Berita Terkini

Indonesia-Saudi Kembali Gelar Musabaqah Hafalan Al-Qur’an dan Al-Hadits

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Musabaqah Hafalan Al-Qur’an dan Al-Hadits (MHQH) Pangeran Sultan bin Abdul Aziz Alu Su’ud Tingkat Nasional ke-14 digelar di Jakarta. Kegiatan yang rutin diselenggarakan setiap tahun ini merupakan kerjasama Pemerintah Kerajaan Arab Saudi dengan Direktorat Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama.

Menurut Direktur Jenderal Bimas Islam Kamaruddin Amin, musabaqah ini diikuti 250 penghafal Al-Qur’an dan Al-Hadits dari 34 provinsi, pondok pesantren, dan lembaga keagamaan di Indonesia.  Selama tiga hari, mulai 22-25 Maret 2022, para peserta akan mengikuti musabaqah dan dinilai oleh dewan juri yang berasal dari Indonesia dan Arab Saudi.

“Ini menjadi bukti baiknya kerja sama antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Kerajaan Arab Saudi,” ungkap Kamaruddin saat Pembukaan MHQH ke-14, di Jakarta, Senin (22/3/2022).

“Musabaqah ini merupakan sarana mempererat persatuan dan kesatuan bangsa serta memperkokoh jalinan persahabatan kedua negara,” sambungnya.

Dirjen berharap, musabaqah tingkat nasional yang dihelat tiap tahun ini menjadi sarana bagi masyarakat untuk mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Dengan demikian, prinsip Al-Qur’an tentang pola hubungan manusia dengan Tuhan dan sesamanya akan semakin mudah diamalkan dalam keseharian.

“Al-Quran dan Al-Hadits mengajarkan prinsip-prinsip dan tata aturan kehidupan yang harus dijalankan oleh umatnya, tidak hanya terkait dengan hablum minallah (hubungan manusia dengan Allah), tetapi juga hablum minannaas (hubungan dengan sesama manusia),” terang Dirjen.

Hadir dalam Pembukaan MHQH Pangeran Sultan bin Abdul Aziz Alu Su’ud Tingkat Nasional ke-14 ini, Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia, Esam Abid Al-Thaqafy, Muhdhir Kantor Atase Agama, Ahmad bin Esa Al-Hazmy serta Dubes perwakilan negara sahabat.

Hadir pula, Ketua Komisi VIII DPR RI, Yandri Susanto, Sekretaris Ditjen Bimas Islam, M. Fuad Nasar, dan Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Syamsul Bahri.

Pesantren Al Ittifaq Diharap Jadi Model Kebangkitan Ekonomi Umat

BANDUNG(Jurnalislam.com)– Pesantren selain sebagai lembaga pendidikan dan dakwah, juga memiliki fungsi sebagai pemberdaya ekonomi masyarakat. Hal ini terlihat jelas pada Pondok Pesantren Al-Ittifaq di Kampung Ciburial, Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat yang didirikan pada 1 Februari 1934 (16 Syawal 1302 H) oleh K.H. Mansyur. Ditambah lagi dinamika hidup sehari-hari masyarakat di lingkungan sekitar pesantren sangat dipengaruhi oleh sistem pertanian holtikultura.

Pagi ini, Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin menyambangi langsung kegiatan agribisnis di Ponpes Al Ittifaq yang digagas oleh almarhum K.H. Fuad Affandi sejak 1970 dan hingga kini bahkan menjadi tulang punggung kegiatan pesantren. Setelah menyaksikan langsung kegiatan agribisnis ini, Wapres pun berharap Ponpes Al Ittifaq dapat menjadi contoh dan awal kebangkitan ekonomi umat.

“Saya mengapresiasi koperasi pondok pesantren Al Ittifaq atau Kopotren Alif Mart, yang telah memberdayakan 270 petani dari 9 kelompok tani di 3 kabupaten. Jumlah petani yang bergabung di koperasi ini juga diharapkan akan semakin bertambah,” ucap Wapres dalam sambutannya pada acara Peresmian Peluncuran Digitalisasi Pertanian di Pondok Pesantren Al Ittifaq, Jl. Ciburial, Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (22/03/2022).

