Berita Terkini

Menjaga Keutuhan Bangsa, Bentuk Syukur terhadap Nikmat Kemerdekaan

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Kemerdekaan bangsa Indonesia diperoleh dengan perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan oleh para pejuang bangsa. Perjuangan yang dilakukan pun tidak sebentar, namun memakan waktu hingga ratusan tahun.

Oleh karena itu, kemerdekaan yang dimiliki bangsa Indonesia saat ini harus disyukuri, karena hal tersebut juga merupakan salah satu nikmat yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT).

“Karena itu kita wajib mensyukuri, menghargai, dan juga berterima kasih kepada para pejuang bangsa. Karena Rasulullah mengatakan, man lam yasykurinnasi lam yasykurillah, siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, dia juga tidak berterima kasih kepada Allah,” tutur Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin dalam tausiyahnya pada acara Dzikir dan Doa Kebangsaan 77 Indonesia Merdeka di Halaman Istana Merdeka, Jakarta, Senin malam (01/08/2022).

Lebih lanjut Wapres menyampaikan, salah satu cara mensyukuri nikmat kemerdekaan adalah dengan menjaga keutuhan bangsa. Sehingga, nikmat tersebut tidak diambil kembali oleh Allah SWT.

“Menjadi kewajiban kita adalah menjaga bangsa ini tetap utuh, tetap bercahaya,” tegas Wapres.

“[Jangan Sampai] Allah kemudian mencabut, menghilangkan cahayanya dan meninggalkan kita dalam kegelapan,” tambahnya.

Pemerintah Ajak Seniman dan Budayawan Muslim Perkuat Dakwah Kultural

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Wakil Menteri Agama RI, Zainut Tauhid Saadi, mengajak para seniman dan budayawan muslim untuk meningkatkan peran dakwah kultural untuk memperkuat sendi-sendi ketahanan nasional, mengisi kekosongan dakwah, dan mengawal modernisasi dengan nilai universal Islam.

“Kami mengajak para seniman dan budayawan muslim, baik tradisonal dan kontemporer agar semakin berperan memberikan kontribusi nyata untuk memperkuat sendi ketahanan nasional,” sampainya dalam acara Pembukaan Multaqa FGD dan Rakornas Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI, Selasa (02/08).

Menurut Wamenag, saat ini Indonesia tidak membutuhkan revolusi kebudayaan, melainkan strategi kebudayaan untuk mempertahankan identitas keagamaan, keindonesiaan, dan kemanusiaan di tengah gempuran arus globalisasi yang dinamis dan multidimensional.

 

Relasi agama dan budaya, kata dia, menunjukkan hubungan yang dinamis. Fakta sejarah menunjukkan bagaimana budayawan merespons pertentangan agama dan budaya secara arif dan bijak.

“Tantangan tersebut dijawab secara bijak dan persuasif oleh para seniman melalui lembaga-lembaga budaya Islam, seperti HSBI dan Lesbumi,” kata dia.

Untuk menghadapi arus globalisasi hal terpentingnya adalah dakwa kultural. Dengan demikian akan memperkuat ketahanan kultural dalam memilih dan memilah setiap pertukaran budaya antarbangsa.

Bagi Kiai Zainut, ketahanan kultural berasal dari kemantapan akidah dan pandangan hidup bangsa (why of life) ke depan.

Wamenag menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan Multaqa Seniman dan Budayawan Muslim dalam merajut kesatuan dalam kebhinekaan aspirasi dan ekspresi seni.

“Kami harap Multaqa ini bisa menghimpun dan meramu pikiran terbaik dari peserta sebagai rekomendasi meneguhkan seni dan budaya di tanah air tercinta,” harapnya.  (mui)

 

‘Islam Miliki Perhatian Tinggi terhadap Seni dan Budaya’

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Gurubesar Bidang Pengkajian Islam, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Profesor Abuddin Nata menyampaikan Islam memiliki perhatian yang tinggi terhadap bidang seni dan kebudayaan.

Hal ini disampaikannya dalam FGD Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang bertajuk “Meneguhkan Orientasi Seni dan Budaya Islam dalam Membangun Peradaban Bangsa” di Hotel Sari Pacific, Jakarta, (02/08).

