Berita Terkini

UAS Jawab Singapura: Kafir Istilah Qur’an, Istilah Itu Tak Bisa Dihilangkan

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Ustaz Abdul Somad menjawab tudingan pemerintah Singapura terhadap dirinya. Salah satu asalan UAS ditolak masuk Singapura karena mengkafirkan orang nonmuslim.

 

Ulama asal Riau itu mengatakan kafir adalah istilah dalam agama Islam. Istilah itu tidak tidak mungkin dihilangkan karena sudah ada dan disebut dalam ajaran Islam.

“Tentang masalah kafir. Kafir itu artinya ingkar. Siapa saja yang tidak percaya Nabi Muhammad adalah rasul utusan Allah, maka dia adalah (kafir). Dan saya ini kafir. Saya tidak percaya kepada ajakan iblis dan setan, maka saya ini kafir. Kafir itu artinya ingkar. Itu adalah istilah dalam agama, agama kita. Masak kita hilangkan istilah-istilah agama hanya karena tidak mau orang lain tersinggung,” ujarnya.

UAS tidak akan berhenti berkhotbah meskipun terjadi peristiwa di Singapura. Dia tak masalah jika dinilai sebagai ekstremis karena apa yang disampaikannya.

“Nanti kalau ada negara melarang orang ceramah yang mengatakan babi haram, khamar haram, nanti bisa aja keluar peraturan, ‘Anda tidak boleh, kenapa? Karena mengatakan khamar haram, karena kita suka minum khamar. Anda tidak boleh masuk ke negara kami karena kami homo dan lesbi, Anda menolak itu’,” katanya.

sumber: detik.com

Singapura Tolak UAS Karena Sebut Nonmuslim Kafir

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Ustaz Abdul Somad ditolak masuk ke Singapura.

Pemerintah Singapura menyebutkan bahwa salah satu alasan UAS ditolak masuk ke Singapura karena ceramahnya yang pernah membela Palestina.

UAS dituding sebagai seorang ekstremis dan mengajarkan segregasi dan mengkafirkan penganut agama selain Islam.

“Somad dikenali sebagai penceramah ekstremis dan mengajarkan segregasi, yang tidak bisa diterima dalam warga multi-ras dan multi-agama Singapura,” dalam keterangan resmi pemerintah Singapura.

Kemendagri Singapura menyatakan UAS menyatakan bahwa bom bunuh diri di Palestina untuk

Mengutip situs resmi Kementerian Dalam Negeri Singapura, salah satu alasannyayakni karena

“Dia juga membuat komentar yang merendahkan penganut agama lain, seperti Kristen, dengan menyebut salib Kristen sebagai tempat tinggal ‘jin kafir’. Selain itu, Somad secara terbuka menyebut non-Muslim sebagai kafir,” mengutip situs resmi Kemendagri Singapura.

UAS Dilarang Masuk Singapura Karena Bela Syuhada Palestina

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Ustaz Abdul Somad ditolak masuk ke Singapura.

Pemerintah Singapura menyebutkan bahwa salah satu alasan UAS ditolak masuk ke Singapura karena ceramahnya yang pernah membela Palestina.

UAS dituding sebagai seorang ekstremis dan mengajarkan segregasi.

“Somad dikenali sebagai penceramah ekstremis dan mengajarkan segregasi, yang tidak bisa diterima dalam warga multi-ras dan multi-agama Singapura,” dalam keterangan resmi pemerintah Singapura.

Kemendagri Singapura menyatakan UAS menyatakan bahwa bom bunuh diri di Palestina untuk melawan Israel adalah sah.

“Misalkan, Somad sudah mengkhotbahkan jika bom bunuh diri ialah syah, dalam kerangka perselisihan Israel-Palestina, dan dipandang seperti operasi ‘syahid’,” dalam keterangan resmi pemerintah Singapura.

 

Umat Harus Bersatu Pulihkan Ekonomi Bangsa Pasca Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Sekretaris Panitia Pelaksana Halal Bihalal MUI, KH Arif Fahrudin mengatakan, silaturahim ini merangkai dua tema besar yaitu sektor ukhuwah dan ekonomi umat.

