MUI Serukan Qunut Nazilah Terkait Tragedi Kemanusiaan Palestina

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta umat Islam khususnya di Indonesia untuk mewaspadai hari peringatan yang diklaim sebagai kemerdekaan Israel setiap 14 Mei.

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim mengatakan, peringatan ini diklaim oleh kelompok Zionisme Israel yang juga beriringan dengan terjadinya pengusiran besar-besaran terhadap warga Palestina pada 15 Mei 1948.

MUI menyerukan kepada seluruh umat Islam khususnya di Indonesia untuk memanjatkan doa Qunut Nazilah saat melaksanakan Sholat dalam waktu yang panjang.

Prof Sudarnoto yang juga Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjelaskan, Qunut ini adalah Sunnah Rasul yang dilakukan saat keadaan umat sangat genting seperti ketakutan (al-Khouf), panceklik (Qahth), wabah (Waba’), hama (Jaraad), dan teraniyaya (Madhlum).

“Dengan doa Qunut ini diharapkan agar umat Islam bersatu padu, tidak bertikai, sehingga mampu mengatasi musuh kemanusiaan, musuh agama dan musuh peradaban,” jelasnya.

MUI mengimbau seluruh pengurus masjid dan mushola, pimpinan semua ormas Islam, Majelis Taklim, dan lembaga-lembaga pendidikan Islam untuk ikut serta dalam menyampaikan seruan ini, untuk mendorong umat Islam membaca doa Qunut Nazilah.(mui)

Kolaborasi Ormas Islam- Pemerintah Berperan Besar Dukung Palestina

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta umat Islam khususnya di Indonesia untuk mewaspadai hari peringatan yang diklaim sebagai kemerdekaan Israel setiap 14 Mei.

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim mengatakan, peringatan ini diklaim oleh kelompok Zionisme Israel yang juga beriringan dengan terjadinya pengusiran besar-besaran terhadap warga Palestina pada 15 Mei 1948.

MUI senantiasa memberikan apresiasi dan dukungan kepada Menteri Luar Negeri RI yang selama ini telah menunjukkan keseriusan dan kegigihannya dalam membela Palestina dan menutup tidak melakukan hubungan diplomatik dengan Israel.

MUI melihat tantangan kedepan terasa semakin berat akibat di Indonesia, sudah mulai nampak dan terasa kelompok-kelompok pro Zionisme Israel yang terus bergerak memperlemah pembelaan terhadap Palestina.

Meski begitu, MUI menegaskan, bersama dengan ormas-ormas Islam dan kekuatan civil societylainnya bisa memainkan peran khas untuk memberikan jalan menghadapi kelompok pro Zionisme ini. (mui)

Pengakuan Kemerdekaan Israel Dosa Negara Barat Seperti AS dan Inggris

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta umat Islam khususnya di Indonesia untuk mewaspadai hari peringatan yang diklaim sebagai kemerdekaan Israel setiap 14 Mei.

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim mengatakan, peringatan ini diklaim oleh kelompok Zionisme Israel yang juga beriringan dengan terjadinya pengusiran besar-besaran terhadap warga Palestina pada 15 Mei 1948.

MUI menyebut penetapan kemerdekaan bagi Israel merupakan kekeliruan yang sangat fatal karena mendapatkan legitimasi dari negara-negara Barat seperti Inggris dan Amerika.

Selain itu, MUI menegaskan bahwa penetapan adanya negara Israel menjadi bukti nyata sebuah negara jahat telah didirikan dan dilindungi.

“Negara-negara inilah yang menanggung dan memikul dosa besar yaitu dosa politik, dosa kemanusiaan, dosa hukum,”sambungnya.

Menurut MUI, masyarakat internasional sangat mengerti bahwa tindakan jahat Israel yang dilindungi ini justru menjadi salah satu pemicu ketidakamanan global. Salah satu Negara pelindung Israel yakni Amerika Serikat diyakini suatu saat akan menanggung penderitaannya sendiri atas kesalahan fatal dosa-dosa besarnya.(Mui)

 

Waspada Peringatan Kemerdekaan Israel 14 Mei

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta umat Islam khususnya di Indonesia untuk mewaspadai hari peringatan yang diklaim sebagai kemerdekaan Israel setiap 14 Mei.

