Vaksin Dan Kewajiban Menjaga Kesehatan Dalam Islam

Oleh : Mujahidin Nur, Anggota Komisi Infokom MUI. Direktur The Islah Centre, Jakarta.

Tasiman sama sekali tidak menyangka kalau ia dan keluarganya akan terinfeksi Covid-19. Hasil tes PCR di Puskesmas tempatnya tinggal menunjukkan bahwa ia positif Covid-19 dengan CT Value 19. Disusul kemudian hasil tes istri dan kedua anaknya yang juga sama-sama positif. Air mata laki-laki tua berusia 60 tahun itu mengembang. Kesedihan tiba-tiba menguasai batinnya. Sebagai petani desa dan buruh kasar di Pantura Indramayu, dalam kondisi sehat saja ia kesulitan mengais rezeki di masa pandemi ini, apalagi ketika ia terinfeksi Covid seperti ini.

Walau Tasiman tergolong masyarakat awam dan berpendidikan rendah, namun Tasiman adalah seorang muslim yang baik. Pasca dinyatakan positif Covid-19 ia berusaha untuk menjalankan fatwa MUI nomor 14 tahun 2020 mengenai kewajiban bagi mereka yang terinfeksi Covid untuk menjaga dan mengisolasi diri agar tidak menularkan kepada orang lain. Sementara pada saat yang sama ia harus menanggung nafkah anak isterinya sekeluarga. Tasiman memasrahkan semuanya kepada Allah dalam menghadapi ujian hidup yang berat ini. Tasiman yakin Dialah sebaik-baiknya Penjaga.

Di hari kedua pasca hasil tes keluar Tasiman mulai merasakan persendiannya sakit, disertai panas dingin, mual dan muntah serta flu parah. Di hari ketiga pasca PCR saturasi oksigen yang dibawa oleh sel darah merah Tasiman yang berfungsi mengumpulkan oksigen dari paru-paru dan mengirimkannya ke seluruh tubuh turun diangka 35 dari yang seharusnya 95-100 persen. Tasiman mulai merasakan kesulitan bernafas. Tasiman berpikir seandainya ia sudah melakukan vaksin mungkin symptom (gejala) yang dia rasakan tidak seberat ini. Namun sayang, minimnya informasi yang didapat oleh Tasiman terkait program vaksinasi yang digalakan pemerintah membuat Tasiman belum mendapatkannya. Padahal sudah lama sekali ia ingin divaksin sebagai ikhtiar di hadapan Allah dan sebagai upaya preventif agar ia tidak terpapar Covid-19 atau minimal tidak parah ketika terpapar.

Dalam kondisi kritis, melalui hand phone sederhana anaknya, Tasiman berusaha mencari rumah sakit rujukan karena ia merasa memerlukan perawatan medis. Namun tak ada satu pun rumah sakit baik swasta maupun negeri yang kosong, semua rumah sakit sudah penuh. Tak puas ikhtiar melalui telephone, ia mencoba menyewa angkot tetangganya untuk mengantarkan dia ke rumah sakit terdekat, namun sebelum sampai ke rumah sakit Tasiman tidak tertolong lagi. Ia menghembuskan nafas terakhir di dalam mobil dalam perjalanan menuju rumah sakit.

 

Tasiman adalah satu dari puluhan ribu penambahan pasien Covid yang menjadi korban keganasan virus Covid yang saat ini trendnya naik di negeri kita. Bahkan angka kenaikan pasien Covid-19 di Indonesia dua hari berturut-turut mencatat kasus harian Covid tertinggi di dunia dengan angka 56.767 kasus. Namun ironisnya, dalam kondisi seperti ini, berdasarkan hasil survei LSI (Lembaga Survei Indonesia) pada tanggal 22-25 Juli 2021 dari 1.200 responden di 34 Provinsi, LSI menemukan ada sekira 36 persen masyarakat yang tidak mau divaksin dengan alasan-alasan yang menurut saya sangat tidak bijaksana. Pertama, sebanyak 55.5 persen masyarakat tidak mau divaksin karena takut akan efek samping dari vaksin. Kedua, 25.5 masyarakat tidak mau divaksin karena menganggap vaksin tidak efektif dan Ketiga 19.9 persen masyarakat menganggap tubuh mereka sehat dan tidak membutuhkan vaksin.

Terlepas dari berbagai pandangan masyarakat kenapa mereka tidak mau divaksin sebagaimana hasil survei LSI di atas ada baiknya mereka yang menolak melakukan vaksinasi melihat vaksinasi dalam pandangan agama yang merupakan bentuk ikhtiar yang dilakukan oleh Ulil Amri (pemerintah) untuk menjaga kesehatan dan menyelamatkan masyarakat. Apa yang dilakukan oleh Ulil Amri juga merupakan perwujudan dari perintah Allah dalam surah al-Baqarah : 195 untuk menjauhkan diri kita dari kebinasaan dan surah an-Nissa: 29 mengenai larangangan membunuh diri kita dengan sengaja salah satunya dengan menolak melakukan vaksin di masa pandemi.

