Korban Militer Bertambah, Israel Umumkan Tentara ke-16 Tewas di Bulan Juli

GAZA (jurnalislam.com)– Seorang prajurit cadangan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang mengalami luka parah dalam serangan bom pinggir jalan di Jalur Gaza selatan, dilaporkan meninggal dunia pada Sabtu (26/7/2025). Dengan demikian, jumlah tentara Israel yang tewas di Gaza sepanjang Juli 2025 bertambah menjadi 16 orang.

Korban terbaru adalah Sersan Mayor (Purn.) Betzalel Yehoshua Mosbacher (32), anggota Batalyon Zeni Tempur ke-749. Ia tumbuh besar di Avnei Eitan, Dataran Tinggi Golan, dan tinggal di Or Yehuda. Mosbacher terluka dalam serangan bom yang menghantam Humvee yang ia kendarai bersama seorang prajurit zeni tempur lainnya di Khan Younis pada 19 Juli lalu.

Keduanya sempat dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Namun, nyawa Mosbacher tak tertolong. Media berbahasa Ibrani melaporkan bahwa Mosbacher bekerja di Otoritas Listrik Israel dan meninggalkan seorang istri, seorang putri berusia dua tahun, orang tua, dan saudara kandung.

Pertempuran di Jalur Gaza masih terus berlangsung. Sementara itu, upaya perundingan gencatan senjata dan pembebasan sandera dilaporkan menemui jalan buntu.

Sejak awal bulan Juli 2025, total 16 tentara Israel tewas di Gaza. Adapun sejak dimulainya invasi darat ke wilayah tersebut dan operasi militer di sepanjang perbatasan Gaza, jumlah korban dari pihak Israel mencapai 457 orang, termasuk dua petugas kepolisian dan tiga kontraktor sipil dari Kementerian Pertahanan.

Secara keseluruhan, jumlah korban tewas dari pihak militer Israel sejak pecahnya perang pada 7 Oktober 2023 tercatat mencapai 896 orang, termasuk korban dalam pertempuran melawan pejuang Hamas dan serangan mendadak di wilayah Israel selatan. (Bahry)

Sumber: TOI

Korban Tewas Konflik Thailand–Kamboja Capai 32 Orang, Kekhawatiran Perang Berkepanjangan Meningkat

BANGKOK (jurnalislam.com)– Jumlah korban tewas akibat konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja terus meningkat. Hingga Sabtu (26/7/2025), total korban jiwa dari kedua belah pihak mencapai 32 orang, memicu kekhawatiran akan terjadinya konflik berkepanjangan di kawasan Asia Tenggara.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja, Maly Socheata, melaporkan bahwa 12 warga Kamboja telah tewas — terdiri dari tujuh warga sipil dan lima tentara. Sebelumnya, satu pria Kamboja dilaporkan meninggal dunia setelah roket Thailand menghantam sebuah pagoda Buddha di mana ia berlindung pada Kamis (24/7). Setidaknya 50 warga sipil dan lebih dari 20 tentara Kamboja dilaporkan mengalami luka-luka.

Sementara itu, pihak Thailand melaporkan 13 warga sipil, termasuk anak-anak, serta enam tentara tewas dalam dua hari pertempuran. Selain itu, 30 warga sipil dan 29 tentara mengalami luka-luka akibat serangan pasukan Kamboja.

Pihak berwenang di Provinsi Preah Vihear, Kamboja, kepada surat kabar Khmer Times, menyebutkan bahwa sekitar 20.000 warga telah dievakuasi dari wilayah perbatasan. Di pihak Thailand, lebih dari 138.000 warga telah mengungsi dari empat provinsi perbatasan, dan sekitar 300 pusat evakuasi telah dibuka. Pemerintah Thailand juga telah memberlakukan status darurat militer di delapan distrik di sepanjang garis perbatasan.

Konflik terbaru dipicu oleh ledakan ranjau darat di wilayah perbatasan pada Kamis pagi, yang melukai lima tentara Thailand. Insiden ini memicu aksi saling serang antara kedua negara. Thailand menuduh militer Kamboja melepaskan tembakan pertama dan meluncurkan roket jarak jauh ke sasaran sipil, termasuk sebuah pom bensin yang menewaskan sedikitnya enam orang.