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim mengatakan, peringatan ini diklaim oleh kelompok Zionisme Israel yang juga beriringan dengan terjadinya pengusiran besar-besaran terhadap warga Palestina pada 15 Mei 1948.

“Diperkirakan ada 700 ribuan warga Palestina yang mengalami penderitaan yang sangat luar biasa, diusir, dibunuh, dan bahkan tidak sedikit perempuan yang diperkosa oleh kelompok Zionis ini,” kata Prof Sudarnoto dalam keterangan tertulis, Senin (9/5/2022).

Hingga kini, MUI menyebut bahwa keturunan warga Palestina yang menjadi korban terusir, berada di Yordania, Lebanon, Suriah, Tepi Barat dan Jalur Gaza. Mereka ingin kembali ke Palestina dan berjuang untuk kemerdekaan Palestina.

Salah satunya, bendera dengan lambang Stars of David akan dipasang dan dikibarkan di sejumlah tempat termasuk tempat suci seperti Masjidil Aqsha.

Prof Sudarnoto menyebutkan, penyerangan terhadap Masjidil Aqsha beberapa minggu yang lalu pada bulan Ramadhan dan penutupan pintu masjid, serta diiringi dengan berbagai tindakan kekerasan tentara Israel terhadap Jamaah adalah cara untuk mengkondisikan peringatan kemerdekaan tersebut berjalan dengan aman dan terkendali.

“Bagi warga Palestina, kemerdekaan Israel 14 Mei sangat melukai dan karena itu hari pengusiran yang menimpa mereka. Pada tanggal 15 Mei adalah hari bencana atau Yaum an-Nakbah dan selalu diperingati oleh warga Palestina dengan memperkuat perlawanan terhadap Israel,” tegasnya.

MUI menyebut bahwa tanggal 14-15 Mei merupakan hari-hari yang akan menimbulkan ekskalasi pertentangan.

 

Kebiasaan Baik Puasa Diharap Tetap Dilakukan Pasca Ramadhan

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Satu bulan penuh umat Islam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, mengendalikan diri dari hawa nafsu dan mengasah kepedulian terhadap sesama. Bukan suatu hal yang mudah untuk dapat konsisten menjalankan ibadah lebih banyak dari hari biasa, mengendalikan emosi, dan juga dapat menjadi lebih peka terhadap sesama manusia. Untuk itu, hal baik yang dilakukan selama bulan Ramadan diharapkan dapat diteruskan di hari-hari selanjutnya.

“Kita harus mampu meneruskan kebiasaan baik yang telah terbentuk untuk mewujudkan kualitas kehidupan kita yang lebih baik”, ucap Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin dalam acara Gema Takbir Nasional dan Pesan Idulfitri 1443 H/2022 M yang diselenggarakan Masjid Istiqlal, Minggu (01/05/2022).

Wapres menyadari perayaan Idulfitri tahun ini menjadi lebih semarak setelah masyarakat diperbolehkan untuk dapat melaksanakan tradisi mudik, mengingat sudah dua tahun lamanya masyarakat tidak merayakan Idulfitri di kampung halaman.

“Tahun ini saya bisa merasakan kegembiraan masyarakat yang luar biasa dalam menyambut Idulfitri karena bisa bertemu langsung dengan keluarga dan kerabat tercinta”, tuturnya.

Tidak lupa Wapres selalu memberikan imbauan agar masyarakat dapat tetap melaksanakan protokol kesehatan dalam menyambut perayaan hari raya Idulfitri 1443 H.

“Saya mengimbau agar seluruh masyarakat dalam merayakan hari raya Idulfitri tetap waspada dan berdisiplin dalam menerapkan protokol kesehatan”, pesan Wapres.

Menutup arahannya, Wapres berharap upaya pemulihan dan percepatan pembangunan yang dilakukan pemerintah dapat semakin terpacu dengan adanya semangat perayaan Idulfitri di tahun ini.

“Semoga Ramadan dan Idulfiri tahun ini memberikan semangat baru bagi kita semua untuk terus berjuang dan berkarya di tengah upaya pemulihan dan percepatan pembangunan menuju Indonesia maju”, pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menuturkan bahwa pemerintah terus melakukan upaya maksimal dalam rangka mempersiapkan perayaan Idulfitri 1443 H di tahun ini.

