Perkantoran Langgar Protokol Akan Disanksi

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memberi peringatan kepada perkantoran di Ibu Kota yang tidak menerapkan pemberlakuan kapasitas 50 persen selama perpanjangan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria atau Ariza mngingatkan, pihaknya tak segan-segan akan mencabut izin jika masih ada pelanggaran terhadap protokol kesehatan yang ditetapkan.

“Kalau masih ada (pelanggaran), temen-temen silakan sampaikan kepada kami. Apabila tidak patuh atau melanggar, kami akan tindak, kami akan beri teguran tertulis, kami tutup sementara, bahkan kami cabut izinnya,” katanya saat ditemui di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Jumat (24/7).

Ariza beralasan, mulai munculnya klaster Covid-19 di lingkungan perkantoran dalam beberapa hari terakhir ini, sebagaimana catatan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 bahwa penambahan kasus konfirmasi positif banyak berasal dari penelusuran aktivitas perkantoran.
Menurut Ariza, kemunculan itu terjadi akibat ketidaktaatan dalam menjalankan protokol kesehatan. “Jelas. Ketidaktaatan inilah yang menjadi (sebab) penyebaran (Covid-19),” ucap politikus Partai Gerindra tersebut.

Dia menuturkan, berbagai pelanggaran yang menyebabkan penyebaran virus corona meluas seperti itu secara otomatis meningkatkan angka positif Covid-19 di Jakarta. Oleh sebab itu, Ariza siap menindak tegas adanya pelanggaran terhadap protokol kesehatan guna menekan penyebaran Covid-19.

Sebagai contoh, Pemprov DKI telah memberi sanksi kepada sejumlah restoran yang melebihi kapasitas yang ditetapkan. “Beberapa restoran yang terbukti melebihi kapasitas sudah kami beri denda sampai sebesar Rp 25 juta,” ujar Ariza.

Ariza menuturkan, pemerintah sudah membuat aturan yang detail, termasuk surat edaran dari dinas terkait. Dia meminta seluruh elemen bisa lebih ketat dan disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan.
Sumber: republika.co.id

Erdogan di Tengah Ribuan Jamaah Shalat Jumat Perdana di Hagia Sophia

INSTANBUL(Jurnalislam.com)- Presiden Turki Tayyip Erdogan bergabung ribuan orang jamaah di Hagia Sophia pada Jumat (24/7) untuk salat Jumat pertama di sana sejak status monumen itu kembali menjadi masjid.

Hagia Sophia merupakan gedung yang sangat penting bagi umat Kristen dan Islam selama hampir 1.500 tahun.

Erdogan dan para menteri kabinetnya memakai masker putih sebagai pencegahan terhadap Covid-19. Mereka tampak duduk di karpet hijau di awal prosesi salat Jumat yang menandai kembalinya ibadah salat di bangunan kuno tersebut.

Seorang imam memulai khutbah pada pukul 1.45 pm setelah Erdogan membaca Alquran dan seruan azan dari menara-menara bangunan itu.

Sumber: sindonews.com

Turki Siapkan Buku Tentang Masjid Hagia Sophia

ISTANBUL(Jurnalislam.com) — Direktorat Komunikasi Turki tengah menyiapkan buku dan situs tentang pembukaan kembali Masjid Hagia Sophia. Bangunan yang didirikan kerajaan Byzantium ini akhirnya kembali difungsikan sebagai masjid setelah 86 tahun.

Buku tersebut akan memiliki judul Hagia Sophia Mosque: The trust of Fatih Sultan Mehmed Han, harta bersama umat manusia. Buku tersebut rencananya akan disiapkan dalam bahasa Turki, Inggris, dan Arab.

“Buku rencananya akan dibagikan pada upacara pembukaan masjid,” menurut Direktorat komunikasi Turki seperti diwartakan Anadolu Agency, Sabtu (25/7).

Sedangkan situs yang disiapkan adalah ayasofyacamii.gov.tr yang bisa diakses dalam dalam bahasa Turki dan Inggris. Situs ini berisi kutipan dari buku dan foto-foto Hagia Sophia.

Monumen ikonik Turki itu sebelumnya berfungsi sebagai gereja selama 916 tahun. Sultan Mehmed kemudian penaklukan Konstantinopel dan mengalihfungsikan gereja tersebut sebagai masjid dari tahun 1453 hingga 1934.

Artinya hampir 500 tahun bangunan tersebut beroperasi sebagai tempat ibadah umat Muslim. Hagia Sophia kemudian beralih fungsi sebagai museum selama 86 tahun di era kekuasaan Kemal Ataturk pada 1934.

Salah satu bangunan bersejarah yang paling banyak dikunjungi di Turki oleh wisatawan domestik dan internasional. Pada 1985, selama menjadi museum, Hagia Sophia ditambahkan ke Daftar Warisan Dunia UNESCO.

