Vaksinasi Santri dan Kiai Dikebut

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Menag Yaqut Cholil Qoumas mengatakan bahwa vaksinasi untuk jutaan santri terus bergulir. Ikhtiar ini menjadi bagian dari kontribusi santri dan pesantren dalam mewujudkan herd immunity.

“Vaksinasi jutaan santri terus bergulir. Pertengahan Agustus lalu misalnya, saya ikut menyaksikan dan memberikan sambutan pada Kick Off Program 3 Juta Pesantren Jawa Barat Siap Divaksin,” terang Menag di Jakarta, Selasa (31/8/2021).

“Program vaksinasi santri ini terus bergulir di berbagai daerah sebagai bagian partisipasi pesantren dalam mewujudkan herd immunity,” sambungnya.

Menurut Menag, program vaksinasi di pesantren sangat strategis. Sebab, pesantren merupakan sebuah ekosistem. Selain kiai, ustaz, dan santri, tercakup di dalamnya juga masyarakat sekitar pesantren.

“Jika vaksin diberikan ke pesantren, maka secara ekosistem juga akan terbantu,” tutur Menag.

“Vaksinasi santri dan pesantren juga berdampak pada tumbuhnya kepercayaan masyarakat untuk bersama-sama ikut program vaksinasi,” lanjutnya.

Dalam sebulan terakhir, lanjut Menag, tercatat program vaksinasi santri ini dilakukan di banyak pesantren, baik di pulau Jawa maupun luar pulau Jawa. Prosesnya antara lain dilakukan melalui kerjasama Kanwil Kemenag Provinsi atau Kankemenag Kabupaten/Kota dengan Baznas atau LAZ, Dinas Kesehatan, TNI, Polri, dan pihak lainnya.

“Besok Kamis, misalnya, di Jawa Tengah akan mulai diadakan lagi proses vaksinasi untuk kiai, ustaz, dan santri. Program ini menargetkan vaksin untuk 8.635 kiai, 46.181 ustaz/ustazah, dan 539.255 santri,” papar Menag.

Menag optimistis, vaksinasi santri dan stakeholder pesantren akan terus berlangsung dan semakin masif seiring dengan keberadaan vaksin dan kesadaran masyarakat untuk mengikutinya. Vaksinasi santri dan pesantren ini, ujarnya, menjadi komitmen pemerintah, terlebih dalam menyongsong pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas.

“Pemerintah berkomitmen proses vaksinasi santri dan pelajar ini bisa segera diselesaikan, dan itu akan berkontribusi besar dalam pembentukan kekebalan kolektif,” tandasnya.

Pandemi, Peluang Emak-emak Muslimah Jadi Entrepreneur

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Wakil Menteri Agama RI, Buya Zainut Tauhid Sa’adi, menyampaikan bahwa pandemi Covid-19 dan gadget adalah perpaduan bagi muslimah untuk memulai menjadi entrepreneur. Menurutnya, selama pandemi ini, banyak usaha yang gulung tikar. Namun sektor e-commerce, marketplace, dan online justru tumbuh. Dengan demikian, setiap muslimah bisa memanfaatkan momentum ini untuk mulai menjadi entrepreneur.

“Selain banyak usaha yang menurun, banyak juga usaha yang melonjak di saat pandemi ini. E-Commerce adalah satu yang justru tumbuh di saat pandemi berlangsung. Adanya pembatasan sosial dan PPKM justru membuat sektor bisnis online tumbuh baik. Orang kreatif akan mampu memanfaatkan situasi yang sulit ini, ” ujarnya saat memberikan sambutan dalam Workshop Muslimah Entrepreneur Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) MUI secara virtual, Senin (30/08).

Dia mengatakan, ajaran Islam sejak lama tidak pernah membatasi perempuan menjadi pengusaha.

Setiap Muslimah, kata Bua Zainut Tauhid, bisa memetik hikmah dari kisah hidup Nabi Muhammad SAW dan Siti Khadijah. Hikmahnya, teladan Siti Khadijah itu justru menunjukkan bahwa muslimah pengusaha sangat diperbolehkan oleh Islam.

