Dugaan Pembangunan Arena Judi Ayam di Blimbing Gatak Sukoharjo Ditolak Warga

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)- Tokoh umat Islam Soloraya bersama warga mendatangi undangan yang diberikan oleh Kapolsek Gatak Sukoharjo AKP Aris JN guna menindaklanjuti informasi dari masyarakat terkait dugaan pembangunan area sabung judi ayam di dukuh Blimbing, Gatak, Sukoharjo pada jum’at, (30/10/2020).

Hadir dalam pertemuan tersebut Kapolsek Gatak, Danramil Gatak Kapten Sutrisno, Suwarjo Kepala Desa Blimbing Perwakilan Warga, Perwakilan Takmir Masjid, Heri Abidin Ketua LP2H dan Perwakilan Ormas Islam.

Dalam acara yang dipimpin oleh Kapolsek Gatak tersebut, disepakati bahwa jangan sampai persoalan judi yang menjadi bagian dari Penyakit Masyarakat (Pekat) meresahkan warga terlebih pembangunan arena sabung ayam tersebut dekat dengan masjid Idqinil Jannah yang merupakan masjid milik warga.

Heri Abidin Ketua LP2A menyampaikan bahwa judi secara agama berdosa dan melanggar hukum agama.

Ia juga menambahkan bahwa pihaknya mempercayakan sepenuhnya penyelesaian pembanguan arena judi ini kepada aparat keamanan, baik TNI, Polri dan Kepala Desa.

Sementara itu, Humas Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) Endro Sudarsono berharap aparat keamanan lebih cepat dan tegas dalam menyelesaikan kasus ini agar tidak ada tindakan main hakim sendiri apalagi menjelang pilkada di Sukoharjo.

“Kita berharap aparat kepolisian bisa bertindak secara cepat dan tepat guna memberantas Pekat di Sukoharjo ini, segera tangkap dalang dibalik kasus ini agar tidak menimbulkan kerawanan sebab saat ini akan ada gelaran Pilkada di kota Sukoharjo,” ungkapnya.

Jokowi ke Macron: Kebebasan Berekspresi Tak Dibenarkan Ciderai Simbol Agama

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Presiden Indonesia Joko Widodo mengecam keras pernyataan dan sikap pemerintah Prancis yang membiarkan penayangan karikatur menghina Nabi Muhammad.

“Indonesia juga mengecam keras pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menghina dan telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia,” kata Jokowi, Sabtu (31/10/2020).

Menurut presiden, pernyataan Presiden Macron tersebut dapat memecah belah persatuan antarumat beragama di saat dunia memerlukan persatuan untuk menghadapi pandemi Covid-19.

“Kebebasan berekspresi yang menciderai kehormatan, kesucian serta kesakralan nilai-nilai dan simbol agama sama sekali tidak bisa dibenarkan dan harus dihentikan,” kata dia.

Jokowi juga mengingatkan Macron bahwa mengaitkan agama dengan tindakan terorisme juga adalah sebuah kesalahan besar.

“Terorisme adalah terorisme, tidak ada hubungannya dengan agama apa pun,” pungkasnya.

Dalam pernyataan ini, Indonesia mengajak dunia mengedepankan persatuan dan toleransi beragama untuk membangun dunia yang lebih baik.

Jokowi Kecam Macron: Pernyataanya Menghina dan Melukai Perasaan Umat!

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Presiden Indonesia Joko Widodo mengecam keras pernyataan dan sikap pemerintah Prancis yang membiarkan penayangan karikatur menghina Nabi Muhammad.

“Indonesia juga mengecam keras pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menghina dan telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia,” kata Jokowi, Sabtu (31/10/2020).

Menurut presiden, pernyataan Presiden Macron tersebut dapat memecah belah persatuan antarumat beragama di saat dunia memerlukan persatuan untuk menghadapi pandemi Covid-19.

Karenanya, kata Presiden Jokowi, Indonesia mengajak dunia mengedepankan persatuan dan toleransi beragama untuk membangun dunia yang lebih baik.

