Tekanan Global Meningkat, Israel Buka Akses Bantuan dengan Jeda Militer Terbatas

GAZA (jurnalislam.com)– Israel mengumumkan penghentian sementara operasi militer selama 10 jam per hari di sejumlah wilayah Jalur Gaza, mulai Ahad (27/7/2025), serta membuka koridor bantuan baru. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya tekanan internasional atas krisis kemanusiaan yang memburuk di wilayah tersebut.

Sementara itu, Yordania dan Uni Emirat Arab (UEA) mengirimkan 25 ton bantuan kemanusiaan melalui udara ke Gaza pada hari yang sama. Bantuan dijatuhkan menggunakan parasut dalam pengiriman pertama setelah beberapa bulan. Seorang pejabat resmi Yordania menyatakan bahwa pengiriman udara ini bukan pengganti bantuan melalui jalur darat.

Aksi tersebut dilakukan saat gambar-gambar warga Palestina yang kelaparan menyebar ke seluruh dunia, menggambarkan kondisi mengerikan akibat blokade dan terbatasnya akses bantuan.

𝗝𝗲𝗱𝗮 𝗧𝗲𝗿𝗯𝗮𝘁𝗮𝘀

Militer Israel menyatakan bahwa aktivitas militer akan dihentikan mulai pukul 10.00 hingga 20.00 waktu setempat (07.00–17.00 GMT) setiap hari hingga pemberitahuan lebih lanjut. Jeda ini berlaku di al-Mawasi, wilayah kemanusiaan khusus di sepanjang pesisir Gaza, pusat Deir al-Balah, dan Kota Gaza di bagian utara.

Selain itu, rute aman untuk konvoi bantuan makanan dan obat-obatan akan dibuka mulai pukul 06.00 hingga 23.00.

Namun, laporan dari pejabat kesehatan Palestina menyebutkan bahwa sedikitnya 10 warga sipil terluka akibat kotak bantuan yang jatuh saat pengiriman melalui udara.

𝗞𝗼𝗿𝗯𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗕𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗯𝗮𝗵

Pejabat medis di Rumah Sakit Al-Awda dan Al-Aqsa di Gaza tengah melaporkan bahwa serangan Israel menewaskan sedikitnya 17 orang dan melukai lebih dari 50 lainnya yang tengah menunggu truk bantuan pada Ahad. Militer Israel belum memberikan tanggapan terkait insiden tersebut.

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa puluhan warga telah meninggal akibat kekurangan gizi dalam beberapa pekan terakhir. Dalam 24 jam terakhir, dilaporkan enam kematian baru, menjadikan total korban akibat kelaparan dan kekurangan gizi menjadi 133 jiwa, termasuk 87 anak-anak.

Salah satu korban adalah bayi berusia lima bulan, Zainab Abu Haleeb, yang meninggal akibat kekurangan gizi di Rumah Sakit Al-Nasser, Khan Younis. “Tiga bulan saya merawatnya di rumah sakit, dan kini saya harus menerima bahwa dia telah meninggal,” ujar sang ibu, Israa Abu Haleeb, sambil menggendong jenazah putrinya yang dibalut kain kafan putih.

𝗥𝗲𝘀𝗽𝗼𝗻𝘀 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗻𝘁𝘂𝗮𝗻 𝗧𝗮𝗺𝗯𝗮𝗵𝗮𝗻

Bulan Sabit Merah Mesir mengumumkan telah mengirimkan lebih dari 100 truk yang membawa 1.200 metrik ton makanan ke Gaza selatan pada Ahad. Namun, sumber resmi Palestina menyatakan truk-truk tersebut masih diperiksa di Kerem Shalom dan belum memasuki Gaza.

Kepala Bantuan PBB, Tom Fletcher, mengatakan staf PBB akan meningkatkan upaya penyaluran bantuan selama jeda militer.

“Tim kami di lapangan akan melakukan semua yang kami bisa untuk menjangkau sebanyak mungkin orang yang kelaparan dalam rentang waktu ini,” tulisnya di platform X.