Menurutnya, Muslimah berbisnis itu menjadi hal yang lumrah belakangan ini. Terlebih, dia mencontohkan, kehadiran pengusaha seperti Nurhayati Subakat, pemilik Wardah, membuktikan bahwa kiprah pengusaha muslimah tidak main-main.

 

“Dengan ketekunan, disiplin, kerja keras, beliau sukses membangun bisnisnya. Salah satu kuncinya adalah fokus pada konsumen. Berkaca dari kesuksesan itu, salah satu kuncinya adalah memahami dan memenuhi kebutuhan pelangan. Terlebih konsumen Indonesia sebagian besar muslim memerlukan produk halal, ” ujar Ketua Dewan Halal Nasional MUI ini.

Dia menyampaikan, keberadaan gadget yang hampir selalu ada di genggaman bisa dimanfaatkan untuk memulai bisnis.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan, bila melihat komposisi Generasi Z yang populasinya mencapai 32 persen penduduk dunia, maka pangsa pasar bisnis online sangatlah besar.
Buya Zainut Tauhid berpandangan bahwa setiap muslimah masih memiliki jatah untuk mencicipi kue keuntungan bisnis online itu bila cermat.

 

“Hampir semua kehidupan generasi Z melalui platform online. Gadget tidak hanya sarana informasi dan komunikasi semata. Media sosial bukan semata ajang membagikan hal privat ke publik. Mari gunakan media sosial untuk urusan produktif dan memajukan bisnis kita, ” ujarnya.  (mui)

 

Seluruh Pasukan AS Hengkang dari Afganistan, Taliban Rayakan Kekalahan AS

KABUL(Jurnalislam.com) – Tembakan perayaan bergema di Kabul pada Selasa sebelum fajar (31/8/2021) ketika pejuang Taliban sepenuhnya menguasai bandara Kabul, menyusul penarikan pasukan AS terakhir, sekaligus menandai berakhirnya perang 20 tahun yang kini membuat mujahidin jauh lebih kuat.

Rekaman video yang disebarkan oleh Taliban menunjukkan para pejuang memasuki bandara setelah pasukan AS terakhir terbang dengan pesawat C-17 satu menit sebelum tengah malam, akhir yang memalukan bagi Washington dan sekutu NATO-nya.

“Ini adalah hari bersejarah dan momen bersejarah,” kata juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid pada konferensi pers di bandara setelah keberangkatan.

“Kami bangga dengan momen-momen ini, bahwa kami membebaskan negara kami dari kekuatan besar.” sambungnya.

Sebuah foto dari Pentagon yang diambil dengan optik penglihatan malam menunjukkan tentara AS terakhir yang naik penerbangan evakuasi terakhir dari Kabul adalah Mayor Jenderal Chris Donahue, komandan Divisi Lintas Udara ke-82.

Perang terpanjang Amerika di Afghanistan merenggut nyawa hampir 2.500 tentara AS dan sekitar 240.000 warga Afghanistan, serta menelan biaya sekitar $2 triliun setara Rp. 28.000 triliun.

Meskipun AS berhasil menggulingkan Taliban dari kekuasaan pada 2001 dan menghentikan Afghanistan dijadikan oleh al Qaeda sebagai pangkalan untuk menyerang Amerika Serikat, kini semua itu berakhir dengan Taliban menguasai lebih banyak wilayah daripada ketika mereka terakhir memerintah pada 2001.

Taliban telah menegakkan hukum Islam dari tahun 1996 hingga 2001, dan kini dunia sedang menanti untuk melihat apakah Taliban akan membentuk pemerintahan yang lebih moderat dan inklusif dalam beberapa bulan mendatang. (Bahri)

Sumber: Reuters

UMKM Pesantren Diperkuat dengan Digital

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Ikhtiar Kementerian Agama untuk menguatkan kemandirian pesantren terus dilakukan. Salah satunya, dengan menggelar pelatihan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pesantren.