Sumber: republika.co.id

Ba’da Shalat Jumat di Hagia Sophia, Erdogan Ziarahi Makam Sultan Al Fatih

INSTANBUL(Jurnalislam.com)- Wajah Presiden Turki Tayyip Erdogan tampak semringah saat bergabung dengan ratusan ribu jamaah salat Jumat di Hagia Sophia yang memenuhi bagian dalam dan luar masjid.


Salat Jumat ini menjadi yang pertama kali digelar di Hagia Sophia dalam sembilan dekade terakhir. Salat ini pun menjadi segel atas ambisinya mengembalikan fungsi Hagia Sophia sebagai tempat ibadah Muslim.

Hagia Sophia adalah katedral terbesar di dunia selama 900 tahun hingga dikuasai oleh Sultan Ottoman Muhammad Al Fatih pada 1453. Sang sultan yang dijuluki sebagai Mehmet Sang Penakhluk di dunia barat itu mengubah bangunan itu menjadi masjid hingga 500 tahun kemudian.

Namun pendiri Turki sekuler Mustafa Kemal Ataturk menjadikan masjid itu sebagai museum pada 1934. Kini Erdogan mencatatkan dirinya dalam sejarah sebagai pemimpin yang mengembalikan fungsi masjid di Hagia Sophia.


Setelah meninggalkan Hagia Sophia, Erdogan langsung menuju masjid Fatih yang dinamakan dari nama Sultan Muhammad yang merebut kota Istanbul untuk kesultanan Ottoman.

“Hagia Sophia akan terus melayani semua pemeluk keyakinan sebagai masjid dan akan tetap menjadi tempat warisan budaya untuk semua manusia,” papar Erdogan di makam Sultan Muhammad Al Fatih.


“Kami katakan ‘mari’ kunjungi makam Sultan Muhammad Sang Penakhluk, pemilik sebenarnya,” pungkas Erdogan.

Sumber: sindonews.com

Masyarakat Muslim Antusias Shalat Jum’at di Hagia Sophia

INSTANBUL(Jurnalislam.com) – Difungsikannya kembali Hagia Sophia di Istanbul, Turki, sebagai masjid setelah 86 tahun menjadi museum mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat setempat. Ini terlihat dari antusiasme masyarakat yang hadir untuk melaksanakan salat Jumat perdana kemarin.

Saking antusiasnya, sejak Kamis (23/7/2020) malam banyak masyarakat berdatangan ke kompleks bangunan bersejarah yang dibangun di era Bizantium pada 537 Masehi itu. Mereka pun ramai-ramai menggelar sajadah.

Lansir Sindonews.com, Savran Billahi yang berada di Istanbul, melaporkan, musim panas yang saat ini sedang berlangsung di Turki turut mendukung masyarakat sekitar keluar rumah dan beraktivitas di sekitar Kompleks Hagia Sophia.

Padatnya jamaah yang memadati kompleks yang dibangun di era Kaisar Bizantium, Justinian I, itu memang sudah diprediksi sebelumnya oleh Pemerintah Turki. Karena itu, otoritas setempat telah mengondisikan wilayah sekitar Hagia Sophia.

Sumber: sindonews.com

Antusias, Lautan Manusia Penuhi Masjid Hagia Sophia

ANKARA(Jurnalislam.com) — Ibadah sholat Jumat digelar di Masjid Hagia Sophia pada Jumat (24/7) waktu Turki. Umat Muslim di Turki tampak memadati bagian dalam dan area sekitar masjid, berdasarkan tayangan yang disiarkan secara langsung oleh akun Youtube Eman Channel.

Kedatangan umat Muslim ke Hagia Sophia jelang pelaksanaaan sholat Jumat ini seakan tak ada habisnya. Ruas-ruas jalan yang berada di sekitar Hagia Sophia pun turut dibanjiri masyarakat Muslim hingga seperti menjadi lautan manusia. Mereka berduyun-duyun mendatangi bangunan bersejarah yang dibangun selama lima tahun dari 532 hingga 537 Masehi itu.

Di bagian dalam masjid, terlihat shaf-shaf diatur dengan memberi jarak sekitar satu meter pada setiap baris shaf sebagai bentuk pencegahan penularan virus Covid-19. Sebagian besar jamaah sholat Jumat juga menggunakan masker untuk melindungi dirinya dari penularan Covid-19. Menjelang pelaksanaan sholat Jumat, juga dikumandangkan bacaan-bacaan ayat suci Alquran oleh beberapa qari.