Sebagai balasan, militer Thailand mengerahkan jet tempur F-16 untuk membombardir target di wilayah Kamboja, termasuk serangan yang dilaporkan mengenai kompleks pagoda Buddha.

Kamboja menuduh Thailand menggunakan munisi tandan, senjata yang kontroversial dan telah dikecam luas di dunia internasional karena dampaknya terhadap warga sipil. Kamboja menyebut penggunaan senjata tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.

Di sisi lain, Pelaksana Tugas Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, menuduh Kamboja telah melakukan kejahatan perang, terutama akibat serangan terhadap fasilitas sipil, termasuk sebuah rumah sakit.

Menanggapi situasi yang memanas, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) menggelar pertemuan darurat tertutup pada Jumat malam di New York. Meskipun tidak ada pernyataan resmi yang dikeluarkan pasca-pertemuan, Associated Press melaporkan bahwa seluruh 15 anggota DK menyerukan agar kedua belah pihak segera menghentikan pertempuran, menahan diri, dan menyelesaikan perselisihan melalui jalur damai.

Pertikaian antara Thailand dan Kamboja ini merupakan kelanjutan dari sengketa perbatasan yang telah berlangsung selama puluhan tahun, khususnya di wilayah yang diperebutkan di sekitar Kuil Ta Moan Thom dan kawasan perbatasan lainnya. Situasi saat ini dinilai sebagai yang terburuk dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Seruan mediasi dari komunitas internasional pun terus mengalir, dengan harapan krisis ini tidak berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

TB Hasanuddin: Sengketa Perbatasan Kamboja–Thailand Harus Diselesaikan Lewat Mekanisme Asean , Peran Indonesia Sangat Penting

JAKARTA (jurnalislam.com)- Perang telah pecah antara Thailand dan Kamboja di sepanjang perbatasan sejak hari Kamis. Perang ini merupakan letupan konflik lama soal sengketa wilayah di sekitar kuil suci Preah Vihear.

Menanggapi ketegangan terbaru antara Kamboja dan Thailand yang dipicu oleh persoalan perbatasan, Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin menyerukan penyelesaian damai melalui peran aktif ASEAN sebagai organisasi kawasan.

“Karena penyebabnya soal perbatasan, saya menyarankan sebaiknya kedua kepala negara, Kamboja dan Thailand, segera diundang oleh Ketua ASEAN, yaitu Malaysia. Sekretariat ASEAN perlu difungsikan untuk memediasi dan mendamaikan kedua pihak secara regional,” ujar TB Hasanuddin di Jakarta, Sabtu (26/7/2025).

Ia juga mendorong agar ASEAN mempertimbangkan menggelar pertemuan tingkat tinggi jika situasi tidak segera mereda. “Jika diperlukan, ASEAN harus mengadakan pertemuan khusus di tingkat kepala negara untuk menyelesaikan sengketa ini secara damai dan konstruktif,” tegasnya.

Menurutnya, pendekatan damai melalui ASEAN sangat penting untuk menjaga kohesi internal organisasi tersebut. “Masalah antarnegara ASEAN harus diselesaikan oleh ASEAN sendiri. Ini penting untuk menjaga keutuhan dan kredibilitas ASEAN dalam menghadapi tantangan kawasan,” tambahnya.

Lebih lanjut, TB Hasanuddin menegaskan bahwa Indonesia harus memiliki tanggung jawab moral dan strategis untuk ikut berperan dalam proses perdamaian.

“Sebagai negara besar dan berpengaruh di ASEAN, Indonesia dapat memainkan peran penting dalam menjembatani komunikasi antara Kamboja dan Thailand. Baik melalui diplomasi bilateral maupun dalam kerangka ASEAN,” katanya.

Diketahui, ketegangan memuncak pada Mei lalu setelah seorang tentara Kamboja tewas dalam baku tembak singkat dengan pasukan Thailand di wilayah sengketa yang dikenal sebagai Segitiga Zamrud, lokasi pertemuan perbatasan antara Thailand, Kamboja, dan Laos.

Kedua pihak saling menuduh dan mengklaim bertindak untuk membela diri. Meski pimpinan militer kedua negara sempat menyatakan niat untuk meredakan situasi, langkah-langkah provokatif terus diambil.