“Ukhuwah diharapkan semakin mengikat rasa persaudaraan sesama anak bangsa,” ujarnya.

Menurutnya, umat Islam sebagai umat terbanyak di Indonesia menjadi etalase perekonomian nasional yang memerlukan dorongan oleh berbagai elemen bangsa.

“Oleh karenanya, ukhuwah dan ekonomi perlu didorong oleh segenap elemen bangsa untuk mempercepat capaian pembangunan nasional pacsa pandemi Covid-19 untuk kesejahteraan bangsa,” jelasnya.

Rencananya, kegiatan ini akan digelar di Ballrom BJ Habibie Muamalat Tower, Kuningan, Jakarta Selatan.

Sejumlah tokoh bangsa dan ulama rencananya akan menghadiri kegiatan ini di antaranya Wakil Presiden RI KH Maruf Amin, Ketua Umum MUI KH Miftachul Akhyar, Sekjen MUI Buya Amirsyah Tambunan.

Ketua DPR RI Puan Maharani, Ketua DPD RI AA La Nyalla Mahmud Mattalitti, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Kepala Badan Pelaksana BPKH Anggito Abimanyu, CEO Bank Muamalat Ahmad Kusna Permana, dan Ketua ICMI Prof Arif Satria. (mui)

 

MUI: Halal Bihalal Perkuat Persatuan Bangsa

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerja sama dengan Badan Pengelolaan Keungan Haji (BPKH) dan Bank Muamalat akan menggelar silaturahim.

Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis mengatakan, kegiatan ini diikuti oleh seluruh jajaran MUI se-Indonesia dan semua komponen bangsa.

“Komponen bangsa baik yang berada di pemerintahan, partai politik, parlemen maupun ormas-ormas Islam,” kata KH Cholil Nafis kepada MUIDigital, Senin (16/5/2022).

Pria yang akrab disapa kiai Cholil ini menerangkan, kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka menyatukan seluruh komponen bangsa. Menurutnya, saat ini ada gejala retak dan kurang akan solidaritas.

“Kondisi bangsa kita saat ini dalam kondisi ambang retak solidaritasnya, masing-masing sering berjuang untuk kepentingan kelompok atau golongannya,” sambungnya.

Hal ini juga, menurut kiai Cholil mirip seperti yang dinyatakan Allah SWT dalam firman-Nya dalam Quran Surat Ar Rum ayat 32.

“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”

Apalagi, kata kiai Cholil, kondisi bangsa ini didera oleh persoalan ekonomi yang tidak ringan. Ditambah dampak dari pandemi Covid-19 yang telah melanda Indonesia sekitar 2 tahun ini.

“Jika terjadi keretakan apalagi perpecahan antar komponen bangsa terus berlangsung. Maka kehidupan bangsa akan semakin sengsara, dan rakyat semakin menderita,” kata kiai Cholil.

Padahal, kiai Cholil menilai, Indonesia adalah bangsa besar yang memiliki potensi sumber daya manusia potensial dan sumber daya alam yang sangat kaya.

Untuk itu, kiai Cholil berharap momentum Idul Fitri 1443 H ini dijadikan momentum untuk mengingatkan seluruh komponen bangsa agar bersatu demi kepentingan rakyat, bangsa dan negara.

Meskipun halal bi halal adalah istilah Indonesia dan berbahasa Arab, kiai Cholil berharap, semangat halal bi halal bisa menjadi semangat untuk mempersatukan dan memaafkan kepada pihak manapun yang layak diberikan maaf.

“Halal bi halal bisa menjadi ajang rekonsiliasi bangsa kita dengan saling memaafkan dengan ketulusan hati. Sehingga, keretekan dan perpecahan yang mengancam bangsa kita dapat diatasi, khususnya di kalangan umat Islam,” tegas kiai Cholil.

Kiai Cholil yang juga ketua pelaksana kegiatan Halal bi Halal ini menyampaikan, MUI dan umat diharapkan bisa bersatu untuk satu kepentingan yaitu Izzul Islam wal Muslimin (kemuliaan Islam dan Kaum Muslimin).

Selain itu, kata dia, dapat memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan dasar Pancasila dan menjunjung Bhineka Tunggul Ika.