Kelompok-kelompok bantuan sebelumnya memperingatkan bahwa 2,2 juta penduduk Gaza terancam kelaparan massal. Meningkatnya keprihatinan global turut mendorong Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan dukungan untuk pengakuan negara Palestina pada September mendatang.

Pekan lalu, 25 negara termasuk Inggris, Prancis, dan Kanada, mengecam keterlambatan distribusi bantuan dan menyebut penolakan Israel atas bantuan kemanusiaan esensial sebagai tindakan yang tidak dapat diterima.

𝗡𝗲𝗴𝗼𝘀𝗶𝗮𝘀𝗶 𝗚𝗮𝗴𝗮𝗹

Israel dan Amerika Serikat pada Jumat lalu menyatakan tidak lagi melanjutkan negosiasi gencatan senjata dengan Hamas, menuduh kelompok tersebut tidak menginginkan kesepakatan.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa negaranya akan tetap mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan dari berbagai jalur. Ia juga menegaskan bahwa perang masih akan berlanjut hingga semua tujuan tercapai.

“Kami akan terus berjuang hingga mencapai kemenangan penuh,” ujarnya.

Namun, Hamas menyebut langkah Israel bukanlah bentuk gencatan senjata kemanusiaan.

“Apa yang terjadi saat ini bukanlah jeda kemanusiaan sejati,” kata pejabat Hamas, Ali Baraka, dalam pernyataan tertulis.

Sementara itu, Menteri Keamanan Nasional Israel dari sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, mengkritik keputusan pemerintah untuk membuka jalur bantuan. Ia menyebutnya sebagai bentuk “penyerahan diri terhadap tipu daya Hamas,” dan kembali menyerukan penghentian total bantuan ke Gaza serta mendorong pengusiran warga Palestina.

Juru bicara Netanyahu belum memberikan tanggapan atas pernyataan Ben-Gvir.

𝗛𝗮𝗿𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸𝗽𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻

Di tengah situasi yang terus memburuk, warga Gaza menyambut dengan senang masuknya bantuan ini,

“Masyarakat senang bahwa bantuan pangan dalam jumlah besar datang ke Gaza,” kata Tamer al-Burai, seorang pemilik bisnis.

“Kami berharap hari ini menandai langkah pertama dalam mengakhiri perang yang telah menghanguskan segalanya ini.” pungkasnya. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Yordania dan UEA Kirim 25 Ton Bantuan Kemanusiaan ke Gaza Melalui Udara

AMMAN (jurnalislam.com)– Dua pesawat militer Yordania dan satu pesawat Uni Emirat Arab (UEA) menjatuhkan 25 ton bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza pada Ahad (27/7/2025), demikian pernyataan militer Yordania.

“Angkatan Bersenjata Yordania pada Ahad telah melakukan tiga kali pengiriman bantuan melalui udara ke Jalur Gaza, membawa bantuan kemanusiaan dan pangan. Salah satu misi dilakukan bekerja sama dengan Uni Emirat Arab,” bunyi pernyataan resmi tersebut.

Sebelumnya, UEA telah mengumumkan pada Sabtu (26/7) bahwa mereka akan segera melanjutkan pengiriman bantuan ke Gaza. Hal ini didorong oleh memburuknya situasi kemanusiaan di wilayah yang masih diblokade tersebut.

“Situasi kemanusiaan di Gaza telah mencapai tingkat kritis dan belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Menteri Luar Negeri UEA, Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan, dalam sebuah unggahan di platform X (sebelumnya Twitter).

“Kami akan memastikan bantuan penting menjangkau mereka yang paling membutuhkan, baik melalui jalur darat, udara, maupun laut. Pengiriman bantuan udara akan segera kembali dilakukan,” tambahnya.

Langkah ini diambil di tengah peringatan dari berbagai lembaga kemanusiaan mengenai potensi terjadinya kelaparan massal di Gaza.

Israel pada Sabtu juga mengumumkan bahwa pihaknya telah memulai pengiriman bantuan udara ke Gaza serta mengambil sejumlah langkah tambahan untuk meredakan krisis kemanusiaan yang terjadi di wilayah tersebut. (Bahry)

Sumber: Alarabiya

Solo Bangkit untuk Gaza: Ribuan Warga Long March Bela Palestina, Desak Sanksi Global untuk Israel

SOLO (jurnalislam.com)- Ribuan warga Soloraya menggelar aksi bela Palestina bertajuk ‘Open March to Gaza’ di Bundaran Gladag, Solo pada Ahad, (27/7/2025).

