Berita Terkini

My Buddy Stop Bullying, Ilusi Atasi Bullying

Oleh : Siti Rima Sarinah

Hampir setiap hari kita disuguhkan dengan berbagai kasus bullying yang sudah kelewat batas. Kasus bullying dilakukan dari usia SD, remaja bahkan orang dewasa. Bullying bak penyakit menular yang menjangkiti generasi tanpa ada rasa iba sedikit pun, mereka melakukan bully hingga tak jarang korbannya harus meregang nyawa. Entah sudah berapa banyak nyawa yang melayang akibat kasus bully tersebut. Media pun terus menyajikan berita dan tontonan bullying yang menjadi pemicu munculnya kasus-kasus bullying  semakin sadis.

Kasus bullying telah menjadi tren di tengah kehidupan generasi hari ini. Pasalnya, kasus bully semakin meningkat dari tahun ke tahun. Program baru yang sedang digencarkan oleh Pemkot Bogor bekerjasama dengan Yayasan Rumah Kedua untuk mencegah kasus perundungan yaitu program My Buddy Stop Bullying. My Buddy Stop Bullying ini adalah sebuah program edukasi dalam bentuk permainan kartu yang berisi kata dan gambar dengan pesan tersirat didalamnya.
Program ini diharapkan menumbuhkan kepekaan dan kepedulian kepada siswa untuk menolong temannya yang di bully. Sehingga tidak ada lagi kasus bully yang terjadi di lingkungan sekolah. Dalam program ini, Pemkot juga melibatkan Satpol PP, DP3A, Dinas Kesehatan dan para donatur untuk bersinergi bersama dan mendukung berjalannya program  tersebut (radarbogor, 09/09/2025)

My Buddy Stop Bullying mengacu pada slogan yang mengkampanyekan untuk setiap orang untuk menjadi teman atau “buddy” bagi orang lain dan menolak segala bentuk perilaku perundungan/bullying. Kampanye ini memotivasi agar kita bertindak sebagai “teman” bagi korban bullying, bukan menjadi pelaku yang mendukung mereka dengan menciptakan lingkungan yang aman, saling menghormati dan memunculkan rasa kepekaan terhadap apa yang terjadi disekitar kita.

Selama ini, banyak orang bersikap diam melihat kasus bullying yang terjadi dihadapannya. Mungkin karena takut dan memilih untuk menyelamatkan diri untuk tidak ikut campur atau terlibat dalam kasus tersebut. Karena tidak menutup kemungkinan yang ingin menolong korban bully, maka ia pun akan menjadi korban kasus bully tersebut.  Hal ini diperparah dengan hukuman yang diberikan oleh pelaku bully tidak memberikan efek jera kepada pelaku. Apalagi jika pelakunya masih di bawah umur, menjadi kompensasi untuk mendapatkan sanksi yang setimpal dengan apa yang telah diperbuat. Karena perilaku bully telah mengarah pada tindak kriminal, yang sudah  banyak memakan korban.

Maraknya kasus bully dikalangan generasi saat ini, bukanlah tanpa sebab. Tidak dimungkiri, paparan aksi kekerasan yang berseliweran di dunia internet dengan mudahnya diakses dan telah membentuk mental sadis dan beringas dalam jiwa generasi bangsa hari ini. Alhasil melahirkan banyak generasi yang suka pada kekerasan dan menjadikan kekerasan sebagai gaya hidup mereka.

Di sisi lain, negara membiarkan konten-konten yang mengandung kekerasan bebas merusak jiwa generasi. Tanpa ada filter dan sanksi yang diberikan oleh negara. Sehingga bukan hanya konten berbau kekerasan, pornografi dan penyimpangan seksual juga turut mewarnai konten-konten yang berseliweran di dunia internet, yang merusak mental dan pemikiran generasi. Keabaian negara ini yang mengakibatkan kasus bully terus meningkat dan semakin banyak korban berjatuhan. Dan tidak ada upaya sedikit pun dari negara untuk menghentikan akar persoalan terjadinya kasus bully.