Kiai Cholil menjelaskan, kemuliaan umat Islam tidak hanya dicapai dengan kuantitas umat yang banyak atau simbol-simbol Islam yang berdiri tegak, tetapi juga ditopang oleh keadaan ekonomi umat yang kuat.

Dengan kondisi ekonomi yang kuat, lanjutnya, akidah umat Islam pun akan kuat.

“Karena itu, MUI berharap, kegiatan ini akan memberi makna untuk kita semua untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan umat menuju umat yang kuat, sehat dan bermartabat,” tegasnya. (mui)

 

Silaturahim Berperan Perkuat Ekonomi Umat

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Majelis Ulama Indonesia menggelar kegiatan Halal bi Halal bersama internal, Pimpinan Bank Muamalat, serta Pimpinan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) karena masih dalam nuansa Idul Fitri. Dalam kegiatan tersebut, Wakil Ketua Umum MUI, KH Marsudi Syuhud, menyampaikan tentang peran silaturahmi berbagai pihak dalam memajukan ekonomi umat.

“Jika umat sudah bersatu dengan menyambungnya MUI, ditambah nyambungnya lembaga keuangan, ditambah menyambungnya BPKH mengelola 168 Triliun dana umat, saya yakin ekonomi umat akan bangkit,” ujar Anggota Dewan Pengawas BPKH RI ini, Selasa (17/05) saat memberikan sambutan di Ballroom BJ Habibie, Muamalat Tower, Jakarta.

Dikatakannya, bersatunya tiga lembaga tersebut misalnya, akan membangkitkan ekonomi umat. MUI sendiri merupakan wadah ulama, umaro, zuama, dan cendekiawan muslim. Sementara Bank Muamalat misalnya adalah lembaga keuangan syariah sedangkan BPJPH adalah lembaga yang mengelola dana keuangan haji yang pengelolaannya juga menggunakan prinsip syariah. Silaturahmi yang terjalin baik antara MUI, Bank Muamalat, dan BPKH ini, ujar dia, bisa membangkitkan ekonomi umat.

“Jika umat sudah saling terjalin dengan terjalinnya MUI, ditambah terjalinnya lembaga keuangan syariah, ditambahnya menyambungnya BPKH yang mengelola dana 168 Triliun, saya yakin ekonomi umat akan bangkit,” ujar dia. (mui)

 

BPOM dan Kemenag Jalin Kerja Sama Bahas Penyiapan Konsumsi Jamaah Haji

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Kementerian Agama terus berupaya untuk memberikan pelayanan dan kenyamanan bagi jemaah haji Indonesia. Teranyar, Kementerian Agama berupaya untuk memastikan keamanan dan kesehatan pangan atau konsumsi jemaah haji selama di tanah suci dengan menyiapkan Nota Kesepahaman dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)

Menurut Menag Yaqut Cholil Qoumas, kesehatan makanan jemaah selama di tanah suci perlu diperhatikan. Sebab, asupan gizi yang baik dapat menunjang kesehatan jemaah sehingga bisa beribadah dengan khusyuk.

“Kami tetap menyarankan makanan yang dikonsumsi jemaah selama di Tanah Suci adalah makanan yang bercita rasa nusantara agar dapat meyesuaikan selera dan kondisi pencernaan jemaah yang terbiasa dengan makanan khas nusantara,” ujar Menag saat menerima Kepala Badan POM Penny Kusumastuti Lukito dan tim di Jakarta, Selasa (17/5/2022).

“Terkait makanan khas nusantara ini, kami juga sudah mengimbau katering di Tanah Suci untuk menggunakan bahan dan bumbu dari tanah air agar cuta rasa masakannya tidak banyak berubah,” lanjutnya.

Ditambahkan Menag, makanan memang menjadi hal yang cukup krusial dan penting untuk diperhatikan. Sebab, dari makanan yang bergizi ini para jemaah dapat menjadi sehat dan khusyuk dalam beribadah.