“Pemerintah telah berupaya keras untuk menyiapkan perayaan Idulfitri ini dengan sebaik-baiknya, mulai dari tata kelola lalu lintas, penyediaan bahan pokok dan bahan bakar, hingga menggencarkan vaksinasi penguat (booster)”, ungkap Muhadjir.

Sementara itu, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid menekankan perlunya ketaatan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan di dalam perayaan Idulfitri 1443 H.

“Marilah kita rayakan hari kemenangan ini dengan penuh khidmat, penuh khusyuk, dan tanggungjawab dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan”, ujar Zainut.

Rasialisme Pejabat Kampus, Islamophobia Kian Mengancam

Oleh: Afif Sholahudin, S.H., M.H
(Ketua BE BKLDK Jawa Barat, Pengasuh Pondok Asy-Syabab Bandung, Supervisor of ILPAF)

 

Kita pasti sadar, Islam di zaman sekarang menjadi agama yang selalu tertuduh pada fitnah dan pelecehan ajaran, bahkan tidak jarang umat dan ulamanya dihinakan. Islamophobia kembali terdengar, kini terjadi dalam dunia akademik di Indonesia. Seorang tokoh yang disebut sebagai Rektor Institut Teknologi Kalimantan, Budi Santosa, disinyalir telah melakukan rasisme dan xenophobia terhadap muslimah dan budaya kerudung yang disebut sebagai “tutup kepala ala manusia gurun.”

 

Bukan hanya menyinggung jilbab, dia menunjukkan kebencian terhadap penyampaian kata yang disebutnya sebagai “bahasa langit” seperti istilah insyaAllah, barakallah, qadarullah, dsb. Lalu menganggap siapapun yang mempunyai kebiasaan begitu dikategorikan tidak openminded. Parahnya ia mendukung langkah mahasiswa yang diluluskan menerima beasiswa LDPD, beasiswa negeri yang diambil dari pajak masyarakat, dianggap berpikiran terbuka karena mencari tuhan ke negara-negara barat seperti eropa dan amerika.

 

Saya belum mengetahui apakah dia beragama Islam ataukah tidak, apakah dia masih meyakini adanya tuhan ataukah tidak. Namun bagi seorang pejabat kampus, dan juga gelar akademik, harusnya mencerminkan akhlak dalam berpendapat dan menghargai setiap ajaran agama, terutama Islam. Upaya sinisme terhadap istilah-istilah Islam tentu menyulut kemarahan umat, apalagi argumen yang disampaikan jauh dari standar intelektual sebuah pendapat, terlihat kesesatan berpikir dan kesalahan fatal dalam menilai Islam.

 

Memangnya apa yang perlu dibanggakan dari barat sehingga menganjurkan mencari tuhan ke sana? Memandang rendah daerah gurun padahal secara kualitas akademik Indonesia jauh berada di bawah dibandingkan dengan kampus-kampus di Arab. Misalkan saja, menurut URAP (University Ranking by Academic Performance), King Saud University berada di peringkat 137 world rank, jauh diatas dari kampus ternama di Indonesia semisal ITB yang berada di urutan 1440 atau UI di urutan 1111 dunia. Kok bisa mengatakan bahwa negara-negara sana disebut sebagai “..negara orang-orang yang pandai bercerita tanpa karya teknologi.”

 

Di luar sana ada banyak ilmuwan cerdas tingkat dunia yang menggunakan hijab, beberapa rektor wanita dari universitas-universitas di Indonesia pun menggunakan hijab. Jadi jelas, jika membenci arab karena terbelakang justru saat ini terbalik, jika membenci hijab karena close minded justru orang itu yang pemikirannya konslet! Memangnya definisi wanita kadrun yang mereka maksud itu seperti apa sih? Tuhannya para negara maju itu bagaimana sih? Apa mau generasi kita dicerminkan dengan generasi di barat, hedonis, pergaulan bebas, narkoba, kriminalitas tinggi, dsb.