Pada Kamis (23/7), Erdogan melakukan kunjungan mendadak, memeriksa persiapan akhir pada struktur bangunan Hagia Sophia. Termasuk juga tanda di pintu masuk yang bertuliskan, “Masjid Agung Hagia Sophia”.

Di hari yang sama, Kamis (23/7), Turki juga telah menunjuk tiga imam untuk Hagia Sophia. Salah satunya seorang profesor studi agama. Mengingat, Turki pada Jumat 24 Juli ini akan menggelar sholat Jumat yang tentunya secara berjamaah. Sholat Jumat ini menjadi yang pertama selama 86 tahun sejak diubah menjadi museum.

Kepala otoritas agama Turki, Ali Erbas, menyampaikan, pengangkatan tiga imam yang akan memimpin sholat di masjid yang diubah, yaitu Mehmet Boynukalin, seorang profesor hukum Islam di Universitas Marmara Istanbul, Ferruh Mustuer, dan Bunjamin Topcuoglu. Lima orang menjadi muazin di Hagia Sophia. Dua di antaranya ditarik dari Masjid Biru Istanbul.

Otoritas setempat telah menetapkan area terpisah di luar Hagia Sophia untuk pria dan wanita yang ingin bergabung dengan sholat Jumat perdana. Beberapa jalan menuju gedung terhalang. Sebanyak 17 ribu personel keamanan akan bertugas.

Hagia Sophia, dulunya adalah katedral Bizantium, lalu diubah menjadi masjid pada 1453 setelah penaklukan Ottoman di Istanbul, kemudian dialihkan menjadi museum pada 1934 di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk.

Sumber: republika.co.id

 

Jamaah Membludak, Masjid Hagia Sophia Dibuka Lebih Awal

TURKI(Jurnalislam.com)- Masjid Hagia Sophia direncanakan buka pada pukul 10.00 TRT (waktu Tukri) atau sekitar pukul 14.00 WIB. Namun karena jamaah membeludak, pihak pengaman membukanya sejak pukul 09.00 TRT.

ShalatJumat perdana di Hagia Sophia akan dilaksanakan terbuka untuk laki-laki dan perempuan.

Lansir sindonews yang berada di lokasi melihat masyarakat telah menunggu sejak subuh untuk masuk Hagia Sophia. Bahkan mereka menginap di jalan dan menumpuk di pintu masuk lapangan Hagia Sophia yang dibatasi ketat pagar pembatas.

Mereka mengucapkan takbir dan shalawat berjamaah. Untuk mencegah kerumunan lebih besar, pihak penyenggara membuka pintu lapangan Hagia Sophia lebih awal 1 jam dari rencana.

Berdasarkan pantauan langsung, lapangan Hagia Sophia sudah penuh oleh jamaah, sehingga area lain dibuka. Para jamaah duduk di lapangan dengan physical distancing sesuai protokol yang berlaku. Sesekali mereka berdiri mengumandangkan takbir dan berteriak, “dengan zikir, Hagia Sophia kami dibuka”.

Sumber: sindonews.com

Kabar Gembira, Tingkat Kesembuhan Covid-19 Meningkat

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Juru Bicara Satgas Percepatan Penanganan Covid-19Prof Wiku Adisasmito menyampaikan persentase kesembuhan pasien positif covid-19 secara nasional semakin meningkat.

Berdasarkan analisis dari data yang dikumpulkan Satuan Tugas, tingkat persentase kesembuhan pada Maret-Juli meningkat dari rata-rata 3,84 persen menjadi 9,79 persen pada April.

“Mei meningkat 21,97 persen, Juni 37,19 persen, dan Juli ini mencapai rata-rata saat ini 47,08 persen di mana pada tanggal 23 Juli atau kemarin persentase kesembuhan 55,7 persen,” jelas Wiku saat konferensi pers, Jumat (24/7).

Ia mendetailkan, kasus sembuh pada 23 Juli tercatat sebanyak 1.909 orang. Angka ini memang lebih rendah dibandingkan jumlah kasus sembuh pada 19 Juli yang mencapai 2.133 orang. Kendati demikian, lanjut Wiku, jika dilihat dari grafik maka akan terlihat sejak 10 Juli angka kesembuhan semakin meningkat.

“Tapi kalau kita lihat dari grafik ini terlihat mulai dari Juli tanggal 10 sebesar 878 orang dan terus meningkat jumlah sembuhnya menjadi 1.909. Ini adalah kabar baik tetapi kita harus tetap mendorong kesembuhan ini menjadi lebih baik lagi. Dan ini terjadi dalam 13 hari terakhir,” kata dia.

Meskipun tingkat kesembuhan pasien positif kasus covid semakin meningkat,  ia meminta masyarakat agar tetap waspada. Masyarakat juga tetap harus disiplin menjalankan protokol kesehatan dengan ketat.