“Terkadang makanan yang dikonsumsi jemaah sudah cukup kandungan gizinya. Namun distribusi makanan mungkin saja tidak tepat waktu sehingga makanan yang harusnya sehat menjadi kurang sehat dan ini perlu diperhatikan. Sehingga, kami sangat bersyukur tim dari BPOM mengingatkan kami akan hal ini,” tutur Menag.

Kepala Badan POM Penny Kusumastuty Lukito mengatakan timnya siap membantu proses pengecekan pangan jemaah agar sesuai dengan aturan kesehatan yang baik bagi para jemaah.

“Kami memiliki food inspector sehingga dapat memaksimalkan pengawasan terhadap kesehatan pangan dan obat-obatan bagi para jemaah,” terang Penny.

“Badan POM akan berusaha maksimal bekerja sama dengan Kemenag agar kenyamanan ibadah jemaah dapat terwujud,” pungkasnya.

Momen Lebaran Gunakan untuk Pererat Silaturahim

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Wakil Presiden RI, KH Maruf Amin menyerukan kepada semua pihak untuk memanfaatkan momentum lebaran ini untuk mempererat silaturahim.

Kiai Maruf mengingatkan, jangan sampai kepentingan sesaat bisa merusak persaudaraan sesama umat dan bangsa.

“Jadi persaudaraan sebangsa itu jangan karena persoalan-persoalan sesaat, karena kepentingan kelompok kemudian dikorbankan,” kata Kiai Maruf dalam kegiatan Halalbihalal yang digelar oleh MUI, di Ballrom B.J Habibie Muamalat Tower, Jakarta, Selasa (17/5).

Untuk itu, Kiai Maruf menegaskan bahwa semua pihak tidak boleh merusak ukhuwah (persaudaraan), baik itu ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), maupun ukhuwah wathoniyah (persaudaraan sebangsa dan setanah air).

Wapres mengatakan, salah satu tugas perkhidmatan MUI yaitu untuk mempersatukan umat sangat lah berat.

 

Hal ini, menurut kiai Maruf, sekarang ini zamannya kesamaran terhadap kebenaran dan banyaknya fitnah-fitnah yang muncul.

“Ini kalau kita tidak pagari, zamanul iltibas wal fitan, ini berbahaya sekali,”tegasnya.

Oleh karena itu, kata kiai Maruf, upaya silaturahim sangat diperlukan agar bangsa ini tidak terpecah dan terbelah.

“Boleh saja aspirasi itu di dalam negara demokrasi begitu boleh, asal jangan melampaui batas-batas kesepakatan-kesepakatan yang sudah ada,” jelasnya.

Kiai Maruf berpesan, apabila kesepakatan yang sudah ada tidak dipatuhi, bisa berakibat perpecahan antar umat dan bangsa.(mui)

 

 

Mahasiswa sebagai Sasaran Sekaligus Ujung Tombak dalam Menangkal Paham LGBT

Oleh:Rika Arlianti DM

LGBT di Indonesia merupakan hal yang tabu khususnya bagi masyarakat yang paham agama dan paham konsekuensinya. Bahkan MUI sudah mengeluarkan fatwa yang menolak praktek hubungan badan dan perkawinan sesama jenis pada tanggal 31 Desember 2014.

Istilah LGBT digunakan pada tahun 1990 untuk mengantikan frasa komunitas gay atau yang memiliki orentasi seks terhadap sesama jenis, meliputi Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender. Lesbian ini adalah seorang homosexual perempuan; perempuan yang mengalami percintaan atau ketertarikan secara seksual kepada perempuan lain. Sedangkan Gay menurut Douglas, 2013 merupakan laki-laki yang tertarik dan berhubungan dengan sesama laki-laki.

Mengutip dari APA, 2013; 2011; , GLAAD, 2011, Bisexualitas adalah ketertarikan secara romantis, perilaku sexual atau ketertarikan secara sexual kepada laki-laki dan perempuan. Jadi bisexual ini tertarik kepada semua gender; baik laki-laki maupun perempuan.

Sedangkan Transgender menurut Reference.com mengacu pada identitas gender seseorang yang tidak terkait dengan jenis kelamin biologis sejak lahir. Transgender biasanya dikenal dengan istilah “wadam atau “bencong” di Jakarta, “calabai” di Sulawesi, dan untuk orang Jawa menyebutnya “wandu”.