Vaksinasi adalah salah satu cara untuk meningkatkan kekebalan spesifik di dalam tubuh dan imunitas tubuh terhadap Covid-19. Disamping, vaksin juga merupakan cara pemerintah untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity). Situasi di mana sebagian besar masyarakat terlindung atau kebal terhadap penyakit tertentu sehingga menimbulkan dampak tidak langsung (indirect effect), yaitu turut terlindunginya kelompok masyarakat yang rentan dan bukan merupakan sasaran vaksinasi. Terakhir, pada dasarnya vaksinasi dilakukan bukan sebatas bertujuan untuk memutus mata rantai penularan penyakit dan menghentikan wabah. Vaksinasi bertujuan mengeliminasi bahkan memusnahkan sama sekali penyakit Covid-19. Terkakhir manfaat vaksin adalah mencegah virus Covid-19 menyebar dan bereplikasi yang memungkinkannya bereplikasi dan mungkin lebih kebal terhadap vaksin.

Setiap jenis vaksin apapun namanya Vaksin Merah Putih, Sinovac, Astrazaneca, Moderna, Sinopharm dan Pfizer & BioNTech mempunyai cara kerja yang berbeda-beda dalam melindungi kesehatan penerima vaksin. Tapi secara umum semua jenis vaksin apapun mereknya berfungsi men-suply “memory” sel limfosit-T dan memory sel limfosit-B kedalam tubuh penerima vaksin. Sel limfosit T merupakan sel darah putih yang penting dalam sistem kekebalan dan memainkan peran penting dalam respons imun adaptif. Sel darah putih ini bekerja menyerang sel tubuh yang sudah terpapar virus. Sementara limfosit B berfungsi untuk memproduksi antibodi untuk menyerang bakteri, virus dan racun. Kedua sel ini memahami bagaimana cara melawan apabila virus Covid-19 menginfeksi tubuh kita. Vaksin yang disuntikkan pada tubuh kita membutuhkan waktu beberapa minggu untuk bisa menghasilkan sel limfosit T dan sel limfosit B untuk menghadapi virus yang mungkin akan menginfeksi kita. Karenanya, dalam kasus tertentu ada orang-orang tertentu yang merasakan gejala demam dan lain-lain. Hal ini wajar adanya sebagai tanda bahwa tubuh kita sedang membangun imunitas (building immunity).

 

Semua jenis vaksin yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat adalah vaksin yang dibuat oleh para ilmuwan berkaliber dunia. Disamping melalui proses riset panjang sebelum mereka (para ilmuwan) terlebih dahulu melakukan penelitian dasar. Dalam penelitian dasar ini baik virus, sel-sel yang terkait dengan virus dan sel-sel yang terinfeksi oleh virus tersebut diteliti. Pasca penelitian dasar, para ilmuwan melakukan uji pra klinis atau dalam istilah populernya dilakukan studi envitro dan envivo. Vaksin yang dibuat diuji terlebih dahulu pada sel untuk kemudian pada hewan untuk mengetahui apakah aman atau tidak apabila diuji cobakan pada manusia. Tahap terakhir sesudah dilakukan uji pra-klinis, baru vaksin tersebut dilakukan uji klinis. Dalam uji klinis dipastikan keamanan dosis pada manusia, menilai farmakokinetik (ilmu yang mempelajari perjalanan obat) dan farmakodinamik (studi tentang efek biokimia dan fisiologis obat) untuk memastikan vaksin tersebut aman bagi manusia.

Vaksin yang sudah melewati lima tahapan dari riset dasar, pra klinis, uji klinis tahap I, tahap II dan tahap III itulah yang saat ini diberikan pemerintah kepada masyarakat. Artinya, vaksin yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat merupakan vaksin yang benar-benar aman dan tidak membahayakan mereka yang menerima vaksin tersebut. Selain alasan kesehatan, vaksin mempunyai landasan mendasar dalam agama. Agama Islam yang menjadi sumber segala kebenaran menaruh perhatian serius pada kesehatan umat (bangsa). Islam secara tegas menganjurkan umatnya mempertahankan kehidupan, melanjutkan keturunan, juga menjaga akal sehat. Banyak ayat al-Quran dan sabda Rasulullah saw yang mengarah pada hal itu, yang tentu saja bisa menjadi pijakan dasar kewajiban mengikuti program vaksinasi yang digalakkan oleh pemerintah.

