Berita Terkini

Wanti MUI Minta Impor Alkes dan PCR Ditinjau Ulang

JAKARTA(Jurnalislam.com)—  Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Hamdan Zoelva meminta pemerintah mengkaji ulang impor alat kesehatan.

“Kalau pemerintah memiliki ‘political will’ yang kuat, harusnya alkes seperti alat swab antigen dan alat PCR ini tidak perlu impor, karena alkes impor itu harganya sangat mahal,” kata Hamdan Zoelva saat menghadiri perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1443 Hijriah/2021 yang diselenggarakan PT Taishan Alkes Indonesia, Jakarta, Kamis (29/10).

Oleh karena itu, dirinya mendorong pemerintah untuk komitmen dalam penggunaan alat kesehatan produk dalam negeri.Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini berharap pemerintah membatasi masuknya produk-produk alkes impor.

Seharusnya, lanjut dia, pemerintah lebih mengutamakan produsen alkes dalam negeri yang harganya jauh lebih murah dan kualitasnya sangat baik serta telah memiliki sertifikat halal.

“Pemerintah harus meninjau ulang kebijakan mengenai alat swab antigen dan alat PCR impor yang banyak beredar sekarang ini. Saya khawatir ke depannya ini akan menjadi persoalan hukum, karena dianggap mencari keuntungan atau sengaja ada permainan soal harga alkes,” kata Hamdan Zoelva dalam siaran persnya.

Dia mencontohkan harga alat swab antigen yang dipublish PT Taishan Alkes Indonesia sebesar Rp 30 ribu, sementara harga yang ditetapkan pemerintah untuk alat swab antigen sebesar Rp 55 ribu.

“Ini dari pabrik lokal dalam negeri seperti PT Taishan saja harganya lebih murah dibanding yang ditetapkan oleh pemerintah. Malah saya yakin PT Taishan bisa tekan lagi harganya Rp 25 ribu sampai Rp 20 ribu. Bahkan alkes lokal ini sudah dapat sertifikat halal. Tapi koq yang banyak beredar justru alkes impor yang harganya dua kali lipat. Saya tidak tahu lagi berapa itu untungnya dari alkes impor ini,” katanya.

Dengan kondisi pandemi Covid-19 ini, pemerintah wajib melindungi masyarakat sekaligus meningkatkan perekonomian Indonesia.

“Tidak elok dalam kondisi sulit seperti ini produk impor terlalu diistimewakan. Kalau ada yang lebih murah, kenapa pilih yang mahal dan impor. Jika memang punya ‘political will’ dan ingin membangkitkan ekonomi, produk-produk alkes dalam negeri harusnya menjadi prioritas karena ini nantinya akan berdampak pada pemulihan ekonomi terutama penyerapan tenaga kerja di Indonesia,” paparnya.

Keuntungan menggunakan produk alkes dalam negeri, kata Hamdan Zoelva, salah satunya akan menyerap tenaga kerja Indonesia ketimbang membeli produk impor.”Kalau impor kan terima jadi, pabrik bukan di dalam negeri. Yang kerja bukan masyarakat Indonesia, uang lari keluar negeri juga. Saya tidak habis pikir soal alkes impor ini. Makanya saya minta pemerintah harus tinjau ulang deh impor alkes ini. Jangan sampai kita jadi bangsa yang tamak,” kata Hamdan Zoelva.

sumber: republika.co.id

 

Anies Nilai Tokoh Betawi Lebih Layak Dijadikan Nama Jalan

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menilai, usulan perubahan nama jalan dengan nama tokoh Betawi sangat layak untuk dipertimbangkan secara serius.

Dia menyebut, budaya Betawi merupakan salah satu unsur masyarakat yang memfasilitasi peristiwa penting dalam perjalanan bangsa dan negara Indonesia di Jakarta.

“Usulan-usulan untuk menggunakan nama jalan dengan nama tokoh Betawi layak dipertimbangkan secara serius dengan berbagai konteks yang harus jadi pertimbangan. Masyarakat Betawi ini memfasilitasi terjadinya proses persenyawaan antarunsur berbagai bangsa yang terjadi di kota ini,” kata Anies di Jakarta, Kamis (28/10). Namun demikian, Anies mengingatkan, unsur historis juga perlu dipertimbangkan dalam perubahan nama jalan tersebut.