“Kita bersyukur, memiliki menteri yang berkomitmen dalam membangun ekonomi Pesantren. Kita menginginkan pesantren yang semakin mandiri. Karena itu kita harus benar-benar menyatukan visi dan semangat sehingga apa yang diharapkan dapat tercapai,” pesan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Nizar Ali, di depan peserta Pelatihan Penguatan UMKM Pesantren bagi Penguatan Ekonomi Pondok Pesantren, Bogor, Selasa (31/8/2021).

Menurutnya, pesantren selama ini terbukti tangguh dan selalu survive secara ekonomi. Hanya saja, belum banyak yang menemukan bisnis model yang ekspansif.

Nizar menilai saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mendongkrak semua potensi pesantren, karena ada beberapa momentum yang perlu disambut dengan ikhtiar yang serius.

“Pertama, momentum Undang-Undang Pesantren. Lahirnya UU Pesantren ini melegitimasi peran pesantren yang tidak hanya dalam bidang pendidikan, namun juga pemberdayaan ekonomi,” tegas Nizar Ali.

Munculnya Undang-Undang Nomor 18 tahun 2019 tentang Pesantren, kata Nizar, adalah entry point yang sangat penting untuk menjadikan pesantren sebagai lembaga berkualitas, terutama dari aspek pengelolaan dan pemberdayaan.

Kedua, momentum Merger Bank Syariah. Sebagaimana diketahui, tiga bank syariah nasional telah melakukan merger menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI) yang saat ini termasuk dalam peringkat tujuh perbankan nasional dengan aset 240 triliun dan top 10 perbankan syariah dunia dalam kapitalisasi market. BSI telah memproyeksikan 53,83 triliun penyaluran UMKM atau 23 persen dari total penyaluran dana.

“Momentum ini harus disambut pesantren dengan mengondisikan diri untuk siap memanfaatkan peluang tersebut terkait akses pembiayaan,” jelasnya.

Ketiga, momentum Covid-19 dan momentum digital. Pandemi covid-19 telah mengubah paradigma dan lifestyle dalam hal pembiasaan baru, yakni digitalisasi. Pembatasan mobilitas selama pandemi covid-19 telah mempercepat dan mengakselerasi digitalisasi di berbagai aspek kegiatan ekonomi.

“Momentum digitalisasi membuka peluang terbukanya pasar yang lebih luas termasuk bagi UMKM yang dijalankan pesantren,” sebut Nizar.

Lebih jauh, mantan Kakanwil Di Yogyakarta ini melihat ada satu keunggulan yang dimiliki pesantren. Yaitu, Market Ekonomi Potensial. Kebutuhan consumers goods (FMCG) di atas 90 juta masyarakat hidup di sekitar pesantren. Itu merupakan market ekonomi yang besar, selain juga potensial bagi pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf).

“Dengan usaha serius, kita yakin pesantren tidak hanya menjadi pelaku, melainkan menjadi motor utama pengembangan dan Penguatan UMKM. Bagaimanapun UMKM dengan pesantren include di dalamnya, telah terbukti menjadi penggerak ekonomi nasional,” papar Nizar.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Waryono Abdul Ghofur berharap peserta Pelatihan Penguatan UMKM Pesantren ini dapat menjadi agen-agen yang akan mendesimenasikan visi dan semangat Kemandirian Ekonomi Pesantren di lingkungan masing-masing. Sehingga, apa yang diprogramkan bersama Kementerian Agama dapat berjalan optimal.

“Sampai tahun 2024, kita akan menyaksikan Badan Usaha milik Pesantren, betul-betul milik Pesantren,” harap Waryono.

 

Rektor UIN Jakarta: Muslimah Berperan Penting dalam Pemberdayaan Ekonomi Umat

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ketua Majelis Ulama Indonesia bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga (MUI-PRK), Prof. Dr. Hj. Amany Lubis menyambut baik upaya pemberdayaan ekonomi umat, khususnya di kalangan muslimah.

Ungkapan itu ia sampaikan dalam acara Workshop Muslimah Entrepreneur pada Senin, (30/8) yang diselenggarakan Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia.

Menurut Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, upaya pemberdayaan ekonomi di kalangan muslimah maupun umat perlu didorong. Sebab, saat ini setiap dari kita harus mengambil peran dengan berkontribusi secara positif.