Hadits sahih riwayat Abdullah bin Abbas ra., misalnya menarasikan sabda Rasulullah saw, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum fakirmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu,” (HR. Ibnu Abi Dunnya, Al-Hakim, dan al-Baihaqi).

 

Hadits itu mempunyai makna tersurat bahwa Islam memerintahkan umatnya menjaga hidup dan kesehatan. Kesehatan dan kehidupan adalah dua dimensi yang saling berkelindan satu sama lain dan begitu diperhatikan oleh agama Islam. Ajaran Islam yang memerintahkan umatnya untuk menjaga kesehatan dan menjaga jiwa (hifzh nafs) ini menemukan momentum yang tepat, ketika pandemi covid-19 yang memakan banyak korban nyawa. Dalam rangka menjalankan syariat Islam tersebut, pemerintah mengambil ikhtiar maksimal, yakni melalui kebijakan vaksinasi.

Dalil lain tentang wajibnya mendukung kebijakan vaksinasi dari pemerintah adalah sebuah hadits yang menyebutkan, “Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia; kesehatan dan waktu luang.” (HR. al-Bukhari, at-Tirmidzi & Ibnu Majah). Urgensi menjaga kesehatan dan kehidupan ini mendorong para fuqaha’ (pakar fikih) membangun prinsip hukum Islam, yang disebut Maqashid al-Syari’ah. Yakni, tujuan-tujuan Islam sebagai perangkat hukum dalam beragama, berbangsa dan bernegara. Ada lima tujuan hukum Islam, dan dua di antaranya adalah jiwa agar tidak mati dan menjaga keturunan agar terus dapat melanjutkan generasi.

Lebih dari itu, dalam konteks tertentu, upaya menjaga jiwa agar tetap hidup dan sehat harus diutamakan. Adnan Muhammad Umamah mengatakan, lima tujuan dalam Maqashid Syariah tidak dalam satu level, melainkan bertingkat secara hirarkis. Dalam konteks yang mendesak, menjaga manusia tetap hidup harus dikedepankan daripada agama (Adnan Muhammad Umamah, al-Ihkam wa al-Taqrir li Qaidah al-Masyaqqah Tajlib al-Taysir, Beirut: Dar al-Furqan, 2004: 149).

Maksud lebih dikedepankan (muqaddam) di sini berkaitan dengan hukum keringan (rukhshah). Seperti dalam firman Allah swt tentang diharamkannya makan bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih bukan karena Allah. Dalam kondisi terpaksa karena lapar, misalnya, ada rukhshah atau keringan melanggar larangan itu (Qs. al-Maidah: 3). Dari sinilah prinsip hukum menjaga hidup lebih dikedepankan itu dibangun.

Alhasil, pernyataan Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono, yang mengatakan bahwa 90-94 persen pasien yang meninggal karena Covid-19 adalah mereka yang belum melakukan vaksin (Kompas,25/7) adalah fakta yang tidak perlu diperdebatkan lagi bahwa vaksin sangat penting untuk menjaga kesehatan dan jiwa kita. Dari 90-94 persen pasien meninggal karena belum vaksin itu, Tasiman adalah salah satunya. Laki-laki desa, buruh serabutan yang berusaha mengamalkan pemahaman agamanya secara sederhana namun penuh makna; mengikuti para ulama pewaris para nabi melalui fatwa MUI sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan menaati peraturan pemerintah yang juga merupakan perintah Allah (an-Nissa:59) terlebih Tasiman tahu bahwa vaksin yang digalakkan oleh pemerintah adalah untuk menjaga kesehatan dan keselamatan jiwa rakyatnya. Wallahu a’lam bishawab. *

 

Kerjasama Ulama dan Pemerintah Penting untuk Atasi Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan ucapan dan harapannya pada para ulama dalam rangka milad MUI ke-46. Menag berterima kasih pada segenap ulama dan umaro atas jasa-jasanya dalam mengayomi umat, tak terkecuali dalam hal penanggulangan pandemi Covid-19.

“Saya berterima kasih pada sinergi ulama dan umaro dalam ikhtiar penanggulangan pandemi bersama selama satu tahun setengah ini,” kata Menag dalam acara webinar Milad MUI ke-46 yang disiarkan melalui kanal YouTube, Senin (26/7).

Sebab, menurut Menag, ulama telah berkontribusi besar sebagai rujukan dan teladan umat untuk menegakkan protokol kesehatan selama pandemi. Penanggulangan pandemi bukan hanya tugas pemerintah semata tetapi seluruh warga bangsa, dan termasuk para ulama. Saat-saat seperti ini, ulama memiliki peran yang esensial sebagai sumber teladan dalam prokes dan disiplin 5M untuk terhindar dari Virus Covid-19.