Fakta ini menjadi bukti bahwa kasus bully ini bersifat sistemik, yang tidak mungkin diatasi hanya dengan mengedukasi anak-anak dengan berbagai program. Namun juga dibutuhkan perubahan sistem yang mampu menyelamatkan generasi dari paparan kekerasan, pornografi dan hal-hal yang merusak lainnya. Sedangkan, sistem pendidikan hari ini hanya bisa menjadikan anak-anak pintar secara akademik, dan tidak mampu mencetak mereka memiliki adab dan akhlak yang mulia. Karena, sistem pendidikan ala sekular telah menjauhkan generasi dari agama, dan membuat generasi bebas melakukan apa saja sesuai hawa nafsu.

Padahal anak-anak adalah generasi bangsa yang kelak menjadi penopang peradaban di masa depannya. Maju mundurnya sebuah negara bergantung pada kualitas generasi. Jika generasi yang suka pada kekerasan dan melakukan hal-hal yang menyimpang lainnya, maka dipastikan kehancuran bangsa akan terjadi tanpa bisa dielakkan lagi.

Menjadi tranggung jawab bersama untuk menyelamatkan generasi dari berbagai kerusakan yang membayangi kehidupan mereka. Adalah sistem Islam yang menerapakan syariat Islam secara menyeluruh di seluruh lini kehidupan. Islam memandang generasi sebagai aset negara yang kelak akan menjadi mutiara-mutiara umat untuk membangun peradaban Islam yang mulia di masa yang akan datang.

Ditopang dengan sistem pendidikan Islam yang melahirkan output generasi yang berkepribadian Islam, yang memiliki pola pikir dan pola sikap Islam. Kurikulum pendidikan Islam yang berbasis akidah Islam, menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada generasi sebagai pondasi yang kokoh dan bekal untuk menjalani kehidupan sesuai aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka bukan hanya faqih dalam masalah agama, tetapi juga terdepan dalam sains dan teknologi. Hal ini menjadi modal bagi mereka untuk menaklukan dunia sebagai kuntum khoiru ummah (umat terbaik)

Yang terpenting, generasi yang dilahirkan dalam sistem pendidikan Islam mampu menyelesaikan persoalan kehidupan dengan cara pandang yang benar. Dan senantiasa berlomba-lomba mencari ilmu untuk kemaslahatan umat manusia. Alhasil, sejarah telah mencatat keberhasilan Islam dalam mencetak generasi emas diantaranya para ilmuwan, penakluk, polymath dan masih banyak lagi lainnya.

Kemuliaan generasi Islam ini merupakan buah dari pondasi akidah yang tertancap kuat dalam benak generasi, sehingga menghasilkan generasi berakhlak mulia dan memiliki ketinggian ilmu yang terpancar dari keimanan yang menjasad dalam diri mereka.

Musda VI: Dra. Wiwin Supriatin Pimpin PD Persistri Kota Banjar 2025–2029

BANJAR (jurnalislam.com)– Musyawarah Daerah (Musda) VI Pimpinan Daerah Persatuan Islam Istri (PD Persistri) Kota Banjar yang digelar di Pesantren Persis 85 Kota Banjar, Ahad (21/9/2025), menetapkan kepemimpinan baru Persistri Kota Banjar.

Dra. Wiwin Supriatin, M.Pd. resmi terpilih sebagai Ketua PD Persistri Kota Banjar Masa Jihad 2025–2029 menggantikan Ustadzah N. Sukmayati yang telah menuntaskan masa jabatannya dengan penuh amanah.

Proses pemilihan berlangsung melalui musyawarah panjang di antara para peserta, mencerminkan tradisi demokratis dan penuh kebersamaan yang selalu dijunjung tinggi dalam organisasi Persistri.