Dalam kesempatan itu, Wapres juga menginginkan pesantren selain menjadi lembaga pendidikan juga sebagai tempat untuk mendorong transformasi ekonomi masyarakat dan motor penggerak ekonomi umat.

“Ini yang kita harapkan. Jadi dia menjadi semacam dinamo yang bisa menggerakkan kehidupan ekonomi masyarakat,” pesannya.

Selain itu, Wapres juga menekankan bahwa digitalisasi dalam pertanian perlu diadopsi untuk mengembangkan berbagai inovasi pertanian berbasis teknologi.

“Ketika berbicara tentang korporasi pertanian maka bentuknya adalah pertanian modern yang tidak lepas dari penerapan digitalisasi pertanian berbasis internet,” terangnya.

Oleh karena itu, Wapres meyakini bahwa penerapan digitasilasi pada sektor pertanian akan semakin dibutuhkan. Menurutnya, hal ini selain dapat meningkatkan produktivitas dan profitabilitas, juga bermanfaat dalam mengatasi masalah lingkungan dan pengaruh perubahan iklim yang sangat memengaruhi produk pertanian seperti degradasi tanah, erosi, cuaca ekstrem, kekeringan, dan sebagainya.

“Kita ingin terus membangun sektor pertanian yang lebih tangguh dan memperkuat ketahanan pangan sekaligus mewujudkan transformasi ekonomi yang berkelanjutan,” tekadnya.

Sebelumnya, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyatakan dukungannya terhadap pembangunan ekosistem pertanian sebagai bentuk perwujudan pembentukan korporat farming dalam bentuk koperasi.

“Kita harus membangun korporat farming dalam bentuk koperasi. Jadi kita membangun ekosistem pertanian, mulai dari pembiayaan, proses produksi, hingga pemasaran yang terintegrasi,” ungkap Teten.

Ditempat yang sama, Gubernur Jawa Barat M. Ridwan Kamil juga melaporkan bahwa berdasarkan hasil survei yang dilakukan, tanah Jawa Barat termasuk ke dalam 1 dari 10 tanah tersubur di dunia. Ia juga menyampaikan bahwa hasil analisis yang dilakukan oleh jajarannya, sektor pangan adalah salah satu sektor yang tidak terpengaruh oleh keadaan krisis. Untuk itu, Ridwan meyakini bahwa perpaduan antara pangan dan teknologi, merupakan kolaborasi yang baik dan dapat memberi dampak berkelanjutan.

“Pangan adalah ekonomi yang tidak terpengaruh oleh pandemi. Jadi selama 2 tahun kajian kami, hampir semua ekonomi turun kecuali pangan dan digital. Jadi kalau dua ini digabung yaitu pangan dengan teknologi kami meyakini inilah masa depan,” lapor RIdwan.

Usai meresmikan, Wapres meninjau green hause yang berisi tanaman buah Jeruk, Melon, Stroberi, serta memetiknya.

Menutup kegiatannya, Wapres beranjak ke Kantor Bupati Bandung untuk mengecek penerapan Mall Pelayanan Publik (MPP) di Kabupaten Bandung. Di sini Wapres melihat langsung jenis pelayanan publik yang tersedia dan berdialog dengan petugas salah satu stand perijinan di MPP.

Selain Gubernur Jawa Barat dan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, hadir pula segenap Forkopimda Provinsi Jawa Barat, Bupati Bandung Dadang Supriatna, dan jajaran pengurus Pondok Pesantren Al Ittifaq.

Sementara Wapres didampingi oleh Kepala Sekretariat Wapres Ahmad Erani Yustika, Staf Khusus Wapres Bidang Komunikasi dan Informasi Masduki Baidlowi, Staf Khusus Wapres Bidang Politik dan Hubungan Kelembagaan Robikin Emhas, Staf Khusus Wapres Bidang Ekonomi dan Keuangan Lukmanul Hakim, Tim Ahli Wapres Farhat Brachma, Kepala Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Noor Achmad, serta Pimpinan Baznas Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan Saidah Sakwan.

BPJPH Gelar Pelatihan Calon Asesor dan Penilai LPH

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama menggelar Pelatihan Calon Asesor dan Calon Penilai Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) dan Lembaga Halal Luar Negeri (LHLN). Pelatihan digelar bekerja sama dengan Komite AKreditasi Nasional dan Badan Standardisasi Nasional (BSN).