Dia menegaskan kembali, kerja sama ulama dalam penanganan pandemi sangat penting. Dia meyakini masyarakat akan mengerti dan mendengar apa yang dikatakan para ulama.

“Saya ingin menegaskan kembali pentingnya peran ulama dan umaro dalam membimbing masyarakat, dalam hal ini kita sama-sama mengedukasi umat agar mereka mau ikhtiar lahir dan bathin dalam menegakkan prokes,” tuturnya.

 

“Selain ikhtiar fisik, ikhtiar batin pun juga harus dilakukan dengan terus memanjatkan doa agar terhindar dari virus ini,” lanjutnya.

Menag juga berjanji akan berupaya dalam optimalisasi fungsi rumah ibadah selama pandemi. Karena itu, ia mengajak pada semua elemen masyarakat untuk melakukan vaksinasi demi tercapainya herd immunity.

 

 

Vaksin Merah Putih Sedang Diteliti untuk Hadapi Varian Delta

SURABAYA(Jurnalislam.com) – Vaksin Merah Putih buatan Universitas Airlangga (Unair) disiapkan secara khusus untuk bisa menghadapi varian Delta. Peneliti konsorsium Vaksin Merah Putih Unair Ni Nyoman Tri Puspaningsih mengatakan, pengembangan vaksin menggunakan dua metode, yakni metode inaktivasi virus dan adenovirus.

“Dalam platform adeno kita mendesain untuk welltype yang dari Wuhan dulu dan yang mutan. Tampaknya chance-nya lebih baik kita pakai desain yang mutan karena (virus) yang Wuhan kan tidak ada sama sekali. Jadi ke depannya kami pakai desain yang mutan karena saat ini sudah varian Delta,” kata Nyoman di Surabaya, Selasa (27/7).

Nyoman mengatakan, pengembangan Vaksin Merah Putih dengan metode inaktivasi virus juga didesain bisa melawan varian baru. Virus yang telah diinaktivasi juga telah menggunakan varian Delta. Artinya, platform inaktivasi virus yang digunakan untuk membuat vaksin berbeda dengan vaksin Sinovac meski platform-nya sama.

“Dalam inactiveted juga virusnya pun sudah virus mutan. Kita sudah ada strategi untuk mengikuti perkembangan virusnya, jadi bukan Wuhan yang zaman lama itu. Jadi insya Allah inactivated juga bagus untuk melawan virus mutan termasuk varian Delta,” ujar Nyoman.

sumber: republika.co.id

 

Biden Putuskan Tarik Pasukan, Akhiri Misi Perang AS di Irak

WASHINGTON(Jurnalislam.com) – Presiden AS Joe Biden dan Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi pada Senin (26/7/2021) menandatangani perjanjian yang secara resmi mengakhiri misi tempur AS di Irak pada akhir 2021. Ini akan mengakhiri setelah lebih dari 18 tahun pasukan AS dikirim ke negara itu.

Ditambah dengan penarikan pasukan Amerika di Afghanistan yang akan selesai pada akhir Agustus, presiden Biden sedang mengakhiri misi tempur AS dalam dua perang yang dimulai oleh Presiden George W. Bush.

Biden dan Kadhimi bertemu di Ruang Oval, ini pertemuan tatap muka pertama mereka sebagai bagian dari dialog strategis antara Amerika Serikat dan Irak.

“Peran kami di Irak akan
tersedia untuk terus melatih, membantu, membantu dan menangani ISIS saat muncul, tetapi pada akhir tahun ini kami tidak akan berada di misi tempur,” kata Biden kepada wartawan saat dia dan Kadhimi bertemu.

Saat ini ada 2.500 tentara AS di Irak yang fokus melawan sisa-sisa ISIS. Peran AS di Irak akan beralih sepenuhnya ke pelatihan dan sebagai penasehat militer Irak untuk mempertahankan diri.

Pergeseran ini diperkirakan tidak akan berdampak besar karena Amerika Serikat telah fokus ke arah pelatihan pasukan Irak.

Sebagaimana diketahui, sebuah koalisi pimpinan AS menginvasi Irak pada Maret 2003 berdasarkan tuduhan bahwa pemerintah pemimpin Irak Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal. Saddam digulingkan dari kekuasaan, tetapi senjata pemusnah massal yang dituduhkan itu tidak pernah ditemukan.

Dalam beberapa tahun terakhir misi AS didominasi dengan membantu mengalahkan militan Negara Islam di Irak dan Suriah.

“Tidak ada yang akan menyatakan misi tercapai. Tujuannya adalah kekalahan abadi ISIS,” kata seorang pejabat senior pemerintah kepada wartawan menjelang kunjungan Kadhimi.