 

Kini postingan tersebut sudah dihapus, namun jejak digitalnya masih tersimpan. Pihak kampus sibuk mengklarifikasi bahwa pendapat itu tidak disangkutpautkan dengan kampus karena itu pandangan pribadi, tapi anehnya pernyataan itu disampaikan langsung atas nama kampus yang notabene pasti setiap pernyataan resmi atas seizin rektornya, balik lagi ke si pelaku. Apalagi keresahan yang dia umbar di akunnya karena aktifitas dia sebagai pejabat akademik, mengaku setelah melakukan seleksi beasiswa LPDP yang didapatkan dari pajak untuk mahasiswa terpilih, sudah pasti sedang menjalankan misi tridharma perguruan tinggi.

 

Kampus dengan motto “Cerdas, Beriman, dan Bertakwa” tapi tidak bijak dalam menempatkan pejabat kampus yang tepat. Apakah karena kini pemilihan rektor diserahkan kepada presiden, tidak lagi oleh Dikti, sehingga isu-isu SARA oleh pejabat kampus kini kembali memanas di permukaan? Saya tidak bisa membayangkan, berarti ada sekian orang yang tidak diloloskan oleh dia hanya karena calon penerima adalah wanita muslimah atau bahkan hanya mengucapkan istilah insyaAllah di hadapannya. Sungguh sangat lucu jika sampai sekarang orang tersebut tidak minta maaf, atau mungkin tidak ditindak tegas oleh pejabat yang berwenang.

 

Pernyataan yang menghebohkan ini sudah mengarah kepada kebencian dan penghinaan SARA, melanggar pasal 156 KUHP, atau 157 Ayat (1) KUHP Jo Pasal 16 UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, atau Pasal 28 ayat (2) UU ITE. Deliknya telah dianggap selesai saat dia mengunggah status, sehingga seharusnya bisa langsung diproses hukum oleh para aparat tanpa harus menunggu laporan terlebih dahulu.

 

Setelah diusut ternyata pendapat rektor tersebut beberapa kali pernah menyudutkan ajaran Islam. Upaya mempertentangkan kehidupan masyarakat dengan aturan agama sudah terjadi sejak jauh-jauh hari Indonesia berdiri. Hal ini menunjukkan islamophobia sudah sejak lama mengakar pada sistem saat ini. Sekulerisme mengatur bahwa urusan agama jangan dicampur dengan kehidupan, padahal ini adalah pangkal munculnya islamophobia. Misalnya dulu ketua BPIP pernah menyebut musuh terbesar pancasila adalah agama.

 

Semakin rusak hidup beragama di sistem sekulerisme saat ini, dengan dalih kebebasan berpendapat yang ada malah memunculkan kebencian SARA yang berujung kepada agama islam. Ditambah semakin sulit mencari keadilan bagi kejadian penistaan dan pelecehan Islam. Dulu sempat heboh pelarangan cadar di kampus, pembubaran kajian-kajian mahasiswa, dsb. Bahkan di lingkungan civitas akademika saja masih terjebak pada masalah yang sama, islamophobia. Lalu bagaimana kita bisa melahirkan para intelektual hebat, umat muslim cerdas, tangguh, jika problem ini tidak pernah terselesaikan.

 

Islamophobia muncul karena Islam saat ini tidak mempunyai kekuatan di hadapan para pembencinya. Umatnya kini terpecah belah, dipisahkan oleh sekat kenegaraan, sehingga satu dihancurkan belahan umat muslim lainnya tidak merasa sakit karena terpisahkan. Ulama yang tugasnya membimbing dan menggerakkan umat saja dengan lancang mereka ditangkapi, dikriminalisasi, bahkan diancam. Sebagian ajaran Islam disunat dalam kurikulum, fikih disesuaikan dengan kebutuhan zaman, sejarah diputarbalikkan sesuai dengan kondisi masyarakat. Orientasi pendidikan bukan menjadi ahli ilmu bertakwa namun menjadi pekerja para pemilik modal.

 

Seharusnya kita sadar bahwa kondisi Islam dan umatnya sejak dulu disasar untuk diserang, para musuhnya takut jika terjadi kebangkitan Islam. Dulu Islam pernah memimpin peradaban dunia, jangkanya cukup lama, jejak sejarahnya pun masih menyisakan kisah luar biasa bagi masyarakat yang hidup di zaman itu. Teknologi maju, ekonomi sejahtera, hukum adil, sangat sulit menemukan kasus islamophobia seperti belakangan ini. Maka jika kita ingin menghapuskan problem sistemik ini, butuh solusi sistemik yang dapat menyelesaikan semunya.