Sementara itu, Ketua Komite III DPD RI Sylviana Murni yang sekaligus sebagai penggagas acara menyebutkan bahwa komunitas masyarakat Betawi mengusulkan beberapa nama yang merupakan tokoh untuk dijadikan jalan di Ibu Kota. Sejumlah nama tersebut antara lain Ismail Marzuki diusulkan merubah Jalan Cikini Raya, nama H Darip diusulkan mengubah Jalan Bekasi Timur Raya, nama Mahbub Djunaedi menggantikan Jalan Salemba Tengah, nama Guru Marzuki menggantikan Jalan Masjid Jatinegara, dan nama Habib Ali Kwitang merubah Jalan Kembang III.

Menurut Sylviana, usulan ini berangkat dari keinginan untuk mengenang jasa dan semangat dari para tokoh Betawi tersebut dalam menjalani kehidupan dan dalam perjuangannya. “Dengan usulan tersebut, kami berharap akan tertularkan spirit dari para tokoh Betawi dalam menjalani kehidupan, di lain sisi juga kita ingin jalanan Ibu Kota jadi makin harum tiap kali kita menatap bisa mengingat dan mempraktikkan semangat perjuangannya,” ucap Sylviana.

Meski demikian, Sylviana juga sepakat bahwa harus ada kajian unsur historis yang dipertimbangkan dalam perubahan nama jalan. “Jangan sampai nama jalan sebelumnya yang ternyata mewariskan sejarah dari para pendahulu kita jadi hilang, karenanya ini perlu perhatian secara serius,” tutur Sylviana menambahkan.

Sumber: republika.co.id

Klaster PTM Bandung Terus Bertambah 

BANDUNG(Jurnalislam.com) — Siswa dan guru yang mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas dan dinyatakan positif Covid-19 di Kota Bandung terus bertambah. Tercatat hingga Kamis (28/10) pagi, jumlah siswa dan guru yang positif Covid-19 mencapai 228 orang. Angka itu bertambah dari jumlah positif pada hari sebelumnya yang masih 117 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, dr Ahyani Raksanagara mengatakan, jumlah sekolah yang sudah dilakukan pemeriksaan tes PCR sebanyak 181 dari total 212 sekolah yang menjadi sample tes PCR. Sampel yang sudah diperiksa 7.493, sedangkan hasil yang sudah keluar 6.737.

“Jumlah yang sudah keluar 6.737 dengan hasil positif 228 orang, negatif 6.966,” ujarnya, Kamis (28/10). Ia menuturkan, siswa yang positif sebanyak 213 orang dan guru 15 orang.

Ahyani mengatakan, sekolah yang siswa dan gurunya positif Covid-19 di atas 5 persen sebanyak 46 sekolah, 1 hingga 5 persen 48 sekolah, dan 0 persen 87 sekolah. Sedangkan sekolah yang masih menunggu hasil 14 sekolah.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bandung, Cucu Saputra mengatakan, kegiatan belajar mengajar 46 sekolah yang memiliki hasil Covid-19 di atas 5 persen akan dihentikan sementara. Pihaknya sendiri masih menunggu hasil seluruh tes PCR di seluruh sekolah. “Ya (46 dihentikan PTM),” katanya.

Ia melanjutkan, evaluasi akan dilakukan setelah tes PCR ke seluruh sekolah selesai. “Nanti kita evaluasi di akhir setelah 100 persen survei,” kata dia.

Sekretaris Daerah Kota Bandung, Ema Sumarna mengatakan, pihaknya tetap mengacu kepada aturan bahwa sekolah yang memiliki hasil diatas 5 persen akan dihentikan PTM. Selanjutnya, dinas kesehatan melalui puskesmas akan melakukan trecing terhadap kontak erat. Pihaknya juga berencana melakukan tes PCR kepada seluruh sekolah untuk memastikan kondisi penyebaran Covid-19 di lapangan.

Pada Rabu, Dinkes Kota Bandung menutup seluruhnya 22 sekolah yang PTM. Hal tersebut seiring bertambahnya siswa dan guru yang terpapar Covid-19 menjadi 117 orang. Padahal pada Selasa, angka klaster PTM baru tersebut baru 84 siswa dan guru.

Sumber: republika.co.id

MUI Terima 23 Ribu Alat Kesehatan dari SKK Migas

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas (SKK Migas) menyerahkan 23.350 buah alat kesehatan dan alat pelindung diri melalui MUI untuk menanggulangi pandemi Covid-19.