Referensi itu mengingatkan pada spanduk besar “Mission Accomplished” di kapal induk USS Abraham Lincoln di atas tempat Bush memberikan pidato yang menyatakan operasi tempur besar di Irak pada 1 Mei 2003.

“Jika Anda melihat dimana kami berada, dimana kami memiliki helikopter Apache dalam pertempuran, ketika kami memiliki pasukan khusus AS yang melakukan operasi reguler, itu adalah evolusi yang signifikan. Jadi pada akhir tahun ini kami pikir kami akan berada di tempat yang baik untuk benar-benar secara resmi pindah ke peran sebagai penasehat dan pengembangan kapasitas,” kata pejabat itu.

Diplomat dan pasukan AS di Irak dan Suriah menjadi sasaran dalam tiga serangan roket dan pesawat tak berawak awal bulan ini. Analis terpercaya menyatakan serangan itu dilakukan oleh milisi yang didukung Iran.

Pejabat senior pemerintah tidak mengatakan berapa banyak pasukan AS yang akan tetap berada di Irak untuk sebagai penasehat dan memberi pelatihan.

Kadhimi dipandang bersahabat dengan Amerika Serikat dan telah mencoba untuk mengontrol kekuatan milisi yang bersekutu dengan Iran. Tetapi pemerintahnya mengutuk serangan udara AS terhadap pejuang yang bersekutu dengan Iran di sepanjang perbatasannya dengan Suriah pada akhir Juni lalu, Kadhimi menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan Irak.

Perjanjian AS-Irak diharapkan merinci sejumlah perjanjian non-militer terkait kesehatan, energi, dan hal-hal lain.

Amerika Serikat berencana untuk memberi Irak 500.000 dosis vaksin COVID-19 Pfizer/BioNTech (PFE.N), di bawah program berbagi vaksin COVAX global. Biden mengatakan vaksin akan tiba dalam beberapa minggu.

Amerika Serikat juga akan menyediakan $5,2 juta untuk membantu mendanai misi PBB untuk memantau pemilu di Irak pada Oktober nanti.

“Kami menantikan untuk melihat pemilihan pada bulan Oktober,” kata Biden. (Bahri)

Sumber: Reuters

Kasus Covid Menurun Karena Jumlah Testing Anjlok

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Tren penambahan kasus positif covid-19 menunjukkan penurunan sepekan terakhir. Setelah sempat menyentuh puncaknya dengan 56.757 kasus pada 15 Juli lalu, secara perlahan penambahan kasus harian mulai turun.

Bahkan pada Senin (26/7), dilaporkan ada 28.228 kasus baru. Angka ini menjadi yang terendah dalam tiga pekan, atau kembali ke kondisi awal Juli 2021.

Tapi tampaknya masyarakat belum bisa lega dengan kondisi ini. Dari data yang dirilis Satgas Penanganan Covid-19, terlihat bahwa penurunan kasus harian seiring dengan anjloknya kapasitas testing.

Pada Senin (26/7) misalnya, jumlah spesimen yang diperiksa hanya 160.589 spesimen. Angka ini jauh di bawah kemampuan testing pada pekan-pekan sebelumnya yang bisa tembus nyaris 300 ribu spesimen per hari.

Jumlah orang yang diperiksa juga turun menjadi hanya 112.382 orang pada Senin (26/7). Padahal sebelumnya bisa tembus sampai 200 ribu orang yang dites dalam sehari.

Sebagai bukti penunjang bahwa ada korelasi antara penurunan tren kasus Covid-19 dengan anjloknya kapasitas testing, Republika.co.id mencoba mengutip lonjakan kasus yang sempat terjadi pada 22 Juli lalu.

Saat itu, angka kasus pada Kamis (22/7) dilaporkan sebanyak 49.509 orang. Angka ini naik tajam dari Rabu (21/7) dengan 33.772 kasus baru. Di sisi lain, kapasitas testing ternyata juga mengalami lonjakan dari 153.330 spesimen menjadi 294.470 spesimen.

Namun di sisi lain, kabar baiknya adalah jumlah pasien sembuh terus mengalami peningkatan. Pada Senin (26/7) tercatat ada 40.374 orang yang dinyatakan sembuh dari Covid-19 pada Senin (26/7). Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang pandemi melanda Indonesia.

Grafik penambahan pasien sembuh harian menunjukkan bahwa tren lonjakan jumlah pasien sembuh mulai terjadi pada pertengahan Juni 2021. Hal ini memang sejalan dengan lonjakan angka kasus Covid-19 yang juga signifikan pada momen yang sama.