Kepala BPJPH Muhammad Aqil Irham memastikan bahwa pelatihan dimaksudkan untuk menyiapkan asesor dan penilai LPH dan LHLN yang perannya sangat dibutuhkan dalam mendukung percepatan pendirian LPH dan kerja sama LHLN dan BPJPH.

“Melalui pelatihan ini kita harapkan dihasilkan para asesor dan penilai yang nantinya bertugas memastikan bahwa LPH yang didirikan oleh pemerintah atau masyarakat telah memenuhi ketentuan sesuai regulasi,” ungkap Aqil Irham saat membuka pelatihan di Bogor, Senin (21/3/2022).

“Juga untuk memastikan bahwa Lembaga Halal Luar Negeri yang mengajukan kerja sama telah memenuhi seluruh persyaratan sesuai ketentuan regulasi Jaminan Produk Halal,” lanjutnya.

Kepala Pusat Kerja Sama dan Standardisasi Halal Siti Aminah mengatakan bahwa penyiapan calon asesor dan penilai LPH dan LHLN itu sejalan dengan upaya BPJPH yang terus mendorong berdirinya lebih banyak LPH serta memperluas kerja sama dengan LHLN.

“LPH adalah bagian dari infrastruktur penyelenggaraan sertifikasi halal yang perannya sangat penting dalam pengujian dan/atau pemeriksaan kehalalan produk. Berdirinya lebih banyak LPH dipastikan akan semakin mendekatkan layanan sertifikasi halal kepada pelaku usaha yang tersebar semua daerah,” kata Siti Aminah.

“Bertambahnya jumlah LPH diharapkan juga merata sehingga dapat menjangkau sebaran pelaku usaha di setiap daerah, di setiap provinsi hingga kabupaten/kota di Indonesia,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Siti Aminah juga mengatakan bahwa saat ini BPJPH telah menerima banyak sekali permohonan kerja sama dari Lembaga Halal yang berasal dari berbagai negara. Dalam proses kerja sama tersebut, para asesor berperan penting dalam memastikan apakah seluruh LHLN tersebut telah memenuhi smeua kriteria kerja sama yang ditetapkan sesuai regulasi ataukah tidak.

Sesuai jadwal, Pelatihan Calon Asesor dan Calon Penilai LPH dan LHLN dilaksanakan dalam 3 angkatan. Pelatihan angkatan 1 dilaksanakan pada 14 – 18 Maret 2022, diikuti 36 peserta. Angkatan 2 dilaksanakan pada 21 – 25 Maret 2022 dengan diikuti 42 peserta. Sedang angkatan 3 dilaksanakan 28 Maret sampai 1 April 2022, diikuti 42 peserta.

Pelatihan yang dilaksanakan dengan protokol kesehatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Kepala BPJPH M Aqil Irham, Kepala Pusat Kerja Sama dan Standardisasi Halal Siti Aminah, serta sejumlah dari BSN/KAN, MUI, dan BPJPH.

 

Digitalisasi Pertanian Bisa Dimulai dari Pesantren

BANDUNG9Jurnalislam.com)– Saat ini terdapat beberapa lembaga yang terlibat sebagai Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM), di antaranya yaitu Bank Indonesia, Bank Syariah Indonesia, dan Badan Amil Zakat Nasional. Adanya lembaga tersebut diharapkan mampu memperkuat pengembangan digitalisasi pertanian.

“Permodalan ini terus kita kembangkan dan supaya LPDB juga diperkuat, begitu juga Bank Syariah Indonesia dan Bank Indonesia jadi fasilitator. Kementerian Koperasi dan UKM akan mengambil peran lebih jauh dengan berbagai dinas di masing-masing provinsi dari pada digitalisasi perkembangan pertanian,” tutur Wapres K.H. Ma’ruf Amin dalam keterangannya kepada awak media usai mengunjungi Pondok Pesantren Al Ittifaq Kabupaten Bandung, Selasa (22/03/2022).

Menurut Wapres, Pondok Pesantren Al Ittifaq akan didorong menjadi role model digitalisasi pertanian dengan menjadikannya sebagai tempat pelatihan.

“Al Ittifaq ini menjadi tempat pelatihan jadi akan dijadikan permodelan, ini tempat traning dari berbagai pesantren, kita dorong sebagai digitalisasi pertanian,” ungkap Wapres.