“Kita harus berkontribusi secara positif kepada keluarga dan masyarakat. (Untuk) akhirnya nanti bangsa Indonesia turut terjaga makmur sejahtera,” ungkapnya saat memberikan sambutan melalui virtual Zoom meeting.

Dikatakan Prof Amany, selain bertujuan menjaga tingkat kesejahteraan masyarakat, pemberdayaan ekonomi kepada para muslimah juga dapat menjadi upaya penting di masa pandemi ini. Prof Amany meyakini dampak pandemi yang begitu dahsyat bisa dilewati apabila kesejahteraan masyarakat turut terjaga.

 

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini juga mengingatkan bahwa upaya pemberdayaan harus diupayakan secara bersama. Pemberdayaan di bidang entrepreneurship kepada perempuan juga harus beradaptasi dengan situasi yang ada.

Perempuan yang juga Doktor Sejatah Kebudayaan Islam ini menuturkan pentingnya mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam upaya pemberdayaan ekonomi, khususnya agar tercipta ekonomi yang bersifat digital.

“Kreativitas dan inovasi (harus) kita kembangkan agar kita bisa melaksanakan kemandirian ekonomi bersifat digital,” lanjutnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, saat ini marak ibu-ibu rumah tangga yang juga ikut berdagang secara online karena situasi yang mendesak, dan adanya perhatian untuk saling membantu.

Menurutnya, tindakan ibu-ibu seperti itu tidak terlepas dari besarnya potensi untuk pengembangan ekonomi di Indonesia yang beragam

“Potensi untuk pengembangan ekonomi, home industry, atau ekonomi umat di pelosok Indonesia ini sangat besar. Jadi banyak produk hasil bumi Indonesia yang bisa diolah dan dikembangkan menjadi sumber usaha,” pungkasnya.

Prof Amany Lubis menutup sambutannya dengan harapan agar Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga dapat menerbitkan buku atau booklet tentang muslimah entrepreneur, maupun pengusaha perempuan Indonesia. (mui)

 

MUI Dorong Penengakkan Hukum Bagi Pelanggar Prokes

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ketua Lembaga Kesehatan MUI, Adib Khumaidi, menyampaikan peningkatan kasus positif Covid-19 di bulan Juli sangat tinggi. Namun demikian, pada bulan yang sama kesadaran masyarakat akan pentingnya vaksinasi juga makin bertambah banyak.

Dia berharap, kesadaran masyarakat ini terus tumbuh dengan dibarengi edukasi yang maksimal dari semua pihak. Dia tidak ingin kesadaran masyarakat tumbuh semata karena lonjakan kasus dan kematian seperti yang terjadi pada Juli itu.

“Dengan adanya lonjakan kasus, satu sisi memang memberikan konsekuensi meningkatkan angka kematian pada bulan Juli. Tapi ada hal lain yang menjadi hikmah, respons masyarakat untuk divaksin juga naik. Salah satu tugas utama kita adalah mengatasi miss informasi terkait Covid-19 itu sendiri dan vaksin,” ujarnya Sabtu (28/08) dalam acara Webinar Perkembangan Terkini di Covid-19 di Indonesia secara virtual.

Ketua Terpilih PB Ikadatan Dokter Indonesia (IDI) itu mengatakan, berbagai pihak harus terus menerus melakukan edukasi pentingnya vaksinasi kepada masyarakat.

Dia juga menekankan pentingnya melibatkan berbagai kelompok sosial masyarakat seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, sampai civil society. Tujuannya, untuk memberikan keteladanan terkait Covid-19 dan vaksinasi.

Kata Adib, jika keterlibatan berbagai kelompok masyarakat maksimal maka akan lahir role model yang menularkan kesadaran vaksinasi di tengah masyarakat.

 

“Selain vaksinasi, kita juga harus terus mengupayakan temuan kasus (tracing) baik secara pasif maupun secara aktif. Kita tingkatkan kemampuan testing yang meningkat, kemudian menyiapkan lokasi isolasi mandiri yang terpusat. Apabila ada lonjakan kasus seperti Juli ini, kita harus menyiapkan isolasi mandiri yang terpantau,” ujar dia.