Thailand memperketat pengawasan di pos perbatasan, membatasi lalu lintas warga, hingga mengancam memutus aliran listrik dan internet ke kota-kota perbatasan Kamboja. Sebagai balasan, Kamboja menghentikan impor buah dan sayuran dari Thailand serta melarang penayangan film dan drama Thailand.

Konflik Thailand–Kamboja Memaksa Lebih dari 100 Ribu Warga Mengungsi

THAILAND (jurnalislam.com)– Konflik bersenjata yang kembali memanas antara Thailand dan Kamboja telah memicu gelombang pengungsian besar-besaran. Lebih dari 100.000 warga Thailand terpaksa meninggalkan rumah mereka sejak pecahnya pertempuran pada Kamis (24/7/2025), menjadikan ini sebagai pertempuran perbatasan terburuk dalam lebih dari satu dekade antara kedua negara bertetangga tersebut.

Suara dentuman artileri dan tembakan senjata berat menggema di sepanjang perbatasan, mendorong ribuan warga dari empat provinsi di Thailand, termasuk Surin, untuk mencari perlindungan ke pusat-pusat evakuasi darurat.

Salah satu lokasi pengungsian terbesar berada di gedung olahraga Universitas Surindra Rajabhat di pusat Kota Surin. Hampir 3.000 pengungsi, sebagian besar dari distrik-distrik perbatasan, memadati gedung tersebut. Mereka tidur berdesakan di atas tikar plastik, dengan selimut seadanya, dan membawa barang-barang yang berhasil diselamatkan dalam kepanikan.

“Saya khawatir tentang rumah kami, hewan-hewan kami, dan tanaman yang telah kami tanam dengan susah payah,” ungkap Thidarat Homhuan (37 tahun) kepada kantor berita AFP. Ia mengungsi bersama sembilan anggota keluarganya, termasuk nenek berusia 87 tahun yang baru saja keluar dari rumah sakit.

Thidarat berada di sebuah sekolah saat suara tembakan terdengar.

“Saya mendengar suara seperti senapan mesin, lalu dentuman keras artileri. Kekacauan melanda, anak-anak ketakutan. Saya langsung membawa mereka ke bunker sekolah,” ujarnya.

Di tempat penampungan, para pengungsi tidur berdampingan di bawah atap tinggi gedung olahraga, di tengah suara kipas angin dan percakapan pelan yang penuh kecemasan. Lansia terbaring dalam selimut, bayi-bayi diayun dalam buaian darurat, sementara anak-anak berusaha bermain dalam keterbatasan ruang. Bahkan kucing-kucing peliharaan ikut dievakuasi, diletakkan dalam kandang di dekat toilet umum.

Menurut Chai Samoraphum, Direktur Kantor Presiden Universitas Surindra Rajabhat, ini merupakan pertama kalinya kampus tersebut diaktifkan sepenuhnya sebagai pusat evakuasi. Perkuliahan dibatalkan, dan dalam waktu satu jam, kampus berubah menjadi tempat perlindungan darurat. Para pengungsi didistribusikan ke enam lokasi berbeda di dalam area kampus.

“Sebagian besar dari mereka pergi dengan tergesa-gesa. Beberapa memiliki kondisi kesehatan kronis tetapi tidak sempat membawa obat-obatan. Ada juga yang hanya membawa satu atau dua tas kecil,” kata Chai. Ia menambahkan, layanan kesehatan dan dukungan psikologis telah disediakan dengan bantuan rumah sakit provinsi.

Meski sudah berada di zona yang lebih aman, para pengungsi tetap diliputi kekhawatiran dan ketidakpastian mengenai kapan mereka bisa kembali ke rumah.

“Kami sekarang jauh dari bahaya, tapi belum tahu sampai kapan di sini,” kata Thidarat.

“Saya ingin pemerintah bertindak tegas. Jangan menunggu hingga ada korban jiwa lebih banyak. Kami sangat bergantung pada negara untuk perlindungan.”

Sementara itu, di pihak Kamboja, sekitar 20.000 penduduk juga telah dievakuasi dari wilayah utara, terutama dari Provinsi Preah Vihear, yang berbatasan langsung dengan Thailand. Informasi ini disampaikan media setempat Khmer Times, mengutip pejabat lokal. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Negara-Negara Eropa Terbelah Soal Pengakuan Negara Palestina

PALESTINA (jurnalislam.com)- Sejumlah negara Eropa masih terpecah terkait pengakuan terhadap negara Palestina, di tengah krisis kemanusiaan yang terus memburuk di Jalur Gaza.

Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, menolak seruan untuk segera mengakui negara Palestina, meskipun sekitar 221 anggota parlemen telah menandatangani surat yang mendesak pemerintah untuk menyatakan pengakuan tersebut dalam pertemuan Majelis Umum PBB pekan depan.

Meski demikian, Starmer menyatakan dirinya tetap berkomitmen pada solusi dua negara. Ia menekankan bahwa pengakuan Palestina harus menjadi bagian dari “rencana yang lebih luas” yang menjamin solusi damai serta keamanan jangka panjang bagi Israel dan Palestina.

Sikap serupa disampaikan Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni. Dalam wawancaranya dengan harian La Repubblica pada Sabtu (26/7), Meloni menyatakan bahwa pengakuan prematur terhadap negara Palestina justru bisa menjadi kontraproduktif.

“Saya sangat mendukung negara Palestina, tetapi saya tidak mendukung pengakuan sebelum negara itu benar-benar terbentuk,” ujar Meloni.

“Mengakui sesuatu yang belum ada hanya akan menciptakan kesan bahwa masalah telah selesai, padahal kenyataannya belum.”

Sementara itu, pemerintah Jerman menyatakan belum memiliki rencana untuk mengakui negara Palestina dalam waktu dekat. Juru bicara pemerintah pada Jumat (25/7) menyebut bahwa prioritas Berlin saat ini adalah mendorong kemajuan menuju solusi dua negara yang telah lama dinantikan.

Berbeda dengan Inggris, Italia, dan Jerman, Prancis justru menyatakan dukungannya terhadap pengakuan Palestina. Presiden Emmanuel Macron mengumumkan niatnya untuk menyampaikan pengakuan resmi terhadap negara Palestina dalam sidang Majelis Umum PBB pada September mendatang.

Langkah Macron itu menuai kritik dari Israel dan Amerika Serikat. Namun, dalam surat yang dikirim kepada Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, Macron menegaskan komitmen Prancis untuk terus melangkah maju dalam pengakuan Palestina serta mendorong negara lain agar mengikuti jejak tersebut.

Menurut basis data Agence France-Presse (AFP), hingga kini sedikitnya 142 dari 193 negara anggota PBB termasuk Prancis telah mengakui negara Palestina yang diproklamasikan oleh para pemimpin Palestina di pengasingan pada tahun 1988. (Bahry)

Sumber: The Guardian

PBB: Pengiriman Bantuan Lewat Udara ke Gaza Tidak Efisien dan Tak Menyelesaikan Masalah

PALESTINA (jurnalislam.com)- Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, mengkritik keras pengiriman bantuan kemanusiaan lewat udara ke Gaza. Ia menilai metode tersebut tidak efektif dan hanya menjadi pengalih perhatian dari upaya menyelesaikan akar penyebab krisis.

“Pengiriman bantuan lewat udara tidak akan menghentikan kelaparan yang semakin memburuk,” kata Lazzarini dalam pernyataannya.

“Metode ini mahal, tidak efisien, dan bahkan berisiko membahayakan warga sipil yang kelaparan. Ini hanyalah pengalih perhatian dan bentuk penipuan,” tambahnya.

Menurut Lazzarini, kelaparan yang terjadi merupakan hasil dari tindakan manusia dan hanya bisa diatasi dengan kemauan politik. Ia mendesak agar blokade di Gaza dihentikan, akses kemanusiaan dibuka, dan pergerakan orang serta barang dilakukan dengan aman dan bermartabat.

“Memberikan bantuan secara langsung jauh lebih mudah, efektif, cepat, murah, dan aman. Ini juga lebih manusiawi bagi rakyat Gaza,” tegasnya.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya keterlibatan Inggris dalam upaya internasional mengirimkan bantuan melalui udara ke Gaza. Pada Jumat (25/7), Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer mengumumkan bahwa pemerintahnya bekerja sama dengan Yordania dalam rencana pengiriman bantuan udara.

Lebih dari sepertiga anggota parlemen Inggris sebelumnya telah menandatangani surat yang mendesak pemerintah untuk segera mengakui negara Palestina.