Lebih jauh, Wapres menuturkan beragam komoditi dan teknologi yang dimiliki Pondok Pesantren Al Ittifaq telah memenuhi standar global. Hal tersebut menjadikan Pondok Pesantren Al Iitifaq sebagai role model penerapan digitalisasi pertanian yang ingin dikembangkan.

“Produksi pesantren Al Ittifaq menjadi satu model yang ingin kita kembangkan. Berbagai macam komoditi ada dan sudah mengadopsi teknologi yang ada di berbagai negara di Belanda, Jepang, sehingga produknya itu punya standar internasional,” tutur Wapres.

Menutup keterangannya, Wapres mengungkapkan sebagai pilot project, Pondok Pesantren Al Ittifaq akan menjadi acuan untuk pengembangan digitalisasi pertanian bagi seluruh pesantren tanah air.

“Karena ini merupakan satu model modernisasi pertanian dan menjadikan pondok pesantren jadi basisnya. Dengan teknologi yang tinggi, kualitas produknya yang baik, dan punya pasar terbuka di pasar-pasar modern. Ini permodelan ini dijadikan sebagai pilot project, yang akan dikembangkan di seluruh pesantren-pesantren di Indonesia,” terangnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyebutkan ekonomi pesantren setara dengan level internasional, dikelola oleh kelas pesantren namun dapat diakui di tingkat global.

“Jangan anggap remeh ekonomi pesantren ini adalah kelas dunia, maka kerja samanya sudah dengan Jepang, sudah dengan Belanda, teknologi setara dengan mereka di dunia dan diselenggarakan bukan oleh korporasi besar tapi sama pesantren,” ujar Ridwan Kamil.

Pada kesempatan tersebut dilakukan penyerahan pemberian bantuan dari Baznas untuk Program Z Chicken, merupakan program bantuan penyelenggaraan usaha ayam goreng krispi, pemberian perlengkapan usaha, hingga pendampingan yang diberikan kepada perwakilan lima orang, yaitu Sdri. Ismawati, Sdri.Eneng Kuswiyanfi, Sdri. Laela Megasari, Sdri. Yanti Sopariah, dan Sdri. Yanti.

Selain itu, terdapat pula penyerahan bantuan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat oleh Wakil Direktur Utama Bank Syariah Indonesia Bapak Ngatari kepada Petani Binaan Pondok Pesantren Al Ittifaq yang diwakili oleh Ibu Lilis dan Bapak Deden Nugraha.

Kemudian, Wapres turut menyaksikan penandatanganan perjanjian kerja sama mengenai Pengembangan Ekosistem Rantai Nilai Halal Berbasis Koperasi Pondok Pesantren dan Non Pesantren antara LPDB-KUMKM dengan Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia serta nota kesepahaman tentang Pengembangan Ekosistem Koperasi Pondok Pesantren dan Halal Value Chain antara LPDB-KUMKM dengan Bank Syariah Indonesia.

MUI Sosialisasikan Bahwa Tanggal 15 Maret Hari Perangi Islamophobia

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan tanggal 15 Maret sebagai Hari Internasional Melawan Islamophobia. Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional (HLNKI) MUI, Dubes Bunyan Saptomo, menegaskan bahwa MUI akan melakukan sosialisasi secara masif dan komprehensif.

“MUI punya tanggung jawab besar dalam masalah ini. MUI akan melakukan pendekatan yang komprehensif dalam menyikapi Islamophobia. MUI mempunyai bidangnya masing-masing untuk mensosialisasikan ketetapan PBB dengan beragam pendekatan, ” ujarnya, Rabu (23/03) di Jakarta.

Salah satu langkah sosialisasi, kata dia, Komisi HLNKI MUI pada minggu depan akan mengadakan seminar bertopik Turn Back Islamophobia pada Rabu, 30 Maret 2022. Seminar ini akan berlangsung secara virtual melalui Zoom mulai pukul 13.00 sampai 16.00.

“Rencananya, narasumbernya adalah Direktur HAM dan Kemanusian Kemlu RI Ahsanul Habib, Perwakilan tetap Republik Indonesia untuk OKI Dodik Aryanto, Imam Masjid New York Imam Shamsi Ali, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir, Ketua Umum PP Persatuan Islam (PERSIS) KH Aceng Zakaria, serta Ketua Umum PB Mathlaul Anwar KH Embay Mulya Syarief, ” ujarnya.