Kegiatan Musda kali ini dihadiri oleh Pimpinan Pusat Persistri, Pimpinan Wilayah Persistri Jawa Barat, serta para anggota dan kader Persistri Kota Banjar. Kehadiran para tokoh dan kader Persistri tersebut menambah khidmat jalannya musyawarah yang berlangsung lancar dan penuh semangat ukhuwah.

Dengan terpilihnya Dra. Wiwin Supriatin, kepemimpinan baru PD Persistri Kota Banjar diharapkan mampu menghadirkan energi segar, memperkuat peran strategis Persistri, serta semakin aktif memberikan kontribusi nyata bagi dakwah, pembinaan keluarga, dan pemberdayaan umat di Kota Banjar.

Murifaz

Musda VI: Ustadz Tohir Nahkodai PD Persis Kota Banjar 2025–2029

BANJAR (jurnalislam.com)– Musyawarah Daerah (Musda) VI Pimpinan Daerah Persatuan Islam (PD Persis) Kota Banjar yang digelar di Pesantren Persis 85 Kota Banjar, Ahad (21/9/2025), resmi menetapkan Ustadz Tohir, S.Ag., M.Pd.I sebagai Ketua PD Persis Kota Banjar Masa Jihad 2025–2029.

Ia terpilih menggantikan kepemimpinan sebelumnya, Ustadz Aan Hanafi, S.Ag., M.Pd.I, yang telah menuntaskan masa jabatannya dengan penuh dedikasi.

Terpilihnya Ustadz Tohir merupakan hasil dari proses musyawarah yang panjang di antara para peserta Musda. Proses ini berlangsung dengan suasana penuh kebersamaan, mencerminkan semangat musyawarah yang menjadi tradisi dalam tubuh Persis.

Kegiatan Musda VI ini turut dihadiri oleh Pimpinan Wilayah Persis Jawa Barat, Ustadz Iman Setiawan Latief, para sesepuh Persis Kota Banjar, serta kader dan otonom Persis Kota Banjar. Kehadiran para tokoh tersebut ikut menyertai proses musyawarah.

Dengan terpilihnya Ustadz Tohir, diharapkan kepemimpinan baru PD Persis Kota Banjar dapat membawa energi positif, memperkuat ukhuwah, dan semakin memajukan dakwah Persis untuk kemaslahatan umat di Kota Banjar.

Murifaz.

Wakil Wali Kota Banjar Buka Musda Persis, Tekankan Peran Penting Ulama

BANJAR (jurnalislam.com)– Wakil Wali Kota Banjar, Dr. H. Supriana, M.Pd., secara resmi membuka Musyawarah Daerah (Musda) VI Pimpinan Daerah Persatuan Islam (PD Persis) Kota Banjar yang diselenggarakan di Pesantren Persis 85 Banjar, Ahad (21/9/2025).

Dalam sambutannya, H. Supriana menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Persatuan Islam atas kontribusinya dalam pembangunan umat, khususnya dalam membina akhlak dan menjaga kerukunan masyarakat.

“Para kader dan mubaligh Persis di Kota Banjar ini sangat luar biasa. Mereka berjuang tanpa pamrih untuk umat. Peran dan kontribusi kyai dan ustadz itu sangat nyata di tengah masyarakat, terutama dalam memahamkan umat di majelis-majelis taklim,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Wakil Wali Kota berharap Musda VI Persis dan Persistri Kota Banjar dapat menghasilkan kepemimpinan baru yang amanah, mampu membawa kemaslahatan, dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

“Semoga musda ini menghasilkan kepemimpinan yang baik, yang membawa kemaslahatan bagi jami’iyah Persis dan umat secara umum,” tambahnya.