Aksi yang diinisiasi oleh Solo Peace Convoy tersebut diawali dengan aksi konvoi dari Goro Assalam, Kartasura, Sukoharjo menuju Bundaran Gladag, Solo.

Sejumlah tokoh umat Islam nampak hadir dalam aksi kali ini, diantaranya Ustadz Bachtiar Nasir (UBN), KH Muhammad Halim, Rois DSKS Ustadz Abdul Rochim Ba’asyir, Ustadz Muzzayin Marzuki, Ustadz Syihabudin dan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Rois Tanfidzi DSKS ustadz Abdul Rochim Ba’asyir mengutuk keras tindakan genosida dan kebiadaban Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza yang secara nyata melanggar prinsip kemanusiaan, hukum internasional, dan nilai-nilai keadilan.

“Mengecam keras diamnya dunia internasional, khususnya negara-negara besar, yang justru membiarkan kekejaman ini terus berlangsung tanpa sanksi tegas terhadap penjajah Zionis Israel,” tegasnya.

Selain itu, Ustadz Abdul Rochim juga mendorong dan menyerukan kepada seluruh umat Islam, khususnya di Indonesia,
untuk menyisihkan harta terbaiknya untuk membantu rakyat Gaza.

“Baik melalui lembaga-lembaga kemanusiaan terpercaya. Memanjatkan doa-doa terbaik untuk keselamatan dan kemenangan rakyat
Palestina atas kedzaliman yang mereka hadapi,” ungkapnya.

“Meningkatkan kesadaran dan kepedulian sosial terhadap perjuangan bangsa
Palestina melalui pendidikan, pengajian, media sosial, dan aksi-aksi damai,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Ustadz Abdul Rochim mendesak Pemerintah Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar dan
konstitusinya menjunjung tinggi kemerdekaan setiap bangsa, untuk Mengambil sikap tegas dan nyata dalam forum-forum internasional.

“Untuk menghentikan agresi Israel dan menyerukan sanksi global terhadap kejahatan perang yang dilakukan. Mengeluarkan pernyataan resmi pemerintah yang mengutuk tindakan genosida ini dan memperkuat diplomasi kemanusiaan untuk Palestina,” paparnya.

“Mengajak seluruh elemen bangsa, dari ormas Islam, tokoh masyarakat, akademisi,
media, hingga generasi muda, untuk bersatu dalam kepedulian terhadap Gaza dan
terus mengawal isu Palestina agar tetap menjadi perhatian utama umat Islam dan
bangsa Indonesia,” pungkasnya.

Reporter: Ridho Asfari

Hamas Kecam Pembajakan Kapal Handala: Tindakan Terorisme dan Kejahatan terhadap Kemanusiaan

GAZA (jurnalislam.com)– Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) mengecam keras tindakan militer Israel yang menyerbu dan membajak kapal Handala di perairan internasional pada Sabtu (26/7/2025). Kapal tersebut merupakan bagian dari misi kemanusiaan Freedom Flotilla yang membawa bantuan untuk warga Gaza.

Dalam siaran pers resmi yang dirilis pada Ahad (27/7), Hamas menyebut tindakan tersebut sebagai “kejahatan terorisme dan pembajakan” yang merupakan bentuk nyata dari pelanggaran hukum internasional dan kehendak kemanusiaan global.

“Tentara pendudukan Zionis yang kriminal melakukan kejahatan pembajakan baru di perairan internasional dengan mencegat kapal kemanusiaan Handala dan mencegahnya mencapai Jalur Gaza yang terkepung, yang sedang menjadi sasaran perang genosida dan kelaparan sistematis,” bunyi pernyataan tersebut.

Hamas menyampaikan apresiasi atas keberanian para aktivis internasional yang tergabung dalam Freedom Flotilla dan menyatakan bahwa pesan solidaritas mereka telah sampai kepada rakyat Gaza dan dunia internasional.