Sumber: republika.co.id

Pemerintah Lobi Saudi Agar Indonesia Diizinkan Umrah

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Plt Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Khoirizi membenarkan bahwa Arab Saudi akan mulai mengizinkan jemaah umrah dari luar negaranya mulai 10 Agustus 2021.

Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi sebagaimana  tercantum dalam edaran, di antaranya terkait vaksin dan keharusan karantina 14 hari di negara ketiga sebelum tiba di Saudi bagi 9 negara (India, Pakistan, Indonesia, Mesir, Turki, Argentina, Brasil, Afrika Selatan, dan Lebanon).

“Perwakilan pemerintah di Saudi, yaitu KJRI di Jeddah, telah menerima edaran tersebut pada 15 Zulhijjah 1442H atau 25 Juli 2021. Kami masih pelajari,” terang Khoirizi di Jakarta, Senin (26/7/2021).

Menurutnya, berkenaan dengan edaran tersebut, KJRI di Jeddah akan melakukan upaya diplomasi melalui Deputi Umrah Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi. Salah satu isu yang dibahas adalah terkait keharusan karantina 14 hari di negara ketiga. “Kami berharap jemaah Indonesia tidak harus dipersyaratakan seperti itu,” ujarnya.

“Kami dalam waktu dekat juga akan berkoordinasi dengan Dubes Saudi di Jakarta untuk menyampaikan hal dimaksud,” sambungnya.

Terkait syarat vaksin booster dari Pfizer, Moderna, AstraZeneca, atau Johnson & Johnson, Khoirizi akan membahas hal tersebut dengan Kementerian Kesehatan, Satgas Pencegahan Covid-19, dan BNPB.

“Kita akan lakukan langkah koordinasi dengan Kemenkes dan pihak terkait lainnya untuk membahas persyaratan tersebut, agar kebutuhan jemaah umrah Indonesia bisa terlayani,” tegasnya.

“Kita berharap pandemi bisa segera teratasi sehingga jemaah Indonesia bisa menyelenggarakan ibadah umrah secara lebih baik,” harapnya.

Khoirizi menambahkan bahwa selama ini penyelenggaraan ibadah umrah dilakukan oleh pihak swasta (Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah/PPIU), bersifat Bussines to Bussines (B to B), bukan Government to Government (G to G).

“Kita akan bahas bersama hal ini dengan asosiasi PPIU terkait persyaratan yang ditetapkan Saudi,” sebut Khoirizi.

“Untuk kepentingan jemaah, kami juga tetap akan mencoba melakukan lobi,” tandasnya.

 

Alumni MAN IC Serpong Raih Medali Perak Olimpiade Internasional Biologi

SERPONG(Jurnalislam.com) — Farrel Alfaza Marsetyo baru saja menyelesaikan pendidikannya di Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) Serpong. Belum lama meninggalkan madrasahnya, siswa angkatan 24 ini mengharumkan nama Indonesia, meraih Medali Perak dalam ajang  32nd International Biology Olympiad (IBO) 2021 Lisbon Portugal.

Lomba cabang biologi internasional ini berlangsung dari 18 – 24 Juli 2021 dan diikuti kurang lebih 76 negara.

Keikutsertaan Farrel Alfaza pada ajang ini melalui seleksi yang panjang dan ketat. Siswa yang akrab disapa Alfaza ini akhirnya berhasil mewakili Indonesia bersama tiga siswa dari sekolah lainnya. Bersama Tim Olimpiade Biologi Indonesia, Alfaza meraih silver medal. Namanya bersanding dengan negara lain yang juga meraih medali perak seperti Germany, Mongolia, Slovenia, Belarus, South Korea, India, Armenia, Hungary, Switzerland, dan Czech Republic.

“Yang pasti saya sangat senang bisa berhasil mewakili Indonesia di ajang internasional, sekaligus bisa mendakwahkan Islam melalui prestasi,” tutur Mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM yang lolos jalur SNMPTN ini, mengungkapkan rasa harunya atas raihan prestasi IBO, Minggu (25/7/2021).

Bagi Alfaza belajar adalah ibadah, prestasi adalah dakwah.

Meski IBO tahun ini diikuti secara daring/ online, hal tersebut tetap merupakan pengalaman berharga bagi Alfaza dan sama sekali tak menyurutkan semangatnya untuk memberikan yang terbaik bagi Indonesia. “Luruskan niat, kuatkan tekad, dan berikhtiar dengan doa dan usaha. Lalu juga minta rido dari guru dan orang tua,” pesan Alfaza untuk siswa Indonesia khususnya madrasah agar mampu berprestasi internasional seperti dirinya.