Kegiatan Musda VI Persis Kota Banjar ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Pimpinan Wilayah Persis Jawa Barat, Iman Setiawan Latief; Ketua Sementara DPRD Kota Banjar, Sutopo; Kepala Kemenag Kota Banjar, Ahmad Fikri Firdaus; Ketua Baznas Kota Banjar, Undang Munawar; perwakilan Ketua MUI Kota Banjar, Usep Nur Akasah; Kabag Kesra Asep Mulyana, serta para tamu undangan lainnya.

Musda yang digelar ini menjadi momentum penting dalam menentukan arah kepemimpinan PD Persis Kota Banjar untuk masa jihad 2025–2029.

Murifaz

Belasan Tentara Israel Terluka dalam Kecelakaan dan Serangan di Gaza

GAZA (jurnalislam.com)– Tentara Israel kembali mengalami kerugian di Jalur Gaza. Militer Zionis mengumumkan pada Ahad (21/9) bahwa dua roket ditembakkan dari Gaza menuju Ashdod. Satu roket berhasil dicegat, sementara yang lain jatuh di area terbuka. Sirene peringatan sempat berbunyi di antara Ashdod dan Ashkelon sebelum roket menghantam.

Dalam insiden terpisah, 10 tentara Israel terluka ketika sebuah kendaraan militer jenis Hummer terbalik di Jalur Gaza utara sekitar pukul 05.15 waktu setempat. Menurut laporan situs Ibrani Walla, dua prajurit dalam kondisi serius dievakuasi dengan helikopter ke Rumah Sakit Hadassah Ein Kerem di Yerusalem, sementara delapan lainnya dibawa dengan ambulans. Channel 7 Israel menyebut para tentara itu berasal dari Brigade Kfir.

Kerugian ini menambah daftar panjang korban di pihak militer Israel. Sehari sebelumnya, Radio Tentara Israel melaporkan bahwa seorang prajurit dari Brigade 401 terluka akibat tembakan penembak jitu di lingkungan Sheikh Radwan, Kota Gaza utara. Sumber Israel juga menyebut dua helikopter dikerahkan untuk mengevakuasi korban ke rumah sakit di Tel Aviv.

Dalam beberapa hari terakhir, Israel mengerahkan ribuan pasukan infanteri, lapis baja, dan zeni ke Kota Gaza dalam upaya mempercepat invasi dan memperkuat pendudukan. Namun, di tengah operasi tersebut, militer Israel justru terus menderita kerugian akibat serangan perlawanan dan insiden di lapangan. (Bahry)

Sumber: PC

Afghanistan Tolak Rencana Trump Rebut Kembali Pangkalan Udara Bagram

KABUL (jurnalislam.com)– Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat pengumuman mengejutkan terkait upayanya untuk merebut kembali Pangkalan Udara Bagram di Afghanistan. Menurut laporan Wall Street Journal, langkah tersebut disebut sebagai bagian dari upaya diplomatik yang lebih luas untuk menormalisasi hubungan dengan Kabul.

Dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Inggris, Trump menegaskan:

“Kami sedang berusaha merebutnya kembali (Pangkalan Udara Bagram). Mereka membutuhkan sesuatu dari kami, dan kami ingin pangkalan itu kembali.”

Namun, pemerintah Afghanistan langsung menolak wacana tersebut. Pejabat senior Kementerian Luar Negeri (MoFA), Zakir Jalali, menegaskan melalui akun X pada Sabtu (20/9):

“Afghanistan tidak pernah menerima kehadiran militer sepanjang sejarah. Kemungkinan ini sepenuhnya dikesampingkan selama negosiasi dan perjanjian Doha.”

Jalali menambahkan, hubungan antara Afghanistan dan Amerika Serikat bisa tetap terjalin dalam bidang politik dan ekonomi, tetapi tanpa kehadiran militer asing di Afghanistan.

Sementara itu, Wall Street Journal menyebut para pejabat pemerintahan Trump tengah berdiskusi dengan Emirat Islam Afghanistan (IEA) mengenai rencana membangun kembali kehadiran militer AS dalam skala kecil di Bagram. Rencana ini dikaitkan dengan operasi kontraterorisme, pertukaran tahanan, hingga kesepakatan ekonomi.