“Kami sangat menghargai keberanian para aktivis solidaritas internasional dan tekad mereka untuk berlayar ke Jalur Gaza, terlepas dari teror dan ancaman dari entitas pendudukan,” tulis Hamas.

Lebih lanjut, Hamas menilai bahwa tindakan represif Israel terhadap upaya rakyat sipil internasional menunjukkan kegagalan moral dan semakin membuka kedok dukungan sebagian pihak internasional terhadap pengepungan yang tidak adil di Gaza.

Gerakan tersebut juga menuntut agar pemerintahan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bertanggung jawab penuh atas keselamatan seluruh aktivis kemanusiaan yang berada di atas kapal Handala.

“Kami menyerukan kepada semua orang yang bebas untuk terus berlayar dengan kapal dan konvoi hingga blokade yang tidak adil ini dipatahkan dan kebijakan kelaparan serta perampasan air terhadap anak-anak dan warga sipil yang tak berdaya dihentikan,” tegas Hamas.

Hamas juga menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi internasional lainnya untuk menjalankan tanggung jawab hukum dan moral mereka dalam mengutuk insiden ini serta menekan Israel agar menghentikan perang genosida dan blokade terhadap Gaza.

Insiden pembajakan kapal Handala terjadi ketika kapal tersebut berada sekitar 100 kilometer di sebelah barat Gaza. Kapal membawa 19 aktivis internasional, termasuk dua anggota parlemen Prancis dan dua jurnalis dari Al Jazeera. Hingga saat ini, seluruh penumpang dilaporkan selamat dan kapal telah diarahkan ke pelabuhan di wilayah Israel. (Bahry)

Kapal Handala Dihadang Pasukan Israel di Perairan Internasional saat Bawa Bantuan ke Gaza

YERUSALEM (jurnalislam.com)– Pasukan Israel menyerbu kapal milik kelompok aktivis pro-Palestina, Freedom Flotilla, yang sedang berlayar menuju Gaza pada Sabtu (26/7/2025). Insiden tersebut terjadi di perairan internasional dan disiarkan langsung oleh para aktivis melalui media daring.

Dalam siaran langsung tersebut, para aktivis terlihat duduk di dek kapal sambil mengangkat tangan dan menyanyikan lagu anti-fasis Italia, Bella Ciao, saat tentara Israel mengambil alih kendali kapal. Beberapa menit kemudian, siaran daring tersebut terputus.

Kapal Handala diketahui sedang dalam perjalanan untuk menembus blokade laut Israel dan membawa bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. Koalisi Freedom Flotilla menyatakan melalui media sosial bahwa kapal mereka telah dicegat secara ilegal oleh pasukan Israel saat berada di perairan internasional.

“Handala telah dicegat dan dinaiki secara ilegal oleh pasukan Israel saat berada di perairan internasional,” tulis mereka di platform X.

Israel, yang sebelumnya telah menyatakan komitmennya untuk menegakkan blokade laut terhadap Gaza, menyebut bahwa upaya menerobos blokade merupakan tindakan berbahaya dan melanggar hukum.

“Angkatan Laut Israel telah menghentikan kapal Navarn memasuki zona maritim Gaza secara ilegal,” tulis Kementerian Luar Negeri Israel di X.

Pihak Israel menegaskan bahwa seluruh penumpang dalam kondisi selamat dan kapal sedang diarahkan ke pantai Israel.

Berdasarkan pelacakan daring, kapal Handala dicegat saat berada sekitar 50 kilometer dari pantai Mesir dan 100 kilometer sebelah barat Gaza. Kapal tersebut membawa 19 aktivis, termasuk sejumlah politisi Eropa, serta dua jurnalis dari Al Jazeera yang sempat menyiarkan situasi hingga sesaat sebelum kapal dicegat.

Dua anggota parlemen Prancis, Emma Fourreau dan Gabrielle Cathala, termasuk di antara para aktivis yang ditahan. Pemimpin partai mereka, Jean-Luc Mélenchon dari France Unbowed (LFI), mengecam keras tindakan tersebut.