Dia menyampaikan, selain menjadi tugas Komisi HLNKI dalam sosialisasi, MUI juga perlu fokus pada bidang lain yaitu dialog dan hukum. Tiga bidang ini, kata dia, membuat respons MUI dalam melawan Islamophobi menjadi lebih komprehensif.

“Perlu pendekatan yang komprehensif dalam menyikapi Islamophobia. MUI mempunyai bidangnya masing-masing untuk mensosialisasikan ketetapan PBB dengan beragam pendekatan,” terangnya.

 

Komisi Dakwah dan Komisi Pendidikan MUI misalnya, kata dia, bersama seluruh ormas Islam perlu melakukan kegiatan yang intensif memerangi Islamophobia. Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama (KAUB) MUI, ujarnya, juga perlu menjalankan dialog lintas agama bersama kelompok masyarakat.

“Dialog merupakan pendekatan persuasif dalam mengatasi Islamophobia, ” ujarnya.

Menurutnya, perang melawan Islamophobia dapat dilakukan dengan pendekatan hukum melalui penguatan peraturan. Komisi Hukum MUI bisa melakukan pendekatan dengan anggota legislatif untuk melakukan somasi dan penuntutan kepada mereka yang melakukan tindakan Islamophobia.

“Semoga sosialisasi dengan tiga pendekatan tadi dapat dijalankan dengan baik oleh KBL terkait mengingat MUI mempunyai tanggung jawab besar dalam hal ini, ” pungkasnya. (mui)

 

 

Pesantren Al Ittifaq Berdayakan Petani dengan Teknologi Digital

BANDUNG(Jurnalislam.com) – Sektor pertanian menjadi bidang strategis dalam pengembangan dan pengelolaan bahan pangan. Bukan suatu hal yang mudah untuk dapat mengakomodir layanan jasa pertanian, khususnya pada layanan digitalisasi. Untuk itu, apresiasi diberikan kepada Pondok Pesantren Al Ittifaq yang telah memberdayakan petani di koperasinya untuk dapat terakomodasi dalam industri digital.

“Saya mengapresiasi koperasi pondok pesantren Al Ittifaq yang telah memberdayakan 270 petani dari 9 kelompok tani di 3 kabupaten, jumlah petani yang bergabung di korporasi ini juga diharapkan akan semakin bertambah,” ucap Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin saat memberikan sambutannya pada acara Peresmian Peluncuran Digitalisasi Pertanian di Pondok Pesantren Al Ittifaq, Jl. Ciburial, Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (22/03/2022).

Menurut Wapres, pengembangan ekonomi syariah perlu terus dilakukan salah satunya melalui inovasi dari pengolahan bahan pangan melalui unit-unit usaha.

“Berbagai potensi unggul tersebut harus dikembangkan agar apa yang dilakoni pesantren ini dapat ikut berkontribusi di dalam mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia melalui unit-unit usaha yang dikelola,” ujar Wapres.

Lebih jauh, dalam mendukung upaya tersebut Wapres menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah dan pihak terkait untuk dapat terus memutar rantai nilai industri halal.

“Perlu untuk meningkatkan sinergi dan kemitraan dengan pemerintah, perbankan, maupun stakeholder lainnya agar masuk dan aktif dalam rantai nilai industri halal,” tuturnya.

Korporasi Pertanian Berbasis Digital

Pada kesempatan ini, Wapres menekankan bahwa digitalisasi dalam pertanian perlu diadopsi untuk mengembangkan berbagai inovasi pertanian berbasis teknologi.

“Ketika berbicara tentang korporasi pertanian maka bentuknya adalah pertanian modern yang tidak lepas dari penerapan digitalisasi pertanian berbasis internet,” terangnya.

Oleh karena itu, Wapres meyakini bahwa penerapan digitalisasi pada sektor pertanian akan semakin dibutuhkan. Menurutnya, hal ini selain dapat meningkatkan produktivitas dan profitabilitas, juga bermanfaat dalam mengatasi masalah lingkungan dan pengaruh perubahan iklim yang sangat memengaruhi produk pertanian seperti degradasi tanah, erosi, cuaca ekstrem, kekeringan, dan sebagainya.