Alat kesehatan tersebut terdiri dari 10 ribu box masker medis, hand sanitizer ukuran 100 mililiter sejumlah 9.600 buah, dan alat rapid test antigen sejumlah 3750 buah.

Sekretaris SKK Migas, Taslim Z Yunus, menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan hasil sumbangan dari 48 Kontrak Kerjasama bisnis hulu migas.

“Ini merupakan kerjasama kita dengan MUI, mohon dapat diterima. Atas nama manajemen SKK Migas, kami mengucapkan terimakasih atas kerjasama ini. Mudah-mudahan kerjasama seperti ini bisa berlangsung lama dan bertambah banyak lagi, ” ujarnya saat menyerahkan bantuan tersebut, Kamis (28/10) di Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta.

Sementara itu, Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis menyampaikan terimakasih atas kerjasama dan kerpecayaan SKK Migas kepada MUI dalam menanggulangi Covid-19. Dia berharap, pada kesempatan mendatang akan ada kerjasama lain dengan SKK Migas terkait penanggulangan Covid-19.

“Daerah-daerah sangat membutuhkan dan kita juga sama-sama mengantisipasi gelombang ketiga dari Covid-19 ini, ” ujar Wakil Ketua Gerakan Nasional (Gernas) Penanggulangan Covid-19 MUI itu.

 

Dia mengatakan, alat pelindung diri seperti ini perlu disiapkan untuk mengantisipasi situasi terburuk yaitu merebaknya Covid-19 gelombang ketiga.

“Jangan sampai seperti yang terjadi di gelombang kedua yang menimpa kita. Di balik itu, salah satunya karena kekurangan APD di sejumlah tempat. Kekurangan terjadi berkali-kali, di beberapa tempat juga mengalami kekurangan, ” ujarnya.

Pada kesempatan itu, pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini menambahkan, meski grafik Covid-19 mengalami penurunan, perlu ada kesiapan ekstra menghadapi Pandemi Covid-19 yang kemungkinan memburuk.

“Tentu kita tidak menginginkan Covid-19 datang kembali, tetapi dengan sekarang mulai mereda, maka kita perlu ada persiapan. Atas nama Dewan Pimpinan MUI, saya ucapkan teriamakasih atas kepercayaan dan kerjasamanya, ” paparnya.

 

 

Masa Depan Indonesia di Tangan Para Pemuda

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Indonesia hari ini memperingati 93 tahun peristiwa Sumpah Pemuda. Tepatnya, pada 28 Oktober 1928, para pemuda Indonesia memekikkan sumpah tentang Satu Tumpah Darah, Satu Bangsa, Indonesia. Mereka berumpah untuk menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

93 tahun berselang, Menag Yaqut Cholil Qoumas mengajak pemuda Indonesia memanfaatkan momentum peringatan ini untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa, serta bangkit memajukan Indonesia.

Menurutnya, di pundak para pemuda, terpikul beragam persoalan umat dan bangsa. “Masa depan bangsa, di tangan pemuda,” tegas Menag, di Jakarta, Kamis (28/10/2021).

Dikatakan Menag, pemuda masa depan harus memiliki pemahaman dan praktik keagamaan yang moderat, tidak ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Kementerian Agama saat ini terus berupaya melakukan penguatan moderasi beragama, salah satunya kepada kalangan pemuda.

“Kami akan terus cetak kader dan duta moderasi beragama dari kalangan pemuda, baik siswa Madrasah Aliyah atau mahasiswa. Mereka diberi pemahaman terkait moderasi beragama, sekaligus keterampilan membuat konten publikasi yang moderat,” tuturnya.

“Buah moderasi adalah kerukunan, dan kerukunan adalah modal penting membangun bangsa. Maju pemuda Indonesia. Di tangan kalian, masa depan Indonesia,” tandasnya.

Perkuat Kecerdasan Literasi Siswa, SMP Muhammadiyah PK Gelar Festival Bulan Bahasa

SURAKARTA(Jurnalislam.com)--SMP Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Surakarta menggelar Festival Bulan Bahasa (FBB) secara virtual pada Kamis (28/10). Kegiatan yang bertajuk Cerdas Literasi, Semangat Berprestasi tersebut tidak hanya diikuti siswa internal sekolah, tetapi juga siswa SD/MI se-Solo Raya yang sebelumnya mengikuti lomba bulan bahasa.