Menjadi LGBT adalah upaya yang tidak mudah bahkan setelahnya pun bukan tanpa masalah. Banyak persoalan dan risiko, seperti terpapar HIV, pelecehan seksual dari yang lebih berpengalaman, penolakan dari masyarakat, dan yang paling penting ialah melawan fitrah dan merupakan kelainan atau penyimpangan.

Kebanyakan homoseksual (Lesbian, Gay dan transgender) mulai menyadari dirinya mempunyai kecenderungan berbeda ketika dalam usia muda. Studi menunjukan perilaku homosexual dan ketertarikan sesama jenis banyak dijumpai sejak usia 15, prevalensinya pada pria, di Amerika 20.8%, UK 16.3%, dan Amerika 18.5%. Sedangkan pada kelompok wanita masing-masing 17.8%, 18.6%, and 18.5% (Sell, 1995).

Ini menunjukkan bahwa kelompok usia sekolah adalah usia yang rentan untuk mulai terlibat dalam hubungan sesama jenis. Sedangkan keputusan untuk menjadi homoseksual kebanyakan terjadi pada usia dewasa muda (Nugroho,2010) atau pada usia ketika mereka kebanyakan menjadi mahasiswa.

LGBT ini sangat membahayakan bangsa dari segala aspek terutama aspek agama, budaya, ekonomi dan politik. Selain itu, dapat berdampak pada regenerasi manusia karena tidak ada pasangan sejenis yang dapat melahirkan keturunan normal. Jika hal ini tidak ditangkal sejak dini, komunitas ini akan membahayakan generasi penerus bangsa: pemuda, pelajar, dan mahasiswa.

Sadar atau tidak, komunitas LGBT bukan persoalan sex semata, tetapi adanya rekayasa yang telah diatur sedemikian rupa dan disusun secara sistematis oleh kaum liberalisme. Mereka seolah megkampanyekan LGBT sebagai salah satu bentuk kenikmatan hidup duniawi yang berupa kebebasan individu dan dapat dipraktikkan sebebas-bebasnya.

Adapun faktor yang menyebabkan terjadinya perbuatan homoseks menurut Willis (2014: 26-27) adalah:
1. Faktor bawaan sejak lahir (faktor heriditas) dan hal ini sangat jarang terjadi.
2. Ketidakseimbangan hormon seks (Sex Hormonal Imbalance)
3. Pengaruh lingkungan:
a. Terpisahnya dengan lawan jenis dengan waktu yang sangat lama misalnya di penjara.
b. Pengalaman hubungan seks yang dilakukan dengan sesama jenis pada waktu kecil (masa kanak-kanak), dengan istilah sodomi.
c. Kesalahan perlakuan. Jika anak laki-laki diperlakukan sebagai anak perempuan setiap harinya misalnya dibedaki, di make up, diberi pakaian wanita, dan lain-lainnya. Maka akan tumbuh sifat-sifat kewanitaan pada dirinya (seolah-olah dia merasa bahwa dia memiliki jenis kelamin wanita), pun sebaliknya.

Penyebab lainnya juga karena keluarga yang kurang harmonis, pergaulan atau lingkungan yang kurang baik, minimnya pengetahuan tentang agama, dan pengalaman masa lalu yang buruk dengan lawan jenis.

Melansir dari edukasi.okezone.com, Psikolog sekaligus Anggota Dewan Pakar Masjid Salman Institut Teknologi Bandung, Adriano Rusfi, menilai bahwa mahasiswa berada dalam kondisi scientific euphoria and delusion. Mahasiswa banyak yang mudah terpukau ketika LGBT dibenarkan lewat teori-teori ilmiah. Adriano menganalogikan, banyak mahasiswa yang memiliki ilmu, namun tidak memahami filosofinya, ditambah karakter mahasiswa yang mudah berempati pada kaum tertindas dapat menjadi celah bagi penggerak LGBT.