“Dalam Islam, hampir tidak ada kegiatan tanpa seni di dalamnya. Karena Islam bukan hanya agama yang konsen terhadap hubungan manusia dengan pencipta, tapi juga hubungan manusia dengan sesama, serta hal-hal yang berkaitan dengan seni, kebudayaan, dan peradaban,” ungkap Prof. Abuddin Nata.

 

Peradaban dan kebudayaan, menurut Prof. Abuddin Nata merupakan satu strategi untuk mewujudkan Islam rahmatan lil alamin.

Di samping itu, berkembangnya kebudayaan Islam berbeda dengan Eropa. Kebudayaan Eropa lahir dari suasana konflik, salah satunya pertentangan antara ilmuwan dan gereja.

Lebih lanjut, Gurubesar yang juga menjabat sebagai Ketua Pengurus Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) itu menilai, harus ada pengkajian lebih lanjut mengenai kebudayaan Islam sebagai sebuah strategi yang digunakan untuk mensejahterakan umat.

“Kebudayaan telah dipraktikkan oleh Wali Songo di masa lalu sebagai media dakwah. Pendekatan oleh ulama terdahulu tersebut cukup efektif menyebarkan Islam tanpa konflik, sehingga Islam diterima dengan damai oleh masyarakat,” katanya.

Prof. Abuddin Nata berharap, kepiawaian para ulama terdahulu menggunakan pendekatan seni budaya, dapat dilanjutkan oleh generasi saat ini.

Kata Prof Abuddin, perlu strategi yang matang untuk mewujudkan hal tersebut. Secara teknis, dibutuhkan kontribusi dari para stake holder diiringi dengan kerja sama dengan seluruh lapisan masyarakat. (mui)

 

KH Cholil Nafis: Seni Adalah Nafasnya Dakwah

JAKARTA(Jurnalislam.com) -– Keterkaitan antara seni dan dakwah sudah terjadi sejak zaman rosulullah saw. Beliau pertama kali memulai peradaban dari seni.

“Ketika Nabi Hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau disambut dengan sholawat Thola’al Badru Alaina, dan itu adalah sebuah seni”, ujar Kiai Cholil, (02/8/2022).

Pada zaman Wali Songo, penyebaran agama Islam dilakukan dengan metode pendekatan pada kearifan lokal yang ada, salah satunya adalah melalui kesenian. Jika dipahami lebih mendalam, seni dan dakwah sebenarnya adalah dua hal yang sama dengan versi yang berbeda. Hal tersebut disampaikan oleh Kiai Cholil Nafis pada kegiatan Multaqa, FGD dan Rakornas LSBPI MUI.

 

“Dakwah dan seni tu sebenarnya sama, hanya versinya yang berbeda. Seni disentuh dari sisi ihsannya sementara dakwah disentuh dari sisi Islamnya. Yang dibangun oleh pendakwah kita dalam akidah disentuh dari imannya,” ujarnya.

Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa perkembangan seni yang ada di Indonesia saat ini, seiring dengan perkembangan teknologi mampu merubah cara pandang seseorang dan memberikan jalan yang mudah untuk proses berdakwah.

”Saya dulu punya pemikiran bahwa menonton bioskop itu buruk, dan orang yang doyan maksiat. Tapi Ketika Ada Ayat – Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan film Islami lainnya membuat presepsi saya aitu berubah, bahwa ternyata film itu adalah sarana untuk dakwah, dan orang mau berkarya, menyampaikan pesan lewat film, sehingga film tidak lagi konotasi maksiat,” katanya menjelaskan.

Dalam penyaimpaiannya di ruang FGD LSBPI MUI, Kyai Cholil menyampaikan bahwa penyempurnaan seluruh aspek keislaman itu ada pada seni.