“Preman Netanyahu menaiki Handala. Mereka menyerang 21 orang tak bersenjata di perairan internasional. Ini adalah tindakan penculikan terhadap dua anggota parlemen Prancis,” tulis Mélenchon melalui akun X, sembari mendesak pemerintah Prancis untuk mengambil tindakan.

Kondisi kemanusiaan di Gaza terus memburuk. PBB dan sejumlah organisasi kemanusiaan memperingatkan adanya ancaman kelaparan, sementara otoritas kesehatan setempat melaporkan warga sipil mulai meninggal dunia akibat kekurangan pangan.

Sebelum keberangkatan, awak kapal Handala telah menyatakan akan melakukan mogok makan jika kapal dicegat dan mereka ditahan oleh militer Israel.

Sebelumnya, pada 9 Juni lalu, kapal Madleen milik Freedom Flotilla juga dicegat oleh Israel di perairan internasional. Kapal itu membawa 12 aktivis, termasuk aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg. Seluruh penumpang kemudian dideportasi setelah kapal ditarik ke pelabuhan Ashdod. (Bahry)

Sumber: TNA

Korban Militer Bertambah, Israel Umumkan Tentara ke-16 Tewas di Bulan Juli

GAZA (jurnalislam.com)– Seorang prajurit cadangan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang mengalami luka parah dalam serangan bom pinggir jalan di Jalur Gaza selatan, dilaporkan meninggal dunia pada Sabtu (26/7/2025). Dengan demikian, jumlah tentara Israel yang tewas di Gaza sepanjang Juli 2025 bertambah menjadi 16 orang.

Korban terbaru adalah Sersan Mayor (Purn.) Betzalel Yehoshua Mosbacher (32), anggota Batalyon Zeni Tempur ke-749. Ia tumbuh besar di Avnei Eitan, Dataran Tinggi Golan, dan tinggal di Or Yehuda. Mosbacher terluka dalam serangan bom yang menghantam Humvee yang ia kendarai bersama seorang prajurit zeni tempur lainnya di Khan Younis pada 19 Juli lalu.

Keduanya sempat dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Namun, nyawa Mosbacher tak tertolong. Media berbahasa Ibrani melaporkan bahwa Mosbacher bekerja di Otoritas Listrik Israel dan meninggalkan seorang istri, seorang putri berusia dua tahun, orang tua, dan saudara kandung.

Pertempuran di Jalur Gaza masih terus berlangsung. Sementara itu, upaya perundingan gencatan senjata dan pembebasan sandera dilaporkan menemui jalan buntu.

Sejak awal bulan Juli 2025, total 16 tentara Israel tewas di Gaza. Adapun sejak dimulainya invasi darat ke wilayah tersebut dan operasi militer di sepanjang perbatasan Gaza, jumlah korban dari pihak Israel mencapai 457 orang, termasuk dua petugas kepolisian dan tiga kontraktor sipil dari Kementerian Pertahanan.

Secara keseluruhan, jumlah korban tewas dari pihak militer Israel sejak pecahnya perang pada 7 Oktober 2023 tercatat mencapai 896 orang, termasuk korban dalam pertempuran melawan pejuang Hamas dan serangan mendadak di wilayah Israel selatan. (Bahry)

Sumber: TOI

Korban Tewas Konflik Thailand–Kamboja Capai 32 Orang, Kekhawatiran Perang Berkepanjangan Meningkat

BANGKOK (jurnalislam.com)– Jumlah korban tewas akibat konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja terus meningkat. Hingga Sabtu (26/7/2025), total korban jiwa dari kedua belah pihak mencapai 32 orang, memicu kekhawatiran akan terjadinya konflik berkepanjangan di kawasan Asia Tenggara.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja, Maly Socheata, melaporkan bahwa 12 warga Kamboja telah tewas — terdiri dari tujuh warga sipil dan lima tentara. Sebelumnya, satu pria Kamboja dilaporkan meninggal dunia setelah roket Thailand menghantam sebuah pagoda Buddha di mana ia berlindung pada Kamis (24/7). Setidaknya 50 warga sipil dan lebih dari 20 tentara Kamboja dilaporkan mengalami luka-luka.