Kepala MAN IC Serpong Abdul Basit mengaku haru dan bangga atas capaian Alfaza. Apalagi, prestasi ini diraih pada situasi pandemi Covid-19. Dia berharap prestasi ini bisa menjadi motivasi bagi adik-adik kelasnya di MAN IC Serpong maupun siswa madrasah lainnya.

International Biology Olimpiad 2021 merupakan even olimpiade berjenjang dari tingkat madrasah/sekolah, kabupaten/kota, provinsi, nasional sampai internasional. Di Indonesia, kegiatan ini diselenggarakan oleh kemendibud RI.

 

Di Bawah Kepemimpinan KH Miftachul Akhyar, MUI Lakukan Tiga Hal Ini

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ketua Umum MUI, KH Miftachul Akhyar, menyampaikan capaian kinerja MUI Periode 2020-2025 pada saat perayaan Milad Ke-46 MUI. Meski usia kepengurusan baru setengah tahun, namun MUI selama ini sudah sangat sibuk khususnya menangani masalah pandemi Covid-19.

Dia menyampaikan bahwa masing-masing periode kepengurusan MUI memiliki masalahnya sendiri-sendiri dan masalah utama periode ini adalah Covid-19.

“Periode ini tantangan utama yang harus kita hadapi adalah pandemi Covid-19 dan dampak-dampaknya. Termasuk juga virus-virus yang membawa fitnah dan membahayakan banyak pihak. Pandemi tersebut memaksa kita menyesuaikan diri dengan permasalahan tersebut. Maka itu di awal periode ini MUI memberikan porsi banyak dalam penanggulangan Covid-19,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam acara Milad MUI Ke-46, di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Senin (26/7).

Dia menyampaikan, MUI sejak awal sudah memberikan panduan terhadap umat Islam tentang cara menjalankan ibadah yang sesuai dengan kondisi Covid-19. Beberapa fatwa lahir khususnya memberikan panduan. MUI dalam beberapa kesempatan juga berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk melakukan edukasi maupun vaksinasi Covid-19.

“MUI aktif terlibat dalam penanggulangan akibat Covid-19 yang bersifat ekonomi. MUI akan terus berperan dalam penanggulangan Covid-19,” ujarnya.

Selain Covid-19, MUI juga terus memberikan pembenahan di internal organisasi. MUI meneruskan program ISO 9001:2015 sebagai upaya memperbaiki manajemen organisasi internal. Hal ini untuk memacu kinerja MUI menjadi lebih baik di masa mendatang.

Terkait ekonomi syariah, MUI juga terus menjalankan perannya untuk mensyariahkan ekonomi masyarakat dan memasyarakatkan ekonomi syariah. Melalui DSN, MUI terus menerbitkan fatwa-fatwa terbaru sebagai landasan bagi pelaku maupun regulator industri keuangan syariah. DSN MUI dalam waktu dekat juga akan memperluas kantornya menjadi dua muka depan dan belakang untuk semakin menopang kinerjanya. Terlebih, saat ini perkembangan ekonomi syariah mendapatkan dukungan berbagai pihak.

 

“DSN MUI juga terus memberikan sosialisasi, edukasi, dan literasi tentang ekonomi syariah, ” ujarnya.

Terkait industri halal, lanjut Kiai Miftach, MUI juga terus terlibat baik dalam fase pemeriksaan produk melalui LPPOM MUI maupun penetapan halal di Komisi Fatwa. MUI memang sudah memiliki pengalaman panjang di industri halal dan terus memberikan pesan dan peran di industri ini. Termasuk dalam memberikan masukan kepada pemerintah.

Tidak berhenti di situ saja, MUI dalam beberapa kesempatan juga terus mengadvokasi undang-undang yang sesuai kepentingan umat. Sejak dulu, MUI memiliki tim khusus untuk memantau UU yang terkait dengan umat. Yang terbaru, MUI hadir di DPR RI dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) mengenai UU Minuman Beralkohol.

 

“Terkait advokasi peraturan perundang-undangan, MUI akan terus memperjuangkan aspirasi umat dan mengadvokasi. Jangan sampai ini bertentangan dengan prinsip dan ajaran Islam, ” ujar dia.

Di hadapan peserta Milad Ke-46 MUI yang hadir secara daring, Kiai Miftach menyampaikan terimakasih atas kinerja pengurus Komisi, Badan, dan Lembaga di lingkungan MUI dalam setengah tahun lebih ini. Meski dengan fasilitas terbatas, namun banyak pekerjaan yang bisa dituntaskan dengan baik.