“Menurut saya penyempurna dari dakwah kita di MUI atau penyempurna dari seluruh aspek keislaman kita (iman dan Islam) adalah ihsan, dan ihsan ada pada seni. Seni ini adalah upaya mengungkapkan atau menampilkan rasa dalam visual. Bisa dalam bentuk tulisan, film dan sebagainya. Hal – hal yang sifatnya akulturasi, seni, itu sangat mencair, dan di situ lah nafas nafas Islam. Tinggal tugas nya LSBPI MUI untuk menemukan bagaimana caranya agar bisa memasukkan nilai – nilai dakwah di dalam seni, dan seni itu menjadi nafasnya dakwah,” pungkasnya. (mui)

 

Prof. Jimly: Hukum Islam Harus Dapat Dukungan dari Negara

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Di antara diskusi yang kerap mengemuka baik di kalangan praktisi atau pakar hukum tata negara adalah apakah hukum Islam perlu mendapat pengakuan dan dukungan negara?

Jawaban atas pertanyaan di atas disampaikan pakar hukum tata negara yang juga Ketua Mahkamah Konstitusi pertama (2003-2008), Prof Jimly Asshiddiqie, saat menyampaika materi dalam 6th Annual Conference on Fatwa Studies yang digelar Komis Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) 26-28 lalu, Senin (1/8/2022).

Prof Jimly menyatakan hukum Islam yang ada harus mendapat dukungan dari pemerintah dalam pelaksanaannya.

 

“Hukum dalam agama kita ini membutuhkan dukungan kekuasaan untuk penerapan. Hukum Islam harus ditopang oleh sistem kekuasaan resmi bernegara. Masalahnya, sistem kekuasaan resmi bernegara ini tidak hanya tercermin dalam peraturan perundang –undangan seperti yang secara sempit kita pahami sekarang,” kata dia.

Menurut Prof Jimly, ada beberapa produk hukum yang membutuhkan topangan dari kekuasaan negara, di antaranya adalah produk hukum regulasi, produk hukum administrasi, produk hukum ajudikasi, produk hukum perjanjian, dan produk ilmu hukum umum.

Tidak hanya membahas terkait hukum Islam, pada kesempatan tersebut Prof Jimly juga menyampaikan beberapa hal yang harus dibenahi dalam hukum nasional. Beliau menegaskan ada tiga hal yang harus dibenahi dalam konteks hukum nasional.

“Menurut saya, dalam konteks hukum nasional kita, kita perlu membenahi mekanisme pembentukan fatwa, selanjutnya mengenai substansi fatwa, lalu mengenai bagaimana fatwa menjadi fungsional dalam konteks hukum nasional bernegara,” kata dia.

Dengan terselenggaranya kegiatan yang mengusung tema “Peran Fatwa MUI dalam Perubahan Sosial” ini, dia berharap bahwa ke depannya ada kumpulan fatwa MUI yang diresmikan.

Peresmian tersebut melalui dua cara yaitu melalu pemerintahan eksekutif yang dituangkan dalam keputusan presiden. Kedua, melalui peradilan dengan tujuan untuk memandu hakim dalam menjalankan tugasnya, memeriksa, mengadili, dan memutus perkara.

Selanjutnya, dia juga berharap kedepannya Fatwa MUI dikukuhkan Mahkamah Agung dengan penetapan administratif yang diberlakukan sebagai petunjuk untuk semua hakim dalam menjalankan semua tugasnya yang berhubungan dengan kewenangan peradilan agama.

Dia juga mengingatkan MUI memiliki tugas yang cukup besar, baik dalam penegakan hukum maupun dalam bidang lainnya. (mui)

 

55 Ribu Jamaah Haji Telah Kembali ke Indonesia

JAKARTA(Jurnalislam.com) —- Operasional Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1443H/2022M telah memasuki hari ke-60. Saat ini masih berlangung pemulangan jemaah haji Indonesia yang diberangkatkan pada gelombang kedua.

Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi (HDI) Setjen Kemenag Akhmad Fauzin mengatakan, tahun ini kuota haji Indonesia berjumlah 100.051 orang. Dari jumlah itu, lebih dari 55 ribu sudah kembali ke Tanah Air. Artinya, lebih dari 50% jemaah yang sudah pulang ke Indonesia.

“Jumlah jemaah haji yang telah tiba di tanah air sebanyak 55.473 orang. Hari ini kembali dipulangkan lagi sebanyak sembilan kloter menuju delapan Debarkasi,” kata Akhmad Fauzin, saat memberikan keterangan pers di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa (2/8/2022).