Sementara itu, pihak Thailand melaporkan 13 warga sipil, termasuk anak-anak, serta enam tentara tewas dalam dua hari pertempuran. Selain itu, 30 warga sipil dan 29 tentara mengalami luka-luka akibat serangan pasukan Kamboja.

Pihak berwenang di Provinsi Preah Vihear, Kamboja, kepada surat kabar Khmer Times, menyebutkan bahwa sekitar 20.000 warga telah dievakuasi dari wilayah perbatasan. Di pihak Thailand, lebih dari 138.000 warga telah mengungsi dari empat provinsi perbatasan, dan sekitar 300 pusat evakuasi telah dibuka. Pemerintah Thailand juga telah memberlakukan status darurat militer di delapan distrik di sepanjang garis perbatasan.

Konflik terbaru dipicu oleh ledakan ranjau darat di wilayah perbatasan pada Kamis pagi, yang melukai lima tentara Thailand. Insiden ini memicu aksi saling serang antara kedua negara. Thailand menuduh militer Kamboja melepaskan tembakan pertama dan meluncurkan roket jarak jauh ke sasaran sipil, termasuk sebuah pom bensin yang menewaskan sedikitnya enam orang.

Sebagai balasan, militer Thailand mengerahkan jet tempur F-16 untuk membombardir target di wilayah Kamboja, termasuk serangan yang dilaporkan mengenai kompleks pagoda Buddha.

Kamboja menuduh Thailand menggunakan munisi tandan, senjata yang kontroversial dan telah dikecam luas di dunia internasional karena dampaknya terhadap warga sipil. Kamboja menyebut penggunaan senjata tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.

Di sisi lain, Pelaksana Tugas Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, menuduh Kamboja telah melakukan kejahatan perang, terutama akibat serangan terhadap fasilitas sipil, termasuk sebuah rumah sakit.

Menanggapi situasi yang memanas, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) menggelar pertemuan darurat tertutup pada Jumat malam di New York. Meskipun tidak ada pernyataan resmi yang dikeluarkan pasca-pertemuan, Associated Press melaporkan bahwa seluruh 15 anggota DK menyerukan agar kedua belah pihak segera menghentikan pertempuran, menahan diri, dan menyelesaikan perselisihan melalui jalur damai.

Pertikaian antara Thailand dan Kamboja ini merupakan kelanjutan dari sengketa perbatasan yang telah berlangsung selama puluhan tahun, khususnya di wilayah yang diperebutkan di sekitar Kuil Ta Moan Thom dan kawasan perbatasan lainnya. Situasi saat ini dinilai sebagai yang terburuk dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Seruan mediasi dari komunitas internasional pun terus mengalir, dengan harapan krisis ini tidak berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

TB Hasanuddin: Sengketa Perbatasan Kamboja–Thailand Harus Diselesaikan Lewat Mekanisme Asean , Peran Indonesia Sangat Penting

JAKARTA (jurnalislam.com)- Perang telah pecah antara Thailand dan Kamboja di sepanjang perbatasan sejak hari Kamis. Perang ini merupakan letupan konflik lama soal sengketa wilayah di sekitar kuil suci Preah Vihear.

Menanggapi ketegangan terbaru antara Kamboja dan Thailand yang dipicu oleh persoalan perbatasan, Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin menyerukan penyelesaian damai melalui peran aktif ASEAN sebagai organisasi kawasan.

“Karena penyebabnya soal perbatasan, saya menyarankan sebaiknya kedua kepala negara, Kamboja dan Thailand, segera diundang oleh Ketua ASEAN, yaitu Malaysia. Sekretariat ASEAN perlu difungsikan untuk memediasi dan mendamaikan kedua pihak secara regional,” ujar TB Hasanuddin di Jakarta, Sabtu (26/7/2025).

Ia juga mendorong agar ASEAN mempertimbangkan menggelar pertemuan tingkat tinggi jika situasi tidak segera mereda. “Jika diperlukan, ASEAN harus mengadakan pertemuan khusus di tingkat kepala negara untuk menyelesaikan sengketa ini secara damai dan konstruktif,” tegasnya.