“Dan ternyata di beberapa tempat di Indonesia masih ada masyarakat yang belum patuh terhadap protokol kesehatan. Mari kita saling ingatkan untuk pakai masker, jaga jarak, cuci tangan,” imbuh dia.

Sumber: republika.co.id

 

Pemerintah Klaim Tak Berniat Tutup-tutupi Data Terbaru Covid

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Juru Bicara Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyampaikan, pemerintah mendorong adanya transparansi data kasus Covid-19 agar publik dapat mengakses data tersebut dengan benar.

Ia juga menegaskan, pemerintah tak memiliki niat untuk menutup-nutupi data perkembangan kasus covid-19 setelah Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 tak lagi mengumumkan secara langsung perkembangan data terkini.

“Tidak ada maksud untuk menutup-nutupi data. Mari kita dorong transparansi publik dan silakan masyarakat ikut mengontrol apabila ada kondisi yang tidak sesuai dengan sebenarnya,” ujar Wiku saat konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (24/7).

Wiku menjelaskan, meskipun data harian Covid-19 tak lagi diumumkan secara langsung melalui konferensi pers, masyarakat dapat mengakses perkembangan data harian melalui portal yang disediakan yakni www.covid19.go.id.

“Di situ kami menyampaikan perkembangan kasus yang bisa diakses oleh masyarakat, oleh media tentang keadaan terkininya,” tambah dia.

Perkembangan data terkini akan rutin diinput atau diumumkan setiap hari pukul 16:00 WIB. Menurutnya, hal ini juga tergantung pada pengiriman data dari Kementerian Kesehatan yang melakukan verifikasi seluruh data nasional yang dilaporkan.

Wiku berharap, nantinya data yang ditampilkan melalui portal tersebut dapat diakses oleh masyarakat secara realtime. Ia mengaku saat ini pihaknya masih berupaya agar data kasus Covid-19 dapat terinput dan diakses secara realtime oleh masyarakat.

“Kami sedang berusaha keras agar betul-betul data ini bisa diakses dengan realtime. Dan datanya tidak berbeda antara data nasional dengan data di daerah,” ucap Wiku.

Sumber: republika.co.id

4 Juta Kasus Corona AS, 43 Kasus Baru Per Menit

WASHINGTON(Jurnalislam.com) – Pandemi virus corona tipe baru atau Covid-19 di Amerika Serikat (AS) semakin meningkat dari hari ke hari. Hingga Kamis (23/7) waktu setempat, AS mencatat rekor adanya 43 kasus baru infeksi Covid-19 dalam setiap menit.

Berdasarkan penghitungan Reuters, kasus infeksi positif Covid-19 di seluruh negara bagian AS menembus angka 4 juta kasus. Sekurangnya 2.600 kasus baru dilaporkan setiap jam.

Menurut Reuters, AS hanya membutuhkan 98 hari setelah kasus Covid-19 pertamanya terdeteksi pada 21 Januari untuk mencapai satu juta kasus. Hanya butuh 184 hari bagi AS untuk mencapai ambang empat juta kasus. Sebanyak 1 juta kasus terakhir telah ditambahkan selama 16 hari pada tingkat 43 kasus per menit.

Dilansir laman Sputnik, AS juga memiliki tingkat infeksi per kapita tertinggi kedua, setelah Cile, dengan 120 infeksi per 10 ribu orang. Selain itu, AS menempati urutan keenam secara global dalam hal kematian per kapita dengan 4,4 kematian per 10 ribu orang. Angka kematian per kapita AS hanya dilampaui oleh orang-orang dari Inggris, Spanyol, Italia, Cile, dan Prancis.

Data statistik worldometers menunjukkan bahwa jumlah kasus Covid-19 yang tercatat sejauh ini di AS adalah 4.129.405. Sementara 146.665 orang telah meninggal di negara itu karena penyakit tersebut.

Data terbaru oleh worldometers juga menunjukkan bahwa lebih dari 15 juta kasus virus telah dikonfirmasi di seluruh dunia. Sedangkan lebih dari 632 ribu kematian telah terjadi di 213 wilayah dan negara di seluruh dunia.

Dalam jumpa pers pada Selasa lalu, Presiden AS Donald Trump mengubah retorikanya tentang ancaman Covid-19. Dia mendesak orang Amerika untuk mengenakan masker setelah menolak melakukannya sendiri selama berbulan-bulan.

Selain itu, ia mengakui bahwa pandemi akan menjadi lebih buruk sebelum menjadi lebih baik. Pada Senin, presiden juga mencicitkan unggahan foto dirinya mengenakan masker. “Memakai satu masker wajah sebagai (tindakan) “patriotik” ketika Anda tidak bisa menjaga jarak secara sosial,” cicitnya.

sumber: republika.co.id