“Kita ingin terus membangun sektor pertanian yang lebih tangguh dan memperkuat ketahanan pangan sekaligus mewujudkan transformasi ekonomi yang berkelanjutan,” tekadnya.

Sebelumnya, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyatakan dukungannya terhadap pembangunan ekosistem pertanian sebagai bentuk perwujudan pembentukan korporat farming dalam bentuk koperasi.

“Kita harus membangun korporat farming dalam bentuk koperasi. Jadi kita membangun ekosistem pertanian, mulai dari pembiayaan, proses produksi, hingga pemasaran yang terintegrasi,” ungkap Teten.

Hadir dalam acara tersebut Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Bupati Bandung Dadang Supriatna, anggota Forkopimda Provinsi Jawa Barat, serta jajaran pengurus Pondok Pesantren Al Ittifaq.

Turut hadir mendampingi Wapres, Kepala Sekretariat Wapres Ahmad Erani Yustika, Staf Khusus Wapres Bidang Komunikasi dan Informasi Masduki Baidlowi, Staf Khusus Wapres Bidang Politik dan Hubungan Kelembagaan Robikin Emhas, Staf Khusus Wapres Bidang Ekonomi dan Keuangan Lukmanul Hakim, Tim Ahli Wapres Farhat Brachma, Kepala Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Noor Achmad, serta Pimpinan Baznas Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan Saidah Sakwan

 

Manfaat Kampung Zakat Dirasakan Juga Selain Umat Islam

SULAWESI(Jurnalislam.com)— Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Tarmizi Tohor menegaskan program Kampung Zakat tidak hanya dikhususkan untuk membantu umat Islam. Hal ini disampaikannya usai meresmikan Masjid Al-Furqon di Dusun Uwemalingku, Kecamatan Mamosalato, Kabupaten Morowali Utara, Selasa (22/3/2022).

Tarmizi menjelaskan, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, seluruh masyarakat Indonesia mempunyai hak yang sama dalam mendapatkan kesejahteraan hidup. Melalui program Kampung Zakat, lanjutnya, Kemenag berupaya mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat.

“Jangan karena beda agama, kita tidak mau untuk saling tolong menolong. Mari kita membangun negera ini secara bersama-sama, namun untuk hal ibadah, itu urusan masing-masing,” ujar Tarmizi.

Tarmizi mencontohkan, program Kampung Zakat yang sudah diterapkan di 17 lokasi tidak hanya dirasakan manfaatnya bagi umat Islam, melainkan juga pemeluk agama lain yang berada di lokasi Kampung Zakat tersebut.

“Contohnya, ada warga binaan kita yang mendapatkan bantuan dana, lalu ia belanja untuk kebutuhan usahanya dari pemilik toko nonmuslim, artinya program ini berimbas kepada seluruh golongan masyarakat,” imbuhnya.

Tarmizi menambahkan, menjalin hubungan baik dengan sesama komponen bangsa merupakan spirit moderasi beragama. Moderasi beragama ini juga untuk mewujudkan kehidupan antarumat beragama yang rukun dan harmonis di Indonesia.

Literasi dan Tata Kelola Zakat dan Wakaf Terus Ditingkatkan

PONTIANAK(Jurnalislam.com)— Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag terus berupaya meningkatkan pemberdayaan dana zakat dan pengelolaan wakaf produktif pada tahun 2022.

 

Hal ini disampaikan Kasubdit Edukasi, Inovasi, dan Kerja Sama Zakat Wakaf Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Wida Sukmawati dalam acara Rapat Koordinasi (Rakor) Program Bimas Islam di Pontianak, Selasa (22/3/2022).

Wida memaparkan sejumlah program untuk meningkatkan tata kelola zakat pada tahun ini, antara lain pembinaan dan pengawasan melalui skema akreditasi bagi BAZNAS dan LAZ, penyusunan standar kompetensi khusus bagi auditor syariah, pelaksanaan uji kompetensi bagi amil, serta pembentukan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di Kantor Urusan Agama (KUA).

“Hal ini dilakukan agar pengelolaan dana zakat dapat lebih transparan dan akuntabel, serta mewujudkan tata kelola zakat yang profesional sesuai standar operasional,” terang Wida.