Menurutnya, pendekatan damai melalui ASEAN sangat penting untuk menjaga kohesi internal organisasi tersebut. “Masalah antarnegara ASEAN harus diselesaikan oleh ASEAN sendiri. Ini penting untuk menjaga keutuhan dan kredibilitas ASEAN dalam menghadapi tantangan kawasan,” tambahnya.

Lebih lanjut, TB Hasanuddin menegaskan bahwa Indonesia harus memiliki tanggung jawab moral dan strategis untuk ikut berperan dalam proses perdamaian.

“Sebagai negara besar dan berpengaruh di ASEAN, Indonesia dapat memainkan peran penting dalam menjembatani komunikasi antara Kamboja dan Thailand. Baik melalui diplomasi bilateral maupun dalam kerangka ASEAN,” katanya.

Diketahui, ketegangan memuncak pada Mei lalu setelah seorang tentara Kamboja tewas dalam baku tembak singkat dengan pasukan Thailand di wilayah sengketa yang dikenal sebagai Segitiga Zamrud, lokasi pertemuan perbatasan antara Thailand, Kamboja, dan Laos.

Kedua pihak saling menuduh dan mengklaim bertindak untuk membela diri. Meski pimpinan militer kedua negara sempat menyatakan niat untuk meredakan situasi, langkah-langkah provokatif terus diambil.

Thailand memperketat pengawasan di pos perbatasan, membatasi lalu lintas warga, hingga mengancam memutus aliran listrik dan internet ke kota-kota perbatasan Kamboja. Sebagai balasan, Kamboja menghentikan impor buah dan sayuran dari Thailand serta melarang penayangan film dan drama Thailand.

Konflik Thailand–Kamboja Memaksa Lebih dari 100 Ribu Warga Mengungsi

THAILAND (jurnalislam.com)– Konflik bersenjata yang kembali memanas antara Thailand dan Kamboja telah memicu gelombang pengungsian besar-besaran. Lebih dari 100.000 warga Thailand terpaksa meninggalkan rumah mereka sejak pecahnya pertempuran pada Kamis (24/7/2025), menjadikan ini sebagai pertempuran perbatasan terburuk dalam lebih dari satu dekade antara kedua negara bertetangga tersebut.

Suara dentuman artileri dan tembakan senjata berat menggema di sepanjang perbatasan, mendorong ribuan warga dari empat provinsi di Thailand, termasuk Surin, untuk mencari perlindungan ke pusat-pusat evakuasi darurat.

Salah satu lokasi pengungsian terbesar berada di gedung olahraga Universitas Surindra Rajabhat di pusat Kota Surin. Hampir 3.000 pengungsi, sebagian besar dari distrik-distrik perbatasan, memadati gedung tersebut. Mereka tidur berdesakan di atas tikar plastik, dengan selimut seadanya, dan membawa barang-barang yang berhasil diselamatkan dalam kepanikan.

“Saya khawatir tentang rumah kami, hewan-hewan kami, dan tanaman yang telah kami tanam dengan susah payah,” ungkap Thidarat Homhuan (37 tahun) kepada kantor berita AFP. Ia mengungsi bersama sembilan anggota keluarganya, termasuk nenek berusia 87 tahun yang baru saja keluar dari rumah sakit.

Thidarat berada di sebuah sekolah saat suara tembakan terdengar.

“Saya mendengar suara seperti senapan mesin, lalu dentuman keras artileri. Kekacauan melanda, anak-anak ketakutan. Saya langsung membawa mereka ke bunker sekolah,” ujarnya.

Di tempat penampungan, para pengungsi tidur berdampingan di bawah atap tinggi gedung olahraga, di tengah suara kipas angin dan percakapan pelan yang penuh kecemasan. Lansia terbaring dalam selimut, bayi-bayi diayun dalam buaian darurat, sementara anak-anak berusaha bermain dalam keterbatasan ruang. Bahkan kucing-kucing peliharaan ikut dievakuasi, diletakkan dalam kandang di dekat toilet umum.