 

Tujuan diselenggarakan Festival Bulan Bahasa di sekolah, menurut Muhdiyatmoko, M.Pd., adalah dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober yang juga identik dengan bulan bahasa. “Kegiatan ini sebagai sarana menginternalisasi nilai-nilai kejuangan yang telah dirintis oleh para pendahulu kita. Maka sesuai tema, kita berharap para siswa semangat belajar, kebersamaan, dan sosial budaya sehingga terus berpacu meraih prestasi setinggi-tingginya,” ungkap Kepala SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta di sela-sela acara.

 

Muhdiyatmoko menambahkan penampilan para siswa seperti menyanyi lagu daerah, membaca puisi, nembang basa Jawa, bermain musik, dan sebagainya tersebut yang ditampilkan secara langsung di youtube PK TV sebagai sarana untuk menyalurkan bakat, mengasah kreativitas, motivasi, dan inspirasi bagi siswa lain. “Meskipun pandemi, kreativitas dan prestasi siswa tetap jalan terus,” tandasnya.

 

Acara Festival Bulan Bahasa dimeriahkan dengan penampilan para siswa dengan menerapkan protokol kesehatan covid-19 ketat. Aji Muhammad  Raihan siswa kelas 7 membuka acara dengan nembang lagu Jawa lalu diikuti dengan tampilan siswa lain seperti mengaji, membacakan naskah sumpah pemuda, menyanyi, dan mendongeng. Akhir acara diumumkan pemenang lomba bulan bahasa baik yang diikuti internal maupun eksternal sekolah.

 

Lomba Semarak Bulan Bahasa yang digelar secara eksternal diikuti kurang lebih ratusan siswa SD/MI se-Solo Raya sejak 25 September s.d 25 Oktober 2021. Lomba tersebut meliputi lomba membaca berita, membaca puisi, story telling, dai cilik, dan nembang. Adapun lomba internal sekolah meliputi lomba podcast dan film pendek.

 

Pemenang lomba dai cilik meliputi juara 1, Hilma Al Fabiya Afifi    dari MI Muhammadiyah Bentak ; Juara 2 Nida Zhafirah dari      SD IT Ulil Albab Gondang Rejo Karanganyar;  dan Juara 3 Muhammad Sultan Zhafran dari SD Birrul Walidain Muhammadiyah Sragen; dan juara favorit adalah Jabbar ‘Afi Sadid Hakiki     SD Muhammadiyah Klaten Utara.

 

Pemenang lomba nembang meliputi juara 1 Lipursari Ariska Putri dari         SD IT Bina Insani Banyudono Boyolali; juara 2 Shakilla Alifiana Dewi dari             SD Muhammadiyah Program Khusus Polanharjo; Juara 3 Niyaz Hanania           SDIT Alif Smart Surakarta; juara favorit Hafiy Tsaqif Alfarizi dari SD Muhammadiyah 2 Surakarta.

 

Pemenang lomba story telling meliputi juara 1 Galuh Janitra Maheswari      SD Birrul Walidain Muhammadiyah Sragen; juara 2 Anindya Hayuningdyah Kinanti dari         SD Muhammadiyah Klaten Utara; juara 3 Azfa Azadella SDIT Ulil Albab Gondangrejo; juara favorit Almaira Oktavia M.P  dari MIN 9 Sragen.

 

Pemenang lomba membaca berita meliputi juara 1 Ollavia Azilia Wiyono dari         MI Muhammadiyah Bentak; juara 2 Prissy Islami Java Nusantara  dari SD Muhammadiyah 8 Jagalan    ; juara 3 Rafah Jamaludin dari SD Ulil Albab Gondangrejo         ; juara favorit Salwa Aqila Nur Mumtazah SD Muhammadiyah Klaten Utara.

 

Pemenang lomba membaca puisi meliputi juara 1 Aqisha Nayla Raisya        dari SD Birrul Walidain Muhammadiyah Sragen; Nada Devi Nur Khasanah dari MIN 9 Sragen; Juara 3 Abdurrahman Nur Fauzan dari SD IT Insan Mulia Surakarta; juara favorit Salwa Aqila Nur Mumtazah dari SD Birrul Walidain Muhammadiyah Sragen.

 

Sementara itu, Dara Latifah Azzahra dan Nabiila Alya Hernanda, siswa kelas 9, sangat terkesan diberikan kesempatan tampil menyanyikan lagu daerah dalam acara Festival Bulan Bahasa. “Tadi menyanyikan lagu daerah agar teman-teman mengetahui lagu daerah. Sebagai pemuda Indonesia kita patut bangga terhadap lagu daerah yang sangat bagus,” ungkap siswi yang tergabung dalam ekstrakurikuler musik.