Mantan utusan AS untuk perdamaian Afghanistan, Zalmay Khalilzad, juga turut menanggapi. Menurutnya, kedua negara akan diuntungkan jika hubungan diperkuat, terutama dalam bidang kontraterorisme.

“Bagi AS, bidang yang jelas dan penting adalah kontraterorisme. Rakyat Afghanistan juga punya alasan untuk menjalin hubungan lebih baik, termasuk menghadapi ancaman dari negara-negara tetangga mereka,” tulis Khalilzad di akun X.

Namun ia mengingatkan bahwa persoalan tahanan menjadi hambatan utama yang harus segera diselesaikan jika ingin melanjutkan dialog. Yang dimaksud adalah isu pertukaran tahanan antara AS dan Afghanistan, baik terkait warga Amerika yang masih ditahan di Kabul maupun anggota Taliban yang ditahan di penjara AS. (Bahry)

Sumber: pajhwok

ACLED: 15 dari 16 Korban Serangan Israel di Gaza adalah Warga Sipil

JALUR GAZA (jurnalislam.com)– Dari setiap 16 warga Palestina yang gugur di Jalur Gaza sejak Israel membatalkan gencatan senjata pada 18 Maret lalu, hampir 15 di antaranya adalah warga sipil. Data ini terungkap dalam laporan terbaru Armed Conflict Location and Event Data Project (ACLED), sebuah lembaga independen yang melacak kekerasan bersenjata di seluruh dunia.

ACLED mengumpulkan data korban dari berbagai sumber, termasuk laporan militer Israel, pernyataan Hamas, media lokal maupun internasional, serta organisasi hak asasi manusia.

Israel mengklaim telah menewaskan lebih dari 2.100 pejuang sejak pertengahan Maret. Namun, temuan ACLED menunjukkan jumlah sebenarnya hanya sekitar 1.100 orang, yang mencakup tokoh politik Hamas dan pejuang kelompok perlawanan lainnya.

Menurut ACLED, operasi militer Israel saat ini “lebih didorong oleh kepentingan politik dan ideologi domestik” ketimbang rencana realistis untuk membebaskan tawanan atau mencapai stabilitas jangka panjang. Bantuan persenjataan dari sekutu Israel, sebut laporan itu, justru memperparah penderitaan warga sipil tanpa memaksa kelompok perlawanan Palestina untuk menyerah.

𝗥𝗶𝗯𝘂𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗨𝗱𝗮𝗿𝗮, 𝗜𝗻𝗳𝗿𝗮𝘀𝘁𝗿𝘂𝗸𝘁𝘂𝗿 𝗚𝗮𝘇𝗮 𝗛𝗮𝗻𝗰𝘂𝗿

Sejak 18 Maret, Israel telah melancarkan lebih dari 3.500 serangan udara di Jalur Gaza yang menewaskan lebih dari 9.500 warga Palestina, sebagian besar merupakan warga sipil. ACLED mencatat, sedikitnya 40 komandan dan pejuang penting Hamas gugur dalam periode tersebut, termasuk Mohammed Sinwar.

Serangan Israel juga menargetkan infrastruktur Gaza, menghancurkan lebih dari 230 gedung pemerintah serta melumpuhkan jaringan listrik, air, fasilitas kesehatan, hingga sekolah-sekolah.

𝗪𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗚𝘂𝗴𝘂𝗿 𝗦𝗮𝗮𝘁 𝗠𝗲𝗻𝗰𝗮𝗿𝗶 𝗕𝗮𝗻𝘁𝘂𝗮𝗻

ACLED juga mengungkapkan bahwa lebih dari 1.300 warga Palestina gugur saat berusaha mendapatkan bantuan sejak akhir Mei hingga 12 September. Insiden itu banyak terjadi di sekitar pusat distribusi bantuan Gaza Humanitarian Foundation (GHF) yang didukung AS dan Israel. Mayoritas korban jatuh akibat tembakan tentara Israel.