BBC melaporkan, Inggris juga telah mengirimkan tim kecil yang terdiri atas perencana militer dan ahli logistik guna mendukung operasi pengiriman bantuan bersama Yordania. (Bahry)

Sumber: The Guardian

232 Jurnalis Gugur di Gaza, Israel Bikin Jurnalis Kelaparan dan Bungkam

GAZA (jurnalislam.com)– Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) menyatakan keprihatinan mendalam terhadap kondisi jurnalis di Gaza yang kini menghadapi kelaparan parah di tengah pengepungan Israel yang terus berlangsung. Pernyataan tersebut disampaikan CPJ pada Rabu (23/7), bersamaan dengan lebih dari 100 lembaga kemanusiaan yang menyerukan diakhirinya blokade Israel yang menyebabkan jutaan warga Gaza terancam kelaparan.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 100 orang, mayoritas anak-anak, telah meninggal dunia akibat kelaparan. Israel diketahui menghentikan seluruh aliran bantuan ke Gaza sejak Maret lalu.

Meski sempat sedikit melonggarkan blokade pada akhir Mei melalui program distribusi makanan yang dikelola Gaza Humanitarian Foundation (GHF) – yang didukung AS dan Israel – skema tersebut justru menuai kritik tajam dari PBB dan organisasi kemanusiaan internasional. Mereka menyebutnya sebagai “jebakan maut” akibat kekacauan dan kekerasan yang terjadi di lokasi distribusi.

Dilaporkan lebih dari 1.000 warga Palestina tewas saat mencoba mendapatkan bantuan dari titik distribusi GHF karena ditembaki oleh tentara Israel.

𝗝𝘂𝗿𝗻𝗮𝗹𝗶𝘀 𝗞𝗲𝗹𝗮𝗽𝗮𝗿𝗮𝗻, 𝗧𝗮𝗸 𝗟𝗮𝗴𝗶 𝗠𝗮𝗺𝗽𝘂 𝗠𝗲𝗹𝗶𝗽𝘂𝘁

Direktur Regional CPJ, Sara Qudah, menyatakan bahwa jurnalis di Gaza kini tak hanya terancam keselamatannya, tetapi juga menderita kelaparan parah.

“Israel membuat jurnalis Gaza kelaparan hingga bungkam. Mereka bukan sekadar reporter, mereka adalah saksi garis depan, yang kini terlantar karena media internasional ditarik keluar dan ditolak masuk,” ujar Qudah.

“Dunia harus bertindak sekarang: lindungi mereka, beri mereka makan, dan biarkan mereka pulih. Keberanian mereka dalam meliput perang selama lebih dari 650 hari tidak boleh dibalas dengan kelaparan,” tegasnya.

Lembaga-lembaga berita internasional seperti AFP, AP, BBC News, dan Reuters juga menyampaikan keprihatinan mereka dalam pernyataan bersama, menyebut jurnalis mereka di Gaza kini kesulitan memenuhi kebutuhan dasar hidup.

“Selama berbulan-bulan, para jurnalis independen ini telah menjadi mata dan telinga dunia di Gaza. Kini mereka menghadapi ancaman kelaparan,” tulis mereka. Mereka juga mendesak otoritas Israel untuk mengizinkan jurnalis masuk dan keluar dari Gaza serta memastikan akses pangan yang memadai.

𝗔𝗻𝗰𝗮𝗺𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝗝𝘂𝗿𝗻𝗮𝗹𝗶𝘀 𝗔𝗹 𝗝𝗮𝘇𝗲𝗲𝗿𝗮

Sementara itu, reporter Palestina Anas al-Sharif, yang bekerja untuk Al Jazeera, mengaku menjadi target kampanye hasutan oleh militer Israel. Dalam pernyataan di platform X, juru bicara militer Israel untuk dunia Arab, Avichay Adraee, menuduh Al-Sharif sebagai bagian dari “mesin militer Hamas” dan menuding Al Jazeera sebagai saluran media yang memutarbalikkan fakta.

Menanggapi tudingan itu, Al-Sharif menulis:
“Saya, Anas Al-Sharif, adalah seorang jurnalis tanpa afiliasi politik. Satu-satunya misi saya adalah melaporkan kebenaran dari lapangan apa adanya, tanpa bias.”

Ia juga meminta organisasi hak asasi manusia dan kebebasan pers untuk memberi perlindungan atas ancaman yang diterimanya.