Berpakaian Kebudayaan Melayu, Muslim Patani Rayakan Idul Fitri

PATANI(Jurnalislam.com) – Suasana para pemuda dan pemudi di Patani (Selatan Thailand) menyambut hari raya Idul Fitri 1443H, dengan berpakaian kebudayaan Melayu, suasana ini diadakan di setiap kawasan perkampungan di Wilayah Selatan Thailand, pada (02/05/2022).

Bertapa hebatnya kesatuan pemuda dan pemudi setiap kawasan di Wilayah Selatan Thailand, mereka boleh menyambut perayaan pada tahun ini dengan berpakaian budaya Melayu Patani secara menyeluruh. Kami segenap pengurus Berita Melayu Patani cuba untuk mengumpulkan semua gambar-gambar hari raya Idul Fitri 1443H, dan kami membuatkan satu albem gambar dengan nama “Hari Raya Idul Fitri 1443H / 2022M, di Patani (Selatan Thailand)”. Pada suasana seperti ini, para laki-laki memakai maju melayu dan para wanita memakai baju kurung.

Kebudayaan melayu Patani adalah salah satu budaya yang telah lahir pada zaman dahulu atau sesiapa yang memakai ciri hidup bangsa yang telah diamalkan oleh bangsa melayu Patani ditanah tumpah darah dari turun temurun, dari generasi ke generasi dan seterusnya kepada anak cucu yang akan datang dengan meliputi sistem Susila, Agama, Ekonomi, Politik, Adat Rasmi, Sikap dan Nilai-nilai bangsa. Kebudayaan melayu Patani perlu dipelajari oleh generasi anak bangsa sendiri dengan mendalam dan terperinci.

Oleh itu, tujuan untuk membina khazanah permulaan budaya yang diamalkan oleh bangsa terdahulu, semenjak zaman Kerajaan Melayu Langkasuka dan berkembang menjadi cara hidup dan nilai jati diri bangsa melayu Patani hingga saat ini. Maka itu, kebudayaan Melayu Patani sangat penting, karena generasi anak Patani saat ini menyadari indentitasnya, kebudayaannya untuk menentukan diantara kebudayaan bangsa sendiri dan kebudayaan bangsa asing, mengenai dengan jati diri adalah sebagai salah satu bangsa yang menghargai hak bangsa lain bukan menjadi penjajah yang mengerjar kepentingan dan menafi hak asasi bangsa lain.

Oleh karena itu, pemakaian-pakaian adat budaya Melayu Patani sudah menjadi kebiasaan selama ini, setiap tahun dalam menyambut hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha dan hari-hari yang kemenangan erat berhubungan solidaritas dengan perayaan-rayaan Islam, maupun bangsa melayu Patani itu sendiri tetap ekspresi bersama demi mempertahankan jati diri sebuah bangsa.

Editor : Berita Melayu Patani.

Photo : Warga sipil Patani (Selatan Thailand) Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1443H / 2022M.

 

Umat yang Keruh Berasal dari Hati yang Keruh Karena Cinta Dunia

SERANG (Jurnalislam.com) – Hati adalah harta berharga yang dimiliki oleh setiap insan, ia sangat mempengaruhi kualitas seorang insan, seperti dikabarkan oleh sebuah hadist “Ketahuilah bahwa dalam jasad manusia ada segumpal daging, jika baik maka baiklah seluruh anggota dan jika maka rusaklah seluruh anggota, ketahuilah itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Khotib Iedul Fitri di Masjid Al-Muhajirin Waringin Kurung Serang Banten Senin (2/5/2022) lalu ustadz Mahruroji mengingatkan kepada jamaah melalui isi khutbahnya tentang besarnya pengaruh hati pada setiap insan bahkan ummat.

Ustadz Mahruroji mengingatkan bahwa kemampuan kita melaksanakan serangkaian ibadah selama bulan Ramadhan bukanlah disebabkan shalih/shalihahnya kita, melainkan atas ijin, nikmat dan pertolongan Allah, karenanya sangat tak pantas kita untuk menyombongkan diri kita dihadapan manusia apalagi dihadapan Sang Pencipta, sebaliknya ibadah dibulan Ramadhan seharusnya melahirkan pribadi-pribadi yang tawadhu merendah kepada Allah SWT dan peduli kepada sesama.