Dorongan vaksinasi dan kesadaran Covid-19 itu, ujar dia, bisa pula melalui penegakan hukum.

Selain itu, juga diperlukan usaha untuk menerapkan reward and punishment. Namun demikian, dia menegaskan, edukasi tetap harus jadi pilihan utama sehingga lahir kesadaran utuh dan mandiri dari masyarakat.

“Segala upaya itu ditambah protokol kesehatan lima M mendorong kita memengani peperangan melawan Covid-19,” paparnya. (mui)

 

Pemikiran Ibnu Khaldun Tentang Tata Negara Dibedah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kemenag menggelar bedah buku ‘Negara Rasional : Warisan Pemikiran Ibnu Khaldun’. Buku ini ditulis oleh Dr. Abdul Aziz, MA.

Hadir sebagai pembanding, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Ali Munhanif, serta pengamat dan peneliti LP3ES Jakarta, Fachry Ali.

Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan M. Adlin Sila menyampaikan bahwa buku ‘Negara Rasional : Warisan Pemikiran Ibnu Khaldun’, yang ditulis Abdul Aziz mengulas kajian mendalam tentang pemikiran Ibnu Khaldun. Buku ini menyajikan kritik Ibnu Khaldun terhadap teori khilafah sebagai sistem politik berbasis syariah.

“Semoga bedah buku ini, mendatangkan manfaat dan masukan bagi kita semua, sehingga dapat memberi masukan pengambil kebijakan-kebijakan bagi pemerintah yang lebih baik,” kata Adlin Sila saat membuka bedah buku, di Jakarta, Senin (30/8/2021).

Penulis buku Abdul Aziz menyampaikan bahwa bukunya berisi tentang rekonstruksi konsep negara (Daulah) menurut Ibnu Khaldun, dalam kerangka ilm al-umran (ilmu budaya/peradaban). “Dari konsep Badawah (budaya dusun/gurun) menuju Hadlarah (budaya kota/peradaban), hingga pada konsep Ashabiyyah (kohesi sosial) menuju Daulah (Al-Mulk al-Tam), sebagai proses dinamis dalam garis Badawah-Hadlarah,” kata Abdul Azis.

Bagi Abdul Aziz, Hadlarah (al-Tafannun fi al-Taraf) merupakan proses penghalusan/penyangihan kemewahan dan segala ikutannya dalam kehidupan.

Abdul Aziz mengupas dalam bukunya bahwa negara khilafah lahir dari lingkungan ashabiyyah Arab yang dalam proses awalnya berbasis agama, lalu merosot hingga basis agamanya terkikis, sebelum akhirnya runtuh.

“Al-siyasah al-aqliyyah (sistem politik nasional) adalah sistem politik yang dikelola berdasarkan pertimbangan rasional, sebagai basis pembentukan negara yang stabil, berkelanjutan, dan berperadaban,” tutup Abdul Aziz.

Bedah buku ini diselenggarakan oleh Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama secara Daring dan Luring.

89 Hafiz Indonesia Lolos Seleksi Awal Imam Masjid UEA

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Kementerian Agama mengumumkan 89 hafiz 30 juz Al-Qur’an asal Indonesia yang lolos Seleksi Calon Imam Masjid Uni Emirat Arab (UEA) tahap pertama. Dari seleksi yang dilaksanakan pada 25-27 Agustus 2021 secara daring, Kemenag menilai adanya peningkatan kualitas peserta dibandingkan tahun sebelumnya.

“Dari 213 peserta ada 89 calon imam yang lolos dan berhak mengikuti seleksi tahap kedua dengan penguji dari Otoritas Uni Emirat Arab (UEA). Secara umum, kualitas peserta baik dan bagus, semakin baik dari seleksi sebelumnya,” ungkap Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Syamsul Bahri di Jakarta, Selasa (31/8/2021).

Syamsul menambahkan, seleksi kedua oleh Otoritas UEA akan jauh lebih kompetitif dengan bobot soal yang makin meningkat. Karenanya, Syamsul berharap agar 89 calon imam terus mempersiapkan diri.