𝗝𝘂𝗿𝗻𝗮𝗹𝗶𝘀 𝗛𝗮𝗺𝗶𝗹 𝗧𝗲𝘄𝗮𝘀 𝗕𝗲𝗿𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗞𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗴𝗮𝗻𝘆𝗮

Di hari yang sama, jurnalis Palestina Walaa al-Jaabari tewas dalam serangan udara Israel yang menghantam rumahnya di Kota Gaza. Al-Jaabari, yang tengah hamil, meninggal dunia bersama suami dan empat anaknya dalam serangan tersebut.

Ia dikenal sebagai jurnalis lepas yang pernah bekerja dengan sejumlah media lokal. Dalam unggahan terakhirnya di media sosial, ia menulis:
“Saya tidak takut mati kelaparan… Saya khawatir akan patah hati jika perang gila ini tidak berakhir!”

Kantor Media Pemerintah di Gaza menyatakan bahwa jumlah jurnalis yang tewas sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 232 orang. Kantor tersebut mengecam pembunuhan terhadap Al-Jaabari, menyebutnya sebagai bagian dari upaya sistematis Israel untuk membungkam suara dan menghalangi pelaporan kejahatan perang yang sedang berlangsung. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

AS dan Israel Tarik Negosiator dari Perundingan Gencatan Senjata Gaza, Hamas Nyatakan Kecewa

QATAR (jurnalislam.com)– Amerika Serikat bergabung dengan Israel pada Kamis (24/7/2025) dalam menarik tim negosiasinya dari perundingan gencatan senjata Gaza yang tengah berlangsung di Doha, Qatar. Langkah ini diambil setelah Washington menuduh Hamas tidak menunjukkan itikad baik dalam mencapai kesepakatan.

Utusan khusus AS, Steve Witkoff, menyalahkan Hamas atas kegagalan perundingan dan menyatakan bahwa pemerintah AS akan “mempertimbangkan opsi alternatif” guna membebaskan sandera serta menciptakan stabilitas di Gaza.

“Tanggapan Hamas jelas menunjukkan kurangnya keinginan untuk mencapai gencatan senjata di Gaza,” tulis Witkoff dalam pernyataan resminya melalui media sosial. Ia menambahkan, AS akan segera memulangkan tim negosiatornya dari Qatar.

Namun, Hamas membantah tudingan tersebut. Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Jumat (25/7), Gerakan Perlawanan Islam itu mengaku “bingung” dengan komentar negatif dari utusan AS. Hamas menegaskan telah menunjukkan fleksibilitas tinggi dan keterlibatan yang konstruktif dalam seluruh proses negosiasi.

“Kami sangat ingin mencapai kesepakatan yang menghentikan agresi dan mengakhiri penderitaan rakyat kami di Jalur Gaza,” tulis Hamas dalam pernyataan yang disebarkan melalui Telegram.

Menurut Hamas, para mediator justru menyambut baik sikap mereka yang dinilai positif dan konstruktif.

“Kami terkejut dengan pernyataan negatif utusan AS, terutama setelah para mediator menyatakan kepuasannya atas sikap kami,” lanjut pernyataan tersebut.

Sumber Palestina yang mengetahui jalannya negosiasi menyebutkan bahwa Hamas telah menyampaikan sejumlah usulan amandemen dalam tanggapannya. Usulan tersebut mencakup penyesuaian terkait masuknya bantuan kemanusiaan, penarikan pasukan Israel dari wilayah tertentu, serta jaminan untuk mengakhiri perang secara permanen.

Di sisi lain, Israel menolak sejumlah jaminan tersebut. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa pihaknya masih membuka peluang tercapainya kesepakatan, namun menuduh Hamas sebagai penghalang utama.

“Kami sedang berupaya mencapai kesepakatan lain untuk pembebasan sandera kami,” ujar Netanyahu.

“Namun jika Hamas menafsirkan kesediaan kami sebagai kelemahan dan kesempatan untuk mendikte persyaratan penyerahan yang membahayakan Israel, maka mereka sangat keliru.” sambungnya.

Israel sendiri diketahui telah menarik para negosiatornya dari Doha setelah Hamas menyerahkan tanggapan atas proposal gencatan senjata terbaru. Kantor Netanyahu menyebut bahwa penarikan dilakukan untuk melakukan konsultasi lanjutan di dalam negeri.

