebohongan yang Anda sebarkan tentang saya,” tegas Golan, “dan kami akan segera mengalahkan Anda dalam pemilihan umum serta mengirim Anda ke halaman sejarah.”

Sebelumnya, Netanyahu mengecam Golan atas ucapannya yang menyinggung, “Negara yang waras tidak membunuh bayi sebagai hobi.” Netanyahu menyebut pernyataan itu sebagai hal yang “menjijikkan.” (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Truk Bantuan Masuk Gaza Hanya Klaim Israel, Warga: Kami Tak Terima Apa-Apa

GAZA (jurnalislam.com)– Hingga Rabu (21/5), belum ada satu pun bantuan yang benar-benar sampai ke tangan warga Palestina di Jalur Gaza, meskipun militer Israel mengklaim telah mengizinkan puluhan truk bantuan masuk ke wilayah yang terkepung itu.

Sejak 2 Maret lalu, Israel memberlakukan blokade total yang mencegah masuknya makanan, pasokan medis, maupun barang lainnya ke Gaza. Meski demikian, pada Ahad kemarin, Israel menyatakan akan mengizinkan “sejumlah makanan pokok” masuk atas alasan diplomatik, guna meredakan tekanan internasional yang terus meningkat.

Militer Israel mengklaim bahwa lebih dari 90 truk bantuan telah masuk ke Jalur Gaza sepanjang pekan ini. Namun, sumber lokal membantah klaim tersebut. Menurut laporan Middle East Eye, truk-truk tersebut masih tertahan di sisi Palestina di perbatasan Karem Abu Salem (Kerem Shalom), dan belum benar-benar menjangkau warga yang membutuhkan.

“Tidak ada bantuan yang memasuki Jalur Gaza sejak 2 Maret,” kata Nahed Shuhibar, Kepala Asosiasi Transportasi Pribadi Gaza, kepada Alaraby TV.

“Truk-truk bantuan masih tertahan di perbatasan.” imbuhnya.

Juru Bicara UNRWA, Adnan Abu Hasna, juga mengonfirmasi bahwa meskipun ribuan truk mengantre di perbatasan, tidak ada satu pun yang berhasil masuk ke fasilitas penyimpanan atau menjangkau warga.

Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric, menyebutkan bahwa distribusi terhambat oleh prosedur Israel yang mengharuskan pembongkaran dan pemuatan ulang barang bantuan secara terpisah, setelah akses dari pihak PBB di dalam Gaza diamankan.

*“Hanya Ilusi Bantuan”*

Warga Gaza menyatakan bahwa kabar bantuan hanyalah ilusi yang disebarkan melalui media. Barham Zarroub, warga Gaza, menilai janji bantuan tidak lebih dari sekadar propaganda.

“Tidak ada satu truk pun yang berhasil masuk ke Gaza. Kami tidak melihat apa pun di lembaga-lembaga, atau bahkan di dalam Gaza sendiri, yang menunjukkan adanya bantuan,” ujarnya.

Zarroub menambahkan, sekalipun ada bantuan yang masuk, jumlahnya sangat kecil dan tidak akan mencukupi kebutuhan rakyat Gaza.

“Itu hanya mencakup sebagian kecil penduduk, mungkin hanya beberapa keluarga. Sebagian besar tidak akan mendapatkan apa pun.”

PBB memperkirakan, Gaza membutuhkan setidaknya 600 truk bantuan per hari untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk yang menghadapi krisis kemanusiaan parah.

Dujarric menyebut kedatangan sejumlah truk sebagai “setetes air di lautan”.

*Warga Kelaparan, Pasar Kosong*

Di pasar Khan Younis, warga terus mencari kebutuhan pokok yang tak kunjung tersedia.

“Saya mencari tepung untuk anak-anak saya dan tidak menemukannya,” kata Razan Ahmad. “Semua yang diberitakan di media sosial maupun media berbahasa Ibrani dan Arab itu bohong.”

Ia menyebut kabar masuknya bantuan sebagai “rumor jahat”.

Senada dengan itu, Hajj Ahmad, warga Gaza lainnya, mengungkapkan rasa frustrasinya.

“Sudah lebih dari dua bulan kami tidak punya makanan, daging, atau susu. Kami butuh kalsium, kami butuh protein, tapi tidak ada apa-apa,” ujarnya.

“Ketika mereka bilang truk bantuan akan masuk, kami sempat senang. Tapi nyatanya, itu semua hanya janji kosong. Lihat pasar-pasar, semuanya kosong, tidak ada apa-apa.” pungkasnya. (Bahry)

Sumber: MEE