255 Peserta Ikuti Mukhoyam Al-Qur’an JSIT Jateng di Ponpes Nurul Islam Tengaran

SEMARANG (jurnalislam.com)– JSIT Indonesia Wilayah Jawa Tengah menyelenggarakan kegiatan Mukhoyam Al-Qur’an pada Jumat–Minggu, (4–6/7/2025), bertempat di Kompleks Pondok Pesantren Nurul Islam Tengaran, Kabupaten Semarang. Kegiatan ini diikuti oleh 255 peserta dari berbagai Sekolah Islam Terpadu se-Jawa Tengah, dengan semangat membumikan Al-Qur’an dalam kehidupan pendidikan.

Sekretaris JSIT Indonesia Wilayah Jawa Tengah, Hananto Widhiaksono, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai ruh utama dalam pendidikan.

“Ruh dari Sekolah Islam Terpadu adalah Al-Qur’an. Al-Qur’anlah yang membuat sekolah menjadi tempat yang tenang dan nyaman. Kalau di rumah ada istilah baiti jannati, maka di sekolah madrasati jannati, karena adanya Al-Qur’an,” ungkap Hananto.

Ketua Tim Pengembangan Pendidikan Al-Qur’an (TP2Q) JSIT Indonesia Wilayah Jawa Tengah, Nanang Kosim Al Hafidz, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk melahirkan generasi Qur’ani.

“Dengan Al-Qur’an, akan lahir generasi terbaik yang dibutuhkan umat dan bangsa,” ujar Nanang.

Turut hadir dalam pembukaan kegiatan, Majelis Pertimbangan Pondok Pesantren Nurul Islam Tengaran, Muh. Haris, yang juga merupakan Anggota Komisi IX DPR RI. Ia menyambut baik kegiatan ini dan menyampaikan bahwa kehadiran para peserta membawa berkah bagi pesantren.

“Jagalah Al-Qur’an, ajarkan kepada masyarakat, karena itulah warisan terbaik Rasulullah,” pesannya.

Kegiatan mukhoyam ini diawali dengan taujih dan motivasi dari KH Abdul Aziz Abdur Rauf Al Hafidz, Pembina Badan Pengembangan Pendidikan Al-Qur’an (BP2Q) JSIT Indonesia pusat. Dalam tausiahnya, beliau menekankan pentingnya keistiqomahan dalam mendidik dan mendampingi generasi Al-Qur’an.

“Istiqomahlah dalam kebaikan. Tua bersama Al-Qur’an adalah kemuliaan yang luar biasa,” nasihat beliau.

Dengan penuh semangat dan kebersamaan, para peserta mengikuti rangkaian kegiatan mukhoyam yang terdiri dari pembinaan, tilawah, murojaah, hingga penguatan metodologi pembelajaran Al-Qur’an, sebagai bekal menjadi guru Qur’an yang unggul dan inspiratif di sekolah masing-masing.

Kyiv Digempur Drone Rusia Sepanjang Malam, 14 Orang Terluka dan Infrastruktur Kereta Api Rusak

KYIV (jurnalislam.com)— Ibu kota Ukraina, Kyiv, digempur serangan drone Rusia selama lebih dari delapan jam pada Jumat dini hari (4/7/2025), melukai sedikitnya 14 orang serta menyebabkan kebakaran di sejumlah bangunan dan kendaraan. Serangan ini juga merusak infrastruktur kereta api, demikian disampaikan otoritas setempat.

Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, dalam pernyataannya di Telegram menyebutkan bahwa 12 korban luka telah dilarikan ke rumah sakit. Kerusakan tercatat terjadi di enam dari 10 distrik kota yang terletak di kedua sisi Sungai Dnipro. Puing-puing drone yang jatuh menyebabkan kebakaran di sebuah fasilitas medis di distrik Holosiivskyi.

“Kyiv kembali menghadapi malam yang sangat sulit. Serangan berlangsung lama dan luas,” kata Klitschko.