Sementara itu, terkait pengelolaan wakaf, Wida menyampaikan sejumlah program di antaranya, pengembangan aset wakaf produktif, bimbingan teknis (bimtek) bagi pemangku kepentingan wakaf, pendampingan dan advokasi sengketa wakaf, serta percepatan sertifikasi wakaf.

“Selain itu, Kemenag juga telah memiliki program edukasi dan literasi mengenai zakat dan wakaf secara rutin dan berkala. Baik melalui pertemuan tatap muka maupun secara daring,” lanjutnya.

Wida menambahkan, program yang dicanangkan pada tahun ini sesuai dengan capaian indikator rencana strategis (renstra) dan sasaran program Kemenag sepanjang 2020-2024.

 

BPJPH – Pemprov Sumbar Siapkan Program Sertifikasi Halal untuk UMK

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat berkolaborasi siapkan program sertifikasi halal gratis bagi pelaku UMK. Sinergi ini disepakati dalam Rapat Koordinasi (Rakor) dan Public Hearing Temu Konsultasi Pendamping Proses Produk Halal (PPH) bagi pelaku UMK di provinsi Sumbar.

Rakor menghasilkan Komitmen Bersama antara para Kepala Daerah se-Provinsi Sumbar untuk memberikan fasilitasi sertifikasi halal bagi pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) pada tahun 2022. Komitmen bersama ditandatangani oleh seluruh Bupati dan Wali Kota se-Sumbar, disaksikan Gubernur Sumbar Mahyeldi dan Kepala BPJPH Muhammad Aqil Irham.

Gubernur Sumbar Mahyeldi mengungkapkan dukungannya terhadap program akselerasi sertifikasi halal yang dilaksanakan oleh BPJPH. Bahkan ia bertekad menjadikan Sumbar sebagai provinsi terdepan dalam menyukseskan percepatan kewajiban sertifikasi halal di Indonesia.

“Kita ingin menjadikan Sumatera Barat untuk menjadi yang terdepan dalam rangka mewujudkan cita-cita Bapak Presiden, yaitu untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat produsen halal di dunia,” kata Mahyeldi di Padang, Senin (21/3/2022).

“Produk bersertifikat halal dapat membuka peluang pasar internasional. Sehingga, kita harapkan Sumatera Barat tidak hanya menjadi tempat menjual barang dari luar, tetapi produk halal UMKM kita dapat bersaing di Sumatera Barat bahkan di luar daerah, bahkan untuk ekspor ke luar,” lanjut Mahyeldi.

Lebih lanjut, Mahyeldi mengatakan bahwa saat ini terdapat 600 ribuan pelaku UMKM di Sumbar. Karenanya, fasilitasi sertifikasi halal yang akan dilaksanakan di seluruh kabupaten dan kota di Sumbar dipastikannya dapat secara signifikan meningkatkan jumlah produk bersertifikat halal.

Kepala BPJPH Muhammad Aqil Irham menegaskan bahwa sejak 17 Oktober 2019, sertifikasi halal telah diwajibkan bagi produk yang masuk, beredar dan diperdagangkan di wilayah Indonesia, sesuai amanat UU 33/2014 tentang Jaminan Produk Halal. Regulasi mengamanatkan bahwa sertifikasi halal bagi UMK digratiskan, di mana pembiayaan proses sertifikasi halal dapat dibebankan melalui fasilitasi dari APBN atau APBD.

“Pelaksanaan percepatan sertifikasi halal ini membutuhkan sinergitas di antara seluruh stakeholder terkait, termasuk dalam hal pembiayaan karena membutuhkan anggaran yang sangat besar,” kata Aqil Irham.

“Untuk itu, pada hari ini BPJPH kembali melaksanakan rapat koordinasi untuk bersinergi dan berkolaborasi dengan pemerintah di tingkat Provinsi Sumatera Barat maupun kabupaten dan kota untuk melaksanakan fasilitasi pembiayaan sertifikasi halal bagi pelaku UMK di Sumatera Barat,” lanjut Aqil Irham.

Program tersebut, selain untuk mengakselerasi tercapainya target 10 juta sertifikasi halal, menurut Aqil Irham juga sangat relevan untuk dilaksanakan saat ini. Sebab sertifikasi halal bagi UMK dipastikan berimplikasi positif dalam mendorong program pemulihan ekonomi nasional dan menjadi penguatan bagi kebangkitan UMK setelah dua tahun terdampak pandemi Covid-19.