Ustadz Mahruroji mencontohkan nabiyullah Muhammad SAW, beliau menjadi insan terpilih bukan semata karena tampan wajahnya, melainkan karena ia sang pemilik hati yang bersih. Sangat berbeda dengan kebanyakan insan yang sibuk menata fisik penampilannya agar tampak indah namun lupa memperhatikan keindahan hatinya, maka mengapa kita dapati umat hari ini tampak keruh tidak lain karena keruhlah hatinya. Mengapa banyak insan yang gemar berselisih, jidal, sombong tidak lain karena keruh hatinya, dan penyebab hati keruh adalah cinta dunia. Cinta dunia lah yang membuat kaum muslimin bertikai dan saling bermusuhan.

Rasulullah mengatakan kepada para sahabat “Jika kalian tahu perkara syurga dan neraka seperti aku mengetahuinya, maka tentu kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa dalam hidup di dunia ini”

Ustadz Mahruroji menjelaskan bahwa perjalanan dari dunia keakhirat kampung halaman kita sangatlah panjang, dan beliau memberi perumpamaan bahwa pulang mudik saja tentu kita memikirkan bekal yang cukup, kendaraan yang baik agar selamat sampai kampung halaman, namun pernahkah kita berpikir untuk bekal perjalanan menuju kampung halaman diakhirat, telah cukupkah bekalnya, baikkah kendaraannya. Kata beliau lagi sebaik-baik bekal untuk pulang kampung akhirat adalah takwa. Dan Ramadhan seharusnya adalah pencetak insan-insan yang takwa.

Berakhirnya Ramadhan, umat Islam ada pada 2 golongan, golongan pertama adalah mereka yang berbahagia karena mengisi Ramadhan dengan amal-amal yang mendekatkan diri pada Allah SWT, jika Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan yang terakhir bagi mereka setidaknya mereka punya bekal indah. Sedangkan golongan kedua adalah mereka orang-orang yang menyesal yang sibuk di Ramadhan tahun ini dengan urusan dunia dan dunia, jika Ramadhan ini adalah Ramadhan yang terakhir maka penyesalanlah yang mereka bawa, dan waktu tidak akan pernah kembali. Berapa banyak orang-orang di dalam kubur berharap kembali ke dunia hanya untuk berbuat amal baik.

Jika kita melihat pada siroh bagaimana kaum Muslimin berkali-kali meraih kemenangan? Itu dikarenakan mereka memiliki hati yang bersih yang peduli kepada saudara Muslim sebagaimana kepedulian kepada diri sendiri bahkan mereka lebih mendahului kepentingan saudara muslim dibandingkan kepentingan diri mereka sendiri, mereka itulah yang menjauhi cinta dunia dan sebaliknya ketika mereka mengalami kekalahan tidak lain penyebabnya adalah cinta dunia.

Diakhir khotbahnya, ustadz Mahruroji berpesan kepada jamaah shalat Ied agar mohon ampun kepada Allah atas segala kecacatan dalam beribadah dibulan Ramadhan tahun ini, meminta agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan dan meminta pertolongan Allah agar dapat beribadah maksimal pada bulan Ramadhan tahun depan.

Reporter : Jumi Yanti Sutisna

2021, Baznas Salurkan Rp 24,3 Miliar untuk Sektor Kesehatan

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Noor Achmad mengatakan bahwa sepanjang tahun 2021, BAZNAS telah menyalurkan Rp24,.395.297.663 manfaat zakat untuk kesehatan masyarakat. Total ada 362.254 jiwa yang mendapatkannya di seluruh Indonesia.

Sebaran atas manfaat untuk kesehatan ini dirasakan oleh 49.246 jiwa yang dirawat di Rumah Sehat Baznas (RSB) RI, 117.528 jiwa di RSB Yogyakarta, 39.157 jiwa di RSB Sidoarjo, 27.171 jiwa di RSB Pangkal Pinang, 19.114 Jiwa di RSB Palu, 44.816 jiwa di RSB Parimo, dan 63.888 jiwa di RSB Makassar.