Ini merupakan salah satu serangan udara terbesar yang menargetkan Kyiv dalam beberapa pekan terakhir, di tengah meningkatnya frekuensi dan intensitas serangan Rusia. Kota berpenduduk sekitar tiga juta jiwa itu telah beberapa kali menjadi sasaran serangan paling mematikan sejak awal invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.

𝗜𝗻𝗳𝗿𝗮𝘀𝘁𝗿𝘂𝗸𝘁𝘂𝗿 𝗞𝗲𝗿𝗲𝘁𝗮 𝗔𝗽𝗶 𝗧𝗲𝗿𝗱𝗮𝗺𝗽𝗮𝗸

Perusahaan kereta api milik negara Ukraina, Ukrzaliznytsia, melaporkan bahwa serangan tersebut merusak jaringan kereta api di Kyiv. Sejumlah layanan penumpang terpaksa dialihkan dan mengalami penundaan.

Saksi mata Reuters di Kyiv melaporkan mendengar ledakan beruntun dan tembakan senjata antipesawat saat sistem pertahanan udara Ukraina berupaya menembak jatuh drone Rusia yang memenuhi langit kota.

Kepala administrasi militer Kyiv, Tymur Tkachenko, mengatakan bahwa sebagian besar target yang diserang adalah area permukiman.

“Serangan ini tak kunjung henti. Jumlah target di atas Kyiv sangat banyak,” ujarnya di Telegram.

“Kami terus berupaya menembak jatuh drone musuh di seluruh distrik.” sambungnya.

𝗞𝗲𝘁𝗲𝗴𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗽𝗹𝗼𝗺𝗮𝘁𝗶𝗸 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗻𝘂𝗻𝗱𝗮𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗻𝘁𝘂𝗮𝗻 𝗔𝗦

Di sisi diplomatik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan via telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Kamis tidak menghasilkan kemajuan signifikan untuk mengakhiri perang. Sementara Kremlin kembali menegaskan bahwa mereka akan terus berupaya menyelesaikan “akar penyebab” konflik.

Langkah Washington awal pekan ini untuk menangguhkan sebagian pengiriman senjata ke Ukraina menimbulkan kekhawatiran di Kyiv. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa dirinya berharap dapat berbicara langsung dengan Trump pada Jumat untuk membahas kelanjutan dukungan militer dari AS.

Baik Rusia maupun Ukraina sama-sama membantah menargetkan warga sipil secara sengaja dalam konflik ini. Namun, sejak awal invasi besar-besaran pada 2022, ribuan warga sipil telah menjadi korban dalam perang yang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

GHF Diduga Distribusikan Bantuan yang Dicampur Narkoba, Komite Anti-Narkoba Gaza: Jebakan Maut

GAZA (jurnalislam.com)– Yayasan Kemanusiaan Gaza (Gaza Humanitarian Foundation/GHF), sebuah lembaga distribusi bantuan yang didukung oleh Israel dan Amerika Serikat, dituduh menyebarkan tepung yang tercampur dengan obat opioid jenis Oxycodone. Tuduhan ini menambah daftar kontroversi yang selama ini melekat pada GHF, di tengah krisis kemanusiaan yang terus berlangsung di Jalur Gaza.

Kantor Media Pemerintah Gaza pada Jumat (27/6/2025) menyatakan bahwa sejumlah pil Oxycodone ditemukan dalam kantong-kantong bantuan tepung yang didistribusikan kepada warga Palestina. Obat tersebut tergolong sebagai opioid kuat yang biasa digunakan untuk meredakan nyeri berat, namun memiliki efek adiktif yang tinggi dan berpotensi menyebabkan depresi pernapasan hingga kematian jika disalahgunakan.

𝗞𝗼𝗺𝗶𝘁𝗲 𝗔𝗻𝘁𝗶-𝗡𝗮𝗿𝗸𝗼𝗯𝗮 𝗚𝗮𝘇𝗮: 𝗪𝗮𝘀𝗽𝗮𝗱𝗮 “𝗝𝗲𝗯𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗠𝗮𝘂𝘁”

Menanggapi temuan ini, Komite Anti-Narkoba Gaza mengeluarkan peringatan kepada masyarakat untuk berhati-hati terhadap “jebakan maut yang disebut pusat bantuan AS-Israel”. Warga diminta segera melaporkan apabila menemukan zat atau benda mencurigakan dalam paket bantuan.

Sejumlah foto yang diklaim menunjukkan pil-pil tersebut tersebar luas di media sosial, memperlihatkan obat-obatan tersembunyi di antara karung-karung bantuan yang dibagikan kepada masyarakat.

Omar Hamad, seorang apoteker di Gaza, turut mengonfirmasi keberadaan Oxycodone dalam empat karung bantuan yang ia periksa. Dalam keterangannya melalui platform X, ia menjelaskan bahwa Oxycodone bekerja pada sistem saraf pusat dan dapat menyebabkan kecanduan berat, penurunan kesadaran, serta risiko gangguan pernapasan.

“Efek sampingnya sangat berbahaya dan dapat mengubah seseorang menjadi sosok yang tak dikenali — hanya cangkang dari dirinya yang dulu,” tulis Hamad.

𝗕𝗮𝗻𝘁𝘂𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗷𝗮𝗱𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮?

Tuduhan penggunaan bantuan sebagai alat tekanan politik dan militer kembali mencuat. Pemerintah Israel telah lama dituding menggunakan akses terhadap bantuan makanan sebagai senjata dalam konflik dengan Hamas. PBB pun baru-baru ini mengkritik praktik “persenjataan bantuan” oleh Israel, menyusul insiden penembakan terhadap warga Palestina yang tengah mengantre bantuan di sejumlah lokasi di Gaza.

Sebelum GHF memulai operasinya di Gaza pada akhir Mei, Israel dikabarkan telah memblokir seluruh akses bantuan ke wilayah tersebut dan menjadikan pembukaan jalur bantuan sebagai bagian dari negosiasi dengan Hamas.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, juga sebelumnya mengakui pernah mendanai dan mempersenjatai kelompok-kelompok bersenjata di Gaza. Kelompok tersebut dituduh oleh Hamas sebagai pelaku pencurian bantuan dan penyerangan terhadap armada distribusi.

Netanyahu, bersama mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant, saat ini tengah menghadapi proses di Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan perang, termasuk penggunaan kelaparan sebagai senjata dalam konflik bersenjata. (Bahry)

Sumber: TNA

Israel Jadikan Sistem Penjara sebagai Tulang Punggung Pendudukan Palestina, AS Dituding Jadi Pendukung Utama

PALESTINA (jurnalislam.com)– Pasukan pendudukan Israel dilaporkan menculik seorang perempuan Palestina, Fidaa Assaf, pada 24 Februari 2025. Ia ditangkap saat dalam perjalanan pulang dari Kompleks Medis Ramallah menuju desanya di Kafr Laqif, Provinsi Qalqilya, Palestina.

Assaf, seorang ibu dan penderita kanker, disebut mengalami pelecehan verbal dan penggeledahan berulang oleh aparat Israel. Ia ditahan di sel yang tidak higienis, dipenuhi serangga, dan tidak diberi makanan maupun air selama beberapa hari.

Pejabat Palestina menyatakan Assaf saat ini ditahan di Penjara Damon — salah satu penjara paling kejam di Israel — bersama sekitar 42 tahanan perempuan lainnya. Beberapa di antaranya adalah perempuan hamil seperti Zahraa Kawazbeh dan Doaa Kawazbeh yang juga dilaporkan mengalami penyiksaan dan pengabaian medis.

Penahanan massal warga Palestina oleh Israel bukanlah hal baru. Menurut laporan terbaru American Muslims for Palestine yang dirilis pada Kamis (3/7/2025), sistem penjara Israel telah menjadi “tulang punggung pendudukan” atas Palestina. Sejak 1967, sekitar satu juta warga Palestina telah dipenjara — rata-rata 47 orang per hari selama 58 tahun.

Per Mei 2025, Israel tercatat menahan 10.068 warga Palestina. Dari jumlah itu, 1.455 telah dijatuhi hukuman, 3.190 masih menunggu persidangan, dan 3.577 ditahan tanpa dakwaan melalui mekanisme penahanan administratif, sebuah praktik yang dikritik luas sebagai bentuk pelanggaran HAM.

Laporan itu juga mencatat lonjakan tajam dalam penggunaan penahanan administratif sejak agresi militer Israel ke Gaza pada 2023. Angkanya melonjak dari 350 menjadi lebih dari 2.300 tahanan per bulan — setara sepertiga dari seluruh tahanan Palestina saat ini.

“Penahanan digunakan secara sistematis sebagai alat represi dan dominasi,” tulis laporan berjudul The Carceral History of Occupied Palestine itu.

𝗞𝗼𝗻𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗠𝗲𝗻𝗰𝗲𝗸𝗮𝗺 𝗱𝗶 𝗧𝗲𝗽𝗶 𝗕𝗮𝗿𝗮𝘁

Data menunjukkan, militer Israel telah melakukan 3.384 operasi penangkapan di Tepi Barat yang diduduki hanya pada paruh pertama tahun 2024. Bahkan, pada April 2025 saja, tercatat 530 penangkapan termasuk 60 anak-anak dan 18 perempuan.

Laporan juga menyoroti amandemen undang-undang Israel tahun 2024 yang mengizinkan hukuman seumur hidup bagi anak-anak berusia 12 tahun, serta diberlakukannya hukuman kolektif.

Hingga kini, terdapat hampir 900 pos pemeriksaan, gerbang, dan blokade jalan militer di Tepi Barat — meningkat dari 645 titik pada tahun 2023 — yang sangat membatasi mobilitas warga sipil Palestina.

𝗞𝗲𝘁𝗲𝗿𝗹𝗶𝗯𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗔𝗺𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮 𝗦𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝘁

Laporan itu juga menyoroti peran Amerika Serikat sebagai pendukung utama sistem represi Israel terhadap warga Palestina. Dikatakan bahwa Washington telah memberikan bantuan militer sebesar $383,75 miliar (disesuaikan dengan inflasi) sejak 1948, termasuk bantuan tahunan minimal $3,8 miliar sejak 2016.

Pada April 2025, Kongres AS kembali menyetujui paket bantuan militer senilai $14,1 miliar untuk Israel, yang oleh American Muslims for Palestine disebut sebagai bentuk dukungan terhadap genosida di Gaza.

“Uang dan senjata dari AS memperkuat sistem penjara Israel, pengadilan militernya, penyiksaan, deportasi, dan penahanan anak-anak. Dukungan ini harus dihentikan untuk menegakkan hukum internasional dan hak asasi warga Palestina,” tegas laporan itu.

Mereka menambahkan bahwa meskipun tidak semua warga Palestina ditahan secara resmi, “setiap orang yang hidup di bawah pendudukan Israel telah menjadi target dari sistem pemenjaraan ini dalam berbagai bentuk.”

American Muslims for Palestine menegaskan bahwa sistem penahanan massal ini bukan sekadar instrumen hukum, melainkan strategi politik yang disengaja untuk melemahkan semangat perlawanan rakyat Palestina. Selama sistem ini tetap dibiarkan dan didanai oleh kekuatan asing, terutama Amerika Serikat, maka penderitaan rakyat Palestina akan terus berlanjut tanpa keadilan yang pasti. (Bahry)

Sumber: TRT

Dua Tentara Israel Tewas, Tiga Lainnya Luka Parah dalam Pertempuran di Jalur Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Dua tentara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dilaporkan tewas dan tiga lainnya terluka parah dalam serangkaian pertempuran yang terjadi di Jalur Gaza bagian utara dalam beberapa hari terakhir, menurut pernyataan resmi militer Israel pada Rabu (2/7/2025).

Salah satu prajurit yang tewas adalah Sersan Yaniv Michalovitch (19), awak tank dari Batalyon ke-82 Brigade Lapis Baja ke-7 yang berasal dari Rehovot. IDF menyatakan bahwa Michalovitch tewas saat bertempur di wilayah utara Jalur Gaza. Dalam insiden yang sama, seorang komandan tank dan prajurit lain dari batalion yang sama mengalami luka berat dan telah dievakuasi ke rumah sakit untuk menjalani perawatan intensif. Keluarga para korban telah diberitahu.

Di lokasi berbeda dalam operasi di Gaza utara, seorang prajurit dari unit Egoz, yang berada di bawah Brigade Komando, juga dilaporkan terluka parah.

Sementara itu, sebelumnya pada Ahad (29/6), militer Israel juga mengumumkan kematian Sersan Yisrael Natan Rosenfeld (20) dari Batalyon Teknik Tempur ke-601 dalam operasi militer di wilayah Kafr Jabalia, Gaza utara. Menurut penyelidikan awal IDF, Rosenfeld tewas akibat ledakan alat peledak improvisasi (IED) saat menjalankan misi tempur.

Rosenfeld merupakan imigran dari London yang pindah ke Israel bersama keluarganya sekitar 11 tahun lalu. Ia meninggalkan kedua orang tuanya dan tiga saudara kandung.

Dengan terbunuhnya Michalovitch dan Rosenfeld, jumlah korban tewas di pihak Israel sejak dimulainya serangan darat terhadap Hamas di Jalur Gaza serta operasi militer di sepanjang perbatasan kini mencapai 442 orang. Jumlah tersebut mencakup dua petugas kepolisian dan tiga kontraktor sipil Kementerian Pertahanan Israel. (Bahry)

Sumber: TOI

Israel Umumkan Operasi Militer Baru “The Proud Lion” di Gaza, Fokus Eliminasi Hamas dan Pemulangan Sandera

GAZA (jurnalislam.com)– Militer Israel pada Rabu (2/7/2025) mengumumkan berakhirnya operasi militer “Gideon’s War Chariot” (Kereta Perang Gideon) di Jalur Gaza dan meluncurkan fase baru yang dinamai “The Proud Lion.” Operasi ini diklaim sebagai langkah strategis untuk meningkatkan tekanan terhadap kelompok perlawanan Palestina, Hamas.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa operasi “The Proud Lion” memiliki dua tujuan utama: membebaskan para sandera yang masih ditahan Hamas serta menghapus keberadaan Hamas sepenuhnya dari Jalur Gaza.

“Kami tidak akan mundur dari tujuan ini,” tegas Katz saat mengunjungi pasukan militer Israel di Rafah. Kunjungan tersebut juga mencakup pertemuan dengan prajurit cadangan dan para komandan lapangan. Dalam kesempatan itu, Katz berjanji akan memberikan dukungan penuh secara operasional dan logistik.

“Untuk membunuh musuh, membawa pulang para sandera, dan menang — itulah misi kami. Tidak ada ruang untuk kompromi. Hamas tidak berubah. Mereka masih berusaha menghancurkan Israel,” ujarnya.

Katz juga menuduh Hamas terlibat dalam koordinasi strategis dengan Iran untuk melancarkan serangan lintas kawasan, termasuk peluncuran rudal dan operasi militer dari berbagai front seperti Gaza, Suriah, Lebanon, dan Yordania.

Pengumuman peluncuran operasi baru ini muncul hanya sehari setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Israel telah menyetujui persyaratan yang diajukan untuk mengamankan gencatan senjata selama 60 hari di Gaza.

Sementara itu, pihak Hamas mengonfirmasi bahwa mereka sedang melakukan peninjauan internal terhadap proposal gencatan senjata yang dimediasi oleh sejumlah pihak internasional.