Pengiriman bantuan yang tidak terorganisir membuat situasi semakin kacau. Kotak-kotak bantuan diletakkan di area terbuka, sementara ribuan warga yang kelaparan berdesakan ketika gerbang distribusi hanya dibuka sebentar.

Meski Israel kerap menuduh Hamas menjarah atau mengalihkan bantuan kemanusiaan, ACLED menegaskan tidak ada bukti yang mendukung klaim tersebut. Justru jika Hamas benar melakukannya, menurut laporan itu, reputasi mereka di mata rakyat Gaza akan rusak.

Laporan ACLED ini dirilis pada Rabu (17/9) di tengah invasi Israel yang semakin brutal di Kota Gaza, yang disertai penghancuran sistematis wilayah permukiman penduduk. (Bahry)

Sumber: ACLED

Al-Qassam Peringatkan Tawanan Israel di Gaza Terancam Meninggal akibat Penolakan Gencatan Senjata

GAZA (jurnalislam.com)– Sayap bersenjata Hamas, Brigade Al-Qassam, memperingatkan bahwa tawanan Israel di Gaza berisiko meninggal karena pemerintah Zionis menolak gencatan senjata untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir dua tahun.

Pada Sabtu (20/9/2025), Al-Qassam merilis sebuah gambar di kanal Telegram yang menampilkan 47 tawanan Israel, termasuk di antaranya yang diyakini telah tewas. Di bawah setiap foto tertulis nama “Ron Arad,” merujuk pada seorang pilot Israel yang hilang sejak 1986 setelah jet tempurnya jatuh di Lebanon dan hingga kini jasadnya tidak pernah ditemukan.

Dalam keterangan berbahasa Arab pada gambar itu tertulis: “Karena kekeraskepalaan Netanyahu dan ketundukan Kepala Staf Militer Israel Eyal Zamir: sebuah foto perpisahan di awal operasi di Gaza.”

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sendiri tengah dicari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Perang Israel di Gaza kini secara luas dipandang sebagai tindakan genosida.

𝗥𝗮𝘁𝘂𝘀𝗮𝗻 𝗪𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗦𝗶𝗽𝗶𝗹 𝗚𝘂𝗴𝘂𝗿

Serangan terbaru Israel di Kota Gaza sejak awal September telah menewaskan ratusan warga sipil dan meratakan sebagian besar wilayah kota. Pada Sabtu (20/9) saja, sedikitnya 61 orang dilaporkan syahid.

Pemerintah Netanyahu secara terbuka menyatakan niatnya menduduki Kota Gaza. Agresi itu memaksa sekitar 450 ribu warga Palestina mengungsi ke wilayah selatan, sementara 900 ribu lainnya masih terjebak di kota terbesar di Jalur Gaza, menurut otoritas setempat.

𝗔𝗻𝗰𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗔𝗹-𝗤𝗮𝘀𝘀𝗮𝗺

Dalam pernyataannya, Brigade Al-Qassam menegaskan akan menghadapi pasukan Zionis dengan “pasukan syuhada, ribuan penyergapan, dan alat peledak rakitan.” Kelompok itu menegaskan, “Gaza tidak akan menjadi mangsa empuk bagi pasukan Anda. Kami siap mengirim jiwa prajurit Anda ke neraka.”

Al-Qassam juga menyebut para pejuangnya telah menanam alat peledak di kendaraan pasukan pendudukan, termasuk buldoser yang mereka sebut sebagai “target bernilai tinggi.” Mereka menambahkan bahwa tawanan Israel telah disebar ke berbagai wilayah Kota Gaza, sehingga perluasan operasi militer Israel akan semakin menghilangkan kemungkinan untuk menemukan kembali para tawanan, baik hidup maupun mati.