“Persiapkan diri secara optimal. Lakukan pengulangan hafalan karena butuh kekuatan dan persiapan lebih matang termasuk membaca kembali rujukan fikih dan mengasah kemampuan Bahasa Arab. Ujian tahap kedua lebih menantang. Bobot soal lebih kompleks,” tambahnya.

Terkait pelaksanaan seleksi tahap kedua, Kemenag akan terus melakukan koordinasi dengan Otoritas UEA. Katanya, akan ada banyak penyesuaian terkait mekanisme seleksi karena adanya pandemi Covid-19 yang belum berakhir.

“Selamat, mudah-mudahan mampu mempersiapkan diri seoptimal mungkin hingga pada saat seleksi tahap kedua yang menentukan dapat memberikan penampilan terbaik,” pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menargetkan 100 orang hafiz Indonesia dapat terpilih untuk menjadi imam masjid di Uni Emirat Arab (UEA) sebelum lawatan Presiden Joko Widodo ke UEA pada November.

“Tahun ini mereka (UEA) minta 100 (orang), tahun depan 100, kita sedang kejar supaya sebelum kunjungan Presiden Jokowi ke Uni Emirat Arab yang direncanakan November, target 100 ini bisa dipenuhi,” kata Menag Yaqut dalam rapat dengan Komisi VIII DPR, Senin (30/8/2021)

Peluang Bisnis Buku Islam di Tengah Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com)–MarkPlus Islamic kembali menghadirkan diskusi interaktif pada Muharram Marketing Festival 2021 hari ke-2 yang diadakan secara virtual melalui Zoom dan kanal Youtube Marketeers TV.

Mengulas tren pemasaran islami yang terkini di industri penerbitan dan edukasi, webinar kali ini dihadiri oleh lima pembicara diantaranya; Sari Meutia selaku CEO Mizan Publika, Irwan Kelana selaku Redaktur Senior Harian Republika, dan Dr. Helvy Tiana Rosa, M.Hum selaku Pendiri Forum Lingkar Pena dari sektor buku dan penerbitan.

Sementara dari sektor edukasi, webinar ini dihadiri oleh Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, M. Sc selaku Rektor Universitas Al Azhar Indonesia, Andy Dwi Bayu Bawono, S.E. M.Si., Ph.D selaku Wakil Bendahara Majelis Pendidikan Tinggi dan Litbang Muhammadiyah, dan Dr. H. Mohammad Zahri M.Pd. selaku Ketua Umum Jaringan Sekolah Islam Terpadu (USIT) Indonesia.

Webinar ini dimoderatori oleh H.Taufik selaku CEO MarkPlus Islamic dan Deputy Chairman MarkPlus, Inc. Taufik berharap acara ini mampu mendukung upaya pemerintah Indonesia memajukan Indonesia dalam Global Islamic Economy.

Membuka diskusi ini, Taufik menilai ada perkembangan luar biasa pada Islamic Bookfair yang lebih meriah dibanding pameran buku pada umumnya, meski di luar dugaan, hal ini menunjukkan adanya tren ketertarikan masyarakat terhadap buku-buku Islam.

“Awalnya tidak mudah meyakinkan penerbit untuk mengikuti IBF (Islamic Book Fair) tapi lama kelamaan IBF makin menarik minat peserta dan pengunjung, sampai tahun 2020 terdapat 343 stan, dan 2021 tidak ada IBF karena COVID.”, ungkap Irwan Kelana selaku Redaktur Senior Harian Republika membuka diskusi Muharram Marketing Festival 2021 (30/08/2021).

Di tahun 2020, IBF berhasil mengumpulkan sejumlah 140.000 peserta dari seluruh Indonesia. Menjadi pameran yang ditunggu-tunggu oleh pelajar dan santri baik dari Jabodetabek, Jawa Barat, dan Banten, IBF dinilai menjadi puncak literasi dan tonggak peradaban literasi Islam.

Hadir selaku CEO Mizan Publika, Sari Meutia mengulas strategi pemasaran islami yang kini ditekuni perusahaannya.