Dalam pernyataannya, Hamas menegaskan bahwa mereka tetap berkomitmen pada tujuan untuk mengakhiri agresi militer, menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza, serta mendesak dimulainya bantuan kemanusiaan secara cepat bagi warga sipil yang terdampak. (Bahry)

Sumber: The Cradle

Hamas Pertimbangkan Proposal Gencatan Senjata 60 Hari, Trump Klaim Israel Setuju

GAZA (jurnalislam.com)– Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, pada Rabu (2/7/2025), menyatakan tengah melakukan konsultasi internal untuk membahas proposal gencatan senjata yang diajukan oleh para mediator. Hal ini menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengklaim bahwa Israel telah menyetujui gencatan senjata selama 60 hari di Jalur Gaza.

Perang yang telah berlangsung hampir 21 bulan antara Israel dan Hamas telah menyebabkan krisis kemanusiaan parah bagi lebih dari dua juta penduduk Gaza. Dalam serangan terbaru pada Rabu, sedikitnya 33 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan militer Israel, menurut badan pertahanan sipil setempat.

Presiden Trump, dalam pernyataannya pada Selasa (1/7), mendesak Hamas untuk menerima usulan gencatan senjata, sembari menyebut bahwa Israel telah memberikan lampu hijau terhadap kesepakatan tersebut.

“Israel telah setuju untuk menghentikan pertempuran selama 60 hari. Kami berharap Hamas dapat menerima usulan ini demi menghentikan penderitaan,” ujar Trump.

Dalam pernyataannya, Hamas menegaskan bahwa pihaknya “sedang melakukan konsultasi nasional untuk membahas proposal yang diajukan oleh para mediator.” Hamas juga menyatakan bahwa tujuan dari proses ini adalah untuk “mengakhiri agresi, memastikan penarikan pasukan pendudukan dari Gaza, dan mempercepat bantuan kemanusiaan kepada rakyat kami.”

Trump dijadwalkan akan menerima kunjungan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di Gedung Putih pada pekan depan, di tengah meningkatnya tekanan internasional untuk mengakhiri konflik bersenjata tersebut.

𝗨𝗽𝗮𝘆𝗮 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗯𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗧𝗮𝘄𝗮𝗻𝗮𝗻

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menyatakan bahwa ada “beberapa tanda positif” dalam proses negosiasi yang sedang berlangsung. Ia menegaskan komitmen Israel untuk menyepakati gencatan senjata sekaligus membebaskan para sandera.

“Kami serius dalam upaya mencapai kesepakatan penyanderaan dan gencatan senjata,” kata Saar.

“Setiap peluang untuk pembebasan sandera tidak boleh disia-siakan.”

Menurut data militer Israel, dari 251 orang yang ditawan oleh kelompok bersenjata Palestina sejak Oktober 2023, 49 orang masih berada di Gaza, termasuk 27 yang diyakini telah tewas.

Seorang sumber Palestina yang dekat dengan proses negosiasi mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa tidak ada perubahan mendasar dalam proposal baru ini dibandingkan dengan usulan sebelumnya dari pihak Amerika Serikat.

“Proposal ini mencakup gencatan senjata selama 60 hari, di mana Hamas akan membebaskan setengah dari tawanan Israel yang masih hidup di Gaza, dengan imbalan pembebasan sejumlah tahanan Palestina oleh Israel,” ujar sumber tersebut. (Bahry)

Sumber: TNA

MUI Tegaskan Tak Boleh Ada Ruang Bagi Pendukung Zionisme di Indonesia

JAKARTA (jurnalislam.com)— Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, mengingatkan seluruh elemen masyarakat agar waspada terhadap gerakan pro-Zionis yang mencoba mempengaruhi opini publik di Indonesia. Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada ruang sedikit pun bagi pihak yang mendukung Zionisme di Tanah Air.

“Perlawanan terhadap agresi Israel ini adalah langkah yang benar, rasional, sikap bertanggung jawab, dan sejalan dengan hukum internasional,” kata Prof. Sudarnoto dalam keterangannya kepada MUI Digital, Rabu (2/7/2025), di Jakarta.