𝗧𝗮𝘄𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗜𝘀𝗿𝗮𝗲𝗹

Tel Aviv mengklaim sekitar 50 dari 251 tawanan yang ditangkap pada 7 Oktober 2023 masih ditahan di Gaza, termasuk 20 orang yang masih hidup. Sebagian besar tawanan yang ditangkap Hamas dan kelompok perlawanan lain telah dibebaskan melalui pertukaran dengan tahanan Palestina, sementara beberapa tewas akibat serangan Israel.

Upaya internasional untuk mencapai gencatan senjata kembali terhambat setelah Amerika Serikat memveto resolusi Dewan Keamanan PBB untuk keenam kalinya pada Kamis (18/9).

Israel tetap bersikeras bahwa syarat utama penghentian perang adalah pelucutan senjata Hamas serta penghentian kekuasaan kelompok tersebut di Gaza pascaperang. Hamas menolak syarat itu tanpa adanya gencatan senjata permanen dan penarikan penuh pasukan Zionis dari wilayah Gaza.

Sementara itu, serangan udara Israel yang mematikan di Qatar pekan lalu, menargetkan sejumlah pimpinan Hamas, dinilai sebagai upaya sabotase terhadap perundingan gencatan senjata. Kendati demikian, Hamas menegaskan pihaknya tidak akan mundur dari meja perundingan dan tetap berusaha mengakhiri perang. (Bahry)

Sumber: TNA

Israel Hancurkan Gaza dengan Robot, Korban Sipil Terus Bertambah

GAZA (jurnalislam.com) – Militer Israel terus menghancurkan bangunan permukiman di Gaza utara dan selatan di tengah invasi darat yang semakin intensif. Serangan tanpa henti ini menyebabkan jumlah korban jiwa terus meningkat di seluruh wilayah tersebut.

Saksi mata melaporkan, pasukan Israel meledakkan sejumlah robot bermuatan bahan peledak di gedung-gedung dan fasilitas di wilayah Al-Mukhabarat, barat laut Kota Gaza, serta permukiman Tal al-Hawa di bagian selatan kota. Penggunaan robot penghancur ini disebut telah menjadi metode rutin Israel dalam meratakan bangunan.

Selama berhari-hari, wilayah Sheikh Radwan dan Tal al-Hawa digempur serangan artileri. Beberapa pekan sebelumnya, permukiman Al-Zeitoun juga dibombardir secara masif, yang dianggap sebagai persiapan untuk penyerbuan besar-besaran ke Kota Gaza. Awal pekan ini, tank-tank Israel bahkan telah terlihat memasuki pusat kota.

Diperkirakan hampir satu juta warga sipil masih bertahan di Kota Gaza, meski invasi besar segera terjadi. Banyak dari mereka menolak atau tidak mampu meninggalkan rumah mereka, meski Israel berulang kali memerintahkan evakuasi. Ratusan ribu lainnya telah terpaksa mengungsi ke selatan Jalur Gaza.

Israel secara terbuka menyatakan keinginannya untuk menduduki Kota Gaza dan wilayah lain yang masih berada di luar kendalinya. Langkah ini menuai kecaman global, dengan banyak pihak mendesak gencatan senjata segera. Namun, sekutu utama Israel, Amerika Serikat, pada Kamis (18/9) kembali memveto resolusi Dewan Keamanan PBB untuk keenam kalinya, yang menyerukan gencatan senjata permanen di Gaza.

Sementara itu, Hamas memperingatkan bahwa agresi Israel membahayakan nyawa para tawanan yang masih ditahan di Gaza. Israel sendiri menyebut sekitar 50 tawanan dari serangan 7 Oktober 2023 masih berada di Gaza, dengan 20 orang diyakini masih hidup. Sejumlah tawanan dilaporkan tewas akibat serangan Israel sendiri.