Boikot Produk Prancis, Toko Sidogiri Gudangkan Aqua dkk

PASURUAN(Jurnalislam.com)—Pasca seruan boikot produk Prancis oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), beberapa minimarket dan toko mulai memboikot produk asal Prancis.

Salah satunya adalah PT Sidogiri Mitra Utama yang mengelola SS Toko Basmallah.

Dalam surat keterangan yang beredera, Muhammad Rifan selaku Direktur Marketing PT Sidogiri Mitra Utama menginstruksikan agar memboikot produk Prancsi dari Toko Basmallah.

“Menginstruksikan kepada seluruh SS Toko Basmallah untuk mengeluarkan produk prancsi dengan rincian sebagai berikut,” tulisnya, Sabtu (31/10/2020).

  1. Memindahkan produk tersebut dari rak display ke Gudang
  2. Menumpan produk tersebut di gudang
  3. Tidak menampilkan produk prandcsdi di toko.

Dalam surat tersebut dilampirkan juga produk Prancis yang akan dipindahkan ke gudang seperti aqua, vit, mizone, susu lactamil, SGM, dst.

Seruan boikot produk Prancis meluas pasca Presiden Prancsi Emmanuel Macron menyatakan akan membiarkan tayangan karikatur penghinaan Nabi Muhammad. Hal ini diprotes umat Islam sedunia, dengan memboikot produk Prancis.

Cinta Nabi, Wabup Abdya Serukan Warganya Boikot Produk Prancis

ACEH(Jurnalislam.com)- Wakil Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) Muslizar MT mengajak masyarakat khususnya Abdya untuk memboikot produk negara Prancis karena dinilai yang meghina nabi Muhammad SAW.

Adapun jenis produk-produk yang dimaksud oleh Muslizar diantaranya Bebelac, Aqua, Vit Levite, Vit, Mizone, susu SGM, Yakult dan susu Nutribaby.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk boikot produk dari negara yang menghina nabi Muhammad,” ungkapnya baru-baru ini.
Kemudian, kata Muslizar, jangan hanya mengaku diri sebagai ummat Islam apabila nabinya dihina namun tidak mengambil tindakan apa-apa.

“Setiap orang yang mengaku dirinya Islam pasti nabi Muhammad SAW adalah kecintaannya, maka jika kekasihnya dihina pasti dia marah dan akan melakukan tindakan, walaupun tindakan itu sesuai kemampuan kita masing – masing,” tegasnya.

Maka dari itu, tambah Muslizar, mulai hari ini dirinya mengajak seluruh masyarakat untuk tidak membeli produk-produk yang dimaksud diatas.

“Mulai hari ini merk-merk produk yang saya maksud diatas tadi, alihkan pembelian ke produk lain, bagi anak-anak kita yang masih menyusui bisa mengalihkan ke merk lain asal jangan produk dari negara penghina nabi itu,” pungkasnya.

sumber: anteroaceh

MUI Minta Pemerintah Tarik Dubes Indonesia untuk Prancis

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Majelis Ulama Indonesia meminta masyarakat Indonesia memboikot seluruh produk asal Prancis.

“Memboiot semua produk yang berasal dari negara Prancis,” kata Waketum MUI KH Muhyiddin dan Sekjen Anwar Abbas dalam siaran pers yang diterima Jurnalislam.com, Jumat (30/10/2020).

MUI meminta Prancis menghentikan segala tindakan penghinaan dan pelecehan terhadap Nabi besar Muhamamd termasuk pembuatan karikatur dan ucapan kebencian

“Serta mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk melakukan tekanan dan perinatan keras kepada pemerintah Prancis serta mengambil kebijakan untuk menarik sementara waktu Duta Besar Indonesia di Paris hingga Presiden Emmanuel Macron mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada umat Islam sedunia,” tambahnya.

Seruan Boikot Meluas, Elemen Muslim Afrika Kecam Macron

JOHANNESBURG(Jurnalislam.com) — Organisasi Muslim di seluruh Afrika mengecam pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron baru-baru ini yang dinilai anti-Islam.

Mereka menyatakan kemarahannya atas pernyataan meremehkan dari Macron yang menyalahkan Islam serta mendukung karikatur Nabi Muhammad.

“Kami mengecam keras perendahan martabat Nabi Muhammad dengan kedok kebebasan berbicara dan berekspresi,” kata Ketua Dewan Tertinggi Muslim Kenya, Al Hajj Hassan Ole Nadoo, dalam sebuah pernyataan, dilansir di Anadolu Agency, Sabtu (31/10).

Nadoo mengatakan, kebebasan berbicara dan berekspresi tidaklah mutlak dan harus dilakukan dengan cara yang tidak merugikan kebebasan dan hak orang lain.

Sementara menurutnya, karikatur yang menggambarkan orang-orang Yahudi di Prancis tidak akan ditoleransi dan pastinya akan membawa seseorang ke pengadilan untuk ditindak. Namun, kata dia, hal yang sama tidak terjadi pada komunitas Muslim di negara itu.

“Bias paling mencolok adalah bahwa meski meremehkan Islam dan mengejek simbol-simbolnya dianggap sebagai kebebasan berekspresi, tidak ada toleransi untuk kritik terhadap Israel, kebijakan Israel, Zionisme dan anti-Semitisme,” bunyi pernyataan tersebut.

Lebih lanjut, Nadoo menyerukan boikot ekonomi atas produk-produk Prancis hingga Macron menarik pernyataan ofensif dan kebijakan anti-Islamnya. Baru-baru ini, Macron menguraikan rencana pemerintahnya untuk di antaranya melarang para imam di Prancis mengikuti pelatihan di luar negeri, membatasi sekolah di rumah (homeschooling), dan mengendalikan pendanaan keagamaan.

Di Afrika Selatan, Yayasan Awqaf Nasional mengatakan bahwa mereka geram dengan serangan ofensif saat ini terhadap Nabi Muhammad. Wakil CEO yayasan tersebut, Mickaeel Collier, mengatakan pernyataan yang tidak bertanggung jawab dan berbahaya dari Macron hanya akan memicu serangan Islamofobia terhadap komunitas Muslim.

“Kami juga mencatat dengan keprihatinan yang mendalam pernyataan Presiden Prancis Macron yang sangat kurang informasi bahwa Islam berada dalam ‘krisis’. Islam adalah agama yang tumbuh paling cepat di dunia, bukan merupakan tanda krisis,” kata Collier.

Ia juga menyerukan untuk segera menghentikan fitnah yang tidak beralasan terhadap para pemimpin Muslim seperti Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang dikatakan selalu membela martabat Nabi SAW dan hak-hak umat Islam.

Di negara Tanduk Afrika, Kepresidenan Somalia mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Kamis (29/10), bahwa pemerintah federal Somalia menyesalkan pelanggaran terhadap keyakinan, kesucian, dan teologi umat Muslim serta Nabi Muhammad.

“Setiap tindakan yang merugikan perasaan Muslim melayani kepentingan kelompok ekstremis, dan tindakan seperti itu harus dihindari karena mereka menciptakan kebencian sosial di antara orang-orang dari berbagai bangsa dan agama,” demikian pernyataan Somalia.

Sumber: republika.co.id

Resmi, MUI Serukan Boikot Seluruh Produk Prancis di Indonesia

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Majelis Ulama Indonesia meminta masyarakat Indonesia memboikot seluruh produk asal Prancis.

Menurut MUI, tidak tampak itikad baik dari pemerintah Prancis kepada umat Islam, malah Presiden Prancis Macron tampak membela kepentingan dirinya sendiri.

Karena itu, MUI meminta masyarakat dan pemerintah memboikot seluruh produk dari Prancis.

“Memboiot semua produk yang berasal dari negara Prancis,” kata Waketum MUI KH Muhyiddin dan Sekjen Anwar Abbas dalam siaran pers yang diterima Jurnalislam.com, Jumat (30/10/2020).

MUI berpadangan umat Islam Indonesia tidak ingin mencari musuh, ingin hidup  damai dan harmonis.

Namun jikalau Presiden Prancis tidak menginginkannya dan tidak mau mengembangkan sikap bertoleransi, maka umat Islam terutama umat Islam Indonesia yang juga punya harga diri tinggi dan martabat siap untuk membalas sikap dan tindakannya dengan memboikot seluruh produk yang datangnya dari Prancis

MUI juga mendesak Prancis segera menghentikan penerbitan karikatur Rasulullah dan segala ujaran kebencian terhadap agama Islam.

Komisi Dakwah MUI: Rasulullah Dihina, Indonesia Harus Tunjukkan Kemarahan

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Ketua Komisi Dakwah MUI KH Cholil Nafis ikut bersuara terkait penghinaan terhadap Rasulullah dengan dibiarkannya percetakan karikatur Nabi Charlie Hebdo di Prancis.

Menurut Kiai Cholil Nafis, tindakan mengecam pemerintah Prancis saja tidaklah cukup. Harus ada tindakan lebih berani seperti memboikot hingga pemutusan hubungan diplomatic.

Kiai Cholil mengatakan bahwa sejak 2011, Indonesia sudah melakukan hubungan baik dengan mendirikan kedutaan di masing-masing negara.

“Akan tetapi menurut saya dengan pola seperti ini umat Islam yang menjadi mayoritas di Indonesia dan lebih besar penduduknya dari seluruh Arab harus menunjukkan kemarahan,” kata KH Cholil dalam acara di TVOne, Kamis (30/10/2020).

Menurutnya, hal ini harus menjadi perhatian kepada dunia bahwa tidak bisa karena perilaku segelintir orang di dalam pemeluk beragama , lalu orang yang dimuliakan di dalam agama tertentu dalam hal ini agama Islam lalu direndahkan.

“Ini harus menjadi pelajaran, karena kalau kita tidak segera melakukan protes ini akan terjadi kekacauan. Antara pemeluk agama akan merendahkan agama lain dan bisa memaki agama lain dan itu di dalam agama apapun tidak boleh,” pungkasnya.

KPAI Minta Pembelajaran Jarak Jauh Dievaluasi

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti mendorong pemerintah pusat dan daerah melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Evaluasi PJJ selama fase kedua yang sudah berjalan selama empat bulan ini harus dilakukan secara menyeluruh.

“KPAI mendorong Kemendikbud, Kemenag, Dinas-dinas pendidikan dan kantor wilayah Kementerian Agama untuk melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan PJJ,” kata Retno, dalam keterangannya, Jumat (30/10).

Menurutnya, tidak ada kasus bunuh diri siswa di tempat lain, bukan berarti sekolah atau daerah lain menjalani PJJ yang baik-baik saja. Ada kemungkinan fenomena ini seperti gunung es dari pelaksanaan PJJ yang bermasalah dan kurang memperhatikan kondisi psikologis anak

Sebelumnya terjadi kasus bunuh diri siswa SMP di Tarakan yang diduga karena keberatan menjalankan tugas-tugas selama PJJ. Retno menjelaskan, ia sudah mendengar penjelasan orang tua korban yang mengatakan korban memiliki 11 tagihan tugas mata pelajaran.

Menurut orang tuanya, korban tidak mengerjakan tugas bukan karena malas. Namun, korban merasa kesulitan mengerjakan tugas-tugas dari sekolah. Sementara itu, orang tua korban tidak bisa banyak membantu terkait pengerjaan tugas tersebut.

“Barangkali tujuan pihak sekolah hanya sekedar mengingatkan dan memberikan dorongan agar para siswanya mengerjakan atau menyelesaikan tugas-tugasnya yang tertumpuk. Namun, bagi remaja yang mengalami  masalah menta ketidakmampuan mengerjakan tugas-tugas PJJ, memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan pikiran tentang bunuh diri,” kata Retno menambahkan.

Selain itu, KPAI juga mendorong agar Kemendikbud melakukan sosialisasi secara masif mengenai pedoman penyelenggaraan bejalar dari rumah dalam masa Covid-19. Kemendikbud sebelumnya sudah menyatakan agar pembelajaran di rumah tidak untuk memenuhi ketuntasan kurikulum, namun bertujuan untuk mendapatkan pembelajaran yang bermakna.

Sumber: republika.co.id