Ia menyoroti meningkatnya kejahatan yang dilakukan oleh rezim Zionis Israel terhadap warga sipil di Gaza, termasuk penghancuran besar-besaran wilayah tersebut, yang telah memicu krisis kemanusiaan global. Kondisi ini, kata dia, mendorong semangat masyarakat Indonesia untuk terus menunjukkan solidaritas terhadap rakyat Palestina.

“Semangat dan langkah masyarakat Indonesia untuk membela Palestina cukup besar,” ujarnya.

Prof. Sudarnoto juga menilai sikap tegas pemerintah Indonesia dalam mendukung Palestina melalui jalur diplomasi sudah tepat. Langkah tersebut, menurutnya, sejalan dengan arus besar solidaritas masyarakat dunia terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina.

Ia menegaskan bahwa segala bentuk dukungan terhadap Zionisme Israel, baik dalam bentuk penyebaran narasi maupun simbol-simbol, bertentangan dengan nilai-nilai konstitusi Indonesia.

“Tidak boleh ada seorang pun di Indonesia yang membela Zionisme Israel, membangun narasi yang bertentangan dengan Pembukaan UUD 1945, apalagi mengibarkan bendera Israel di wilayah Indonesia,” katanya.

Ia juga memperingatkan agar ruang publik, termasuk media sosial, tidak dijadikan tempat untuk menyebarkan agitasi dan propaganda pro-Zionis.

“Saya berharap, jangan disediakan ruang bagi semua pembela Zionisme Israel di Indonesia untuk mengembangkan pikiran, agitasi, dan propaganda mereka melalui media apa pun,” tegasnya.

Mengakhiri pernyataannya, Prof. Sudarnoto menyerukan kepada semua elemen masyarakat, termasuk media massa, untuk terus menguatkan narasi perlawanan terhadap genosida yang dilakukan Israel, serta mendukung penuh kemerdekaan Palestina.

“Saya juga menyerukan kepada semua elemen masyarakat termasuk media massa untuk semakin menggencarkan dan mengarusutamakan semangat lawan genosida Israel, keluar Israel dari seluruh wilayah Palestina, dan dukung kemerdekaan Palestina,” pungkasnya.

Sumber: mui digital

Brigade Al-Quds Klaim Lakukan Serangan Terkoordinasi, Tewaskan Banyak Tentara Israel di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Kelompok Perlawanan Palestina Brigade Saraya Al-Quds, sayap militer Palestinian Islamic Jihad (PIJ), pada Rabu (2/7/2025) mengumumkan telah melancarkan serangkaian serangan kompleks dan terkoordinasi terhadap pasukan pendudukan Israel di berbagai wilayah Jalur Gaza. Serangan-serangan itu, diklaim mengakibatkan banyak korban jiwa di pihak militer Israel.

Mengutip laporan media Israel, serangan tersebut digambarkan sebagai dua “insiden keamanan yang sulit”. Seorang tentara dari unit elit Egoz dilaporkan tewas akibat tembakan penembak jitu, sementara empat lainnya terluka parah ketika sebuah alat peledak menghantam kendaraan tempur mereka. Dua dari korban luka saat ini menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Assuta, Ashdod.

TV Al-Aqsa juga melaporkan bahwa militer Israel melakukan evakuasi terhadap sejumlah pasukannya dari kawasan timur Kota Gaza di tengah pertempuran yang terus berlanjut.

Dalam pernyataan yang dirilis ke media, seorang komandan lapangan Brigade Al-Quds menjelaskan bahwa pihaknya melakukan operasi besar di sebelah timur lingkungan Shujaiyya, Kota Gaza, yang menyasar puluhan tentara dan konvoi kendaraan militer Israel.