Dalam pelayanan atas manfaat kesehatan ini, BAZNAS memberikan berbagai macam pelayanan  Untuk Pelayanan Dalam Ruang (PDR), misalnya poli mulut dan gigi, poli umum, rawat inap, poli spesialis, fisioterapi, Unit Gawat Darurat, poli Psikologi, hingga pelayanan laboratorium.

Untuk Pelayanan Luar Ruang (PLR), Rumah Sehat BAZNAS memberikan pelayanan berupa pemeriksaan kesehatan ibu dan anak (KIA), kesehatan jiwa, tuberkulosis (TB), pencegahan stunting hingga pengantaran ambulance.

Dikatakan Noor Achmad, pelayanan bagi masyarakat di bidang kesehatan seperti pembangunan Rumah Sehat di Istiqlal terus diupayakan untuk ditingkatkan agar semua masyarakat yang membutuhkan dapat merasakan manfaat dari zakat, terlebih yang di kelola oleh BAZNAS.

“Dalam praktiknya, hampir tidak ada pembangunan masjid atau program untuk kemakmuran masjid yang terlantar dan tidak ada orang yang membangun masjid yang ditelantarkan Allah SWT,” ujarnya saat menghadiri Peletakan Batu Pertama Pembangunan Rumah Sehat Istiqlal di Jakarta Jumat (29/4/2022).

Noor Achmat berharap pembangunan Rumah Sehat ini dapat segera rampung sebelum pelaksanaan presidensi G20 di Indonesia.

BAZNAS bekerja sama dengan masjid Istiqlal Jakarta, melaksanakan peletakan batu pertama untuk pembangunan Rumah Sehat BAZNAS Istiqlal Jakarta  pada hari Jumat, 29 April 2022 yang di hadiri Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi, Imam Besar Masjid Istiqlal Nazaruddin Umar, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Indonesia Suhajar Diantoro, Staf Ahli Bidang Jasa Keuangan dan dan Pasar modal Kementerian Keuangan Suminto dan pengurus BAZNAS.

Sholat Idul Fitri 1443 H, Jamaah Membludak Memenuhi Masjid Kottabarat Solo

SOLO (jurnalislam.com)- Ribuan jamaah memenuhi Masjid Kottabarat hingga jalan raya depan dan samping masjid untuk mengikuti sholat idul fitri 1 syawal 1443 H pada Senin (2/5/22).

Ustaz Nur Salam selaku ketua panitia menyampaikan kehadiran jamaah jamaah banyak sehingga memenuhi masjid lantai 1 dan 2 serta di jalan raya.

“Jamaah yang hadir melaksanakan sholat idul fitri kurang lebih ribuan jamaah, tetapi panitia sudah mengantisipasi dengan mempersiapkan tikar. Alhamdulillah semua tikar terpakai,” jelasnya.

Nur Salam pun mengharapkan ke depan pelaksanaan sholat idul fitri bisa dilaksanakan di lapangan sebagai syiar dan dakwah Islam.

“Sebagai syiar karena semua berkumpul jadi satu di lapangan dan dakwah sebagai bagian sunah Rasulullah SAW,” ungkapnya.

Bendahara PP Muhammadiyah, K.H. Drs. Marpuji Ali, M.Pd. menekankan saat khotbah idul fitri bahwa corona 2 tahun ini sudah melanda negeri kita. Meskipun telah melandai, tetapi kita jangan sampai lengah. Apa yang perlu diperbuat? Yang terpenting adalah sabar.

“Sabar bukan berarti tidak berbuat apa-apa atau istilah Jawa pasrah bongkokan, tetapi sikap sabar diimbangi dengan ikhtiar. Ikhtiar berusaha agar keadaan menjadi lebih baik sesuai yang dicita-citakan,” papar Marpuji Ali.

Marpuji Ali mengajak kepada jamaah untuk semua yang hadir untuk mempunyai cita-cita masuk surga, mengiringi dengan usaha kerja keras meraihnya, menerapkan sabar dengan penuh ikhtiar, dan senantiasa rukun tidak berpecah belah.

“Allah tidak akan mengubah nasib kaum jika kamu tersebut tidak berikhtiar mengubah nasib sendiri,” tandasnya.