Menurut Fauzin, ada satu kloter yang akan menuju Debarkasi Batam/BTH dengan total 446 jemaah. Masing-masing dua kloter menuju Debarkasi Jakarta – Pondokgede (JKG), Jakarta – Bekasi (JKS), dan Solo (SOC). Selain itu, masing-masing satu kloter menuju Debarkasi Lombok (LOP), Palembang (PLM), Surabaya (SUB), dan Ujungpandang (UPG). “Total sebanyak 3.613 jemaah,” ujar Fauzin.

Berkenaan update data jemaah sakit, Akhmad Faizin menyampaikan saat ini tecatat masih ada 64 jemaah sakit. Sebanyak 24 jemaah dirawat di RS Arab Saudi (RSAS), dan 40 lainnya dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah.

Jemaah wafat bertambah dua orang atas nama Saeti Jaya Sadimin, perempuan, 63 tahun, Nomor Paspor C63 34 513, kloter JKS 39, asal Embarkasi Jakarta Bekasi, dan Dyan Novi Laila, perempuan, 46 tahun, Nomor Paspor C65 93 665, kloter SUB 33, asal Embarkasi Surabaya.

“Sehingga jumlah jemaah wafat sampai hari ini sebanyak 83 orang,” tandas Akhmad Fauzin.

 

Banyak Dai Berdakwah Melalui Seni dan Budaya

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Dalam sejarah peradaban Islam di Indonesia, Wapres KH Ma’ruf Amin  menjelaskan bahwa banyak para dai dan mubaligh yang mendakwahkan Islam juga merupakan seniman ulung, atau paling tidak menggunakan seni sebagai wasilah dakwah, tidak terkecuali karya-karya sastra popular yang dikenal belakangan ini.

“Jika kita baca pelan-pelan karya-karya para sastrawan kita, kita akan menemukan ada banyak jejak pesan dakwah di sana. Puisi-puisi D. Zawawi Imron, Emha Ainun Nadjib dan puisi-puisi Gus Mus sepenuhnya adalah dakwah. Demikian juga kebanyakan puisi Taufiq Ismail yang dilagukan oleh Bimbo,” tuturnya.

Menutup sambutannya, Wapres mengapresiasi MUI sebagai penyelenggara acara tersebut dan berharap pertemuan ini dapat menghasilkan kebaikan bagi semua pihak.

“Sekali lagi saya sampaikan apresiasi kepada MUI, LSBPI MUI, segenap panitia penyelenggara, dan kepada seluruh seniman dan budayawan muslim yang turut hadir di acara ini. Semoga multaqa ini menjadi “liqa’an muntijan mubarakan fiih”, pertemuan yang produktif dan diberkahi oleh Allah SWT,” tutupnya.

Sebelumnya, Ketua Panitia Acara Multaqa Seniman dan Budayawan Muslim Se-Indonesia, FGD dan Rakornas Lembaga Seni Budaya Peradaban Islam (LSBPI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Erick Yusuf menyampaikan tujuan acara ini sebagai media kolaborasi antarpihak terkait untuk memberikan solusi masyarakat melalui seni dan budaya.

“Acara ini selain silaturahim juga merapatkan barisan menyatukan semuanya, seniman, budayawan, para alim ulama, praktisi untuk bersama-sama bisa saling berkolaborasi dan bersinergi bisa menguraikan permasalahan keumatan dari sisi seni budaya,” ujar Erick.

Hadir dalam acara ini, di antaranya Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi, Ketua MUI Bidang Seni Budaya dan Peradaban Islam Jeje Zainudin M.A., serta para pelaku seni dan budayawan.

Wapres Buka Helatan Multaqo Seniman dan Budayawan Muslim Indonesia

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Seni merupakan unsur kebudayaan yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan peradaban manusia. Karya-karya seni yang dihasilkan oleh seniman maupun budayawan yang populer di tengah masyarakat tentunya berpengaruh terhadap kemajuan pola pikir dan perilaku masyarakat tersebut.

Oleh karena itu, Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin mengimbau kepada para pelaku seni untuk bersama-sama menciptakan karya-karya yang membangun masyarakat ke arah yang lebih baik.

“Di dalam multaqa ini saya berharap tercipta sinergi antarseniman dan budayawan muslim untuk membentengi bangsa ini dari budaya-budaya destruktif. Sekaligus tercipta kekuatan kreatif yang melahirkan gagasan-gagasan dan karya-karya yang positif bagi bangsa ini,” ujar Wapres saat membuka secara resmi Multaqa Seniman dan Budayawan Muslim Se-Indonesia, FGD dan Rakornas Lembaga Seni Budaya Peradaban Islam (LSBPI) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Selasa (02/08/2022).

Mengutip hadis Bukhari dan Muslim, Wapres menyebut bahwa terdapat penghargaan yang begitu tinggi kepada para penyair, sastrawan, seniman dan budayawan dalam Islam di mana Nabi Muhammad SAW meminta Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu agar merangkai syairnya untuk menumbangkan kepongahan para penyair musyrikin yang saat itu sangat gencar menghina dan melecehkan Allah dan Rasul-Nya.

“Baginda Nabi Muhammad SAW, berkata kepada Hassan bin Tsabit, Keluarkan syairmu untuk merendahkan mereka para penyair musyrikin yang melecehkan Allah dan Rasul-Nya dan Jibril menyertaimu!” kutip Wapres.

Wapres menambahkan bahwa hal tersebut juga mencerminkan penghargaan dan doa bagi para penyair muslim untuk senantiasa menyebar kebaikan dan membela kebenaran.

“Menurut saya, ini juga doa bagi semua penyair muslim, semua sastrawan muslim, semua seniman dan budayawan muslim yang menulis dan menciptakan karyanya untuk membela Allah dan Rasul-Nya, untuk membela kebajikan dan kebenaran,” tambah Wapres.

 

‘Indonesia Butuh Strategi Kebudayaan di Tengah Pusaran Global’

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan bahwa kebudayaan Indonesia saat ini dihadapkan pada pusaran arus globalisasi yang sangat dinamis dan multi dimensional. Meski demikian, Indonesia tidak memerlukan ”revolusi kebudayaan”, tetapi membutuhkan ”strategi kebudayaan” untuk bisa bertahan.

Pesan ini disampaikan Wamenag saat memberikan sambutan pada Multaqa Lembaga Seni, Budaya dan Peradaban Islam Majelis Ulama Indonesia. Kegiatan ini digelar sebagai rangkaian Milad ke-47 MUI yang diperingati setiap 26 Juli.

”Indonesia membutuhkan strategi kebudayaan untuk bertahan di tengah pusaran global,” terang Wamenag di Jakarta, Senin (1/8/2022).

Indonesia, kata Wamenag, memiliki pengalaman sejarah berkenaan dengan seni dan budaya yang pernah menjadi alat propaganda ideologi yang bertentangan dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Tantangan saat itu dapat dijawab secara bijak dan persuasif oleh para seniman dan budayawan muslim dengan membentuk wadah yaitu: Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) yang digerakkan oleh tokoh-tokoh seperti Buya Hamka, Bahrum Rangkuti, Junan Helmy Nasution, H. Sudirman, dan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) yang dilahirkan oleh tokoh-tokoh seniman Djamaluddin Malik, Usmar Ismail, Asrul Sani dan kawan-kawan.

Sejarah mencatat HSBI yang berafiliasi ke Masyumi dan Muhammadiyah, dan LESBUMI berafiliasi ke NU, memiliki peran yang sangat penting di masa lalu, terutama dalam mengadvokasi politik seni dan budaya yang berpijak pada nilai-nilai agama sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia.

“Dalam konteks kekinian, sarana dan media seni-budaya generasi millennial tidak boleh kehilangan orientasi keindonesiaan sebagai bangsa yang beragama dan berbudaya ketimuran dengan menjunjung tinggi norma-norma kesopanan,” jelasnya.

”Dalam pandangan hidup muslim, tidak dapat dibenarkan liberalisasi seni dengan slogan “seni untuk seni”. Tetapi seni dan budaya sebagai karya cipta manusia tidak boleh dipisahkan dari tujuan hidup manusia sebagai hamba Allah,” sambungnya.