Siswa Madrasah Dipastikan Taat Protokol Kesehatan

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Sumatera Utara (Sumut) Syahrul Wirda memastikan tidak ada siswa madrasah di Kota Medan yang keluyuran di luar jam belajar, apalagi tanpa mengunakan masker.

Hal ini disampaikan Syahrul Wirda terkait pemberitaan adanya siswa madrasah di Medan yang nongkrong di pinggir jalan tanpa menerapkan protokol kesehatan dengan tidak memakai masker.

“Kami sudah koordinasi dengan Kakankemenag Kota Medan dan menelusuri pemberitaan tersebut. Hasil sidak Kakankemenag Kota Medan bersama Kadis Pendidikan, Camat Medan Amplas, Gugus Covid-19, Kapolrestabes Medan tidak didapati adanya siswa dan siswi madrasah yang berada di komplek Universitas Al Washliyah (Univa) Medan tanpa mengunakan masker, ” kata Syahrul Wirda, Kamis (28/10/2021).

Kanwil Kemenagsu menjelaskan di komplek Univa terdapat sejumlah sekolah termasuk di bawah Dinas Pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA, STM, SMEA, SMK hingga mahasiswa perguruan tinggi. Sementara di bawah Kementerian Agama, yakni MTs dan MA swasta.

“Kami mengimbau kepada seluruh siswa madrasah untuk tetap mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker. Jika ada yang tidak mematuhi, seperti arahan Walikota Medan, sekolah tersebut bisa ditutup. Sebelumnya Kami juga sudah melayangkan surat ditujukan kepada Kakankemenag se Sumatera Utara untuk senantiasa melakukan pemantauan, pengawasan serta berkoordinasi dengan pihak terkait selama proses pembelajaran tatap muka berlangsung,” tandas Syahrul Wirda

Sementara itu, Kakankemenag Kota Medan, Impun Siregar menambahkan kronologi adanya siswa nongkrong tanpa masker itu bermula saat Walikota Medan Bobby Nasution menghadiri acara Penyerahan Piagam Penghargaan Adiwiyata Kota Medan Tahun 2021 di SDN 060995.

Dalam sambutannya, Walikota Medan sempat menegur guru yang tidak menggunakan masker dan Plt Kadis Pendidikan Kota Medan usai melihat siswa yang nongkrong di depan kampus Universitas Al-Washliyah (Univa) tanpa mengunakan masker.

“Kami akan rapat koordinasi bersama pihak sekolah dan madrasah, Dinas Pendidikan serta  pihak kecamatan di kawasan Medan Amplas untuk meningkatkan pengawasan siswa dan pelajar selama PTM. Imbauan agar selalu melakukan pengawasan dan pemantauan dalam proses pembelajaran tatap muka di madrasah jauh hari sudah kami terima dari Kakanwil Kemenagsu,” tegas Imun Siregar.

Halaqah Seni Budaya Islam Sukses Dihelat

TANGSEL(Jurnalislam.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tangerang Selatan (Tangsel) berkomitmen untuk mengembangkan Seni Budaya sebagai sarana penyampaian pesan dakwah.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Umum MUI Tangsel, KH Abdul Rojak, dalam kegiatan Halaqah Seni Budaya Islam, Kamis (28/10).

Menurutnya, MUI bukan hanya menguasai teori-teori tentang seni yang Islami secara dalil AlQuran maupun hadis.

“MUI harus mampu memproduksi konten seni yang Islami untuk dipersembahkan dan tonton oleh masyarakat,”ujarnya.

Selain itu, dia juga mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini demi memberi wawasan dalam pengembangan Seni Budaya Islam.

 

Dia berharap, dengan mengadakan kegiatan Halaqoh seni budaya Islam, seni budaya bernuansa Islami dapat dikemas secara visual untuk tujuan berdakwah. Dengan demikian, dakwah tidak hanya dilakukan dari podium ke podium, tetapi bisa melalui siber.

“Jangkaun kemasannya sangat terbuka pada teknologi, dan terkoneksi satu dengan lain. MUI bukan hanya menjadi penonton, tapi produser kesenian Islami,” paparnya.