“Operasi dimulai dengan meledakkan ladang ranjau tersembunyi yang memaksa pasukan musuh berlindung di rumah-rumah warga. Kami kemudian menyerang mereka menggunakan peluru kendali dan proyektil antibenteng TBG, serta terlibat pertempuran jarak dekat dengan senjata ringan dan sedang,” ujarnya. Komandan tersebut mengklaim bahwa sejumlah perwira dan awak lapis baja Israel tewas atau terluka dalam penyergapan tersebut.

Dalam pernyataan terpisah, Brigade Al-Quds juga mengonfirmasi telah berhasil menjatuhkan pesawat pengintai Israel di wilayah Khan Yunis, Gaza selatan, yang sedang melakukan misi pengawasan.

Serangan perlawanan Palestina dilaporkan terus meningkat dalam beberapa hari terakhir. Pada Selasa (1/7), pejuang Palestina menyergap unit infanteri Israel di timur Khan Yunis, dengan memasang jebakan bom antipersonel dan antibenteng di sebuah rumah yang digunakan pasukan Israel sebagai tempat berlindung. Saat pasukan bantuan Israel datang, mereka disambut tembakan senapan mesin dan peluncur RPG, yang memaksa militer mengerahkan helikopter untuk evakuasi.

Di kawasan Abasan al-Kabira, Khan Yunis, pejuang Brigade Al Quds menghancurkan buldoser lapis baja D9 menggunakan alat peledak berbentuk laras berkekuatan tinggi.

Dalam operasi gabungan dengan Brigade Al-Qassam, mereka juga mengklaim menghancurkan tank Merkava dengan bahan peledak Thaqeb yang ditanam di sekitar lokasi.

Sumber militer Israel sendiri mengakui bahwa sedikitnya 30 tentaranya tewas sejak pertempuran kembali pecah pada Maret lalu. Namun, sejumlah sumber Palestina dan pengamat independen menyatakan angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi, menuding adanya praktik sensor informasi oleh otoritas Israel untuk menjaga stabilitas moral publik dalam negeri. (Bahry)

Sumber: TPC

Di Tengah Kecaman Dunia, AS Kembali Kirim Senjata ke Israel Senilai Rp8 Triliun

WASHINGTON (jurnalislam.com)– Pemerintah Amerika Serikat telah menyetujui penjualan peralatan panduan amunisi dan dukungan teknis senilai USD 510 juta (sekitar Rp8,3 triliun) kepada Israel, demikian diumumkan Departemen Luar Negeri AS pada Senin (30/6/2025).

Penjualan tersebut mencakup 3.845 unit peralatan panduan KMU-558B/B Joint Direct Attack Munition (JDAM) untuk bom jenis BLU-109, serta 3.280 unit peralatan JDAM KMU-572F/B untuk bom MK 82. Paket ini juga mencakup layanan rekayasa, logistik, dan dukungan teknis lainnya, menurut pernyataan dari Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan AS (DSCA).

“Penjualan ini akan meningkatkan kemampuan Israel dalam menghadapi berbagai ancaman saat ini dan di masa depan, termasuk mempertahankan perbatasan, infrastruktur vital, dan pusat-pusat populasi,” kata DSCA.

Pengumuman ini muncul di tengah meningkatnya tekanan global terhadap Israel atas serangan militer berkelanjutan di Jalur Gaza.

Sejak dimulainya agresi militer pada Oktober 2023, otoritas kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 56.500 warga Palestina tewas akibat serangan udara dan artileri Israel. Hanya pada hari Senin (30/6), sedikitnya 97 warga sipil dilaporkan tewas, dengan puluhan lainnya luka-luka, dalam serangkaian serangan yang menargetkan daerah padat pengungsi di Gaza.

Dukungan militer Washington kepada Tel Aviv terus menuai kritik tajam dari masyarakat internasional. Banyak pihak menilai bantuan persenjataan tersebut justru memperpanjang penderitaan warga sipil di Gaza dan memperburuk krisis kemanusiaan.

Pada November lalu, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Selain itu, Israel saat ini juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas operasi militer yang dilancarkan di wilayah yang terkepung tersebut. (Bahry)

Sumber: AA