Menurut Chai Samoraphum, Direktur Kantor Presiden Universitas Surindra Rajabhat, ini merupakan pertama kalinya kampus tersebut diaktifkan sepenuhnya sebagai pusat evakuasi. Perkuliahan dibatalkan, dan dalam waktu satu jam, kampus berubah menjadi tempat perlindungan darurat. Para pengungsi didistribusikan ke enam lokasi berbeda di dalam area kampus.

“Sebagian besar dari mereka pergi dengan tergesa-gesa. Beberapa memiliki kondisi kesehatan kronis tetapi tidak sempat membawa obat-obatan. Ada juga yang hanya membawa satu atau dua tas kecil,” kata Chai. Ia menambahkan, layanan kesehatan dan dukungan psikologis telah disediakan dengan bantuan rumah sakit provinsi.

Meski sudah berada di zona yang lebih aman, para pengungsi tetap diliputi kekhawatiran dan ketidakpastian mengenai kapan mereka bisa kembali ke rumah.

“Kami sekarang jauh dari bahaya, tapi belum tahu sampai kapan di sini,” kata Thidarat.

“Saya ingin pemerintah bertindak tegas. Jangan menunggu hingga ada korban jiwa lebih banyak. Kami sangat bergantung pada negara untuk perlindungan.”

Sementara itu, di pihak Kamboja, sekitar 20.000 penduduk juga telah dievakuasi dari wilayah utara, terutama dari Provinsi Preah Vihear, yang berbatasan langsung dengan Thailand. Informasi ini disampaikan media setempat Khmer Times, mengutip pejabat lokal. (Bahry)

Sumber: Al Jazeera

Negara-Negara Eropa Terbelah Soal Pengakuan Negara Palestina

PALESTINA (jurnalislam.com)- Sejumlah negara Eropa masih terpecah terkait pengakuan terhadap negara Palestina, di tengah krisis kemanusiaan yang terus memburuk di Jalur Gaza.

Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, menolak seruan untuk segera mengakui negara Palestina, meskipun sekitar 221 anggota parlemen telah menandatangani surat yang mendesak pemerintah untuk menyatakan pengakuan tersebut dalam pertemuan Majelis Umum PBB pekan depan.

Meski demikian, Starmer menyatakan dirinya tetap berkomitmen pada solusi dua negara. Ia menekankan bahwa pengakuan Palestina harus menjadi bagian dari “rencana yang lebih luas” yang menjamin solusi damai serta keamanan jangka panjang bagi Israel dan Palestina.

Sikap serupa disampaikan Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni. Dalam wawancaranya dengan harian La Repubblica pada Sabtu (26/7), Meloni menyatakan bahwa pengakuan prematur terhadap negara Palestina justru bisa menjadi kontraproduktif.

“Saya sangat mendukung negara Palestina, tetapi saya tidak mendukung pengakuan sebelum negara itu benar-benar terbentuk,” ujar Meloni.

“Mengakui sesuatu yang belum ada hanya akan menciptakan kesan bahwa masalah telah selesai, padahal kenyataannya belum.”

Sementara itu, pemerintah Jerman menyatakan belum memiliki rencana untuk mengakui negara Palestina dalam waktu dekat. Juru bicara pemerintah pada Jumat (25/7) menyebut bahwa prioritas Berlin saat ini adalah mendorong kemajuan menuju solusi dua negara yang telah lama dinantikan.

Berbeda dengan Inggris, Italia, dan Jerman, Prancis justru menyatakan dukungannya terhadap pengakuan Palestina. Presiden Emmanuel Macron mengumumkan niatnya untuk menyampaikan pengakuan resmi terhadap negara Palestina dalam sidang Majelis Umum PBB pada September mendatang.

Langkah Macron itu menuai kritik dari Israel dan Amerika Serikat. Namun, dalam surat yang dikirim kepada Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, Macron menegaskan komitmen Prancis untuk terus melangkah maju dalam pengakuan Palestina serta mendorong negara lain agar mengikuti jejak tersebut.

Menurut basis data Agence France-Presse (AFP), hingga kini sedikitnya 142 dari 193 negara anggota PBB termasuk Prancis telah mengakui negara Palestina yang diproklamasikan oleh para pemimpin Palestina di pengasingan pada tahun 1988. (Bahry)

Sumber: The Guardian