Sejenak kita mengingat sejarah bahwa perilaku LGBT sejatinya ialah kebangkitan dari perilaku kaum Sodom dahulu di masa Nabi Luth. Di mana, penyimpangan seksual ini mulai muncul pada masa Nabi Luth yang sebelumnya sejak nabi Adam tidak ada kaum yang seperti itu. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ ، إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

Terjemahnya: “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?’ Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf: 80-81)

Dari ayat di atas, kita mengetahui bahwa penyimpangan seksual ini sudah ada dan pertama kali muncul sejak zaman Nabi Luth.

أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ , وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ

Terjemahnya: “Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Asy Syu’ara: 165-166)

Disebut melampaui batas karena mereka tidak menyukai perempuan. Padahal perempuan diciptakan sebagai pasangan laki-laki. Mereka hanya menyukai sesamanya; laki-laki. Begitu pula perempuan yang pada masa itu juga hanya menyukai sesama perempuan. Dan peristiwa pada masa itu, sama dengan kasus LGBT di masa sekarang.

LGBT ini telah menjadi fenomena global yang mengkhawatirkan dan meresahkan. Terlebih di dunia yang dewasa ini komunitas tersebut sudah semakin terang-terangan menunjukkan jati dirinya di media sosial bahkan ada beberapa yang di dunia nyata.

Nah, mahasiswa menjadi salah satu sasaran empuk pengaruh kelompok tersebut. Alasannya seperti dijelaskan sebelum-sebelumnya. Untuk itu mahasiswa harus lebih membentengi diri dan meningkatkan kewaspadaan, sebab mahasiswa juga merupakan ujung tombak dalam menangkal kelompok tersebut sebelum sampai di masyarakat umum. Mengapa harus mahasiswa? Karena mahasiswa adalah yang paling dekat dengan masyarakat. (Ingat peran mahasiswa: agent of change, social control, moral force, guardian of value, dan iron stock).

Salah satu upaya pencegahan masuknya paham LGBT pada mahasiswa, pelajar, dan pemuda dapat dilakukan lewat berbagai pendekatan, misalnya lewat seminar, training, buletin, buku, atau poster yang edukatif.

Tak kalah penting juga ialah belajar ilmu agama dan selektif dalam bergaul. Ketika paham agama, insyaa Allah akan ada penjagaan diri karena ada rasa takut kepada Allah ketika hendak melakukan sesuatu yang menyimpang. Dan selektif dalam bergaul juga menjadi faktor yang sangat mendukung, sebab akan selalu ada teman yang mengingatkan tatkala kita keliru dalam menjejakkan langkah. Wallahu ‘alam.

 

Buka Mukernas ke IV PP Lidmi, Tamsil Linrung : Indonesia Membutuhkan Gerakan Anak Muda yang Progresif

MAKASSAR(Jurnalislam com)– Drs. H. Tamsil Linrung, Senator Republik Indonesia ini hadir untuk membuka acara di kegiatan Mukernas PP LIDMI ke IV dengan Tema Transformasi Gerakan Progresif dan Kolaboratif. Acara ini dilaksanakan secara hybrid, Jum’at (14/5/2022).

Dalam sambutannya, Bapak Tamsil Linrung menyampaikan bahwa momentum Musyawarah Kerja Nasional IV LIDMI diharapkan mampu mematahkan problem kebangsaan dan keumatan serta meretas solusi agar bangsa Indonesia segera keluar dari pekatnya masalah yang mendera. Hal ini sebagaimana tema musyawarah yang diusung yaitu Gerakan Progresif dan Kolaboratif.

“Indonesia membutuhkan gerakan anak-anak muda yang progresif, berfikir maju, mau dan rela berkorban tidak hanya untuk kepentingan kelompok organisasinya, namun juga untuk kepentingan bangsa yang lebih besar,” tegasnya.

Beliau menambahkan bahwa mahasiswa selama ini senantiasa menjadi lokomotif gerakan perubahan.

“Bangsa Indonesia punya segudang catatan sejarah yang ditorehkan oleh mahasiswa, di setiap zaman sejak era pra kemerdekaan hingga saat era reformasi bergulir. Mahasiswa selalu di garda terdepan menjadi lokomotif perubahan. Indonesia beradab yang kita impikan hanya bisa diwujudkan oleh anak-anak muda yang berani berperang, tidak bagi mereka yang diam berpangku tangan”, pungkasnya.