“Saya sebagai ketua umum menyampaikan terimakasih kepada semua pengurus karena dengan tulus ikhlas menjalankan tugas masing-masing. Kami menyadari berbagai fasilitas terbatas namun semua itu kita jalankan dan laksanakan dengan baik. Kerjasama dengan berbagai pihak seperti pemerintah maupun swasta juga bisa terjalin baik, ” ujarnya. (mui)

 

Kiai Cholil Nafis: MUI Sarana Rekatkan Ukhuwah Umat

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Majelis Ulama Indonesia hari Senin (26/7) ini tepat berusia 46 tahun. Di usia yang tak lagi muda ini MUI telah memberikan kontribusi bagi ke-Islaman dan ke-Indonesiaan.

Saat berbincang dalam rangka refleksi dan tahniah Milad ke-46 MUI, Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Muhammad Cholil Nafis menilai, kedepan dakwah dan ukhuwah akan bersifat paralel.

Dijelaskan Kiai Cholil Nafis, selain bisa mengajak umat untuk berislam yang baik, MUI juga dapat menjadi sarana membangun dan merekatkan ukhuwah umat.

“Komisi Dakwah dan Ukhuwah, untuk sekarang ini selain kita meneruskan program yang lalu, juga memberikan program-program yang baru,” kata KH Cholil Nafis kepada tim Redaksi MUI, Ahad (25/7).

Ulama pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini menjelaskan, program yang lama adalah bagaimana meneruskan tekad dakwah dan bagaimana kita menyelesaikan aplikasi dakwah.

 

Kata Kiai Cholil, nantinya semua teks keputusan MUI dan info MUI nanti bisa dibuka di aplikasi.

Dia menjelaskan, agenda kerja itu merupakan program Komisi Dakwah MUI yang berkesinambungan. Sementara itu, program pengiriman da’i ke daerah tertinggal dan daerah terpencil, untuk sementara ini terkendala karena pandemi ini.

“Maka yang bisa kita lakukan adalah dengan cara membina para da’i setempat melalui webinar kepada mereka,” ucap Kiai Cholil.

Dakwah, sebagaimana dikatakan Kiai Cholil dapat dilakukan secara lisan juga dengan melakukan beberapa upgrading. Saat Pandemi Covid-19 seperti saat ini berbagai kegiatan bisa dilaksanakan dengan mudah dan murah.

Contohnya, dengan cara kita mengirimkan pesan-pesan kita melalui upgrading per wilayah, bahkan kabupaten-kota.

“Kita ke NTB, Papua, di Jabodetabek, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Utara, Bekasi, Tangerang, dll. Kita bisa lakukan melalui webinar, itu yang sifatnya lisan,” ucap dia.

Lebih jauh Ulama asal Madura ini menjelaskan, MUI juga melakukan berbagai kegiatan. Misalnya MUI memberikan intensif pada para dai dikala pandemi Covid-19. (mui)

 

Rabithah Alawiyah: Masalah Ekonomi Digital Harus Jadi Perhatian Ulama

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Ketua Umum Rabithah Alawiyah Habib Zen bin Smith mengucapkan, mabruk untuk Majelis Ulama Indonesia (MUI), di Milad ke-46 organisasi yang berdiri pada 26 Juli 1975 itu.

Habib Zen berharap, MUI dapat terus berkiprah untuk melayani umat di Indonesia.  Dia memberikan catatan kepada MUI agar memberikan  perhatian dalam kecepatan untuk memberikan solusi dan melalui fatwa yang dikeluarkan mampu  menjawab kebimbangan umat dalam bermuamalah yang aman dan halal.

Dia menjelaskan, perubahan ekonomi digital yang banyak bersinggungan dengan masalah syubhat juga harus diberikan perhatian. Selain itu, kata dia, penggunaan dana tabungan haji, dana zakat juga jangan sampai bertentangan dengan niat nasabah. Karena setiap usaha memiliki faktor risiko.

Selain itu, dia juga mengingatkan kepada MUI agar tegas terhadap berbagai paham dan kegiatan yang menyimpang. ‘’Belum adanya ketegasan terhadap paham-paham atau kegiatan-kegiatan yang jelas menyimpang,’’ujarnya, kepada MUI.OR.ID, Senin (26/7).

Dalam perayaan Milad ke-46 tahun ini, Rabithah Alawiyah berharap agar MUI tidak perlu ragu untuk memberikan keputusan yang halal dan haram.  ‘’Alhalal bayyinun (halal untuk jelas )  wal Haram bayyinun (dan haram juga jelas) jadi tidak perlu ragu memberi keputusan,’’ucapnya.

 

Dia juga mengingatkan agar keputusan atau fatwa yang dikeluarkan sesuai dari ketentuan Allah SWT dalam Alquran dan hadits. ‘’ Jangan sampai keputusan atau fatwa muncul dengan misi lain selain dari ketentuan Allah dalam Alquran dan hadits,’’ tutupnya. (mui)