Selama lebih dari dua pekan terakhir, mediator dari Qatar terus berpindah-pindah antara delegasi Israel dan Hamas dalam upaya mencapai titik temu atas gencatan senjata serta pembebasan para sandera yang ditahan sejak pecahnya konflik hampir dua tahun lalu.

Tekanan internasional terhadap Israel dan komunitas global terus meningkat, seiring memburuknya kondisi kemanusiaan di Gaza. Laporan terbaru menyebutkan bahwa lebih dari dua juta warga Palestina kini menghadapi ancaman kelaparan massal, di tengah krisis kesehatan dan kerusakan infrastruktur yang luas akibat agresi militer.

Sejak dimulainya agresi pada Oktober 2023, sedikitnya 59.587 warga Palestina telah terbunuh, mayoritas di antaranya adalah warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Banyak pengamat internasional menyebut serangan Israel sebagai bentuk genosida terhadap rakyat Palestina. (Bahry)

Sumber: TNA

Memanas, Konflik Perbatasan Thailand-Kamboja Tewaskan 12 Orang dan Picu Evakuasi Massal

THAILAND (jurnalislam.com)– Ketegangan di perbatasan Thailand dan Kamboja kembali memuncak setelah jet tempur F-16 milik Angkatan Udara Thailand dilaporkan membombardir sejumlah target di wilayah Kamboja. Insiden ini memicu rangkaian bentrokan senjata, pengeboman, dan penembakan yang menyebabkan sedikitnya 12 orang tewas dan puluhan lainnya terluka.

Bentrokan terbaru pecah pada Kamis pagi (24/7) di dekat Kuil Ta Moan Thom, wilayah yang telah lama menjadi sengketa antara kedua negara. Kuil ini terletak di kawasan perbatasan provinsi Oddar Meanchey, Kamboja barat laut. Thailand dan Kamboja saling menuding sebagai pihak pemicu pertempuran.

“Pertempuran telah meluas ke setidaknya enam wilayah di sepanjang garis perbatasan,” kata Laksamana Muda Surasant Kongsiri, pejabat militer Thailand. Pemerintah Thailand pun segera menutup seluruh jalur perbatasan resmi dengan Kamboja sebagai langkah antisipatif.

Dalam konferensi pers, Perdana Menteri sementara Thailand, Phumtham Wechayachai, menegaskan bahwa pertempuran harus dihentikan terlebih dahulu sebelum proses negosiasi dimulai. Ia menegaskan belum ada deklarasi perang dan konflik belum meluas ke provinsi lain.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Thailand, Somsak Thepsuthin, mengonfirmasi bahwa 11 warga sipil, termasuk seorang anak laki-laki berusia delapan tahun, serta satu personel militer tewas akibat serangan artileri dari pasukan Kamboja. Sebanyak 24 warga sipil dan tujuh tentara Thailand juga dilaporkan mengalami luka-luka.

“Tindakan Kamboja, termasuk serangan terhadap sebuah rumah sakit, harus dikategorikan sebagai kejahatan perang,” tegas Somsak.

Dalam pernyataan resmi militer Thailand, korban jiwa dilaporkan tersebar di beberapa lokasi, antara lain:

– Enam warga sipil tewas dan dua lainnya terluka akibat serangan di dekat pom bensin di Ban Phue, Distrik Kantharalak, Provinsi Sisaket, sekitar 20 km dari perbatasan.

– Dua warga sipil, termasuk seorang anak, tewas dalam serangan di Ban Chorok, Distrik Kabcheing, Provinsi Surin, serta dua lainnya luka-luka.

– Satu orang tewas dan satu lainnya terluka di Distrik Nam Yuen, Provinsi Ubon Ratchathani.

Imbas dari eskalasi konflik ini, sedikitnya 40.000 warga sipil dari 86 desa di wilayah perbatasan telah dievakuasi ke lokasi yang lebih aman. Penduduk berlindung di tempat perlindungan bom darurat yang dibangun dari beton, karung pasir, dan ban bekas, menurut seorang pejabat lokal di Provinsi Surin kepada Reuters.

Hingga saat ini, pihak Kamboja belum merilis data resmi terkait korban di pihak mereka.

Menanggapi situasi yang memburuk, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menggelar pertemuan darurat. Ia menyebut aksi militer Thailand sebagai ancaman serius bagi perdamaian di kawasan Asia Tenggara.

Konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja telah berlangsung selama bertahun-tahun, namun eskalasi terbaru ini menjadi yang paling berdarah dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah negara di kawasan menyerukan segera dilakukan mediasi demi mencegah konflik berskala luas. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Gaza Dilanda Kelaparan, Jumlah Korban Tewas Naik Jadi 111 Orang

GAZA (jurnalislam.com)- Sedikitnya 10 warga Palestina dilaporkan meninggal akibat kelaparan di Jalur Gaza yang terkepung, menurut keterangan pejabat kesehatan setempat. Gelombang kelaparan yang kian meluas menambah jumlah korban jiwa akibat malnutrisi sejak pecahnya perang pada Oktober 2023 menjadi 111 orang kebanyakan dalam beberapa pekan terakhir.

Selain korban kelaparan, setidaknya 100 warga Palestina lainnya, termasuk 34 orang yang sedang mencari bantuan, tewas akibat serangan militer Israel dalam 24 jam terakhir, demikian disampaikan Kementerian Kesehatan Gaza pada Rabu (23/7/2025).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa 21 anak di bawah usia lima tahun turut menjadi korban tewas akibat malnutrisi sepanjang tahun ini. WHO juga mengungkapkan bahwa pihaknya tidak dapat mengirimkan makanan ke Gaza selama hampir 80 hari, dari Maret hingga Mei, dan distribusi yang dimulai kembali pun masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan warga.

Dalam pernyataan bersama, sebanyak 111 organisasi, termasuk Mercy Corps, Dewan Pengungsi Norwegia, dan Refugees International, menyatakan bahwa “kelaparan massal” kini menyebar di Gaza, bahkan ketika ribuan ton makanan, air bersih, dan pasokan medis tertahan di luar wilayah tersebut. Upaya kelompok-kelompok bantuan untuk menyalurkan bantuan terus dihambat oleh blokade Israel.

Melaporkan dari Deir el-Balah, Gaza tengah, koresponden Al Jazeera Tareq Abu Azzoum menyebutkan bahwa kelaparan kini sama mematikannya dengan bom.

“Keluarga-keluarga tidak lagi meminta makanan yang cukup, mereka hanya berharap mendapatkan apa pun untuk bertahan hidup,” ujarnya.

Warga Gaza menggambarkan situasi ini sebagai “kematian secara perlahan dan menyakitkan”, akibat kelaparan yang mereka sebut sebagai kondisi yang sengaja diciptakan oleh militer Israel.

Israel diketahui menutup seluruh jalur masuk barang ke Gaza pada Maret, dan baru mulai membuka akses terbatas pada Mei. Bantuan yang masuk pun sebagian besar disalurkan melalui Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), sebuah organisasi kontroversial yang didukung oleh Amerika Serikat. Namun, skema ini menuai kritik keras dari PBB dan lembaga kemanusiaan karena dianggap tidak netral dan membahayakan warga sipil.

PBB dan lembaga bantuan kemanusiaan menuduh Israel menghambat pengiriman bantuan serta menembaki warga sipil yang mendatangi titik distribusi. Sejak Mei, ratusan warga Palestina dilaporkan tewas saat mencoba mengakses bantuan makanan.

Ross Smith, Direktur Kedaruratan Program Pangan Dunia (WFP), menekankan pentingnya kondisi minimum agar distribusi bantuan dapat dilakukan secara aman.

“Kami tidak bisa bekerja jika ada aktor bersenjata di sekitar titik distribusi dan konvoi kami,” ujarnya.

Perwakilan WHO untuk wilayah Palestina yang diduduki, Rik Peeperkorn, mengatakan bahwa serangan terhadap para pencari bantuan telah menyebabkan rumah sakit yang tersisa di Gaza berubah menjadi “bangsal trauma berskala besar”.

“Kekurangan pangan begitu parah hingga orang-orang tidak dapat lagi menjalankan profesinya, baik jurnalis, guru, maupun staf kemanusiaan kami sendiri,” tambahnya.

Nour Sharaf, seorang dokter asal Amerika yang bertugas di Rumah Sakit al-Shifa, Kota Gaza, mengungkapkan bahwa banyak orang “tidak makan selama berhari-hari dan akhirnya meninggal karena kelaparan.” Ia menambahkan bahwa tenaga medis pun kerap bekerja dalam kondisi lapar, namun tetap menjalankan tugas mereka secara maksimal. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera