Kepala UNRWA: Israel Harus Bertanggung Jawab atas Kelaparan di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)- Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, pada Sabtu (23/8) mendesak Israel untuk berhenti menyangkal tanggung jawab atas krisis kelaparan yang terjadi di Jalur Gaza. Ia juga meminta negara-negara berpengaruh segera mengambil tindakan untuk menghentikan tragedi kemanusiaan tersebut.

“Sudah saatnya Pemerintah Israel berhenti menyangkal kelaparan yang telah diciptakannya di Gaza,” tulis Lazzarini melalui platform X.

“Semua pihak yang berpengaruh harus menggunakannya dengan tekad dan rasa tanggung jawab moral. Setiap jam berharga,” tambahnya.

Pernyataan ini muncul setelah Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC), lembaga pemantau kelaparan global yang didukung PBB, mengonfirmasi pada Jumat (22/8) bahwa kelaparan telah melanda Kegubernuran Gaza. IPC memperingatkan, krisis pangan tersebut berpotensi menyebar ke wilayah tengah dan selatan Gaza pada akhir September.

Sejak agresi militer dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 62.000 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan Israel. Operasi militer tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menghancurkan infrastruktur, memicu kelaparan, pengungsian massal, dan penyebaran penyakit menular.

Situasi di Gaza juga menjadi sorotan hukum internasional. Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Selain itu, Israel tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait agresinya di Jalur Gaza. (Bahry)

Sumber: AA

Israel Hancurkan 60 Instalasi Desalinasi, Warga Gaza Krisis Air Bersih

GAZA (jurnalislam.com)- Pengeboman Israel yang berkelanjutan di Jalur Gaza telah menghancurkan sedikitnya 60 instalasi desalinasi, memperparah krisis air bersih yang dialami warga sipil di tengah kondisi kemanusiaan yang semakin memburuk. Hal ini disampaikan organisasi bantuan internasional Médecins Sans Frontières (MSF) dalam pernyataan resminya.

MSF menegaskan, Israel secara sengaja merampas kebutuhan dasar warga Palestina, termasuk makanan, air, dan layanan kesehatan.

“Ketersediaan air bersih di Gaza saat ini sama sekali tidak mencukupi,” tulis organisasi tersebut.

Krisis air juga diperparah dengan pembatasan impor material penting untuk pengolahan air. MSF menyebut, sejak Juni 2024, hanya satu dari sepuluh permintaan impor material desalinasi yang disetujui Israel. Selain itu, dua dari tiga jaringan pipa utama yang menyalurkan air ke Gaza berulang kali dirusak sejak Oktober 2023. Akibat kerusakan tersebut, diperkirakan 70 persen air hilang akibat kebocoran.

Kerusakan infrastruktur vital ini membuat warga sipil semakin rentan terhadap penyakit menular. Menurut MSF, tim medis mereka saat ini menangani lebih dari 1.000 konsultasi per pekan, dengan banyak pasien menderita diare akut. Penyakit kulit seperti kudis juga merebak akibat minimnya air untuk menjaga kebersihan.

“Air terlalu sedikit untuk terlalu banyak orang. Jumlah yang dapat kami sediakan sangat kecil dibandingkan kebutuhan, dan kondisinya sangat sulit,” kata Mohammed Nsier, petugas air dan sanitasi MSF di Gaza.

Keterbatasan air membuat banyak warga, termasuk anak-anak, harus berjalan berkilo-kilometer membawa jeriken di tengah gempuran serangan. MSF melaporkan, tidak jarang anak-anak tersesat ketika lokasi distribusi air dipindahkan akibat perintah pengungsian paksa atau serangan udara.

Sejak awal perang, sebagian besar warga Gaza telah kehilangan akses terhadap air bersih. Sebelum perang, tingkat salinitas dan kontaminasi membuat air minum alami di Gaza tidak layak konsumsi, sehingga penduduk sangat bergantung pada pasokan dari Israel. Namun, Israel telah lama membatasi akses tersebut, termasuk dengan membangun bendungan di perbatasan yang menghalangi pengisian akuifer.

Organisasi kemanusiaan Oxfam sebelumnya juga menuding Israel menggunakan air sebagai senjata dengan memutus pasokan ke Gaza. Menurut lembaga tersebut, sabotase terhadap akses air dan gangguan terhadap upaya kemanusiaan telah berkontribusi pada meningkatnya jumlah korban jiwa. (Bahry)

Sumber: TNA

WHO: 15.600 Pasien di Gaza Butuh Evakuasi Medis Segera, Termasuk 3.800 Anak

GAZA (jurnalislam.com)- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan pada Sabtu (23/8/2025) bahwa lebih dari 15.600 orang di Jalur Gaza membutuhkan evakuasi medis segera, termasuk 3.800 anak-anak, untuk mendapatkan perawatan kesehatan yang tidak tersedia di wilayah tersebut.

Dalam sebuah unggahan di platform X, Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyoroti penderitaan warga Palestina yang tidak memiliki akses terhadap layanan kesehatan khusus di Gaza. Ia menyampaikan apresiasi atas dukungan Uni Emirat Arab (UEA) yang telah mengevakuasi sejumlah pasien kritis, namun menegaskan masih banyak yang membutuhkan penanganan.

“Kami berterima kasih kepada UEA atas dukungannya terhadap evakuasi medis pasien kritis lainnya dari Gaza. Namun, lebih dari 15.600 pasien membutuhkan perawatan khusus, termasuk 3.800 anak-anak,” tulis Tedros.

Ia juga menyerukan adanya peningkatan akses bagi pasien dari Gaza agar dapat dievakuasi ke luar negeri. “Kami menyerukan lebih banyak negara untuk meningkatkan dan menawarkan perawatan yang menyelamatkan jiwa. Gencatan senjata!” pungkasnya.

Sementara itu, meski Hamas telah menyetujui proposal gencatan senjata terbaru, Israel belum menyetujui penghentian agresinya. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada Jumat (22/8) menegaskan Tel Aviv siap menghancurkan Kota Gaza jika Hamas tidak melucuti senjata dan membebaskan tawanan sesuai dengan tuntutan Israel. (Bahry)

Sumber: TNA

Netanyahu Bungkam Kritik, Tentara Israel yang Tolak Perang Justru Dipecat

TEL AVIV (jurnalislam.com)- Militer Israel pada Jumat (22/8/2025) memecat 15 perwira Angkatan Udara, termasuk seorang brigadir jenderal, setelah mereka menandatangani petisi yang menyerukan diakhirinya perang di Gaza dan pembebasan tawanan yang ditahan Hamas. Demikian dilaporkan media Israel.

Menurut situs berita Yedioth Ahronoth, sejumlah perwira tersebut sebelumnya dijadwalkan terlibat dalam serangan terhadap Iran pada Juni lalu. Namun, mereka tidak dipanggil untuk bertugas karena sikap penolakan terhadap berlanjutnya perang di Gaza.

Para perwira dengan berbagai pangkat itu kemudian meminta militer membatalkan keputusan dan mengembalikan mereka ke dinas. Seorang sumber kepada Yedioth Ahronoth menyebutkan, seluruh perwira itu aktif dalam cadangan hingga pecahnya perang di Gaza.

Laporan yang sama juga menyebutkan, 17 prajurit cadangan Angkatan Udara lainnya yang ikut menandatangani petisi turut diskors. Beberapa di antaranya dipulihkan ke tugas setelah bersedia mencabut tanda tangan dari petisi.

Mereka yang diberhentikan tidak diberi alasan resmi maupun kesempatan menghadiri sidang internal, yang menurut laporan merupakan pelanggaran hukum administrasi.

Perkembangan ini mencerminkan meningkatnya suara penolakan dari dalam tubuh militer Israel. Dalam beberapa bulan terakhir, banyak tentara menyuarakan keprihatinan atas berlanjutnya perang dan menuntut pembebasan tawanan Israel melalui kesepakatan.

Pada April lalu, sekitar 1.000 prajurit cadangan dan mantan personel Angkatan Udara menandatangani surat tuntutan gencatan senjata. Lebih dari 100 dokter militer dari Unit Intelijen juga mendukung seruan tersebut.

“Sebagai perwira medis, kami bertugas di pasukan cadangan karena komitmen terhadap kesucian hidup. Kami memperingatkan bahwa melanjutkan pertempuran dan menelantarkan tawanan bertentangan dengan nilai-nilai itu,” demikian isi pernyataan para dokter.

Radio Angkatan Darat Israel melaporkan, para penandatangan petisi meyakini operasi militer saat ini “tidak lagi berkontribusi pada tujuan yang dinyatakan.”

Di antara tokoh yang ikut menandatangani seruan penghentian perang adalah dua mantan kepala staf Angkatan Darat Israel, Ehud Barak yang juga pernah menjabat perdana menteri (1999–2001) dan Dan Halutz.

Selain itu, lebih dari 1.600 veteran pasukan terjun payung dan brigade infanteri juga menyuarakan desakan pembebasan tawanan, meskipun dengan konsekuensi perang harus diakhiri. Sekitar 2.000 akademisi turut bergabung dalam gelombang protes anti-perang dalam beberapa bulan terakhir.

Gerakan penolakan perang kian meluas di Israel. Namun, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berkali-kali menegaskan sikap kerasnya dengan menindak pengunjuk rasa dan memperingatkan tentara aktif yang ikut petisi dapat diberhentikan.

Militer Israel juga melaporkan lonjakan kasus bunuh diri pada 2024, mencapai 21 kasus angka tertinggi dalam lebih dari satu dekade. Dari jumlah itu, 12 di antaranya adalah tentara cadangan, yang belakangan semakin banyak digunakan sejak perang Gaza pecah.

Sejak Oktober 2023, agresi Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 62.000 warga Palestina dan menjerumuskan wilayah itu ke dalam krisis kemanusiaan. Sejumlah organisasi HAM, LSM, hingga pemerintah di berbagai negara menyebut perang tersebut sebagai genosida. (Bahry)

Sumber: TNA

PBB Nyatakan Gaza Dilanda Bencana Kelaparan, Pertama Kali di Timur Tengah

GAZA (jurnalislam.com)– Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan Gaza kini mengalami bencana kelaparan, penetapan pertama kalinya di wilayah Timur Tengah. Laporan ini dipublikasikan oleh Sistem Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) pada Jumat (22/8), di tengah perang yang sudah berlangsung hampir dua tahun.

Menurut IPC, sebanyak 514.000 warga Gaza hampir seperempat populasi telah mengalami kelaparan. Jumlah ini diperkirakan meningkat menjadi 641.000 orang pada akhir September. Dari jumlah tersebut, sekitar 280.000 orang berada di Gaza utara, termasuk Kota Gaza, yang saat ini sudah dinyatakan berada dalam kondisi kelaparan. Sementara sisanya berada di wilayah tengah dan selatan, yakni Deir al-Balah dan Khan Younis, yang diproyeksikan akan mengalami kelaparan pada bulan depan.

𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹 𝗕𝗮𝗻𝘁𝗮𝗵, 𝗦𝗲𝗯𝘂𝘁 “𝗣𝗿𝗼𝗽𝗮𝗴𝗮𝗻𝗱𝗮 𝗛𝗮𝗺𝗮𝘀”

Pemerintah Israel langsung menolak laporan tersebut. Kementerian Luar Negeri Israel menyebut temuan IPC sebagai “palsu dan bias”, bahkan menudingnya didasarkan pada “kebohongan Hamas”.
“Tidak ada kelaparan di Gaza,” demikian pernyataan resmi Kemenlu Israel. Badan militer yang mengoordinasikan bantuan ke Gaza juga menyatakan IPC hanya menggunakan data parsial yang berasal dari “organisasi yang terkait Hamas”.

𝗗𝗲𝗳𝗶𝗻𝗶𝘀𝗶 𝗞𝗲𝗹𝗮𝗽𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗻𝘂𝗿𝘂𝘁 𝗜𝗣𝗖

Untuk suatu wilayah dikategorikan dilanda kelaparan, setidaknya 20 persen penduduknya mengalami kekurangan pangan ekstrem, sepertiga anak-anak mengalami malnutrisi akut, serta dua dari setiap 10.000 orang meninggal setiap hari akibat kelaparan atau penyakit terkait.

Meski demikian, IPC menegaskan bahwa suatu wilayah tetap dapat dinyatakan menghadapi “kondisi kelaparan” meskipun ambang batas resmi belum terpenuhi, jika terdapat bukti kelaparan, kemelaratan, dan kematian di tingkat rumah tangga.

Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Türk, menegaskan kelaparan di Gaza merupakan akibat langsung dari kebijakan pemerintah Israel. Ia memperingatkan bahwa kematian akibat kelaparan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sebelumnya telah memperingatkan bencana kemanusiaan yang “dahsyat” di Gaza, yang dihuni lebih dari 2 juta penduduk.

𝗧𝗲𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹 𝗠𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁

Analisis IPC dirilis setelah Inggris, Kanada, Australia, dan sejumlah negara Eropa menyatakan krisis kemanusiaan di Gaza telah mencapai “tingkat yang tak terbayangkan”.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump bulan lalu mengakui adanya kelaparan di Gaza, meski pernyataan tersebut bertentangan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang terus menegaskan tidak ada krisis pangan di sana. (Bahry)

Sumber: TNA

Netanyahu Setujui Rencana Serangan ke Kota Gaza, Klaim Tetap Buka Jalur Negosiasi Gencatan Senjata

GAZA (jurnalislam.com)– Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Kamis (21/8/2025) menyatakan telah memberikan persetujuan akhir terhadap rencana militer untuk merebut Kota Gaza. Namun, di saat yang sama ia juga menginstruksikan dimulainya negosiasi guna mencapai kesepakatan gencatan senjata.

“Saya datang untuk menyetujui rencana militer Israel untuk menguasai Kota Gaza dan mengalahkan Hamas,” kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan video yang direkam saat kunjungannya ke markas divisi Gaza di Israel.

“Pada saat yang sama, saya telah menginstruksikan untuk segera memulai negosiasi guna membebaskan semua sandera kami dan mengakhiri perang dengan syarat-syarat yang dapat diterima oleh Israel. Kedua hal ini mengalahkan Hamas dan membebaskan semua sandera berjalan beriringan,” tambahnya.

Pernyataan Netanyahu muncul sehari setelah Kementerian Pertahanan Israel menyetujui rencana pemanggilan sekitar 60.000 pasukan cadangan untuk membantu operasi merebut Kota Gaza.

𝗞𝗲𝗰𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹

Rencana Israel memperluas pertempuran ke pusat Kota Gaza menuai kecaman internasional. Komite Palang Merah Internasional pada Kamis mengecam langkah tersebut sebagai “tidak dapat ditoleransi”.

Badan-badan kemanusiaan PBB juga memperingatkan potensi “dampak kemanusiaan yang mengerikan” terhadap warga sipil yang sudah kelelahan akibat perang hampir dua tahun. Militer Israel bahkan telah meminta tenaga medis dan lembaga bantuan di Gaza utara untuk bersiap memindahkan peralatan mereka ke wilayah selatan. Namun, Kementerian Kesehatan Gaza menolak seruan tersebut.

“Kami tidak akan menyetujui langkah apa pun yang akan merusak sisa sistem kesehatan setelah penghancuran sistematis yang dilakukan oleh otoritas pendudukan,” tegas pihak kementerian.

𝗦𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗨𝗱𝗮𝗿𝗮 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗻𝘀𝗶𝗳

Penduduk Gaza melaporkan gempuran udara tanpa henti sepanjang malam.
“Rumah berguncang bersama kami sepanjang malam suara ledakan, artileri, pesawat tempur, ambulans, dan teriakan minta tolong membunuh kami,” kata Ahmad al-Shanti kepada AFP.

Seorang warga lainnya, Amal Abdel-Aal, menggambarkan bahwa tidak seorang pun bisa tidur akibat serangan yang terus-menerus. “Langit berkelap-kelip sepanjang malam,” ujarnya.

Laporan wartawan AFP di perbatasan Israel–Gaza menyebutkan jet tempur melancarkan serangan besar ke wilayah utara Kota Gaza pada Kamis sore, memicu ledakan dahsyat dan kepulan asap tebal. Panglima militer Israel, Eyal Zamir, menegaskan pasukan sudah bergerak di pinggiran Kota Gaza dan lebih banyak tentara akan bergabung dalam waktu dekat.

𝗡𝗲𝗴𝗼𝘀𝗶𝗮𝘀𝗶 𝗦𝗮𝗻𝗱𝗲𝗿𝗮

Sementara itu, mediator internasional masih menunggu tanggapan resmi Israel atas proposal gencatan senjata terbaru yang diterima Hamas awal pekan ini. Sumber Palestina menyebutkan kesepakatan tersebut mencakup pembebasan sandera secara bertahap. Namun, Israel bersikeras bahwa semua tawanan harus dibebaskan sekaligus.

Menurut sumber Hamas dan kelompok Jihad Islam, proposal terbaru berisi pembebasan 10 sandera dan 18 jenazah pada tahap awal, disusul pembebasan sandera lainnya bersamaan dengan perundingan penyelesaian yang lebih luas.

Serangan udara Israel pada Kamis menewaskan sedikitnya 48 orang di berbagai wilayah Gaza, termasuk sejumlah korban di Kota Gaza, demikian laporan Badan Pertahanan Sipil setempat.

Sejak dimulainya agresi hampir dua tahun lalu, lebih dari 62.000 warga Palestina mayoritas perempuan dan anak-anak telah terbunuh akibat serangan Israel. (Bahry)

Sumber: TNA

Garuda Indonesia Gandeng Bank Mandiri Gelar Umrah Travel Festival 2025 di 16 Kota Besar di Indonesia

JAKARTA (jurnalislam.com)- Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia
akan kembali menggelar umrah travel fair yang bertajuk Garuda Indonesia Umrah
Festival dan akan berlangsung mulai 29 Agustus 2025 di 16 kota besar di Indonesia.

Berkolaborasi bersama dengan Bank Mandiri sebagai bank partner, Garuda Indonesia Umrah Festival akan dimulai di Jakarta (Mall Atrium Kota Kasablanka) yang akan diselenggarakan pada tanggal 29-31 Agustus 2025, dan selanjutnya dilaksanakan secara serentak di Surabaya (Royal Plaza), Makassar (Mall Ratu Indah), dan juga di Kantor Penjualan Garuda Indonesia (Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Jambi, Palembang, Lampung, Yogyakarta, Solo, Semarang, Bandung, Balikpapan, Banjarmasin, Lombok) pada tanggal 5-7 September 2025 dengan periode perjalanan mulai September 2025 hingga Agustus 2026.

Direktur Niaga Garuda Indonesia, Reza Aulia Hakim menjelaskan bahwa kembali hadirnya umrah travel fair di tahun ini merupakan upaya Garuda Indonesia untuk makin memudahkan calon jemaah untuk mengakses beragam opsi penerbangan dari
dan menuju ke Tanah Suci.

“Melihat animo masyarakat Indonesia yang demikian tinggi pada penyelenggaraan
umrah travel fair sebelumnya, kali ini Garuda Indonesia Umrah Festival untuk pertama kalinya hadir melalui kantor penjualan di 13 kota, serta di Jakarta, Surabaya, dan Makassar. Kami juga menawarkan harga khusus untuk group booking, berbagai opsi pembayaran untuk membuka kesempatan bagi lebih banyak jemaah untuk beribadah ke Tanah Suci,” katanya pada Jum’at, (22/8/2025).

Selama Garuda Indonesia Umrah Festival 2025 berlangsung, Garuda Indonesia
menawarkan harga tiket penerbangan umrah untuk group booking dengan harga
mulai dari Rp13,9 jutaan pp untuk rute Jakarta-Jeddah pp dan mulai Rp15 jutaan
untuk rute Jakarta-Madinah-Jeddah-Jakarta. Harga spesial juga tersedia dari Surabaya dan Makassar mulai dari Rp 14,9 jutaan.

Selain itu, nasabah Bank Mandiri di Jakarta, Surabaya, dan Makassar akan mendapatkan manfaat tambahan lainnya, antara lain cashback hingga Rp1,25 juta untuk pengguna kartu Mandiri Debit.

Sedangkan pengguna Mandiri Kartu Kredit
berkesempatan mendapat cashback hingga Rp5 juta, penawaran cicilan 0% hingga
12 bulan, hingga undian berhadiah voucher travel Garuda Indonesia Rp2,5 juta.

Senior Vice President Bank Mandiri Agus Hendra Purnama mengungkapkan,
kerjasama Bank Mandiri dengan Garuda Indonesia pada event GUTF ini
mencerminkan sinergi strategis antara sektor perbankan dan penerbangan untuk memperkuat brand awareness, memudahkan jasa perjalanan religius sekaligus memperkaya pengalaman Nasabah, menjawab permintaan tinggi pasar umrah, serta mendorong transaksi non tunai.

Pada event GUTF 2025 Bank Mandiri memberikan berbagai promo untuk pemegang kartu kredit, kartu debit, dan Livin’ by Mandiri. Nasabah dapat menikmati penawaran berupa Cashback hingga Rp5 juta, Raffle travel voucher Rp2,5 juta, dan Cicilan 0% hingga 12 bulan dengan Mandiri Kartu Kredit.

Untuk pengunjung yang belum memiliki produk Bank Mandiri, Bank Mandiri juga
menawarkan berbagai benefit. Pengunjung yang melakukan apply Mandiri Kartu
Kredit bisa mendapatkan cashback welcome bonus hingga Rp1juta & sameday
approval, serta Bonus 1.000 Garuda Miles untuk pembukaan rekening tabungan dan
pembuatan kartu debit Garuda Co-brand.

“Melalui GUTF 2025, Bank Mandiri mempertegas komitmen dalam mengakselerasi layanan finansial syariah sekaligus memperkuat sinergi dengan Garuda Indonesia. Kolaborasi ini menjadi wujud nyata upaya kami menghadirkan pengalaman terbaik bagi nasabah dan menjawab tingginya kebutuhan perjalanan religius,” ungkap Agus.

Untuk memaksimalkan persiapan rangkaian perjalanan, para pengunjung juga
berpeluang mendapatkan harga terbaik pada layanan tambahan penerbangan.

Hal ini termasuk diskon hingga 40 persen untuk pembelian produk GarudaShop, free gift untuk pembelian minimum Rp1,5 juta di booth GarudaShop, kesempatan lucky draw
setiap pembelian minimum Rp500 ribu, undian untuk top spender, potongan harga
hingga 30% untuk excess baggage.

Selain itu juga terdapat welcome bonus 1.000
miles untuk anggota GarudaMiles baru, dan bonus 1.500 miles untuk pembelian
GarudaMiles Gold Privilege.

“Kami berharap kehadiran Garuda Indonesia Umrah Festival dapat memberi nilai
tambah tersendiri sebagai wujud pelayanan Garuda Indonesia selaku maskapai
nasional, serta membuka kesempatan yang makin luas bagi masyarakat untuk dapat
beribadah dengan aman, nyaman, dan berkesan,” tutup Reza

Israel Perluas Pengepungan Kota Gaza, Abaikan Seruan Gencatan Senjata

GAZA (jurnalislam.com)– Menteri Pertahanan Israel pada Rabu (20/8/2025) menyetujui rencana militer untuk penaklukan Kota Gaza, termasuk pemanggilan sekitar 60.000 pasukan cadangan. Langkah ini diambil di tengah tekanan internasional agar Israel menyetujui gencatan senjata dengan Hamas.

Pejuang Palestina menanggapi keputusan tersebut dengan menyebut Israel telah menunjukkan “pengabaian terang-terangan” terhadap upaya mediasi, termasuk kesepakatan pembebasan tawanan. Mereka menuding Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menjadi “penghalang nyata” yang menghambat tercapainya perjanjian.

Seorang juru bicara militer Israel membenarkan persetujuan rencana itu. Pemerintah, kata dia, tetap bersikeras bahwa Hamas harus membebaskan seluruh tawanan Israel dalam kesepakatan apa pun.

𝗣𝗿𝗼𝗽𝗼𝘀𝗮𝗹 𝗚𝗲𝗻𝗰𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗻𝗷𝗮𝘁𝗮

Kerangka gencatan senjata yang disetujui Hamas mengacu pada proposal utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff. Usulan itu mencakup gencatan senjata awal 60 hari, pembebasan tawanan Israel secara bertahap, pelepasan sejumlah tahanan Palestina, serta akses masuk bantuan ke Gaza.

Sumber dari Hamas dan Jihad Islam menyebutkan, tahap awal akan mencakup pembebasan 10 tawanan dan 18 jenazah dari Gaza. Sisanya akan dibebaskan dalam pertukaran berikutnya selama periode 60 hari, sementara negosiasi untuk gencatan senjata permanen berlangsung.

Qatar, salah satu mediator, mengatakan proposal terbaru “hampir identik” dengan kesepakatan yang sebelumnya pernah disetujui Israel. Namun hingga kini Netanyahu belum memberikan tanggapan resmi, meski ia sempat menyatakan hanya menerima kesepakatan jika seluruh tawanan dibebaskan sekaligus sesuai syarat Israel.

𝗦𝗶𝘁𝘂𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗶 𝗟𝗮𝗽𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻

Di Kota Gaza, kondisi semakin memburuk. Mustafa Qazzaat, kepala komite darurat setempat, menyebut situasi sebagai “bencana” dengan gelombang pengungsian massal, terutama dari kawasan timur.

Seorang warga, Anis Daloul (64), mengatakan sebagian besar bangunan di kawasan Zeitoun hancur akibat gempuran militer Israel. “Ribuan orang terpaksa meninggalkan rumah mereka,” ujarnya.

Menurut pejabat medis, serangan udara dan tembakan Israel pada Rabu (20/8) menewaskan sedikitnya 76 orang di seluruh Jalur Gaza. Militer Israel mengatakan masih menyelidiki laporan delapan warga sipil tewas di dekat lokasi distribusi bantuan di Gaza tengah.

AFP mencatat, pembatasan media dan sulitnya akses ke wilayah Gaza membuat verifikasi independen atas jumlah korban tidak memungkinkan.

𝗧𝗲𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹

Persetujuan rencana penaklukan Kota Gaza menuai kritik dari sejumlah pihak. Pemerintah Jerman menegaskan penolakannya terhadap eskalasi baru Israel, sementara Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan operasi itu hanya akan membawa “bencana total bagi kedua bangsa” dan berisiko menyeret kawasan ke dalam “perang permanen”.

Kabinet keamanan Israel sendiri telah lebih dulu menyetujui operasi militer di Gaza pada awal Agustus, yang menurut laporan akan memicu pengungsian besar-besaran dan memperburuk krisis kemanusiaan.

Selain Gaza, Israel pada Rabu juga menyetujui proyek permukiman baru di Tepi Barat, langkah yang dikecam keras Otoritas Palestina karena dianggap semakin mengikis prospek berdirinya negara Palestina. (Bahry)

Sumber: TNA

Empat Tentara Israel Terluka Akibat Ledakan Granat di Suriah Selatan

SURIAH (jurnalislam.com)– Empat tentara Israel dilaporkan terluka akibat ledakan granat tua saat operasi militer di wilayah Suriah selatan, Rabu (20/8/2025).

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan, ledakan tersebut diduga berasal dari granat peninggalan lama Suriah yang ditemukan dalam operasi di wilayah Gunung Hermon. Para tentara yang terluka segera dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

“Menurut penyelidikan awal, pasukan menemukan sejumlah senjata dalam operasi semalam, termasuk sebuah granat tua yang meledak tanpa sebab yang jelas,” ungkap pernyataan IDF.

Militer Israel menyebut operasi di kawasan tersebut kini telah selesai.

Kejadian ini berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas militer Israel di Suriah. Sejak jatuhnya rezim Assad, Israel diketahui menempatkan pasukan di sembilan pos di Suriah selatan, sebagian besar berada dalam zona penyangga yang diawasi PBB.

Kantor berita pemerintah Suriah, SANA, sehari sebelumnya melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad Hassan al-Shaibani, mengadakan pertemuan dengan pejabat Israel guna membahas upaya meredakan ketegangan serta memulihkan perjanjian gencatan senjata tahun 1974.

Media Israel berbahasa Ibrani menyebut perundingan itu juga dihadiri oleh Menteri Urusan Strategis Israel Ron Dermer dan utusan Amerika Serikat untuk Suriah, Tom Barrack. Namun, pihak Israel belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.

𝗞𝗼𝗻𝗳𝗹𝗶𝗸 𝗕𝗲𝗿𝗸𝗲𝗽𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻

Israel dan Suriah secara teknis masih berada dalam status perang sejak 1948. Israel merebut sekitar dua pertiga wilayah Dataran Tinggi Golan dari Suriah pada Perang Enam Hari tahun 1967 dan kemudian mencaploknya pada 1981. Langkah tersebut ditolak oleh mayoritas komunitas internasional, kecuali Amerika Serikat.

Sejak Desember lalu, pasukan Israel dilaporkan telah beroperasi hingga 15 kilometer ke dalam wilayah Suriah untuk menyita senjata yang diklaim dapat mengancam Israel bila jatuh ke tangan kelompok bersenjata. Dalam beberapa bulan terakhir, IDF mengaku telah melaksanakan lebih dari 300 operasi di Suriah selatan, termasuk penangkapan tersangka, pencegahan penyelundupan senjata ke Lebanon, serta serangan terhadap pasukan pemerintah Suriah.

Pada Juli lalu, Israel melancarkan serangan udara dengan dalih melindungi komunitas Druze Suriah di wilayah Suwayda yang terlibat bentrokan dengan pasukan pro-rezim. Selain itu, Israel juga membangun penghalang baru di sepanjang perbatasan Suriah-Israel, yang disebut sebagai proyek “Timur Baru”, berupa parit raksasa untuk mencegah pergerakan kendaraan lintas batas. (Bahry)

Sumber: TOI

Al Qassam Gempur Pos Israel di Khan Younis, Pertempuran Sengit Pecah Berjam-jam

GAZA (jurnalislam.com)– Kontak senjata besar terjadi antara pejuang Brigade Al Qassam, sayap militer Hamas, dengan tentara Israel di wilayah tenggara Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada Rabu pagi (20/8/2025).

Militer Israel (IDF) menyatakan sedikitnya tiga tentaranya terluka, satu di antaranya dalam kondisi serius, akibat serangan tersebut. IDF menuding pejuang Hamas berupaya melakukan penculikan terhadap pasukan yang bertugas di perkemahan militer.

Menurut keterangan militer Israel, insiden bermula sekitar pukul 09.00 pagi ketika sekelompok anggota Hamas muncul dari sebuah terowongan di selatan Khan Younis. Mereka menembaki pasukan dengan senapan mesin dan roket RPG.

“Pasukan mengidentifikasi lebih dari 15 orang yang muncul dari sebuah terowongan dan melepaskan tembakan, termasuk tembakan RPG, ke arah pasukan,” ujar Juru Bicara IDF Brigjen Effie Defrin dalam konferensi pers.

Defrin juga menyebut beberapa pejuang berhasil masuk ke bangunan tempat pasukan Israel berlindung. Rekaman yang dirilis IDF menunjukkan serangan udara balasan dan upaya tank dari Batalyon Lapis Baja ke-74 menabrak salah seorang pejuang yang membawa RPG.

Pasukan yang terluka diketahui berasal dari Batalyon Nahshon Brigade Kfir. IDF menyatakan sedang melakukan pengejaran terhadap kelompok bersenjata yang terlibat.

Sementara itu, melalui pernyataan resminya, Brigade Al Qassam mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Mereka menyebut operasi dilakukan oleh satu peleton infanteri yang menyerbu posisi baru tentara Israel di tenggara Khan Younis.

Menurut Al Qassam, pasukan mereka menargetkan sejumlah tank Merkava 4 dengan rudal Shawaza, peluru Al-Yassin 105, serta aksi bom syahid. Para pejuang juga menyerang rumah-rumah yang dijadikan tempat persembunyian tentara Israel dengan rudal anti-benteng, senapan mesin, dan granat tangan.

Dalam pernyataan itu, Al Qassam mengklaim berhasil menewaskan sejumlah tentara Israel dalam pertempuran jarak dekat, termasuk seorang komandan tank. Mereka juga menyebut melancarkan tembakan mortir untuk memutus jalur bantuan musuh, sekaligus mengamankan jalur mundur para pejuang.

“Segera setelah kedatangan pasukan penyelamat, salah satu pelaku bom syahid meledakkan dirinya di antara tentara, menewaskan dan melukai mereka,” tulis pernyataan tersebut.

Pertempuran berlangsung selama beberapa jam, disertai pendaratan helikopter Israel untuk mengevakuasi korban.

Insiden pada Rabu ini disebut sebagai salah satu serangan terbesar terhadap pos militer Israel di Khan Younis dalam beberapa bulan terakhir. (Bahry)

Sumber: TOI