“Kami fokus sekali ke digital marketing, tapi alhamdulillah sebelum masa COVID datang kita sudah memiliki Mizaln Digital Headquarter yang menangani program digital marketing.”

“Marketing tentu saja ta fokus lebih banyak ke online, meski setelah PPKM kita berharap toko bisa buka kembali. juga pameran-pameran juga bisa aktif kembali”

Mizan saat ini mengembangkan Mizan Applications Publisher (MAP) dan Rakata.id. Melalui MAP Mizan Group mengembangkan aplikasi pendukung buku-buku cetak yang menghadirkan berbagai fitur seperti Virtual Reality Halo Balita, Huruf Hijaiyah, dan fitur lainnya.

Sementara itu, hadir dari industri edukasi Andy Dwi Bayu Bawono, S.E. M.Si., Ph.D selaku Wakil Bendahara Majelis Pendidikan Tinggi dan Litbang Muhammadiyah menyatakan pentingnya penerapan diversifikasi dan klasterisasi untuk mendukung instrumen kemajuan institusi di bidang edukasi.

“Di PTMA kami membuat klasterisasi, dimulai dari akreditasi, masalah penelitian pengabdian, ini kita pisahkan dan yang sudah unggul dan mandiri akan membantu kampus lain, yang menghasilkan semacam kampus binaan.”

“Kita memiliki Cyber Muhammadiyah, yang kemudian kita internalisasi di Muhammadiyah Malaysia, dan kami membuka sekolah Islam terpadu di Australia. Pernah juga di Mesir yang sudah dikelola sejak lama. Ini adalah bentuk diversifikasi.”, tambah Andy.

 

Dr. H. Mohammad Zahri M.Pd. selaku Ketua Umum Jaringan Sekolah Islam Terpadu (USIT) Indonesia menyatakan Sekolah Islam harus menerapkan beragam strategi agar tetap relevan, seperti peningkatan kualitas, memperluas jaringan dan komunitas, mengokohkan nilai-nilai kabangsaan, modernisasi layanan, kepedulian pada kesehatan, lingkungan, dan SDA.

 

Taliban Ciptakan Kurikulum Islami dan Persilakan Perempuan Afganistan Kuliah

AFGANISTAN(Jurnalislam.com) – Perempuan Afghanistan akan diizinkan untuk melanjutkan pendidikan di tingkat universitas tetapi tidak diperbolehkan ada kelas campuran antara laki-laki dan perempuan, hal tersebut disampaikan menteri pendidikan tinggi Taliban Abdul Baqi Haqqani, pada Ahad (29/8/2021).

“Rakyat Afghanistan akan melanjutkan pendidikan tinggi mereka berdasarkan hukum Syariah dengan aman tanpa berada dalam kelas campuran pria dan wanita,” kata Abdul Baqi Haqqani saat pertemuan dengan para tetua dalam majelis loya jirga.

Ia juga menegaskan pendidikan di Afghanistan akan menerapkan kurikulum Islami yang diharapkan mampu bersaing di tingkat internasional,

“Taliban ingin menciptakan kurikulum yang masuk akal dan Islami yang sejalan dengan nilai-nilai Islam, nasional dan sejarah kita, dan disisi lain mampu bersaing dengan negara lain”. terang Haqqani.

Anak perempuan dan anak laki-laki di sekolah dasar (SD) dan menengah (SMP) juga akan dipisahkan kelasnya, hal itu sudah umum berlaku di seluruh Afghanistan.

Taliban telah berjanji untuk menghormati kemajuan yang dicapai dalam hak-hak perempuan. Tingkat penerimaan universitas telah meningkat selama 20 tahun terakhir, terutama di kalangan wanita.

Tetapi serentetan serangan terhadap pusat-pusat pendidikan dalam beberapa bulan terakhir, yang menewaskan puluhan orang, telah menyebabkan kepanikan.

Taliban membantah berada di balik serangan itu, beberapa di antaranya diklaim oleh cabang lokal kelompok ISIS.

Taliban belum mengumumkan pemerintah mereka, menunggu sampai setelah kepergian pasukan AS dan asing. (Bahri)

Sumber: The New Arab