Ia berharap, kedepan kegiatan seni budaya seperti ini tidak hanya melalui seminar, tetapi bisa diwujudkan dalam bentuk pentas seni seperti lomba Marawis, Qoshidah, Stand Up, dan lainya.

Acara Halaqah Seni Budaya Islam dipandu oleh artis komedi nasional Narji. Ia juga selaku pengurus MUI Tangsel Komisi Pengembangan Seni Budaya Islam.

Dalam acara itu, artis yang dikenal dengan Dik Doank didaulat menjadi salah satu narasumber. Di awal paparannya, artis yang saat ini menjadi pendakwah itu mengajak para peserta yang hadir untuk menata hati dengan ikhlas. Menurutnya Islam sangat mengedepankan keindahan.

 

“Allah itu indah, dan menyukai keindahan. Seni itu indah, tinggal bagaimana kita melakukannya sesuai dengan kerindhoannya,” ucapnya.

Dia mengatakan, kesenian menjadi sangat urgen bagi kehidupan manusia dan dapat menjadi salah satu media penyampaian dakwah.

“Karena seni dan budaya bisa diterima banyak kalangan dan ruangan. Dengan harapan punya kesempatan membawa Indonesia dan Islam,” tambahnya.

Kegiatan yang diselenggarakan di Saung Bakso Kemuning 57, Pamulang dihadiri sejumlah tokoh diantaranya Kabag Kesra Tangsel, Heli Slamet, Ketua Lasqi Tangsel Ratu Nuraeni, Ketua Komisi Pengembangan Seni Budaya Islam Hariyadi Saidih, Pengurus MUI Tangsel, dan para peserta dari berbagai unsur masyarakat.

Ketua Komisi Pengembangan Seni Budaya Islam, Hariyadi Saidih, menjelaskan Seni apapun itu bisa memunculkan dampak positif maupun negatif.

 

Dia mengatakan, komisi pengembangan Seni Budaya Islami mendapatkan amanah untuk menghidupkan kembali seni budaya Islam di Nusantara secara positif.

“Semua ada yang positif konstruktif ada juga yang destruktif. Yang perlu dipopulerkan kembali di masyarakat adalah seni dan budaya yang konstruktif,” pungkasnya.

 

Komisi Pemberdayaan Ekonomi MUI Dorong Koperasi Berbasi Masjid

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Masyarakat Indonesia cukup familiar dengan koperasi. Umumnya, koperasi diberdayakan sebagai unit ekonomi yang kepemilikannya didasarkan pada keanggotaan dengan fokus pada bidang usaha tertentu.

Namun, bagaimana jika koperasi diberdayakan sebagai unit simpan pinjam dengan masjid sebagai wadah operasionalnya?

Anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia (KPEU MUI), Dr. Ir. H. Arsyad Ahmad mengungkap bagaimana koperasi syariah berbasis masjid dapat memberdayakan umat.

Menurutnya, umat harus mulai menabung di koperasi syariah berbasis masjid. Gerakan menabung tersebut bisa dimulai dengan langkah kecil seperti menyisihkan 1000 rupiah perhari, atau bahkan 500 rupiah.

“Umat dan rakyat (perlu) mulai menabung. Gerakan menabung umat dan rakyat. Boleh nabung 500 rupiah tiap hari. Boleh 1000 rupiah saja tiap hari,” ungkapnya pada webinar “Bangkit dari Covid-19 dengan Nalar dan Aksi Bersama Berlandaskan Nilai-Nilai Islam dan Fatwa MUI–Pengembangan Ekonomi Syariah menuju Pemulihan Ekonomi Nasional di Jawa Barat” pada Kamis, 28 Oktober 2021.

Webinar ini digelar hasil kerjasama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Ustaz Arsyad menyebut gerakan menabung tersebut dapat berbasis di masjid mana saja di seluruh Indonesia. Sebab, gerakan tersebut harus masif terlaksana di semua masjid, baik oleh seluruh jamaah, maupun semua umat.

Menurut Bung Hatta, lanjut sosok yang juga Ketua Bidang Ekonomi MUI Bandung itu, koperasi kredit itu sangat perlu. Bahkan menurutnya koperasi yang dimaksud Bung Hatta adalah koperasi syariah.

Dalam pandangan Ustaz Arsyad, ada kalanya masyarakat menabung di koperasi masjid masing-masing.

“Jadi (misal) ada sejuta masjid, umat ini menabung di masjid saja dan wadahnya adalah koperasi syariah,” lanjutnya.