Seni dan budaya, kata Wamenag, tidak boleh dijauhkan dari tujuan pembangunan manusia dan masyarakat yang bermoral, beragama, dan berkeadaban. Di temgah arus budaya global dan teknologi informasi, umat Islam dan bangsa Indonesia harus memiliki ketahanan kultural dalam memilah dan memilih unsur-unsur budaya dari luar yang tidak bertentangan dengan pandangan hidup masyarakat.

“Ketahanan kultural paling kokoh adalah yang bersumber dari pandangan hidup, akidah dan way of life yang kita yakini, yaitu ajaran dan nilai-nilai agama. Jangan kita menjadi bangsa yang terombang-ambing dalam arus perubahan, menjadi bangsa yang rapuh dan kehilangan kepribadian di tengah pusaran budaya global,” pesannya.

Mengutip Prof. Dr. H.A. Mukti Ali, mantan Menteri Agama, Wamenag mengatakan, dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan seni hidup menjadi indah, dengan agama hidup menjadi bermakna. Ungkapan ini, menurutnya, membawa pesan filosofis dan ontologis yang mendalam bahwa para ilmuwan, seniman-budayawan dan agamawan perlu dan bahkan wajib bekerjasama dan saling mengisi untuk membangun dan memajukan peradaban kemanusiaan.

“Saya mengajak para seniman dan budayawan muslim kontemporer agar semakin berperan dan memberi sumbangsih nyata untuk memperkuat sendi-sendi ketahanan nasional dari aspek ketahanan seni dan budaya. Selain itu, mengisi kekosongan dakwah dan mengawal modernisasi dengan mengedepankan nilai-nilai universal Islam sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta,” tuturnya.

“Mari terus mengembangkan berbagai fikiran budaya dan budaya berfikir secara kreatif dan produktif untuk Indonesia yang lebih baik di masa mendatang. Mari hidupkan ruh kebudayaan sebagai salah satu medium aktualisasi nilai-nilai beragama yang moderat dan inklusif,” tandasnya.

MUI: Multaqo Seniman dan Budayawan Muslim Tonggak Sejarah Indonesia

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan menggelar Multaqo Seniman dan Budayawan Muslim Indonesia.

Pertemuan antara ulama dan para cendekiawan yang konsen dalam bidang seni tersebut, akan dilaksanakan secara offline di Hotel Sari Pan Pasifik, pada 2-3 Agustus 2022.

Dalam acara silaturahim dan bincang-bincang pra-acara, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pengembangan Seni Budaya dan Peradaban Islam, KH Jeje Zaenudin menyampaikan bahwa Multaqo yang diselenggarakan oleh LSBPI MUI merupakan yang pertama dan dapat dijadikan tonggak sejarah bagi para seniman budayawan muslim Indonesia.

 

“Kegiatan Rakornas, FGD dan Multaqo ini dapat dijadikan soko guru serta pondasi untuk membuka dakwah yang berbasis pada seni budaya Islami,” tutur Kiai Jeje, (01/08).

Kiai Jeje menjelaskan, LSBPI MUI merupakan wadah untuk mengembangkan lahirnya insan-insan kreator, pemikir, hingga para praktisi seni budaya Islam yang karyanya akan dikonsumsi oleh masyarakat luas.

Karena merupakan Multaqo perdana yang diselenggarakan, Kiai Jeje mengingatkan untuk memberi banyak kritik dan masukan selama terselenggaranya acara nanti.

“Akan banyak evaluasi yang didapatkan selama terselenggaranya Multaqo, namun hal itu justru menjadi masukan yang membangun guna peningkatan kualitas penyelenggaraan acara selanjutnya,” kata Kiai Jeje.

Selain itu, Kiai Jeje berharap, terselenggaranya Multaqo bagi seniman dan budayawan muslim Indonesia dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat Indonesia, khususnya umat muslim dalam aspek seni budaya.

Karena menurut dia, seni budaya sangat melekat di dalam jiwa manusia dan tidak bisa lepas dari spirit agama. (mui)