“Kita juga berupaya dengan menyiapkan 100.000 tenaga pendamping PPH melalui ToT (Training of Trainer) Pendamping PPH bagi sertifikasi halal gratis untuk pelaku UMK melalui mekanisme pernyataan pelaku UMK atau self-declare,” kata Aqil Irham.

Selengkapnya, komitmen bersama yang telah ditandatangani tersebut berisi kesanggupan para kepala daerah untuk melaksanakan fasilitasi sertifikasi halal bagi pelaku UMK di provinsi Sumbar. Di antaranya, dengan penyediaan anggaran atau pembiayaan sertifikasi halal, baik melalui mekanisme sertifikasi halal reguler maupun melalui mekanisme pernyataan pelaku usaha (self-declare). Adapun kuota dan besaran biaya fasilitasi didasarkan pada ketentuan perundang-undangan pemerintah, peraturan/keputusan Menteri, dan peraturan teknis lainnya yang ditetapkan oleh BPJPH.

Hadir dalam Rakor dan Public Hearing Rektor UIN Padang Martin Kustati, Kepala Pusat Registrasi dan Sertifikasi Halal BPJPH Mastuki, Kakanwil Kemenag Sumbar Helmi, Direktur Industri Produk Halal KNEKS Afdhal Aliasar, para Bupati dan Wali Kota se-Sumatera Barat, Ketua DPRD Payakumbuh Hamdi Agus, Ketua DPRD Pasaman Bustomi, Ketua DPRD Bukittinggi Beny Yusrial, Ketua DPRD Pesisir Selatan Ermizen, Ketua DPRD Sijunjung Bambang Surya, Ketua DPRD Solok Selatan Zigo Rolanda, Ketua DPRD Dharmasraya Pariyanto, Ketua DPRD Tanah Datar Saidani, Ketua DPRD Mentawai Yosep, para Kepala Kantor Kemenag se-Sumbar, serta perwakilan perguruan tinggi, perwakilan ormas Islam, perwakilan MUI dan pelaku usaha di Sumbar.

PBB Tetapkan Hari Memerangi Islamophobia, Ormas Islam Apresiasi

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Baru-Baru ini Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (MU-PBB) menetapkan tanggal 15 Maret sebagai Hari Internasional untuk Memerangi Islamophobia (The International Day to Combat Islamophobia). Keputusan ini diterbitkan dalam Sidang Umum PBB, Selasa (15/03/2022).

Merespon hal itu, Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional (HLN) MUI, Bunyan Saptomo, menyambut baik kesepakatan yang diambil oleh PBB dalam menangani masalah diskriminasi agama yang sering kali terjadi di berbagai belahan dunia.

“PBB berarti mengakui adanya fakta telah terjadi peningkatan diskriminasi, intoleran dan kekerasan kepada berbagai kelompok agama, termasuk kelompok Muslim,” kata dia ketika dihubungi pada Sabtu (19/03).

Bunyan juga menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Menteri Agama (Menag) RI yang telah menyatakan dukungannya pada kesepakatan PBB ini. Ia berharap, MUI dan Menag bisa bekerja sama untuk mensosialisasikan kesepakatan itu di Indonesia.

“Hal ini sesuai dengan seruan MU-PBB agar semua pihak mengadakan dan mendukung kegiatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengatasi (curbing) Islamophobia,” terangnya.

Lebih lanjut, Bunyan mengatakan Islamophobia bisa muncul dalam berbagai bentuk. Di negara yang Muslimnya minoritas, Islamophobia bisa berbentuk hinaan, ancaman, intoleran, atau diskriminasi. Di negara yang Muslimnya mayoritas, Islamophobia umumnya berbentuk fitnah.

 

Dia memastikan kesepakatan PBB ini bisa disosialisasikan sebaik mungkin kepada seluruh ormas. Indonesia, kata dia, juga berpotensi terjangkit Islamophobia jika keberagaman dalam beragama tidak bisa dibina di tengah kehidupan umat.

“Di abad 21 ini Islamophobia semakin meningkat. Perlu pendekatan yang komprehensif dalam menyikapi Islamophobia, dan itu menjadi tugas kita bersama,” tandasnya.