Di Jalur Gaza bagian tengah, sumber medis melaporkan seorang warga Palestina tewas dan beberapa lainnya luka-luka akibat serangan di Deir al-Balah, sementara seorang lagi tewas dalam penembakan yang menargetkan kamp pengungsi Nuseirat.

Di selatan Gaza, dua bersaudara Palestina gugur dalam penembakan yang menyasar sebuah tenda pengungsi di Al-Mawasi, barat Khan Younis. Padahal, Israel mengklaim Al-Mawasi sebagai “zona kemanusiaan” bagi ratusan ribu pengungsi dari utara. Meski demikian, wilayah tersebut kerap dibom dan telah menewaskan ratusan warga.

Sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023, lebih dari 65.000 warga Palestina gugur, mayoritas perempuan dan anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Angka sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi karena ribuan korban masih terkubur di bawah reruntuhan.

Di tengah situasi yang memburuk, Perusahaan Telekomunikasi Palestina mengumumkan pada Kamis bahwa layanan internet tetap dan telepon rumah di Gaza utara berhasil dipulihkan setelah pemadaman berhari-hari. Pemulihan dilakukan meski kru lapangan menghadapi ancaman serius dari gempuran udara dan operasi darat Israel. (Bahry)

Sumber: TNA

Mesir Siaga Penuh di Perbatasan, Tolak Pemindahan Paksa Warga Gaza ke Wilayahnya

KAIRO (jurnalislam.com)- Angkatan bersenjata Mesir dilaporkan dalam kondisi siaga penuh di perbatasan dengan Gaza sejak dimulainya serangan terbaru Israel di Kota Gaza. Kairo mengantisipasi gelombang besar pengungsi Palestina yang terdesak ke arah selatan jalur sempit tersebut.

Sejak perang Gaza meletus hampir dua tahun lalu, Mesir berulang kali memperingatkan Israel agar tidak memaksakan pengusiran terhadap 2,3 juta penduduk Palestina. Namun, serangan darat dan udara Israel baru-baru ini telah menggusur paksa sekitar 400 ribu orang, yang kini bergerak menuju bagian selatan Gaza, tepat di dekat perbatasan Mesir.

Laporan tersebut disampaikan media Al-Araby Al-Jadeed pada Jumat (19/9/2025), Kairo khawatir Israel tengah merancang skenario bencana dengan mendorong warga Gaza menyeberang ke Sinai utara. Langkah itu dianggap sebagai upaya untuk menempatkan Mesir dalam posisi sulit, seolah-olah menjadi pihak yang menolak pengungsi, sementara Israel lepas dari tanggung jawab kejahatannya.

“Wacana resmi di Kairo tidak melihat perkembangan ini sebagai sesuatu yang acak, melainkan sebagai rencana yang disengaja yang menargetkan keamanan nasional Mesir dan kawasan,” tulis media tersebut.

Meski krisis semakin parah, Mesir dipastikan tidak akan menangguhkan perjanjian keamanan dengan Israel. Namun hubungan diplomatik kedua negara yang terjalin sejak 1979 semakin memburuk sejak perang Gaza meletus pada Oktober 2023.

Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi sendiri menegaskan bahwa negaranya tidak akan menjadi pintu gerbang bagi pengusiran massal rakyat Palestina. Ia menyebut perang Israel di Gaza sebagai bentuk “genosida sistematis” dan menegaskan pemindahan paksa massal merupakan garis merah.

Awal bulan ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan menuduh Mesir “memenjarakan” warga Gaza, setelah Kairo menolak tegas skenario pemindahan paksa ke wilayah Sinai.

Yordania juga memperingatkan bahwa jika penggusuran rakyat Palestina dipaksakan, maka Amman akan menganggapnya sebagai tindakan perang.

Sejak dimulainya agresi militer Israel hampir dua tahun lalu, lebih dari 65 ribu warga Palestina gugur di Gaza, mayoritas perempuan dan anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan setempat.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kini menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. (Bahry)

Sumber: TNA