 

Ia juga menyinggung bahwa koperasi syariah berbasis masjid menurut Bung Hatta adalah koperasi tempat masyarakat melatih diri, menyimpan uang, menabung, tempat pendidikan, tempat segi sosial dan banyak lainnya.

Yang tidak kalah penting dari gerakan menabung tersebut adalah umat tidak boleh berhenti. Bahkan ketika meninggal dunia, tabungan umat tersebut tidak boleh berhenti.
Menurutnya senada dengan apa yang digagas Bung Hatta, kegiatan koperasi tidak boleh berkeputusan.

“Insya Allah segera setelah menabung tersebut, tidak boleh berhenti. Kita mungkin akan meninggal dunia, tapi yang tabungan itu tidak boleh berhenti. Bung Hatta menyampaikan zaman dulu itu tidak boleh berkeputusan. Tidak boleh berhenti,” tuturnya.

Keberadaan koperasi nantinya dapat membantu anggotanya yang lemah secara ekonomi dengan bantuan pinjaman.

 

Meski begitu, kegiatan koperasi harus mendahulukan simpanan ketimbang pinjaman. Hal ini demi menghindari praktik keliru yang menyebabkan kas koperasi kosong ketika dibutuhkan anggota.

Ia berharap gerakan menabung dapat dimulai di masa-masa sekarang.

Di Bandung sendiri, Arsyad mengatakan bahwa dirinya sudah 15 tahun terlibat dalam menjadikan masjid sebagai basis koperasi syariah, yang bahkan banyak menorehkan prestasi nasional di bidang koperasi

 

Pemerintah Luncurkan Gerakan 1 Juta Sertifikasi Halal Gratis untuk UMK

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Pemerintah merilis Gerakan 1 Juta Sertifikasi Halal Gratis bagi UMK Indonesia. Gerakan ini dicanangkan oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2021.

Gerakan ini hasil kerjasama sejumlah pihak, antara lain Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama bekerja sama dengan Pemberdayaan Perempuan UMKM Indonesia (PPUMI) dan Bank Indonesia. Bersamaan itu, digelar juga High Level Policy Discussion (HLPD) dan Pelatihan Digitalisasi bagi UMKM secara Nasional.

Hadir, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Komisaris Bank Negara Indonesia, serta Ketua Umum PPUMI Munifah Syanwani.

Kepala BPJPH Muhammad Aqil Irham mengatakan, gerakan sertifikasi halal gratis ini sejalan dengan tugas dan fungsi BPJPH dalam penyelenggaraan Jaminan Produk Halal (JPH), khususnya dalam upaya percepatan mandatory sertifikasi halal. Untuk itu, pihaknya mendukung gerakan, sekaligus berharap gerakan tersebut menjadi momentum peningkatan sinergitas seluruh pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan JPH.

“BPJPH juga memberikan dukungan kepada Gerakan 1 Juta Sertifikasi Halal Gratis bagi UMK Indonesia yang secara resmi telah dicanangkan oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Kami berharap ini menjadi bentuk peningkatan sinergitas antar stakeholder dalam penyelenggaraan JPH,” ujar Aqil Irham di Jakarta, Kamis (28/10/2021).

Menurut Aqil Irham, pemerintah melalui Undang-undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Jaminan Produk Halal secara serius memberikan perhatian kepada pelaku UMK dalam melaksanakan kewajiban sertifikasi halal. Perhatian ini antara lain berupa berbagai kemudahan yang diberikan kepada UMK, termasuk dalam pembiayaan sertifikasi halal.

Bersamaan dengan rilis gerakan ini, BPJPH secara simbolis menyerahkan sertifikat halal kepada 10 pelaku UMK. “Sertifikat halal yang diserahkan kepada para pelaku UMK pada hari ini juga merupakan output dari Program Sertifikasi Halal Gratis atau program Sehati Tahun 2021 yang telah dilaksanakan oleh BPJPH secara kolaboratif dengan Kementerian/Lembaga, Pemda, dan mitra BPJPH lainnya,” imbuh Aqil Irham.

Tahun 2020, Kementerian Agama melalui BPJPH telah memfasilitasi sertifikat halal bagi 3.179 pelaku UMK. Di tahun yang sama, sedikitnya terdapat 36 dinas di Pemda yang tercatat membantu para pelaku UMK memperoleh sertifikat halal dengan pengajuan melalui BPJPH.